Lompat ke isi

Konsep:Saffah

Dari wikishia

Templat:Infobox penguasa

Abul Abbas Abdullah bin Muhammad (105-136 H), yang lebih dikenal sebagai Abul Abbas Saffah (masa kekuasaan: 132-136 H), adalah khalifah Abbasiyah pertama. Ia mendapatkan julukan "Saffah" (penumpah darah) karena banyaknya pertumpahan darah yang ia lakukan terhadap Bani Umayyah. Hanya sedikit informasi yang tersedia mengenai masa sebelum kekhalifahannya, namun berbaiat kepada Nafsu Zakiyyah disebutkan sebagai salah satu peristiwa penting sebelum masa jabatannya. Menurut sebagian peneliti, Abbasiyah memalsukan sejumlah riwayat untuk menampilkannya sebagai sosok terjanji (Mau'ud); oleh karena itu, riwayat-riwayat yang menyebutkan ramalan Rasulullah saw tentang naiknya keturunan Ibnu Abbas ke kursi kekhalifahan serta nubuat Imam Shadiq as mengenai jabatan khalifah Saffah dinilai dalam konteks ini.

Menurut para sejarawan, Saffah naik takhta pada tahun 132 H dan setelah masyarakat berbaiat kepadanya di Kufah, ia menyatakan pemerintahannya sebagai pihak yang benar. Setelah menguasai sebagian besar wilayah Umayyah, ia melakukan pembantaian besar-besaran terhadap Bani Umayyah untuk memperkokoh kekuasaan Abbasiyah. Sebagian anggota Bani Umayyah tewas dalam pertempuran, sementara yang lain, termasuk Marwan bin Muhammad dan Yazid bin Umar bin Hubairah, dibunuh oleh Saffah.

Setelah memindahkan pusat kekhalifahan ke Al-Anbar, Saffah secara penuh memantapkan kekuasaan Abbasiyah. Ia merasa khawatir dengan meningkatnya kekuasaan tokoh-tokoh seperti Abu Muslim al-Khurasani dan Nafsu Zakiyyah, sehingga ia berupaya menekan mereka. Selama masa kekhalifahannya, terjadi beberapa pemberontakan dari para pendukung Bani Umayyah di Syam, Irak, dan Hijaz yang semuanya ditumpas oleh pihak Abbasiyah. Kaum Alawiyyin pada masa ini relatif tenang, namun beberapa gerakan, termasuk Pemberontakan Syarik bin Syaikh di Bukhara, berhasil ditumpas oleh pasukan Abbasiyah.

Abul Abbas Saffah meninggal dunia pada tahun 136 H akibat penyakit cacar atau demam di Anbar dan dimakamkan di sana. Sebelum kematiannya, ia menetapkan saudaranya, Mansyur al-Abbasi, sebagai penggantinya.

Pengenalan dan Kedudukan

Gambar penobatan Saffah dalam kitab Tarikh Bal'ami

Abul Abbas, Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muththalib, adalah khalifah Abbasiyah pertama yang dikenal sebagai Saffah. Ia lahir pada tahun 105 H (atau 104 H[1] atau 103 H[2]) di Syarrah, Syam.[3] Zirikli[4] dan sejumlah peneliti sejarah lainnya berpendapat bahwa Saffah dijuluki demikian karena ia menumpahkan banyak darah anggota Bani Umayyah.[5] Namun, dalam beberapa kutipan juga disebutkan mengenai kedermawanan dan kemurahan hatinya.[6]

Menurut para peneliti, tidak banyak informasi yang tersedia mengenai kehidupan Saffah sebelum ia naik ke kursi kekhalifahan.[7] Meskipun demikian, menurut Abul Faraj al-Isfahani, penulis Maqatil al-Thalibiyyin, berbaiatnya Saffah kepada Nafsu Zakiyyah merupakan salah satu peristiwa paling penting sebelum masa kekhalifahannya.[8]

Abul Abbas tidak memiliki hubungan yang baik dengan kaum Alawiyyin.[9] Imam Shadiq as melakukan takiyah terhadap Saffah dan memanggilnya dengan gelar Imam.[10]

