Lompat ke isi

Konsep:Teori Penciptaan Al-Qur'an

Dari wikishia

Teori Penciptaan Al-Qur'an (Khalq al-Qur'an) adalah sebuah teori kalam yang menganggap Al-Qur'an sebagai suara dan huruf yang diciptakan oleh Allah dan diturunkan kepada Nabi (saw). Teori ini berlawanan dengan teori keazalian atau sifat qadim (dahulu) Al-Qur'an. Kelompok Muktazilah adalah pembela utama teori penciptaan Al-Qur'an, sementara Ashabul Hadits dan Asy'ariyah menentangnya dan menganggap Al-Qur'an bersifat qadim dan bukan makhluk. Kaum Syiah Imamiyah, dengan mengikuti para Imam (as) mereka, membela pandangan tentang penciptaan dan sifat huduts (kebaharian) Al-Qur'an; namun atas saran para Imam, mereka menjauhkan diri dari terlibat dalam perselisihan tersebut.

Penjelasan Teori

Berdasarkan teori penciptaan Al-Qur'an, Al-Qur'an adalah makhluk Allah dan tidak bersifat azali.[1] Para pembela teori ini meyakini bahwa Al-Qur'an adalah suara dan huruf teratur yang diwahyukan kepada Nabi (saw).[2] Sebaliknya, sekelompok teolog lain dan Ashabul Hadits menganggap Al-Qur'an bersifat qadim dan termasuk dalam sifat esensial Allah.[3] Pandangan ini menganggap Al-Qur'an sebagai makna azali dan hakikat tunggal dari kitab-kitab langit,[4] dan menganggap Al-Qur'an yang dibaca atau didengar bersifat hadits (baru) yang menceritakan tentang Kalamullah yang qadim.[5]

Perbedaan Pandangan Para Teolog

Menurut para peneliti, teori penciptaan Al-Qur'an awalnya dikemukakan oleh Ja'd bin Dirham dan kemudian Jahm bin Safwan,[6] dan Muktazilah membela hal tersebut dengan bersandar pada dalil Al-Qur'an dan akal.[7] Muktazilah meyakini bahwa menganggap Al-Qur'an sebagai qadim memiliki kemiripan dengan pandangan kaum Kristiani mengenai keazalian Nabi Isa (as).[8] Sebaliknya, Ashabul Hadits, Hasywiyah, Kullabiyah, dan beberapa ulama Ahlusunah seperti Ahmad bin Hanbal dan Abul Hasan al-Asy'ari menentang teori ini dan menekankan pada sifat qadim serta ketidak-makhlukan firman Ilahi.[9] Imamiyah juga menentang ke-qadim-an Al-Qur'an dan membela sifat kebaharian (huduts) darinya, namun menurut perkataan Syekh Mufid, demi menghindari kesalahpahaman, mereka menahan diri dari menyematkan label makhluk pada Al-Qur'an secara mutlak.[10]

Dalil-dalil Penciptaan Al-Qur'an

Beberapa dalil yang diajukan oleh pembela teori penciptaan dan kebaharian Al-Qur'an adalah sebagai berikut:

Dalil Aqli:

  • Kalam, dikarenakan hakikat kebahariannya, terdiri dari jenis huruf dan suara yang awalnya tidak ada, kemudian menjadi ada, dan akhirnya menjadi tiada. Sifat bahari ini dikarenakan kalam terdengar dalam rentang waktu tertentu dan tidak dipersepsikan sebelum maupun sesudahnya.[11]
  • Adanya pendahulu (taqaddum) dan pengikut (ta'akhkhur) huruf dalam kalam, seperti perbedaan antara "al-Hamdu" dan "al-Mad-hu", memerlukan jarak waktu yang menunjukkan kebaharian seluruh kalam tersebut. Misalnya dalam "al-Hamdu", kita berhadapan dengan lima huruf di mana sebagian mendahului sebagian lainnya.[12]

Dalil Naqli:

  • Allah dalam beberapa ayat memperkenalkan Al-Qur'an sebagai "Dzikr"[13] dan dalam ayat lain menyebut "Dzikr" bersifat "Muhdath" (baharu/baru diciptakan);[14] maka Al-Qur'an adalah makhluk dan bahari, bukan qadim dan berdiri sendiri.[15]
  • Allah dalam beberapa ayat menyebut Al-Qur'an sebagai "Hadits" (perkataan baru);[16] akibatnya, Al-Qur'an sebelumnya tidak ada kemudian menjadi ada dan tercipta.[17]
  • Allah dalam ayat-ayat Al-Qur'an mengabarkan tentang nasakh dan perubahan ayat-ayat[18] dan hal ini selaras dengan kebaharian Al-Qur'an, bukan dengan ke-qadim-annya.[19]

