Lompat ke isi

Konsep:Kekikiran

Dari wikishia

Templat:Akhlak Kekikiran atau Bakhil (bahasa Arab: بُخْل) adalah salah satu bentuk sifat buruk yang menghalangi manusia untuk memberikan manfaat dari hartanya kepada orang lain. Memiliki sifat ini menyebabkan seseorang jauh dari Allah swt dan manusia, terhalang dari Surga, serta kehilangan ketenangan hidup. Imam Shadiq (as) menyebut kebakhilan sebagai salah satu tentara kebodohan. Kebakhilan memiliki berbagai tingkatan, yang terburuk adalah bakhil terhadap diri sendiri. Dalam teks-teks keagamaan, tingkat kebakhilan yang paling parah disebut Syuhh. Dalam Al-Qur'an, kata ini digunakan dengan arti menahan diri dari membayar kewajiban finansial. Lawan dari kebakhilan adalah sifat dermawan (sakha').

Faktor terpenting yang menyebabkan munculnya sifat buruk ini dalam diri manusia adalah berprasangka buruk kepada Allah swt dan cinta dunia. Orang yang bakhil, karena memiliki sifat buruk ini, selalu mencari alasan untuk tidak membantu orang lain, bahkan kerabat dekatnya sendiri, dan berusaha menyembunyikan kekayaannya dari orang lain. Dalam ajaran agama, dilarang bermusyawarah dengan orang bakhil dan menyerahkan urusan masyarakat kepadanya. Jika orang bakhil ingin mengobati dirinya, ia harus memaksa dirinya untuk memberi dan berderma dengan mengingat manfaat kedermawanan dan keburukan kebakhilan agar sifat buruk ini melemah dalam dirinya.

Kedudukan

Kata bakhil dan derivasinya disebutkan 12 kali dalam Al-Qur'an; Ayat 37 Surah An-Nisa', Ayat 24 Surah Al-Hadid, Ayat 8 Surah Al-Lail, Ayat 180 Surah Ali Imran, Ayat 76 Surah At-Taubah, ayat 37, dan 38 Surah Muhammad. Selain itu, menurut para mufasir, kata-kata Syuhh[1] dalam ayat "وَ أُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ"[2], Qatr[3] dalam ayat "وَ كانَ الْإِنْسانُ قَتُوراً"[4], dan Dhann[5] dalam ayat "وَ ما هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنينٍ",[6] digunakan dalam arti bakhil.[7]

Menurut sebuah hadis dari Nabi Muhammad saw, orang bakhil adalah orang yang menggunakan hartanya untuk dirinya sendiri tetapi tidak memberikannya kepada orang lain. Kemudian beliau bersabda bahwa yang lebih buruk dari orang bakhil adalah orang yang pelit (la'im), yaitu orang yang tidak menggunakan hartanya untuk dirinya sendiri dan tidak juga memberikannya kepada orang lain.[8] Selanjutnya dalam hadis tersebut disebutkan bahwa berlawanan dengan dua sifat buruk ini, ada dua gelar yaitu dermawan (sakhi) dan pemurah (karim). Orang dermawan adalah orang yang menggunakan hartanya untuk dirinya sendiri dan orang lain juga mendapat manfaat darinya, sedangkan orang pemurah adalah orang yang tidak menggunakan hartanya untuk dirinya sendiri tetapi memberikannya kepada orang lain.[9]

Imam Shadiq (as) dalam riwayat yang dikenal sebagai "Hadis Tentara Akal dan Kebodohan" memasukkan sifat buruk ini ke dalam tentara kebodohan; sebagaimana kedermawanan (sakha') dimasukkan ke dalam tentara akal. (وَ السَّخَاءُ وَ ضِدَّهُ الْبُخْلَ)[10] Allamah Majlisi dalam menjelaskan hadis ini mengatakan bahwa akal adalah kekuatan yang mengajak manusia menuju kebaikan dan penghambaan kepada Allah, sedangkan kebodohan adalah kekuatan yang mengajak manusia menuju keburukan.[11] Sifat-sifat tercela seperti bakhil, memberdayakan kebodohan dalam mengarahkan manusia pada keburukan; sebagaimana sifat-sifat terpuji seperti kedermawanan, membantu akal dalam mengarahkan manusia pada kebaikan.[12]

