Konsep:Rahmah
Rahmat Ilahi (bahasa Arab: رحمة الهي) adalah salah satu dari sifat fi'liyah Allah yang bermakna pemenuhan kebutuhan atau pemberian tanpa adanya keterpengaruhan hati (perasaan iba). Sebagian ulama mengartikannya sebagai kehendak untuk memberikan kebaikan dan menggolongkannya ke dalam sifat dzat Allah. Rahmat Allah terbagi menjadi dua kategori: Rahmat umum atau Rahmaniyah yang mencakup seluruh manusia (baik kafir maupun mukmin), dan rahmat khusus atau Rahimiyah yang hanya khusus bagi orang-orang beriman. Diriwayatkan dari Imam Shadiq as bahwa Allah itu Rahman (Maha Pengasih) terhadap seluruh makhluk-Nya dan Rahim (Maha Penyayang) hanya terhadap kaum mukmin.
Terdapat beberapa karakteristik yang disebutkan bagi rahmat Allah; di antaranya adalah bahwa rahmat itu wajib dan niscaya bagi hamba-hamba-Nya, begitu luas hingga mencakup segala sesuatu, dan pada hari kiamat bahkan Iblis pun akan mengharapkannya. Selain itu, rahmat Ilahi selalu mendahului murka Ilahi dan dalam ayat-ayat Al-Qur'an, Allah diperkenalkan sebagai sebaik-baik penyayang dan paling penyayang di antara para penyayang (Arham ar-Rahimin).
Berdasarkan ayat dan riwayat, faktor-faktor seperti istighfar, ketaatan kepada Allah dan Nabi, takwa, dan ma'anaqah (berpelukan sesama mukmin) dapat menarik rahmat Ilahi. Muhammad Muhsin Faidh Kasyani menganggap rahmat Ilahi memiliki tiga ciri: Tam (sempurna), 'Am (umum, mencakup dunia dan akhirat, yang berhak dan tidak berhak), dan Kamil (utuh, bebas dari kekurangan). Sebagian ulama seperti Sayid Ali Khan Madani, menganggap penggunaan kata ini untuk Allah adalah majaz (metafora) karena dalam makna hakiki rahmat terdapat keterpengaruhan hati dan infi'al (reaksi emosional).
Kedudukan
Rahmat adalah salah satu dari sifat fi'liyah[1] atau nama-nama[2] fi'liyah Allah. Sebagian ulama memaknainya sebagai kehendak untuk memberikan kebaikan dan menolak keburukan, serta menganggapnya sebagai bagian dari sifat dzat.[3] Rahmat Ilahi dianggap sebagai sifat Ilahi yang paling luas.[4]
Dikatakan bahwa rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya tidak terpisahkan dari dzat Allah dan kesempurnaan-Nya. Berdasarkan ayat 12 dan 54 Surah Al-An'am[catatan 1] Seperti ilmu dan kekuasaan Ilahi, sifat ini adalah pasti dan niscaya bagi zat Tuhan.[5]
Menurut ayat 12 dan 54 Surah Al-An'am, Allah telah mewajibkan rahmat atas diri-Nya sendiri.[6] Dalam berbagai ayat Al-Qur'an,[7] tafsir,[8] riwayat,[9] kalam Islam[10] serta ajaran irfan,[11] rahmat Ilahi telah dibahas dan diperbincangkan.
