Lompat ke isi

Konsep:Manaqib-khwani

Dari wikishia
Manaqib-khwani
Lokasi DidirikanJalan-jalan umum
Geografis PenyebaranIranIrak
Simbol-SimbolTombak • Tugh • Lampu


MANAQIB-KHWANI adalah tradisi melantunkan teks puisi dan prosa mengenai manaqib (keutamaan) para Imam Syiah as dengan suara keras di tempat-tempat umum. Manaqib-khwani dianggap sebagai faktor penting dalam penyebaran Tasyayu'. Meluasnya tradisi ini pada abad kedelapan/ke-14 dan kesembilan Hijriah/ke-15 dicatat sebagai faktor krusial bagi naiknya Dinasti Safawiyah ke tampuk kekuasaan. Kitab al-Naqdh diakui sebagai sumber pertama dan terbaik untuk mengenal tradisi manaqib-khwani. Menurut pandangan sebagian peneliti, para pelantun manaqib memiliki hubungan yang luas dengan organisasi Futuwah.

Abdul Jalil Qazwini Razi pada abad keenam/ke-12 menegaskan bahwa manaqib-khwani memiliki sejarah yang sangat tua. Dikatakan bahwa tradisi ini muncul pada masa Dinasti Samaniyah dan menjadi luas pada periode Ghaznawiyah serta Seljuk meskipun ada penentangan dari para penguasa. Puncak kejayaan tradisi ini dianggap terjadi pada masa Bani Buyah. Disebutkan bahwa seiring dengan pertumbuhan manaqib-khwani, kaum Ahlusunnah wal Jamaah menciptakan "fadhail-khwani" sebagai tandingan terhadapnya.

Sanai Ghaznawi, Nasir Khusraw Qubadiyani, Hasan Kasyi, Ibn Yamin, dan Mulla Husain Wa'iz Kasyifi termasuk di antara para pelantun dan penyair manaqib yang tercatat. Pujian bagi dua belas Imam as, penyebutan musibah Karbala, dan kebanggaan penyair atas identitas Syiah serta taufik dalam memuji para maksum as merupakan tema-tema yang sering diulang dalam manaqib-khwani. Takwa, melakukan ketaatan berdasarkan instruksi Ahlulbait as, tidak melakukan manaqib-khwani demi upah, dan tidak berlebihan (ghuluw) dalam memuji termasuk di antara adab-adab tradisi ini.

Definisi dan Kedudukan

Manaqib-khwani atau manqabat-khwani didefinisikan sebagai tradisi melantunkan puisi atau teks dengan tema penjelasan manaqib, hadis, keramat, gelar-gelar para Imam Syiah as, dan kisah-kisah yang berkaitan dengan mereka dengan suara keras di jalan-jalan umum.[1] Dikatakan bahwa terkadang manaqib-khwani dibarengi dengan celaan terhadap sebagian Sahabat.[2] Pelaksana tradisi ini disebut manaqibi, manaqib-khwan, atau manqabat-khwan.[3] Dalam beberapa sumber, manaqib-khwani disebut dengan istilah maddahi.[4]

Manaqib-khwani dianggap sebagai faktor bagi kelangsungan dan penyebaran Tasyayu' serta peningkatan pengaruh para Sayid dan Alawiyyin.[5] Sebagian dengan berargumen pada Ayat 23 Surah Asy-Syura menganggap kecintaan kepada Ahlulbait as sebagai kewajiban bagi kaum Muslimin dan meyakini bahwa seseorang yang mencintai orang lain harus terus-menerus memujinya.[6] Berdasarkan hal ini, dikatakan bahwa para pelantun manaqib hanya menganggap diri mereka sebagai pemuji (maddah) Ahlulbait as;[7] meskipun tidak semua dari mereka adalah orang Syiah.[8] Dalam beberapa sumber, dinukil hikayat-hikayat mengenai perhatian penuh keramat dari Ahlulbait as kepada para pelantun manaqib.[9] Menurut pandangan Rasul Jafarian, meluasnya manaqib-khwani pada abad kedelapan/ke-14 dan kesembilan/ke-15 merupakan faktor penting bagi bangkitnya Safawiyah dan penyebaran Tasyayu' di Iran.[10] Afandi menganggap kedudukan sebagian pelantun manaqib dalam mempopulerkan Tasyayu' di Iran setara dengan Allamah al-Hilli dan Muhaqqiq al-Karaki.[11]

