Konsep:Khannas
Khannas adalah sifat Setan yang bermakna makhluk yang menyembunyikan diri.[1] Banyak mufasir menganggap khannas dalam ayat "Min syarr al-waswas al-khannas" (Dari kejahatan pembisik yang bersembunyi) (Surah an-Nas: 4) sebagai salah satu sifat setan; karena ia bersembunyi ketika mengingat Allah dan kembali serta membisikkan godaan ketika manusia lengah.[2] Dalam Tafsir Al-Mizan, khannas juga dideskripsikan sebagai makhluk yang terus-menerus muncul untuk menggoda dan menghilang dari pandangan dengan mengingat Allah; dan sifat ini diterapkan pada setan.[3] Selain itu, beberapa mufasir menganggap "waswas al-khannas" sebagai isyarat pada bisikan tersembunyi dan tanpa suara dari setan di dalam hati manusia.[4]
Menurut Zamakhsyari, salah seorang mufasir Ahlusunah, dengan memperhatikan kemungkinan bahwa setan bisa berupa manusia dan Jin dalam Al-Qur'an, maka yang dimaksud dengan setan dalam ayat ini bukan hanya setan dari golongan jin, tetapi juga mencakup setan dari golongan manusia.[5] Dalam Tafsir Nemuneh disebutkan bahwa setan dengan sembunyi-sembunyi menghiasi godaannya sedemikian rupa sehingga manusia mengiranya sebagai pemikirannya sendiri; ia menampilkan kebatilan dalam balutan kebenaran, dosa dalam pakaian ibadah, dan kesesatan dalam wujud petunjuk.[6] Sebagian ahli juga menafsirkan godaan khannas sebagai nilai-nilai khayalan dan rekayasa yang dapat melemahkan nilai-nilai ilahi di masyarakat.[7]
Dalam beberapa riwayat, khannas juga disebutkan dengan makna setan:
- Waswas Khannas sebagai faktor penyesatan melalui janji dan angan-angan: Dalam sebuah riwayat, "waswas khannas" diperkenalkan sebagai salah satu sekutu setan yang tugasnya memberikan janji dan menanamkan angan-angan di hati manusia; kemudian ia mendorong manusia untuk melakukan dosa demi mencapai angan-angan tersebut dan setelah dosa terjadi, ia membuat manusia melupakan istigfar.[8]
- Kehadiran permanen waswas khannas di hati manusia dan pengaruh zikir ilahi terhadapnya: Dalam riwayat lain mengenai ayat 4 Surah an-Nas disebutkan bahwa di dalam hati setiap manusia, saat lahir, terdapat waswas khannas; setiap kali manusia mengingat Allah, waswas ini bersembunyi dan berhenti, dan setiap kali ia lalai dari mengingat Allah, ia kembali dan menggodanya.[9]
- Deskripsi metaforis tentang setan khannas dan cara penguasaannya atas hati manusia: Dalam riwayat lain mengenai ayat 4 Surah an-Nas, setan khannas digambarkan sebagai babi yang bergelantungan di hati manusia yang mana Allah telah menjadikannya berkuasa atas manusia; sedemikian rupa sehingga dengan mengingat Allah ia bersembunyi dari hati manusia dan melarikan diri dari keberadaannya.[10]
Lihat Juga
Catatan Kaki
- ↑ Jauhari, Al-Shihah, 1404 H, jld. 3, hlm. 925; Ibnu Manzhur, Lisan al-'Arab, 1414 H, jld. 6, hlm. 71-72; Qarasyi, Qamus Qur'an, jld. 2, hlm. 309.
- ↑ Thabarsi, Tafsir Jawami' al-Jami', 1412 H, jld. 4, hlm. 566; Qomi, Tafsir al-Qomi, 1363 HS, jld. 2, hlm. 450; Muqatil bin Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 4, hlm. 943; Syah Abd al-'Azhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 HS, jld. 14, hlm. 397; Maraghi, Tafsir al-Maraghi, 1390 H, jld. 30, hlm. 270; Zuhaili, Al-Tafsir al-Munir, 1411 H, jld. 30, hlm. 481.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1371 HS, jld. 20, hlm. 397.
- ↑ Thusi, Al-Tibyan, jld. 10, hlm. 437.
- ↑ Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 4, hlm. 824.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 27, hlm. 473.
- ↑ Abbasnezhad, Qur'an, Rawansyenasi wa Ulum Tarbiyati, 1384 HS, hlm. 411.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1371 HS, jld. 20, hlm. 398.
- ↑ Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 30, hlm. 228; Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 15, hlm. 526.
- ↑ Muqatil bin Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 4, hlm. 943.
Daftar Pustaka
- Abbasnezhad, Mohsen. Qur'an, Rawansyenasi wa Ulum Tarbiyati. Masyhad: Bonyad Pajuhesy-ha-ye Qur'ani Hauzeh wa Danesygeh, 1384 HS.
- Alusi, Mahmud bin Abdullah. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-'Azhim wa al-Sab' al-Matsani. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1415 H.
- Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram. Lisan al-'Arab. Cetakan keempat. Beirut: Dar Shadir, 1414 H.
- Jauhari, Ismail bin Hammad. Al-Shihah. Beirut: Dar al-'Ilm lil-Malayin, 1404 H.
- Makarem Syirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 HS.
- Maraghi, Ahmad Musthafa. Tafsir al-Maraghi. Beirut: Dar al-Fikr, 1390 H.
- Muqatil bin Sulaiman. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1423 H.
- Qarasyi Bonabi, Ali Akbar. Qamus Qur'an. Cetakan keenam. Teheran: Dar al-Kutub Islamiyyah, 1371 HS.
- Qomi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qomi. Qom: Dar al-Kitab, 1363 HS.
- Syah Abd al-'Azhimi, Husain. Tafsir Itsna 'Asyari. Teheran: Miqat, 1363 HS.
- Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ayi al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
- Thabathaba'i, Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Ismailiyan, 1371 HS.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Tafsir Jawami' al-Jami'. Koreksi: Abu al-Qasim Gorji. Qom: Markaz Modiriyat Hauzeh Ilmiah Qom, 1412 H.
- Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Ahmad Habib Amili. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi.
- Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. Al-Kasysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil. Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1407 H.
- Zuhaili, Wahbah. Al-Tafsir al-Munir fi al-'Aqidah wa al-Syari'ah wa al-Manhaj. Damaskus: Dar al-Fikr, 1411 H.