Lompat ke isi

Konsep:Alam Jabarut

Dari wikishia

Alam Jabarut (bahasa Arab: عالَم الجَبَروت) atau Dunia Jabarut merupakan terminologi yang merujuk pada alam akal murni yang sepenuhnya terbebas dari jeratan materi fisik beserta seluruh karakteristik jasmaniahnya. Sebagian pemikir dan urafa memandang alam ini sebagai lokus manifestasi bagi Zat dan Sifat-sifat Allah.

Dalam hierarki penciptaan atau kosmologi Islam, Alam Jabarut menempati posisi di bawah Alam Lahut, namun berada di atas tingkatan Alam Malakut dan Alam Nasut. Secara esensial, alam ini melingkupi dan membersamai seluruh partikel penyusun alam semesta. Ditinjau dari segi keagungan dan keluasannya, Alam Jabarut tidak tertandingi oleh Alam Malakut maupun Nasut; sebaliknya, ia merupakan prinsip awal (mabda') sekaligus kausa bagi kemunculan kedua alam tersebut. Segala entitas dan perkara eksis secara global (ijmali) di alam ini, sementara Alam Mulk (Nasut) dan Malakut berperan sebagai medium perwujudannya secara terperinci (tafshili).

Sejumlah mufasir merujuk pada eksistensi alam ini dalam kajian penafsiran berbagai ayat suci. Selain itu, istilah ini juga digunakan secara luas di dalam berbagai manuskrip riwayat serta untaian doa-doa Islam.

Beragam karakteristik khusus dinisbatkan pada Alam Jabarut, di antaranya: ketidakterjangkauannya oleh panca indra, posisinya sebagai lokus panggung Kiamat Kubra, serta kedudukannya sebagai wadah eksistensial bagi Nama-nama Ilahi. Lebih jauh, alam ini terbebas dari segala bentuk potensi (quwwah), predisposisi (isti'dad), gerak mekanis, maupun limitasi bentuk dan rupa fisik. Melalui ketaatan yang paripurna kepada Allah, seorang manusia dimungkinkan untuk memahami hakikatnya dan melakukan rute perjalanan spiritual melintasi Alam Gaib ini. Para urafa dan penempuh jalan spiritual (salik) senantiasa berupaya merengkuh alam transenden ini—sebuah laku batin yang pada gilirannya banyak mewarnai dan merefleksikan khazanah sastra serta puisi sufistik.

Terminologi

Alam Jabarut merupakan sebuah istilah teknis di dalam diskursus filsafat dan irfan[1] yang berkonotasi pada akal-akal universal (uqul kulliyah)[2] atau alam akal murni yang sepenuhnya teralienasi dari materi, bentuk fisik,[3] maupun durasi temporal (waktu).[4] Alam ini kerap pula dideskripsikan sebagai alam mujarradat (entitas metafisik nonmateri) yang suci dari belenggu jasad.[5] Sebagian ulama mengidentifikasikannya sebagai alam Zat Yang Mahasiap (Qadim),[6] alam Sifat Al-Haqq,[7] serta kesatuan lokus bagi Zat dan Sifat-sifat Allah.[8]

Sejumlah peneliti mengklasifikasikan alam ini ke dalam dua tingkatan utama, yakni "Jabarut Tertinggi" (A'la) dan "Jabarut Terendah" (Asfal).[9] Dalam karya Syarh Chehel Hadith, Imam Khomeini secara khusus mengafirmasi keberadaan Jabarut A'la dengan menyatakan bahwa barisan Malaikat muqarrabin (yang didekatkan) adalah entitas penghuni alam tersebut, di mana Jibril Al-Amin menduduki hierarki puncaknya.[10] Sementara itu, nomenklatur "Jabarut Uzma" juga dapat dijumpai di pelbagai literatur klasik.[11]

Dalam berbagai khazanah keilmuan, alam ini masyhur pula dengan beragam padanan nama, di antaranya: Siklus Agung (Daurah Uzma),[12] Alam Amar,[13] Alam Mahiyat (Realitas Esensial), Alam Malakut Akbar,[14] Alam Ruhani,[15] Alam Cahaya Penakluk (Anwar Qahirah), serta Lauh Mahfuz.[16] Di kalangan para hukama dan Filsuf, entitas ini lebih jamak direferensikan sebagai Alam Akal (Alam al-Uqul).[17]