Menurut pandangan sebagian peneliti, dari beberapa sumber terlihat hubungan yang luas antara para pelantun manaqib dengan organisasi Futuwah.[12] Menurut Kasyifi, di antara para ahli futuwwat tidak ada kelompok yang lebih tinggi derajatnya daripada para pelantun manaqib.[13] Ia juga mencatat para pelantun manaqib sebagai orang-orang dari ahli tarekat yang paling dekat dengan Nabi saw dan Ahlulbait as.[14] Kasyifi menganggap para pelantun manaqib layak mendapatkan Doa, sanjungan, dan pemberian, serta menyandarkan hal ini pada tindakan Nabi saw, Imam Ali as, dan Imam Sajjad as.[15]

Sejarah

Abdul Jalil Qazwini Razi, pada pertengahan abad keenam/ke-12, menegaskan bahwa manaqib-khwani adalah tradisi dengan latar belakang yang kuno.[16] Kasyifi menganggap manaqib-khwani sebagai warisan dari Mikail dan Jibril yang merupakan para pemuji (maddah) pertama bagi Ahlulbait as.[17] Di antara kaum Muslimin, ia menganggap Hassan bin Tsabit sebagai pelantun manaqib pertama dan menjadikan pujiannya mengenai Ghadir sebagai contoh.[18] Dikatakan bahwa manaqib-khwani muncul pada era Samaniyah dan menjadi luas pada periode Ghaznawiyah serta Seljuk meskipun ada penentangan dari para penguasa.[19] Puncak kejayaan tradisi ini dianggap terjadi pada masa Bani Buyah;[20] suatu hal yang dibarengi dengan kemarahan kaum Hanbali di Baghdad dan reaksi mereka.[21] Abdul Jalil Razi[22] berbicara tentang maraknya manaqib-khwani pada abad keenam/ke-12 di wilayah-wilayah Syiah.[23] Dalam teks kitab al-Naqdh disebutkan mengenai bentrokan-bentrokan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap para pelantun manaqib pada periode ini.[24]

Jafarian meyakini bahwa pada abad ketujuh/ke-13, kedelapan/ke-14, dan kesembilan/ke-15, penggubahan puisi manaqib-khwani di tengah kaum Syiah Iran mencapai puncaknya.[25] Menurutnya, banyak dari puisi ini yang telah musnah, namun jumlah yang tersisa menunjukkan betapa luasnya tradisi tersebut.[26] Menurutnya pada periode ini, manaqib-khwani telah menjadi sebuah tradisi yang stabil di bagian-pun bagian Syiah dan bahkan di tengah Sunni Dua Belas Imam.[27] Pada abad kedelapan/ke-14, pemerintahan Sarbadaran dianggap sebagai penyebab populernya puisi manaqibi dari para penyair seperti Ibn Yamin.[28] Pada abad kesembilan/ke-15, kitab Raudhah al-Syuhada dianggap membawa transformasi dalam manaqib-khwani, yang mana setelah penulisannya pada periode Safawiyah, manaqib-khwani dan raudhah-khwani (pembacaan Raudhah al-Syuhada) menjadi bercampur satu sama lain.[29]

Dikatakan bahwa pada periode Safawiyah, manaqib-khwani sangat berkembang dan kaum fityan membantu pemerintah Safawiyah dalam mempromosikan kecintaan kepada Ahlulbait as.[30] Pada periode ini, sekelompok pelantun manaqib (Tabarra'iyan) di jalan-jalan umum, sambil melantunkan manaqib Imam Ali as, melakukan pelaknatan terhadap Tiga Khalifah.[31] Periode Safawiyah dianggap sebagai masa dimulainya kemunduran tradisi ini dan penggantiannya dengan tradisi-tradisi lainnya.[32] Disebutkan bahwa pada periode Qajar, kebanyakan pelantun manaqib berasal dari kaum sufi dari tarekat-tarekat sufi Syiah.[33] Pada periode ini, darwis pelantun manaqib kebanyakan dianggap berasal dari tarekat Khaksariyah.[34] Dikatakan bahwa akhirnya manaqib-khwani pada periode ini lambat laun terpisah dari Tasawuf dan menjadi sebuah profesi serta terus berlanjut.[35]