Dalam Al-Qur'an, Allah disifati sebanyak empat kali[12] dengan sifat Arham ar-Rahimin (Paling Penyayang di antara para penyayang),[13] 56 kali dengan sifat Rahman, dan 114 kali dengan sifat Rahim (selain Rahman dan Rahim dalam Bismillah di awal surah-surah)[14] serta tiga kali[15] dengan kata-kata Dzu al-Rahmah dan Dzu Rahmah (Pemilik Rahmat).[16] Dikatakan bahwa kata "Rahm" beserta turunannya telah diulang lebih dari dua ratus kali dalam Al-Qur'an.[17]
Terminologi
Rahmat Ilahi bermakna memberi dan memenuhi kebutuhan[18] atau pemberian tanpa adanya keterpengaruhan hati.[19] Kata "Rahmat" biasanya berarti belas kasihan dan kelembutan hati yang mendorong perbuatan ihsan dan membantu orang yang membutuhkan.[20] Namun berkenaan dengan Allah, sebagian meyakini bahwa jenis belas kasihan dan keterpengaruhan hati ini tidak ada, dan rahmat Allah bermakna pemberian dan pemenuhan kebutuhan tanpa merasakan perubahan internal.[21] Allamah Thabathaba'i juga menegaskan bahwa rahmat Allah berbeda dengan keterpengaruhan hati, karena Allah suci dari perasaan dan pengaruh hati.[18] Sebagian lainnya seperti Sayid Ali Khan Madani meyakini bahwa kata rahmat digunakan untuk Allah secara majaz atau metaforis yang merujuk pada kebaikan dan pemberian Allah, bukan pada belas kasihan hati.[22] Tahanawi dalam kitab Kasyyaf Ishthilahat al-Funun wa al-'Ulum juga menganggap penggunaannya pada Allah sebagai majaz karena infi'al (reaksi pasif) dan kelembutan hati adalah bagian dari makna rahmat, sedangkan Allah suci dari hal tersebut.[23]
Dikatakan bahwa rahmat bermakna belas kasihan dan kelembutan hati,[24] namun berkenaan dengan Allah, dalil akal mencegah penggunaan makna ini.[25] Mulla Muhsin Faidh Kasyani mendefinisikan rahmat sebagai memberikan kebaikan kepada yang membutuhkan atas dasar kemurahan dan perhatian, dan ia meyakini bahwa belas kasihan dan kelembutan tidak terlibat dalam makna rahmat, melainkan rahmat adalah hasil dari pemberian dan kebaikan tersebut.[26]
Muhammad Jawad Mughniyah dalam Tafsir al-Kasyif mengatakan bahwa rahmat Allah dalam Al-Qur'an bermakna perhatian (inayah) dan pahala Ilahi, yang mana seluruh makhluk membutuhkannya untuk kelangsungan dan keberadaannya. Menurutnya, rahmat umum Allah adalah perhatian yang mencakup semua makhluk, sedangkan rahmat khusus hanya diperuntukkan bagi orang-orang beriman.[27]
Rahmat Rahmaniyah dan Rahmat Rahimiyah
Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya dan sebagian dari rahmat-Nya adalah Dia menciptakan seratus cabang rahmat, satu di antaranya Dia bagikan di antara seluruh hamba, dan dengan perantara itu, manusia saling mengasihi satu sama lain dan ibu mengasihi anaknya... Pada hari kiamat, Dia menambahkan rahmat ini ke sembilan puluh sembilan bagian lainnya dan dengan semua itu Dia melimpahkan rahmat-Nya kepada umat Nabi Muhammad saw.[28]
Rahmat Allah terbagi menjadi dua jenis: Rahmaniyah dan Rahimiyah (khusus):
- Rahmat Rahmaniyah atau Rahmat Imtinaniyah: Jenis rahmat ini mencakup semua makhluk, baik mukmin maupun kafir, dan meliputi seluruh manusia serta makhluk di seluruh alam semesta.[29] Murtadha Muthahhari[30] dan Ibnu Arabi[31] menganggap rahmat ini sebagai manifestasi yang luas dari sifat Rahmaniyah Allah pada seluruh makhluk. Rahmat Rahmaniyah pada hakikatnya adalah penganugerahan wujud (eksistensi) kepada semua makhluk.
