Konsep:MUTAKALIM
Mutakallim adalah ilmuwan ilmu kalam yang melakukan ekstraksi ajaran-ajaran agama dari teks-teks suci dan melakukan pembelaan rasional terhadapnya.
Seorang mutakalim berbeda dengan seorang Filosof; sebab mutakalim telah menerima asumsi dasar keyakinan agama dan menganggap dirinya berkewajiban untuk membelanya, sementara filosof tidak memiliki komitmen untuk membela ajaran agama dan semata-mata melakukan aktivitas pengenalan terhadap hakikat eksistensi.
Dalam kalam Syiah, Tekstualisme (tekstualisme) dan aql-garayi (rasionalisme) dianggap sebagai dua pendekatan utama; Syaikh Shaduq adalah contoh mutakalim tekstualis, sedangkan Syaikh Mufid, Sayid Murtadha, dan Syaikh Thusi adalah contoh para mutakalim rasionalis.
Konsep dan Kedudukan
Alim dalam ilmu kalam disebut sebagai mutakalim.[1] Ilmu kalam adalah ilmu yang dengannya seorang mutakalim dapat membuktikan akidah agama melalui penyampaian dalil-dalil dan penolakan syubhat (keraguan).[2] Dengan kata lain, kalam adalah ilmu yang dengannya manusia (mutakalim) dapat melakukan pembelaan melalui ucapan terhadap opini dan perbuatan terbatas serta tertentu yang telah dinyatakan secara gamblang oleh pemilik syariat, serta membatalkan apa pun yang bertentangan dengannya.[3]
Tugas Mutakalim
Menginstimbat akidah dan ajaran agama dari teks-teks suci serta membela ajaran-ajaran ini disebutkan sebagai tugas terpenting mutakalim.[4] Setelah ajaran agama diinstimbat oleh mutakalim, pembelaan terhadapnya dapat dilakukan dalam bentuk aktivitas berikut:
- Klasifikasi dan sistematisasi ajaran-ajaran yang diinstimbat dari teks-teks agama;
- Penjelasan dan pemaparan ajaran-ajaran tersebut serta analisis dasar maupun konsekuensinya jika diperlukan;
- Pembuktian dan pemberian argumentasi terhadap ajaran-ajaran tersebut;
- Penolakan syubhat yang diajukan terhadap ajaran maupun akidah ini;
- Penolakan keyakinan yang bertentangan dengan agama meskipun tidak diajukan dalam bentuk syubhat.[5]
Berdasarkan hal ini, mutakalim adalah orang yang berperan dalam dua kedudukan yaitu istimbat ajaran agama dan pembelaan terhadapnya dengan kombinasi metode akli-naqli. Oleh karena itu, menurut pernyataan Reza Berenjkar, peneliti kalam dan pengajar Hauzah Ilmiah Qom, jika seseorang hanya mencukupkan diri pada istimbat ajaran agama saja tanpa melakukan pembelaan terhadapnya, maka ia tidak disebut sebagai mutakalim.[6]
Perbedaan Mutakalim dan Filosof
Beberapa perbedaan antara mutakalim dan filosof telah disebutkan sebagai berikut:
- Mutakalim menganggap dirinya berkewajiban dan berkomitmen untuk membela batas-batas agama; sementara filosof tidak memiliki komitmen untuk membela agama dan tujuannya adalah mengenal hakikat eksistensi dengan metode yang bebas.[7]
- Mutakalim sejak awal telah menerima akidah agama dan kemudian mencoba membuktikan atau membela hal tersebut;[8] namun filosof tidak bermaksud membuktikan materi yang telah ditentukan sebelumnya.[9]