Pendirian Fadhail-khwani Sunni sebagai Tandingan Manaqib-khwani Syiah

Dikatakan bahwa manaqib-khwani kaum Syiah memicu kemarahan kaum Sunni garis keras.[36] Jalaluddin Muhaddits Ormavi, berdasarkan kitab al-Naqdh[37] menganggap alasan kemarahan ini adalah karena manaqib-khwani merupakan ajakan kepada mazhab tertentu dan efektif dalam opini publik.[38] Dengan bersandar pada laporan kitab al-Naqdh,[39] dikatakan bahwa dengan pertumbuhan manaqib-khwani, kaum Ahlusunnah wal Jamaah melakukan tindakan serupa; mereka membina "fadhail-khwan" untuk menghadapi kaum Syiah guna menyebarkan fadhail (keutamaan) para penentang Ahlulbait as.[40]

Berdasarkan analisis Mohammad Jafar Mahjoub (wafat: 1995-96), sastrawan dan spesialis sastra rakyat, dari teks al-Naqdh[41] terlihat bahwa para pelantun fadhail mengumpulkan orang-orang dari kalangan penyimpang agama untuk membacakan kisah-kisah kepahlawanan Iran kuno di pertemuan-pertemuan umum sebagai tandingan terhadap manaqib Imam Ali as.[42] Menurutnya, Abdul Jalil Razi menukil puisi-puisi sebagai manaqib-sarayi dari Sanai Ghaznawi dan Qawami Razi yang merupakan puisi kelas satu; namun apa yang ia bawa dari puisi-puisi kaum fadhaili sangatlah lemah dan bersifat umum.[43] Abdul Jalil Razi, sebagai tandingan terhadap beberapa peristiwa keramat bagi para pelantun manaqib Syiah,[44] menyebutkan peristiwa-peristiwa malang (niqmat) yang menimpa para pelantun fadhail.[45]

Tokoh-tokoh Manaqibi: Pelantun dan Penyair Manaqib

Rasul Jafarian menganggap Bundar Razi (wafat: 433/1041-42) sebagai salah satu penyair Syiah pertama penggubah manaqib.[46] Abdul Jalil Razi menyebutkan beberapa penyair manaqib, termasuk Kasa'i dan Sanai Ghaznawi.[47] Sebelum Sanai, Nasir Khusraw Qubadiyani juga dianggap sebagai bagian dari penyair manaqib.[48] Dari abad keenam/ke-12, tercatat nama penyair manaqib seperti Qawami Razi,[49] Abdul Malik bin Banan Qumi,[50] dan Abul Mafakhir Razi.[51]

Pada abad ketujuh/ke-13, tercatat aktivitas penyairan dan pelantunan manaqib oleh Hasan Kasyi. Jafarian menyebutnya sebagai sosok gemilang manaqib-khwani[52] dan pemimpin para pelantun manaqib;[53] seseorang yang perannya dalam mempopulerkan Tasyayu' di Iran dianggap setara dengan Allamah al-Hilli dan Muhaqqiq al-Karaki.[54] Dikatakan bahwa banyak manaqib yang tersisa dari Kasyi, yang paling masyhur adalah Haft Band-nya yang menjadi model bagi banyak puisi manaqib-khwani.[55] Dalam sumber-sumber disebutkan bahwa Kasyi tidak menggubah apa pun selain manaqib para Imam as.[56] Kasyi berkelana dengan pakaian darwis dan melantunkan manaqib Imam Ali as di tempat-tempat umum.[57] Dinukil bahwa ia pernah melakukan manaqib-khwani di Haram Imam Ridha as.[58]