- Rahmat Rahimiyah atau Rahmat Wujubiyah: Rahmat khusus ini diberikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh.[32] Berbeda dengan rahmat Rahmaniyah, rahmat Rahimiyah bergantung pada kelayakan individu dan merupakan hasil dari perbuatannya.[33] Menurut Ja'far Subhani, rahmat Rahimiyah khusus untuk akhirat dan diperuntukkan bagi mereka yang di dunia berada di jalan orang-orang yang berbuat baik (muhsinin) dan bertakwa.[34]
Riwayat-riwayat agama menunjukkan bahwa Allah itu Rahman terhadap seluruh ciptaan-Nya dan hanya Rahim terhadap orang-orang mukmin.[35]
Karakteristik Rahmat Ilahi
Mulla Muhsin Faidh Kasyani menyebutkan tiga ciri bagi rahmat Ilahi:
- Tam (sempurna), yang mencakup semua yang membutuhkan;
- 'Am (umum), yang meliputi yang berhak dan tidak berhak di dunia dan akhirat;
- Kamil (utuh), yang tanpa kekurangan dan bebas dari rasa iba yang menyebabkan penderitaan hati.[36]
Dalam ayat dan riwayat juga disebutkan karakteristik-karakteristik bagi rahmat Ilahi, di antaranya adalah:
- Kewajiban Rahmat: Menurut para mufasir, dalam Ayat 12 Surah Al-An'am Allah telah mewajibkan rahmat bagi hamba-hamba-Nya atas diri-Nya sendiri.[37] Menurut Abdullah Jawadi Amuli, Allah secara pasti memberikan rahmat, bukan berarti Dia terpaksa melakukannya.[38] Menurutnya, kekuasaan dan ilmu Allah menetapkan dan mengarahkan rahmat-Nya, dan rahmat kepada hamba adalah suatu keharusan bagi Dzat yang merupakan sumber segala kesempurnaan serta memiliki kekuasaan, ilmu, dan kehidupan.[39]
- Luasnya Rahmat Ilahi: Dalam ayat-ayat,[40] riwayat,[41] dan berbagai doa,[42] rahmat Allah digambarkan sangat luas. Ibnu Arabi dalam menafsirkan rahmat Allah yang luas, mengartikan rahmat sebagai pemberian wujud kepada setiap makhluk.[43] Dalam riwayat juga disebutkan bahwa mengingat luasnya rahmat Allah, keheranan seharusnya tertuju pada orang-orang yang binasa padahal terdapat rahmat yang begitu luas.[44] Imam Shadiq as juga bersabda dalam sebuah riwayat bahwa bahkan Iblis pada hari kiamat akan mengharapkan rahmat Allah.[45][catatan 2] Larangan berputus asa dari rahmat Ilahi dalam ayat-ayat Al-Qur'an[47] juga dianggap sebagai tanda luasnya rahmat Ilahi bagi seluruh hamba.[48] Sebagian mufasir dengan bersandar pada Ayat 53 Surah Az-Zumar, menganggap haram berputus asa dari rahmat Ilahi.[49] Mulla Ahmad Naraqi menganggap putus asa dari rahmat Ilahi sebagai salah satu dosa besar dan berdasarkan beberapa ayat Al-Qur'an, menyebabkannya dihukumi kafir.[50]
- Rahmat Ilahi Mendahului Murka: Dalam beberapa doa dan riwayat, rahmat Ilahi diperkenalkan mendahului murka Allah. Sebagai contoh, dalam Doa Jausyan Kabir[51] dan doa-doa serupa[52] disebutkan: «يَا مَنْ سَبَقَتْ رَحْمَتُهُ غَضَبَهُ» (Wahai Dzat yang rahmat-Nya mendahului murka-Nya). Dalam Doa Ke-16 Shahifah Sajjadiyah juga disebutkan: «Rahmat-Nya bergerak mendahului murka-Nya». Konsep ini juga dinukil dalam hadis dari Nabi Muhammad saw bahwa Allah berfirman kepada Nabi Adam as: «Aku menciptakan rahmat sebelum murka».[53] Demikian pula Imam Ali as dalam sebuah hadis bersabda bahwa Allah bersumpah tidak akan mengazab seorang hamba pun tanpa bukti dan ilmu, karena rahmat mendahului murka-Nya.[54] Murtadha Muthahhari juga berpendapat bahwa rahmat Ilahi senantiasa mengalir di alam semesta dan mendahului murka serta amarah Allah. Ia menganggap bukti-bukti seperti bantuan gaib, pengampunan dosa, dan kesehatan jasmani sebagai dalil dominasi rahmat atas murka.[55]