- Baik mutakalim maupun filosof keduanya bersandar pada argumentasi akli, dengan perbedaan bahwa mutakalim merujuk pada argumen-argumen yang didasarkan pada prinsip-prinsip seperti baik dan buruk secara akal, Kaidah Luthf, dan Wajib al-Ashlah, namun filosof menjadikan aksioma akal (bedihiyat) seperti "mustahilnya اجتماع و ارتفاع نقیضین (berkumpul maupun terangkatnya dua hal yang kontradiktif)" sebagai landasan argumennya.[10]
- Mutakalim dan filosof, keduanya membahas mengenai "ada sejauh ia ada" (mawjud bima huwa mawjud), sifat, serta aksidensinya; dengan perbedaan bahwa mutakalim dalam argumentasi maupun silogismenya harus menggunakan premis-premis yang selaras dengan masalah yang telah terbukti melalui lahiriah syariat; namun filosof menggunakan premis-premis yang selaras dengan hukum akal murni; baik itu selaras dengan lahiriah syariat maupun tidak, dan jika tidak selaras dengan lahiriah syariat, maka melalui jalan takwil ia akan menyelaraskannya dengan hukum akal.[11]
Mutakalim Tekstualis dan Rasionalis
Para mutakalim Muslim terbagi menjadi dua kelompok: tekstualis dan rasionalis. Rasionalis dalam pembahasan ilmu kalam merujuk pada pendekatan yang tidak mengabaikan peran akal dan sarana perolehan pengetahuan umum lainnya untuk mengenal makrifat agama. Tekstualisme adalah pendekatan yang memperingatkan penganut agama agar tidak melakukan evaluasi rasional terhadap keyakinan agama dan meyakini bahwa makrifat agama harus diambil dari teks-teks agama dan sumber-sumber wahyu.[12] Dikatakan bahwa Syaikh Shaduq termasuk dalam mutakalim tekstualis, sementara mutakalim seperti Syaikh Mufid, Sayid Murtadha, dan Syaikh Thusi tergolong sebagai representasi pendekatan rasionalis dalam kalam Syiah.[13] Rasionalisme disebutkan sebagai karakteristik terpenting Mazhab Kalam Baghdad[14] dan nash-garayi sebagai karakteristik penting Mazhab Kalam Qom.[15]
Mutakalim Syiah
Prinsip Akidah Mutakalim Syiah
Beberapa prinsip akidah mutakalim Syiah dan perbedaannya dengan mutakalim Ahlusunnah adalah sebagai berikut:
- Mutakalim Syiah dengan menerima baik dan buruk secara akal, menganggap makrifat kepada Tuhan sebagai kewajiban akal dikarenakan wajibnya syukur al-mun'im dan menolak bahaya yang mungkin terjadi; sementara kaum Asy'ariyah (salah satu mazhab kalam Ahlusunnah) dengan mengingkari baik dan buruk secara akal, menganggap makrifat kepada Tuhan sebagai kewajiban syar'i.[16]
- Mutakalim Syiah dalam Tauhid Sifati meyakini keidentikan sifat dengan zat Ilahi;[17] sementara kaum Asy'ariyah meyakini bahwa sifat-sifat tersebut merupakan tambahan atas zat Ilahi.
- Dalam masalah jabr wa ikhtiyar, berbeda dengan Mu'tazilah yang menganut Tafwidh dan berbeda dengan Asy'ariyah yang menganut Kasb, mutakalim Syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat para Imam Maksum as telah menerima teori Amrun baina Amrain (perkara di antara dua perkara).[18]
- Dalam masalah Imamah dan khilafah setelah Nabi Akram saw, berbeda dengan mutakalim Ahlusunnah, mutakalim Syiah bersepakat (ijmak) bahwa Imam Ali as adalah pengganti tanpa perantara bagi Nabi saw dan telah dinobatkan oleh beliau melalui Nash Jali.[19]