Dampak Politik Teori Penciptaan Al-Qur'an

Perselisihan kalam dan akidah mengenai penciptaan atau ke-qadim-an Al-Qur'an memiliki dampak politik yang signifikan di kalangan Muslim. Berdasarkan apa yang dilaporkan dalam kitab-kitab sejarah, Ibnu Abi Du'ad (sosok yang menjadikan mazhab Muktazilah sebagai mazhab resmi Kekhalifahan Abbasiyah) [20] mendorong banyak khalifah Abbasiyah, yaitu al-Ma'mun, al-Mu'tashim, dan al-Watsiq untuk menguji masyarakat mengenai keyakinan pada teori penciptaan Al-Qur'an.[21] Para khalifah Abbasiyah, dengan mengonfirmasi dan mempromosikan teori penciptaan Al-Qur'an, melakukan inkuisisi (pemeriksaan akidah) terhadap para ulama, hakim, dan tokoh terkemuka, serta melakukan penyiksaan, pembuangan, atau pembunuhan terhadap para penentang.[22] Periode ini disebut sebagai Masa Mihna.[23] Akhirnya al-Mutawakkil mencapai kekhalifahan dan melarang diskusi serta opini mengenai penciptaan Al-Qur'an, sehingga mengakhiri periode Mihna.[24] Ia mencopot Ibnu Abi Du'ad (hakim Muktazilah yang masyhur) dari jabatannya dan menyita harta bendanya.[25]

Reaksi Para Imam Syiah

Berdasarkan sepucuk surat dari Imam al-Hadi (as), dikatakan bahwa para Imam (as) secara implisit menentang penganggapan Al-Qur'an bersifat qadim, namun di saat yang sama melarang kaum Syiah berdebat dalam topik ini agar melalui cara ini, kaum Syiah terjauhkan dari perselisihan yang tidak berguna dan berbahaya serta risiko-risiko yang mungkin timbul.[26] Imam kesepuluh Syiah dalam surat tersebut menganggap pembahasan mengenai penciptaan Al-Qur'an sebagai fitnah yang harus dijauhi.[27] Dalam bidang yang sama, dirujuk pula riwayat-riwayat dari Imam al-Ridha (as)[28] di mana di dalamnya Imam (as) menjauhkan diri dari menyebut Al-Qur'an sebagai Pencipta maupun makhluk, dan menyebut Al-Qur'an sebagai Kalamullah yang bukan pencipta dan bukan pula makhluk[29] serta melarang pembahasan mengenai hal tersebut.[30] Bagian yang cukup besar dari riwayat para Imam (as) dalam bab "Penciptaan Al-Qur'an" tercatat dalam jilid 92 Bihar al-Anwar.[31]