- Sebaik-baik dan Paling Penyayang di antara Para Penyayang: Dalam empat ayat Al-Qur'an,[56] Allah disifati dengan «أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ» (Maha Penyayang di antara para penyayang)[57] dan dalam dua ayat juga disebut sebagai «خَيْرُ الرَّاحِمِينَ» (Sebaik-baik pemberi rahmat).[58] Imam Sajjad as dalam Doa Ke-6 Shahifah Sajjadiyah berkata kepada Allah: «وَ أَنْتَ أَرْحَمُ مِنْ کُلِّ رَحِیم» (Dan Engkau lebih penyayang dari setiap penyayang).[59] Menurut Nashir Makarim Syirazi, Arham ar-Rahimin menunjukkan bahwa rahmat Allah adalah rahmat yang hakiki sedangkan rahmat selain-Nya adalah pancaran dari rahmat Ilahi dan bersifat majaz (kiasan); karena rahmat Ilahi tidak terbatas dan tidak seperti rahmat manusia satu sama lain yang didasari oleh kebutuhan.[60]
Cara Memperoleh Rahmat Ilahi
Dalam beberapa ayat dan riwayat, disebutkan hal-hal yang dapat menarik rahmat Ilahi, di antaranya:
- Istighfar: Sesuai sabda Imam Ali as, Allah menjadikan istighfar sebagai penyebab turunnya rahmat kepada hamba-hamba-Nya.[61] Dalam Ayat 46 Surah An-Naml, istighfar disebutkan sebagai sarana menarik rahmat[62] dan disebutkan: "Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat?"[63]
- Takwa: Berdasarkan Ayat Ukhuwwah, takwa kepada Allah menyebabkan seseorang mendapat rahmat Ilahi[64] dan masyarakat yang tidak bertakwa terhalang dari rahmat Ilahi.[65]
- Ketaatan kepada Allah dan Nabi saw serta Meninggalkan Riba: Menurut Ayat 132 Surah Ali Imran, taat kepada Allah dan Nabi saw serta meninggalkan praktik riba menyebabkan datangnya rahmat Ilahi.[66] Dalam Ayat 56 Surah An-Nur juga, mengikuti Allah dan Rasul-Nya disebutkan sebagai syarat mencapai rahmat Ilahi.[67]
- Ma'anaqah: Diriwayatkan dari Imam Shadiq as bahwa ketika dua orang mukmin saling berpelukan, rahmat Allah meliputi mereka.[68]
Catatan Kaki
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1390 H, jld. 7, hlm. 26-27; Tahanawi, Mausu'ah Kasyyaf Ishthilahat al-Funun wa al-'Ulum, 1996 M, jld. 1, hlm. 847.
- ↑ Jawadi Amuli, Tauhid dar Qur'an (Tauhid dalam Al-Qur'an), 1395 HS, hlm. 245; Khumaini, Tafsir Sureh Hamd (Tafsir Surah Al-Fatihah), 1392 HS, hlm. 102.
- ↑ Tahanawi, Mausu'ah Kasyyaf Ishthilahat al-Funun wa al-'Ulum, 1996 M, jld. 1, hlm. 847.
- ↑ Jabburi, Al-Shifat al-Ilahiyyah al-Mudhafah fi al-Qur'an al-Karim, 1434 H, hlm. 43.
- ↑ Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 3, hlm. 167.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1390 H, jld. 7, hlm. 26 dan 105.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Surah An-Nisa, ayat 29; Surah Yusuf, ayat 64 dan 92; Surah Al-An'am, ayat 12, 54, 133 dan 147; Surah Al-A'raf, ayat 151; Surah Al-Anbiya, ayat 83; Surah Al-Kahf, ayat 58.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1390 H, jld. 7, hlm. 26-27 dan jld. 8, hlm. 273-275; Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 3, hlm. 167 dan 403; Makarim Syirazi, Payam-e Quran (Pesan Al-Qur'an), 1386 HS, jld. 4, hlm. 356-359.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Qummi, Safinah al-Bihar, 1414 H, jld. 3, hlm. 333-335.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Muhammadi Raysyahri, Danesh-nameh Aqa'id Eslami (Ensiklopedia Akidah Islam), 1386 HS, jld. 6, hlm. 142-177; Khatami, Farhang-e Elm-e Kalam (Kamus Ilmu Kalam), 1370 HS, hlm. 120-121.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, 1356 H, jld. 1, hlm. 151 dan 177, jld. 2, hlm. 120 dan 205.
- ↑ Surah Al-A'raf, ayat 151; Surah Yusuf, ayat 64 dan 92; Surah Al-Anbiya, ayat 83.