Dalam Sumber Islam

Sebagian ahli tafsir meyakini bahwa Al-Qur'anul Karim memberikan isyarat mengenai eksistensi alam ini lewat diksi Ummul Kitab atau Fashl al-Khithab,[18] seraya memosisikannya sebagai muara bagi segala Ketetapan Ilahi.[19] Para mufasir lainnya menginterpretasikan muqatta'at huruf "Nun" yang mengawali Surah Al-Qalam sebagai representasi puitis dari Alam Jabarut.[20] Dalam konteks penafsiran yang lebih esoteris, keberadaan frasa Lembah Suci (Wadi Muqaddas) pada redaksi ayat, "Maka lepaskanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa" (QS. Thaha: 12), turut dimaknai sebagai dimensi batiniah dari Alam Jabarut.[21]

Terminologi Jabarut kerap bermunculan dalam pelbagai teks riwayat dan susunan doa-doa Islam, salah satunya dapat dilacak pada penggunaan frasa "Jabarut Allah".[22] Hal ini selaras dengan sebuah riwayat autentik dari Imam Shadiq as, yang menjelaskan bahwa alam ini memegang peran sebagai fondasi fundamental bagi Alam Malakut, di mana Malakut itu sendiri tidak lain merupakan wujud pancaran (manifestasi) dari keagungan Jabarut.[23]

Kedudukan dalam Kosmologi

Tergantung pada paradigma yang digunakan (baik skema tripartit,[24] caturpartit,[25] maupun pentapartit alam semesta), Alam Jabarut senantiasa menempati posisi sentral, yakni di bawah tingkat Alam Lahut[26] dan persis di atas Alam Malakut.[27] Di hierarki yang paling inferior di bawah alam-alam tersebut, barulah bersemayam Alam Mulk atau Alam Nasut.[28] Dengan konfigurasi sedemikian rupa, Jabarut menjelma sebagai alam yang memiliki jarak ontologis terdekat dengan batas-batas Alam Gaib Mutlak.

Alam Jabarut diposisikan sebagai cikal bakal sekaligus kausa prima dari penciptaan Alam Mulk maupun Malakut.[29] Ia memiliki hegemoni atas Alam Malakut, sedemikian masifnya sehingga eksistensi Malakut itu sendiri sepenuhnya bergantung (qa'im) pada keberadaan Jabarut,[30] sama halnya dengan determinasi Alam Mulk yang bertumpu pada daya Malakut. Segenap realitas yang bersifat global (mujmal) di Alam Jabarut akan senantiasa terproyeksikan dan termanifestasi secara terperinci (tafshili) tatkala merengkuh domain Alam Malakut serta Mulk.[31]

Alam Jabarut merupakan maqam tempat bersemayamnya pendaran Arwah Thayyibah dan kumpulan Malaikat Karubiyin.[32] Deretan sifat-sifat paripurna semisal Hayat (Hidup), Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), Nuthq (Bicara), Ilmu, Iradah, Qudrah, Hikmah, serta Rahmat dan Luthf secara metaforis diyakini berfungsi sebagai tabir atau hijab (hijab) pelindung bagi keagungan alam ini.[33]

Karakteristik

Dalam pelbagai risalah yang disusun oleh para filsuf dan arif, Alam Jabarut senantiasa diilustrasikan dengan seperangkat karakteristik yang khas. Alam ini merupakan sumber pancaran bagi seluruh entitas tunggal (mufradat) maupun majemuk (murakkabat) yang tersebar di sepenjuru alam semesta.[34] Walaupun demikian, esensi-esensi (mahiyat) yang terkandung di dalamnya masih bersifat embrionik, tersembunyi, dan global; esensi tersebut baru akan mengejawantah sebagai wujud terperinci tatkala mencapai dimensi alam yang lebih rendah.[35] Kapasitas indrawi manusia dinilai tidak berdaya untuk menjangkau hakikat alam ini, bahkan daya rasionalitas akal sekalipun akan dibuat tertegun kebingungan di hadapan keagungannya.[36] Secara intrinsik, Alam Jabarut tidak terikat oleh limitasi bentuk, determinasi ruang-waktu, maupun atribut fisikal apa pun; sehingga di dalamnya mustahil dijumpai probabilitas gerak, dinamika perubahan, apalagi kehancuran.[37] Alam absolut ini bertindak sebagai lokus agung tempat bersemayamnya manifestasi Nama-nama Ilahi[38] beserta Nama Teragung Allah (Ism al-A'zham).

