Konsep:Mata Barzakh
Mata Barzakh (Persia: چشم برزخی; Chesym-e Barzakhi) adalah sejenis kasyf dan syuhud irfani di mana pemiliknya dapat menyaksikan hakikat dan batin dari orang-orang atau perbuatan-perbuatan. Berdasarkan ayat-ayat dan riwayat-riwayat seperti Hadis Qurban Nawafil, dengan menjaga takwa, mengamalkan kewajiban-kewajiban, dan meninggalkan keharaman-keharaman, manusia dimungkinkan untuk memiliki mata barzakh dan menyaksikan hakikat-hakikat yang tidak dapat disaksikan dengan mata lahiriah. Dalam ayat 22 Surah Qaf disebutkan tentang penglihatan yang tajam (hadid) yang ditafsirkan sebagai mata bashirah dan mata hati.
Dikatakan bahwa mata barzakh diterima di kalangan berbagai kelompok arif dan sufi. Sebagian meyakini bahwa manusia di ambang kematian dan saat memutus hubungan dengan dunia, dapat menyaksikan Alam Barzakh dan hasil dari perbuatan-perbuatannya. Di dunia ini pun, kemungkinan memiliki mata barzakh ada dengan melakukan tazkiyah al-nafs (penyucian jiwa) dan menghilangkan hambatan-hambatan. Laporan-laporan mengenai hal ini juga dinukil dari kehidupan para tokoh dan ulama agama.
Terminologi
Mata barzakh merujuk pada pendeteksian dan penglihatan batin individu[1] atau menyaksikan beberapa perkara duniawi yang mata lahiriah manusia tidak mampu melihatnya. Dikatakan bahwa dengan menjaga halal dan haram serta takwa, hijab dan tirai di depan mata manusia akan tersingkap dan istilahnya mata barzakhnya terbuka.[2] Orang yang memiliki mata barzakh mampu melihat hakikat dari peristiwa-peristiwa[3] dan juga hakikat serta hasil dari perbuatan orang lain, serta mengetahui masa lalu dan masa depan mereka.[4] Mata barzakh juga disebut sebagai mata pelihat hakikat, mata pelihat batin, dan mata hati.[5]
Mata barzakh dianggap sebagai kapasitas yang secara potensial ada dalam diri semua manusia dan menjadi aktual ketika manusia menyediakan syarat-syarat yang diperlukan untuk itu.[6]
Mufasir seperti Allamah Thabathaba'i menganggap ungkapan penglihatan yang tajam (hadid) dalam ayat 22 Surah Qaf merujuk pada mata bashirah dan mata hati.[7] Berdasarkan pendapat para mufasir, Allah dalam ayat ini berbicara tentang suatu perkara yang eksis, namun mata manusia tidak mampu melihat hal tersebut dan dengan tersingkapnya tirai dari mata manusia, maka ia akan memiliki penglihatan yang tajam (hadid) dan melihat hakikat-hakikat:[8] "(Kepadanya dikatakan:) Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan darimu tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini amat tajam".[9]
Kedudukan
Menurut keyakinan sebagian peneliti agama, mata barzakh termasuk bagian dari Kasyf wa Syuhud (yang diperoleh melalui jalan irfan teoretis)[10] dan diterima di kalangan berbagai kelompok arif dan sufi.[11] Dikatakan bahwa manusia, bahkan orang-orang yang berdosa dan zalim pun, di ambang kematian dan saat memutus hubungan dengan dunia akan memiliki mata barzakh, tirai kelalaian akan tersingkap, dan mereka menyaksikan hasil dari perbuatan mereka.[12] Selain itu, manusia dengan kecenderungan pada spiritualitas dan menjauhi materialitas akan mencapai kekuatan ruhani dan spiritual, sehingga mata barzakh mereka menjadi pelihat.[13] Dinukil dari Ibnu Arabi, pendiri Irfan Nazhari, bahwa siapa pun yang menghilangkan hambatan-hambatan zulmani (kegelapan) dapat memiliki mata barzakh atau mata bashirah.[14]
Berdasarkan sebuah hadis dari Rasulullah saw yang masyhur dengan Hadis Qurban Nawafil, seorang mukmin dengan melakukan kewajiban-kewajiban (faraid) dan amalan-amalan sunah (nawafil) akan memperoleh kedekatan kepada Allah, dan Allah menjadi pendengaran serta penglihatannya yang dengannya ia mendengar dan melihat.[15] Berdasarkan pandangan Imam Khomeini dalam kitab Syarh Chehel Hadits, manusia dengan melakukan instruksi-instruksi Hadis Qurban Nawafil akan fana dan lebur di dalam Allah, yang hasilnya hijab duniawi akan tersingkap dari mata dan hatinya, sehingga ia melihat hakikat-hakikat alam semesta.[16]
