Lompat ke isi

Konsep:Ayat 107 Surah Al-Anbiya'

Dari wikishia

Ayat 107 Surah Al-Anbiya' atau Ayat Rahmatan lil-'Alamin memperkenalkan Nabi Muhammad saw sebagai rahmat bagi seluruh alam. Diutusnya seorang nabi dengan karakteristik seperti ini disebut sebagai puncak kebaikan Allah swt kepada hamba-hamba-Nya. Dikatakan bahwa dengan memperhatikan keumuman (ithlaq) ayat, cakupan rahmat Rasulullah saw di dunia dan akhirat mencakup semua manusia di sepanjang zaman, dan bahkan semua makhluk di semua alam, termasuk para malaikat; oleh karena itu, orang-orang kafir juga memperoleh manfaat dari rahmat Nabi saw sebagaimana orang-orang mukmin. Berdasarkan hal ini, dikatakan bahwa keberadaan pribadi Rasulullah saw, nikmat kehidupan dan pemanfaatan dunia, serta diangkatnya bala-bala dan azab istishal (pemusnahan) yang menimpa umat-umat kafir di masa lalu, adalah di antara rahmat-rahmat yang sampai kepada orang-orang kafir dari Nabi.

Dalam tafsir-tafsir Islam, disebutkan contoh-contoh lain dari keberadaan Nabi sebagai rahmat; di antaranya adalah perantara faidh (anugerah) Allah kepada makhluk-makhluk, akhlak, sirah, hukum-hukum, dan penyebaran agama penyelamat, petunjuk manusia kepada ketaatan kepada Allah dan meraih nikmat-nikmat ilahi, membangkitkan kecenderungan-kecenderungan kebaikan dan menjauhkan manusia dari kecenderungan-kecenderungan syaitani, serta membebaskan manusia dari peperangan, pertumpahan darah, dan permusuhan satu sama lain.

Dikatakan bahwa ayat ini adalah dalil atas khatamiyyah (penutupan) dan universalitas risalah Nabi saw serta universalitas agama Islam.

Poin-Poin Umum

Ayat 107 Surah Al-Anbiya' atau Ayat Rahmatan lil-'Alamin[1] ditujukan kepada Nabi Muhammad saw[2] dan memperkenalkannya sebagai rahmat bagi seluruh alam.[3] Berdasarkan hal ini, Nabi saw juga menyebut dirinya sebagai rahmat;[4] sebagaimana dalam jawaban atas permintaan salah seorang sahabatnya yang meminta untuk melaknat orang-orang musyrik, beliau bersabda, "Sesungguhnya aku diutus sebagai rahmat, bukan untuk melaknat dan mengutuk."[5]

Sifat Nabi Muhammad saw sebagai Rahmatan lil-'Alamin dianggap bersumber dari akhlaknya yang agung[6] dan diutusnya seorang nabi dengan karakteristik seperti ini disebut sebagai puncak kebaikan dan anugerah Allah swt kepada hamba-hamba-Nya.[7]

Terdapat banyak riwayat dalam menafsirkan ayat ini, yang sebagiannya dinukil dalam kitab-kitab tafsir yang memiliki pendekatan riwayat.[8] Berdasarkan sebuah riwayat dalam kitab Al-Kafi, pengutusan Nabi saw dianggap sebagai permulaan rahmat bagi seluruh alam.[9] Kata rahmat dan derivasi-derivasinya lainnya untuk Nabi Muhammad saw juga digunakan dalam ayat-ayat lain seperti ayat 159 Surah Ali 'Imran dan ayat 128 Surah At-Taubah.

Menurut Nashir Makarim Syirazi (marja' taqlid dan mufasir Syiah) dan rekan-rekannya dalam Tafsir Nemuneh, puncak rahmat Nabi Islam adalah pemerintahan orang-orang saleh atas dunia.[10] Dalam konteks ini, Muhammad Shadiqi Tehrani, seorang fakih dan mufasir Syiah, berpendapat bahwa terwujudnya rahmat Nabi secara sempurna bagi seluruh alam hanya mungkin terwujud di bawah naungan sebuah pemerintahan global dan penghapusan perbedaan-perbedaan geografis, nasional, rasial, dan sektarian[11] yang hal ini belum terwujud pada masa Nabi saw dan para Imam setelahnya dan akan terwujud di masa depan;[12]

Implikasi dan Manifestasi Sifat Nabi saw sebagai Rahmatan lil-'Alamin

Berkas:Kaligrafi Ayat Wa Ma Arsalnaka Illa Rahmatan lil-'Alamin bergaya Naskh dan Tsuluts karya Muhammad Uzchay.jpg
Kaligrafi "Ayat Wa Ma Arsalnaka Illa Rahmatan lil-'Alamin" bergaya Naskh dan Tsuluts, karya Muhammad Uzchay, 1412 H.

