Gagal membuat miniatur: Tidak dapat menyimpan berkas kecil ke tujuan
tanpa navbox

Sidrah al-Muntaha

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Lukisan yang berkaitan dengan hadis Sidrah al-Muntaha pada halaman 31 Mi'rajnameh cet. Paris

Sidrah al-Muntaha (bahasa Arab: سِدرَةُ المُنتَهیٰ) adalah sebuah tempat atau pohon di langit yang disinggung dalam Alquran dan hadis mikraj. Nabi Muhammad saw dalam perjalanan mikrajnya menyaksikan sidrah al-muntaha.

Dalam Alquran dan Riwayat

Ungkapan Sidrah al-Muntaha digunakan Alquran dalam surah An-Najm. Ayat-ayat disekitarnya berkaitan dengan kisah mikraj Nabi Muhammad saw dan cara ia menerima wahyu:

ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّیٰ ﴿۸﴾ فَکانَ قَابَ قَوْسَینِ أَوْ أَدْنَیٰ ﴿۹﴾ فَأَوْحَیٰ إِلَیٰ عَبْدِهِ مَا أَوْحَیٰ ﴿۱۰﴾ مَا کذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَ‌أَیٰ ﴿۱۱﴾ أَفَتُمَارُ‌ونَهُ عَلَیٰ مَا یرَ‌یٰ ﴿۱۲﴾ وَلَقَدْ رَ‌آهُ نَزْلَةً أُخْرَ‌یٰ ﴿۱۳﴾ عِندَ سِدْرَ‌ةِ الْمُنتَهَیٰ ﴿۱۴﴾ عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَیٰ ﴿۱۵﴾

"Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi (8). Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi) (9). Lalu dia menyampaikan kepada hambanya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan (10). Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya (11). Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? (12). Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain (13), (yaitu) di Sidratil Muntaha (14). Di dekatnya ada surga tempat tinggal (15)."

Ayat 8 sampai 11 berkaitan dengan pertemuan Rasulullah saw dengan sumber wahyu dan pada ayat 12 menyinggung sebagian orang-orang yang mengingkari pertemuan tersebut. Selanjutnya Alquran menyebutkan pertemuan sebelumnya Nabi Muhammad saw terjadi di Sidrah al-Muntaha.

Sidrah al-Muntaha juga disebutkan dalam beberapa hadis. Misalnya, ada hadits dari Nabi Muhammad saw di mana ia berkata:

"Kemudian Allah swt berbicara kepadaku dan aku berbicara kepada-Nya. Kemudian aku melihat surga, neraka, 'arsy dan sidrah al-Muntaha, lalu kemudian aku kembali ke Mekah." [1]

Kedudukan Pembahasan

Para ahli tafsir memberikan penafsiran yang berbeda-beda mengenai Sidrah al-Muntaha. Para teolog juga membahas masalah ini dalam pembahasan mengenai mikraj dan surga. Dikalangan ahli irfan, Sidrah al-Muntaha diyakini sebagai simbol kedekatan tertinggi dengan Tuhan.[2]

Penamaan

Dalam Tafsir al-Qurthubi disebutkan 9 bentuk penamaan dari Sidrah al-Muntaha. Diantaranya adalah bahwa pengetahuan para Nabi berakhir kepadanya dan tidak bisa melampauinya, setiap orang yang menjalankan sunnah dan sirah Muhammad saw maka akan berakhir kepadanya dan siapa saja yang mencapai kedudukan tersebut niscaya akan meraih puncak akhir kemulian. [3]

Makna

Mengenai arti dan makna dari Sidrah al-Muntaha, ada dua pendapat.

Pohon di langit

Menurut beberapa hadits, Sidrah al-Muntaha adalah sebatang pohon di langit. Dalam hadis disebutkan mengenai beragam karakteristiknya seperti keluasan bayangan, ketebalan batang, kerimbunan cabang dan daun, warna-warni buahnya, penutup emasnya dan ciri-ciri lainnya. [4]

Dalam Tafsir al-Mizan, kata "sidra" berarti pohon sadr dan kata "muntaha" adalah nama sebuah tempat yang kemungkinannya berada dibatas paling atas langit.[5]

Menurut Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, "sidra" adalah pohon di atas langit ketujuh di sisi kanan 'Arsy yang merupakan batas maksimal dari ilmu para malaikat.[6]

Pada sebagian riwayat, Sidrah al-Muntaha adalah pohon Tuba.[7][8]

Menurut beberapa hadis, "Sidrat al-Muntaha" adalah juga Pohon Tuba.

