Konsep:Ayat 188 Surah Al-Baqarah
Ayat 188 Surah Al-Baqarah | |
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Nama | Ayat 188 Surah Al-Baqarah |
| Surah | Al-Baqarah |
| Ayat | 188 |
| Juz | 2 |
| Informasi Konten | |
| Sebab Turun | Perselisihan dua orang dari sahabat Nabi saw atas kepemilikan sebidang tanah |
| Tempat Turun | Mekkah |
| Tentang | Larangan mencari pendapatan yang tidak sah |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 29 Surah An-Nisa, Ayat 161 Surah An-Nisa, Ayat 34 Surah At-Taubah |
Ayat 188 Surah Al-Baqarah melarang masyarakat mencari pendapatan yang tidak sah, khususnya praktik suap-menyuap. Berdasarkan ayat ini, para fakih menganggap batal setiap transaksi yang mengakibatkan perolehan harta haram. Akl al-mal bi al-bathil (memakan harta dengan cara batil) bermakna penguasaan secara tidak hak atas harta orang lain, dan para mufasir menghitung harta yang diperoleh melalui suap, perampasan (ghasab), perjudian, atau sumpah palsu sebagai bagian dari contoh-contohnya.
Tema mengenai memakan harta dengan cara batil dan sikap Al-Qur'an terhadapnya juga terdapat dalam ayat 29 dan 161 Surah An-Nisa serta Ayat 34 Surah At-Taubah.
Poin-poin Umum
Ayat 188 Surah Al-Baqarah melarang masyarakat untuk memakan harta satu sama lain dan mencari pendapatan yang tidak sah, khususnya suap.[1] Mohammad Javad Mughniyah, salah seorang mufasir Syiah, menganggap kandungan ayat ini merepresentasikan penegasan Islam atas hak milik pribadi[2] dan menurutnya para fakih berdasarkan ayat ini menganggap batal setiap transaksi yang menyebabkan perolehan harta haram.[3] Demikian pula dalam Tafsir Nemuneh disebutkan bahwa para fakih menganggap kontrak-kontrak yang tidak memiliki tujuan benar dan tidak memiliki landasan rasional termasuk dalam cakupan ayat ini.[4]
Ayat 188 Surah Al-Baqarah tergolong sebagai ayat Madaniyah[5] dan beberapa mufasir meyakini bahwa ayat ini berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 182-187) yang berkenaan dengan Puasa; sebab dalam ayat-ayat sebelumnya terdapat larangan makan dan minum demi menunaikan ibadah Ilahi, dan ayat ini melarang memakan harta orang lain secara tidak hak, yang mana hal ini pun merupakan sejenis puasa, Takwa, dan riyadhah nafs (olah jiwa).[6] Tema mengenai akl al-mal bi al-bathil juga terdapat dalam ayat 29 dan 161 Surah An-Nisa serta Ayat 34 Surah At-Taubah.[7]
Menurut pernyataan Wahidi dalam Asbab al-Nuzul, ayat ini turun berkaitan dengan perselisihan dua orang dari sahabat Nabi saw atas kepemilikan sebidang tanah, yang mana masalah tersebut diselesaikan melalui keputusan Nabi saw.[8]
| “ | وَ لَا تَأْکُلُوا أَمْوَالَکُمْ بَیْنَکُمْ بِالْبَاطِلِ وَ تُدْلُوا بِهَا إِلَی الْحُکَّامِ لِتَأْکُلُوا فَرِیقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَ أَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
|
” |
Dan janganlah kamu makan (atau mengambil) harta (orang-orang lain) di antara kamu dengan jalan yang salah, dan jangan pula kamu menghulurkan harta kamu (memberi rasuah) kepada hakim-hakim kerana hendak memakan (atau mengambil) sebahagian dari harta manusia dengan (berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (salahnya).
Keharaman Penguasaan Harta Orang Lain secara Tidak Hak
Akl al-mal bi al-bathil bermakna menguasai dan mempergunakan harta orang lain secara tidak hak,[9] dan untuk hal tersebut telah dipaparkan berbagai tafsir;[10] di antaranya dikatakan maksudnya adalah menggunakan harta yang diperoleh melalui suap, perampasan, pengkhianatan terhadap amanah, perjudian, atau sumpah palsu;[11] sejumlah mufasir menganggap konsep memakan harta secara batil bersifat umum dan menghitung setiap poin tersebut sebagai misdaq dari akl al-mal bi al-bathil.[12]
Kata "tudlū" berasal dari akar kata "idlā'" yang bermakna menggantungkan ember (dalwu) ke dalam sumur untuk mengambil air.[13] Menurut keyakinan para mufasir, kata "tudlū" ini secara kiasan merujuk pada pemberian suap dan upaya untuk menarik perhatian hakim demi kepentingan diri sendiri—seperti menarik air dari sumur.[14] Abdullah Jawadi Amuli meyakini bahwa orang yang menerima harta melalui suap, seperti seseorang yang berdiri di tepi lubang pembuangan dan melemparkan ember ke dalamnya untuk mengeluarkan lumpur dan kotoran dari sumur tersebut. Penyuap pun dengan membayar suap yang diserupakan dengan ember, mengeluarkan hukum batil dan berlumpur dari dalam jiwa hakim yang kotor lalu menuangkannya ke dalam jiwanya sendiri.[15] Makna lain yang dijelaskan untuk ungkapan "tudlū bihā ilal hukkām" adalah jangan membawa masalah finansial kepada hakim untuk disalahgunakan; seperti menyimpan barang amanah, namun dikarenakan ketiadaan saksi, Anda menguasainya secara tidak hak melalui keputusan hakim.[16]
Dalam ayat ini, yang dimaksud dengan hukkām adalah para hakim.[17] Berdasarkan sebuah riset, mayoritas fakih menganggap istilah suap (risywah) dikhususkan pada bab peradilan.[18] Meski demikian, pembayaran secara tidak hak di luar bab peradilan juga dianggap Haram, dan landasannya adalah dalil-dalil umum seperti dilarangnya akl al-mal bi al-bathil.[19]
Maksud dari "antum ta'lamūn" juga digambarkan demikian bahwa ketika Anda mengetahui perbuatan ini buruk dan haram, maka Anda tidak boleh melakukannya;[20] oleh karena itu berbuat dosa dengan kesadaran akan keburukannya, dianggap sebagai dosa yang lebih besar.[21]
Catatan Kaki
- ↑ Ibnu Juzi, al-Tashil li-'Ulum al-Tanzil, 1416 H, jld. 1, hal. 112.
