Konsep:Ayat 261 Surah Al-Baqarah
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Nama | Ayat 261 Surah Al-Baqarah |
| Surah | Surah Al-Baqarah |
| Ayat | 261 |
| Juz | 3 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Keutamaan infak di jalan Allah |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 261 Surah Al-Baqarah, Ayat 245 Surah Al-Baqarah, Ayat 40 Surah An-Nisa, Ayat 60 Surah Al-Anfal, Ayat 11 Surah Al-Hadid dan Ayat 18 Surah Al-Hadid |
Ayat 261 Surah Al-Baqarah adalah ayat pertama dari rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang Infak.[1] Menurut sebagian mufasir, penyebutan ayat ini setelah ayat-ayat Ma'ad bermakna penekanan atas sifat menyelamatkan dari infak pada hari Kiamat.[2]
Dalam ayat 261 Surah Al-Baqarah, alih-alih perbuatan orang yang berinfak diserupakan dengan benih, justru orang yang berinfak itu sendiri yang diserupakan dengan benih.[3] Para mufasir menjelaskan poin ini bahwa perbuatan setiap individu merepresentasikan kepribadian dan eksistensinya, dan sejauh mana perbuatannya meluas, maka individu itu sendiri juga berada dalam proses pertumbuhan dan kesempurnaan.[4]
Menurut penjelasan para mufasir, kata kerja mudhari' "yunfiquna" dalam ayat tersebut menunjukkan kesinambungan sira orang-orang Ilahi dalam berinfak,[5] dan kata "Wasi'" di akhir ayat menyampaikan tentang pahala Allah Swt yang tanpa batas bagi orang yang berinfak.[6] Ungkapan "Fi sabilillah" juga bersifat umum dan mencakup setiap amal kebaikan, meskipun misdaq utamanya adalah Jihad di jalan Allah.[7]
| “ | مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
|
” |
Bandingan (derma) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji. Dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya, lagi Meliputi ilmu pengetahuanNya.
Berdasarkan nukilan Mufadhdhal bin Muhammad al-Ju'fi dari Imam Shadiq as, dalam ayat 261 Surah Al-Baqarah, yang dimaksud dengan benih gandum adalah Sayidah Fatimah sa dan tujuh bulir gandum merujuk pada tujuh anak keturunannya, yang mana yang pertama adalah Imam Husain as dan yang ketujuh adalah Imam Mahdi as.[8] Sebagian menganggap riwayat ini sebagai ekstremisme (ghuluw) dari sekte-sekte gulat dalam Syiah[9] dan Sayid Abul Qasim Khoei menolaknya karena kelemahan sanad riwayat, khususnya ketidakjelasan identitas Mufadhdhal bin Muhammad al-Ju'fi.[10] Selain itu, muncul beberapa kritikan terhadap isi riwayat termasuk jumlah para Imam as dan peran Imam Hasan al-Mujtaba as.[11] Sebaliknya, sebagian meyakini bahwa riwayat ini tidak merujuk pada jumlah para Imam as dan hanya memperkenalkan sebagian dari para Imam as sebagai bulir dikarenakan karakteristik khusus mereka,[12] atau bahwa angka tujuh di sini adalah simbol keberlimpahan, bukan angka sebenarnya.[13]
Abdullah Jawadi Amuli menganggap pahala utama dari infak adalah pahala maknawi dan ukhrawi, bukan pahala materi duniawi, karena di dunia infak tidak selalu berujung pada bertambahnya harta.[14] Meskipun demikian, ia berkeyakinan bahwa infak juga memiliki dampak duniawi, di antaranya adalah menikmati berkah tatanan Islam seperti keamanan, menyebarkan kebaikan di masyarakat, dan mendorong orang lain untuk berinfak, dan terkadang manfaat materi juga dapat sampai kepada orang yang berinfak.[15]
Catatan Kaki
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 312.
- ↑ Andalusi, al-Bahr al-Muhith fi al-Tafsir, 1420 H, jld. 2, hal. 315; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 312.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 314.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 314.
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1378 HS, jld. 12, hal. 317.
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1378 HS, jld. 12, hal. 319.
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1378 HS, jld. 12, hal. 334.
- ↑ Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 H, jld. 1, hal. 147.
- ↑ Hashemi, "Ahadits-e Guluw dar Ahl-e Sonnat wa Tasyayyu'", hal. 46.
- ↑ Khoei, Abul Qasim, Mu'jam Rijal al-Hadits, jld. 18, 1409 H, hal. 307.
- ↑ Bar-Asher, Scripture And Exegesis In Early Imami Shiism, 1999. hal. 233.
- ↑ Pahlawan, "Mostasyreqan-e Yahudi wa Tafasir-e Avvaliyeh-ye Imamiyyeh", hal. 35 dan 36.
- ↑ Bahrani, al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, 1416 H, jld. 1, hal. 542 (catatan kaki).
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1378 HS, jld. 12, hal. 322.
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1378 HS, jld. 12, hal. 322.
Daftar Pustaka
- Andalusi, Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf. al-Bahr al-Muhith fi al-Tafsir. Riset: Muhammad Jamil Sidqi. Beirut, Penerbit Dar al-Fikr, 1420 H.
- Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-Ayyasyi. Koreksi: Sayid Hashem Rasuli Mahallati. Teheran, al-Mathba'ah al-Ilmiyyah, 1380 H.
- Bahrani, Sayid Hashem. al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Riset: Qism al-Dirasat al-Islamiyyah Muassasah al-Bi'tsah. Teheran, Bunyad-e Bi'tsat, 1416 H.
- Bar-Asher, Meir. Scripture And Exegesis In Early Imami Shiism. The Hebrew University, Jerusalem, 1999.
- Hashemi, Reihaneh. "Ahadits-e Guluw dar Ahl-e Sonnat wa Tasyayyu'" (Hadis-hadis Ghuluw dalam Ahlusunnah dan Syiah). Dalam majalah Haft Asman, periode 16, no. 63 dan 64, Esfand 1393 HS.
- Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Qom, Markaz-e Nasyr-e Asra, 1378 HS.
- Khoei, Sayid Abul Qasim. Mu'jam Rijal al-Hadits wa Tafshil Thabaqat al-Ruwat. Beirut, Dar al-Zahra, 1409 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS.
- Maulawi, Jalaluddin Muhammad bin Muhammad Balkhi. Matsnawi-ye Ma'nawi. Koreksi: Abdolkarim Soroush. Teheran, Penerbit Ilmi wa Farhangi, 1375 HS.
- Pahlawan, Mansur. "Mostasyreqan-e Yahudi wa Tafasir-e Avvaliyeh-ye Imamiyyeh" (Para Orientalis Yahudi dan Tafsir-tafsir Awal Imamiyah). Dalam majalah Safineh, tahun ketujuh, no. 25, Musim Dingin 1388 HS.
- Qurasyi, Ali Akbar. Qamus-e Qur'an (Kamus Al-Qur'an). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 HS.
- Syafi'i Kadkani, Mohammad Reza. Buy-e Juy-e Muliyan. Teheran, Tus, 1357 HS.
- Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. al-Mizan. Cetakan Kelima. Qom, Maktabah al-Nasyr al-Islami, 1417 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Maktabah al-Ilmiyyah al-Islamiyyah, tanpa tahun.