- ↑ Makarim Syirazi, Payam-e Quran (Pesan Al-Qur'an), 1386 HS, jld. 4, hlm. 357; Subhani, Manshur-e Javid (Prinsip Abadi), 1383 HS, jld. 2, hlm. 141.
- ↑ Makarim Syirazi, Payam-e Quran (Pesan Al-Qur'an), 1386 HS, jld. 4, hlm. 355.
- ↑ Surah Al-An'am, ayat 133 dan 147; Surah Al-Kahf, ayat 58.
- ↑ Subhani, Manshur-e Javid (Prinsip Abadi), 1383 HS, jld. 2, hlm. 240.
- ↑ Jabburi, Al-Shifat al-Ilahiyyah al-Mudhafah fi al-Qur'an al-Karim, 1434 H, hlm. 38.
- ↑ 18,0 18,1 Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1390 H, jld. 1, hlm. 18.
- ↑ Madani Syirazi, Riyadh al-Salikin fi Syarh Shahifah Sayyid al-Sajidin, 1409 H, jld. 4, hlm. 467.
- ↑ Tahanawi, Mausu'ah Kasyyaf Ishthilahat al-Funun wa al-'Ulum, 1996 M, jld. 1, hlm. 847.
- ↑ Tahanawi, Mausu'ah Kasyyaf Ishthilahat al-Funun wa al-'Ulum, 1996 M, jld. 1, hlm. 847.
- ↑ Madani Syirazi, Riyadh al-Salikin fi Syarh Shahifah Sayyid al-Sajidin, 1409 H, jld. 4, hlm. 467.
- ↑ Tahanawi, Mausu'ah Kasyyaf Ishthilahat al-Funun wa al-'Ulum, 1996 M, jld. 1, hlm. 847.
- ↑ Raghib Isfahani, Mufradat Alfazh al-Qur'an, 1412 H, hlm. 347.
- ↑ Subhani, Manshur-e Javid (Prinsip Abadi), 1383 HS, jld. 2, hlm. 142.
- ↑ Faidh Kasyani, Ilm al-Yaqin, 1418 H, jld. 1, hlm. 160.
- ↑ Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 3, hlm. 403.
- ↑ Al-Tafsir al-Mansub ila al-Imam al-Hasan al-Askari as, 1409 H, hlm. 37; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 4, hlm. 183 dan jld. 8, hlm. 44.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1390 H, jld. 1, hlm. 18; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh (Tafsir Contoh), 1371 HS, jld. 1, hlm. 22-23.
- ↑ Muthahhari, Majmu'eh-ye Atsar (Koleksi Karya), 1390 HS, jld. 27, hlm. 178.
- ↑ Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, 1356 H, jld. 2, hlm. 205.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1390 H, jld. 1, hlm. 18; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh (Tafsir Contoh), 1371 HS, jld. 1, hlm. 22-23.
- ↑ Muthahhari, Majmu'eh-ye Atsar (Koleksi Karya), 1390 HS, jld. 27, hlm. 179.
- ↑ Subhani, Manshur-e Javid (Prinsip Abadi), 1383 HS, jld. 2, hlm. 262.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 114.
- ↑ Faidh Kasyani, Ilm al-Yaqin, 1418 H, jld. 1, hlm. 159-160.
- ↑ Qummi, Tafsir al-Qummi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 194; Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1390 H, jld. 7, hlm. 27.
- ↑ Jawadi Amuli, Tauhid dar Qur'an (Tauhid dalam Al-Qur'an), 1395 HS, hlm. 245.
- ↑ Jawadi Amuli, Tauhid dar Qur'an (Tauhid dalam Al-Qur'an), 1395 HS, hlm. 247.
- ↑ Surah Al-A'raf, ayat 156; Surah Al-An'am, ayat 147.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 4, hlm. 72; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 7, hlm. 287, jld. 53, hlm. 11, jld. 86, hlm. 352, jld. 92, hlm. 433.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Syekh Thusi, Mishbah al-Mutahajjid, 1411 H, jld. 1, hlm. 240 dan jld. 2, hlm. 604; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 94, hlm. 256.
