Lompat ke isi

Konsep:Kejahatan moral

Dari wikishia
Makalah ini tentang Kejahatan Moral. Untuk pengenalan masalah keburukan dan keburukan alami, lihat Masalah Kejahatan dan Kejahatan Alami

Kejahatan Moral (bahasa Arab:الشرّ الأخلاقي) sebagai lawan dari Kejahatan Alami,[1] mengacu pada perbuatan tercela dan sukarela (ikhtiyari) seperti Pembunuhan Sengaja dan Pencurian yang menyebabkan penderitaan bagi orang lain.[2] Keberadaan kejahatan di alam semesta merupakan salah satu tantangan besar bagi agama-agama[3] dan menimbulkan pertanyaan tentang keberadaan Tuhan dalam menghadapi kejahatan ini. Kaum ateis menggunakan keberadaan kejahatan moral sebagai alasan ketidakberadaan Tuhan yang Adil dan Maha Pengasih,[4] sementara kaum beragama harus berusaha menyelesaikan ketidakselarasan antara keberadaan kejahatan dan Tuhan.[5]

Para teolog Muslim meyakini bahwa keberadaan kejahatan moral tidak bertentangan dengan sifat-sifat Tuhan, karena kejahatan ini berakar pada kehendak bebas manusia. Allah menciptakan manusia dengan akal dan ikhtiyar (pilihan bebas) agar ia dapat memilih antara yang baik dan yang buruk,[6] dan ikhtiyar inilah yang membuat nilai perbuatan manusia lebih tinggi daripada malaikat.[7] Manusia dengan ikhtiyarnya dapat melakukan perbuatan buruk, namun jika Allah mencegah pilihan ini, maka Dia telah mencabut ikhtiyar darinya.[8] Dalam hadis Tauhid Mufadhdhal yang diriwayatkan oleh Mufadhdhal bin Umar dari Imam Shadiq as, masalah ikhtiyar manusia juga disinggung sebagai jawaban atas kejahatan moral, dan ikhtiyar dianggap sebagai faktor pembeda dan keunggulan manusia dibandingkan hewan.[9]

Berdasarkan pandangan ini, Allah tidak menciptakan manusia jahat, melainkan menciptakan manusia yang memiliki ikhtiyar, yang kemudian menggunakan ikhtiyar tersebut untuk melakukan kejahatan.[10] Dalam struktur ini, dunia berfungsi sebagai arena aksi dan reaksi antara kebaikan dan kejahatan yang menyediakan sarana bagi pertumbuhan dan ujian manusia.[11] Dari sudut pandang ini, keberadaan kezaliman dan perilaku buruk membantu terbentuknya keutamaan-keutamaan seperti kesabaran dan perlawanan terhadap kezaliman.[12] Menurut Mulla Shadra, jika hati yang keras dan kasar tidak ada, manusia pencari kebenaran tidak akan mencapai kesempurnaan mereka.[13] Ahli irfan juga meyakini bahwa keberadaan kejahatan diperlukan untuk manifestasi sebagian Asma dan Sifat Ilahi[14] seperti Maha Pembalas (Al-Muntaqim), Maha Perkasa (Al-Jabbar), Pengampun, dan Pemaaf.[15]

Dalam riwayat-riwayat Syiah, adanya kezaliman dan penindasan di dunia berkaitan dengan kompensasi atas rasa sakit, penderitaan, dan ketidaksetaraan di dunia atau di akhirat.[16] Para teolog Imamiyah dan Muktazilah dengan dalil-dalil akal serta bersandar pada ayat dan riwayat telah membuktikan bahwa Allah akan mengambil hak orang yang terzalimi dari orang yang zalim.[17] Mekanisme ini menyebabkan keberadaan kejahatan moral tidak bertentangan dengan keyakinan akan Tuhan yang adil.[18] Di ranah sosial, perlawanan terhadap kejahatan moral dilakukan melalui penetapan hukum dan penunjukan pelaksana hukum. Allamah Thabathabai dalam tafsir Ayat 213 Surah Al-Baqarah menganggap syariat agama bertujuan untuk mengendalikan sifat dasar manusia yang cenderung menggunakan orang lain (istikhdam).[19]

