Konsep:Al-Azhar
|| ||
||
||
|| || || ||
Al-Azhar (bahasa Arab: اَلأزْهَر ) yang dikenal dengan Al-Azhar al-Syarif (الأزهرُ الشریف), adalah lembaga ilmiah dan pendidikan Islam kuno yang didirikan oleh Dinasti Fatimiyah pada abad ke-4 Hijriah di kota Kairo. Selama dua abad, lembaga ini menjadi pusat pengajaran fikih dan ilmu-ilmu Syiah. Kemudian, dengan jatuhnya Dinasti Fatimiyah, Al-Azhar berubah menjadi pusat pendidikan Ahlusunah.
Al-Azhar, sebagai lembaga keagamaan terpenting di Mesir, memiliki peran besar dalam sejarah negara tersebut. Lembaga ini juga dihormati di seluruh Dunia Islam dan dikenal sebagai representasi pemikiran Islam Sunni. Pada periode abad ke-20 Masehi, Al-Azhar menjadi salah satu pusat pemikiran pendekata antar mazhab Islam dan persatuan kaum Muslimin. Sejumlah ulama yang menjabat sebagai Syekh Al-Azhar meyakini gagasan persatuan dan pendekatan antar mazhab Islam, serta mengambil langkah-langkah untuk memantapkan dan memperkuat gagasan tersebut melalui kerja sama dengan ulama Syiah. Penerbitan pernyataan, artikel, dan fatwa yang mengakui mazhab Imamiyah sebagai salah satu mazhab Islam, pengajaran fikih Imamiyah di Universitas Al-Azhar, dan pembentukan lembaga Dar al-Taqrib Baina al-Madzahib al-Islamiyyah adalah beberapa langkah tersebut.
Al-Azhar terdiri dari berbagai badan dan departemen, termasuk Haiah Kibar al-Ulama (Dewan Ulama Senior), Majlis al-A'la lil-Azhar (Dewan Tinggi Al-Azhar), Universitas Al-Azhar, sekolah-sekolah (dari tingkat dasar hingga pra-universitas), perpustakaan, dan beberapa lembaga pendidikan lainnya. Bagian paling terkenal dari lembaga ini adalah Universitas Al-Azhar dengan hampir setengah juta mahasiswa. Universitas Al-Azhar mencakup fakultas-fakultas ilmu Islam dan ilmu eksperimental seperti kedokteran dan teknik, serta memiliki cabang di berbagai negara.
Pendirian
Masjid Al-Azhar adalah masjid pertama yang didirikan oleh Fatimiyah di kota Kairo setelah mereka menguasai Mesir. Jawhar al-Shiqilli, panglima khalifah Fatimiyah di Mesir, memulai pembangunan masjid ini pada Jumadil Awal tahun 359 H dan menyelesaikannya pada Ramadan tahun 361 H. Setahun kemudian, pada Idulfitri tahun 362 H, Mu'izz li-Din Allah (W.365 H), khalifah Fatimiyah saat itu, meresmikan masjid ini.[1]
Penamaan
Masjid ini awalnya disebut Jami' al-Qahirah (Masjid Kairo). Kemudian, nama "Al-Azhar" juga digunakan. Kedua nama tersebut digunakan hingga masa Al-Maqrizi pada awal abad ke-9 H.[2] Dikatakan bahwa nama Al-Azhar diambil dari nama Sayidah Zahra. Kata Al-Azhar berarti "yang paling cemerlang/terang". Dilaporkan bahwa pencahayaan masjid ini pada malam-malam hari raya sangat mencolok sehingga khalifah Fatimiyah membangun menara di dinding istananya untuk melihatnya. Oleh karena itu, sebagian orang mengatakan masjid ini dinamakan Al-Azhar karena lebih cemerlang daripada masjid-masjid lain di Kairo. Ada pula yang mengatakan bahwa nama Al-Azhar diambil dari nama istana-istana di sekitar masjid ini yang disebut "Qushur al-Zahirah".[3]
Sejarah
Masjid Al-Azhar awalnya hanya sebuah Masjid, namun dalam beberapa tahun berubah menjadi pusat pendidikan Syiah. Majelis pelajaran fikih Syiah pertama di Masjid Al-Azhar diadakan pada tahun 365 H, yaitu empat tahun setelah pembangunan masjid. Sebelumnya, pelajaran fikih Syiah diadakan di dalam istana kerajaan, sedangkan pelajaran fikih Ahlusunah diadakan di masjid-masjid lokal. Buku-buku pertama yang diajarkan di Al-Azhar adalah Da'aim al-Islam karya Qadhi Nu'man al-Maghribi dan Al-Risalah al-Waziriyyah fi al-Fiqh al-Syiah karya Ya'qub bin Killis.[4] Selama periode Fatimiyah, Al-Azhar mendapat dukungan dari para khalifah Fatimiyah dan dana wakaf dialokasikan untuk biaya operasionalnya.[5]