Dalam ajaran agama, disebutkan petunjuk-petunjuk dalam berinteraksi dengan orang bakhil. Menurut ajaran-ajaran ini, dilarang bergaul dengan orang bakhil, menyampaikan kebutuhan dan permintaan kepadanya, bermusyawarah dengannya,[13] dan menyerahkan urusan masyarakat kepadanya.[14]

Terminologi

Templat:Kutipan

Bakhil berarti menahan diri dari mengeluarkan uang dan memberi[15] dalam kondisi di mana akal menganggap pemberian itu sebagai hal yang baik.[16] Bakhil dianggap sebagai salah satu sifat moral yang tercela yang merupakan lawan dari kedermawanan.[17] Beberapa peneliti berpendapat bahwa bakhil memiliki dua lawan; pertama adalah kedermawanan dan yang kedua adalah berlebih-lebihan (israf).[18]

Sebagian mufasir Al-Qur'an memaknai bakhil lebih luas dari makna umumnya dan berpendapat bahwa segala sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain namun seseorang menahan diri untuk memberikannya, maka hal itu termasuk kategori bakhil.[19] Berdasarkan pandangan ini, tidak mematuhi adab moral seperti memberi salam, kejujuran, dan keikhlasan juga dianggap sebagai bentuk bakhil.[20] Beberapa peneliti menunjukkan bahwa kata bakhil memiliki berbagai tingkatan dan meyakini bahwa kata bakhil dalam Al-Qur'an digunakan dengan makna leksikalnya;[21] sehingga mencakup nikmat materi maupun spiritual seperti ilmu.[22] Dalam beberapa riwayat, disebutkan beberapa contoh bakhil yang mendukung klaim ini.[23] Nabi (saw) dalam sebuah riwayat menyatakan bahwa ilmuwan yang pelit dalam mengajarkan ilmunya akan dikenakan azab Ilahi pada hari kiamat. "رَجُلٌ آتاهُ اللّه ُ عِلما فبَخِلَ بِهِ عَلى عِبادِ اللّه" (Seseorang yang telah Allah berikan ilmu kepadanya lalu dia bakhil dengan ilmu itu terhadap hamba-hamba Allah).[24]

Templat:Kutipan

Menurut para mufasir Al-Qur'an, kata bakhil dalam Al-Qur'an digunakan dengan makna menahan diri dari membayar hak-hak yang wajib, terutama Zakat.[25] Dasar teori ini adalah janji neraka dan siksaan pedih yang dalam beberapa ayat[26] diberikan kepada orang-orang yang bakhil.[27] Dalam banyak riwayat, kata Syuhh digunakan dalam arti bakhil; namun dalam beberapa kasus, Syuhh digunakan untuk merujuk pada tingkatan bakhil yang lebih tinggi.[28]

Tingkatan

Dikatakan bahwa kebakhilan memiliki berbagai tingkatan. Tingkat kebakhilan yang paling rendah adalah ketika seseorang menahan diri dari memberikan sesuatu yang tidak ia butuhkan.[29] Tahap yang lebih tinggi dari itu adalah bakhil terhadap sesuatu yang diberikan orang lain kepada orang yang membutuhkan.[30] Orang yang lebih bakhil dari keduanya adalah orang yang bakhil terhadap dirinya sendiri dan menghalangi dirinya dari menikmati hartanya sendiri.[31]

Faktor Penyebab

Munculnya sifat bakhil pada manusia memiliki beberapa penyebab, di mana berprasangka buruk kepada Allah disebut sebagai faktor utama yang menimbulkan dan memunculkan sifat buruk ini. Beberapa faktor lainnya adalah sebagai berikut:

Dampak Negatif

Sifat bakhil memiliki banyak dampak buruk bagi pemiliknya. Sampai-sampai Imam Ali (as) berkata: Melihat orang bakhil akan mendatangkan kekerasan hati (Qasawah al-Qalb).[40] Dampak negatif lainnya dari sifat buruk ini meliputi hal-hal berikut:

  • Jauh dari Allah swt dan manusia.[41]
  • Terhalang dari Surga.[42]
  • Terkena siksaan pedih di Neraka.[43]
  • Tertimpa semacam kemiskinan.[44]
  • Kehilangan ketenangan.[45]
  • Cenderung melakukan dosa.
  • Kehilangan iman.
  • Terputusnya ikatan sosial dan keluarga.
  • Melanggar hak dan harta orang lain.[46]
  • Kehilangan kehormatan.[47]
  • Kepribadian ganda dan kemunafikan.[48]
  • Jatuh ke dalam perangkap rasa iri (hasad).[49]
  • Tertimpa berbagai jenis keburukan;[50] termasuk pembunuhan, penodaan terhadap hal-hal yang diharamkan Allah, dan memutuskan tali silaturahmi (Qathi'ah al-Rahim).[51]

Selain dampak negatif yang disebutkan di atas, ada pula kerugian sosial bagi orang yang bakhil. Dalam sebuah riwayat, Amirul Mukminin (as) menyatakan bahwa orang-orang tertentu tidak layak memegang jabatan kepemimpinan (imamah) dan pemerintahan atas kaum Muslimin, dan orang yang bakhil termasuk di antaranya.[52] Al-Ghazali dalam Kimiya-ye Sa'adat menganggap kebakhilan di dalam hati seperti najis yang menyebabkan manusia tidak layak mendekatkan diri kepada kebenaran (qurb) dalam salatnya. Tanpa dibersihkan, kedekatan itu tidak akan tercapai. Begitu pula najis bakhil tidak akan bersih kecuali dengan membelanjakan harta, sehingga dengan zakat, najis bakhil dapat dihilangkan, sebagaimana air dapat membersihkan najis.[53]

Tanda-tanda

Disebutkan beberapa tanda adanya sifat buruk bakhil dalam diri manusia:

  • Sering mencari alasan untuk tidak menolong orang lain.[54]
  • Menyembunyikan nikmat agar aman dari permintaan orang-orang.[55]
  • Merasa sangat sedih setelah berinfak (Infak) di jalan Allah.[56]

Pengobatan

Menurut Muhammad Mahdi Naraqi, penulis kitab Jami' al-Sa'adat, penyakit bakhil dapat diobati melalui beberapa cara:

  • Merenungkan dampak negatif bakhil di dunia dan akhirat serta manfaat kedermawanan.
  • Memaksa diri untuk berderma dan memberi, lalu mengulang-ulangnya; hingga timbul rasa suka pada amal baik tersebut.[57]
  • Jika cara-cara sebelumnya tidak membuahkan hasil, seseorang harus mengarahkan jiwanya pada kedermawanan dengan niat riya' dan mencari popularitas, dan setelah penyakit bakhil terobati, barulah ia mulai mengobati penyakit riya.[58]
  • Menghilangkan penyebab utama bakhil, yaitu mencintai harta dan kekayaan duniawi.[59]

