Konsep:Kaidah Haramnya Membantu Perbuatan Dosa
Templat:Artikel Deskriptif Fikih Templat:Hukum Kaidah Haramnya Membantu Perbuatan Dosa (Bahasa Arab: قاعدة حرمة الإعانة علی الإثم) adalah sebuah kaidah fikih yang menyatakan bahwa membantu orang lain dalam melakukan Dosa hukumnya adalah Haram. Para fakih untuk membuktikan kaidah haramnya membantu perbuatan dosa bersandar pada Ayat Ta'awun, riwayat-riwayat tentang larangan membantu orang zalim, dan hukum akal mengenai buruknya membantu perbuatan haram.
Kaidah haramnya membantu perbuatan dosa telah dijadikan sandaran oleh para fakih dalam berbagai bab fikih seperti bab Perdagangan, Haji dan Umrah, Sewa-menyewa, Zakat, Wasiat, dan jinayat (kriminal). Pengharaman membantu orang zalim, membantu produksi dan meminum Khamar, serta bekerja sama dalam pembunuhan orang lain adalah beberapa penerapan dari kaidah ini.
Disebutkan bahwa Syaikh Thusi, Muhaqqiq Hilli, dan Allamah Hilli termasuk di antara para fakih pertama yang menyandarkan hukum pada haramnya membantu perbuatan dosa sebagai sebuah kaidah fikih.
Terminologi dan Kedudukan
I'anah 'ala al-itsm bermakna membantu orang lain untuk melakukan dosa, baik bantuan tersebut bersifat praktis maupun pemikiran.[1] Bahkan memberikan petunjuk untuk melakukan suatu perbuatan juga dianggap sebagai bantuan.[2] Menurut pandangan Imam Khomeini, bahkan diam di hadapan dosa pun bisa jadi merupakan bentuk bantuan.[3] Para fakih mengartikan kata "itsm" sebagai dosa yang mencakup meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.[4]
Kaidah haramnya membantu perbuatan dosa[5] digunakan dalam banyak bab fikih termasuk bab matajir,[6] Haji dan Umrah,[7] ijarah,[8] Zakat,[9] Wasiat,[10] Wakaf,[11] ariyah[12] dan jinayat[13]. Menurut para peneliti fikih, dalam kaidah haramnya membantu perbuatan dosa, mukalaf itu sendiri juga dapat menggunakannya untuk memahami hukum syar'i dan menentukan kewajibannya.[14] Menurut Alireza A'rafi, salah seorang fakih Syiah, dalam buku Qawa'id-e Feqhi,[15]
Disebutkan bahwa para fakih pertama yang menyandarkan hukum pada kaidah haramnya membantu perbuatan dosa sebagai kaidah fikih adalah Syaikh Thusi dalam kitab al-Mabsuth,[16] Muhaqqiq Hilli dalam kitab Syara'i',[17] dan Allamah Hilli dalam kitab Mukhtalaf[18] serta kitab Tadzkirah[19]. Banyak fakih telah menegaskan tentang keharaman membantu orang zalim atau keharaman membantu perbuatan Dosa.[20] Selain itu, Ibnu Idris dalam kitab al-Sarair[21] dan Syahid Awwal dalam kitab al-Durus,[22] menganggap hadir di majelis munkar adalah haram kecuali karena darurat dan untuk mencegah perbuatan Dosa. Syahid Awwal juga menganggap haram menjual kain untuk menutupi Salib dan Berhala.[23]
Kaidah haramnya membantu perbuatan dosa di kalangan ahli usul Imamiyah dikaji dalam topik-pun seperti Muqaddimah al-Wajib, Tajari, shighah nahi dan penunjukannya atas kerusakan (fasad) dalam transaksi dan ibadah, serta oleh sebagian ahli usul Ahlusunnah dalam pembahasan Sadd al-Dzara'i.[24]
Dalam hukum perdata Iran, pada poin keempat pasal 190 dan pasal 217 undang-undang perdata dibahas mengenai perlunya legalitas (masyru'iyat) tujuan transaksi yang berkaitan dengan pembahasan membantu perbuatan haram.[25]