Al-Azhar Pasca Fatimiyah
Setelah jatuhnya Fatimiyah, Al-Azhar kehilangan kedudukan tingginya pada masa Ayyubiyah (569-650 H), yang meresmikan kembali mazhab Sunni di Mesir. Pada masa Shalahuddin al-Ayyubi (564-589 H), Salat Jumat tidak lagi diadakan di Masjid Al-Azhar.[6] Namun, pada masa Mamluk (648-923 H), Al-Azhar kembali mendapatkan nilai masa lalunya. Baibars (658-676 H), sultan Mamluk, adalah orang yang menghidupkan kembali Al-Azhar. Salah satu panglimanya merenovasi masjid tersebut dan salat Jumat kembali diadakan di Masjid Jami' Al-Azhar pada tahun 665 H.[7]
Utsmaniyah
Mesir dikuasai oleh sultan-sultan Utsmaniyah pada tahun 923 H dan menjadi bagian dari Kekaisaran Utsmaniyah. Pemerintahan Utsmaniyah tidak mencampuri urusan Al-Azhar, dan Al-Azhar pun tidak bergantung pada pemerintah ini karena kemandirian finansialnya yang berbasis pada dana wakaf yang dimilikinya.[8] Sultan-sultan Utsmaniyah menghormati Al-Azhar dan para syekhnya.[9]
Syekh Al-Azhar
Dikatakan bahwa jabatan Syekh Al-Azhar pertama kali dibentuk pada masa Utsmaniyah, dan tampaknya orang pertama yang memegang jabatan ini adalah Muhammad bin Abdullah al-Kharashi (1101 H).[10] Beberapa peneliti berpendapat bahwa lebih dari seratus tahun sebelum Al-Kharashi, beberapa ulama Al-Azhar juga memiliki kedudukan seperti itu.[11] Beberapa bukti sejarah menunjukkan bahwa Syekh Al-Azhar dipilih dengan persetujuan ulama Al-Azhar dan para pelajar, lalu dikukuhkan oleh Gubernur Mesir.[12]
Para Syekh Al-Azhar bermazhab Maliki hingga tahun 1137 H ketika Ibrahim al-Fayyumi wafat. Namun setelahnya, ulama bermazhab Syafi'i yang menduduki jabatan ini.[13]
Syekh Al-Azhar dan Invasi Napoleon ke Mesir
Antara tahun 1213 hingga 1216 H ketika Mesir diduduki oleh Prancis, para Syekh Al-Azhar berperan sebagai mediator antara rakyat dan penguasa militer asing.[14] Napoleon yang masuk ke Mesir (1798 M) membentuk sebuah dewan untuk mengelola Mesir dan menempatkan sepuluh ulama Al-Azhar di dalamnya.[15] Meskipun sebagian menganggap Al-Azhar sebagai pembawa bendera perjuangan melawan Prancis,[16] analisis lain menunjukkan dukungan ulama terkemuka Al-Azhar terhadap Napoleon.[17] Meskipun para pelajar dan ulama tingkat menengah Al-Azhar berpartisipasi dalam dua pemberontakan melawan Prancis di Kairo, namun ulama tingkat atas Al-Azhar tidak menyertai para pemberontak.[18] Setelah pemberontakan kedua, Al-Syarqawi menutup Al-Azhar selama sekitar satu tahun agar lembaga ini menjauh dari kerusuhan politik.[19]
Muhammad Ali Pasha
Para Syekh Al-Azhar pada tahun 1220 H melakukan perlawanan terhadap gubernur yang ditunjuk oleh Istanbul dan mendukung pemerintahan Muhammad Ali Pasha di Mesir. Namun, setelah berkuasa, Muhammad Ali Pasha berusaha mengurangi kekuasaan Al-Azhar. Ia menyita wakaf keagamaan Al-Azhar dan mencampuri penunjukan Syekh Al-Azhar.[20]
Modernisasi di Al-Azhar
Modernisasi di Al-Azhar mulai diperhatikan sejak abad ke-19 dan setelah perkenalan dengan ilmu pengetahuan dan universitas Barat. Muhammad Ali Pasha menyambut baik transfer ilmu pengetahuan baru ke Al-Azhar.[21] Dari tahun 1872 hingga 1961 M, enam kali undang-undang dikeluarkan untuk mereformasi metode pendidikan, aturan pengajaran, masa studi, kurikulum, dan struktur Al-Azhar.[22] Muhammad Abduh dan Musthafa Maraghi adalah di antara mereka yang berkontribusi dalam pembaruan Al-Azhar.[23] Pada masa kepresidenan Jamal Abdul Nashir, saat Mahmud Syaltut menjadi Syekh Al-Azhar, reformasi Al-Azhar mengambil langkah lebih lanjut dan fakultas-fakultas untuk ilmu non-Islam seperti kedokteran dan teknik serta fakultas Islam untuk wanita ditambahkan ke Universitas Al-Azhar.[24]