Para mufasir menyatakan bahwa buah dari sifat Rahmatan lil-'Alamin Nabi saw ada di dunia dan akhirat[13] dan menganggap tindakan mengikuti perintah dan program-programnya sebagai titik akhir dari segala kegagalan dan kesengsaraan.[14] Dikatakan bahwa dampak-dampak positif dan rahmat yang dari Nabi saw meliputi umat manusia, tidak dapat dibandingkan dengan kehidupan manusia sebelum kenabiannya;[15] karena pengutusannya terjadi ketika manusia berada dalam jahiliyah dan kesesatan, dan ahli kitab juga bingung dalam agama mereka serta perbedaan telah muncul dalam kitab suci mereka, yang dengan diutusnya Nabi saw, mereka diajak kepada kebenaran dan jalan yang benar ditunjukkan kepada mereka.[16]

Para mufasir mengemukakan berbagai pendapat dalam menyebutkan contoh-contoh rahmat Nabi Muhammad saw bagi seluruh alam, di antaranya adalah:

  • Menyebarkan agama yang menyebabkan keselamatan semua orang[17] dan kebahagiaan dunia dan akhirat mereka.[18]
  • Akhlak, sirah, ajaran, dan tujuan-tujuan Nabi saw.[19]
  • Syariat dan hukum-hukum Nabi saw yang menyebabkan kebahagiaan dunia dan akhirat.[20]
  • Petunjuk manusia kepada kesempurnaan mutlak[21] dan meraih kesempurnaan-kesempurnaan manusiawi.[22]
  • Petunjuk manusia kepada ketaatan kepada Allah swt dan meraih pahala.[23]
  • Petunjuk manusia kepada nikmat-nikmat ilahi dan pemanfaatannya.[24]
  • Membangkitkan kecenderungan-kecenderungan kebaikan dan menjauhkan manusia dari kecenderungan-kecenderungan syaitani.[25]
  • Perantara sampainya faidh (anugerah) Allah kepada makhluk-makhluk.[26]
  • Membebaskan manusia dari peperangan dan pertumpahan darah di dunia dan permusuhan satu sama lain.[27]

Maksud dari Seluruh Alam

Sifat rahmat Nabi Muhammad saw yang bersifat mutlak dalam ayat ini menyebabkan para mufasir Syiah dan Sunni menafsirkan cakupan rahmatnya untuk semua manusia,[28] di semua zaman[29] dari yang pertama hingga yang terakhir,[30] dan tanpa pengecualian mencakup kulit putih dan hitam, laki-laki dan perempuan, Arab dan Ajam, serta fakir dan kaya,[31] dan bahkan menganggap cakupannya meliputi semua makhluk[32] di semua alam dan benda-benda serta ruh-ruh.[33]

Dikatakan bahwa Nabi saw adalah rahmat bagi orang mukmin di dunia dan akhirat[34] dan dengan kata lain, beliau akan menjadi rahmat bagi semua jin dan manusia yang mengikuti agamanya;[35] dengan cara bahwa di dunia mereka mendapat petunjuk dan masuk ke dalam iman, dan di akhirat mereka juga pergi ke surga.[36]

Bagaimana Rahmat bagi Orang-Orang Kafir

Mengenai bahwa Nabi Muhammad saw juga merupakan rahmat bagi orang-orang kafir dan bagaimana rahmat ini akan terjadi, berbagai pendapat telah disebutkan dan contoh-contoh dalam hal ini telah diungkapkan yang mencakup orang-orang mukmin dan kafir; di antaranya adalah keberadaan pribadi Nabi saw dan kenabiannya[37] serta nikmat kehidupan dan pemanfaatan orang-orang kafir dari dunia[38] dan juga petunjuk mereka kepada iman, pahala abadi, dan meninggalkan dosa;[39] meskipun karena kelalaian[40] dan kelalaian,[41] mereka tidak menerima rahmat[42] dan menghalangi diri mereka dari nikmat ini[43] serta kehilangan kebahagiaan dunia dan akhirat.[44]

