Prioritas: a, Kualitas: c
tanpa link
tanpa navbox
tanpa alih
tanpa referensi

Keimanan Abu Thalib

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Keimanan Abu Thalib merupakan salah satu pembahasan kalam antara Sunni dan Syiah. Menurut sebagian riwayat, Abu Thalib, paman Rasulullah saw dan ayah dari Imam Ali bin Abi Thalib as, tidak sempat masuk Islam dan meninggal dunia dalam keadaan musyrik. Kalangan Sunni mengingkari imannya Abu Thalib. Mereka berargumen dengan riwayat-riwayat yang menunjukkan ketidak-berimanan Abu Thalib. Mereka berpendapat bahwa Abu Thalib tetap berpegang teguh pada agama nenek moyangnya hingga ajal menjemputnya. Namun, Syiah dengan berpegang pada riwayat-riwayat Ahlul Bait mengenai hal ini bersepakat bahwa Abu Thalib beriman kepada Rasulullah saw. Selain menjawab pendapat orang yang mengingkari keimanan Abu Thalib, para ulama Syiah juga mengungkapkan dalil-dalil atas keimanan Abu Thalib.

Argumentasi Orang-Orang yang Mengingkari Keimanan Abu Thalib

Orang-orang yang mengingkari keimanan Abu Thalib menggunakan berberapa dalil yang dikutip dalam kitab-kitab mereka.

Ayat Pelarangan Minta Ampunan Untuk Orang Musyrik

Diriwayatkan bahwa Sa’id bin Musayyib mengutip dari ayahnya bahwa Abu Thalib ketika menjelang wafatnya menolak perkataan Rasulullah saw yang menyuruhnya mengucapkan لا اله الاّ اللّه (Tiada Tuhan Selain Allah), dan ia meninggal dalam agama nenek moyangnya. Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah, aku akan memintakan ampunan untukmu sehingga aku dilarang (oleh Allah).” Pada saat itu turun surah At-Taubah ayat 113 yang menyatakan bahwa tidak pantas bagi Rasulullah saw dan orang-orang mukmin memintakan ampunan untuk orang-orang musyrik, sekalipun dari keluarga mereka sendiri.[1]

Jawaban: Sa’id bin Musayyib dalam riwayat ini adalah orang yang memusuhi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as dan pertentangannya dengan Ali sangat nyata.[2] Allamah Amini menyebutkan bahwa riwayat di atas bertentangan dengan riwayat lain yang banyak ditulis oleh orang-orang Sunni dalam kitab-kitabnya, dimana riwayatnya memiliki sanad shahih yang bersambung kepada Ali bin Abi Thalib as yang berkata, “Aku mendengar seseorang memintakan ampunan (istighfar) untuk ibunya yang musyrik. Maka aku menyampaikan hal ini kepada Rasulullah saw. Kemudian turunlah ayat ini.”[3]

Kitab "Imanu Abi Thalib" Karya Syaikh Mufid

Ayat Lain

Sebagian lagi menyebutkan bahwa surah Al-An’am ayat 26 turun berkenaan dengan Abu Thalib. Diriwayatkan bahwa seseroang mendengar Ibnu Abbas berkata, “Abu Thalib mencegah masyarakat mengganggu dan menyakiti Rasulullah saw, namun Abu Thalib sendiri tidak masuk Islam.”[4]

Jawaban: Pertama, riwayat ini adalah mursal, karena tidak jelas siapa orang yang mendengar perkataan Ibnu Abbas tersebut. Kedua, orang yang menukil riwayat ini adalah Habib bin Abi Tsabit yang oleh kalangan Ahlu Sunnah sendiri dinilai lemah.[5] Ketiga, dalam tafsir Thabari riwayat ini muncul dalam bentuk lain, dimana ayat tersebut turun berkenaan dengan orang-orang musyrik yang menghalangi masyarakat untuk beriman kepada Rasulullah saw dan mereka sendiri tidak beriman.[6] Dengan memperhatikan bentuk ayatnya, semua dhamir (kata ganti) dalam ayat tersebut kembali kepada orang-orang musyrik dalam ayat sebelumnya.

