Lompat ke isi

Konsep:Tuma'ninah

Dari wikishia

Tuma'ninah atau Istiqrar dalam salat, bermakna ketenangan dan diamnya tubuh orang yang salat dan terhitung sebagai salah satu kewajiban salat. Konsep ini ditinjau dari dua sisi: satu berkaitan dengan kondisi tubuh orang yang salat yang harus tenang dan tanpa gerakan tambahan, dan yang lain berkaitan dengan tempat orang yang salat yang harus diam (tidak bergerak) dan menghadap kiblat.

Menurut para fukaha, jika tuma'ninah tidak dijaga dalam salat, khususnya pada zikir-zikir dan berdiri (qiyam), maka salatnya batal. Sebagian riwayat sangat menekankan pada tidak diterimanya salat tanpa tuma'ninah dan menganggapnya setara dengan azab orang yang meninggalkan salat (tarik al-shalah). Selain itu, jika orang yang salat dengan sengaja tidak menjaga tuma'ninah, ia harus mengulangi salatnya.

Para fukaha tidak menganggap tuma'ninah sebagai rukun salat dan jika terlupa, salat tidak batal. Tuma'ninah diwajibkan pada berbagai bagian salat, seperti pembacaan zikir, berdiri setelah rukuk, duduk di antara dua sujud, dan duduk istirahat. Dalam salat berjemaah, menjaga tuma'ninah tidak wajib bagi makmum.

Dalam zikir-zikir mustahab salat, jika zikir khusus diucapkan untuk bagian tertentu dari salat (seperti takbir sebelum sujud), maka harus ditunaikan dengan tuma'ninah. Jika diucapkan tanpa tuma'ninah, salatnya batal dan harus diulang. Namun, jika zikir mustahab tersebut untuk keseluruhan salat, tuma'ninah tidaklah urgen. Selain itu, dalam kondisi sakit, menjaga tuma'ninah dalam zikir-zikir mustahab tidak wajib.

Terminologi

Tuma'ninah atau Istiqrar[1] dalam salat bermakna diam, tenang,[2] dan tetapnya[3] tubuh di dalam salat dan terhitung sebagai salah satu kewajiban salat.[4] Dikatakan bahwa konsep ini dapat diperhatikan dalam dua bentuk: satu dari sudut pandang kondisi tubuh orang yang salat di mana ketenangan dan ketiadaan gerakan tambahan diperlukan, dan yang lain dari sudut pandang tempat orang yang salat yang harus tetap dan tenang.[5] Mengenai kewajiban tuma'ninah, terdapat ijmak di antara para fukaha,[6] sedemikian rupa sehingga sebagian ulama menganggap tidak terjaganya tuma'ninah dalam salat mustahab juga menyebabkan batalnya salat tersebut.[7]

Sebagian riwayat juga menekankan pada tidak diterimanya salat tanpa tuma'ninah dan menganggapnya setara dengan azab orang yang meninggalkan salat, meskipun tidak menganggap hukumnya seperti orang yang meninggalkan salat.[8] Nabi Muhammad saw menyerupakan orang yang tidak menjaga tuma'ninah dalam salat dengan burung gagak yang sedang mematuk biji dan bersabda: "Jika ia mati dalam keadaan ini, ia akan mati dalam agama selain agamaku."[9]

Hukum Syar'i Tuma'ninah

Para fukaha tidak menganggap tuma'ninah sebagai rukun salat dan jika terlupa, salat tidak batal.[10] Kadar tuma'ninah bergantung pada 'urf (adat kebiasaan)[11] dan sekadar ketenangan ini tercapai, itu sudah cukup.[12] Dalam salat berjemaah, menjaga tuma'ninah tidak wajib bagi makmum.[13] Jika tuma'ninah hilang karena faktor eksternal seperti angin, disunahkan bagi orang yang salat untuk mengulangi salatnya setelah tubuh menjadi tenang.[14] Menurut para fukaha, jika tuma'ninah tidak dijaga oleh orang yang salat yang jahil (tidak tahu) terhadap hukum, wajib bagi orang lain untuk membimbingnya, dan jika hal itu dilakukan dengan sengaja, wajib bagi orang lain untuk menegurnya dengan amar makruf.[15]

Istiqrar di Tempat Salat

Istiqrar (ketetapan) dalam salat ada dua bentuk:[16] satu berkaitan dengan diri orang yang salat yang disebut dengan tuma'ninah (ketenangan dan diamnya tubuh), dan yang lain berkaitan dengan tempat orang yang salat yang harus tetap dalam keadaan ikhtiar (normal), seperti saat berdiri dan menghadap kiblat.[17] Salat dalam keadaan bergerak (seperti di kendaraan) biasanya batal, kecuali dalam kondisi darurat.[18]

