Lompat ke isi

Konsep:Bayaniyah

Dari wikishia

Templat:Kotak info mazhab Bayaniyah adalah sebuah sekte dari ekstremis Syiah, pengikut Bayan (Banan) bin Sam'an al-Tamimi al-Nahdi. Menurut keyakinan sekte ini, Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad bin Hanafiyah telah memberikan penegasan (nash) atas imamah Bayan bin Sam'an dan menyebutnya sebagai imam setelah dirinya. Bayaniyah termasuk di antara mereka yang mengeluarkan imamah dari keluarga Bani Hasyim dan keturunan Ali (as). Dalam klasifikasi sekte-sekte Syiah, Bayaniyah dianggap sebagai bagian dari Kaisaniyah, yang setelah Sayyidina Ali (as), meyakini imamah Muhammad bin Hanafiyah dan setelahnya imamah Abu Hasyim. Bayan dianggap sebagai salah satu dari kaum ghulat, karena ia meyakini ketuhanan (uluhiyah) Sayyidina Ali (as) dan berkata bahwa dalam diri Ali (as) telah menitis unsur Ilahi dan menyatu dengan jasadnya. Riwayat-riwayat yang disebutkan dalam Rijal al-Kasysyi menunjukkan bahwa Bayan ditolak oleh para Imam Syiah.

Pendiri

Templat:Utama Sekte Bayaniyah adalah para pengikut Bayan bin Sam'an. [1] Bayan bin Sam'an berasal dari etnis Arab dan beberapa orang menganggapnya dari Bani Tamim, namun bukti-bukti menunjukkan bahwa ia tidak memiliki hubungan dengan kabilah ini. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa ia berasal dari kabilah Banu Nahd di selatan Arab Saudi (Yaman). [2] Beberapa laporan menunjukkan bahwa Bayan bin Sam'an adalah pengikut Hamzah bin 'Umarah. Hamzah, yang merupakan pendukung kelompok Karbiyyah, mengeklaim bahwa Muhammad bin Hanafiyah adalah Tuhan dan dirinya sendiri adalah nabi. [3]

Walaupun demikian, beberapa pihak meragukan aliansi Bayan bin Sam'an dengan Hamzah, karena Bayan bin Sam'an, berbeda dengan Hamzah dan Karbiyyah, mengakui kepemimpinan Abu Hasyim, putra Muhammad bin Hanafiyah. [4] Namanya dalam beberapa kitab juga disebutkan sebagai Banan bin Sam'an al-Tamimi al-Nahdi dan sektenya dinamakan Bananiyah. [5]

Ghuluw Bayan

Bayan dianggap sebagai bagian dari kaum ghulat, karena ia meyakini uluhiyah (ketuhanan) Sayyidina Ali (as) dan berkata bahwa dalam diri Ali (as) telah menitis unsur Ilahi dan menyatu dengan jasadnya. Ia berkeyakinan bahwa Ali (as) mengetahui hal gaib dan dengan ilmu gaib inilah ia ikut serta dalam perang dan meraih kemenangan. Ia menjadikan sabda Sayyidina Ali bahwa "Aku mencabut pintu Khaibar bukan dengan kekuatan jasmani, melainkan dengan kekuatan malakuti", sebagai bukti atas klaimnya. [6] Menurut Bayan, kekuatan malakuti dalam jiwa Ali (as) laksana lampu di dalam tempat lampu, dan cahaya Ilahi laksana terangnya lampu tersebut. Bayan berkata bahwa sebagian dari Tuhan telah berpindah kepadanya melalui sejenis tanasukh, oleh karena itu ia mendapatkan kelayakan Imamah dan Khilafah, dan unsur Ilahi ini adalah unsur yang sama yang ada pada Nabi Adam (as) yang mana karenanya para Malaikat layak bersujud kepadanya. Ia juga menganggap maksud dari ayat Templat:Quran adalah Sayyidina Ali (as) yang akan datang dalam gumpalan awan sementara guntur adalah suaranya dan kilat adalah senyumnya. [7]

Penolakan Bayan oleh Para Imam

Riwayat-riwayat yang disebutkan dalam Rijal al-Kasysyi menunjukkan bahwa Bayan ditolak menurut pandangan para Imam Syiah. Dalam sebuah riwayat dari Imam Ridha (as) disebutkan: Bayan berbohong atas nama Ali bin Husain, dan Allah membuat ia merasakan rasa dan azab panasnya besi. [8]

Akidah Bayaniyah

Tasybih

Bayan bin Sam'an termasuk dari kaum Musyabbihah (antropomorfisme) dan menganggap Tuhan memiliki wajah (muka) dan berpendapat bahwa jasad Tuhan akan binasa dan hanya wajah-Nya yang tersisa. Ia bersandar pada dua ayat Templat:Quran dan Templat:Quran. [9] Menurut tulisan Baghdadi, [10] Bayan meyakini bahwa Tuhan adalah seorang pria azali dan terbuat dari cahaya. Ia berpendapat bahwa ia mengetahui Ism al-A'zham dan dapat mengalahkan tentara dengannya. Ia mengeklaim bahwa ia menyeru bintang Zuhrah dan Zuhrah menjawabnya. Menurut Nasuwan al-Himyari, Bayan meyakini bahwa sesembahannya berbentuk manusia dan ia memanggil bintang-bintang lalu mereka menjawabnya. [11] Menurut tulisan Ibnul Atsir, Bayan menganggap Ali, Hasan, dan Husain (as) serta Muhammad bin Hanafiyah dan setelahnya putranya Abu Hasyim sebagai Tuhan. [12]