Manusia dan Jabarut

Sejumlah pemikir sufi berpandangan bahwa eksistensi manusia pada dasarnya adalah manifestasi holistik dari keseluruhan alam semesta, terkhusus lagi merupakan representasi paripurna dari kerangka Alam Jabarut.[39] Realitas seluruh alam kodrati ini sejatinya diciptakan demi pelayanan kemanusiaan serta diposisikan berada di bawah kapasitas kendalinya. Ruh rohaniah manusia terberkati dengan daya kemampuan untuk meniti rute perjalanan spiritual (sair) guna menembus demarkasi alam-alam tersebut.[40] Terlepas dari tabiat Alam Jabarut yang nirwujud dan tak kasatmata, manusia memiliki privilese untuk memahaminya lewat perantaraan "kunci-kunci Ilahi", penggemblengan tarbiah spiritual, serta ketundukan syariat yang lurus (mutaba'at).[41] Oleh karenanya, pencapaian alam agung ini didambakan dan menjelma sebagai salah satu destinasi utama bagi para pejalan ruhani (salik) dan urafa[42] yang konsisten melatih diri demi terlepas dari jeratan realitas indrawi yang fana, menuju pelukan dimensi agung nan transenden di luar batas-batas panca indra.[43]

Sebagian kaum sufi kerap menarasikan perbandingan puitis antara keluasan Alam Jabarut dan Alam Malakut sebagaimana perbandingan antara semesta dunia luar dengan sempitnya rongga rahim seorang ibu. Mereka menegaskan keyakinan bahwa tatkala seorang salik berhasil meretas masuk ke dimensi Alam Jabarut, ia akan segera menyadari hakikat sejati alam transenden tersebut seraya mendapati betapa terbelenggu dan terbatasnya hamparan Alam Malakut yang pernah dijejakinya. Skala keagungan Alam Jabarut dipandang senantiasa melampaui batas dan sama sekali tidak terhingga; sedemikian rupa sehingga apabila dipertautkan dan disandingkan, eksistensi Alam Malakut tidak lebih dari sekadar setetes air hina yang terombang-ambing di tengah rimbunnya samudra mahaluas.[44]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Sajjadi, Farhang-e Ma'arif-e Islami, 1373 HS, jld. 1, hlm. 630.
  2. Nasafi, Zubdah al-Haqa'iq, 1381 HS, hlm. 119.
  3. Suhrawardi, Majmu'eh Mushannafat-e Syaikh-e Isyraq, 1375 HS, jld. 3, hlm. 65.
  4. Sajjadi, Farhang-e Ma'arif-e Islami, 1373 HS, jld. 1, hlm. 631.
  5. Amin, Makhzan al-Irfan fi Tafsir al-Qur'an, 1361 HS, jld. 12, hlm. 23.
  6. Ardestani, Mir'at al-Afrad, 1371 HS, hlm. 291.
  7. Raz Syirazi, Manahij Anwar al-Ma'rifah, 1363 HS, jld. 2, hlm. 633.