Hadits Dhahdhah

Orang-orang yang mengingkari keimanan Abu Thalib juga bersandar pada sebuah riwayat yang bernama Dhahdhah (ضحضاح), dimana seseorang menyebut Abu Thalib di hadapan Rasulullah saw. Saat itu Rasulullah saw bersabda, “Semoga syafaatku di hari kiamat bisa bermanfaat baginya. Ia berada dalam bara api neraka hingga kedua mata kakinya dan panasnya mendidihkan otaknya.”[7]

Jawaban: Pertama, riwayat ini dinukil oleh Mughirah bin Abi Syu’bah. Allamah Majlisi menjelaskan bahwa Mughirah bin Abi Syu’bah nyata memiliki dendam dan permusuhan terhadap Bani Hasyim dan Ali bin Abi Thalib as.[8] Kedua, seandainya Abu Thalib adalah kafir, maka apa artinya harapan atas syafaat apabila syafaat tidak akan meliputi orang musyrik?[9]

Argumentasi Orang-Orang yang Mengakui Keimanan Abu Thalib

Syiah dan ulamanya selain menjawab bantahan para pengingkar keimanan Abu Thalib, mereka juga menyebutkan argumentasi tentang imannya Abu Thalib. Diantara argumentasinya adalah:

Perbuatan dan Sikap Abu Thalib

Abu Thalib adalah orang yang mengajak istrinya, Fathimah binti Asad, anak-anaknya dan Raja untuk memeluk Islam.[10] Ketika ia melihat anaknya, Ali bin Abi Thalib, melakukan sholat bersama Rasulullah saw, ia tidak melarangnya. Ia justru berkata kepada anaknya yang lain, Jafar, “Shalatlah di sebelah kiri Rasulullah saw!”[11]

Abu Thalib menanggung segala kesusahan bersama Rasulullah saw. Ia tidak pernah berhenti melindungi dan mengikuti keponakannya, Rasulullah saw, hingga ajalnya tiba. Diriwayatkan bahwa menjelang akhir hayatnya, ia berkata, “Wahai kaum Bani Hasyim, benarkanlah dan taatilah Muhammad sehingga kalian beruntung da mendapat hidayah!”[12]

Ibnu Abil Hadid meyakini hak Abu Thalib atas seluruh muslimin. Ia berkata, “Dengan sanad yang banyak, diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Abu Thalib tidak meninggal sehingga ia menucapkan syahadat.” Di tempat lain ia juga menulis, “Seandainya tidak ada Abu Thalib, maka Islam pun tidak ada.” Ia menjelaskan bahwa jika Abu Thalib menampakkan keimanannya, maka martabat dan kemuliaannya di mata kaum musyrikin akan hilang dan sebagai pemimpin kabilah ia tidak akan mampu lagi membela Islam.”[13]

Perkataan dan Syair-Syair Sastra Abu Thalib

Syair dan perkataan sastra Abu Thalib mencapai lebih dari seribu bait yang terkenal dengan Diwan Abu Thalib. Berikut ini kasidah dan syair Abu Thalib yang seluruhnya sedang membenarkan kenabian Rasulullah saw.

اِن ابن آمنة النبی محمدا عندی یفوق منازل الاولاد
“Sesungguhnya kedudukan dan martabat putra Aminah (Muhammad), di sisiku lebih tinggi dari anak-anakku sendiri.”

Di antara syairnya yang terkenal adalah “Kasidah Lamiyah” yang dimulai sebagai berikut:

خلیلی ما أذنی لاول عاذل بصغواء فی حق و لا عند باطل
“Telinga tidak pernah mendengar ucapan para penghina, dan aku tidak pernah tertarik pada kekafiran dan kedurhakaan.”[14]

