Lompat ke isi

Konsep:Peran Waktu dan Tempat dalam Ijtihad

Dari wikishia

c || || || - || || - || || || editorial box

Peran Waktu dan Tempat dalam Ijtihad adalah sebuah teori dalam bidang dasar-dasar fikih Islam yang membuka jalan bagi perubahan beberapa fatwa. Memasukkan unsur waktu dan tempat dalam Ijtihad dianggap dapat meningkatkan kemampuan fikih dalam menjawab kebutuhan dan menyelesaikan tantangan yang dihadapi fikih di era kontemporer. Berdasarkan penelitian beberapa peneliti, meskipun teori ini dikaitkan dengan nama Imam Khomeini, marja taklid Syiah pada abad ke-14 dan 15 H, namun memiliki latar belakang yang lebih tua dan dapat dilacak dalam karya-karya Syahid Awwal, Muhammad Husain Kasyif al-Ghita', dan Sayid Muhammad Baqir Shadr. Yang dimaksud dengan waktu dan tempat sebenarnya adalah karakteristik-karakteristik yang muncul dalam situasi yang berbeda dan menyebabkan perubahan pada objek-objek fikih. Meskipun para fukaha Syiah menganggap waktu dan tempat tidak berpengaruh pada esensi ijtihad, metode, dan sumber-sumber ijtihad, namun sebagian dari mereka memperluas cakupan pengaruh ini hingga ke pemahaman terhadap teks-teks agama. Pengadilan oleh non-mujtahid, penjualan organ tubuh, hukum permainan catur, kumpulan hukum sosial dan politik, serta Kurban dalam Haji adalah contoh perubahan hukum akibat perubahan kondisi waktu dan tempat. Pada tahun 1374 HS/1995 M, sebuah kongres diadakan untuk menjelaskan teori ini dan kumpulan artikel kongres ini diterbitkan dalam 15 jilid.

Pentingnya

Teori peran waktu dan tempat dalam ijtihad mengacu pada pengaruh perubahan waktu dan tempat dalam penyimpulan hukum.[1] Teori ini berada dalam ranah dasar-dasar fikih Islam. Memperhatikan pengaruh waktu dan tempat dalam ijtihad dapat efektif dalam mengatur hukum tetap dan berubah syariat[2] dan penerimaannya dapat menyelesaikan berbagai masalah fikih dan membuka jalan bagi pengelolaan masyarakat yang lebih baik, bahkan menambah jumlah masalah fikih.[3]

Penyajian teori ini oleh Imam Khomeini pada tahun 1367 HS/1988 M yang merupakan Marja' Taklid dan juga Pemimpin Republik Islam Iran, menjadi faktor terpenting perhatian para fukaha dan peneliti terhadap masalah ini.[4] Untuk menjelaskan bagaimana pengaruh ini terjadi, berbagai buku, artikel, dan wawancara telah diterbitkan oleh para fukaha dan peneliti.[5] Pada tahun 1374 HS/1995 M, sebuah konferensi ilmiah dengan tema yang sama diadakan[6] dan kumpulan artikel yang diterima konferensi tersebut diterbitkan dalam 15 jilid dengan judul Majmu'eh Maqalat-e Kongreh-ye Barresi-ye Mabani-ye Feqhi-ye Hazrat Imam Khomeini, yang mengumpulkan 120 artikel dan 31 wawancara.[7]

Pengaruh dalam Pemberdayaan Fikih

Dikatakan bahwa dengan bersandar pada prinsip ini, keaslian fikih Syiah, kesempurnaan potensialnya, kemampuannya menjawab semua masalah dan pertanyaan, kemampuannya mengelola masyarakat dengan cara terbaik, dan keunggulannya atas banyak hukum positif menjadi jelas; karena fikih dapat menjawab semua masalah baru dan kontemporer dengan akurat dan benar, dan dari jawaban-jawaban ini mencapai hasil yang jauh lebih kuat, lebih adil, dan lebih seimbang daripada hukum positif. Pada kenyataannya, semua ini memperjelas keagungan Islam dan fikih Syiah dan mungkin dengan cara ini, banyak keraguan yang diajukan hari ini dapat diselesaikan.[8]