Salah satu jawaban atas masalah kejahatan adalah bahwa kejahatan itu tidak ada (non-eksistensi) dan hanya merupakan kekurangan serta ketiadaan.[20] Menurut pandangan ini, perbuatan buruk manusia disebabkan oleh ketiadaan sifat-sifat baik dalam dirinya.[21] Misalnya, zina itu buruk karena pelakunya tidak memiliki sifat 'iffah (kesucian diri). Jadi, kejahatan bukan berasal dari Tuhan, melainkan muncul karena adanya kekurangan.[22] Namun, Murtadha Muthahhari menganggap jawaban ini tidak lengkap.[23]

Catatan Kaki

  1. Khatami, Farhang-ge 'Ilm-e Kalam (Kamus Ilmu Kalam), 1370 HS, hlm. 137; Khosrowpanah, Kalam-e Jadid (Teologi Baru), 1381 HS, hlm. 34; Thaheri, Dars-hai az Kalam-e Jadid (Pelajaran dari Teologi Baru), 1384 HS, hlm. 468.
  2. Khatami, Farhang-ge 'Ilm-e Kalam (Kamus Ilmu Kalam), 1370 HS, hlm. 137; Khosrowpanah, Kalam-e Jadid (Teologi Baru), 1381 HS, hlm. 33; Thaheri, Dars-hai az Kalam-e Jadid (Pelajaran dari Teologi Baru), 1384 HS, hlm. 468.
  3. Ghadrdan Gharamaleki, Khoda wa Mas'aleh Syar (Tuhan dan Masalah Kejahatan), 1388 HS, hlm. 9-10.
  4. Sebagai contoh, lihat: Mackie, The Miracle of Theism, 1982, hlm. 155-156.
  5. Peterson dkk, ‘Aql wa I’tiqad-e Dini (Akal dan Keyakinan Agama), 1376 HS, hlm. 178-179.
  6. Khosrowpanah, Kalam-e Jadid (Teologi Baru), 1381 HS, hlm. 34.
  7. Ghadrdan Gharamaleki, Pasukh be Syubahat-e Kalami (Daftar-e Syisyom: ‘Adl-e Ilahi) (Jawaban atas Syubhat Teologis: Keadilan Ilahi), 1391 HS, hlm. 146-147.
  8. Ghadrdan Gharamaleki, Pasukh be Syubahat-e Kalami (Daftar-e Syisyom: ‘Adl-e Ilahi) (Jawaban atas Syubhat Teologis: Keadilan Ilahi), 1391 HS, hlm. 158-160.
  9. Lihat: Mufadhdhal bin Umar, Tauhid al-Mufadhdhal, Penerbit Maktabah al-Dawari, hlm. 173.
  10. Ghadrdan Gharamaleki, Pasukh be Syubahat-e Kalami (Daftar-e Syisyom: ‘Adl-e Ilahi) (Jawaban atas Syubhat Teologis: Keadilan Ilahi), 1391 HS, hlm. 149-152.
  11. Mishbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafah (Pendidikan Filsafat), 1399 HS, jld. 2, hlm. 519-524.
  12. Mishbah Yazdi, Amuzesy-e Falsafah (Pendidikan Filsafat), 1399 HS, jld. 2, hlm. 525; Ghadrdan Gharamaleki, Pasukh be Syubahat-e Kalami (Daftar-e Syisyom: ‘Adl-e Ilahi) (Jawaban atas Syubhat Teologis: Keadilan Ilahi), 1391 HS, hlm. 93-94.
  13. Shadruddin Syirazi, Syarh Ushul al-Kafi (Syarah Ushul Kafi), 1383 HS, jld. 1, hlm. 407.
  14. Muthahhari, Majmu’eh Asar-e Ostad Syahid Muthahhari (Kumpulan Karya Ustaz Syahid Muthahhari), 1376 HS, jld. 13, hlm. 288.
  15. Shadruddin Syirazi, Syarh Ushul al-Kafi (Syarah Ushul Kafi), 1383 HS, jld. 1, hlm. 408.
  16. Ghadrdan Gharamaleki, Khoda wa Mas'aleh Syar (Tuhan dan Masalah Kejahatan), 1388 HS, hlm. 242.