Mengenai hal ini Allamah Amini berkata, “Aku tidak tahu bagaimana syahadat dan pengakuan terhadap Rasulullah saw, sehingga seluruh kata dalam syair-syair Abu Thalib yang beragam ini tidak disebut sebagai pengakuan? Jika salah satu perkataan tersebut terdapat dalam syair atau karya tulis seseorang, maka semua orang akan mengatakan bahwa penyair tersebut adalah seorang muslim. Namun, menurut orang-orang yang mengingkari keimanan Abu Thalib, perkataan-perkataan dalam syair tersebut sama sekali tidak menunjukkan bahwa Abu Thalib seorang muslim.[15]

Ibnu Abil Hadid mengatakan, “Andaipun syair-syair ini secara terpisah tidak sampai pada derajat yang pasti, namun keseluruhan syair tersebut adalah mutawatir dan semuanya berhubungan dengan satu perkara yang sama, yaitu pembenaran Abu Thalib atas kenabian Rasulullah saw.[16] Dalam salah satu syairnya disebutan, “Wahai saksi Allah, saksikanlah bahwa aku berada dalam agama Nabi Ahmad (Saw).”[17] Atau dalam syair yang lain, “Sebagaimana Allah telah memuliakan Nabi Muhammad saw, maka yang paling mulia di antara semua makhluk Allah dan yang terbaik di antara Bani Hasyim adalah Ahmad. Ia adalah orang yang diutus oleh Allah setelah terhentinya nabi.”[18] Dalam syair lain disebutkan, “Aku telah membantu seorang utusan Allah dengan sebuah pedang, bagaikan petir aku melindungi utusan Allah seperti seorang pelindung yang hatinya selalu terpaut padanya.”[19]

Riwayat Ahlul Bait As

Perkataan-perkataan yang menjelaskan keutamaan dan sifat-sifat Abu Thalib menurut Rasulullah saw, Imam Ali bin Abi Thalib as dan para Imam Maksum as semuanya menguatkan bahwa Abu Thalib meninggal dunia dalam keadaan muslim. Dalam hadis qudsi dinyatakan bahwa Jibril turun kepada Nabi Muhammad saw dan berkata, “Wahai Muhammad, Tuhanmu menyampaikan salam atasmu dan berfirman, “Aku telah haramkan api neraka atas sulbi yang mengeluarkanmu, perut yang mengandungmu, dan pundak yang memanggulmu.” Nabi Saw bersabda, “Jibril, terangkanlah hal itu untukku!” Jibril berkata, “Yang dimaksud sulbi adalah sulbi ayahmu Abdullah bin Abdul Muthalib, sementara perut adalah Aminah binti Wahab dan yang dimaksud pundak adalah penanggungan Abu Thalib.”[20]

Perkataan Rasulullah saw

Ketika Nabi Muhammad saw mengalami masa-masa susah pada awal Islam, Abu Thalib senantiasa mendampingi dan membelanya. Setiap Nabi berbicara, Abu Thalib selalu mengingatnya dengan baik dan penuh kebijaksanaan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw berkata kepada Jabir bin Abdillah al-Anshari, “Pada saat perjalanan mi’raj, aku melihat empat cahaya. Allah berfirman, “Ini adalah Abdul Muthalib, ini pamanmu Abu Thalib, ini ayahmu Abdullah, dan ini ibumu Aminah.”[21] Dalam riwayat lain Rasulullah berkata, “Pada hari kiamat, Abu Thalib berada diantara para raja dan terkenal diantara para nabi.”[22] Rasulullah saw berkata, “Allah memberikan janji syafaat atas keempat orang tersebut pada hari kiamat, dimana salah satu dari mereka adalah Abu Thalib.”[23]

Perkataan Imam Ali As

Perkataan Imam Ali bin Abi Thalib as ketika menyebutkan ayahnya semuanya tentang keutamaan dan kemuliaan pribadi sejarah Islam ini. Imam Ali As berkata, “Cahaya Abu Thalib pada hari kiamat akan melebihi terangnya seluruh cahaya, kecuali atas lima cahaya. Cahaya Abu Thalib berasal dari cahaya kami. Allah menciptakannya dua ribu tahun sebelum penciptaan Adam As.”[24] Imam Ali As juga berkata, “Ketika ayahku mendekati ajalnya, Rasulullah saw hadir di dekatnnya dan Rasulullah memberi sebuah kabar gembira kepadaku tentang ayahku, dimana kabar gembira itu lebih aku sukai daripada seluruh dunia dan isinya.”[25]

