Lompat ke isi

Konsep:Ilmu-ilmu Islam

Dari wikishia

Ilmu-ilmu Islam (bahasa Arab: العلوم الإسلامية) adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pengenalan ajaran-ajaran Islam, yang penciptaan atau pengembangannya terjadi di negeri-negeri Islam dan di tangan kaum Muslimin. Dalam makna yang lebih sempit, ilmu-ilmu Islam hanya mencakup disiplin ilmu yang bersumber dari teks utama agama Islam, yaitu Al-Qur'an dan hadis, atau ilmu-ilmu yang digunakan untuk mengenal ajaran Islam secara lebih baik dan mendalam.

Disiplin ilmu seperti Fikih, Kalam, kumpulan ilmu hadis, Tafsir, dan Ilmu Al-Qur'an merupakan cabang-cabang terpenting dari ilmu agama. Ilmu-ilmu Islam diklasifikasikan menjadi aqli (rasional) dan naqli (naratif), praktis dan teoretis, serta syariat dan non-syariat. Ilmu-ilmu seperti logika dan sastra Arab beserta cabang-cabangnya dianggap sebagai prasyarat bagi ilmu-ilmu Islam orisinal. Beberapa penulis tidak memasukkan filsafat dan irfan ke dalam kategori ilmu Islam orisinal karena sifatnya yang berasal dari luar atau karena metode khusus yang digunakan dalam ilmu-ilmu tersebut.

Istilah ilmu-ilmu Islam dianggap sebagai istilah konvensional yang dapat diterapkan pada berbagai disiplin ilmu tergantung pada perubahan kriteria dan standar "keagamaan" suatu ilmu. Beberapa kriteria memperluas cakupan ilmu-ilmu Islam hingga memasukkan ilmu-ilmu dasar dan empiris ke dalam rumpun ilmu agama, sementara kriteria lainnya membatasi cakupan ilmu-ilmu Islam hanya pada ilmu Islam orisinal. Dalam banyak teks ilmiah, dilakukan pembedaan antara ilmu Islam orisinal dan ilmu-ilmu lain yang dikembangkan dan diperluas oleh peradaban Islam, yang kemudian disebut sebagai "ilmu-ilmu umat Islam". Para peneliti telah menerbitkan banyak karya mengenai sejarah ilmu-ilmu Islam dan peran kaum Syiah dalam kemunculan serta pengembangan ilmu-ilmu tersebut.

Kedudukan dan Urgensi

Istilah ilmu-ilmu Islam merujuk pada pengetahuan yang secara tidak langsung berkaitan dengan pengenalan ajaran-ajaran Islam atau yang diciptakan atau dikembangkan oleh kaum Muslimin.[1]

Peradaban Islam dikenal melalui ilmu-ilmu Islam, dan ilmu-ilmu tersebut dianggap sebagai fondasi intelektual peradaban Islam.[2] Pada dasarnya, pengenalan ma'arif agama dicapai melalui pengetahuan yang disebut sebagai ilmu-ilmu Islam.[3] Sepanjang sejarah umat Islam, telah dibangun banyak pusat ilmiah untuk pengajaran ilmu-ilmu Islam, dan bahkan masjid-masjid senantiasa menjadi tempat pengajaran ilmu-ilmu tersebut.[4] Hauzah Ilmiah di seluruh dunia Islam didirikan untuk pengajaran, penelitian, pengembangan, dan dakwah ilmu-ilmu Islam.[5] Sebagian besar warisan tertulis kaum Muslimin didedikasikan untuk ilmu-ilmu agama,[6] sebagaimana para ilmuwan ilmu Islam termasuk di antara tokoh-tokoh ilmiah paling masyhur di dunia Islam.[7]

Pengenalan Ilmu-ilmu Islam Orisinal

Buku Sayid Hasan Shadr yang berjudul Ta'sis al-Syiah li 'Ulum al-Islam yang membahas tentang sejarah ilmu-ilmu Islam dan peran kaum Syiah dalam pembentukan ilmu-ilmu tersebut.