Nubuat tentang Kekhalifahan Saffah

Templat:Kekhalifahan Bani Abbasiyah Dalam sumber-asumber sejarah Ahlusunah, terdapat riwayat-riwayat mengenai klaim bahwa Saffah adalah sosok Mau'ud (terjanji); misalnya dalam riwayat tentang nubuat Rasulullah saw mengenai naiknya keturunan Ibnu Abbas ke kursi kekhalifahan[11] serta ramalan Imam Shadiq as tentang jabatan khalifah Saffah.[12] Dalam beberapa hadis juga diberikan kabar gembira mengenai kemunculan seorang pria bernama Saffah yang akan memerintah di Akhir Zaman setelah munculnya berbagai fitnah.[13]

Di sisi lain, para peneliti sejarah berkeyakinan bahwa riwayat-riwayat ini dipalsukan dengan tujuan untuk menampilkannya sebagai sosok Mau'ud[14] atau untuk menunjukkan kedudukannya yang unggul.[15] Menurut mereka, beberapa julukan yang disebutkan untuk Abul Abbas, seperti Al-Qa'im[16] dan Al-Mahdi[17], dinilai dalam konteks yang sama.[18]

Sebagaimana nubuat-nubuat tersebut yang bertujuan menonjolkan keutamaan Saffah, terdapat nubuat lain yang dinukil dari Imam Ali as yang menyebutkan bahwa khalifah pertama Bani Abbasiyah, yaitu Saffah, adalah khalifah yang paling santun di antara para khalifah Bani Abbasiyah.[19] Dalam nubuat ini, Imam Ali as memberikan kabar tentang akan berkuasanya dua pemerintahan atas kaum Muslimin[20] yang oleh sebagian pakar hadis diterapkan pada Kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah.[21]

Kekhalifahan

Abul Abbas Saffah naik ke kursi kekhalifahan pada tahun 132 H.[22] Sebelum pengangkatannya, ketika Marwan bin Muhammad mengetahui aktivitas Bani Abbasiyah di Khurasan, ia memerintahkan penangkapan pemimpin mereka, Ibrahim al-Imam.[23] Ibrahim al-Imam, setelah ditangkap, menunjuk saudaranya Saffah sebagai penggantinya.[24] Namun demikian, menurut sebagian peneliti, laporan mengenai penunjukan Saffah sebagai pengganti telah dimanipulasi demi kepentingannya.[25]

Saffah setelah kematian Ibrahim al-Imam, pergi ke Kufah bersama keluarga dan para pengikutnya.[26] Pada saat itu, penduduk Khurasan telah menguasai Kufah dan kepemimpinan di sana diserahkan kepada Abu Salamah yang dijuluki sebagai Menteri Alu Muhammad.[27] Saat Saffah memasuki Kufah, Abu Salamah menyembunyikan kedatangan mereka selama dua bulan atau empat puluh hari, karena berdasarkan beberapa laporan, Abu Salamah bermaksud menyerahkan kekhalifahan kepada keturunan Imam Ali as.[28] Atas dasar itu, ia menulis surat kepada Imam Shadiq as, Abdullah bin Hasan al-Mutsanna, dan Umar bin Ali bin Hasan agar mereka bersedia memegang tampuk pemerintahan ini, namun tidak ada satu pun dari mereka yang menyetujui permintaannya.[29]

Orang-orang Khurasan setelah mengetahui keberadaan Saffah di Kufah segera berbaiat kepadanya.[30] Abul Abbas setelah mendapatkan baiat masyarakat,[31] naik ke atas mimbar di Masjid Kufah dan dalam sebuah khotbahnya dengan menisbatkan Abbasiyah kepada Ahlulbait Nabi saw, ia menyatakan pemerintahannya sebagai pihak yang benar dan dengan menyebutkan gelar Saffah untuk dirinya, ia menekankan pada penghapusan kezaliman Umayyah.[32]

Pada saat menjabat kekhalifahan, ia berusia lebih muda daripada saudaranya, Mansyur al-Abbasi (khalifah Abbasiyah berikutnya).[33] Sebagian peneliti berpendapat bahwa ia didahulukan dalam kekhalifahan karena keunggulan nasab ibunya (Raithah) atas ibu Mansyur yang merupakan seorang hamba sahaya.[34][35]