Struktur Al-Azhar
Saat ini, berdasarkan undang-undang yang disahkan pada tahun 1961 M, Syekh Al-Azhar dan wakilnya ditunjuk oleh Presiden Mesir.[25] Bagian-bagian terpenting Al-Azhar adalah sebagai berikut:
- Majlis al-A'la lil-Azhar (Dewan Tinggi Al-Azhar): Dewan ini beranggotakan Syekh Al-Azhar, Wakil Al-Azhar, Rektor Universitas Al-Azhar, para dekan fakultas Al-Azhar, 4 orang dari Majma' Buhuts al-Islamiyyah, dan sejumlah anggota dari lembaga pemerintah lainnya.[26]
- Majma' Buhuts al-Islamiyyah (Akademi Riset Islam): Sebuah lembaga penelitian dan otoritas penerbitan fatwa keagamaan. Akademi ini memiliki dua belas komite (lajnah). Urusan terkait dakwah agama dan hubungan dengan wilayah serta ulama negara lain juga menjadi tanggung jawab akademi ini. Departemen "Al-Tsaqafah wa al-Bu'uts al-Islamiyyah" berada di bawah akademi ini.[27]
- Universitas Al-Azhar': Berdasarkan undang-undang 1961 M, Universitas Al-Azhar terdiri dari fakultas Studi Islam, Studi Arab, Manajemen, Teknik, Pertanian, dan Kedokteran.[28] Fakultas Putri yang khusus untuk pendidikan perempuan didirikan sejak tahun 1962 M.[29] Universitas ini memiliki hampir 500 ribu mahasiswa dari 107 negara di dunia.[30]
- a'ahid al-Azhariyyah: Lembaga yang bertanggung jawab mengelola pusat pendidikan dasar hingga pra-universitas.[31]
Sikap Politik dan Keagamaan

Para analis menilai sikap politik dan keagamaan Al-Azhar didasarkan pada interpretasi Islam yang moderat. Dikatakan bahwa Al-Azhar berusaha mempertahankan dan memantapkan posisinya di antara Muslim dunia dengan mengambil sikap seperti itu.[32] Pemerintah Mesir juga mendukung pendekatan ini untuk memiliki sekutu melawan kaum Islamis radikal sekaligus memantapkan posisi Mesir di dunia Islam.[33] Hubungan Al-Azhar dan para syekhnya dengan tasawuf terkadang sangat bersahabat, dan ini dianggap sebagai salah satu faktor dan latar belakang penentangan Al-Azhar terhadap interpretasi radikal, termasuk interpretasi Wahabi terhadap Islam.[34]
Kerja Sama dengan Pemerintah
Kerja sama dengan pemerintah Mesir dianggap sebagai salah satu karakteristik Al-Azhar, terutama setelah perubahan struktural yang terjadi pada abad ke-20 dan pada era Jamal Abdul Nashir yang membuat lembaga ini semakin bergantung pada pemerintah.[35] Dikatakan bahwa sikap Al-Azhar terhadap Israel berubah seiring perubahan kebijakan pemerintah Mesir.[36] Pemerintah juga pada periode tertentu menggunakan dukungan Al-Azhar dalam memerangi komunisme[37] atau Ikhwanul Muslimin.[38]
Kelompok Al-Azhar menentang metode perjuangan Ikhwanul Muslimin, dan sebaliknya, Ikhwan menuduh mereka mempromosikan interpretasi Islam yang pasif dan kompromis.[39] Dikatakan bahwa Al-Azhar juga memiliki peran marginal dalam revolusi Mesir 2011, dan setelah revolusi juga mendukung kudeta militer terhadap pemerintahan Morsi (presiden yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin).[40]
Al-Azhar dan Dialog dengan Syiah
Pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20 Masehi, gagasan persatuan umat Islam menemukan pendukung di antara sekelompok profesor dan lulusan Universitas Al-Azhar. Beberapa dari mereka mencapai posisi Syekh Al-Azhar, dan pada masa tanggung jawab mereka, dialog baru terjadi antara beberapa ulama Syiah dan ulama Al-Azhar untuk menyelesaikan perbedaan antara pengikut kedua mazhab dan mendekatkan mereka.