Sayid Hasan Shadr dalam bukunya Ta'sis al-Syiah li 'Ulum al-Islam yang membahas peran Syiah dalam peletakan dasar ilmu-ilmu Islam, menyebutkan dan memperkenalkan 14 cabang ilmu sebagai ilmu Islam.[8] Pada bagian pertama buku tersebut, ia menempatkan enam ilmu di bawah kategori ilmu sastra Islam yang mencakup nahwu, sharaf, lughah (bahasa), dan lainnya. Ia memperkenalkan tiga disiplin yaitu sejarah dan Sira, Maghazi al-Nabi, Ilmu Rijal, dan heresiografi (studi sekte) sebagai ilmu-ilmu sejarah, kemudian melaporkan ilmu Dirayah, Fikih, dan Ushul Fiqh. Ia juga menganggap ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur'an mencakup Ilmu Qira'at, Ma'ani al-Qur'an, Gharib al-Qur'an, Majaz al-Qur'an, Ahkam al-Qur'an, dan Tafsir al-Qur'an. Pada dua bab terakhir, ia memperkenalkan dua ilmu yaitu Ilmu Kalam dan Akhlak sebagai ilmu-ilmu Islam.[9] Gholamhasan Moharrami, penulis buku Emaman-e Syiah va Olum-e Islami, menambahkan dua ilmu yaitu Filsafat dan Irfan Teoretis ke dalam daftar ilmu di atas.[10] Sebagaimana Ali Akbar Velayati dalam buku Farhang va Tamaddon-e Islam, mengklasifikasikan tujuh ilmu ke dalam ilmu Islam dan juga menyebutkan ilmu tasawuf, irfan, dan futuwwah sebagai bagian dari ilmu-ilmu Islam.[11]

Fathollahi dalam buku Metodologi Olum-e Qur'ani membagi studi agama menjadi dua bagian utama: studi umum (penelitian agama secara umum) dan Islamologi. Disiplin ilmu filsafat agama, sosiologi agama, psikologi agama, linguistik agama, dan sejarah agama termasuk dalam studi umum. Ia kemudian membagi Islamologi menjadi tiga cabang: ilmu Islam orisinal, ilmu alat (instrumental), dan ilmu dakhilah (ilmu yang masuk dari luar). Menurutnya, tafsir Al-Qur'an, ilmu fikih, Kalam Islam, akhlak Islam, ilmu-ilmu hadis, dan irfan Islam adalah ilmu Islam orisinal, sedangkan Ilmu Al-Qur'an, Ushul Fiqh, ilmu dirayah, dan Ilmu Rijal ditempatkan sebagai ilmu alat. Adapun Filsafat Islam adalah ilmu dakhilah yang masuk ke dunia Islam dari budaya lain.[12]

Templat:درختواره علوم اسلامی

Kriteria dan Tolak Ukur Keislaman Ilmu

Pembedaan antara ilmu agama dan non-agama dianggap sebagai hal yang bersifat konvensional[13] dan istilah belaka[14] yang dapat dilakukan berdasarkan berbagai kriteria: penggunaan sumber-sumber agama, penerapan fondasi agama, keselarasan dengan tujuan Islam, atau mengikuti metode-metode rasional dan intuitif Islam.[15]

Ahmad Husain Syarifi, seorang peneliti filsafat Islam, dalam buku Mabani-ye Olum-e Ensani-ye Islami, mengumpulkan sebelas teori dalam bidang ini. Teori-teori tersebut mencakup ilmu-ilmu yang ditekankan oleh Islam, ilmu-ilmu yang mensyarah Al-Kitab dan Sunah, ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat Islam, ilmu-ilmu milik para ilmuwan Muslim, ilmu-ilmu yang mengkaji subjek dan masalah Islam, ilmu-ilmu yang bersandar pada teks-teks Islam, ilmu-ilmu yang bersandar pada sumber-sumber Islam, ilmu-ilmu yang mengkaji interpretasi kehendak Ilahi, ilmu-ilmu yang bersandar pada fondasi Islam, ilmu-ilmu yang dihasilkan dari teks-teks agama melalui metode ijtihad, dan ilmu-ilmu yang didasarkan pada metode penelitian Islam.[16]

Kriteria Universal

Di antara kriteria yang diajukan untuk keislaman sebuah ilmu, terdapat beberapa kriteria universal yang memasukkan semua atau sebagian besar ilmu manusia ke dalam ranah ilmu-ilmu Islam; ilmu-ilmu yang ditekankan Islam, ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat Islam, ilmu para ilmuwan Muslim, ilmu yang bersandar pada sumber Islam, ilmu yang mengkaji interpretasi kehendak Ilahi, ilmu yang bersandar pada fondasi Islam, dan ilmu yang didasarkan pada metode penelitian Islam termasuk dalam kelompok kriteria ini. Pandangan-pandangan ini juga mencakup ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu dasar.[17] Dapat dikatakan bahwa dari sisi ini, tidak ada perbedaan antara agama Islam, Kristen, Yahudi, atau sekular dan materialis.[18] Bahkan dapat dikatakan bahwa semua ilmu yang benar adalah bersifat religius (agama), dan pada dasarnya frasa "ilmu agama" akan menjadi frasa penjelas.[19] Penulis buku Metodologi, menggunakan ungkapan "Keislaman dari Luar" untuk kriteria ini, karena dalam kriteria ini konten ilmu seperti subjek, masalah, dan dalil-dalil tidak diperhatikan, dan segala bentuk korelasi positif dengan Islam sudah cukup untuk menyematkan sifat "Islam" pada ilmu tersebut.[20]

