Lompat ke isi

Konsep:Khannas

Dari wikishia

Khannas adalah sifat Setan yang bermakna makhluk yang menyembunyikan diri.[1] Banyak mufasir menganggap khannas dalam ayat "Min syarr al-waswas al-khannas" (Dari kejahatan pembisik yang bersembunyi) (Surah an-Nas: 4) sebagai salah satu sifat setan; karena ia bersembunyi ketika mengingat Allah dan kembali serta membisikkan godaan ketika manusia lengah.[2] Dalam Tafsir Al-Mizan, khannas juga dideskripsikan sebagai makhluk yang terus-menerus muncul untuk menggoda dan menghilang dari pandangan dengan mengingat Allah; dan sifat ini diterapkan pada setan.[3] Selain itu, beberapa mufasir menganggap "waswas al-khannas" sebagai isyarat pada bisikan tersembunyi dan tanpa suara dari setan di dalam hati manusia.[4]

Menurut Zamakhsyari, salah seorang mufasir Ahlusunah, dengan memperhatikan kemungkinan bahwa setan bisa berupa manusia dan Jin dalam Al-Qur'an, maka yang dimaksud dengan setan dalam ayat ini bukan hanya setan dari golongan jin, tetapi juga mencakup setan dari golongan manusia.[5] Dalam Tafsir Nemuneh disebutkan bahwa setan dengan sembunyi-sembunyi menghiasi godaannya sedemikian rupa sehingga manusia mengiranya sebagai pemikirannya sendiri; ia menampilkan kebatilan dalam balutan kebenaran, dosa dalam pakaian ibadah, dan kesesatan dalam wujud petunjuk.[6] Sebagian ahli juga menafsirkan godaan khannas sebagai nilai-nilai khayalan dan rekayasa yang dapat melemahkan nilai-nilai ilahi di masyarakat.[7]

Dalam beberapa riwayat, khannas juga disebutkan dengan makna setan:

  1. Waswas Khannas sebagai faktor penyesatan melalui janji dan angan-angan: Dalam sebuah riwayat, "waswas khannas" diperkenalkan sebagai salah satu sekutu setan yang tugasnya memberikan janji dan menanamkan angan-angan di hati manusia; kemudian ia mendorong manusia untuk melakukan dosa demi mencapai angan-angan tersebut dan setelah dosa terjadi, ia membuat manusia melupakan istigfar.[8]
  2. Kehadiran permanen waswas khannas di hati manusia dan pengaruh zikir ilahi terhadapnya: Dalam riwayat lain mengenai ayat 4 Surah an-Nas disebutkan bahwa di dalam hati setiap manusia, saat lahir, terdapat waswas khannas; setiap kali manusia mengingat Allah, waswas ini bersembunyi dan berhenti, dan setiap kali ia lalai dari mengingat Allah, ia kembali dan menggodanya.[9]
  3. Deskripsi metaforis tentang setan khannas dan cara penguasaannya atas hati manusia: Dalam riwayat lain mengenai ayat 4 Surah an-Nas, setan khannas digambarkan sebagai babi yang bergelantungan di hati manusia yang mana Allah telah menjadikannya berkuasa atas manusia; sedemikian rupa sehingga dengan mengingat Allah ia bersembunyi dari hati manusia dan melarikan diri dari keberadaannya.[10]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Jauhari, Al-Shihah, 1404 H, jld. 3, hlm. 925; Ibnu Manzhur, Lisan al-'Arab, 1414 H, jld. 6, hlm. 71-72; Qarasyi, Qamus Qur'an, jld. 2, hlm. 309.
  2. Thabarsi, Tafsir Jawami' al-Jami', 1412 H, jld. 4, hlm. 566; Qomi, Tafsir al-Qomi, 1363 HS, jld. 2, hlm. 450; Muqatil bin Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 4, hlm. 943; Syah Abd al-'Azhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 HS, jld. 14, hlm. 397; Maraghi, Tafsir al-Maraghi, 1390 H, jld. 30, hlm. 270; Zuhaili, Al-Tafsir al-Munir, 1411 H, jld. 30, hlm. 481.
  3. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1371 HS, jld. 20, hlm. 397.
  4. Thusi, Al-Tibyan, jld. 10, hlm. 437.
  5. Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 4, hlm. 824.
  6. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 27, hlm. 473.
  7. Abbasnezhad, Qur'an, Rawansyenasi wa Ulum Tarbiyati, 1384 HS, hlm. 411.
  8. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1371 HS, jld. 20, hlm. 398.
  9. Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 30, hlm. 228; Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 15, hlm. 526.
  10. Muqatil bin Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 4, hlm. 943.

Daftar Pustaka

  • Abbasnezhad, Mohsen. Qur'an, Rawansyenasi wa Ulum Tarbiyati. Masyhad: Bonyad Pajuhesy-ha-ye Qur'ani Hauzeh wa Danesygeh, 1384 HS.
  • Alusi, Mahmud bin Abdullah. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-'Azhim wa al-Sab' al-Matsani. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1415 H.
  • Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram. Lisan al-'Arab. Cetakan keempat. Beirut: Dar Shadir, 1414 H.
  • Jauhari, Ismail bin Hammad. Al-Shihah. Beirut: Dar al-'Ilm lil-Malayin, 1404 H.
  • Makarem Syirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 HS.
  • Maraghi, Ahmad Musthafa. Tafsir al-Maraghi. Beirut: Dar al-Fikr, 1390 H.
  • Muqatil bin Sulaiman. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1423 H.
  • Qarasyi Bonabi, Ali Akbar. Qamus Qur'an. Cetakan keenam. Teheran: Dar al-Kutub Islamiyyah, 1371 HS.
  • Qomi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qomi. Qom: Dar al-Kitab, 1363 HS.
  • Syah Abd al-'Azhimi, Husain. Tafsir Itsna 'Asyari. Teheran: Miqat, 1363 HS.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ayi al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
  • Thabathaba'i, Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Ismailiyan, 1371 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Tafsir Jawami' al-Jami'. Koreksi: Abu al-Qasim Gorji. Qom: Markaz Modiriyat Hauzeh Ilmiah Qom, 1412 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Ahmad Habib Amili. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi.
  • Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. Al-Kasysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil. Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1407 H.
  • Zuhaili, Wahbah. Al-Tafsir al-Munir fi al-'Aqidah wa al-Syari'ah wa al-Manhaj. Damaskus: Dar al-Fikr, 1411 H.