Sandaran Kaidah
Para fakih dalam membuktikan keharaman kaidah membantu perbuatan dosa bersandar pada ayat "wa la ta'awanu 'ala al-itsmi wa al-'udwan (dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran)".[26] Imam Khomeini menganggap hukum keharaman tersebut berdasarkan kabar-kabar mustafidh, dan meyakini bahwa dalam ayat ini "itsm" dan "udwan" dilarang dengan satu larangan (wa la ta'awanu).[27] Selain itu, konteks (siyaq) ayat[28] dan ungkapan "innallaha syadid al-'iqab" menunjukkan keharaman dan adanya siksa jika terjadi pelanggaran.[29]
Para fakih berargumentasi dengan banyak riwayat untuk membuktikan haramnya membantu perbuatan dosa.[30] Di antaranya adalah riwayat-riwayat pelarangan membantu orang zalim,[31] meminum khamar,[32] dan membunuh orang mukmin.[33] Selain itu, hukum akal tentang buruknya menyiapkan pendahuluan dosa dan membantunya juga menjadi dalil lain bagi keharaman ini.[34] Menurut para fakih, secara urf kaum berakal, membantu suatu kejahatan dianggap sebagai kejahatan itu sendiri.[35] Imam Khomeini juga berpendapat bahwa kemungkinan larangan Al-Qur'an dan riwayat dalam bidang ini berakar pada hukum akal.[36] Di samping itu, sebagian fakih juga bersandar pada Ijmak,[37] meskipun sebagian fakih lainnya tidak menerima ijmak tersebut.[38]
Penerapan Kaidah dalam Fikih
Para fakih dalam berbagai bab fikih menyandarkan hukum pada kaidah haramnya membantu perbuatan dosa[39] yang mana berikut ini diisyaratkan pada beberapa kasus:
| No | Penerapan | Bab Fikih |
|---|---|---|
| 1 | Haramnya menjual anggur kepada seseorang yang diketahui akan menjadikannya Khamar.[40] | Perdagangan |
| 2 | Haramnya menyewakan toko untuk pembuatan atau penjualan khamar atau tempat mengonsumsinya, begitu juga menyewakan kendaraan untuk mengangkut khamar.[41] | Sewa-menyewa |
| 3 | Haramnya memberikan Zakat kepada fakir yang kecanduan melakukan maksiat.[42] | Zakat |
| 4 | Kebatalan Wasiat untuk membangun Gereja dan Sinagoge serta hal-hal haram lainnya, atau menyewakan properti untuk urusan ini, atau membeli tanah dan mewakafkannya untuk gereja dan sinagoge.[43] | Wasiat |
| 5 | Haramnya mewakafkan harta untuk para pelaku dosa dan perampok jalanan.[44] | Wakaf |
| 6 | Keharusan sifat Mubah pada manfaat dalam ariyah. Oleh karena itu, jika seseorang meminjamkan wadah emas atau perak untuk makan dan minum, maka hukumnya haram.[45] | Pinjam-meminjam |
| 7 | Haramnya memberikan harta kepada musuh untuk membuka jalan haji dan menolak kejahatannya.[46] | Haji dan Umrah |
| 8 | Haramnya memberikan Zakat kepada Ibnu Sabil dalam Perjalanan Haram.[47] | Zakat |
| 9 | Haramnya membantu pembunuhan orang lain.[48] | Jinayat |
Catatan Kaki
- ↑ Fadhil Lankarani, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1416 H, hal. 450.
- ↑ A'rafi, Qawa'id-e Feqhi, 1393 HS, hal. 141.
- ↑ Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Penerbit Dar al-'Ilm, jld. 1, hal. 449-450.
- ↑ Fadhil Lankarani, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1416 H, hal. 450.