Yang Dimaksud dengan Waktu dan Tempat

Yang dimaksud dengan waktu dan tempat bukanlah konsep filosofis dari kedua istilah ini; melainkan situasi historis masyarakat dan kondisi serta perkembangan sosial, politik, dan lainnya yang terjadi dalam wadah waktu dan tempat. Seorang mujtahid harus memahaminya dengan baik dan menggunakannya dalam penyimpulan hukum.[9] Sayid Kazhim al-Hairi juga menegaskan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi dalam wadah waktu dan tempat pada adat istiadat masyarakat, pada objek-objek fikih, dan pada maslahat serta kriteria hukum, itulah yang dimaksud dalam pembahasan ini.[10] Menurut Hasyimi Syahrudi, ungkapan komprehensif "peran waktu dan tempat" adalah kiasan dari hubungan ekonomi, sosial, dan lainnya yang baru yang terbentuk di berbagai waktu dan tempat dengan perubahan situasi.[11]

Contoh Pengaruh dalam Fikih

Makarim Syirazi, seorang fukaha Syiah, menjelaskan fatwanya tentang penyembelihan kurban haji di tempat lain berdasarkan prinsip ini.[12] Ia juga menganggap perubahan status catur dari alat judi menjadi permainan asah otak, bedah mayat, dan penggunaan darah secara rasional sebagai contoh pengaruh waktu dan tempat dalam pemahaman fikih.[13] Sayid Muhammad Musavi Bujnurdi juga menganggap pembayaran diyat oleh 'aqilah, kesaksian wanita di pengadilan, dan pengaruh inflasi dalam Riba sebagai contoh dari pembahasan ini.[14] Hossein Mehrpour, seorang ahli hukum Syiah, menganggap pengadilan banding sebagai contoh nyata pengaruh waktu dan tempat.[15] Sayid Muhammad Hasan Mar'ashi menambahkan pengadilan oleh non-mujtahid[16] dan Muhammad Ibrahim Jannati dalam sebuah artikel menyebutkan delapan belas topik fikih sebagai contoh peran waktu dan tempat dalam ijtihad dan perubahan hukum.[17] Jual beli organ tubuh, transplantasi organ tubuh, kehalalan nyanyian, pengambilan harta lebih dari Jizyah dari Ahli Dzimmah, pengendalian populasi, menghidupkan lahan mati, dan cara pemanfaatan Anfal adalah di antara contoh-contohnya.[18]

Sejarah

Imam Khomeini, marja taklid dan Pemimpin Republik Islam Iran, dalam beberapa pidato dan pesannya menegaskan peran waktu dan tempat dalam ijtihad.[19] Meskipun menegaskan pada Fikih Jawahiri, beliau menganggap waktu dan tempat sebagai dua unsur penentu dalam ijtihad. Dalam pesan yang diterbitkan pada tahun 1367 HS/1988 M yang ditujukan kepada ulama, beliau menegaskan bahwa mungkin sebuah objek fikih secara lahiriah tidak berubah dibandingkan masa lalu, namun dengan pemahaman yang tepat tentang hubungan ekonomi, sosial, dan politik, objek yang sama tersebut menjadi objek baru.[20]

Makarim Syirazi, salah satu marja taklid Syiah, meyakini bahwa teori ini memiliki preseden dalam fikih Syiah, namun Imam Khomeini menjadikannya sebagai sebuah kaidah dan menerapkannya dalam seluruh fikih.[21] Untuk mendukung klaimnya, ia memberikan dua contoh dari kitab Al-Makasib karya Syekh Anshari untuk menunjukkan bahwa waktu dan tempat berpengaruh dalam fatwa para fukaha.[22] Sayid Mahmud Hasyimi melacak teori ini dalam karya-karya Na'ini, Muhammad Husain Kasyif al-Ghita', dan terutama Sayid Muhammad Baqir Shadr, dan mengatakan bahwa beliau telah menulis artikel tentang peran waktu dan tempat dalam ijtihad.[23]

Namun demikian, Muhammad Jawad Arasta, peneliti fikih politik, dengan mengutip sebuah ungkapan dari Syahid Awwal (786 H), fukaha abad ke-8 H, menunjukkan bahwa masalah peran waktu dan tempat serta pengaruh adat istiadat dan kebiasaan dalam ijtihad memiliki latar belakang yang lebih tua.[24]

Ruang Lingkup Pengaruh Waktu dan Tempat

Peran waktu dan tempat dalam ijtihad telah diperhatikan dari beberapa sudut pandang; Alireza Arafi, mujtahid dan peneliti, menggambarkan 12 bidang pengaruh waktu dan tempat dalam ijtihad.[25]