Kriteria Pembatas

Beberapa tolak ukur keislaman ilmu bersumber dari konten internal ilmu tersebut, dan ilmu-ilmu yang komponen-komponennya terpengaruh oleh Islam dan ma'arif Islam dalam beberapa hal dapat disebut sebagai ilmu Islam.[21] Kriteria ini memperkecil ruang lingkup ilmu-ilmu Islam:

  • Ilmu-ilmu yang mensyarah Al-Kitab dan Sunah.[22] Berdasarkan hal ini, hanya disiplin Tafsir Al-Qur'an, syarah hadis, Sira Nabi saw, Kalam Islam, Akhlak Islam, Fikih, dan sebagian dari Ushul Fiqh yang dianggap sebagai ilmu Islam. Mostafa Malekian memiliki pandangan seperti ini.[23]
  • Ilmu-ilmu yang mengkaji subjek dan masalah Islam.[24] Maka, jika ekonomi membahas masalah seperti Khums dan Zakat, dan psikologi mengkaji topik seperti hawa nafsu, Ikhlas, dan Takwa, maka itu adalah ilmu Islam.[25]
  • Ilmu yang bersandar pada teks-teks Islam.[26] Berdasarkan teori ini, kedokteran dan ilmu alam pun jika menggunakan teks agama akan termasuk dalam ilmu Islam; sebagaimana Abdullah Jawadi Amuli dalam buku Syariat dar Ayineh-ye Ma'refat menegaskan poin ini.[27]
  • Ilmu yang dihasilkan dari teks-teks agama melalui metode ijtihad.[28] Berdasarkan analisis yang diberikan oleh Ali Abedi Syahroudi, ilmu agama adalah pengetahuan yang ditemukan dari teks-teks agama melalui mekanisme ijtihad.[29] Berdasarkan pandangannya, ilmu non-agama hanya mencari solusi masalah dan pencapaian tujuannya sendiri. Namun ilmu agama selain itu, membantu memperbaiki kedudukan manusia di alam semesta dan membimbingnya ke arah tingkatan pertumbuhan yang lebih tinggi.[30]

Pembagian Berdasarkan Cakupan Agama

Soleiman Khakban dalam artikelnya meyakini bahwa penentuan cakupan ilmu-ilmu Islam bergantung pada penentuan luas dan cakupan agama. Mereka yang menganggap cakupan agama bersifat minimalis dan hanya mengamati urusan spiritual serta akhirat, mendefinisikan ilmu-ilmu Islam jauh lebih terbatas daripada mereka yang memiliki teori moderat atau maksimalis tentang cakupan agama dan menganggap agama juga mengamati urusan duniawi.[31] Menurutnya, dengan pandangan minimalis, disiplin ilmu seperti Kedokteran Islam, Ekonomi Islam, sosiologi Islam, dan bahkan bagian dari fikih serta hukum Islam akan berada di luar lingkaran ilmu-ilmu Islam.[32]

Klasifikasi Ilmu-ilmu Islam

Ilmu-ilmu Islam atau ilmu syariat telah diklasifikasikan dengan berbagai kriteria.

Ilmu Utama dan Prasyarat

Berdasarkan dua definisi yang diberikan oleh Murtadha Muthahhari, seorang pakar Islam Syiah, sejumlah ilmu Islam membahas tentang prinsip (ushul) atau cabang (furu') Islam, atau prinsip dan cabang Islam dibuktikan dengan bersandar kepadanya, seperti ilmu qira'at, tafsir, ilmu hadis, kalam naqli, fikih, dan akhlak naqli.[33] Adapun kelompok ilmu lainnya adalah pendahuluan dan prasyarat bagi kedua kelompok pertama tersebut. Seperti sastra Arab, kalam aqli, akhlak aqli, hikmah Ilahi, logika, ushul fikih, rijal, dan dirayah.[34]

Soleiman Khakban, seorang peneliti filsafat, juga membagi sebagian ilmu yang berkaitan dengan agama sedemikian rupa bahwa beberapa di antaranya adalah ilmu luar-agama (ekstrinsik) apriori dan mengamati prasyarat keyakinan beragama seperti filsafat dan bahasa,[35] sementara yang lainnya adalah ilmu yang didasarkan pada Al-Kitab dan Sunah secara murni dan jernih, serta terbentuk dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jawaban dan dalilnya sepenuhnya ada dalam teks ajaran wahyu; seperti eskatologi (studi kiamat), studi asal-muasal (mabda'-syinasi), dan studi jiwa (ruh-syinasi).[36]