- ↑ Naraqi, Awa'id al-Ayyam, 1417 H, hal. 72; Bojnourdi, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1419 H, jld. 1, hal. 357; Syirazi, al-Feqh, Kitab al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1413 H, hal. 191 dan 225; Fadhil Lankarani, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1416 H, hal. 443; Thabathabai, al-Anwar al-Bahiyyah, 1423 H, hal. 12; Saifi Mazandarani, Mabani al-Feqh al-Fa'al, 1425 H, jld. 1, hal. 107.
- ↑ Allamah Hilli, Tabshirah, 1411 H, hal. 93; Syaikh Anshari, Makasib, 1415 H, jld. 1, hal. 129.
- ↑ Bahrani, Hada'iq, 1405 H, jld. 14, hal. 141.
- ↑ Fadhil Abi, Kasyaf al-Rumuz, 1417 H, jld. 1, hal. 438; Muhaqqiq Hilli, Syara'i' al-Islam, 1408 H, jld. 2, hal. 3-4.
- ↑ Syaikh Thusi, al-Mabsuth, 1387 H, jld. 1, hal. 251.
- ↑ Syaikh Thusi, al-Mabsuth, 1387 H, jld. 2, hal. 62.
- ↑ Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1388 H, hal. 429.
- ↑ Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 16, hal. 244.
- ↑ Syaikh Thusi, al-Khilaf, 1407 H, jld. 5, hal. 173.
- ↑ "Farq-e Mas'aleh-ye Ushuli ba Qa'ideh-ye Feqhi", Situs Madrasah Fikih Imam Muhammad Baqir as.
- ↑ A'rafi, Qawa'id-e Feqhi, 1393 HS, hal. 139.
- ↑ Syaikh Thusi, al-Mabsuth, 1378 H, jld. 1, hal. 251.
- ↑ Muhaqqiq Hilli, Syara'i' al-Islam, 1408 H, jld. 2, hal. 3-4.
- ↑ Allamah Hilli, al-Mukhtalaf, 1413 H, jld. 5, hal. 422.
- ↑ Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1388 H, hal. 300 dan 429.
- ↑ Syaikh Mufid, al-Muqni'ah, 1413 H, hal. 589; Syaikh Thusi, al-Nihayah, 1400 H, hal. 365.
- ↑ Ibnu Idris al-Hilli, al-Sarair, 1410 H, jld. 2, hal. 215.
- ↑ Syahid Awwal, al-Durus, 1417 H, jld. 3, hal. 163.
- ↑ Syahid Awwal, al-Durus, 1417 H, jld. 3, hal. 167.
- ↑ Qabuli Dirafshan, Barresi-ye Mawdhu'i wa Hukmi-ye I'aneh bar Haram dar Feqh-e Qarardadha, dalam abstrak, 1395 HS.
- ↑ Qabuli Dirafshan, Barresi-ye Mawdhu'i wa Hukmi-ye I'aneh bar Haram dar Feqh-e Qarardadha, dalam abstrak, 1395 HS.
- ↑ A'rafi, Qawa'id-e Feqhi, 1393 HS, hal. 148.
- ↑ Imam Khomeini, Makasib, 1415 H, jld. 1, hal. 197.
- ↑ A'rafi, Qawa'id-e Feqhi, 1393 HS, hal. 151.
- ↑ A'rafi, Qawa'id-e Feqhi, 1393 HS, hal. 151.
- ↑ Bojnourdi, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1419 H, jld. 1, hal. 362-364; Fadhil Lankarani, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1416 H, hal. 446-449.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hal. 333; jld. 5, hal. 107; jld. 8, hal. 16; Syaikh Thusi, Tahdzib, 1407 H, jld. 6, hal. 338; Syaikh Shaduq, Tsawab al-A'mal, 1406 H, hal. 260.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 6, hal. 398 dan 429; Syaikh Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 4, hal. 8.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hal. 368; Syaikh Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 4, hal. 94.
- ↑ Imam Khomeini, Makasib, 1415 H, jld. 1, hal. 194.