Pusat Kekhalifahan

Saffah setelah berbaiat dengan penduduk Kufah pergi ke Hirah dan kemudian ke Al-Anbar, serta memindahkan pusat kekhalifahan ke sana.[36] Menurut pendapat beberapa peneliti, Abul Abbas tidak menetap di Kufah dan menjauh dari wilayah tersebut karena kecenderungan masyarakat Kufah kepada keturunan Imam Ali as;[37] sebagaimana Abu Muslim al-Khurasani dan Abdullah bin Ali (paman Saffah) juga mendorong Saffah untuk menjauhi Kufah karena alasan yang sama.[38]

Pemantapan Pemerintahan

Saffah selama masa kekhalifahannya berhasil menguasai seluruh wilayah kekuasaan Umayyah, kecuali Andalusia.[39] Untuk memperluas kendalinya atas pemerintahan, ia sebisa mungkin mengangkat kerabat-kerabatnya sebagai penguasa di wilayah-wilayah tersebut.[40]

Tindakan pertama Abbasiyah untuk memperkokoh pemerintahan mereka dilaporkan adalah menyingkirkan Abu Salamah yang berupaya menjadikan keturunan Imam Ali as sebagai khalifah.[41] Setelah pembunuhan Abu Salamah, ia mengangkat Daud bin Ali (pamannya) sebagai gubernur Kufah.[42] Abul Abbas yang merasa takut dengan kekuatan Abu Muslim al-Khurasani yang kian meningkat, berupaya untuk membunuhnya, namun usahanya tidak membuahkan hasil.[43]

Saffah juga merasa khawatir dengan menguatnya kekuasaan Nafsu Zakiyyah.[44] Nafsu Zakiyyah yang menolak berbaiat kepada Abbasiyah, mulai melakukan langkah-langkah rahasia melawan Abbasiyah.[45] Meskipun Saffah berupaya untuk menangkapnya, namun ia tidak berhasil.[46]

Pembantaian Bani Umayyah

Bani Abbasiyah membunuh banyak anggota Bani Umayyah.[47] Setelah penduduk Kufah berbaiat kepada Saffah, ia memerintahkan Hasan bin Qahtabah untuk pergi ke kota Wasith dan membunuh Yazid bin Umar bin Hubairah (penguasa Umayyah di Irak).[48] Setelah beberapa waktu, Saffah mengirim saudaranya, Mansyur, untuk memimpin pasukan Ibnu Qahtabah menuju Wasith.[49] Mereka, meskipun telah memberikan surat jaminan keamanan (aman-nameh) kepada Ibnu Hubairah, tetap membunuh dia dan para pengikutnya.[50]

Abdullah bin Ali, paman Saffah, yang atas perintahnya pergi berperang melawan Marwan bin Muhammad, berhasil mengalahkan pasukan Marwan bersama para pengikutnya dan mengejarnya hingga ke Mesir.[51] Setelah berhasil menemukan Marwan, mereka membunuhnya dan mengirim kepalanya kepada Abul Abbas.[52]

Saffah menulis surat kepada pamannya Abdullah bin Ali di Syam dan memerintahkan pembantaian terhadap seluruh Bani Umayyah.[53] Berdasarkan laporan Ibnu al-Atsir, sejarawan Ahlusunah, Abdullah bin Ali di Damaskus membongkar makam seluruh khalifah Umayyah (kecuali Umar bin Abdul Aziz[54]) dan di antara mereka ia hanya menemukan jasad Hisyam bin Abdul Malik yang masih utuh, yang kemudian ia bakar dan abunya ia terbangkan ditiup angin.[55] Juga menurutnya, Abdullah bin Ali membantai seluruh anggota Bani Umayyah (kecuali anak-anak yang masih menyusui dan orang-orang yang melarikan diri ke Andalusia).[56] Oleh karena itu, dalam beberapa sumber Abdullah bin Ali juga disebut sebagai Saffah (penumpah darah).[57]

Sulaiman bin Ali dan Daud bin Ali, paman-paman Saffah yang lain, juga membantai sekelompok Bani Umayyah di Basra[58] dan sekelompok lainnya di Hijaz atas perintah Abul Abbas.[59] Terdapat laporan bahwa ribuan penduduk Mosul yang menolak berbaiat kepada Saffah juga dibunuh di tangan saudara Saffah, Yahya bin Muhammad.[60]