Sebuah Tempat di Langit

Pada sebagian sumber dan hasil penelitian terbaru, Sidrah al-Muntaha adalah sebuah tempat yang berada di langit. Dalam Tafsir Nemuneh disebutkan maksud dari Sidrah al-Muntaha adalah tirai atau langit-langit agung yang berada dalam rahmat Allah. Disebutkan, mengenai Sidrah al-Muntaha meskipun tidak dijelaskan lebih detail dalam Alquran namun dalam hadis diterangkan berbagai deskripsi berkaitan dengannya. Semua interpretasi ini menunjukkan maksud dari Sidrah al-Muntaha tidak seperti pohon sebagaimana yang dilihat di dunia, melainkan mengacu pada tirai agung yang berada dalam lingkungan rahmat Ilahi yang digambarkan seperti pohon yang para malaikat bertasbih didedaunannya dan kelompok orang-orang yang benar dan suci berteduh di bayangannya. [9]

Ahmad Paketchi berpendapat bahwa mengingat Surah An-Najm, khususnya ayat-ayat yang dimaksud adalah ayat-ayat Makkiyah [10] maka Sidrah al-Muntaha sudah pasti sesuatu yang dikenali dan tidak asing bagi penduduk musyrik Mekah yang menjadi mukhatab (audien) Nabi Muhammad saw. Dengan bersandar pada bukti-bukti, ia berpendapat Sidrah al-Muntaha adalah tempat terjauh dan paling bersinar di langit.[11]

Dalam Irfan Islami

Dalam karya-karya ahli irfan, Sidrah al-Muntaha digunakan sebagai simbol untuk tingkat tertinggi dan kedekatan dengan Tuhan. Misalnya 'Ain al-Qudhat Hamadani (abad ke-6 H) mengatakan: "Jika pencari jalan kebenaran menyelamatkan dirinya dari perangkap setan dan menghindari pikiran yang menciderai kesucian niat dan keikhlasannya, maka dalam kondisi tersebut ia akan selamat dari semua masalah dan penderitaan dan mencapai Sidrah al-Muntaha"[12]

Catatan Kaki

  1. Thabarsi, Majma' al-Bayan, Dar al-Ma'rifah, jld. 6, hlm. 610
  2. Paketchi, Ahmad, Bazkhani Mafhum Sidrah al-Muntaha ba Ruyekard Ghuftemani, Fashlnameh Shahifah Mubin, no. 57, hlm. 9
  3. Qurthubi, Tafsir Qurthubi, jld. 17, hlm. 95
  4. Mudarrisi, Sayid Hasan, Sidrah al-Muntaha dar Fadhai Farhang-e Iran, Majalah Misykat, No. 29, hlm. 30
  5. Allamah Thabathabai, Tafsir al-Mizan, jld. 19, pada penjelasan ayat 14 surah al-Najm
  6. Majma' al-Bayan fi Tafsir Al-Qur'an, Dar al-Ma'rifah, jld. 9, hlm. 265
  7. Abu al-Futuh Razi, Raudh al-Jinan, jld. 18, hlm. 173
  8. Majma' al-Bayan fi Tafsir Al-Qur'an, Dar al-Ma'rifah, jld. 9, hlm. 265
  9. Makarim, Tafsir Nemuneh, jld. 22, hlm. 506-507
  10. Thabari, al-Tafsir, jld. 27, hlm. 40
  11. Paketchi, Ahmad, Bazkhani Mafhum Sidrah al-Muntaha ba Rawikard Ghuftemani, Fashlnameh Shahifah Mubin, nmr. 58, hlm. 7-46
  12. 'Ain al-Qudhat Hamadani, Tamhidāt, Kitabkhaneh Manucehri, hlm. 49

Daftar Pustaka

  • Ain al-Quḍhāh al-Hamadānī. At-Tamhidāt. Penerbit Manouchehri.
  • Paketchi, Ahmad. Baz Khāni Mafhum-e Sidrat al-Muntaha bā Ruykard-e Guftemāni. Jurnal triwulanan Shahifah Mubin, no. 58, 1384 S.
  • Mudarrisi, Sayid Hasan. Sidrat al-Muntaha dar Fazāye Farhang-e Iran. Majalah Misykat, no. 29. 1369 S.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. At-Tafsir. Beirut: Dar al-Fikr, 1405 H.
  • Thabrisi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayān fi Tafsir al-Quran. Dar al-Ma'rifah.
  • Abu al-Futuh al-Rāzi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinān wa Rauh al-Janān fi Tafsir al-Quran. Dieditkan oleh Muhammad Ja'far Yā Haqqi. Masyhad: Bunyād-e Pazhuhesyhā-ye Islami Āstān-e Razavi, 1376 HS.
  • Qurthubi. Tafsir al-Qurthubi. Beirut: Dar Ihya' al-Turāts al-'Arabi, 1405 H.