Konsep:Ayat 196 Surah Al-Baqarah
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Nama | Ayat 196 Surah Al-Baqarah |
| Surah | Al-Baqarah |
| Ayat | 196 |
| Juz | 2 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Hukum haji |
| Ayat-ayat terkait | 197, 198, 199, 200, 201, 202 dan 203 Surah Al-Baqarah |
Ayat 196 Surah Al-Baqarah membahas hukum-hukum seperti kewajiban menyempurnakan Haji dan Umrah, hukum orang yang terhalang dalam haji, mencukur rambut dan hukum-hukum yang berkaitan dengan Haji Tamattu' termasuk hukum bagi orang yang tidak mungkin melanjutkan haji, hewan kurban dan penggantian pelanggaran dalam manasik haji.[1] Ayat ini selain menekankan pada penjagaan takwa, juga memberikan peringatan terhadap penciptaan Bid'ah dalam manasik haji.[2]
Menurut laporan Tafsir Nemuneh, waktu turunnya ayat ini dianggap pada tahun keenam Hijriah/627-28 bertepatan dengan Perjanjian Hudaibiyah atau Haji terakhir Nabi saw (10/631-32).[3] Berdasarkan laporan Syaikh Shaduq (wafat: 381/991-92), pada saat Haji Wada' dan setelah penjelasan hukum-hukum haji, salah seorang sahabat Nabi saw memprotes hukum keluar dari Ihram dalam haji Tamattu' dan Nabi saw mengabarkan tentang ketidakberimanan orang tersebut terhadap hukum ini.[4] Menurut beberapa sumber hadis, pemprotes tersebut adalah Umar bin Khattab.[5] Begitu juga dalam sumber-sumber Ahlusunnah, dinukil dari Umar bin Khattab bahwa ia menganggap mut'ah haji dan perkawinan kontrak adalah halal pada zaman Nabi saw, namun ia sendiri melarang keduanya dan menetapkan hukuman bagi pelakunya.[6]
| “ | وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗ ذَٰلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
|
” |
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah ia berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.
Abdullah Jawadi Amuli, mufasir Syiah, menganggap ayat 196 hingga Ayat 203 Surah Al-Baqarah sebagai penjelas garis besar hukum-hukum haji.[7] Para fakih telah menyimpulkan banyak hukum dari ayat 196 Al-Baqarah, di antaranya:
- Kewajiban menyempurnakan haji dan umrah: Kata "Wa atimmu" menunjukkan keharusan menyempurnakan Manasik Haji dan Umrah.[8] Allamah Hilli (wafat: 726/1325-26) menisbatkan pandangan ini kepada seluruh fakih.[9] Ibnu Idris al-Hilli (wafat: 598/1201-02) menganggap at-tamam bermakna mendirikan haji.[10]
- Hukum Ihshar: Seseorang yang karena sakit atau penghalang seperti adanya musuh terhenti dari melanjutkan haji, harus melakukan Kurban.[11] Sebagian berpendapat orang yang terhalang (mahshur) harus menyembelih kurban di tempat ia terhalang dan sebagian lainnya mewajibkan pengirimannya ke tempat penyembelihan kurban. Menurut Syaikh Thusi[12] dan Thabarsi[13] jika karena sakit, kurban dikirimkan, dan jika karena adanya musuh, disembelih secara syar'i di tempat itu juga.
- Waktu mencukur rambut: Ayat melarang mencukur rambut sebelum hewan kurban sampai ke tempat penyembelihan.[14] Sebagian mufasir menganggap hukum ini khusus bagi orang-orang yang terhalang (mahshuran) dan sebagian menganggapnya mencakup seluruh jamaah haji, di mana dalam Tafsir Nemuneh pandangan kedua dianggap lebih komprehensif.[15]
Kifarat mencukur rambut terlalu dini,[16] kewajiban Kurban dalam Haji Tamattu',[17] pengganti kurban,[18] perbedaan hukum haji bagi penduduk Mekkah dan luar Mekkah (dengan jarak 48 mil atau lebih),[19] juga termasuk pembahasan fikih lainnya yang dikemukakan di bawah ayat ini.
Catatan Kaki
- ↑ Irawani, Durus Tamhidiyyah, 1386 HS, hal. 203-205.
- ↑ Allamah Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 2, hal. 78; Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1387 HS, jld. 10, hal. 58; Shadeqi Tehrani, Al-Furqan, 1406 H, jld. 3, hal. 159.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 41-42.
- ↑ Syaikh Shaduq, Ilal al-Syara'i, Maktabah al-Dawari, jld. 2, hal. 412-413.