Mutakalim Masyhur Syiah
Beberapa mutakalim masyhur Syiah antara lain:
| No | Nama Mutakalim | Kelahiran | Wafat | Karya Kalam Terpenting | Pendekatan Kalam | Mazhab Kalam |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Hisyam bin al-Hakam | Awal abad ke-2/8 | 179/795-96 | al-Tauhid, al-Imamah | ||
| 2 | Abu Sahl an-Nawbakhti | 237/851-52 | 311/923-24 | al-Tanbih fi al-Imamah | Rasionalis | Baghdad |
| 3 | Syaikh Shaduq | 305/917-18 | 381/991-92 | al-Tauhid, al-I'tiqadat | Tekstualis | Qom |
| 4 | Syaikh Mufid | 336/947-48 atau 338/949-50 | 413/1022-23 | Awa'il al-Maqalat, Tashih al-I'tiqadat | Rasionalis | Baghdad |
| 5 | Sayid Murtadha | 355/965-66 | 436/1044-45 | al-Syafi, Tanzih al-Anbiya | Rasionalis | Baghdad |
| 6 | Syaikh Thusi | 385/995-96 | 460/1067-68 | Tamhid al-Ushul, Kitab al-Ghaibah | Rasionalis | Baghdad |
| 7 | Sadiduddin al-Himmasi al-Razi | 485/1092-93 | 585/1189-90 | al-Munqidz min al-Taqlid wa al-Mursyid ila al-Tauhid | Rasionalis | Hillah |
| 8 | Ibnu Maitsam al-Bahrani | 636/1238-39 | 679/1280-81 atau 699/1299-1300 | Qawa'id al-Maram | Rasionalis | Hillah |
| 9 | Khwaja Nashiruddin al-Thusi | 597/1200-01 | 672/1273-74 | Tajrid al-I'tiqad, Qawa'id al-'Aqaid | Rasionalis | |
| 10 | Allamah al-Hilli | 648/1250-51 | 726/1325-26 | Kasyf al-Murad, Nahj al-Haq | Rasionalis | Hillah |
| 11 | Abdurrazzaq al-Lahiji | 1072/1661-62 | Gowhar-e Morad, Syawariq al-Ilham | Rasionalis | ||
| 12 | Sayid Nurullah Husseini Syusytari | 956/1549-50 | 1019/1610-11 | Ihaq al-Haq | ||
| 13 | Muhammad Hasan al-Mudhaffar | 1301/1883-84 | 1375/1955-56 | Dalail al-Shidq | ||
| 14 | Ja'far Subhani | 1929-30 | Masih Hidup | Muhadharat fi al-Ilahiyat | Rasionalis |
Catatan Kaki
- ↑ Dehkhoda, Loghat-nameh, di bawah lema "Mutakalim".
- ↑ al-Iji, al-Mawaqif fi 'Ilm al-Kalam, Alam al-Kutub, hal. 7.
- ↑ Al-Farabi, Ihsha' al-'Ulum, 1996 M, hal. 84.
- ↑ Berenjkar, Rauisy-syenasi 'Ilm-e Kalam, 1391 HS, hal. 22.
- ↑ Lihat: Berenjkar, Rauisy-syenasi 'Ilm-e Kalam, 1391 HS, hal. 22-23; "Sokhanrani-ye Mustafa Malekian dar Ronamayi az Ketab-e Falsafeh-ye Andisheh-ye Dini", Situs Fashlnameh Naqd-e Ketab: Falsafeh wa Akhlaq.
- ↑ Berenjkar, Rauisy-syenasi 'Ilm-e Kalam, 1391 HS, hal. 23.
- ↑ Motahhari, Asy-nayi ba Ulum-e Eslami: Bakhsy-e Falsafeh, 1388 HS, hal. 179.
- ↑ Hassanzadeh Amuli, Ma'atsir al-Atsar, 1386 HS, jld. 2, hal. 101.
- ↑ "Farq-e Filsof wa Hakim", Situs Barnameh Ma'refat.
- ↑ Motahhari, Asy-nayi ba Ulum-e Eslami: Bakhsy-e Falsafeh, 1388 HS, hal. 178-179.
- ↑ Lahiji, Syawariq al-Ilham, 1428 H, jld. 1, hal. 70.
- ↑ Syariatmadari dan Tavakoli Mohammadi, "Aql-garayi wa Nash-garayi dar Kalam-e Eslami ba Barresi-ye Didgah-e Syaikh Thusi wa Ibn Idris", hal. 30.
- ↑ Syariatmadari dan Tavakoli Mohammadi, "Aql-garayi wa Nash-garayi dar Kalam-e Eslami ba Barresi-ye Didgah-e Syaikh Thusi wa Ibn Idris", hal. 33.