Pada abad kesembilan/ke-15, salah satu penyair manaqib terbesar adalah Ibn Hussam Khusfi yang mana karya-karyanya dianggap menunjukkan kedalaman pemikiran sejarah Syiah-nya.[59] Pada periode yang sama, dalam Futuwwat-nameh Solthani tercantum nama beberapa pelantun manaqib yang kurang dikenal: Sayid Hamzah Kouchek, Darwis Mohammad Ali Gharra-khwan Thabarsi, Sayid Amir-hajj Amuli, Shahib-syah Kharaqani, dan Akhi-Ali Tuni.[60] Selain itu, pada periode ini Mulla Husain Wa'iz Kasyifi juga termasuk sebagai pelantun manaqib.[61] Pada periode-periode setelahnya, Muhtasyam Kasyani, Homay Syirazi, Sayid Kazim Bulbul Kabuli, dan Bar'at-Ali Zabulistani dicatat dalam jajaran para pelantun dan penyair manaqib.[62]

Struktur dan Konten

Abdul Jalil Qazwini Razi mencatat konten manaqib-khwani adalah Tauhid dan Zuhud.[63] Berdasarkan laporan Muhaddits Ormavi, konten manaqib-khwani berisi tema-tema bijaksana, seperti nasihat dan ajakan untuk menyembah Tuhan serta pembuktian keadilan dan penolakan atas jabariyah.[64] Selain itu, terdapat penjelasan mengenai ketidakkekalan dunia dan dorongan menuju Akhirat serta rasa syukur atas identitas Tasyayu' dengan menyebut nama para Imam as dan syarat-syarat Imamah seperti nash, ilmu, dan ishmah.[65] Tema-tema yang sering diulang dalam teks-teks para pelantun manaqib dicatat sebagai berikut: pujian bagi dua belas Imam,[66] penyeburan musibah Karbala,[67] kebanggaan penyair atas taufik menjadi Syiah dan memuji para maksum as,[68] peremehan terhadap profesi penyair dan para penyair lainnya serta persaingan dengan mereka terutama dengan Abul Qasim Ferdowsi,[69] penyebutan Syahnameh,[70] dan penggunaan nama serta sifat para pahlawan Syahnameh dalam teks-teks manaqib-khwani.[71]

Berdasarkan laporan Mahjoub, dari kitab al-Naqdh mengenai konten manaqib-khwani diperoleh gambaran bahwa dari sudut pandang Ahlusunnah hal itu dianggap ghuluw (berlebihan) dan dibarengi dengan kisah-kisah fiktif.[72] Menurutnya, dalam beberapa teks manaqib-khwani juga muncul kisah-kisah hiperbolis dan tanpa dasar.[73] Beberapa peneliti, dengan menggunakan teks dari Daulat-syah Samarqandi[74] menyatakan bahwa beberapa teks puisi yang digunakan para pelantun manaqib disebut sebagai Wilayah-nameh.[75] Dikatakan bahwa Wilayah-nameh merujuk pada syair-syair yang digubah mengenai kepahlawanan dan keramat Imam Ali as yang seringkali bercampur dengan fiksi.[76] Beberapa pihak menyatakan bahwa sejak dulu ucapan para pelantun manaqib bercampur dengan legenda dan materi tanpa landasan yang tidak diterima oleh para ulama Syiah.[77]

Adab dan Peralatan

Dari kitab al-Naqdh dipahami bahwa para pelantun manaqib berkeliling di jalan-jalan umum dan melantunkan manaqib.[78] Dikatakan bahwa mereka dikerumuni oleh sesama rekan seagama Syiah mereka dan didanai oleh mereka.[79] Menurut pernyataan sebagian pihak, terkadang para pelantun manaqib daripada berkeliling di jalanan, mereka mengadakan pertunjukan (ma'rekeh) di tempat yang tetap.[80] Para pelantun manaqib memiliki pakaian dan metode khusus yang dianggap bertujuan untuk memberikan pengaruh lebih besar pada audiens.[81] Kasyifi menyebutkan jenis-jenis manaqib-khwani sebagai berikut: mereka yang hanya membacakan puisi disebut sadeh-khwan; mereka yang hanya membacakan manaqib dalam bentuk prosa disebut gharra-khwan; dan muraṣṣa'-khwan yang mencampurkan prosa dan puisi serta merupakan yang paling utama dari dua kelompok lainnya.[82]