Oleh karena itu, ketidakmampuan orang-orang kafir memanfaatkan rahmat Nabi saw tidak mempengaruhi keumuman rahmat dan tidak merugikan sifat Nabi saw sebagai rahmat;[45] seperti orang kelaparan yang menghindari makan makanan,[46] atau pasien yang keras kepala yang menolak pergi ke rumah sakit yang lengkap.[47]

Berbagai Penafsiran

Para mufasir telah memberikan berbagai pemahaman terhadap ayat ini, di antaranya:

  • Rahmat Nabi Muhammad saw yang luas dan menyeluruh dalam ayat ini menunjukkan penutup kenabiannya (khatam an-nabiyyin)[48] dan merupakan dalil atas keuniversalan risalahnya,[49] serta cakupan global ajaran-ajaran Islam[50] dan ketidakternaskhannya (tidak dapat dihapusnya);[51] karena keberadaan Nabi adalah rahmat bagi seluruh umat manusia di masa depan hingga akhir zaman[52] dan tidak ada kebutuhan untuk Nabi lainnya.[53]
  • Rahmatnya juga mencakup Malaikat;[54] sebagaimana Jibril juga berbicara tentang keikutsertaannya dalam rahmat Nabi Muhammad saw;[55] meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama Ahlusunah mengenai apakah rahmat ini juga mencakup malaikat selain Jibril.[56]
  • Menunjukkan kebatilan keyakinan paham Ahli Jabr (fatalis) yang meyakini bahwa nikmat Ilahi tidak mencakup orang-orang kafir.[57]
  • Rahmat Nabi merupakan tanda pembeda dan perbedaan antara risalah Nabi Muhammad saw dengan rasul-rasul lainnya[58] dan beliau adalah makhluk paling utama;[59] sebagaimana terdapat perbedaan besar antara beliau dengan nabi-nabi lain seperti Nabi Isa as; karena dalam Surah Maryam[60] status Isa as. sebagai rahmat dibatasi untuk orang-orang yang beriman kepadanya, yang itu pun terputus setelahnya dengan dinasakhnya (dihapusnya) syariatnya; sedangkan status Nabi Muhammad saw sebagai rahmat disebutkan secara mutlak dan rahmatnya bagi seluruh alam tidak akan pernah terputus.[61]
  • Pemerintahan orang-orang saleh di bumi yang disebutkan dalam Surah Al-Anbiya' ayat 105]] merupakan perwujudan dari karunia dan rahmat yang diperoleh di bawah naungan risalah.[62]
  • Seluruh hukum dan perintah, termasuk Jihad, hudud (hukum pidana Islam), Kisas, serta hukuman-hukuman dan undang-undang pidana lainnya, merupakan rahmat bagi masyarakat manusia.[63]

Mengapa Nabi Muhammad saw Berperang?

Fakhruddin al-Razi, seorang faqih dan mufasir Ahlusunah pada abad ke-6 Hijriah, dalam menanggapi kontradiksi antara peperangan Nabi Muhammad saw dengan sifatnya sebagai rahmat, berkeyakinan bahwa beliau hanya memerangi para penguasa yang sombong (mustakbir) pada zamannya; sebagaimana pada masa Para nabi sebelumnya, orang-orang yang mendustakan mereka ditimpa azab Ilahi dan dimusnahkan; namun Nabi Muhammad saw memiliki akhlak yang sangat baik dan tidak pernah meminta azab untuk kaumnya; selain itu, rahmat Nabi dikhususkan untuk orang-orang beriman.[64]