Tuma'ninah dalam Bagian-bagian Salat

Para fukaha menganggap menjaga tuma'ninah lazim (harus) dalam seluruh bagian salat, di antaranya:

  1. Pembacaan zikir salat: Tubuh harus dalam keadaan tenang sebelum pembacaan zikir.[19] Jika zikir diucapkan dalam keadaan bergerak, salatnya batal.[20]
  2. Berdiri setelah rukuk: Tuma'ninah saat berdiri (i'tidal) juga dianggap urgen.[21] Jika ketenangan ini sengaja tidak dijaga, salatnya batal.[22] Tentu saja menurut para fukaha, dalam kondisi sakit[23] atau lupa,[24] salatnya sah. Tentu saja, sebagian ulama menganggap tuma'ninah saat berdiri setelah rukuk sebagai rukun salat;[25] meskipun masyhur ulama tidak menganggapnya rukun.[26]
  3. Di antara dua sujud: Duduk di antara dua sujud dengan tuma'ninah juga wajib,[27] demikian pula duduk dalam tasyahud.[28]
  4. Duduk istirahat: Sebagian fukaha menganggap tuma'ninah pada tahap ini wajib,[29] sedangkan sebagian lain menganggapnya mustahab.[30]

Tuma'ninah dalam Mustahab Salat

Mengenai zikir-zikir mustahab dalam salat, jika zikir khusus yang diperuntukkan bagi bagian tertentu dari salat (misalnya takbir sebelum sujud) diucapkan dengan niat bagian tersebut, orang yang salat harus memiliki tuma'ninah saat mengucapkan zikir itu. Jika zikir ini sengaja diucapkan tanpa tuma'ninah, salatnya batal dan salat harus diselesaikan dan menurut ihtiyat (kehati-hatian) harus diulang kembali.[31] Namun, jika zikir mustahab tersebut untuk seluruh salat (bukan khusus untuk bagian tertentu), tuma'ninah tidak lazim. Selain itu, dalam kondisi sakit, menjaga tuma'ninah dalam zikir-zikir mustahab tidak wajib.[32]

Dugaan dan Keraguan dalam Tuma'ninah Salat

Sebagian ulama berkeyakinan bahwa jika orang yang salat sebelum pergi ke Sujud memiliki dugaan (zhan) bahwa ia tidak menjaga tuma'ninah setelah Rukuk, ia harus kembali dan menunaikan tuma'ninah, dan jika ia ragu (syak) terhadap hal ini, berdasarkan ihtiyat ia harus kembali dan menunaikannya.[33]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Gilani, Tuhfah al-Abrar, 1409 H, jld. 2, hlm. 179.
  2. Jauhari, al-Shahah, 1410 H, jld. 6, hlm. 2158; Thusi, al-Jamal wa al-'Uqud fi al-'Ibadat, 1387 HS, hlm. 219; Hairi Yazdi, Kitab al-Shalah, 1404 H, hlm. 225.
  3. Hilli, Kanz al-'Irfan, Qom, jld. 1, hlm. 73.
  4. Gilani, Tuhfah al-Abrar, 1409 H, jld. 2, hlm. 179.
  5. Farhang-e Fiqh-e Farsi, di bawah pengawasan Ayatullah Sayid Mahmud Hasyimi Syahrudi, Muassasah Dairah al-Ma'arif Fiqh Islami, jld. 1, hlm. 478.
  6. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 9, hlm. 245; Hairi Yazdi, Kitab al-Shalah, 1404 H, hlm. 225.
  7. Dazfuli, Shirath al-Najat, 1415 H, hlm. 107.
  8. Dazfuli, Shirath al-Najat, 1415 H, hlm. 116.
  9. Hairi Yazdi, Kitab al-Shalah, 1404 H, hlm. 225.
  10. Syahrudi, Farhang-e Fiqh, 1426 H, hlm. 113; Isfahani, Risalah Shalatiyah, 1425 H, hlm. 233.
  11. Najafi, Majma' al-Rasail Muhasysya Shahib Jawahir, 1415 H, hlm. 240.
  12. Hilli, Kanz al-'Irfan, Qom, jld. 1, hlm. 142.
  13. Sebagai contoh: Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1425 H, jld. 1, hlm. 493.
  14. Kabuli, Risalah Taudhih al-Masail, 1426 H, hlm. 161 dan 162.
  15. Dazfuli, Shirath al-Najat, 1415 H, hlm. 112.
  16. Syahrudi, Farhang-e Fiqh, 1426 H, hlm. 448.
  17. Gilani, Tuhfah al-Abrar, 1409 H, jld. 2, hlm. 179.
  18. Khomeini, Taudhih al-Masail, 1424 H, jld. 1, hlm. 491.
  19. Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1425 H, jld. 1, hlm. 311.
  20. Naraqi, Tuhfah Radhawiyah, 1426 H, hlm. 389 dan 393.
  21. Gilani, Tuhfah al-Abrar, 1409 H, jld. 2, hlm. 179.
  22. Sabzewari, Asrar al-Hikam, 1425 H, hlm. 617.
  23. Kabuli, Risalah Taudhih al-Masail, 1426 H, hlm. 162.
  24. Kabuli, Risalah Taudhih al-Masail, 1426 H, hlm. 164.
  25. Thusi, al-Khilaf, 1407 H, jld. 1, hlm. 351.
  26. Untuk informasi lebih lanjut rujuk ke: Najafi, Jawahir al-Kalam fi Tsaubihi al-Jadid, 1421 H, jld. 5, hlm. 208; Isfahani, Risalah Shalatiyah, 1425 H, hlm. 233.
  27. Sebagai contoh: Khomeini, Najat al-'Ibad, 1422 H, hlm. 104.
  28. Thusi, al-Jamal wa al-'Uqud fi al-'Ibadat, 1387, hlm. 220.
  29. Thusi, al-Jamal wa al-'Uqud fi al-'Ibadat, 1387, hlm. 225.
  30. Hilli, Kanz al-'Irfan, Qom, jld. 1, hlm. 142.
  31. Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1425 H, jld. 1, hlm. 311; Dazfuli, Shirath al-Najat, 1415 H, hlm. 105.
  32. Khomeini, Tahrir al-Wasilah, 1425 H, jld. 1, hlm. 311.
  33. Dazfuli, Shirath al-Najat, 1415 H, hlm. 107.