Kasyifi mengenai adab manaqib-khwani menyatakan demikian: pertama, pelantun manaqib harus dalam kondisi Takwa dan kesucian sehingga tidak merasa malu di hadapan arwah para maksum as; kedua, ia harus melakukan metode ketaatan dan ibadah berdasarkan perintah Ahlulbait as; ketiga, ia tidak boleh membacakan manqabat demi upah; keempat, ia tidak boleh berlebihan (ghuluw) dalam memuji.[83] Ia mencatat dua puluh sifat yang niscaya bagi para pelantun manaqib; seperti kejujuran dan Zuhud.[84] Menurutnya pelantun manaqib harus menjauhi 30 sifat; termasuk Dusta dan Kezaliman.[85] Peralatan kerja pelantun manaqib tercatat berupa tombak, Tugh, syaddeh, taplak, lampu, dan kapak kecil.[86] Kasyifi membawakan sebuah kisah dari kehidupan para maksum as mengenai alasan dipilihnya beberapa peralatan ini.[87] Berdasarkan laporannya, tugh adalah sebuah tombak dengan kain di bagian atasnya untuk menunjukkan batas pertunjukan (ma'rekeh) setiap pelantun manaqib.[88] Syaddeh merupakan benda yang telah mendapatkan berkah (tabarruk) dari ambang pintu salah satu Imam as yang mereka ikatkan pada tugh. Ia mencatat pencetus syaddeh adalah Imam Ali as pada Perang Uhud.[89]