Catatan Kaki

  1. Jawadi Amuli, "'Aqidah: Hadaf wa Nahj al-Anbiya'", hlm. 14.
  2. Khathib, Al-Tafsir al-Qur'ani lil-Qur'an, Beirut, jilid 9, hlm. 963.
  3. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jilid 14, hlm. 331; Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jilid 9, hlm. 255.
  4. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jilid 7, hlm. 107.
  5. Mudhaffar Najafi, Dalail al-Shidq, 1422 H, jilid 4, hlm. 150; Mughniyah, Al-Tafsir al-Mubin, Qum, hlm. 432.
  6. Haqqi al-Burusawi, Tafsir Ruh al-Bayan, Beirut, jilid 5, hlm. 528.
  7. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jilid 9, hlm. 256.
  8. Qummi al-Masyhadi, Kanz al-Daqa'iq, 1368 HS, jilid 8, hlm. 485; Suyuthi, Al-Durr al-Mantsur, 1404 H, jilid 4, hlm. 342; Faidh al-Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jilid 3, hlm. 358.
  9. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jilid 4, hlm. 149.
  10. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jilid 13, hlm. 526-527.
  11. Shadiqi Tehrani, Al-Furqan, 1365 HS, jilid 19, hlm. 384.
  12. Shadiqi Tehrani, Al-Furqan, 1365 HS, jilid 19, hlm. 384.
  13. Tsalabi, Al-Kasyf wa al-Bayan, 1422 H, jilid 6, hlm. 314.
  14. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jilid 13, hlm. 526-527.
  15. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jilid 14, hlm. 331.
  16. Fakhr ar-Razi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jilid 22, hlm. 193.
  17. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jilid 13, hlm. 526.
  18. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jilid 14, hlm. 331; Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jilid 17, hlm. 83.
  19. Mughniyah, Al-Tafsir al-Mubin, Qum, hlm. 432.
  20. Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Beirut, jilid 17, hlm. 78.
  21. Ibn 'Arabi, Tafsir Ibn 'Arabi, 1422 H, jilid 2, hlm. 52.
  22. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jilid 7, hlm. 391.
  23. Mawardi, Al-Nukat wa al-'Uyun, Beirut, jilid 3, hlm. 476.
  24. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jilid 7, hlm. 390.
  25. Fadhlullah, Tafsir Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jilid 15, hlm. 277.
  26. Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jilid 9, hlm. 100.
  27. Fakhr ar-Razi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jilid 22, hlm. 193.
  28. Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jilid 4, hlm. 62; Khathib, Al-Tafsir al-Qur'ani lil-Qur'an, Beirut, jilid 9, hlm. 963.
  29. Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jilid 5, hlm. 303; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jilid 13, hlm. 526.
  30. Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jilid 5, hlm. 303.
  31. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jilid 7, hlm. 391.
  32. Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jilid 9, hlm. 100.
  33. Haqqi al-Burusawi, Tafsir Ruh al-Bayan, Beirut, jilid 5, hlm. 528.
  34. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jilid 7, hlm. 107.
  35. Ibn Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jilid 3, hlm. 97.
  36. Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jilid 17, hlm. 83.
  37. Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jilid 13, hlm. 288.
  38. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jilid 9, hlm. 256.
  39. Syekh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jilid 7, hlm. 285; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jilid 7, hlm. 107.
  40. Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jilid 9, hlm. 99.
  41. Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jilid 13, hlm. 288.
  42. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jilid 7, hlm. 107.
  43. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jilid 9, hlm. 256; Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Beirut, jilid 17, hlm. 78.
  44. Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Beirut, jilid 17, hlm. 78.
  45. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jilid 13, hlm. 526.
  46. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jilid 7, hlm. 107.
  47. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jilid 13, hlm. 526.
  48. Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1377 H, jil. 6, hlm. 558; Husaini Hamedani, Anwar Darakhsyan, 1404 H, jil. 11, hlm. 113.
  49. Qiraati, Tafsir Nur, 1388 H, jil. 5, hlm. 505.
  50. Qiraati, Tafsir Nur, 1388 H, jil. 5, hlm. 505.
  51. Husaini Hamedani, Anwar Darakhsyan, 1404 H, jil. 11, hlm. 113.
  52. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 H, jil. 13, hlm. 526-527; Qiraati, Tafsir Nur, 1388 H, jil. 5, hlm. 505.
  53. Qiraati, Tafsir Nur, 1388 H, jil. 5, hlm. 505.
  54. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 H, jil. 13, hlm. 526-527.
  55. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 H, jil. 7, hlm. 107; Qumi Masyhadi, Kanz al-Daqa'iq, 1368 H, jil. 8, hlm. 485; Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jil. 3, hlm. 359; Shadiqi Tehrāni, al-Furqan, 1365 H, jil. 19, hlm. 385.
  56. Untuk informasi lebih lanjut, lihat: Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jil. 9, hlm. 99.
  57. Syekh Thusi, al-Tibyan, Beirut, jil. 7, hlm. 285; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 H, jil. 7, hlm. 107; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jil. 13, hlm. 288.
  58. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jil. 7, hlm. 391.
  59. Haqqi Burusawi, Tafsir Ruh al-Bayan, Beirut, jil. 5, hlm. 528.
  60. Q.S. Maryam: 21.
  61. Haqqi Burusawi, Tafsir Ruh al-Bayan, Beirut, jil. 5, hlm. 528.
  62. Qiraati, Tafsir Nur, 1388 H, jil. 5, hlm. 505.
  63. Qiraati, Tafsir Nur, 1388 H, jil. 5, hlm. 505.
  64. Fakhrurrazi, Tafsir al-Kabir, 1420 H, jil. 22, hlm. 193.