Pengaruh dalam Ibadah, Muamalah, dan Pelaksanaan Hukum

Muhammad Hadi Ma'rifat, salah satu mujtahid Syiah, menegaskan bahwa perubahan waktu dan tempat tidak berpengaruh dalam ibadah dan hanya efektif dalam hukum Muamalah.[26] Namun Makarem Shirazi juga menerima keterlibatan kedua unsur ini dalam ibadah.[27] Abu al-Qasim Gorji, mujtahid dan profesor universitas, berpendapat bahwa pengaruh terbesar waktu dan tempat adalah pada hukum-hukum yang ia sebut sebagai hukum sosial dan audiens utamanya adalah pemerintahan; seperti perang, perdamaian, kesehatan, budaya, pendidikan, dan sejenisnya.[28] Dan Hasyimi Syahrudi meyakini bahwa poin terpenting yang harus diperhatikan dalam pembahasan hubungan waktu dan tempat dengan ijtihad adalah posisi pelaksanaan hukum dan pemerintahan Islam. Karena dalam pemerintahan dan pengelolaannya, prioritas banyak hukum fikih mungkin berubah atau bahkan hukum dalam satu pemerintahan berbeda dengan pemerintahan lainnya.[29]

Menciptakan Perubahan pada Objek Hukum

Jannati Syahrudi menegaskan bahwa waktu dan tempat hanya menyebabkan transformasi dalam ijtihad jika menyebabkan perubahan objek atau karakteristik eksternal atau internal objek. Menurut keyakinan Jannati, transformasi ini mencakup semua objek agama yang memiliki nash (teks dalil) maupun tidak.[30] Arasta menyajikan analisis fikih dan menyimpulkan bahwa apa yang berubah akibat perubahan waktu dan tempat bukanlah hukum syar'i, melainkan objek baru telah muncul yang secara lahiriah mirip dengan objek lama namun menuntut hukum baru.[31] Ia menegaskan bahwa inilah yang dimaksud Imam Khomeini dengan peran waktu dan tempat.[32] Hasyimi Syahrudi dalam sebuah klasifikasi meyakini bahwa pengaruh dalam perubahan objek atau kriteria hukum hanyalah sebagian dari pengaruh kedua unsur ini dalam ijtihad, bukan keseluruhannya.[33]

Hasyimi Syahrudi, dengan tujuan memperjelas pengaruh objektif waktu dan tempat, menyajikan sebuah daftar yang mencakup pergantian dan perubahan objek hukum syar'i, diagnosis dan penentuan kebutuhan mendesak (dharurah), diagnosis yang lebih penting (ahamm) dan penting (muhim) dari hukum dan kriteria, serta penentuan yang tepat dimensi dan cakupan sirah (tradisi) rasional.[34]

Pengaruh dalam Pemahaman Fikih Mujtahid

Jannati Syahrudi menegaskan bahwa waktu dan tempat bukan termasuk Sumber-sumber Ijtihad[35] dan juga tidak berperan dalam mengubah sumber ijtihad,[36] sebagaimana juga tidak berpengaruh dalam mengubah tolok ukur dan kriteria ijtihad.[37] Meskipun demikian, ia menerima bahwa waktu dan tempat terkadang dapat menyebabkan para mujtahid meninjau kembali pemahaman mereka sebelumnya terhadap sumber-sumber agama.[38] Sebagaimana Hasyimi Syahrudi juga menerima beberapa kasus pengaruh dalam istinbath (penyimpulan hukum); ia merujuk pada pemahaman perluasan dan kemutlakan dalil atau penyempitan dan pengalihannya, pemahaman implikasi implisit atau konsekuensi baru dalam beberapa ayat dan riwayat, dan diagnosis apakah beberapa hukum yang dikeluarkan oleh Maksum bersifat wilayah (kepemimpinan) atau tasyri'i (legislasi).[39] Ia juga menganggap waktu dan tempat berpengaruh dalam mengubah pandangan dunia seorang fukaha dan menunjuk pada beberapa dampaknya.[40]