Perkataan Para Imam Maksum As

Imam Sajad As ketika ditanya tentang Abu Thalib, berkata, “Betapa anehnya pertanyaanmu! Rasulullah saw melarang seorang perempuan muslim tetap berada dalam pernikahan dengan laki-laki kafir. Padahal Fathimah binti Asad adalah diantara orang yang awal masuk Islam dan hingga akhir hayatnya ia tetap berada dalam pernikahan dengan Abu Thalib.”[26]

Imam Muhammad Bagir As menjelaskan keimanan Abu Thalib dan berkata, “Jika imannya Abu Thalib berada dalam timbangan dan imannya semua orang ini ditaruh dalam timbangan sebelahnya, maka iman Abu Thalib akan lebih berat.”[27]

Imam Shadiq As dalam sebuah riwayat menyebut Abu Thalib sebagai Ashabul Kahfi, dimana Ashabul Kahfi menyembunyikan imannya dan menampakkan kesyirikan dan Allah memberikan dua pahala kepada mereka.[28] Dalam penjelasan lain kepada Yunus bin Nabatah, Imam Shadiq As berkata, “Musuh-musuh Allah berkata dusta tentang Abu Thalib. Ia adalah teman para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang saleh.”[29]

Dalam riwayat lain disebutkan, seseorang menulis kepada Imam Ridha As dan mengatakan bahwa ia ragu tentang keimanan Abu Thalib. Dalam menjawabnya, Imam Ridha As menyebutkan surah An-Nisa ayat 115 dan mengatakan, “Jika engkau tidak mengakui keimanan Abu Thalib, maka balasannya adalah api neraka.”[30] Dalam riwayat lain Imam Ridha As berkata, “Dalam cincin Abu Thalib terdapat kalimat “Aku mengakui Allah sebagai Tuhan, putra saudaraku sebagai nabi dan anakku Ali sebagai khalifahnya”.[31]

Dari Imam Hasan al-Askari diriwayatkan, “Allah menurunkan wakyu kepada Nabi-Nya: “Aku menolongmu dengan dua kelompok dari pengikutmu. Satu kelompok menolongmu secara sembunyi dan kelompok lainya menolongmu secara terang-terangan. Diantara kelompok pertama, pemimpin dan orang yang paling utamanya adalah pamanmu, Abu Thalib. Dan diantara kelompok kedua adalah anaknya, Ali.” Nabi bersabda, “Abu Thalib seperti mukmin keluarga Firaun yang menyembunyikan keimanannya.”[32]

Perkataan Tokoh dan Ulama

Syaikh Thusi berkata, “Mengenai islamnya Abu Thalib, Syiah Imamiyah bersepakat dan tidak ada perbedaan pendapat. Mereka memiliki dalil meyakinkan yang bisa membuktikan keimanan Abu Thalib.”[33]

Syaikh Thabarsi berkata, “Kesepakatan (ijma) Ahlul Bait adalah pada keimanannya Abu Thalib dan kesepakatan mereka adalah hujah.”[34]

Fattal Naisyaburi menulis, “Kelompok Syiah bersepakat bahwa Abu Thalib, Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab semuanya adalah mukmin dan kesepakatan mereka adalah hujah.”[35]

Ibnu Mu’ad berkata, “Ijma Ahlul Bait Nabi Saw dan kesepakatan para ulama Syiah cukup untuk kita dan bisa dijadikan sandaran.”[36]

Sayid bin Thawus berkata, “Ulama Ahlul Bait as semuanya sepakat atas keimanan Abu Thalib.” Ia juga berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa Ahlul Bait lebih mengetahui batin Abu Thalib daripada orang lain dan Syiah Ahlul Bait memiliki ijma atas perkara ini dan mereka menulis kitab-kitab mengenai hal ini.”[37]