- ↑ Lihat: Quthbuddin Rawandi, Feqh al-Qur'an, 1405 H, jld. 1, hal. 266-267.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu Anas, Muwaththa' Malik, 1425 H, jld. 1, hal. 171; Ibnu Hanbal, Musnad Ahmad, 1421 H, jld. 1, hal. 437; Ibnu Hazm, Al-Muhalla bi al-Atsar, Dar al-Fikr, jld. 5, hal. 97; Mawardi, Al-Hawi al-Kabir, 1419 H, jld. 9, hal. 328; Sarakhsi, Ushul al-Sarakhsi, Dar al-Ma'rifah, jld. 2, hal. 6.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1387 HS, jld. 10, hal. 30.
- ↑ Fadhil Miqdad, Kanz al-Irfan, 1373 HS, jld. 1, hal. 272.
- ↑ Allamah Hilli, Muntaha al-Mathlab, 1412 H, jld. 12, hal. 396.
- ↑ Ibnu Idris al-Hilli, Mausu'ah Ibnu Idris al-Hilli, 1387 HS, jld. 3, hal. 82.
- ↑ Fadhil Miqdad, Kanz al-Irfan, 1373 HS, jld. 1, hal. 287-288.
- ↑ Syaikh Thusi, At-Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 2, hal. 158.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 2, hal. 519.
- ↑ Fadhil Miqdad, Kanz al-Irfan, 1373 HS, jld. 1, hal. 289.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 43-44.
- ↑ Muqaddas Ardabili, Zubdah al-Bayan, Maktabah al-Musthafawiyyah, hal. 254-257.
- ↑ Syaikh Mufid, Al-Muqni'ah, 1410 H, hal. 571.
- ↑ Syaikh Mufid, Al-Muqni'ah, 1410 H, hal. 571; Ibnu Hayyun, Da'aim al-Islam, 1383 H, jld. 1, hal. 318.
- ↑ Abi, Kasyaf al-Rumuz, 1408 H, jld. 1, hal. 337.
Daftar Pustaka
- Abi, Hasan bin Abi Thalib. Kasyaf al-Rumuz fi Syarh al-Mukhtashar al-Nafi'. Qom, Jama'ah al-Mudarrisin fi al-Hauzah al-Ilmiyyah bi Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1408 H.
- Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Muntaha al-Mathlab fi Tahqiq al-Madzhab. Masyhad, Astanah al-Radhawiyyah al-Muqaddasah, Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah, 1412 H.
- Allamah Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Al-A'lami li al-Mathbu'at, 1390 H.
- Fadhil Miqdad, Miqdad bin Abdullah. Kanz al-Irfan fi Feqh al-Qur'an. Teheran, Murtadhawi, 1373 HS.
- Ibnu Anas, Malik. Muwaththa' Malik. Abu Dhabi, Muassasah Zayed bin Sultan, 1425 H.
- Ibnu Hazm, Ali bin Ahmad. Al-Muhalla bi al-Atsar. Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun.
- Ibnu Hanbal, Ahmad. Musnad Ahmad. Beirut, Muassasah al-Risalah, 1421 H.
- Ibnu Hayyun, Nu'man bin Muhammad. Da'aim al-Islam wa Dzikr al-Halal wa al-Haram wa al-Qadhaya wa al-Ahkam. Qom, Muassasah Alu al-Bait as li-Ihya al-Turats, 1383 H.
- Ibnu Idris al-Hilli, Muhammad bin Ahmad. Mausu'ah Ibnu Idris al-Hilli. Qom, Dalil-e Ma, 1387 HS.
- Irawani, Muhammad Baqir. Durus Tamhidiyyah fi Tafsir Ayat al-Ahkam. Dar al-Feqh li al-Thiba'ah wa al-Nasyr, 1386 HS.
- Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Qom, Esra, 1387 HS.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan ke-32, 1374 HS.
- Ma'wardi, Ali bin Muhammad. Al-Hawi al-Kabir. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1419 H.
- Muqaddas Ardabili, Ahmad bin Muhammad. Zubdah al-Bayan fi Ahkam al-Qur'an. Teheran, Maktabah al-Murtadhawiyyah, tanpa tahun.
- Quthbuddin Rawandi, Said bin Hibatullah. Feqh al-Qur'an. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1405 H.
- Sarakhsi, Muhammad bin Ahmad. Ushul al-Sarakhsi. Beirut, Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
- Shadeqi Tehrani, Muhammad. Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an wa al-Sunnah. Beirut, Al-A'lami li al-Mathbu'at, 1406 H.
- Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Ilal al-Syara'i. Qom, Maktabah al-Dawari, tanpa tahun.
- Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. At-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
- Syaikh Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Muqni'ah. Qom, Jama'ah al-Mudarrisin fi al-Hauzah al-Ilmiyyah bi Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1410 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 H.