Sebagian mufasir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan melihat dalam ayat "Latarawunnal jahiim; niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim"[17] adalah melihat Neraka dengan mata barzakh dan di dunia.[18]
Contoh-Contoh Mata Barzakh
Berbagai kisah tentang mata barzakh para tokoh dan ulama agama seperti Sayid Ali Qadhi Thabathaba'i (arif abad ke-14 H) telah dinukilkan.[19] Dinukilkan bahwa Abu Bashir berkata kepada Imam al-Baqir as betapa banyaknya jemaah haji, suara rintihan dan teriakan mereka memenuhi segala tempat. Imam al-Baqir as berkata kepadanya bahwa teriakan memang banyak, namun jemaah haji sedikit! Kemudian beliau mengusapkan tangan ke mata Abu Bashir dan membacakan doa sehingga ia menjadi pelihat. Lalu beliau berkata kepada Abu Bashir untuk melihat ke arah jemaah haji. Abu Bashir berkata bahwa aku melihat sebagian besar orang dalam bentuk monyet dan babi, dan orang-orang mukmin terlihat seperti bintang yang bersinar di tengah malam gelap di antara mereka.[20]
Dinukilkan bahwa Rasulullah saw melihat Haritsah bin Nu'man dan menanyakan keadaannya. Haritsah berkata aku telah menjadi mukmin sejati. Nabi saw bertanya tentang hakikat perkataannya dan ia menjawab: Wahai Rasulullah, aku telah menjadi tidak berminat pada dunia, malam dan siangku dalam keadaan ibadah dan seolah-olah aku menyaksikan Arasy Allah di mana orang-orang telah dikumpulkan untuk perhitungan; penghuni surga dalam kenikmatan dan penghuni neraka dalam keadaan merintih dan tersiksa. Nabi saw menyebutnya sebagai hamba yang Allah telah menerangi hatinya dan memberikan bashirah.[21]
Hasan Hasanzadeh Amuli menyebutkan Allamah Thabathaba'i dan saudaranya Sayid Muhammad Hasan Ilahi Thabathaba'i sebagai orang-orang yang memiliki mata barzakh.[22] Dari Sayid Reza Baha'uddini, guru akhlak dan arif Syiah, juga dinukilkan bahwa ia melihat dan mendengar hal-hal dengan mata dan telinga batin yang tidak dapat disaksikan atau didengar dengan mata dan telinga lahiriah.[23]
Monograf
- Chesym-e Barzakhi az Binayi-ye Ma'muli ta Bashirat-e Malakuti ditulis oleh Gholamreza Goli Zavareh, Penerbit Umm Abiha, 1388 HS.[24]
- Chesymi Digar: Chesym-e Bashirat - Chesym-e Barzakhi - Chesym-e Sevvom ditulis oleh Reyhaneh Izadi, Penerbit Ahl-e Raz, 1390 HS.[25]
Lihat Juga
Catatan Kaki
- ↑ Kasyefi, Irfan va Esyq, 1389 HS, hlm. 166.
- ↑ Huseinzadeh dan Qomi, "Mokasyefeh va Tajrobeh-ye Dini; Berresi-ye Rabeteh-ye Mokasyefeh dar Irfan-e Islami va Tajrobeh-ye Dini dar Irfan va Falsafeh-ye Gharbi", hlm. 78.
- ↑ Kasyefi, Irfan va Esyq, 1389 HS, hlm. 163.
- ↑ Qannadi, "Barzakh az Negah-e Chesym-e Barzakhi", hlm. 4.
- ↑ Kasyefi, Irfan va Esyq, 1389 HS, hlm. 163-166.
- ↑ Qannadi, "Barzakh az Negah-e Chesym-e Barzakhi", hlm. 4.
- ↑ Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 18, hlm. 350; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 22, hlm. 260.
- ↑ Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 18, hlm. 350; Amin, Makhzan al-Irfan, 1389 HS, jld. 13, hlm. 281-282; Faidh Kasyani, Al-Tafsir al-Shafi, 1416 H, hlm. 61; Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-Azhim, 1419 H, jld. 7, hlm. 375.
- ↑ Surah Qaf, ayat 22.
- ↑ Huseinzadeh dan Qomi, "Mokasyefeh va Tajrobeh-ye Dini; Berresi-ye Rabeteh-ye Mokasyefeh dar Irfan-e Islami va Tajrobeh-ye Dini dar Irfan va Falsafeh-ye Gharbi", hlm. 78.
