Lompat ke isi

Konsep:Ayat 63 Surah Al-Furqan

Dari wikishia
Ayat 63 Surah Al-Furqan
Informasi Ayat
SurahAl-Furqan
Ayat63
Juz19
Informasi Konten
Tempat
Turun
Mekkah
Tentang'Ibadurrahman dan dua sifat mereka: Tawadhu dan toleransi (madara)
Ayat-ayat terkaitAyat 37 Surah Al-Isra • Ayat 61 dan 62 Surah MaryamAyat 61 Surah Al-Furqan • Ayat 64 hingga 76 Surah Al-FurqanAyat 55 Surah Al-QashashAyat 18 Surah LukmanAyat 26 Surah Al-Waqi'ah


Ayat 63 Surah Al-Furqan (bahasa Arab:آیة ۶۳ سورة الفرقان) adalah mengenai pengenalan sekelompok hamba Allah yang ikhlas dan khusus dengan sebutan 'Ibadurrahman (Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) dengan menyebutkan dua sifat mereka: rendah hati dan toleransi terhadap orang-orang bodoh.

Allah dalam ayat 63 hingga 76 Surah Al-Furqan menyifati 'Ibadurrahman dengan menyebutkan empat belas karakteristik. Ciri-ciri seperti tawadhu, toleransi terhadap orang-orang bodoh, ibadah malam, takut kepada Allah, menghormati nyawa manusia, dan menjaga kesucian diri. Dalam tafsir Syiah, Para Imam as diperkenalkan sebagai misdaq (wujud nyata) dari 'Ibadurrahman.

Dalam ayat 63 Surah Al-Furqan, 'Ibadurrahman dianggap sebagai orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan tenang dan rendah hati. Sebagian menganggap berjalan di atas bumi sebagai kiasan dari cara hidup di tengah-tengah masyarakat. Berdasarkan hal ini, 'Ibadurrahman adalah orang-orang yang seluruh kehidupan individu dan sosialnya disertai dengan tawadhu dan jauh dari kesombongan. Allamah Thabathabai menganggap akar dari kerendahan hati 'Ibadurrahman adalah penghambaan (ubudiyah) kepada Allah.

Berdasarkan ayat 63 Surah Al-Furqan, 'Ibadurrahman ketika disapa dengan cara yang bodoh oleh orang-orang jahil, mereka menunjukkan reaksi yang damai. Reaksi damai ini ditafsirkan sebagai reaksi yang bebas dari kesia-siaan dan Dosa. Dikatakan bahwa perilaku 'Ibadurrahman ini kembali pada prinsip bahwa tindakan bodoh dari orang-orang jahil tidak boleh dibalas dengan reaksi yang bodoh pula.

Siapakah 'Ibadurrahman?

Identitas 'Ibadurrahman dalam ayat 63 Surah Al-Furqan dijelaskan dengan menyebutkan empat belas karakteristik mereka dalam ayat ini dan ayat 64 hingga 76 Surah Al-Furqan.[1] Para mufasir menganggap 'Ibadurrahman sebagai hamba-hamba Allah yang Ikhlas,[2] orang-orang beriman,[3] Insan Kamil (manusia sempurna)[4] dan hamba-hamba khusus Allah.[5] Sebagian menganggap 'Ibadurrahman sebagai orang-orang yang Asma Ilahi, khususnya nama "Rahman", telah terwujud dalam hati dan perbuatan mereka.[6] Dalam tafsir Syiah, Para Imam as dianggap sebagai misdaq dari 'Ibadurrahman.[7]

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, "salam," (QS. Al-Furqan: 63)

Karakteristik 'Ibadurrahman

Para mufasir menyebutkan empat belas karakteristik bagi 'Ibadurrahman berdasarkan ayat-ayat Surah Al-Furqan:

  1. Rendah hati
  2. Toleransi (madara) dengan orang-orang bodoh
  3. Ibadah malam
  4. Takut kepada Allah dan azab Ilahi
  5. Meninggalkan ifrath dan tafrith (berlebih-lebihan dan kikir) dalam hidup
  6. Menjauhi segala bentuk Syirik
  7. Menghormati nyawa manusia
  8. Menjaga kesucian diri
  9. Tidak menghadiri majelis dosa
  10. Menghindari perbuatan sia-sia dan tidak berguna
  11. Meneliti dan berpikir dalam perbuatan
  12. Memperhatikan pendidikan anak
  13. Berusaha menjadi teladan bagi orang lain
  14. Sabar dalam menghadapi kesulitan hidup.[8]