Ilmu Teoretis dan Praktis

Dalam sebuah klasifikasi, ilmu dibagi menjadi ilmu teoretis dan praktis; ilmu atau hikmah teoretis mencakup ilmu Ilahi atau filsafat, ilmu hitung (aritmetika), dan ilmu alam. Adapun hikmah praktis dibagi menjadi ilmu akhlak, ilmu pengaturan rumah tangga (ekonomi rumah tangga), dan ilmu politik.[37]

Ilmu Syariat dan Non-Syariat

Ilmu kaum Muslimin juga dibagi menjadi syariat dan non-syariat, di mana ilmu syariat adalah ilmu-ilmu yang berasal dari Nabi Muhammad saw dan para Imam.[38] Mieli, seorang peneliti sejarah sains, menganggap ilmu-ilmu Islam khusus hanya ilmu yang muncul dari Al-Qur'an dan hadis serta mengamati hukum dan hikmah Ilahi Islam dan sejenisnya.[39]

Ilmu Aqli dan Ilmu Naqli

Pembagian menjadi ilmu aqli dan naqli juga merupakan salah satu metode klasifikasi ilmu; ilmu aqli mencakup disiplin ilmu seperti hikmah, kalam, dan filsafat,[40] sedangkan ilmu naqli mencakup ilmu-ilmu syariat[41] dan beberapa disiplin ilmu lainnya seperti sastra dan sejarah.[42] Ilmu naqli kaum Muslimin yang paling masyhur terdiri dari sastra Arab dan cabang-cabangnya seperti ilmu nahwu, sharaf, ma'ani, bayan, badi', dan lughah, ilmu qira'at, tafsir, hadis, rijal, dirayah, ushul fikih, fikih, sejarah, nasab, dan arudh. Menurut Allamah Thabathaba'i, seorang mufasir dan filsuf Syiah, selain tiga ilmu yaitu sejarah, nasab, dan arudh, faktor utama kemunculan ilmu naqli lainnya adalah Al-Qur'an.[43]

Perbedaan antara Ilmu-ilmu Islam dan Ilmu-ilmu Umat Islam

Murtadha Muthahhari dalam salah satu dari empat definisinya mengenai ilmu-ilmu Islam, merujuk pada pengetahuan yang tumbuh dalam budaya dan masyarakat Islam, meskipun mungkin secara syariat tidak bersifat wajib atau bahkan haram. Muthahhari memberikan contoh untuk jenis ilmu ini seperti astronomi astrologi (nujum ahkami) dan astronomi matematika.[44] Ia juga menempatkan disiplin ilmu seperti kedokteran, politik, berbagai ilmu dan teknik, serta banyak ilmu alam dan matematika ke dalam kategori ilmu Islam, dan menjelaskan bahwa karena mengetahui hal-hal tersebut wajib untuk menjaga dan memajukan masyarakat Islam, maka mereka dapat dianggap sebagai bagian dari ilmu-ilmu Islam.[45] Aldo Mieli, peneliti sejarah sains, menyebut bagian ilmu ini sebagai ilmu-ilmu Arab.[46]

Osman Bakar, peneliti sejarah sains, dalam buku Sejarah dan Filsafat Sains Islam, menganggap ilmu-ilmu Islam sebagai pengetahuan yang mengalami kejayaan setelah abad ketiga Hijriah (abad kesembilan Masehi) dalam budaya dan peradaban Islam: seperti ilmu matematika, alam, dan ilmu al-nafs (psikologi).[47] Menurut pandangannya, penyebutan ilmu-ilmu ini sebagai ilmu Islam adalah karena mereka semua terhubung dengan ajaran-ajaran dasar Islam seperti tauhid.[48]

Ali Ashghar Haqdar, penulis artikel filsafat ilmu-ilmu Islam, meyakini bahwa ilmu-ilmu aqli seperti filsafat, logika, dan akhlak aqli, serta ilmu naqli seperti sastra Arab tidak dapat dianggap sebagai ilmu Islam, melainkan ilmu-ilmu tersebut berada dalam ranah budaya Islam.[49] Menurutnya, ilmu-ilmu baru seperti sosiologi dan psikologi yang digunakan oleh kaum Muslimin sesuai dengan kebutuhan masyarakat, harus dianggap sebagai bagian dari kewajiban Islam. Meskipun dari sisi bahwa ilmu-ilmu ini di tengah kaum Muslimin telah diberi corak keagamaan, dinyatakan dengan istilah-istilah agama, dan melayani kaum Muslimin, maka dengan toleransi dapat disebut sebagai ilmu-ilmu Islam.[50]