Syekh Salim Bishri dan Abdul Husain Syarafuddin
Salah satu contoh awal dialog Syiah-Sunni dengan tujuan mendekatkan pemikiran dan menyelesaikan perbedaan adalah dialog Allamah Abdul Husain Syarafuddin dengan Salim Bishri, Syekh Al-Azhar, pada tahun 1329 H. Diklaim bahwa apa yang kemudian diterbitkan dalam buku Al-Muraja'at adalah hasil dari dialog atau korespondensi antara keduanya.[41]
Musthafa Maraghi dan Abdul Karim Zanjani
Salah satu yang percaya pada kemungkinan dan perlunya pendekatan antarmazhab dan kelompok Islam adalah Musthafa Maraghi (1945 M), salah satu ulama Al-Azhar, yang menjabat sebagai Syekh Al-Azhar sekali pada tahun 1928-1929 M dan sekali lagi dari 1934 hingga 1945 M.[42] Dialog dengan Musthafa Maraghi mengenai persatuan Syiah dan Sunni dimulai oleh Abdul Karim Zanjani (1304-1388 H), seorang fakih Syiah yang tinggal di Najaf. Zanjani, yang melakukan perjalanan ke negara-negara Islam, pergi ke Mesir pada tahun 1936 M[43] dan bertemu dengan Musthafa Maraghi.[44]
Musthafa Maraghi dengan memberikan buku Al-Mughni dan Al-Syarh al-Kabir kepada Abdul Karim Zanjani memintanya untuk menulis buku komprehensif tentang fikih lima mazhab Islam. Musthafa Maraghi juga dalam surat-suratnya kepada Abdul Karim Zanjani, pada tahun 1356 dan 1357 H, mengusulkan pembentukan Dewan Tinggi Islam (terdiri dari perwakilan semua kelompok Islam). Ia menyatakan tujuan dewan semacam itu adalah memperkuat persaudaraan di antara Muslim dunia, kerja sama lembaga pendidikan untuk menyebarkan budaya Islam, menyederhanakan aturan agama dan membuatnya dapat dipahami oleh umum umat Islam, serta bertindak untuk mendekatkan pandangan berbagai kelompok Islam.[45] Rencana ini tidak terlaksana karena pecahnya Perang Dunia II.
Jamaah Taqrib (Dar al-Taqrib)
Muhammad Taqi Qummi adalah ulama Syiah lainnya yang menjalin hubungan dengan ulama Al-Azhar dengan tujuan mendekatkan mazhab-mazhab Islam. Qummi melakukan perjalanan ke Kairo sejak tahun 1938 M dan bertemu dengan ulama Al-Azhar termasuk Musthafa Maraghi. Dengan usahanya dan beberapa ulama Al-Azhar, Jamaah al-Taqrib Baina al-Madzahib al-Islamiyyah didirikan pada tahun 1947 M (1366 H) di Kairo saat Musthafa Abdul Razzaq menjadi Syekh Al-Azhar.[46] Kelompok ini memiliki pusat bernama Dar al-Taqrib Baina al-Madzahib al-Islamiyyah.[47]
Musthafa Abdul Razzaq, Abdul Majid Salim, dan Mahmud Syaltut memiliki peran besar dalam pendirian dan kelangsungan lembaga ini.[48] Ketiganya pernah menjabat sebagai Syekh Al-Azhar dan mendukung kegiatan Dar al-Taqrib.[49]
Dua tahun setelah pendirian Dar al-Taqrib, lembaga ini menerbitkan majalah bernama Risalah al-Islam di mana sejumlah ulama Al-Azhar juga menulis artikel di dalamnya, termasuk Syekh Mahmud Syaltut yang menerbitkan artikel berseri tentang tafsir Al-Qur'an di majalah ini.[50]
Mahmud Syaltut
Syaltut adalah salah satu Syekh Al-Azhar (1958-1963 M) yang percaya pada pendekatan antarmazhab Islam dan persatuan Muslim. Pada tahun 1960 M, ia mengeluarkan fatwa tentang kebolehan mengikuti fikih Syiah Imamiyah dan fikih Zaidiyah yang menjadi sangat terkenal. Syaltut menegaskan bahwa agama Islam tidak mewajibkan umat Islam untuk mengikuti mazhab tertentu.[51]
Hubungan Al-Azhar dengan Iran
Ulama Al-Azhar termasuk Abdul Majid Salim dan Syekh Mahmud Syaltut yang berhubungan dengan Jamaah Taqrib, berkorespondensi dengan Husain Burujerdi melalui perantara Muhammad Taqi Qummi.[52]
Pada bulan Juli 1971 M, Muhammad Fahham (yang menjabat sebagai Syekh Al-Azhar dari 1969 hingga 1973 M) berkunjung ke Iran atas undangan Organisasi Wakaf[53] dan bertemu dengan beberapa ulama di Teheran. Dalam pertemuan tersebut, di mana Muhammad Taqi Qummi dan Muhammad Taqi Falsafi berpidato, dibahas topik-topik mengenai Taqrib Mazhab.[54]
Pandangan Anti-Syiah