  8. Nasafi, Bayan al-Tanzil, 1379 HS, hlm. 126.
  9. Asytiyani, Syarh-e Muqaddame-ye Qaysari, 1370 HS, hlm. 459.
  10. Imam Khomeini, Syarh-e Chehel Hadith, 1380 HS, hlm. 415.
  11. Imam Khomeini, Syarh-e Chehel Hadith, 1380 HS, hlm. 645.
  12. Dehdari Syirazi, Syarh Khuthbah al-Bayan, 1380 HS, hlm. 46.
  13. Kasyani, Majmu'eh Rasail va Mushannafat, 1380 HS, hlm. 314.
  14. Suhrawardi, Majmu'eh Mushannafat-e Syaikh-e Isyraq, 1375 HS, jld. 3, hlm. 65.
  15. Sajjadi, Farhang-e Ma'arif-e Islami, 1373 HS, jld. 2, hlm. 1226.
  16. Nasafi, al-Insan al-Kamil, 1386 HS, hlm. 373.
  17. Sabzawari, Syarh-e Golsyan-e Raz, 1386 HS, hlm. 540.
  18. Asytiyani, Syarh-e Muqaddame-ye Qaysari, 1370 HS, hlm. 459.
  19. Kasyani, Majmu'eh Rasail va Mushannafat, 1380 HS, hlm. 222.
  20. Nasafi, Bayan al-Tanzil, 1379 HS, hlm. 60.
  21. Semnani, Mushannafat-e Farsi, 1373 HS, hlm. 142.
  22. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 572.
  23. Bahai, Minhaj al-Najah, 1384 HS, hlm. 26.
  24. Suhrawardi, Majmu'eh Mushannafat-e Syaikh-e Isyraq, 1375 HS, jld. 3, hlm. 65.
  25. Sabzawari, Asrar al-Hikam, 1383 HS, hlm. 648.
  26. Amin, Makhzan al-Irfan fi Tafsir al-Qur'an, 1361 HS, jld. 12, hlm. 23.
  27. Hasanzadeh Amoli, Mummad al-Himam, 1378 HS, hlm. 187.
  28. Kulaini, Ushul al-Kafi, 1375 HS, jld. 4, hlm. 672.
  29. Sajjadi, Farhang-e Ma'arif-e Islami, 1373 HS, jld. 1, hlm. 631.
  30. Baqli Syirazi, Syarh Syathhiyat, 1374 HS, hlm. 64.
  31. Nasafi, Zubdah al-Haqa'iq, 1381 HS, hlm. 76.
  32. Kasyani, Majmu'eh Rasail va Mushannafat, 1380 HS, hlm. 315.
  33. Sajjadi, Farhang-e Ma'arif-e Islami, 1373 HS, jld. 2, hlm. 1225.
  34. Nasafi, al-Insan al-Kamil, 1386 HS, hlm. 374.
  35. Nasafi, Bayan al-Tanzil, 1379 HS, hlm. 61.
  36. Nasafi, al-Insan al-Kamil, 1386 HS, hlm. 208.
  37. Nasafi, Zubdah al-Haqa'iq, 1381 HS, hlm. 77.
  38. Khomeini, Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah, 1376 HS, hlm. 72.
  39. Khwarizmi, Syarh Fushush al-Hikam, 1379 HS, hlm. 36; Sajjadi, Farhang-e Ma'arif-e Islami, 1373 HS, jld. 2, hlm. 739.
  40. Dehdari Syirazi, Rasail-e Dehdar, 1375 HS, hlm. 93.
  41. Sajjadi, Farhang-e Istilahat-e Falsafi-ye Mulla Sadra, 1379 HS, hlm. 373.
  42. Bahrul 'Ulum, Risaleh-ye Seir va Suluk, 1425 H, hlm. 106.
  43. Zarrinkoub, Sirr-e Ney, 1378 HS, jld. 1, hlm. 564.
  44. Nasafi, al-Insan al-Kamil, 1386 HS, hlm. 206.

