Konsep:Ayat 103 Surah At-Taubah
| Informasi Ayat |
|---|
Templat:Kotak info ayatAyat 103 Surah At-Tawbah dilaporkan turun mengenai sekelompok kaum muslimin yang lalai dari berangkat menuju perang Tabuk dan untuk menebus kesalahan mereka, mereka mengirimkan harta benda kepada Nabi (saw), namun Nabi (saw) tidak menerimanya dan menunggu perintah Tuhan; hingga ayat ini turun dan di dalamnya memerintahkan kepada Nabi (saw) untuk mengambil sebagian dari harta mereka.[1] Tuhan dalam ayat ini memerintahkan Nabi (saw) untuk mendoakan (berselawat) para pembayar harta tersebut dan memanjatkan doa bagi mereka yang mana doa Nabi (saw) menjadi sebab ketenangan mereka.[2] Di akhir ayat juga ditekankan bahwa Tuhan mendengar doa Nabi (saw), dan juga mengetahui niat para pembayar zakat.[3]
Templat:Alquran Baru Templat:Alquran Baru
Ath-Thabarsi dalam Tafsir Majma' al-Bayan menganggap maksud dari sedekah dalam ayat ini adalah zakat wajib[4] dan meyakini bahwa seluruh kaum muslimin berkewajiban untuk membayarnya.[5] Menurut Makarim Syirazi, ketika Nabi (saw) hijrah ke Madinah dan mendirikan pemerintahan Islam, beliau membutuhkan baitul mal dan berdasarkan ayat ini beliau mendapat misi dari Tuhan untuk mengambil zakat secara langsung dari masyarakat, bukan mereka sendiri yang menggunakannya untuk sasaran-sasarannya. Dari ayat-ayat lain dipahami bahwa hukum kewajiban zakat telah turun di Makkah dan kaum muslimin telah berkewajiban untuk melaksanakannya.[6] Makarim Syirazi menganggap turunnya ayat 103 At-Tawbah pada tahun kedua Hijriah, kemudian sasaran-sasaran zakat dijelaskan dalam ayat 60 Surah At-Tawbah yang turun pada tahun kesembilan Hijriah.[7]
Menurut pandangan Allamah Thabathaba'i ungkapan "min amwalihim" (dari harta mereka) mengisyaratkan pada poin ini bahwa zakat diambil dari berbagai jenis dan golongan harta, zakat emas dan perak, zakat hewan, dan zakat dari hasil pertanian.[8] Para fakih, dengan memperhatikan ungkapan "tuthahhiruhum wa tuzakkihim", menganggap pengambilan harta adalah untuk menyucikan harta dan pemilik harta dari ketidaksucian.[9] Menurut Makarim Syirazi, pembayaran zakat, menyucikan individu dari sifat-sifat buruk moral dan sosial seperti cinta dunia dan juga menumbuhkan akhlak pada individu seperti altruisme (kepedulian terhadap sesama), serta menjadi sebab kemajuan masyarakat.[10]
Berdasarkan penuturan para mufasir, ayat ini adalah dalil atas kebolehan mengirimkan selawat kepada selain Nabi (saw)[11] dan menurut beberapa penukilan, Nabi (saw) saat menerima zakat dari keluarga Abu Aufa bersabda: "Allahumma shalli 'ala Ali Abi Aufa" (Ya Allah, berselawatlah kepada keluarga Abu Aufa)[12] Menurut Abdullah Jawadi Amuli, mufasir Syiah, karena Nabi (saw) adalah teladan yang baik,[13] kita dapat menjadikan Nabi (saw) sebagai teladan dan mengirimkan selawat kepada orang lain.[14]
Catatan Kaki
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1394 HS, jld. 35, hlm. 219.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1394 HS, jld. 35, hlm. 219.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemouneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 119.
- ↑ Thabarsi, Tafsir Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 102.
- ↑ Thabarsi, Tafsir Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 102.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemouneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 9.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemouneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 9.
- ↑ Thabathaba'i, Tafsir al-Mizan, 1390 H, jld. 9, hlm. 377.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1394 HS, jld. 35, hlm. 219.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemouneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 118 dan 119.
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1394 HS, jld. 35, hlm. 231.
- ↑ Fakhr ar-Razi, At-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 16, hlm. 136; Ridha, Tafsir al-Manar, 1414 H, jld. 11, hlm. 21.
- ↑ Surah Al-Ahzab, ayat 21.
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1394 HS, jld. 35, hlm. 231.
Daftar Pustaka
- Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Qom, Asra', Cetakan Pertama, 1394 HS.
- Ridha, Muhammad Rasyid. Tafsir al-Manar. Lebanon, Dar al-Ma'rifah, Cetakan Pertama, 1414 H.
- Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Lebanon, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, Cetakan Kedua, 1390 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Hasyim Rasuli dan Fadhlullah Yazdi Thabathaba'i. Teheran, Nashir Khosrow, Cetakan Ketiga, 1372 HS.
- Fakhr ar-Razi, Muhammad bin Umar. At-Tafsir al-Kabir. Lebanon, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, Cetakan Ketiga, 1420 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemouneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Kesepuluh, 1371 HS.