Setelah Revolusi Islam Iran, perbedaan politik antara Iran dan Mesir membayangi dialog pendekatan antara Al-Azhar dan ulama Syiah dan memperlambatnya. Pada tahun 1979 dan 1980 M, artikel-artikel menentang Republik Islam diterbitkan di majalah Al-Azhar. Pada tahun 1984 M, ketika Jad al-Haq, Syekh Al-Azhar, ditanya tentang nasib Dar al-Taqrib Baina al-Madzahib al-Islamiyyah, ia menyatakan lembaga ini telah bubar karena alasan politik dan mengatakan Al-Azhar tidak akan bergabung lagi dengan lembaga semacam itu.[55] Pada tahun 1997 M, ketika sekitar 50 orang (yang diidentifikasi dipimpin oleh Hassan Shehata) ditangkap di Mesir dengan tuduhan mengganggu ketertiban umum melalui penyebaran buku dan akidah Syiah, kebebasan Syiah di Mesir dibatasi, dan Al-Azhar juga mengambil sikap menentang Syiah dan Shehata dalam insiden ini.[56]
Secara umum, beberapa orang berbicara tentang adanya dua kecenderungan, pro dan kontra Syiah di Al-Azhar, sementara yang lain berpendapat bahwa ulama Al-Azhar secara umum memiliki sikap anti-Syiah.[57] Juga dikatakan bahwa beberapa tokoh Al-Azhar seperti Muhammad Husain al-Dzahabi, Jad al-Haq Ali Jad al-Haq, Muhammad 'Arafah, Abdul Mun'im al-Namr, dan Muhammad al-Khasyu'i mengambil sikap keras terhadap Syiah.[58]
Pernyataan Terbaru
Dua Syekh Al-Azhar terakhir memiliki pernyataan yang tidak konsisten tentang Syiah dan pendekatan antarmazhab. Dilaporkan bahwa Muhammad Sayyid Tantawi, yang menjabat sebagai Syekh Al-Azhar dari 1996 hingga 2010 M, mengambil sikap negatif terhadap keyakinan Syiah.[59] Namun, laporan lain menunjukkan bahwa Tantawi menekankan hubungan baik dengan Syiah.[60]
Ahmed el-Tayeb
Ahmed el-Tayeb (lahir 1946 M), yang menjadi Syekh Al-Azhar sejak 2010 M, sejauh ini telah menyampaikan berbagai pernyataan tentang Tasyayyu' dan Syiah; sedemikian rupa sehingga pernyataannya dianggap kontradiktif.[61] Pada bulan Ramadan 2010 M, ia berbicara tentang bahaya penyebaran Syiah di Mesir[62] dan bahkan memerintahkan pembentukan komite untuk melawan bahaya Syiah.[63] Namun dalam wawancara lain, ia menyatakan perbedaan antara Syiah dan Sunni tidak penting dan seperti perbedaan antara mazhab-mazhab Ahlusunah. Ia bahkan menganggap pindah mazhab ke Syiah sebagai boleh dan menilainya seperti pindah mazhab dari satu mazhab Sunni ke mazhab lain. Ia juga menganggap kekhalifahan Abu Bakar dan Umar sebagai masalah sejarah dan meyakininya bukan termasuk prinsip Islam.[64] Dalam pidatonya di pertemuan "Forum Dialog Bahrain: Timur dan Barat untuk Koeksistensi Manusia" di Bahrain pada 22 September 2022 M, el-Tayeb mengundang ulama Islam untuk berdialog dengan tujuan mengesampingkan perbedaan.[65]
Izin Membayar Zakat untuk Rekonstruksi dan Makanan di Palestina
Al-Azhar setelah gencatan senjata Israel dan Palestina (19 Januari 2025 M), dalam sebuah fatwa menyatakan kebolehan membayar zakat untuk rekonstruksi Gaza, penyediaan tempat berlindung bagi penduduk wilayah ini, dan pengiriman semua bahan makanan dan obat-obatan.[66]
Lihat Juga
Catatan Kaki
- ↑ Maqrizi, Al-Mawa'izh wa al-I'tibar, 1418 H, jld. 4, hlm. 51-52.
- ↑ Maqrizi, Al-Mawa'izh wa al-I'tibar, 1418 H, jld. 2, hlm. 205.
- ↑ Dodge, Universitas Al-Azhar, 1367 HS, hlm. 5-6.
- ↑ Khafaji, Al-Azhar fi Alf 'Am, 1408 H, jld. 2, hlm. 169.
- ↑ Maqrizi, Al-Mawa'izh wa al-I'tibar, 1418 H, jld. 4, hlm. 51-52.
- ↑ Maqrizi, Al-Mawa'izh wa al-I'tibar, 1418 H, jld. 4, hlm. 55.
- ↑ Maqrizi, Al-Mawa'izh wa al-I'tibar, 1418 H, jld. 4, hlm. 55.
- ↑ Al-Syinnawi, Al-Azhar Jami'an wa Jami'atan, 1983 M, hlm. 163-166.
- ↑ Al-Syinnawi, Al-Azhar Jami'an wa Jami'atan, 1983 M, hlm. 181-185.
- ↑ Lihat: Al-Syinnawi, Al-Azhar Jami'an wa Jami'atan, 1983 M, hlm. 187-190; Al-Namnam, Al-Azhar al-Syaikh wa al-Masyikhah, 2012 M, hlm. 31-32.
- ↑ Shaber Ismail, Mujtama' 'Ulama al-Azhar, 2016 M, hlm. 237, 242.
- ↑ Lihat: Al-Namnam, Al-Azhar al-Syaikh wa al-Masyikhah, 2012 M, hlm. 37-42.