Penumpasan Pemberontakan

Pembantaian-pembantaian yang dilakukan oleh Bani Abbasiyah memicu protes dari sebagian pendukung Bani Umayyah dan menyediakan landasan bagi pemberontakan mereka di Syam, Irak, dan Hijaz, namun semua pemberontakan ini pada masa Saffah berhasil ditumpas oleh pihak Abbasiyah.[61]

Kondisi Kaum Syiah

Pada masa Saffah, kaum Alawiyyin menikmati ketenangan relatif.[62] Meskipun demikian, beberapa bulan setelah dimulainya kekhalifahan Saffah, Sulaiman bin Katsir dipenggal karena diduga bekerja sama dengan kaum Alawiyyin,[63] kemudian gerakan Syarik bin Syaikh (133 H) di Bukhara ditumpas dengan pembunuhan dirinya. Sejumlah sejarawan menganggap Syarik dan sifat pemberontakannya sebagai Syiah.[64]

Beberapa peneliti dengan bersandar pada riwayat-riwayat, menduga bahwa Saffah memanggil Imam Shadiq as ke Irak agar dapat mengawasinya untuk beberapa waktu,[65] dan Imam Shadiq as karena melakukan takiyah terhadap Saffah, menyapanya dengan gelar Imam.[66] Menurut Muhammad Baqir Majlisi, ahli hadis Syiah, Imam Shadiq as dalam salah satu pertemuannya dengan Saffah, untuk pertama kalinya menyingkap lokasi pemakaman Imam Ali as.[67]

Kematian

Sesuai laporan Thabari, Abul Abbas Saffah meninggal dunia pada bulan Dzulhijjah tahun 136 H[68] setelah empat tahun delapan bulan menjabat kekhalifahan[69] akibat penyakit cacar[70] (atau demam[71]) di Anbar dan dimakamkan di istananya.[72] Berdasarkan kabar Ibnu al-Atsir, sejarawan Ahlusunah, Saffah sesaat sebelum kematiannya menetapkan saudaranya Mansyur al-Abbasi sebagai penggantinya dan keponakannya Isa bin Musa sebagai pengganti Mansyur.[73]