Catatan Kaki

  1. Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 5, hlm. 101.
  2. Surah An-Nisa', ayat 128.
  3. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 S, jld. 12, hlm. 301.
  4. Surah Al-Isra', ayat 100.
  5. Modarresi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 17, hlm. 371.
  6. Surah At-Takwir, ayat 24.
  7. Jamali, "Bakhil".
  8. Sya'iri, Jami' al-Akhbar, Mathba'ah Haidariyah, hlm. 113.
  9. Sya'iri, Jami' al-Akhbar, Mathba'ah Haidariyah, hlm. 113.
  10. Barqi, Al-Mahasin, 1371 S, jld. 1, hlm. 197.
  11. Allamah Majlisi, Mir'at al-'Uqul, 1404 H, jld. 1, hlm. 66.
  12. Allamah Majlisi, Mir'at al-'Uqul, 1404 H, jld. 1, hlm. 66.
  13. Ibnu Babawaih, Al-Khisal, 1362 S, jld. 2, hlm. 102.
  14. Taremi, "Bakhil", hlm. 441.
  15. Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1348 H, hlm. 610.
  16. Muhammadi Rey Syahri, Danesy-nameh Qur'an wa Hadits, 1390 S, jld. 11, hlm. 299.
  17. Daliri, "Bimari-ye Bokhl wa Darman-e An dar Amuzeh-ha-ye Dini", hlm. 131.
  18. Muhammadi Rey Syahri, Danesy-nameh Qur'an wa Hadits, 1390 S, jld. 11, hlm. 300.
  19. Thusi, Al-Tibyan, 1413 H, jld. 3, hlm. 196.
  20. Taremi, "Bakhil", hlm. 441.
  21. Taremi, "Bakhil", hlm. 441.
  22. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 S, jld. 3, hlm. 386.
  23. Muhammadi Rey Syahri, Mizan al-Hikmah, 1385 S, jld. 8, hlm. 37.
  24. Muhammadi Rey Syahri, Mizan al-Hikmah, 1385 S, jld. 8, hlm. 47.
  25. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 9, hlm. 349; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 S, jld. 2, hlm. 896.
  26. Surah Ali 'Imran, ayat 180; Surah An-Nisa', ayat 37.
  27. Taremi, "Bakhil", hlm. 440.
  28. Muhammadi Rey Syahri, Danesy-nameh Qur'an wa Hadits, 1390 S, jld. 11, hlm. 300.
  29. Muhammadi Rey Syahri, Danesy-nameh Qur'an wa Hadits, 1390 S, jld. 11, hlm. 300.
  30. Muhammadi Rey Syahri, Danesy-nameh Qur'an wa Hadits, 1390 S, jld. 11, hlm. 300.
  31. Muhammadi Rey Syahri, Danesy-nameh Qur'an wa Hadits, 1390 S, jld. 11, hlm. 300.
  32. Taremi, "Bakhil", hlm. 441.
  33. Naraqi, Jami' al-Sa'adat, Penerbit A'lami, jld. 2, hlm. 114.
  34. Mullahuswaisyi, Bayan al-Ma'ani, 1382 H, jld. 5, hlm. 557.
  35. Jamali, "Bakhil".
  36. Taremi, "Bakhil", hlm. 441.
  37. Muhammadi Rey Syahri, Danesy-nameh Qur'an wa Hadits, 1390 S, jld. 11, hlm. 302.
  38. Muhammadi Rey Syahri, Mizan al-Hikmah, 1385 S, jld. 8, hlm. 47.
  39. Muhammadi Rey Syahri, Mizan al-Hikmah, 1385 S, jld., hlm. 26.
  40. Ibnu Syu'bah al-Harrani, Tuhaf al-'Uqul, 1404 H, hlm. 214.
  41. Imam Shadiq, Mishbah al-Syari'ah, 1400 H, hlm. 82.
  42. Khatib al-Baghdadi, Al-Bukhala, 1421 H, hlm. 72.
  43. Muhammadi Rey Syahri, Mizan al-Hikmah, 1385 S, jld. 8, hlm. 98.
  44. Nahjul Balaghah, Koreksi Subhi Shalih, Hikmah 126, hlm. 491.
  45. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 7, hlm. 303.
  46. Taremi, "Bakhil", hlm. 441.
  47. Muhammadi Rey Syahri, Danesy-nameh Qur'an wa Hadits, 1390 S, jld. 11, hlm. 303.
  48. Jamali, "Bakhil".
  49. Karimi, Bakhil, hlm. 503.
  50. Nahjul Balaghah, Koreksi Subhi Shalih, Hikmah 378, hlm. 543.
  51. Hurr al-Amili, Wasa'il al-Syi'ah, 1409 H, jld. 9, hlm. 42.
  52. Nahjul Balaghah, Muhammad Abduh, Khotbah 131, jld. 2, hlm. 19.
  53. Ghazali, Kimiya-ye Sa'adat, Rahasia Zakat, Bagian 38.
  54. Amidi, Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim, 1410 H, hlm. 524.
  55. Makarem Syirazi, Akhlaq dar Qur'an, 1377 S, jld. 2, hlm. 377.
  56. Makarem Syirazi, Akhlaq dar Qur'an, 1377 S, jld. 2, hlm. 377.
  57. Naraqi, Jami' al-Sa'adat, Penerbit A'lami, jld. 2, hlm. 124-125.
  58. Naraqi, Jami' al-Sa'adat, Penerbit A'lami, jld. 2, hlm. 125.
  59. Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1348 H, hlm. 620.