- ↑ Al-Namnam, Al-Azhar al-Syaikh wa al-Masyikhah, 2012 M, hlm. 45.
- ↑ Dodge, Universitas Al-Azhar, 1367 HS, hlm. 110-111.
- ↑ Al-Bahi, Al-Azhar Tarikhuhu wa Tathawwuruhu, 1964 M, hlm. 59.
- ↑ Mir Ali, «Al-Azhar va Naqsy-e An dar Tahavvulat-e Siyasi Ijtima'i-ye Mesr», hlm. 103.
- ↑ Al-Namnam, Al-Syaikh wa al-Masyikhah, 2012 M, hlm. 96.
- ↑ Al-Namnam, Al-Azhar al-Syaikh wa al-Masyikhah, 2012 M, hlm. 97-102.
- ↑ Al-Bahi, Al-Azhar Tarikhuhu wa Tathawwuruhu, 1964 M, hlm. 66-67.
- ↑ Dodge, Universitas Al-Azhar, 1367 HS, hlm. 115-116; Al-Bahi, Al-Azhar Tarikhuhu wa Tathawwuruhu, 1964 M, hlm. 67.
- ↑ Dodge, Universitas Al-Azhar, 1367 HS, hlm. 117.
- ↑ Al-Bahi, Al-Azhar Tarikhuhu wa Tathawwuruhu, 1964 M, hlm. 234-235.
- ↑ Lihat: Khafaji dan Ali Shubh, Al-Azhar fi Alf 'Am, 1408 H, jld. 1, hlm. 186-187, 194-198; Esposito, Dairat al-Ma'arif Jahan-e Novin-e Eslam, jld. 1, hlm. 300-301.
- ↑ Esposito, Dairat al-Ma'arif Jahan-e Novin-e Eslam, jld. 1, hlm. 301.
- ↑ Al-Bahi, Al-Azhar Tarikhuhu wa Tathawwuruhu, 1964 M, hlm. 467.
- ↑ Al-Bahi, Al-Azhar Tarikhuhu wa Tathawwuruhu, 1964 M, hlm. 468.
- ↑ Al-Bahi, Al-Azhar Tarikhuhu wa Tathawwuruhu, 1964 M, hlm. 468.
- ↑ Al-Bahi, Al-Azhar Tarikhuhu wa Tathawwuruhu, 1964 M, hlm. 486.
- ↑ Al-Bahi, Al-Azhar Tarikhuhu wa Tathawwuruhu, 1964 M, hlm. 522.
- ↑ Nabdzah Ta'rifiyyah bi Jami'ah al-Azhar.
- ↑ Al-Bahi, Al-Azhar Tarikhuhu wa Tathawwuruhu, 1964 M, hlm. 473.
- ↑ Bano, «Poshtiban-e Eslam-e al-Wasathiyyah, Daneshgah-e Al-Azhar», hlm. 96.
- ↑ Bano, «Poshtiban-e Eslam-e al-Wasathiyyah, Daneshgah-e Al-Azhar», hlm. 99.
- ↑ Lihat: Zamani, «Hameh Chiz darbareh Al-Azhar va Syaikh-e Jadid-e An», hlm. 49; Nashiri dkk., «Monasabat-e Tasavvof va Al-Azhar ba Vahhabiyat dar Mesr», hlm. 261.
- ↑ Muthalibi, «Al-Azhar va Ravand-haye Siyasi-ye Mesr Pas az Enqelab-e 25 Zhanvieh 2011», hlm. 196-198.
- ↑ «Al-Azhar va Naqsy-e An dar Tahavvulat-e Siyasi - Ijtima'i-ye Mesr», hlm. 111.
- ↑ Muthalibi, «Al-Azhar va Ravand-haye Siyasi-ye Mesr Pas az Enqelab-e 25 Zhanvieh 2011», hlm. 200.
- ↑ «Al-Azhar va Naqsy-e An dar Tahavvulat-e Siyasi - Ijtima'i-ye Mesr», hlm. 115.
- ↑ «Al-Azhar va Naqsy-e An dar Tahavvulat-e Siyasi - Ijtima'i-ye Mesr», hlm. 113-114.
- ↑ Muthalibi, «Al-Azhar va Ravand-haye Siyasi-ye Mesr Pas az Enqelab-e 25 Zhanvieh 2011», hlm. 204, 207.
- ↑ Lihat: Khusrowshahi, «Al-Syaikh Salim al-Bisyri wa al-Allamah Syarafuddin», hlm. 211-212.
- ↑ Khafaji, Al-Azhar fi Alf 'Am, 1408 H, jld. 1, hlm. 264.
- ↑ Al-Daftar, Shafhah min Rihlah al-Imam al-Zanjani wa Khuthabuhu, 1996 M, jld. 1, hlm. 259.
- ↑ Al-Daftar, Shafhah min Rihlah al-Imam al-Zanjani wa Khuthabuhu, 1996 M, jld. 1, hlm. 33.