Daftar Pustaka

  • Gilani Syafti, Sayid Muhammad Baqir. Tuhfah al-Abrar al-Multaqath min Atsar al-Aimmah al-Athhar. Isfahan, Intisharat-e Kitabkhaneh Masjid Sayid, 1409 H.
  • Hairi Yazdi, Abdul Karim. Kitab al-Shalah. Qom, Intisharat-e Daftar Tablighat-e Islami Hauzah Ilmiah Qom, 1404 H.
  • Hilli, Miqdad bin Abdullah Suyuri. Kanz al-'Irfan fi Fiqh al-Qur'an. Terjemahan Abdurrahim Aqiqi Bakhsyayeshi. Qom, Pasazh Qods Plak 111, Tanpa Tahun.
  • Isfahani, Muhammad Taqi Razi Najafi. Risalah Shalatiyah. Qom, Intisharat-e Dzawi al-Qurba, 1425 H.
  • Jauhari, Ismail bin Hammad. Al-Shahah - Taj al-Lughah wa Shahah al-'Arabiyah. Beirut, Dar al-'Ilm lil Malayin, 1410 H.
  • Kabuli, Muhammad Ishaq Fayyadh. Risalah Taudhih al-Masail. Qom, Intisharat-e Majlisi, 1426 H.
  • Khomeini, Sayid Ruhullah. Najat al-'Ibad. Teheran, Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini, 1422 H.
  • Khomeini, Sayid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Terjemahan Ali Islami. Qom, Daftar Intisharat-e Islami wabasteh be Jame'eh Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, 1425 H.
  • Khomeini, Sayid Ruhullah. Taudhih al-Masail. Qom, Daftar Intisharat-e Islami wabasteh be Jame'eh Mudarrisin Hauzah Ilmiah, 1424 H.
  • Muassasah Dairah al-Ma'arif Fiqh Islami. Farhang-e Fiqh Mutabiq-e Madzhab-e Ahlul Bait as (Kamus Fikih Sesuai Mazhab Ahlulbait as). Di bawah pengawasan: Sayid Mahmud Hasyimi Syahrudi. Qom, Muassasah Dairah al-Ma'arif Fiqh Islami, 1426 H.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syarai' al-Islam. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-'Arabi, 1404 H.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Tsaubihi al-Jadid. Qom, Muassasah Dairah al-Ma'arif Fiqh Islami bar Madzhab Ahlul Bait as, 1421 H.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Majma' al-Rasail Muhasysya Shahib Jawahir. Masyhad, Muassasah Shahib al-Zaman ajf, 1415 H.
  • Naraqi, Muhammad Mahdi bin Abi Dzar. Tuhfah Radhawiyah. Qom, Intisharat-e Daftar Tablighat-e Islami Hauzah Ilmiah Qom, 1426 H.
  • Sabzewari, Hadi bin Mahdi. Asrar al-Hikam fi al-Muftatah wa al-Mukhtatam. Qom, Intisharat-e Mathbu'at Dini, 1425 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Jamal wa al-'Uqud fi al-'Ibadat. Terjemahan Muhammad Wa'izh Zadeh Khurasani. Masyhad, Muassasah Nasyr Danesyqah Firdausi Masyhad, 1387 HS.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Khilaf. Qom, Jame'eh Mudarrisin, 1407 H.