Keislaman Filsafat dan Irfan

Beberapa penulis tidak menganggap disiplin filsafat Islam sebagai bagian dari ilmu Islam karena ia masuk ke dunia Islam dari Yunani dan kaum Muslimin berfilsafat pada topik yang sama[51] tanpa memiliki inovasi khusus,[52] serta karena metodenya murni rasional dan tidak menggunakan sumber agama seperti Al-Qur'an dan hadis.[53] Ja'far Syeydan, salah seorang teolog pengikut Maktab Tafkik, mengatakan bahwa filsafat dan irfan terkadang sampai pada kesimpulan yang bertentangan dengan ajaran Islam, oleh karena itu tidak dapat menggunakan istilah filsafat dan irfan Islam;[54] sebagaimana Mostafa Malekian meyakini bahwa filsafat pada dasarnya tidak bisa bersifat religius.[55]

Muhammad Taqi Misbah Yazdi (wafat 1399 HS), dalam menjawab keberatan ini menyatakan bahwa adanya hubungan sekecil apa pun antara filsafat dan Islam sudah cukup untuk kebenaran judul filsafat Islam; sebagaimana beberapa masalah filsafat Islam bersumber dari ajaran Islam dan beberapa di antaranya melayani pembuktian ajaran Islam.[56] Beberapa orang juga untuk menghilangkan ketidaksinkronan gabungan filsafat Islam menyatakan bahwa Islam telah berpengaruh dalam filsafat Islam dalam bidang-bidang seperti mengarahkan masalah, mengajukan masalah, menciptakan argumen, dan memperbaiki kesalahan, tanpa merusak sifat rasional filsafat.[57]

Penelitian dan Para Peneliti Sejarah Ilmu-ilmu Islam

Logo Kongres Internasional Peran Syiah dalam Kemunculan dan Perkembangan Ilmu-ilmu Islam, 1397 HS.

Telah dilakukan banyak penelitian mengenai ilmu-ilmu Islam, klasifikasi, dan sejarahnya.[58] Salah satu studi tertua mengenai klasifikasi ilmu Islam dilaporkan dalam kitab Ihsha' al-'Ulum karya Abu Nashr al-Farabi, filsuf Syiah.[59] Sayid Hasan Shadr (wafat 1354 H), dengan menulis buku Ta'sis al-Syiah li 'Ulum al-Islam dianggap sebagai salah satu peneliti terpenting sejarah ilmu Islam.[60] Gholamhasan Moharrami, peneliti sejarah Syiah, juga membahas topik ilmu Islam dan sejarahnya dalam buku Emaman-e Syiah va Olum-e Islami.[61] Kongres Internasional Peran Syiah dalam Kemunculan dan Perkembangan Ilmu-ilmu Islam diadakan pada bulan Mei 1397 HS di bawah pengawasan Nashir Makarim Syirazi, marja taklid Syiah. Kongres ini menerbitkan kumpulan artikelnya dalam bentuk 17 jilid buku dan sebuah cakram padat.[62]