Catatan Kaki

  1. Ibnu al-Jauzi, Al-Muntadzam, 1412 H, jld. 7, hlm. 89.
  2. Dawadari, Kanz al-Durar, 1422 H, jld. 5, hlm. 8.
  3. Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 10, hlm. 49; Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, 1415 H, jld. 32, hlm. 278.
  4. Zirikli, Al-A'lam, 1989 M, jld. 4, hlm. 116.
  5. Al-Shabi', Rusum Dar al-Khilafah, 1986 M, hlm. 129; Qalqasyandi, Ma'atsir al-Inaqah, 1427 H, hlm. 84.
  6. Haitsami, Majma' al-Zawa'id, 1414 H, jld. 7, hlm. 314; Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1425 H, hlm. 192.
  7. Bahramiyan, "Abul Abbas Saffah", hlm. 668; Ortman, "Saffah", hlm. 635.
  8. Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, 1419 H, hlm. 227.
  9. Bahramiyan, "Abul Abbas Saffah", jld. 5, hlm. 671.
  10. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 4, hlm. 83.
  11. Ibnu al-Jauzi, Al-Muntadzam, 1412 H, jld. 7, hlm. 295.
  12. Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, 1419 H, hlm. 226.
  13. Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 10, hlm. 50 dan 51; Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, 1415 H, jld. 32, hlm. 279; Ibnu Hammad, Al-Fitan, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hlm. 255.
  14. Bahramiyan, "Abul Abbas Saffah", hlm. 668.
  15. Ortman, "Saffah", hlm. 635.
  16. Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, 1415 H, jld. 32, hlm. 278; Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 10, hlm. 49.
  17. Mas'udi, Al-Tanbih wa al-Isyraf, Dar al-Shawi, hlm. 291.
  18. Bahramiyan, "Abul Abbas Saffah", hlm. 668.
  19. Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 41, hlm. 322; Husaini Tehrani, Imam-syenasi, 1427 H, jld. 12, hlm. 170.
  20. Ibnu Syahr Asyub, Al-Manaqib, 1379 H, jld. 2, hlm. 276.
  21. Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 41, hlm. 322; Husaini Tehrani, Imam-syenasi, 1427 H, jld. 12, hlm. 170.
  22. Ibnu Habib, Al-Muhabbar, Dar al-Afaq al-Jadidah, hlm. 33; Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 10, hlm. 49.
  23. Akhbar al-Dawlah al-Abbasiyyah, 1391 H, hlm. 393.
  24. Akhbar al-Dawlah al-Abbasiyyah, 1391 H, hlm. 393 dan 394.
  25. Bahramiyan, "Abul Abbas Saffah", hlm. 669.
  26. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 7, hlm. 423; Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Dar Sadir, jld. 2, hlm. 349.
  27. Jahsyiyari, Kitab al-Wuzara' wa al-Kuttab, 1408 H, hlm. 56.
  28. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 7, hlm. 423; Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Dar Sadir, jld. 2, hlm. 349; Jahsyiyari, Kitab al-Wuzara' wa al-Kuttab, 1408 H, hlm. 57.
  29. Jahsyiyari, Kitab al-Wuzara' wa al-Kuttab, 1408 H, hlm. 57.
  30. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 7, hlm. 424; Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Dar Sadir, jld. 2, hlm. 349 dan 350.
  31. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Dar Sadir, jld. 2, hlm. 350.
  32. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 7, hlm. 425 dan 426.
  33. Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 10, hlm. 49.
  34. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 5, hlm. 382.
  35. Bahramiyan, "Abul Abbas Saffah", hlm. 668.
  36. Dinawari, Al-Akhbar al-Thiwal, 1368 HS, hlm. 375.
  37. Bahramiyan, "Abul Abbas Saffah", jld. 5, hlm. 671.
  38. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 4, hlm. 150.
  39. Khezri, Tarikh Khilafat-e Abbasi, 1384 HS, hlm. 24.
  40. Khezri, Tarikh Khilafat-e Abbasi, 1384 HS, hlm. 24.
  41. Bahramiyan, "Abul Abbas Saffah", hlm. 671.
  42. Ibnu Qutaibah, Al-Ma'arif, 1992, hlm. 372.
  43. Khezri, Tarikh Khilafat-e Abbasi, 1384 HS, hlm. 27.
  44. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Dar Sadir, jld. 2, hlm. 360.
  45. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Dar Sadir, jld. 2, hlm. 360.
  46. Ortman, "Saffah", hlm. 636 dan 637.
  47. Khezri, Tarikh Khilafat-e Abbasi, 1384 HS, hlm. 21.
  48. Dinawari, Al-Akhbar al-Thiwal, 1368 HS, hlm. 370.
  49. Dinawari, Al-Akhbar al-Thiwal, 1368 HS, hlm. 370 dan 371.
  50. Dinawari, Al-Akhbar al-Thiwal, 1368 HS, hlm. 373 dan 375.
  51. Ibnu Qutaibah, Al-Ma'arif, 1992, hlm. 372.
  52. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 7, hlm. 442.
  53. Ibnu A'tsam, Al-Futuh, 1411 H, jld. 8, hlm. 338.
  54. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 4, hlm. 104.
  55. Ibnu al-Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 5, hlm. 430.
  56. Ibnu al-Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 5, hlm. 430 dan 431.
  57. Maqdisi, Al-Bad' wa al-Tarikh, Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, jld. 6, hlm. 74.
  58. Ibnu al-Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 5, hlm. 431.
  59. Ibnu A'tsam, Al-Futuh, 1411 H, jld. 8, hlm. 338.
  60. Ibnu al-Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 5, hlm. 443 dan 444.
  61. Khezri, Tarikh Khilafat-e Abbasi, 1384 HS, hlm. 23.
  62. Allah Akbari, Abbasiyan az Ba'tsat ta Khilafat, hlm. 66.
  63. Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, 1405 H, hlm. 159.
  64. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1398 H, hlm. 159; Thabari, Tarikh al-Thabari, 1869 M, jld. 6, hlm. 112.
  65. Situs Majma' Jahani Syiah-syenasi, "Abul Abbas Saffah Abbasi va Ahlulbait as".
  66. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 4, hlm. 83.
  67. Majlisi, Tuhfat al-Za'ir, 1386 HS, hlm. 96.
  68. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 7, hlm. 470 dan 471.
  69. Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 10, hlm. 49.
  70. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 7, hlm. 470 dan 471.
  71. Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 10, hlm. 52.
  72. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 7, hlm. 470 dan 471.
  73. Ibnu al-Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 5, hlm. 461.