Catatan Kaki

  1. Qawami Razi, Diwan-e Qawami Razi, 1374 H, Mukadimah Riset, hal. 19; Rezaei, "Manaqib Khwani", hal. 467-468.
  2. Izadi dan Ziraki, "Manaqib-khwani dar Doureh-ye Al-e Buyeh", hal. 25.
  3. Rezaei, "Manaqib Khwani", hal. 468.
  4. Qawami Razi, Diwan-e Qawami Razi, 1374 H, Mukadimah Riset, hal. 17; Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 10.
  5. Jafarian, "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi", hal. 88; Izadi dan Ziraki, "Manaqib-khwani dar Doureh-ye Al-e Buyeh", hal. 46.
  6. Sebagai contoh lihat: Kasyifi Sabzwari, Futuwwat-nameh Solthani, 1355 HS, hal. 280.
  7. Kasyi, Tarikh-e Mohammadi, Mukadimah Riset, 1377 HS, hal. 15.
  8. Mahjoub, "Az Fadhail wa Manaqib-khwani ta Raudheh-khwani", hal. 1227; Rezaei, "Manaqib Khwani", hal. 468.
  9. Sebagai contoh lihat: Yaqut al-Hamawi, Mu'jam al-Udaba, 1414 H, jld. 4, hal. 1789.
  10. Jafarian, "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi", hal. 100.
  11. Afandi, Riyadh al-'Ulama, 1401 H, jld. 1, 308.
  12. Sebagai contoh lihat: Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 10.
  13. Kasyifi Sabzwari, Futuwwat-nameh Solthani, 1355 HS, hal. 280.
  14. Kasyifi Sabzwari, Futuwwat-nameh Solthani, 1355 HS, hal. 281.
  15. Kasyifi Sabzwari, Futuwwat-nameh Solthani, 1355 HS, hal. 283.
  16. Abdul Jalil Razi, Naqdh, 1358 HS, hal. 77.
  17. Kasyifi Sabzwari, Futuwwat-nameh Solthani, 1355 HS, hal. 282.
  18. Kasyifi Sabzwari, Futuwwat-nameh Solthani, 1355 HS, hal. 282-283.
  19. Rezaei, "Manaqib Khwani", hal. 468.
  20. Rezaei, "Manaqib Khwani", hal. 468.
  21. Sebagai contoh lihat: Tanukhi, Nisywar al-Muhadharah, 1391 H, jld. 2, hal. 233.
  22. Abdul Jalil Razi, Naqdh, 1358 HS, hal. 77.
  23. Rezaei, "Manaqib Khwani", hal. 468.
  24. Qazwini Razi, Naqdh, 1358 HS, hal. 108.
  25. Jafarian, "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi", hal. 89.
  26. Jafarian, "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi", hal. 89.
  27. Jafarian, "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi", hal. 91-92.
  28. Jafarian, "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi", hal. 98.
  29. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 12.
  30. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 12.
  31. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 12.
  32. Rezaei, "Manaqib Khwani", hal. 468.
  33. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 15.
  34. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 14.
  35. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 17.
  36. Qawami Razi, Diwan-e Qawami Razi, 1374 H, Mukadimah Riset, hal. 19; Jafarian, "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi", hal. 88.
  37. Qazwini Razi, Naqdh, 1358 HS, hal. 77.
  38. Qawami Razi, Diwan-e Qawami Razi, 1374 H, Mukadimah Riset, hal. 19.
  39. Qazwini Razi, Naqdh, 1358 HS, hal. 64-65.
  40. Jafarian, "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi", hal. 88; Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 8.
  41. Qazwini Razi, Naqdh, 1358 HS, hal. 67.
  42. Mahjoub, "Az Fadhail wa Manaqib-khwani ta Raudheh-khwani", hal. 1214.
  43. Mahjoub, "Az Fadhail wa Manaqib-khwani ta Raudheh-khwani", hal. 1211.
  44. Qazwini Razi, Naqdh, 1358 HS, hal. 109-110.
  45. Qazwini Razi, Naqdh, 1358 HS, hal. 112.
  46. Jafarian, "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi", hal. 84.
  47. Qazwini Razi, Naqdh, 1358 HS, hal. 231-232.
  48. Jafarian, "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi", hal. 86.
  49. Qazwini Razi, Naqdh, 1358 HS, hal. 232.
  50. Qazwini Razi, Naqdh, 1358 HS, hal. 230; Qazwini Razi, Naqdh, 1358 HS, hal. 504.
  51. Jafarian, "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi", hal. 86.
  52. Jafarian, "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi", hal. 90.
  53. Jafarian, "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi", hal. 92.
  54. Afandi, Riyadh al-'Ulama, 1401 H, jld. 1, 308.
  55. Jafarian, "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi", hal. 90-91.
  56. Daulat-syah Samarqandi, Tadzkirah al-Syu'ara, 1382 HS, hal. 297.
  57. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 8-9.
  58. Katib, Tarikh-e Jadid-e Yazd, 1357 HS, hal. 79.
  59. Jafarian, "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi", hal. 98; Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 9.
  60. Kasyifi Sabzwari, Futuwwat-nameh Solthani, 1355 HS, hal. 126.
  61. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 12.
  62. Rezaei, "Manaqib Khwani", hal. 468.
  63. Qazwini Razi, Naqdh, 1358 HS, hal. 577.
  64. Qawami Razi, Diwan-e Qawami Razi, 1374 H, Mukadimah Riset, hal. 21.
  65. Qawami Razi, Diwan-e Qawami Razi, 1374 H, Mukadimah Riset, hal. 21.
  66. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 22-24.
  67. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 24-25.
  68. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 18.
  69. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 18-19.
  70. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 27.
  71. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 21-22.
  72. Mahjoub, "Az Fadhail wa Manaqib-khwani ta Raudheh-khwani", hal. 1212-1213.
  73. Mahjoub, "Az Fadhail wa Manaqib-khwani ta Raudheh-khwani", hal. 1223.
  74. Daulat-syah Samarqandi, Tadzkirah al-Syu'ara, 1382 HS, hal. 436-437.
  75. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 17.
  76. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 17.
  77. Afsyari, "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh", hal. 17.
  78. Mahjoub, "Az Fadhail wa Manaqib-khwani ta Raudheh-khwani", hal. 1211; Qawami Razi, Diwan-e Qawami Razi, 1374 H, Mukadimah Riset, hal. 18.
  79. Mahjoub, "Az Fadhail wa Manaqib-khwani ta Raudheh-khwani", hal. 1211.
  80. Mahjoub, "Az Fadhail wa Manaqib-khwani ta Raudheh-khwani", hal. 1216; Qawami Razi, Diwan-e Qawami Razi, 1374 H, Mukadimah Riset, hal. 19.
  81. Mahjoub, "Az Fadhail wa Manaqib-khwani ta Raudheh-khwani", hal. 1228.
  82. Kasyifi Sabzwari, Futuwwat-nameh Solthani, 1355 HS, hal. 286.
  83. Kasyifi Sabzwari, Futuwwat-nameh Solthani, 1355 HS, hal. 284.
  84. Kasyifi Sabzwari, Futuwwat-nameh Solthani, 1355 HS, hal. 284.
  85. Kasyifi Sabzwari, Futuwwat-nameh Solthani, 1355 HS, hal. 285.
  86. Kasyifi, Futuwwat-nameh Solthani, 1355 HS, hal. 280.
  87. Kasyifi Sabzwari, Futuwwat-nameh Solthani, 1355 HS, hal. 286-287.
  88. Kasyifi Sabzwari, Futuwwat-nameh Solthani, 1355 HS, hal. 288.
  89. Kasyifi Sabzwari, Futuwwat-nameh Solthani, 1355 HS, hal. 291