Catatan

Templat:Catatan-catatan

Daftar Pustaka

  • Syarif al-Radhi, Muhammad bin Husain. Nahj al-Balaghah (Koreksi Subhi Shalih). Qom: Markaz al-Buhuts al-Islamiyah, 1366 S.
  • Amidi, Abdul Wahid bin Muhammad. Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim. Riset oleh: Rajai, Sayid Mahdi. Qom: Dar al-Kutub al-Islami, cetakan kedua, 1410 H.
  • Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali. Al-Khisal. Qom: Jami'ah Mudarrisin, cetakan pertama, 1362 S.
  • Ibnu Syu'bah al-Harrani. Tuhaf al-'Uqul. Qom: Jami'ah Mudarrisin, cetakan kedua, 1404 H.
  • Imam Shadiq, Ja'far bin Muhammad. Mishbah al-Syari'ah. Beirut: A'lami, cetakan pertama, 1400 H.
  • "Bakhil". Gisoom, diakses pada: 16 Bahman 1401 S.
  • "Bakhil wa Syuhh; Syakeleh-e Ekhtilal". Nasyr Qur'an wa Ahlulbait Nubuwwat, diakses pada: 16 Bahman, 1401 S.
  • Barqi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mahasin. Qom: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1371 S.
  • Jamali, Ahmad, dan Gerami, Ali. "Bakhil". Portal Jami' 'Ulum wa Ma'arif Qur'an, diakses pada: 4 Bahman 1401 S.
  • Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan. Wasa'il al-Syi'ah. Qom: Muassasah Al al-Bait alaihimussalam, cetakan pertama, 1409 H.
  • Khatib al-Baghdadi, Ahmad bin Ali. Al-Bukhala. Beirut: Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, 1421 H.
  • Daliri, Mohammad Kazem. "Bimari-ye Bokhl wa Darman-e An dar Amuzeh-ha-ye Dini". Jurnal Ilmiah Spesialis Rah-Tusheh, Musim Semi 1399 S.
  • Sya'iri, Muhammad bin Muhammad. Jami' al-Akhbar. Najaf: Mathba'ah Haidariyah, cetakan pertama, tanpa tahun.
  • Taremi, Hasan. "Bakhil". Daneshnameh Jahan-e Eslam. Jld. 2. Teheran: Bonyad Dairat al-Ma'arif Islami, 1375 S.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Daftar Intisyarat Eslami, cetakan kelima, 1417 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Intisyarat Naser Khosrow, cetakan ketiga, 1372 S.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1413 H.
  • Allamah Majlisi, Muhammad Baqir. Mir'at al-'Uqul fi Syarh Akhbar Al al-Rasul. Riset oleh: Rasuli Mahallati, Hasyim. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1404 H.
  • Karimi, Mahmoud. "Bakhil". Dairat al-Ma'arif Bozorg Eslami. Jld. 11. Teheran: Markaz Dairat al-Ma'arif Bozorg Eslami, 1381 S.
  • Muhammadi Rey Syahri, Muhammad. Danesy-nameh Qur'an wa Hadits. Jld. 11. Qom: Intisyarat Dar al-Hadits, cetakan pertama, 1390 S.
  • Muhammadi Rey Syahri, Muhammad. Mizan al-Hikmah. Tanpa tempat: 1385 S.
  • "Mo'arefi Ketab Bakhil-nameh". Situs Taaghche, diakses pada: 16 Bahman 1401 S.
  • Makarem Syirazi, Naser. Akhlaq dar Qur'an. Qom: Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib, cetakan pertama, 1377 S.
  • Makarem Syirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan pertama, 1374 S.
  • Mullahuswaisyi, Abdul Qadir. Bayan al-Ma'ani. Damaskus: Mathba'ah al-Taraqqi, cetakan pertama, 1382 H.
  • Naraqi, Ahmad. Mi'raj al-Sa'adah. Teheran: Hauzeh Ilmiyah Islami, 1348 H.
  • Naraqi, Muhammad Mahdi. Jami' al-Sa'adat. Beirut: Intisyarat A'lami, cetakan keempat, tanpa tahun.

Templat:Sifat-sifat Buruk Moral Templat:Dosa-dosa