Suksesi Abu Hasyim Putra Muhammad bin Hanafiyah

Bayaniyah meyakini bahwa setelah kegaiban Muhammad bin Hanafiyah, wasiat sampai kepada putranya, Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad, dan wasiat ini bukanlah wasiat setelah mati, melainkan wasiat saat masih hidup, sebagaimana Rasulullah (saw) menjadikan Ali (as) dan lainnya sebagai wakil (pengganti) di Madinah dalam ekspedisi perangnya; dengan demikian, ia adalah hujah Allah atas makhluk dan orang-orang harus menaatinya. [13] Menurut Sa'ad bin Abdullah al-Asy'ari, sekelompok Bayaniyah berkata bahwa Abu Hasyim adalah Imam al-Qa'im yang telah mati namun akan kembali dan memegang tampuk imamah serta menguasai bumi, dan setelahnya tidak akan ada washi (penerima wasiat) lainnya. [14]

Klaim Kenabian Bayan

Menurut tulisan al-Nawbakhti, [15] Bayan mengeklaim kenabian setelah wafatnya Abu Hasyim. Bayaniyah meyakini bahwa Abu Hasyim menjadikan Bayan seorang "nabi" dan ayat Templat:Quran menunjukkan kenabian Bayan. [16] Berdasarkan riwayat-riwayat, Bayan menulis surat kepada Imam Baqir (as) dan mengajaknya untuk mengakui kenabiannya. Imam Baqir (as) mengecam pembawa surat tersebut, Umar bin 'Afif al-Azdi. [17]

Catatan Kaki

  1. Tucker, "Bayān b. Sem'ān wa Bayāniyya", hlm. 126.
  2. Tucker, "Bayān b. Sem'ān wa Bayāniyya", hlm. 127.
  3. Tucker, "Bayān b. Sem'ān wa Bayāniyya", hlm. 127.
  4. Tucker, "Bayān b. Sem'ān wa Bayāniyya", hlm. 127.
  5. Asy'ari, Tarikh-e 'Aqa'id wa Madzahib-e Syi'eh, 1371 HS, hlm. 273.
  6. Mengenai ucapan ini lihat: Saduq, al-Amali, 1400 H, hlm. 415; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 21, hlm. 26.
  7. al-Syahrasthani, al-Milal wa al-Nihal, Kairo, jld. 1, hlm. 246.
  8. Kasysyi, Ikhtiyar Ma'rifat al-Rijal, 1348 HS, hlm. 302.
  9. Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1361 HS, hlm. 37-38.
  10. Baghdadi, al-Farqu baina al-Firaq, 1998 M, hlm. 237.
  11. al-Himyari, al-Hur al-'In, 1972 M, hlm. 161, 260.
  12. Ibn al-Atsir, al-Kamil, 1398 H, jld. 4, hlm. 231.
  13. Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1361 HS, hlm. 34.
  14. Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1361 HS, hlm. 37.
  15. al-Nawbakhti, Firaq al-Syiah, 1936 M, hlm. 34.
  16. Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1361 HS, hlm. 37.
  17. al-Nawbakhti, Firaq al-Syiah, 1936 M, hlm. 34; Asy'ari, al-Maqalat wa al-Firaq, 1361 HS, hlm. 37; al-Syahrasthani, al-Milal wa al-Nihal, Kairo, jld. 1, hlm. 246-247.

Daftar Pustaka

  • Asy'ari, Sa'ad bin Abdullah, al-Maqalat wa al-Firaq, riset Mohammad Javad Masjkur, Teheran, Pusat Penerbitan Elmi wa Farhangi, 1361 HS.
  • Asy'ari, Sa'ad bin Abdullah, Tarikh-e 'Aqa'id wa Madzahib-e Syi'eh (al-Maqalat wa al-Firaq), koreksi Mohammad Javad Masjkur, terjemahan Yousef Faza'i, Teheran, Muasasah Entesyarat-e 'Atha'i, cetakan pertama, 1371 HS.
  • Baghdadi, Abdul Qahir bin Thahir, al-Farqu baina al-Firaq, riset Mohammad Muhyiddin Abdul Hamid, Beirut, al-Maktabah al-'Ashriyyah, 1998 M.
  • al-Himyari, Nasuwan bin Said, al-Hur al-'In, riset Kamal Mustafa, Teheran, tanpa penerbit, 1972 M.
  • Ibn al-Atsir, Ali bin Muhammad, al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, tanpa penerbit, 1398 H/1978 M.
  • al-Kasysyi, Mohammad bin Umar, Ikhtiyar Ma'rifat al-Rijal, ringkasan Mohammad bin Hasan al-Thusi, riset Hasan Musthafawi, Masyhad, Universitas Masyhad, 1348 HS.
  • Majlisi, Mohammad Baqir, Bihar al-Anwar, Beirut, Muasasah al-Wafa', 1403 H.
  • al-Nawbakhti, Hasan bin Musa, Firaq al-Syiah, riset Mohammad Sadiq Alu Bahrul Ulum, Najaf, al-Mathba'ah al-Haidariyah, 1355/1936 M.
  • Saduq, Mohammad bin Ali, al-Amali, Beirut, tanpa penerbit, 1400/1980 H.
  • al-Syahrasthani, Mohammad bin Abdul Karim, al-Milal wa al-Nihal, riset Ahmad Fahmi Muhammad, Kairo, tanpa penerbit, 1367-1368/1948-1949 M.
  • Tucker, William, "Bayan bin Sam'an wa Bayaniyah", penerjemah: Mustafa Sadeqi, Jurnal Hikmat wa Falsafe-ye Eslami, tahun ketujuh, nomor 25, Musim Semi 1387 HS.