Allamah Majlisi berkata, “Syiah memiliki ijma atas keimanan Abu Thalib, dimana ia telah beriman pada awal kenabian Rasulullah saw dan tidak pernah menyembah berhala, bahkan Abu Thalib adalah diantara washi Nabi Ibrahim as. Perkara ini masyhur di kalangan Syiah, sehingga musuh-musuh Syiah pun menisbatkan hal ini kepada Syiah. Terdapat riwayat-riwayat mutawatir yang sampai secara khusus atau umum mengenai keimanan Abu Thalib. Banyak para ulama dan ahli hadis kita yang menulis kitab khusus tentang masalah ini, sehingga tidak tersembunyi lagi bagi siapapun.”[38]

Kitab Mengenal Iman Abu Thalib

Banyak kitab yang ditulis untuk membuktikan keimanan Abu Thalib.[39] Agha Buzurg Tehrani menyebutkan sebuah kitab bernama “Iman-e Abu Thalib” (Imannya Abu Thalib).[40] Beberapa kitab lainnya sebagai berikut:

  1. Imanu Abu Thalib, karya Syaikh Mufid (W 413 H)
  2. Al-Hujjat ‘ala al-Addzahib ila Takfir Abi Thalib, karya Fukhar bin Mu’ad (W 630 H)
  3. Minyat al-Thalib fi Imani Abi Thalib, karya Sayid Husain Thabathabai Yazdi Hairi (W 1306 H)
  4. Bughyat al-Thalib fi Imani Abi Thalib, karya Sayid Muhammad Abbas Tustari Hindi (W 1306 H)
  5. Maqshad al-Thalib fi Imani Aba’i al-Nabi wa ‘Ammihi Abi Thalib, karya Mirza Husain Ghurghani
  6. Al-Qaul al-Wajib fi Imani Abi Thalib, karya Syaikh Muhammad Ali Fashih Hindi