Daftar Pustaka

  • Amin, Sayyidah Nusrat. Makhzan al-Irfan fi Tafsir al-Qur'an. Tehran: Nahdhat-e Zanan-e Musalman, 1361 HS.
  • Ardestani, Pir Jamaluddin Muhammad. Mir'at al-Afrad. Tehran: Penerbit Zawar, 1371 HS.
  • Asytiyani, Sayid Jalaluddin. Syarh Muqaddame-ye Qaysari bar Fushush al-Hikam. Tehran: Penerbit Amirkabir, 1370 HS.
  • Ahmadpour, Mahdi. Ketab-syenasy-e Akhlaq-e Islami. Qom: Pajoheshgah Ulum va Farhang Islami, 1385 HS.
  • Bahrul 'Ulum, Muhammad Mahdi. Risaleh-ye Seir va Suluk. Masyhad: Malakut-e Nur-e Qur'an, 1425 H.
  • Baqli Syirazi, Rozbehan. Syarh-e Syathhiyat. Tehran: Penerbit Tahouri, 1374 HS.
  • Bahai, Muhammad bin Husain. Minhaj al-Najah fi Tarjume-ye Miftah al-Falah. Terjemahan Ali bin Thaifur Bastami. Riset: Hasan Hasanzadeh Amoli. Tehran: Hikmat, 1384 HS.
  • Dehdari Syirazi, Muhammad bin Mahmoud. Rasail-e Dehdar. Tehran: Markaz Pajohesh-e Mirats Maktub, 1375 HS.
  • Dehdari Syirazi, Muhammad bin Mahmoud. Syarh Khuthbah al-Bayan. Tehran: Saeb, 1380 HS.
  • Ghazzali, Muhammad bin Muhammad. Ihya Ulum al-Din. Terjemahan. Tehran: Syerkat-e Entesyarat-e Ilmi va Farhangi, 1386 HS.
  • Gholpinarli, Abdul Baqi. Natsr va Syarh-e Matsnawi. Tehran: Organisasi Penerbitan Kementerian Irsyad Islami, 1371 HS.
  • Hasanzadeh Amoli, Hasan. Mummad al-Himam dar Syarh Fushush al-Hikam. Tehran: Organisasi Penerbitan Kementerian Irsyad Islami, 1378 HS.
  • Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali. Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Riset: Ali Akbar Ghaffari. Qom: Daftar Entesyarat Islami, 1413 H.
  • Ibnu Hayyun, Nu'man bin Muhammad. Da'aim al-Islam. Riset: Asif Faidhi. Qom: Muassasah Al al-Bait as, 1385 H.
  • Imam Khomeini, Ruhullah. Syarh-e Chehel Hadith. Qom: Muassasah Tanzhim va Nasyr Atsar-e Imam Khomeini, 1380 HS.
  • Imam Khomeini, Ruhullah. Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah. Tehran: Muassasah Tanzhim va Nasyr Atsar-e Imam Khomeini, 1376 HS.
  • Kasyani, Abdurrazzaq. Majmu'eh Rasail va Mushannafat. Tehran: Mirats Maktub, 1380 HS.
  • Khwarizmi, Tajuddin Husain. Syarh Fushush al-Hikam. Qom: Bustan-e Ketab, 1379 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. al-Kafi. Riset: Ali Akbar Ghaffari. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Mas'udi, Ali bin Husain. Itsbat al-Washiyyah. Qom: Anshariyan, 1426 H.
  • Mazhahiri, Husain. Seir va Suluk; Yaqzhah (Bidari). Qom: Muassasah az-Zahra sa, 1389 HS.
  • Nasafi, Azizuddin. al-Insan al-Kamil. Tehran: Penerbit Tahouri, 1386 HS.
  • Nasafi, Azizuddin. Bayan al-Tanzil. Tehran: Anjuman Atsar va Mafakhir Farhangi, 1379 HS.
  • Nasafi, Azizuddin. Zubdah al-Haqa'iq. Tehran: Penerbit Tahouri, 1381 HS.
  • Raz Syirazi, Abu al-Qasim. Manahij Anwar al-Ma'rifah fi Syarh Misbah al-Syari'ah. Tehran: Khanqah Ahmadi, 1363 HS.
  • Sabzawari, Hadi bin Muhammad. Asrar al-Hikam. Riset: Karim Faidhi. Qom: Mathbu'at Dini, 1383 HS.
  • Sajjadi, Sayid Ja'far. Farhang-e Ma'arif-e Islami. Tehran: Penerbit Universitas Tehran, 1373 HS.
  • Sajjadi, Sayid Ja'far. Farhang-e Istilahat-e Falsafi-ye Mulla Sadra. Tehran: Kementerian Irsyad Islami, 1379 HS.
  • Suhrawardi, Syihabuddin. Majmu'eh Mushannafat-e Syaikh-e Isyraq. Tehran: Muassasah Mutala'at va Tahqiqat Farhangi, 1375 HS.
  • Suhrawardi, Syihabuddin. Hayakil al-Nur. Tehran: Nasyr Nuqthah, 1379 HS.
  • Syirawani, Zainul Abidin. Bustan al-Siyahah. Tehran: Chaphane-ye Ahmadi, 1315 HS.
  • Zarrinkoub, Abdul Husain. Sirr-e Ney. Tehran: Entesyarat Ilmi, 1387 HS.