- ↑ Al-Daftar, Shafhah min Rihlah al-Imam al-Zanjani wa Khuthabuhu, 1996 M, jld. 1, hlm. 51, 53-54.
- ↑ Qummi, Sargozasht-e Taqrib, 1389 HS, hlm. 32-33.
- ↑ Bi-Azar Syirazi, Hambastegi-ye Madzahib-e Eslami, 1377 HS, hlm. 125.
- ↑ Al-Qummi, «Rijal Shadaqu», hlm. 189-191; Syaltut, «Muqaddimah Qishshah al-Taqrib», hlm. 198-199.
- ↑ Bi-Azar Syirazi, Hambastegi-ye Madzahib-e Eslami, 1377 HS, hlm. 66-68.
- ↑ Bi-Azar Syirazi, Hambastegi-ye Madzahib-e Eslami, 1377 HS, hlm. 41.
- ↑ Majalah Risalah al-Islam, Tahun 11, No. 3, Muharram 1379 H, hlm. 228.
- ↑ Bi-Azar Syirazi, Hambastegi-ye Madzahib-e Eslami, 1377 HS, hlm. 310-317.
- ↑ Aks-e Doktor Mohammad Fahham Ra'is-e Jami' al-Azhar, hlm. 503.
- ↑ Bi-Azar Syirazi, Hambastegi-ye Madzahib-e Eslami, 1377 HS, hlm. 371-385.
- ↑ Brunner, Al-Taqrib baina al-Madzahib al-Islamiyyah fi al-Qarn al-'Isyrin, 2015 M, hlm. 573.
- ↑ Brunner, Al-Taqrib baina al-Madzahib al-Islamiyyah fi al-Qarn al-'Isyrin, 2015 M, hlm. 581-582.
- ↑ Lihat: Alizadeh Mousavi, Al-Azhar va Tashayyu', hlm. 71-72.
- ↑ Alizadeh Mousavi, Al-Azhar va al-Tashayyu', hlm. 72.
- ↑ Brunner, Al-Taqrib baina al-Madzahib al-Islamiyyah fi al-Qarn al-'Isyrin, 2015 M, hlm. 579-580.
- ↑ Khusrowshahi, Kudeta dar Mesr, 1395 HS, hlm. 61, 214.
- ↑ Alizadeh Mousavi, Al-Azhar va Tashayyu', hlm. 74.
- ↑ Subhani, Ma'a Syaikh al-Azhar fi Muhadharatihi al-Ramadhaniyyah, 1437 H, hlm. 9.
- ↑ Alizadeh Mousavi, Al-Azhar va Tashayyu', hlm. 77.
- ↑ Aqwal al-Imam 'an al-Ukhuwwah al-Insaniyyah, Situs Web Al-Imam al-Tayeb.
- ↑ Surat Abul Hasan Navvab kepada Syekh Al-Azhar menyusul pernyataan terbaru Ahmed el-Tayeb, Shia News.
- ↑ «Fatwa-ye Al-Azhar dar Khusush-e Javaz-e Ekhtisash-e Zakat be Bazsazi-ye Ghazzeh», Situs Web Kantor Perwakilan Wali Fakih dalam Urusan Haji dan Ziarah.
Daftar Pustaka
- «Aks-e Doktor Mohammad Fahham Ra'is-e Jami' al-Azhar» (Foto Dr. Muhammad Fahham Rektor Universitas Al-Azhar). Majalah Vahid, No. 91, Tir 1350 HS.
- «Al-Azhar va Naqsy-e An dar Tahavvulat-e Siyasi - Ijtima'i-ye Mesr» (Al-Azhar dan Perannya dalam Perkembangan Politik - Sosial Mesir). Jurnal Pajuhesy-haye Siyasi-ye Jahan-e Eslam, Tahun 4, No. 1, Musim Semi 1393 HS.
- Al-Bahi, Muhammad. Al-Azhar, Tarikhuhu wa Tathawwuruhu. Kairo, Wazarah al-Awqaf wa Syu'un al-Azhar, 1964 M.
- Al-Daftar, Muhammad Hadi. Shafhah min Rihlah al-Imam al-Zanjani wa Khuthabuhu fi al-Aqthar al-'Arabiyyah wa al-'Awashim al-Islamiyyah. Tahkik: Hasan al-Syaikh Ibrahim al-Kutbi. Beirut, Muassasah al-Nu'man, 1996 M.
- Alizadeh Mousavi. «Al-Azhar va al-Tashayyu'» (Al-Azhar dan Syiah). Jurnal Ilmiah Ma'rifat-e Syi'eh, No. 2, Musim Dingin 1400 HS.
- Al-Namnam, Hilmi. Al-Azhar al-Syaikh wa al-Masyikhah. Kairo, Maktabah al-Madbuli, 2012 M.
- Al-Syinnawi, Abdul Aziz Muhammad. Al-Azhar Jami'an wa Jami'atan. Kairo, Maktabah al-Anjilu al-Mishriyyah, 1983 M.