Catatan Kaki

  1. Bukhari, jld. 4, hlm. 247.
  2. Al-Ghadir, jld, 8, hlm. 56.
  3. Ibid, hlm.12.
  4. Jami’ al-Bayan, jld. 7, hlm. 228.
  5. Al-Tsiqat, jld. 4, hlm. 137.
  6. Jami’ al-Bayan, jld. 7, hlm. 229.
  7. Bukhari, jld. 4, hlm. 247.
  8. Bihar al-Anwar, jld. 35, hlm. 112.
  9. Al-Tibyan, jld. 10, hlm. 187.
  10. Al-Shahih min Sirat al-Nabi, jld. 3, hlm. 230; Syarh Nahj al-Balaghah, jld. 13, hlm. 272.
  11. Sirah Halabiyah, jld. 1, hlm. 433; Usdu al-Ghabah, jld. 1, hlm. 287.
  12. Al-Ghadir, jld. 7, hlm.267.
  13. Syarh Nahj al-Balaghah, jld. 14, hlm. 71-83.
  14. Imanu Abi Thalib, hlm. 18
  15. Al-Ghadir, jld. 7, hlm. 341.
  16. Syarh Nahj al-Balaghah, jld. 14, hlm. 78.
  17. Ibid.
  18. Ibid.
  19. Ibid.
  20. Ma’ani al-Akhbar, hlm. 137.
  21. Raudhat al-Wa’izhin, hlm. 81.
  22. Al-Imamah wa al-Tabshirah, hlm. 34.
  23. Tarikh Ya’qubi, jld. 2, hlm. 29.
  24. Bihar al-Anwar, jld. 35, hlm. 110; Kanz al-Fawaid, hlm. 80.
  25. Bihar al-Anwar, jld. 35, hlm. 113.
  26. Bihar al-Anwar, jld. 35, hlm. 157; Syarh Nahj al-Balaghah, jld. 14, hlm. 69.
  27. Al-Ghadir, jld. 7, hlm. 38.
  28. Kafi, jld. 1, hlm. 448.
  29. Kanz al-Fawaid, hlm. 80.
  30. Syarh Nahj al-Balaghah, jld. 14, hlm. 68; Bihar al-Anwar, jld. 35, hlm. 110.
  31. Al-Darajat al-Rafi’ah, hlm. 60.
  32. Al-Hujjat ‘ala al-Dzahib, hlm. 362.
  33. Al-Tibyan, jld. 8, hlm. 164.
  34. Majma’ al-Bayan, jld. 4, hlm. 31.
  35. Raudhat al-Wa’izhin, hlm. 138.
  36. Al-Hujjat ‘ala al-Dzahib, hlm. 64.
  37. Al-Tharaif, hlm. 398.
  38. Bihar al-Anwar, jld. 35, hlm. 138.
  39. Kitab Shenasi-e Iman-e Abu Thalib
  40. Al-Dzari’ah, jld. 2, hlm. 512-513.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj Balaghah, riset Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, Tanpa Tempat, Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyah, 13778 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Abil Kiram, Usud al-Ghabah fi Ma’rifat al-Shahabah, Beirut, Dar al-Kitab al-‘Arabi, Tanpa Tahun.
  • Ibnu Babawaih Qummi, Ali bin al-Husain, Al-Imamat wa al-Tabshirah, Qom, Muassasah al-Imam al-Mahdi, 1404 H.
  • Ibn Hibban, Muhammad, Al-Tsiqat, Muassasat al-Kitab al-Tsaqafiyah, 1393 H.
  • Ibnu Thawus Hilli, Ali bin Musa, Al-Tharaif fi Ma’rifat Madzahib, al-Thawaif, Qom, Khayam, 1399 H.
  • Ibnu Mu’ad, Sayid Fakhar, Al-Hujjat ‘ala al-Dzahib ila Takfiri Abi Thalib, Qom, Sayyid al-Syuhada, 1410 H.
  • Amini, Abdul Husain, Beirut, Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1397 H.
  • Bukhari, Muhammad bin Ismail, Shahih Bukhari, Beirut, Dar al-Fikri, 1401 H.
  • Tehrani, Agha Buzurg, Al-Dzari’ah ila Tashanif al-Syi’ah, Beirut, Dar al-Adwa’, 1403 H.
  • Halabi, Al-Sirah al-Halabiyah, Beirut, Dar al-Ma’rifah, 1400 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Jami’ al-Bayan, ‘an Ta’wil al-Quran, Beirut, Dar al-Fikr, 1415 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin al-Hasan, Majma’ al-Bayan fi Tafsir al-Quran, Beirut, Muassasah al-A’lami, 1415 H.
  • Thusi, Muhammad bin al-Hasan, Al-Tibyan fi Tafsir al-Quran, riset Ahmad Habib Washir al-‘Amili, Tanpa Tempat, Maktab al-A’lam al-Islami, 1409 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali, Ma’ani al-Akhbar'Teks miring, riset Ali Akbar Ghafari, Qom, Muassasat al-Nashr al-Islami, 1338 S.
  • Kurajaki, Muhammad bin Ali, Kanz al-Fawaid, Qom, Maktabat al-Musthafawi, 1369 S.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Ushul Kafi, riset Ali Akbar Ghafari, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1363 S.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Beirut, Muassasah al-Wafa’, 1403 H.
  • Al-Mufid, Al-Fushul al-Mukhtarah, riset Al-Sayid Nur al-Din Ja’fariyan al-Ishbahani, Ya’qub al-Ja’fari, Muhsin al-Ahmadi, Beirut, Dar al-Mufid, li al-Thaba’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1414 H/1993 M.
  • Murtadha al-‘Amili, Sayid Ja’far, Al-Shahih min Sirat al-Nabi al-A’zham, Beirut, Dar al-Sirah, 1415 H.
  • Madani, Sayid Ali Khan, Al-Darajah al-Rafi’ah fi Thabaqat al-Syi’ah, riset Muhammad Shadiq Bahrul ‘Ulum, Qom, Maktabah Bashirati, 1397 H.
  • Naisyaburi, Muhammad bin Fattal, Raudhat al-Wa’izhin, Qom, Syarif al-Radhi, Tanpa Tahun; Ya’qubi, Ibnu Wadhih, Tarikh Ya’qubi, Najaf, Al-Maktabah al-Haidariyah, 1384 H.