- ↑ Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, 1356 H, jld. 1, hlm. 120 dan jld. 2, hlm. 205-206; Khumaini, Tafsir Sureh Hamd (Tafsir Surah Al-Fatihah), 1392 HS, hlm. 102.
- ↑ Sayid Murtadha, Amali al-Murtadha, 1998 M, jld. 1, hlm. 162.
- ↑ Syekh Shaduq, Al-Amali, 1376 HS, hlm. 250, hadis 2.
- ↑ Bahjat, Rahmat-e Wasi'ah (Rahmat yang Luas), 1394 HS, hlm. 202-203.
- ↑ Lihat: Surah Az-Zumar, ayat 53.
- ↑ Lihat: Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh (Tafsir Contoh), 1371 HS, jld. 19, hlm. 499-501.
- ↑ Qurasyi, Tafsir-e Ahsan al-Hadits (Tafsir Ahsanul Hadis), 1375 HS, jld. 9, hlm. 310.
- ↑ Naraqi, Mi'raj as-Sa'adah, Penerbit Hijrat, hlm. 200.
- ↑ Kaf'ami, Al-Balad al-Amin wa al-Dir' al-Hashin, 1418 H, hlm. 404.
- ↑ Syekh Thusi, Mishbah al-Mutahajjid, 1411 H, jld. 2, hlm. 696.
- ↑ 'Ayyashi, Tafsir al-'Ayyashi, 1380 H, jld. 1, hlm. 35.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 42, hlm. 54.
- ↑ Muthahhari, Majmu'eh-ye Atsar (Koleksi Karya), 1390 HS, jld. 1, hlm. 255-257.
- ↑ Surah Al-A'raf, ayat 151; Surah Yusuf, ayat 64 dan 92; Surah Al-Anbiya, ayat 83.
- ↑ Makarim Syirazi, Payam-e Quran (Pesan Al-Qur'an), 1386 HS, jld. 4, hlm. 357; Subhani, Manshur-e Javid (Prinsip Abadi), 1383 HS, jld. 2, hlm. 141.
- ↑ Surah Al-Mu'minun, ayat 109 dan 118.
- ↑ Shahifah Sajjadiyah, Doa 6, alinea 24.
- ↑ Makarim Syirazi, Payam-e Quran (Pesan Al-Qur'an), 1386 HS, jld. 4, hlm. 357.
- ↑ Nahjul Balaghah, Tashih Shubhi Shalih, Khotbah 143, hlm. 199.
- ↑ Qara'ati, Tafsir-e Nur (Tafsir Cahaya), 1388 HS, jld. 6, hlm. 430.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh (Tafsir Contoh), 1371 HS, jld. 15, hlm. 489.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh (Tafsir Contoh), 1371 HS, jld. 22, hlm. 169.
- ↑ Qara'ati, Tafsir-e Nur (Tafsir Cahaya), 1388 HS, jld. 9, hlm. 184.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh (Tafsir Contoh), 1371 HS, jld. 3, hlm. 89.
- ↑ Qara'ati, Tafsir-e Nur (Tafsir Cahaya), 1388 HS, jld. 6, hlm. 209.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 184.
Catatan
- ↑ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ
- ↑ Muhammad Taqi Bahjat (W. 1388 HS), salah seorang marja taklid, berpendapat bahwa meskipun cakupan rahmat Ilahi sangat luas, namun bisa jadi Allah demi memperhatikan dan menjaga keadaan kaum muslimin, tidak menerapkan beberapa tingkatan rahmat tersebut kepada makhluk seperti Iblis. [46]
Daftar Pustaka
- Al-Tafsir al-Mansub ila al-Imam al-Hasan al-Askari as. Qom, Madrasah al-Imam al-Mahdi as, Cetakan pertama, 1409 H.
- 'Ayyashi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-'Ayyashi. Peneliti dan Korektor: Sayid Hasyim Rasuli Mahalati. Teheran, Al-Mathba'ah al-Ilmiyyah, Cetakan pertama, 1380 H.
- Bahjat. Rahmat-e Wasi'ah (Rahmat yang Luas). 1394 HS.
- Faidh Kasyani, Muhammad Muhsin. Ilm al-Yaqin. Peneliti dan Korektor: Muhsin Bidarfar. Qom, Bidar, Cetakan pertama, 1418 H.