Catatan Kaki

  1. Qadhi Abdul Jabbar, Syarh al-Ushul al-Khamsah, 1422 H, hlm. 357; Qadhi Abdul Jabbar, al-Mughni, 1962-1965 M, jld. 7, hlm. 56.
  2. Qadhi Abdul Jabbar, Syarh al-Ushul al-Khamsah, 1422 H, hlm. 357; Qadhi Abdul Jabbar, al-Mughni, 1962-1965 M, jld. 7, hlm. 56.
  3. al-Jurjani, Syarh al-Mawaqif, asy-Syarif al-Radhi, 1325 H, jld. 8, hlm. 92.
  4. Qadhi Abdul Jabbar, Syarh al-Ushul al-Khamsah, 1422 H, hlm. 357.
  5. Qadhi Abdul Jabbar, Syarh al-Ushul al-Khamsah, 1422 H, hlm. 357.
  6. Ibnu Sahl, al-Awail, 1407 H, hlm. 251-252.
  7. Qadhi Abdul Jabbar, Syarh al-Ushul al-Khamsah, 1422 H, hlm. 357-358; al-Jurjani, Syarh al-Mawaqif, asy-Syarif al-Radhi, 1325 H, jld. 8, hlm. 92.
  8. Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah, Dar al-Fikr al-Arabi, hlm. 148.
  9. Qadhi Abdul Jabbar, Syarh al-Ushul al-Khamsah, 1422 H, hlm. 357; al-Jurjani, Syarh al-Mawaqif, asy-Syarif al-Radhi, 1325 H, jld. 8, hlm. 92.
  10. Syekh Mufid, Awa'il al-Maqalat, 1413 H, hlm. 52-53.
  11. al-Himmsi al-Razi, al-Munqidz min al-Taqlid, 1412 H, jld. 1, hlm. 215-216.
  12. al-Himmsi al-Razi, al-Munqidz min al-Taqlid, 1412 H, jld. 1, hlm. 215.
  13. Surah Al-Hijr, ayat 9; Surah Al-Anbiya, ayat 50; Surah Yasin, ayat 69.
  14. Surah Al-Anbiya, ayat 2; Surah Asy-Syu'ara, ayat 5.
  15. Qadhi Abdul Jabbar, al-Mughni, 1962-1965 M, jld. 7, hlm. 87.
  16. Surah Al-Muzzammil, ayat 23; Surah Al-A'raf, ayat 185.
  17. Qadhi Abdul Jabbar, al-Mughni, 1962-1965 M, jld. 7, hlm. 89.
  18. Surah Al-Baqarah, ayat 106.
  19. Qadhi Abdul Jabbar, al-Mughni, 1962-1965 M, jld. 7, hlm. 89.
  20. al-Tarmanini, Ruyedad-haye Tarikh-e Islam, Pajuhisygah-e Ulum va Farhang-e Islami, jld. 1, hlm. 519.
  21. al-Tarmanini, Ruyedad-haye Tarikh-e Islam, Pajuhisygah-e Ulum va Farhang-e Islami, jld. 1, hlm. 519.
  22. al-Thabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, 1375 HS, jld. 13, hlm. 5751-5758; Khorram, "Ashr-e Mehnat", 1391 HS, hlm. 80-81; Masykur, Seir-e Kalam dar Firaq-e Islam, 1368 HS, hlm. 27; Sobhani, Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal, Muassasah al-Nasyr al-Islami, jld. 3, hlm. 614-623.
  23. Sobhani, Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal, Muassasah al-Nasyr al-Islami, jld. 3, hlm. 614.
  24. Sobhani, Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal, Muassasah al-Nasyr al-Islami, jld. 3, hlm. 624-625; Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah, Dar al-Fikr al-Arabi, hlm. 148.
  25. al-Tarmanini, Ruyedad-haye Tarikh-e Islam, Pajuhisygah-e Ulum va Farhang-e Islami, jld. 1, hlm. 519.
  26. Noormuhammadi, "Vakavi-ye Tarikhi-ye Tafavot-e Movajehe-ye Imam Hadi as va Mo'tazele ba Mas'ale-ye Khalq-e Qur'an", hlm. 124-125
  27. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 19, hlm. 118; Shaduq, al-Amali, Muassasah al-Ba'tsah, jld. 1, hlm. 639-640.
  28. Noormuhammadi, "Vakavi-ye Tarikhi-ye Tafavot-e Movajehe-ye Imam Hadi as va Mo'tazele ba Mas'ale-ye Khalq-e Qur'an", hlm. 124-125.
  29. Shaduq, al-Amali, Muassasah al-Ba'tsah, jld. 1, hlm. 639.
  30. Shaduq, al-Amali, Muassasah al-Ba'tsah, jld. 1, hlm. 639.
  31. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 92, hlm. 117-121.

Daftar Pustaka

  • Abu Zahrah, Muhammad. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah. Dar al-Fikr al-Arabi, tanpa tahun.
  • Al-Himmsi al-Razi, Sadiduddin. al-Munqidz min al-Taqlid. Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1412 H.
  • Al-Tarmanini, Abdussalam. Ruyedad-haye Tarikh-e Islam. Terjemahan: Ali Akbar Emami Hojjati dan Mostafa Syafii. Penerbit Pajuhisygah-e Ulum va Farhang-e Islami.
  • al-Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Rusul wa al-Muluk. Terjemahan: Abul Qasim Payandeh. Penerbit Asathir, 1375 HS.
  • Ibnu Sahl, Hasan bin Abdullah. al-Awail. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1407 H.
  • Khorram, Fatima. "Ashr-e Mehnat". Jurnal Farhang-e Pajuhish, No. 11, musim semi 1391 HS.
  • Mir Sayyid Syarif al-Jurjani. Syarh al-Mawaqif. asy-Syarif al-Radhi, 1325 H.
  • Majlisi, Mohammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Penerbit Muassasah al-Wafa', 1403 H.
  • Masykur, Mohammad Javad. Seir-e Kalam dar Firaq-e Islam. Penerbit Syarq, 1368 HS.
  • Noormuhammadi, Mehdi. "Vakavi-ye Tarikhi-ye Tafavot-e Movajehe-ye Imam Hadi as va Mo'tazele ba Mas'ale-ye Khalq-e Qur'an". Faslnamah Syiah-pajushi, nomor 11, musim panas 1396 HS.
  • Qadhi Abdul Jabbar. al-Mughni fi Abwab al-Tauhid wa al-Adl. al-Dar al-Mishriyyah, 1962-1965 M.
  • Qadhi Abdul Jabbar. Syarh al-Ushul al-Khamsah. Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1422 H.
  • Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad. Awa'il al-Maqalat fi al-Mazahib wa al-Mukhtarat. al-Mu'tamar al-Alami li-al-Syekh al-Mufid, 1413 H.
  • Sobhani, Jafar. Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal. Muassasah al-Nasyr al-Islami, tanpa tahun.
  • Syekh Shaduq, Muhammad. al-Amali. Muassasah al-Ba'tsah, tanpa tahun.