- ↑ Davoudi dan Jahanbakhsy, "Berresi-ye Tathbiqi-ye Chesym-e Barzakhi az Didgah-e Urafa, Shufiyeh, Ayat va Revayat-e Ma'shumin as", hlm. 39.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 11, hlm. 209 dan jld. 24, hlm. 174.
- ↑ Qannadi, "Barzakh az Negah-e Chesym-e Barzakhi", hlm. 4.
- ↑ Davoudi dan Jahanbakhsy, "Berresi-ye Tathbiqi-ye Chesym-e Barzakhi az Didgah-e Urafa, Shufiyeh, Ayat va Revayat-e Ma'shumin as", hlm. 40 mengutip dari: Ibnu Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyyah, jld. 2, hlm. 241.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1387 HS, jld. 4, hlm. 74.
- ↑ Khomaeni, Syarh-e Chehel Hadits (Arba'in Hadits), 1380 HS, hlm. 591.
- ↑ Surah At-Takatsur, ayat 6.
- ↑ Lihat: Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 20, hlm. 352; Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 10, hlm. 581.
- ↑ Motahhari, Asyna-yi ba Qur'an, 1389 HS, jld. 9, hlm. 191.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 46, hlm. 261.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 54.
- ↑ Ardesyiri Lajimi, Sireh-ye Ilmi va Amali-ye Allamah Thabathaba'i, Qom, hlm. 66.
- ↑ Kasyefi, Irfan va Esyq, 1389 HS, hlm. 167.
- ↑ "Chesym-e Barzakhi: az Binayi-ye Ma'muli ta Bashirat-e Malakuti: be Hamrah-e Nemuneh-ha-ye Mostanad, Heyrat-angiz va Asrar-amiz", Khaneh Ketab va Adabiyat-e Iran.
- ↑ "Chesymi Digar: Chesym-e Bashirat - Chesym-e Barzakhi - Chesym-e Sevvom", Khaneh Ketab va Adabiyat-e Iran.
Daftar Pustaka
- Ardesyiri Lajimi, Hasan. Sireh-ye Ilmi va Amali-ye Allamah Thabathaba'i. Qom, Markaz Pazhouhesy-ha-ye Islami Seda va Sima, tanpa tahun.
- Amin, Nusrat Begum. Makhzan al-Irfan dar Tafsir-e Qur'an. Isfahan, Penerbit Golbahar, 1389 HS.
- Davoudi, Reza dan Hasan Jahanbakhsy. "Berresi-ye Tathbiqi-ye Chesym-e Barzakhi az Didgah-e Urafa, Shufiyeh, Ayat va Revayat-e Ma'shumin as", Kalam va Adyan, nomor 6, musim gugur dan dingin 1400 HS.
- Faidh Kasyani, Mulla Mohsen. Al-Tafsir al-Shafi. Qom, Muasseseh al-Hadi, 1416 H/1374 HS.
- Huseinzadeh, Mohammad dan Mohsen Qomi. "Mokasyefeh va Tajrobeh-ye Dini; Berresi-ye Rabeteh-ye Mokasyefeh dar Irfan-e Islami va Tajrobeh-ye Dini dar Irfan va Falsafeh-ye Gharbi", dalam Jurnal Ma'rifat, nomor 19, musim dingin 1375 HS.
- Ibnu Katsir al-Dimasyqi, Ismail bin Umar. Tafsir al-Qur'an al-Azhim. Peneliti: Muhammad Husain Syamsuddin. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1419 H.
- Kasyefi, Mohammad Reza. Irfan va Esyq. Qom, Daftare Nasyr-e Ma'arif, 1389 HS.
- Khomaeni, Sayid Ruhullah. Syarh-e Chehel Hadits (Arba'in Hadits). Qom, Muasseseh Tanzhim va Nasyr-e Atsar-e Imam Khomeini, cetakan ke-24, 1380 HS.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Qom, Darul Hadits, 1387 HS.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
- Makarim Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.
- Motahhari, Murtadha. Asyna-yi ba Qur'an. Teheran, Penerbit Sadra, 1389 HS.
- Qannadi, Saleh. "Barzakh az Negah-e Chesym-e Barzakhi", Jurnal Porseman, nomor 67, Mordad 1387 HS.
- Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran, Markaz Farhangi Darshayi az Qur'an, 1388 HS.
- Sadruddin Syirazi, Muhammad bin Ibrahim. Tafsir al-Qur'an al-Karim. Qom, Bidar, cetakan kedua, 1366 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muasseseh al-A'lami lil Matbu'at, cetakan kedua, 1393 H.