- Ibnu Arabi, Muhyi al-Din. Fushush al-Hikam. Kairo, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, Cetakan pertama, 1356 H/1946 M.
- Jabburi, Riyadh Yunus. Al-Shifat al-Ilahiyyah al-Mudhafah fi al-Qur'an al-Karim. Beirut, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1434 H.
- Jawadi Amuli, Abdullah. Tauhid dar Qur'an (Tauhid dalam Al-Qur'an); Tafsir Tematik Al-Qur'an al-Karim. Peneliti dan Penulis: Haidar Ali Ayyubi. Qom, Isra, Cetakan kedelapan, 1395 HS.
- Kaf'ami, Ibrahim bin Ali. Al-Balad al-Amin wa al-Dir' al-Hashin. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, Cetakan pertama, 1418 H.
- Khatami, Ahmad. Farhang-e Elm-e Kalam (Kamus Ilmu Kalam). Teheran, Saba, 1370 HS.
- Khumaini, Sayid Ruhullah. Tafsir Sureh Hamd (Tafsir Surah Al-Fatihah). Teheran, Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khumaini, 1392 HS.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
- Madani Syirazi, Sayid Ali Khan. Riyadh al-Salikin fi Syarh Shahifah Sayyid al-Sajidin. Qom, Daftar Intisharat Islami, Cetakan pertama, 1409 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Payam-e Quran (Pesan Al-Qur'an). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan kesembilan, 1386 HS.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Contoh). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan kesepuluh, 1371 HS.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Tafsir al-Kasyif. Qom, Dar al-Kutub al-Islami, Cetakan pertama, 1424 H.
- Muhammadi Raysyahri, Muhammad. Danesh-nameh Aqa'id Eslami (Ensiklopedia Akidah Islam). Qom, Dar al-Hadits, 1386 HS.
- Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh-ye Atsar (Koleksi Karya). Teheran, Penerbit Sadra, 1390 HS.
- Nahjul Balaghah. Pengumpul: Sayid Radhi. Korektor: Shubhi Shalih. Qom, Hijrat, Cetakan pertama, 1414 H.
- Naraqi, Mulla Ahmad. Mi'raj as-Sa'adah. Qom, Penerbit Hijrat, Tanpa Tahun.
- Qara'ati, Muhsin. Tafsir-e Nur (Tafsir Cahaya). Teheran, Markaz-e Farhangi-ye Dars-ha-ye az Qur'an, Cetakan pertama, 1388 HS.
- Qummi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. Peneliti: Thayib Musawi Jazairi. Qom, Dar al-Kitab, Cetakan ketiga, 1363 HS.
- Qummi, Syekh Abbas. Safinah al-Bihar wa Madinah al-Hikam wa al-Atsar. Qom, Uswah, Cetakan pertama, 1414 H.
- Qurasyi, Sayid Ali Akbar. Tafsir-e Ahsan al-Hadits (Tafsir Ahsanul Hadis). Teheran, Bunyad-e Bi'tsat, Cetakan kedua, 1375 HS.
- Raghib Isfahani, Husain. Mufradat Alfazh al-Qur'an. Beirut-Damaskus, Dar al-Qalam - Al-Dar al-Syamiyyah, Cetakan pertama, 1412 H.
- Sayid Murtadha, Ali bin Husain. Amali al-Murtadha. Peneliti: Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim. Kairo, Dar al-Fikr al-Arabi, Cetakan pertama, 1998 M.
- Shahifah Sajjadiyah.
- Subhani, Ja'far. Manshur-e Javid (Prinsip Abadi). Qom, Muassasah Imam Shadiq as, Cetakan pertama, 1383 HS.
- Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih. Al-Amali. Teheran, Ketabchi, Cetakan keenam, 1376 HS.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Mishbah al-Mutahajjid wa Silah al-Muta'abbid. Beirut, Muassasah Fiqh al-Syi'ah, 1411 H.
- Tahanawi, Muhammad Ali. Mausu'ah Kasyyaf Ishthilahat al-Funun wa al-'Ulum. Peneliti: Ali Dahruj. Beirut, Maktabah Lubnan Nasyirun, Cetakan pertama, 1996 M.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami, Cetakan kedua, 1390 H.