- ↑ Farmanian dan Sadeqi Kasjani, Negahi beh Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah, 1394 HS, hal. 57.
- ↑ Ja'fari, "Moqayeseh-i miyan-e do Maktab-e Fekri-ye Syiah dar Qom wa Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri", hal. 16.
- ↑ Subhani, al-Inshaf fi Masail-e dama fiha al-Khilaf, jld. 3, hal. 34.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Bahrani, Qawa'id al-Maram fi 'Ilm al-Kalam, 1406 H, hal. 101.
- ↑ Allamah al-Hilli, Nahj al-Haq wa Kasyf al-Shidq, Dar al-Kitab, hal. 101.
- ↑ Allamah al-Hilli, Kasyf al-Murad fi Syarh Tajrid al-I'tiqad, 1437 H, hal. 497-498.
Daftar Pustaka
- al-Iji, Abdurrahman bin Ahmad. al-Mawaqif fi 'Ilm al-Kalam. Beirut, Alam al-Kutub, tanpa tahun.
- Bahrani, Ibnu Maitsam. Qawa'id al-Maram ila 'Ilm al-Kalam. Qom, Maktabah Ayatullah Mar'asyi Najafi, Cetakan Kedua, 1406 H.
- Berenjkar, Reza. Rauisy-syenasi 'Ilm-e Kalam. Qom, Muassasah Ilmi Farhangi Dar al-Hadits, Cetakan Pertama, 1391 HS.
- Dehkhoda, Ali Akbar. Loghat-nameh. Teheran, Muassasah Entesyarat wa Chap-e Danesy-gah-e Teheran, 1377 HS.
- Ja'fari, Ya'qub. "Moqayeseh-i miyan-e do Maktab-e Fekri-ye Syiah dar Qom wa Baghdad dar Qarn-e Chaharom-e Hejri". Dalam Maqalat-e Farsi (Majmu'eh Maqalat-e Kongre Syaikh Mufid, jld. 69), Qom, Kongre Jahani Hezare-ye Syaikh Mufid, Cetakan Pertama, 1413 H.
- Hassanzadeh Amuli, Hassan. Ma'atsir al-Atsar. Qom, Entesyarat-e Alif. Lam. Mim, 1386 HS.
- "Sokhanrani-ye Mustafa Malekian dar Ronamayi az Ketab-e Falsafeh-ye Andisheh-ye Dini", Situs 3danet, Tanggal kunjungan: 25 Bahman 1400 HS.
- Syariatmadari, Hamidreza dan Murtadha Tavakoli Mohammadi. "Aql-garayi wa Nash-garayi dar Kalam-e Eslami ba Barresi-ye Didgah-e Syaikh Thusi wa Ibn Idris". Pazhuhesygah-e Kalam, Nomor 1, Musim Gugur dan Musim Dingin 1393 HS.
- Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Nahj al-Haq wa Kasyf al-Shidq. Beirut, Dar al-Kitab al-Lubnani, Cetakan Pertama, 1982 M.
- Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Kasyf al-Murad fi Syarh Tajrid al-I'tiqad. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, Cetakan Keenam Belas, 1437 H.
- Al-Farabi, Muhammad bin Muhammad. Ihsha' al-'Ulum. Beirut, Dar wa Maktabah al-Hilal, 1996 M.
- Farmanian, Mahdi dan Mustafa Sadeqi Kasjani. Negahi beh Tarikh-e Tafakkur-e Imamiyah; az Aghaz ta Zhuhur-e Safawiyyah. Qom, Pazhuhesygah-e Ulum wa Farhang-e Eslami, Cetakan Pertama, 1394 HS.
- "Farq-e Filsof wa Hakim", Situs Barnameh Ma'refat, Tanggal posting materi: 3 Dey 1389 HS, Tanggal kunjungan: 26 Bahman 1400 HS.
- Lahiji, Abdurrazzaq. Syawariq al-Ilham. Qom, Muassasah Imam Sadiq as, 1428 H.
- Motahhari, Morteza. Asy-nayi ba Ulum-e Eslami: Bakhsy-e Falsafeh. Qom, Entesyarat-e Sadra, 1388 HS.