Nashir Makarim Syirazi meyakini bahwa keberadaan dua sifat, yaitu penghambaan (ubudiyah) dan penghambaan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih (Rahman) pada 'Ibadurrahman, menyebabkan mereka disifati dengan empat belas sifat tersebut.[9] Sebaliknya, sebagian menganggap bahwa keberadaan empat belas sifat tersebut pada 'Ibadurrahmanlah yang menyebabkan mereka mencapai kedudukan ini.[10]

Ciri Pertama: Rendah Hati

Dalam ayat 63 Surah Al-Furqan, 'Ibadurrahman dianggap sebagai orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan tenang dan rendah hati.[11] Sebagian mufasir menganggap cara berjalan seseorang di atas bumi sebagai simbol dari kerendahan hati atau kesombongannya.[12] Mereka menganggap isyarat terhadap masalah ini dalam Ayat 37 Surah Al-Isra dan Ayat 18 Surah Lukman sebagai konfirmasi atas pandangan mereka.[13] Sebagian lain menganggap berjalan dengan rendah hati dan tadzallul (merasa kecil) di atas bumi sebagai kiasan dari hidup secara rendah hati di tengah-tengah masyarakat.[14] Berdasarkan hal ini, mereka mengartikan makna ayat tersebut bahwa 'Ibadurrahman adalah orang-orang yang kehidupan individu dan sosialnya disertai dengan tawadhu dan jauh dari kesombongan.[15]

Imam Shadiq as menganggap berjalan dengan rendah hati dalam ayat 63 Surah Al-Furqan sebagai bertindak sesuai dengan fitrah di mana manusia diciptakan berdasarkan fitrah tersebut; sebuah tindakan di mana manusia tidak membebani dirinya untuk melakukannya dan tidak disertai dengan pamer (riya).[16] Allamah Thabathabai menganggap akar kerendahan hati 'Ibadurrahman adalah penghambaan kepada Allah.[17]

Sebagian menganggap alasan diprioritaskannya kerendahan hati di atas sifat-sifat 'Ibadurrahman lainnya adalah kesesuaiannya dengan hakikat keberadaan manusia; menurut mereka, hakikat keberadaan manusia tidak lain adalah penghambaan murni dan ketidakberartian di hadapan keagungan ciptaan Ilahi.[18] Mereka, sebagai lawan dari kerendahan hati, menganggap kesombongan (kibr) sebagai kunci kekafiran dan berasal dari ketidaktahuan manusia terhadap hakikat keberadaannya sendiri.[19]

Ciri Kedua: Toleransi dengan Orang Bodoh

Dalam ayat 63 Surah Al-Furqan dikatakan bahwa 'Ibadurrahman ketika disapa dengan cara yang bodoh oleh orang-orang jahil, mereka menunjukkan reaksi yang damai.[20] Allamah Thabathabai, dengan bersandar pada Ayat 26 Surah Al-Waqi'ah dalam menyifati ucapan yang didengar oleh penghuni surga, menafsirkan reaksi damai sebagai reaksi yang bebas dari kesia-siaan dan Dosa.[21] Menurutnya, perilaku 'Ibadurrahman ini kembali pada prinsip bahwa tindakan bodoh dari orang-orang jahil tidak boleh dibalas dengan reaksi yang bodoh pula.[22]