Ali Akbar Velayati, peneliti sejarah dan peradaban Islam, dalam buku dua jilid Naqsy-e Syiah dar Farhang va Tamaddon-e Islam va Iran (Peran Syiah dalam Kebudayaan dan Peradaban Islam dan Iran), berupaya mengumpulkan sejarah ilmu-ilmu Islam dan peran Syiah dalam kemunculan serta perkembangannya.[63] Subjek buku Sains dan Peradaban di dalam Islam karya Sayid Hossein Nasr, filsuf Syiah Iran, juga merupakan ilmu-ilmu kaum Muslimin yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh Ahmad Aram.[64] Zainul Abidin Qorbani juga membahas topik ilmu Islam dalam buku Tarikh-e Farhang va Tamaddon-e Islami (Sejarah Kebudayaan dan Peradaban Islam).[65]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Allamah Thabathaba'i, Syiah dar Islam (Syiah dalam Islam), 1378 HS, hlm. 98.
  2. Mehdi-nezhad, "Jaygah va Naqsye Hauzah-ye Ilmiyeh dar Tamaddon-sazi-ye Islami dar Doureh-ye Mo'asir", hlm. 31.
  3. Haqdar, "Falsafeh-ye Olum-e Islami", hlm. 101.
  4. Velayati, Farhang va Tamaddon-e Islami (Kebudayaan dan Peradaban Islam), 1386 HS, hlm. 33.
  5. Mehdi-nezhad, "Jaygah va Naqsye Hauzah-ye Ilmiyeh dar Tamaddon-sazi-ye Islami dar Doureh-ye Mo'asir", hlm. 32.
  6. Nilsaz, "Muqaddimeh-ye Dr. Nosrat Nilsaz", hlm. 14-15.
  7. Rujuk: Qummi, Masyahir-e Danesymandan-e Islam (Ilmuwan-ilmuwan Masyhur Islam), 1350 HS, keseluruhan buku.
  8. Moharrami, Emaman-e Syiah va Olum-e Islami (Para Imam Syiah dan Ilmu-ilmu Islam), 1397 HS, hlm. 49.
  9. Al-Shadr, Ta'sis al-Syiah li 'Ulum al-Islam, 1375 HS, hlm. 421-424.
  10. Moharrami, Emaman-e Syiah va Olum-e Islami, 1397 HS, hlm. 8-9.
  11. Velayati, Farhang va Tamaddon-e Islami, 1386 HS, hlm. 89.
  12. Fathollahi, Metodology-ye Olum-e Islami (Metodologi Ilmu-ilmu Islam), 1388 HS, hlm. 156.
  13. Syarifi, Mabani-ye Olum-e Ensani-ye Islami (Dasar-dasar Ilmu Humaniora Islam), 1394 HS, hlm. 213.
  14. Muthahhari, Dah Goftar (Sepuluh Kuliah), 1380 HS, hlm. 171.
  15. Syarifi, Mabani-ye Olum-e Ensani-ye Islami, 1394 HS, hlm. 179.
  16. Syarifi, Mabani-ye Olum-e Ensani-ye Islami, 1394 HS, hlm. 8.
  17. Syarifi, Mabani-ye Olum-e Ensani-ye Islami, 1394 HS, hlm. 218.
  18. Syarifi, Mabani-ye Olum-e Ensani-ye Islami, 1394 HS, hlm. 218.
  19. Jawadi Amuli, Manzelat-e Aql dar Hendeseh-ye Ma'refat-e Dini (Kedudukan Akal dalam Geometri Pengetahuan Agama), 1398 HS, hlm. 140-144; Syarifi, Mabani-ye Olum-e Ensani-ye Islami, 1394 HS, hlm. 176, 183, 188, 197, 205, 212.
  20. Fathollahi, Metodology-ye Olum-e Qur'ani, 1388 HS, hlm. 114.
  21. Fathollahi, Metodology-ye Olum-e Qur'ani, 1388 HS, hlm. 115.
  22. Syarifi, Mabani-ye Olum-e Ensani-ye Islami, 1394 HS, hlm. 178.
  23. Malekian, Rahi be Rahayi (Jalan Menuju Pembebasan), 1381 HS, hlm. 58.
  24. Syarifi, Mabani-ye Olum-e Ensani-ye Islami, 1394 HS, hlm. 189.
  25. Syarifi, Mabani-ye Olum-e Ensani-ye Islami, 1394 HS, hlm. 189.
  26. Syarifi, Mabani-ye Olum-e Ensani-ye Islami, 1394 HS, hlm. 190.
  27. Jawadi Amuli, Syariat dar Ayineh-ye Ma'refat (Syariat dalam Cermin Pengetahuan), 1372 HS, hlm. 79-82.