Muhammad Yazdi, mujtahid Syiah, juga menekankan pada perubahan objek akibat waktu dan tempat, namun menganggap pengaruh terpenting dari kedua faktor ini adalah pada istinbath dan pemahaman terhadap dokumen dan riwayat itu sendiri.[41] Ia juga menganggap pengenalan yang lebih penting (ahamm) dan penting (muhim) serta pertentangan kriteria sebagai hasil sekunder dari peran waktu dan tempat dalam ijtihad.[42] Muhammad Mahdi Ashifi, fukaha lainnya dan murid Muhammad Baqir Shadr, meyakini bahwa meskipun waktu dan tempat berperan dalam penyempurnaan metode ijtihad, namun yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah pengaruh tidak langsung dari kedua komponen ini dalam ijtihad.[43] Ia juga menegaskan pengaruh waktu dan tempat dalam pemahaman fukaha dan menyebutkan khumus harta rampasan perang, zakat barang dagangan, perbankan, dan beberapa kasus lainnya sebagai contoh perubahan ini.[44]

Bibliografi

Mengenai peran waktu dan tempat dalam ijtihad, selain kumpulan 15 jilid artikel kongres peran waktu dan tempat, buku-buku, artikel, dan wawancara lainnya juga telah diterbitkan. Jilid kelima belas dari kumpulan artikel kongres juga didedikasikan untuk bibliografi topik ini.[45]

Catatan Kaki

  1. Arafi, *Ijtihad va Taqlid*, 1398 S, jld. 1, hlm. 340.
  2. Hasyimi Syahrudi, "Moshahabeh ba Faslnameh Hozour", hlm. 239.
  3. Hasyimi Syahrudi, "Moshahabeh ba Faslnameh Hozour", hlm. 236.
  4. Arafi, *Ijtihad va Taqlid*, jld. 1, 1398 S, hlm. 340.
  5. Lihat: Nouri, *Ketab-shenasi-ye Feqh-e Zaman va Makan*.
  6. "Gozareshi az Kongereh-ye Barrasi-ye Mabani-ye Feqhi-ye Imam Khomeini", hlm. 174.
  7. "Majmu'eh Maqalat-e Kongereh-ye Naqsh-e Zaman va Makan dar Ijtihad", Daneshnameh Feqh-e Moaser.
  8. Hasyimi Syahrudi, "Moshahabeh ba Faslnameh Hozour", hlm. 234.
  9. Ansari, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Ijtihad", hlm. 276.
  10. Jam'i az Daneshvaran, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Farayand-e Ijtihad", hlm. 21.
  11. Hasyimi Syahrudi, "Moshahabeh ba Faslnameh Hozour", hlm. 234.
  12. Jam'i az Daneshvaran, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Farayand-e Ijtihad", hlm. 15.
  13. Jam'i az Daneshvaran, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Farayand-e Ijtihad", hlm. 11-13.
  14. Jam'i az Daneshvaran, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Farayand-e Ijtihad", hlm. 42-46.
  15. Jam'i az Daneshvaran, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Farayand-e Ijtihad", hlm. 50.
  16. Jam'i az Daneshvaran, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Farayand-e Ijtihad", hlm. 60.
  17. Jannati, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Ijtihad", hlm. 19-25.
  18. Jannati, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Ijtihad", hlm. 19-25.
  19. Khomeini (Imam), *Sahifeh-ye Imam*, 1378 S, jld. 5, hlm. 293 dan jld. 21, hlm. 217 dan 289.
  20. Khomeini (Imam), *Sahifeh-ye Imam*, 1378 S, jld. 21, hlm. 289.
  21. Jam'i az Daneshvaran, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Farayand-e Ijtihad", hlm. 13.
  22. Jam'i az Daneshvaran, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Farayand-e Ijtihad", hlm. 10-11.
  23. Hasyimi Syahrudi, "Moshahabeh ba Faslnameh Hozour", hlm. 239.
  24. Arasta, "Ta'ammoli Digar dar Ta'sir-e Zaman va Makan dar Ijtihad", hlm. 276.
  25. Arafi, *Ijtihad va Taqlid*, jld. 1, 1398 S, hlm. 345-363.
  26. Jam'i az Daneshvaran, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Farayand-e Ijtihad", hlm. 23-24.
  27. Jam'i az Daneshvaran, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Farayand-e Ijtihad", hlm. 13.
  28. Jam'i az Daneshvaran, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Farayand-e Ijtihad", hlm. 32-33.
  29. Hasyimi Syahrudi, "Matn-e Sokhanan-e Dabir-e Kongereh", hlm. 173-174.
  30. Jannati, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Ijtihad", hlm. 18.
  31. Arasta, "Ta'ammoli Digar dar Ta'sir-e Zaman va Makan dar Ijtihad", hlm. 278.
  32. Arasta, "Ta'ammoli Digar dar Ta'sir-e Zaman va Makan dar Ijtihad", hlm. 279.
  33. *Faslnameh Feqh-e Ahlulbait*, 1374 S, "Feqh va Zaman", hlm. 25-26.
  34. *Faslnameh Feqh-e Ahlulbait*, 1374 S, "Feqh va Zaman", hlm. 25-26.
  35. Jannati, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Ijtihad", hlm. 5.
  36. Jannati, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Ijtihad", hlm. 6.
  37. Jannati, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Ijtihad", hlm. 6.
  38. Jannati, "Naqsh-e Zaman va Makan dar Ijtihad", hlm. 18.
  39. *Faslnameh Feqh-e Ahlulbait*, 1374 S, "Feqh va Zaman", hlm. 25-26.
  40. *Faslnameh Feqh-e Ahlulbait*, 1374 S, "Feqh va Zaman", hlm. 25-26.
  41. *Faslnameh Feqh-e Ahlulbait*, 1374 S, "Feqh va Zaman", hlm. 29.
  42. *Faslnameh Feqh-e Ahlulbait*, 1374 S, "Feqh va Zaman", hlm. 30.
  43. *Faslnameh Feqh-e Ahlulbait*, 1374 S, "Feqh va Zaman", hlm. 32.
  44. *Faslnameh Feqh-e Ahlulbait*, 1374 S, "Feqh va Zaman", hlm. 37.
  45. "Khaneh-ye Ketab va Adabiyat-e Iran"
  46. "Situs Web Faslnameh Naqd va Nazar"
  47. "Khaneh-ye Ketab va Adabiyat-e Iran"