Daftar Pustaka

  • Akhbar al-Dawlah al-Abbasiyyah. Beirut, Dar al-Thali'ah, 1391 H.
  • Al-Shabi', Hilal bin Muhsin. Rusum Dar al-Khilafah. Beirut, Dar al-Ra'id al-Arabi, 1986 M.
  • Abul Faraj al-Isfahani, Ali bin Husain. Maqatil al-Thalibiyyin. Beirut, Muassasah al-A'lami lil Matbu'at, 1419 H.
  • Allah Akbari. Abbasiyan az Ba'tsat ta Khilafat.
  • Bahramiyan, Ali. "Abul Abbas Saffah", dalam Da'irah al-Ma'arif Bozorg-e Islami. Teheran, Pusat Da'irah al-Ma'arif Bozorg-e Islami, 1372 HS.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansab al-Asyraf. Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H.
  • Dawadari, Abu Bakar bin Abdullah. Kanz al-Durar wa Jami' al-Ghurar. Kairo, Maktabah al-Mu'ayyid, 1422 H.
  • Dinawari, Ahmad bin Daud. Al-Akhbar al-Thiwal. Qom, Penerbit Radhi, 1368 HS.
  • Husaini Tehrani, Muhammad Husain. Imam-syenasi. Masyhad, Penerbit Allamah Thabathaba'i, 1430 H.
  • Ibnu A'tsam, Muhammad bin Ali. Al-Futuh. Beirut, Dar al-Adhwa', 1411 H.
  • Ibnu al-Atsir, Ali bin Abi al-Karam. Al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut, Dar Sadir, 1385 H.
  • Ibnu al-Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Al-Muntadzam fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1412 H.
  • Ibnu Asakir, Ali bin Hasan. Tarikh Dimasyq. Beirut, Dar al-Fikr, 1415 H.
  • Ibnu Habib, Muhammad. Al-Muhabbar. Beirut, Dar al-Afaq al-Jadidah, tanpa tahun.
  • Ibnu Hammad, Nu'aim. Al-Fitan. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tanpa tahun.
  • Ibnu Qutaibah, Abdullah bin Muslim. Al-Ma'arif. Kairo, Al-Hai'ah al-Mashriyyah al-Ammah lil Kutub, 1992 M.
  • Ibnu Sa'ad, Muhammad. Al-Thabaqat al-Kubra. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1410 H.
  • Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali. Manaqib Alu Abi Thalib as. Qom, Allamah, 1379 H.
  • Jahsyiyari, Muhammad bin Abdus. Kitab al-Wuzara' wa al-Kuttab. Beirut, Dar al-Fikr al-Hadits, 1408 H.
  • Khathib Baghdadi, Ahmad bin Ali. Tarikh Baghdad aw Madinah al-Salam. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1417 H.
  • Khezri, Sayid Ahmad Reza. Tarikh Khilafat-e Abbasi. Teheran, SAMT, 1384 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-Aimmah al-Athar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Tuhfat al-Za'ir. Qom, Payam Imam Hadi as, 1386 HS.
  • Maqdisi, Muthahhar bin Thahir. Al-Bad' wa al-Tarikh. Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, tanpa tahun.
  • Mas'udi, Ali bin al-Husain. Al-Tanbih wa al-Isyraf. Kairo, Dar al-Shawi, tanpa tahun.
  • Ortman, Eva. "Saffah" dalam Danesy-nameh Jahan-e Islam. Teheran, Bonyad-e Da'irah al-Ma'arif-e Islami, 1396 HS.
  • Qalqasyandi, Ahmad bin Ali. Ma'atsir al-Inaqah fi Ma'alim al-Khilafah. Beirut, Alam al-Kutub, 1427 H.
  • Situs Majma' Jahani Syiah-syenasi. "Abul Abbas Saffah Abbasi va Ahlulbait as", tanggal unggul 17 Mordad 1395 HS.
  • Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. Tarikh al-Khulafa. Mekah, Maktabah Nizar Mushthafa al-Baz, 1425 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Thabari. Beirut, Dar al-Turats, 1387 H.
  • Ya'qubi, Ahmad. Tarikh al-Ya'qubi. Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun.

Templat:Bani Abbasiyah

Templat:Pemeringkatan```

Would you like me to translate another article or mapping additional categories?