  28. Syarifi, Mabani-ye Olum-e Ensani-ye Islami, 1394 HS, hlm. 209.
  29. Abedi Syahroudi, Sanjesy va Oktesyaf (Pengukuran dan Penemuan), 1394 HS, hlm. 333.
  30. Abedi Syahroudi, Sanjesy va Oktesyaf, 1394 HS, hlm. 333-334; Khosropanah, Dar Jostejoy-e Olum-e Ensani-ye Islami (Mencari Ilmu Humaniora Islam), 1393 HS, jil. 1, hlm. 261.
  31. Khakban, "Daramadi bar Chisti, Cherayi va Chegounegi-ye Towse'eh-ye Olum-e Islami", hlm. 17-18.
  32. Khakban, "Daramadi bar Chisti, Cherayi va Chegounegi-ye Towse'eh-ye Olum-e Islami", hlm. 18.
  33. Muthahhari, Kolliyat-e Olum-e Islami (Garis Besar Ilmu-ilmu Islam), 1402 HS, jil. 1, hlm. 13.
  34. Muthahhari, Kolliyat-e Olum-e Islami, 1402 HS, jil. 1, hlm. 14.
  35. Khakban, "Daramadi bar Chisti, Cherayi va Chegounegi-ye Towse'eh-ye Olum-e Islami", hlm. 20-21.
  36. Khakban, "Daramadi bar Chisti, Cherayi va Chegounegi-ye Towse'eh-ye Olum-e Islami", hlm. 21.
  37. Velayati, Farhang va Tamaddon-e Islami, 1386 HS, hlm. 37.
  38. Velayati, Farhang va Tamaddon-e Islami, 1386 HS, hlm. 38.
  39. Mieli, Olum-e Islami va Naqsye An dar Tahavvol-e Elmi-ye Jahan (Ilmu-ilmu Islam dan Perannya dalam Transformasi Ilmiah Dunia), 1371 HS, hlm. 171.
  40. Velayati, Farhang va Tamaddon-e Islami, 1386 HS, hlm. 38.
  41. Velayati, Farhang va Tamaddon-e Islami, 1386 HS, hlm. 38.
  42. Khosropanah, Ravesy-syinasi-ye Olum-e Ejtema'i (Metodologi Ilmu Sosial), 1394 HS, hlm. 44.
  43. Allamah Thabathaba'i, Syiah dar Islam, 1378 HS, hlm. 98.
  44. Muthahhari, Kolliyat-e Olum-e Islami, 1402 HS, jil. 1, hlm. 16.
  45. Muthahhari, Kolliyat-e Olum-e Islami, 1402 HS, jil. 1, hlm. 16.
  46. Mieli, Olum-e Islami va Naqsye An dar Tahavvol-e Elmi-ye Jahan, 1371 HS, hlm. 169.
  47. Bakar, Sejarah dan Filsafat Sains Islam, 1387 HS, hlm. 9.
  48. Bakar, Sejarah dan Filsafat Sains Islam, 1387 HS, hlm. 9.
  49. Haqdar, "Falsafeh-ye Olum-e Islami", hlm. 111-112.
  50. Haqdar, "Falsafeh-ye Olum-e Islami", hlm. 111-112.
  51. Malekian, "Falsafeh-ye Islami: Hasti va Chisti", hlm. 137-138.
  52. Aburayyan, "Chon va Charah-haye Falsafeh-ye Islami", hlm. 191.
  53. Ubudiyyat, "Aya Falsafeh-ye Islami Darim?", 1382 HS, hlm. 30-31.
  54. Syeydan, "Falsafeh-ye Islami: Hasti va Chisti", hlm. 35.
  55. Malekian, "Falsafeh-ye Islami: Hasti va Chisti", hlm. 118.
  56. Misbah Yazdi, "Falsafeh-ye Islami; Mizgerd-e Falsafeh-syinasi 3", 1383 HS, hlm. 13.
  57. Ubudiyyat, "Aya Falsafeh-ye Islami Darim?", 1382 HS, hlm. 32-33.
  58. Bakar, Tabaqeh-bandi-ye Olum-e Islami (Klasifikasi Ilmu-ilmu Islam), 1381 HS, hlm. 15.
  59. Nasr, Sains dan Peradaban di dalam Islam, 1350 HS, hlm. 46.
  60. Moharrami, Emaman-e Syiah va Olum-e Islami, 1397 HS, hlm. 49.
  61. Emaman-e Syiah va Olum-e Islami, Situs Khaneh Ketab Iran.
  62. Pengenalan koleksi 17 jilid Peran Syiah dalam Perkembangan Ilmu-ilmu Islam.
  63. Naqsy-e Syiah dar Farhang va Tamaddon-e Islam va Iran, Situs Khaneh Ketab Iran.
  64. Sains dan Peradaban di dalam Islam, Situs Khaneh Ketab Iran.
  65. Tarikh-e Farhang va Tamaddon-e Islami, Situs Khaneh Ketab Iran.