Daftar Pustaka

  • Ansari, Alireza. "Naqsh-e Zaman va Makan dar Ijtihad". *Majmu'eh Asar-e Kongereh-ye Barrasi-ye Mabani-ye Feqhi-ye Hazrat Imam Khomeini (s) "Naqsh-e Zaman va Makan dar Ijtihad"*, jld. 1. 1374 S.
  • Arafi, Alireza. *Ijtihad va Taqlid Jild 1: Muqaddamat Ijtihad*. Transkripsi: Muhammad Azadi. Qom, Mu'assasah Eshraq va Erfan, 1398 S.
  • Arasta, Muhammad Javad. "Ta'ammoli Digar dar Ta'sir-e Zaman va Makan dar Ijtihad".
  • "Feqh va Zaman". Wawancara dengan Sayid Mahmud Hasyimi Syahrudi, Muhammad Yazdi, dan Muhammad Mahdi Ashifi. *Faslnameh Feqh-e Ahlulbait*, No. 3, Musim Gugur 1374 S.
  • "Gozareshi az Kongereh-ye Barrasi-ye Mabani-ye Feqhi-ye Imam Khomeini". *Faslnameh Feqh-e Ahlulbait (as)*, No. 4, Musim Dingin 1374 S.
  • Hasyimi Syahrudi, Sayid Mahmud. "Matn-e Sokhanan-e Dabir-e Kongereh, Ayatullah Sayid Mahmud Hasyimi". *Faslnameh Feqh-e Ahlulbait (as)*, No. 4, Musim Dingin 1374 S.
  • Hasyimi Syahrudi, Sayid Mahmud. "Moshahabeh ba Faslnameh Hozour". *Faslnameh Hozour*, No. 14, Musim Dingin 1374 S.
  • Jam'i az Daneshvaran. "Naqsh-e Zaman va Makan dar Farayand-e Ijtihad dar Nazar-khahi az Daneshvaran". *Faslnameh Naqd va Nazar*, No. 5, Musim Dingin 1374 S.
  • Jannati Syahrudi, Muhammad Ibrahim. "Naqsh-e Zaman va Makan dar Ijtihad". *Kayhan Andisheh*, No. 50, Mehr dan Aban 1372 S.
  • Khomeini (Imam), Sayid Ruhollah. *Sahifeh-ye Imam*. Tehran, Mu'assasah Tanzhim va Nashr-e Asar-e Imam Khomeini, 1378 S.
  • "Majmu'eh Maqalat-e Kongereh-ye Naqsh-e Zaman va Makan dar Ijtihad". Daneshnameh Feqh-e Moaser.