Konsep:Ghibah yang diperbolehkan
Ghibah yang diperbolehkan atau Pengecualian Ghibah dianggap berlaku dalam kasus-kasus yang bertujuan menjaga kemaslahatan yang lebih penting,[1] seperti mencegah kerugian, menjaga hak, atau membela diri sendiri atau orang lain.[2] Menurut para fakih dan ulama akhlak, dalam kondisi ini Ghibah tidak hanya tidak haram, tetapi menjadi boleh atau bahkan Wajib.[3]
Para fakih dan ulama akhlak menganggap kebolehan ghibah dalam dua hal:[4]
1- Dalam kasus-kasus di mana ada kemaslahatan yang lebih penting, yang contohnya beragam:
- Jika seseorang dizalimi, ia boleh menceritakan kezaliman yang menimpanya.[5]
- Sebagian ulama dan fakih, ketika membahas tentang pengharaman ghibah, mengangkat kritik terhadap perawi hadits sebagai salah satu pengecualian ghibah.[6]
- Menurut para fakih, boleh menyebutkan ahli bid'ah dalam agama atau mereka yang mendistorsi agama dan memiliki dampak kerusakan, namun hanya sebatas itu saja. Jika seseorang tidak mengikuti mereka atau karya-karyanya tidak berpotensi merusak, lebih baik tidak menyebutkan aib apa pun darinya.[7]
- Jika terjadi kejahatan dan akan diproses di hadapan hakim, boleh menyampaikannya di hadapan mereka dalam bentuk kesaksian, bahkan jika orang yang bersalah tidak ada di sana.[8]
- Jika dua orang menyaksikan dosa seseorang dan salah satunya menyampaikannya saat ketidakhadiran orang yang bersalah, tidak masalah dan diperbolehkan.[9]
- Bermusyawarah dalam transaksi atau pernikahan.[10]
- Di mana pun pengungkapan aib yang tersembunyi memiliki kemaslahatan yang lebih besar.[11]
- Membimbing dan menasihati orang mukmin dalam menghadapi orang fasik.[12]
- Menyampaikan aib yang nyata tanpa niat menghina, dengan syarat orang tersebut tidak tersinggung.[13]
- Ghibah terhadap orang kafir dan penentang Syiah Dua Belas Imam.[14]
2- Orang yang terang-terangan berbuat fasik (Mutajahir bi al-Fisq): Seseorang yang secara terang-terangan melakukan dosa dan tidak peduli orang lain mengetahui perbuatannya, ghibah tentang dosanya itu diperbolehkan.[15] Sebagian orang tidak menganggap hal ini sebagai ghibah karena orang tersebut tidak merasa sedih dengan penyebutan dosanya.[16] Juga jika seseorang menyebutkan kefasikan orang lain untuk bercanda atau hiburan, penyebutannya dalam syair atau ucapan diperbolehkan.[17] Alasan pengecualian ghibah orang fasik selain dalil akal, juga dianggap berdasarkan sejumlah hadits[18] yang diriwayatkan melalui jalur Syiah dan Ahlusunah.[19]
Catatan Kaki
- ↑ Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1415 H, jld. 1, hlm. 118.
- ↑ Makarim Syirazi, Akhlaq dar Qur'an, 1377 HS, jld. 3, hlm. 124.
- ↑ Makarim Syirazi, Akhlaq dar Qur'an, 1377 HS, jld. 3, hlm. 124.
- ↑ Makarim Syirazi, Zendegi dar Parto-e Akhlaq, 1386 HS, hlm. 128.
- ↑ Syahid Awwal, Al-Qawa'id wa al-Fawa'id, Maktabah al-Mufid, jld. 2, hlm. 149.
- ↑ Syahid Awwal, Al-Qawa'id wa al-Fawa'id, Maktabah al-Mufid, jld. 2, hlm. 150.
- ↑ Syahid Awwal, Al-Qawa'id wa al-Fawa'id, Maktabah al-Mufid, jld. 2, hlm. 151; Mirzakhani, Saratan-e Iman, 1369 HS, hlm. 128.
- ↑ Syahid Awwal, Al-Qawa'id wa al-Fawa'id, Maktabah al-Mufid, jld. 2, hlm. 152.
- ↑ Syahid Awwal, Al-Qawa'id wa al-Fawa'id, Maktabah al-Mufid, jld. 2, hlm. 152.
- ↑ Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, Muassasah Intisharat-e Hijrat, hlm. 570.
- ↑ Syekh Ansari, Kitab al-Makasib, 1415 H, jld. 1, hlm. 118.
- ↑ Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1378 HS, hlm. 570.
- ↑ Dastghaib, Gonahan-e Kabireh, 1375 HS, jld. 2, hlm. 283.
- ↑ Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1378 HS, hlm. 453.
- ↑ Mirzakhani, Saratan-e Iman, 1369 HS, hlm. 105.
- ↑ Mirzakhani, Saratan-e Iman, 1369 HS, hlm. 109.
- ↑ Syahid Awwal, Al-Qawa'id wa al-Fawa'id, Maktabah al-Mufid, jld. 2, hlm. 148.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1404 H, jld. 75, hlm. 253.
- ↑ Makarim Syirazi, Zendegi dar Parto-e Akhlaq, 1386 HS, hlm. 128.
Daftar Pustaka
- Allamah Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li-Durar Akhbar al-Aimmah al-Athhar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-'Arabi, Cetakan Ketiga, 1403 H.
- Dastghaib, Sayid Abdul Husain. Gonahan-e Kabireh (Dosa-dosa Besar). Qom, Daftar-e Entesharat-e Eslami wabasteh be Jame'eh Modarresin, Cetakan Kesembilan, 1375 HS.
- Hurr Amili, Muhammad bin Hasan. Wasail al-Syi'ah ila Tahshil Masail al-Syari'ah. Qom, Muassasah Aalulbayt Li-Ihya al-Turats, Cetakan Kedua, 1416 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li-Durar Akhbar al-Aimmah al-Athhar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-'Arabi, Cetakan Kedua, 1403 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Akhlaq dar Qur'an (Akhlak dalam Al-Qur'an). Qom, Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib as, Cetakan Pertama, 1377 HS.
- Makarim Syirazi, Nashir. Zendegi dar Parto-e Akhlaq (Hidup di Bawah Naungan Akhlak). Qom, Nashr-e Sorur, Cetakan Keenam, 1386 HS.
- Mirzakhani, Husain. Saratan-e Iman (Kanker Iman). Qom, Markaz-e Entesharat-e Daftar-e Tablighat-e Eslami, 1369 HS.
- Naraqi, Mulla Ahmad. Mi'raj al-Sa'adah. Qom, Muassasah Entesharat-e Hijrat, 1378 HS.
- Syahid Awwal, Muhammad bin Makki. Al-Qawa'id wa al-Fawa'id. Qom, Maktabah al-Mufid, Cetakan Pertama, Tanpa Tahun.
- Syekh Ansari, Murtadha. Kitab al-Makasib. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, 1415 H.