- ↑ Mughniyah, al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 1, hal. 291.
- ↑ Mughniyah, al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 1, hal. 291.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 4.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 1, hal. 111.
- ↑ Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1412 H, jld. 1, hal. 176.
- ↑ Alian-nejadi, Bazaryabi-ye Syabake'i ya Kolahbardari-ye Mormuz, 1389 HS, hal. 43.
- ↑ Wahidi, Asbab Nuzul, 1411 H, hal. 55.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hal. 51; Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 4, hal. 53.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 3; Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 2, hal. 344.
- ↑ Syaikh Thusi, at-Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 2, hal. 138.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 506; Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hal. 53; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 3.
- ↑ Raghib al-Isfahani, al-Mufradat, 1412 H, hal. 317; Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hal. 52.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hal. 52; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 5.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, jld. 9, hal. 507.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 5.
- ↑ Ayyasyi, al-Tafsir, 1380 H, jld. 1, hal. 85.
- ↑ Rahimi dan Soleimani, "Barresi-ye Hokm wa Mabani-ye Feqhi-ye Risywah dar Gheir-e Qadhawat", hal. 845.
- ↑ Rahimi dan Soleimani, "Barresi-ye Hokm wa Mabani-ye Feqhi-ye Risywah dar Gheir-e Qadhawat", hal. 845.
- ↑ Mughniyah, al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 1, hal. 292; Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 2, hal. 346.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 507; Mughniyah, al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 1, hal. 292.
Daftar Pustaka
- Ibnu Juzi, Muhammad bin Ahmad. al-Tashil li-'Ulum al-Tanzil. Riset: Abdullah Khalidi. Beirut: Syirkah Dar al-Arqam bin Abi al-Arqam, Cetakan Pertama, 1416 H.
- Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Koreksi: Hassan Wa'ezi Mohammadi dan Hossein Asyrafi. Qom: Nasyr-e Esra, Cetakan Ketiga, 1388 HS.
- Raghib al-Isfahani, Husain bin Muhammad. al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an. Riset: Safwan Adnan Dawudi. Damaskus, Beirut: Dar al-Qalam, al-Dar al-Syamiyyah, Cetakan Pertama, 1412 H.
- Rahimi, Morteza dan Somayeh Soleimani. "Barresi-ye Hokm wa Mabani-ye Feqhi-ye Risywah dar Gheir-e Qadhawat". Dalam jurnal Pazhuhesy-haye Feqhi, Tahun 11, Nomor 4, Musim Dingin 1394 HS.
- Quthb, Sayyid. Fi Zhilal al-Qur'an. Beirut: Dar al-Syuruq, Cetakan ke-17, 1412 H.
- Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. at-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Dengan Mukadimah: Syaikh Agha Bozorg Tehrani. Riset: Ahmad Qashir Amili. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
- Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Kelima, 1417 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Dengan Mukadimah Mohammad Javad Balaghi. Teheran: Nasir Khosrow, Cetakan Ketiga, 1372 HS.
- Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Penerbit Islam, Cetakan Kedua, 1378 HS.
- Alian-nejadi, Abolqasem. Bazaryabi-ye Syabake'i ya Kolahbardari-ye Mormuz. Qom: Entesyarat-e Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib as, Cetakan Ketiga, 1384 HS.
- Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-Ayyasyi. Riset dan koreksi: Hashem Rasuli Mahallati. Teheran: al-Mathba'ah al-Ilmiyyah, Cetakan Pertama, 1380 H.
- Fadhlullah, Muhammad Husain. Min Wahy al-Qur'an. Beirut: Dar al-Malak, Cetakan Pertama, 1419 H.
- Mughniyah, Mohammad Javad. al-Tafsir al-Kasyif. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Pertama, 1424 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Pertama, 1374 HS.
- Wahidi, Ali bin Ahmad. Asbab Nuzul al-Qur'an. Riset: Kamal Basyuni Zaghlul. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Cetakan Pertama, 1411 H.