Daftar Pustaka

  • Alusi, Sayid Mahmud, Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-Azim, riset: Ali Abd al-Bari Atiyah, Beirut, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1415 H.
  • Abul Futuh Razi, Husain bin Ali, Rawd al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an, Masyhad, Astan Quds Radawi, 1408 H.
  • Ibnu Sulaiman, Muqatil, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, 1423 H.
  • Ibnu Arabi, Muhammad bin Ali, Tafsir Ibnu Arabi, Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, 1422 H.
  • Baidhawi, Abdullah bin Umar, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil, Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, 1418 H.
  • Tsa'labi, Ahmad bin Muhammad, al-Kasyf wa al-Bayan: Tafsir al-Tsalabi, Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, 1422 H.
  • Jawadi Amuli, "Aqidah: Hadaf wa Nahj al-Anbiya'", Nasyriyah Baqiyatullah, Nomor 10, Muharram 1413.
  • Husaini Hamedani, Sayid Muhammad, Anwar Darakhsyan, riset: Muhammad Baqir Bihudi, Teheran, Toko Buku Luthfi, 1404 H.
  • Haqqi Burusawi, Isma'il, Tafsir Ruh al-Bayan, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun.
  • Khathib, Abd al-Karim, al-Tafsir al-Qur'ani lil Qur'an, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun.
  • Sabzewari Najafi, Muhammad, Irshad al-Adzhan ila Tafsir al-Qur'an, Beirut, Dar al-Ta'aruf lil Mathbu'at, 1419 H.
  • Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakr, al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur, Qum, Perpustakaan Umum Ayatullah al-'Uzhma Mar'asyi Najafi (ra), 1404 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Thusi, al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Shadiqi Tehrani, Muhammad, al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an, Qum, Penerbitan Farhang Islami, 1365 H.
  • Thabathaba'i, Muhammad Husain, al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, Mu'assasah al-A'lami lil Mathbu'at, Cetakan Kedua, 1390 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Teheran, Nashir Khusru, Cetakan Ketiga, 1372 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
  • Thayyib, Abd al-Husain, Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Teheran, Penerbitan Islam, Cetakan Kedua, 1369 H.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar, al-Tafsir al-Kabir: Mafatih al-Ghaib, Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, Cetakan Ketiga, 1420 H.
  • Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain, Tafsir min Wahy al-Qur'an, Beirut, Dar al-Malak lil Thiba'ah wa al-Nasyr, 1419 H.
  • Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha, Tafsir al-Shafi, Teheran, Maktabah al-Shadr, Cetakan Kedua, 1415 H.
  • Qiraati, Muhsin, Tafsir Nur, Teheran, Markaz Farhangi Darsha-yi az Qur'an, 1388 H.
  • Qurasyi, Sayid Ali Akbar, Tafsir Ahsan al-Hadits, Teheran, Bunyad Bi'tsat, 1377 H.
  • Qurthubi, Muhammad bin Ahmad, al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Teheran, Nashir Khusru, 1364 H.
  • Qumi Masyhadi, Muhammad bin Muhammad Ridha, Tafsir Kanz al-Daqa'iq wa Bahr al-Ghara'ib, riset: Husain Dargahi, Teheran, Organisasi Percetakan dan Penerbitan Kementerian Ersyad Islami, 1368 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, al-Kafi, riset: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Mawardi, Ali bin Muhammad, al-Nukat wa al-'Uyun: Tafsir al-Mawardi, Beirut, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, tanpa tahun.
  • Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi, Min Huda al-Qur'an, Teheran, Dar Muhibbi al-Husain, 1419 H.
  • Maraghi, Ahmad bin Musthafa, Tafsir al-Maraghi, Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Muzhaffar Najafi, Muhammad Hasan, Dalail al-Shidq li Nahj al-Haqq, Qum, Mu'assasah Al al-Bait, 1422 H.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad, al-Tafsir al-Kasyif, Qum, Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad, al-Tafsir al-Mubin, Qum, Bunyad Bi'tsat, Cetakan Ke-3, tanpa tahun.
  • Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Nemuneh, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Ke-10, 1371 H.
  • Maibudi, Ahmad bin Muhammad, Kasyf al-Asrar wa 'Uddat al-Abrar, Teheran, Amir Kabir, Cetakan Ke-5, 1371 H.