Daftar Pustaka

  • Abedi Syahroudi, Ali. Sanjesy va Oktesyaf (Pengukuran dan Penemuan). Tehran: Lembaga Penelitian Hikmah dan Filsafat Iran, 1394 HS.
  • Aburayyan, Muhammad Ali. "Chon va Charah-haye Falsafeh-ye Islami" (Bagaimana dan Mengapa Filsafat Islam). Jurnal Naqd va Nazar, Nomor 41-42, Musim Semi dan Panas 1385 HS.
  • Bagheri, Khosrow. "Hoviyyat-e Elm-e Dini" (Identitas Ilmu Agama). Jurnal Hauzah va Danesy-gah, Nomor 3, Musim Panas 1374 HS.
  • Bakar, Osman. Sejarah dan Filsafat Sains Islam. Terjemahan: Muhammad Reza Misbahi. Masyhad: Yayasan Penelitian Islam, 1387 HS.
  • Bakar, Osman. Tabaqeh-bandi-ye Olum-e Islami az Nazar-e Hokamay-e Mosalman (Klasifikasi Ilmu-ilmu Islam Menurut Para Bijak Muslim). Terjemahan: Jawad Qasimi. Masyhad: Yayasan Penelitian Islam, 1381 HS.
  • Haqdar, Ali Ashghar. "Falsafeh-ye Olum-e Islami" (Filsafat Ilmu-ilmu Islam). Majalah Keyhan-e Andisyeh, Nomor 55, Agustus dan September 1373 HS.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Manzelat-e Aql dar Hendeseh-ye Ma'refat-e Dini (Kedudukan Akal dalam Geometri Pengetahuan Agama). Qom: Isra, 1398 HS.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Syariat dar Ayineh-ye Ma'refat (Syariat dalam Cermin Pengetahuan). Tehran: Pusat Penerbitan Budaya Raja, 1372 HS.
  • Khakban, Soleiman. "Daramadi bar Chisti, Cherayi va Chegounegi-ye Towse'eh-ye Olum-e Islami". Jurnal Pazuhesy va Hauzah, Nomor 38, Musim Gugur dan Dingin 1396 HS.
  • Khosropanah, Abdul Husain. Dar Jostejoy-e Olum-e Ensani-ye Islami (Mencari Ilmu Humaniora Islam). Qom: Kantor Penerbitan Ma'arif, 1393 HS.
  • Khosropanah, Abdul Husain. Ravesy-syinasi-ye Olum-e Ejtema'i (Metodologi Ilmu Sosial). Tehran: Lembaga Penelitian Hikmah dan Filsafat Iran, 1394 HS.
  • Malekian, Mostafa. "Falsafeh-ye Islami: Hasti va Chisti". Jurnal Naqd va Nazar, Nomor 41-42, Musim Semi dan Panas 1385 HS.
  • Malekian, Mostafa. Rahi be Rahayi (Jalan Menuju Pembebasan). Tehran: Negah-e Mo'asir, 1381 HS.
  • Mehdi-nezhad, Sayid Reza. "Jaygah va Naqsye Hauzah-ye Ilmiyeh dar Tamaddon-sazi-ye Islami dar Doureh-ye Mo'asir". Jurnal Pazuhesy-nameh Olum-e Ensani-ye Islami, Nomor 17, Musim Semi dan Panas 1401 HS.
  • Mieli, Aldo. Olum-e Islami va Naqsye An dar Tahavvol-e Elmi-ye Jahan (Ilmu-ilmu Islam dan Perannya dalam Transformasi Ilmiah Dunia). Terjemahan: Muhammad Reza Syuja-nouri dan Asadullah Alawi. Masyhad: Yayasan Penelitian Islam, 1371 HS.
  • Misbah Yazdi, Muhammad Taqi. Rabeteh-ye Elm va Din (Hubungan Ilmu dan Agama). Qom: Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, 1392 HS.
  • Misbah Yazdi, Muhammad Taqi dkk. "Falsafeh-ye Islami; Mizgerd-e Falsafeh-syinasi 3". Ma'rifat-e Falsafi, No. 3, 1383 HS.
  • Moharrami, Gholamhasan. Emaman-e Syiah va Olum-e Islami (Para Imam Syiah dan Ilmu-ilmu Islam). Tehran: Lembaga Penelitian Budaya dan Pemikiran Islam, 1397 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Dah Goftar (Sepuluh Kuliah). Tehran: Sadra, 1380 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Kolliyat-e Olum-e Islami (Garis Besar Ilmu-ilmu Islam), Jilid 1, (Logika, Filsafat). Tehran: Sadra, 1402 HS.
  • Nasr, Sayid Hossein. Sains dan Peradaban di dalam Islam. Terjemahan: Ahmad Aram. Tehran: Penerbit Andisyeh, 1350 HS.
  • Nilsaz, Nosrat. "Muqaddimeh-ye Dr. Nosrat Nilsaz". Dalam Mirats-e Maktub-e Syiah dar Panj Qarn-e Nokhost, karya Abolfazl Rajai-fard. Tehran: Negah-e Mo'asir, 1399 HS.
  • Qummi, Abbas. Masyahir-e Danesymandan-e Islam (Ilmuwan-ilmuwan Masyhur Islam). Terjemahan: Muhammad Jawad Najafi dari kitab al-Kuna wa al-Alqab. Tehran: Toko Buku Islamiyah, 1350 HS.
  • Shadr, Sayid Hasan. Ta'sis al-Syiah li 'Ulum al-Islam. Tanpa Kota: A'lami, 1375 HS.
  • Syarifi, Ahmad Husain. Mabani-ye Olum-e Ensani-ye Islami (Dasar-dasar Ilmu Humaniora Islam). Tehran: Aftab-e Towse'eh, 1393 HS.
  • Syeydan, Sayid Ja'far. "Falsafeh-ye Islami: Hasti va Chisti". Jurnal Naqd va Nazar, Nomor 41-42, Musim Semi dan Panas 1385 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Syiah dar Islam (Syiah dalam Islam). Qom: Kantor Penerbitan Islam, 1378 HS.
  • Velayati, Ali Akbar. Farhang va Tamaddon-e Islami (Kebudayaan dan Peradaban Islam). Tehran: Penerbit Ma'arif, 1386 HS.