- Bano, Masooda. «Poshtiban-e Eslam-e al-Wasathiyyah» Daneshgah-e Al-Azhar Qahireh, Jaryan Syenasi-ye Dini Ma'refati dar Arseh-ye Bein al-Melal ("Pendukung Islam Moderat" Universitas Al-Azhar Kairo, Studi Arus Keagamaan Epistemologis di Arena Internasional). No. 13, Musim Gugur 1395 HS.
- Bi-Azar Syirazi. Hambastegi-ye Madzahib-e Eslami (Maqalat-e Dar al-Taqrib) (Solidaritas Mazhab-mazhab Islam: Artikel-artikel Dar al-Taqrib). Teheran, Sazman-e Farhang va Ertebatat-e Eslami, 1377 HS.
- Brunner, Rainer. Al-Taqrib baina al-Madzahib al-Islamiyyah fi al-Qarn al-'Isyrin. Terjemahan: Batul 'Ashi dan Fathimah Zaraqith. Beirut, Markaz al-Hadharah li al-Tanmiyah al-Fikri al-Islami, 2015 M.
- Dodge, Bayard. Universitas Al-Azhar, Tarikh-e Hezar Saleh-ye Ta'limat-e 'Ali-ye Eslami (Al-Azhar: A Millennium of Muslim Learning). Terjemahan: Azarmidokht Masyayekh Faridani. Teheran, Markaz-e Nasyr-e Daneshgahi, 1367 HS.
- Esposito, John L. Dairat al-Ma'arif Jahan-e Novin-e Eslam (The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World). Terjemahan: Hasan Taromi, Mohammad Dashti, Mehdi Dashti. Teheran, Kongreh va Ketab-e Marja, 1388 HS.
- «Fatwa-ye Al-Azhar dar Khusush-e Javaz-e Ekhtisash-e Zakat be Bazsazi-ye Ghazzeh» (Fatwa Al-Azhar Mengenai Kebolehan Pengalokasian Zakat untuk Rekonstruksi Gaza). Situs Web Kantor Perwakilan Wali Fakih dalam Urusan Haji dan Ziarah. Tanggal posting: 30 Bahman 1403 HS. Tanggal akses: 1 Esfand 1403 HS.
- Khafaji, Muhammad Abdul Mun'im. Al-Azhar fi Alf 'Am. Beirut, 'Alam al-Kutub, 1408 H.
- Khusrowshahi, Sayid Hadi. «Al-Syaikh Salim al-Bisyri wa al-Allamah Syarafuddin». Risalah al-Taqrib, No. 61, Jumadil Awal dan Jumadil Akhir 1428 H.
- Khusrowshahi, Sayid Hadi. Kudeta dar Mesr (Kudeta di Mesir). Qom, Kolbeh-ye Syuruq, 1395 HS.
- Maqrizi, Ahmad bin Ali. Al-Mawa'izh wa al-I'tibar fi Dzikr al-Khithath wa al-Atsar. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1418 H.
- Muthalibi, Mas'ud. «Al-Azhar va Ravand-haye Siyasi-ye Mesr Pas az Enqelab-e 25 Zhanvieh 2011» (Al-Azhar dan Proses Politik Mesir Pasca Revolusi 25 Januari 2011). Jurnal Ulum-e Siyasi, No. 39, Musim Panas 1396 HS.
- Nashiri, Mohammad dkk. «Monasabat-e Tasavvof va Al-Azhar ba Vahhabiyat dar Mesr (Mutha'aleh-ye Mureedi: Ruykard-e Abdul Halim Mahmud)» (Hubungan Tasawuf dan Al-Azhar dengan Wahabisme di Mesir (Studi Kasus: Pendekatan Abdul Halim Mahmud)). Adyan va Erfan, Tahun 49, No. 2, Musim Gugur 1395 HS.
- Qummi, Muhammad Taqi. Sargozasht-e Taqrib (Kisah Taqrib). Pengantar dan lampiran oleh Hadi Khusrowshahi. Terjemahan: Muhammad Moqaddas. Teheran, Majma' Jahani-ye Taqrib-e Madzahib-e Eslami, 1389 HS.
- Shaber Ismail, Abdul Jawad. Mujtama' 'Ulama al-Azhar Ibbana al-Hukm al-Utsmani. Kairo, Dar al-Kutub wa al-Watsaiq al-Qaumiyyah, 2016 M.
- Subhani, Ja'far. Ma'a Syaikh al-Azhar fi Muhadharatihi al-Ramadhaniyyah. Qom, Muassasah al-Imam al-Shadiq, 1437 H.
- Syaltut, Mahmud. «Muqaddimah Qishshah al-Taqrib». Risalah al-Islam, No. 3 dan 4, Rajab 1383 H.
- Zamani. «Hameh Chiz darbareh Al-Azhar va Syaikh-e Jadid-e An» (Segala Sesuatu tentang Al-Azhar dan Syekh Barunya). Darshay-i az Maktab-e Eslam, No. 592, Shahrivar 1389 HS.