Sebagian mufasir meyakini bahwa dalam ayat 63 Surah Al-Furqan, perlakuan damai 'Ibadurrahman terhadap orang-orang jahil bukan hanya reaksi pasif.[23] Menurut mereka, reaksi 'Ibadurrahman adalah reaksi yang disertai upaya untuk memberikan pengaruh positif pada audiens yang jahil dan menciptakan kedamaian sosial.[24]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Walatarin Bandegan, 1383 HS, hlm. 15; Subhani, Simaye Ensan-e Kamel dar Qur'an, 1377 HS, hlm. 235.
  2. Thusi, Al-Tibyan, Beirut: jld. 7, hlm. 504.
  3. Thabathabai, Al-Mizan, 1393 H, jld. 15, hlm. 239.
  4. Subhani, Simaye Ensan-e Kamel dar Qur'an, 1377 HS, hlm. 235.
  5. Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1382 HS, jld. 7, hlm. 76; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 15, hlm. 147.
  6. Al-Mudarrisi, Min Huda Al-Qur'an, 1419 H, jld. 8, hlm. 471-472.
  7. Al-Qummi, Tafsir al-Qummi, 1363 HS, jld. 2, hlm. 116; Qummi Masyhadi, Tafsir Kanz al-Daqaiq, 1368 HS, jld. 9, hlm. 421.
  8. Makarim Syirazi, Walatarin Bandegan, 1383 HS, hlm. 14; Subhani, Simaye Ensan-e Kamel dar Qur'an, hlm. 236-375.
  9. Makarim Syirazi, Walatarin Bandegan, 1383 HS, hlm. 15.
  10. Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1382 HS, jld. 7, hlm. 76-77.
  11. Thabathabai, Al-Mizan, 1393 H, jld. 15, hlm. 239.
  12. Makarim Syirazi, Walatarin Bandegan, 1383 HS, hlm. 56; Subhani, Simaye Ensan-e Kamel dar Qur'an, 1377 HS, hlm. 243.
  13. Makarim Syirazi, Walatarin Bandegan, 1383 HS, hlm. 57-58.
  14. Thabathabai, Al-Mizan, 1393 H, jld. 15, hlm. 239.
  15. Makarim Syirazi, Walatarin Bandegan, 1383 HS, hlm. 56.
  16. Faidh Kasyani, Al-Shafi, 1415 H, jld. 4, hlm. 23.
  17. Thabathabai, Al-Mizan, 1393 H, jld. 15, hlm. 239.
  18. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 15, hlm. 149; Subhani, Simaye Ensan-e Kamel dar Qur'an, 1377 HS, hlm. 238-242.
  19. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 15, hlm. 149; Subhani, Simaye Ensan-e Kamel dar Qur'an, 1377 HS, hlm. 238-242.
  20. Thabathabai, Al-Mizan, 1393 H, jld. 15, hlm. 239; Subhani, Simaye Ensan-e Kamel dar Qur'an, 1377 HS, hlm. 254.
  21. Thabathabai, Al-Mizan, 1393 H, jld. 15, hlm. 239.
  22. Thabathabai, Al-Mizan, 1393 H, jld. 15, hlm. 239.
  23. Al-Mudarrisi, Min Huda Al-Qur'an, 1419 H, jld. 8, hlm. 473.
  24. Al-Mudarrisi, Min Huda Al-Qur'an, 1419 H, jld. 8, hlm. 473.

Daftar Pustaka

  • Al-Faidh al-Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha, Al-Shafi fi Tafsir Al-Qur'an, Riset: Husain A'lami, Teheran: Maktabah al-Shadr, 1415 H.
  • Al-Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi, Min Huda Al-Qur'an, Teheran: Dar Muhibbi al-Husain, 1419 H.
  • Al-Qummi, Ali bin Ibrahim, Tafsir Al-Qummi, Riset: Thayyib Musawi Jazairi, Qom: Dar al-Kitab, 1363 HS.
  • Al-Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Tibyan fi Tafsir Al-Qur'an, Riset: Ahmad Habib al-Amili, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Maibudi, Abul Fadhl Ahmad bin Muhammad, Kasyf al-Asrar wa 'Uddat al-Abrar (Dikenal sebagai Tafsir Khwajah Abdullah Anshari), Riset: Ali Ashghar Hekmat Syirazi, Teheran: Muassasah Entisyarat-e Amirkabir, 1382 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Nemuneh, Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir, Walatarin Bandegan (Hamba-hamba Paling Mulia), Penyusun: J. Farazmand, Qom: Entisyarat-e Nasl-e Jawan, 1383 HS.
  • Qummi Masyhadi, Muhammad bin Muhammad Ridha, Tafsir Kanz al-Daqaiq wa Bahr al-Gharaib, Riset: Husain Dargahi, Teheran: Sazman-e Chap va Entisharat-e Vezarat-e Farhang va Ershad-e Eslami, 1368 HS.
  • Subhani, Ja'far, Simaye Ensan-e Kamel dar Qur'an (Wajah Insan Kamil dalam Al-Qur'an; Tafsir Surah Al-Furqan), Qom: Markaz-e Entisharat-e Daftar-e Tablighat-e Eslami Hauzah Ilmiyah Qom: 1377 HS.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain, Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur'an, Beirut: Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1393 H.