- ↑ Imam Khomeini, Makasib, 1415 H, jld. 1, hal. 194; Fadhil Lankarani, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1416 H, hal. 449; Saifi Mazandarani, Mabani al-Feqh al-Fa'al, 1425 H, jld. 1, hal. 127.
- ↑ Imam Khomeini, Makasib, 1415 H, jld. 1, hal. 195-196.
- ↑ Naraqi, Awa'id al-Ayyam, 1417 H, hal. 75.
- ↑ Bojnourdi, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1419 H, jld. 1, hal. 365; A'rafi, Qawa'id-e Feqhi, 1393 HS, hal. 244.
- ↑ A'rafi, Qawa'id-e Feqhi, 1393 HS, hal. 139.
- ↑ Allamah Hilli, Tabshirah, 1411 H, hal. 93; Syaikh Anshari, Makasib, 1415 H, jld. 1, hal. 129; Ibnu Fahad Hilli, al-Muhadzdzab al-Bari', 1407 H, jld. 2, hal. 349.
- ↑ Ibnu Fahad Hilli, al-Muhadzdzab al-Bari', 1407 H, jld. 2, hal. 349; Fadhil Abi, Kasyaf al-Rumuz, 1417 H, jld. 1, hal. 438; Muhaqqiq Hilli, Syara'i' al-Islam, 1408 H, jld. 2, hal. 3-4.
- ↑ Syaikh Thusi, al-Mabsuth, 1387 H, jld. 1, hal. 251.
- ↑ Syaikh Thusi, al-Mabsuth, 1387 H, jld. 2, hal. 62.
- ↑ Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1388 H, hal. 429.
- ↑ Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 16, hal. 244.
- ↑ Bahrani, Hada'iq, 1405 H, jld. 14, hal. 141.
- ↑ Thabathabai, Riyadh al-Masail, 1418 H, jld. 5, hal. 151.
- ↑ Syaikh Thusi, al-Khilaf, 1407 H, jld. 5, hal. 173.
Daftar Pustaka
A'rafi, Alireza. Qawa'id-e Feqhi (Kaidah-kaidah Fikih). Tahqiq: Ahmad Abidinzadeh dkk. Qom, Institusi Isyraq wa Irfan, Cetakan Pertama, 1393 HS. Allamah Hilli, Hasan. al-Mukhtalaf (Berbagai Perbedaan Syiah dalam Hukum Syariat). Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Kedua, 1413 H. Allamah Hilli, Hasan. Tabshirah al-Muta'allimin fi Ahkam al-Din. Tahqiq: Muhammad Hadi Yusufi Gharawi. Teheran, Lembaga Percetakan dan Penerbitan berafiliasi dengan Kementerian Kebudayaan dan Irsyad Islami, Cetakan Pertama, 1411 H. Allamah Hilli, Hasan. Tadzkirah al-Fuqaha. Qom, Muassasah Alu al-Bait as, Cetakan Pertama, 1388 H. Allamah Hilli, Hasan. Tadzkirah al-Fuqaha. Tahqiq: Tim Peneliti Muassasah Alu al-Bait as. Qom, Muassasah Alu al-Bait as, Cetakan Pertama, 1414 H. Bahrani, Yusuf. al-Hada'iq al-Nadhirah fi Ahkam al-'Itrah al-Thahirah. Tahqiq: Muhammad Taqi Irawani dan Sayid Abdurrazzaq Muqarrram. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Pertama, 1405 H. Bojnourdi, Sayid Hasan. al-Qawa'id al-Feqhiyyah. Qom, al-Hadi, Cetakan Pertama, 1419 H. Fadhil Abi, Hasan bin Abi Thalib. Kasyaf al-Rumuz fi Syarh al-Mukhtashar al-Nafi'. Tahqiq: Ali Panah Esytehardi dan Aqa Hossein Yazdi. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Ketiga, 1417 H. Fadhil Lankarani, Muhammad. al-Qawa'id al-Feqhiyyah. Qom, Percetakan Mehr, Cetakan Pertama, 1416 H. Ibnu Fahad Hilli, Ahmad bin Muhammad. al-Muhadzdzab al-Bari' fi Syarh al-Mukhtashar al-Nafi'. Tahqiq: Mujtaba Iraqi. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Pertama, 1407 H. Ibnu Idris al-Hilli, Muhammad. al-Sarair al-Hawi li Tahrir al-Fatawa. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Kedua, 1410 H. Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. al-Makasib al-Muharramah. Qom, Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini, Cetakan Pertama, 1415 H. Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Qom, Muassasah Mathbu'at Dar al-'Ilm, Cetakan Pertama, t.t. Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. al-Kafi. Tahqiq: Ali Akbar Ghaffari. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Keempat, 1407 H. Muhaqqiq Hilli, Jafar bin Hasan. Syara'i' al-Islam fi Masa'il al-Halal wa al-Haram. Tahqiq: Abdul Husain Muhammad Ali Baqqal. Qom, Muassasah Isma'iliyan, Cetakan Kedua, 1408 H. Naraqi, Ahmad. Awa'id al-Ayyam fi Bayan Qawa'id al-Ahkam wa Muhimmat Masa'il al-Halal wa al-Haram. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Pertama, 1417 H. Qabuli Dirafshan, Sayid Muhammad Hadi. Barresi-ye Mawdhu'i wa Hukmi-ye I'aneh bar Haram dar Feqh-e Qarardadha (Kajian Tematis dan Hukum Membantu Keharaman dalam Fikih Kontrak). Teheran, Nasyr-e Mizan, Cetakan Pertama, 1395 HS. Saifi Mazandarani, Ali Akbar. Mabani al-Feqh al-Fa'al fi al-Qawa'id al-Feqhiyyah al-Asasiyyah. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Pertama, 1425 H. Syahid Awwal, Muhammad. al-Durus al-Syari'iyyah fi Feqh al-Imamiyyah. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Kedua, 1417 H. Syaikh Anshari, Murtadha. Kitab al-Makasib al-Muharramah wa al-Bai' wa al-Khiyarat. Tahqiq: Tim Peneliti Kongres. Qom, Kongres Internasional Peringatan Syaikh Azham Anshari, Cetakan Pertama, 1415 H. Syaikh Mufid, Muhammad. al-Muqni'ah. Qom, Kongres Internasional Milenium Syaikh Mufid, Cetakan Pertama, 1413 H. Syaikh Shaduq, Muhammad. Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Kedua, 1413 H. Syaikh Shaduq, Muhammad. Tsawab al-A'mal wa 'Iqab al-A'mal. Qom, Dar al-Syarif al-Radhi lil-Nasyr, Cetakan Kedua, 1406 H. Syaikh Thusi, Muhammad. al-Khilaf. Tahqiq: Sayid Jawad Syahristani dkk. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Pertama, 1407 H. Syaikh Thusi, Muhammad. al-Mabsuth fi Feqh al-Imamiyyah. Teheran, al-Maktabah al-Murtadhawiyyah li Ihya al-Atsar al-Ja'fariyyah, Cetakan Ketiga, 1378 H. Syaikh Thusi, Muhammad. al-Nihayah fi Mujarrad al-Feqh wa al-Fatawa. Beirut, Dar al-Kutub al-Arabi, Cetakan Kedua, 1400 H. Syaikh Thusi, Muhammad. Tahdzib al-Ahkam. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Keempat, 1407 H. Syirazi, Sayid Muhammad. al-Feqh, Kitab al-Qawa'id al-Feqhiyyah. Beirut, Muassasah Imam Ridha as, Cetakan Pertama, 1413 H. Thabathabai, Sayid Ali. Riyadh al-Masail fi Tahqiq al-Ahkam bi al-Dalail. Qom, Muassasah Alu al-Bait as, Cetakan Pertama, 1418 H. Thabathabai, Sayid Taqi. al-Anwar al-Bahiyyah fi al-Qawa'id al-Feqhiyyah. Qom, Penerbit Mahallati, Cetakan Pertama, 1423 H.