Daftar Pustaka

  • Afsyari, Mehran. "Jost-o-juyi dar Tarikh-e Manaqib-khwani wa Esyareh-ha'i beh Manzumah-ye Ali-nameh". Dalam lampiran Aineh-ye Mirats, Nomor 20, 1389 HS.
  • Afandi, Abdullah bin Isabeg. Riyadh al-'Ulama wa Hiyadh al-Fudhala. Qom: Perpustakaan Umum Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1401 H.
  • Izadi, Hossein dan Mehdi Ziraki. "Manaqib-khwani dar Doureh-ye Al-e Buyeh". Dalam majalah Tarikh-e Eslam, Nomor 33-34, Musim Semi dan Musim Panas 1387 HS.
  • Tanukhi, Muhsin bin Ali. Nisywar al-Muhadharah wa Akhbar al-Mudzakarah. t.t., t.p., 1391 H.
  • Jafarian, Rasul. "Moruri bar Manqabat-e Imamam 'alaihis salam dar Sye'r-e Farsi". Dalam majalah Misykat, Nomor 7, Musim Semi 1382 HS.
  • Daulat-syah Samarqandi, Daulat-syah bin Ala-ud-Daulah. Tadzkirah al-Syu'ara. Riset: Edward Browne. Teheran: Asathir, 1382 HS.
  • Rezaei, Amirhossein. "Manaqib-khwani". Dalam Farhang-e Sug-e Syi'i. Di bawah pengawasan Mohsen-Hossam Mazaheri. Teheran: Kheimeh, 1395 HS.
  • Qazwini Razi, Abdul Jalil bin Abul Husain. Ba'dhu Matsalib al-Nawashib fi Naqdh-e Ba'dhu Fadhaih al-Rawafidh. Riset: Mir-Jalaluddin Muhaddits Ormavi. Teheran: Anjoman Atsar-e Milli, 1358 HS.
  • Qawami Razi, Badruddin. Diwan-e Syaraf al-Syu'ara Badruddin Qawami Razi. Riset: Jalaluddin Muhaddits Ormavi. Teheran: Chapkhaneh-ye Sepehr, 1374 H.
  • Katib, Ahmad bin Hossein. Tarikh-e Jadid-e Yazd. Riset: Iraj Afsyar. Teheran: Amirkabir, 1357 HS.
  • Kasyifi Sabzwari, Husain bin Ali. Futuwwat-nameh Solthani. Riset: Mohammad Jafar Mahjoub. Teheran: Bunyad-e Farhang-e Iran, 1350 HS.
  • Kasyi, Hasan. Tarikh-e Mohammadi. Riset: Rasul Jafarian. Qom: Perpustakaan Spesialis Sejarah Islam dan Iran, 1377 HS.
  • Mahjoub, Mohammad Jafar. "Az Fadhail wa Manaqib-khwani ta Raudheh-khwani". Dalam Adabiyat-e Ammiyaneh-ye Iran. Atas usaha Hassan Zolfaghari. Teheran: Cyesmeh, 1386 HS.
  • Yaqut al-Hamawi, Yaqut bin Abdullah. Mu'jam al-Udaba. Riset: Ihsan Abbas. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1414 H.