  17. Sebagai contoh lihat: Ibnu Naubakht, Al-Yaqut fi 'Ilm al-Kalam, 1413 H, hlm. 49-50; Sayid Murtadha, Jumal al-'Ilm wa al-'Amal, 1387 H, hlm. 35; Syekh Thusi, Al-Iqtishad, 1406 H, hlm. 143; Qadhi Abdul Jabbar Mu'tazili, Al-Mughni, Tahqiq Mahmud Muhammad Qasim, jld. 11, hlm. 387.
  18. Ghadrdan Gharamaleki, Pasukh be Syubahat-e Kalami (Daftar-e Syisyom: ‘Adl-e Ilahi) (Jawaban atas Syubhat Teologis: Keadilan Ilahi), 1391 HS, hlm. 152.
  19. Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 2, hlm. 124-125.
  20. Hasanzadeh Misykani, Naqd wa Barresi-ye Rah-e Hal-e 'Adami Engari-ye Mahiyat-e Syurur bar Payeh Hekmat-e Muta'aliyeh (Kritik dan Tinjauan Solusi Non-Eksistensi Hakikat Kejahatan Berdasarkan Hikmah Muta'aliyah), hlm. 77.
  21. Ibnu Sina, Al-Ilahiyat min Kitab al-Syifa, 1376 HS, hlm. 455; Shadruddin Syirazi, Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-'Aqliyyah al-Arba'ah, 1981 M, jld. 7, hlm. 104-105.
  22. Ghadrdan Gharamaleki, Pasukh be Syubahat-e Kalami (Daftar-e Syisyom: ‘Adl-e Ilahi) (Jawaban atas Syubhat Teologis: Keadilan Ilahi), 1391 HS, hlm. 147.
  23. Muthahhari, Adl-e Ilahi (Keadilan Ilahi), 1402 HS, hlm. 134.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Sina, Husain bin Abdullah. Al-Ilahiyat min Kitab al-Syifa. Qom: Daftar-e Tablighat-e Eslami-ye Howzeh-ye Elmiyeh Qom: Markaz-e Entisyarat, 1376 HS.
  • Ibnu Naubakht, Ibrahim bin Naubakht. Al-Yaqut fi 'Ilm al-Kalam. Qom: Maktabah Ayatullah al-Uzhma al-Mar'asyi al-Najafi, 1413 H.
  • Peterson, Michael dkk. ‘Aql wa I’tiqad-e Dini (Akal dan Keyakinan Agama). Teheran: Tarh-e Nou, 1376 HS.
  • Hasanzadeh Misykani, Muhammad Jawad. Naqd wa Barresi-ye Rah-e Hal-e 'Adami Engari-ye Mahiyat-e Syurur bar Payeh Hekmat-e Muta'aliyeh ba Ta'kid dar Didgah Ayatullah Jawadi Amuli (Kritik dan Tinjauan Solusi Non-Eksistensi Hakikat Kejahatan Berdasarkan Hikmah Muta'aliyah dengan Penekanan pada Pandangan Ayatullah Jawadi Amuli). Dalam Jurnal Hikmat-e Isra, No. 1, Tahun ke-16, Musim Semi 1403 HS.
  • Khatami, Sayid Ahmad. Farhang-ge 'Ilm-e Kalam (Kamus Ilmu Kalam). Teheran: Shaba, 1370 HS.
  • Khosrowpanah, Abdul Husain. Kalam-e Jadid (Teologi Baru). Qom: Markaz-e Mutala'at wa Pajuhesy-ha-ye Farhangi-ye Howzeh-ye Elmiyeh, 1381 HS.
  • Sayid Murtadha, Ali bin Husain. Jumal al-'Ilm wa al-'Amal. Najaf: Mathba'ah al-Adab, 1387 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Iqtishad fi Ma Yata'allaqu bi al-I'tiqad. Beirut: Dar al-Adhwa', 1406 H.
  • Shadruddin Syirazi, Muhammad bin Ibrahim. Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-'Aqliyyah al-Arba'ah. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-'Arabi, 1981 M.
  • Shadruddin Syirazi, Muhammad bin Ibrahim. Syarh Ushul al-Kafi (Syarah Ushul Kafi). Teheran: Muassaseh Mutala'at wa Tahqiqat-e Farhangi, 1383 HS.
  • Thaheri, Habibullah. Dars-hai az Kalam-e Jadid (Pelajaran dari Teologi Baru). Qom: Jami'ah Mudarrisin Howzeh Elmiyeh Qom: Daftar-e Entisyarat-e Eslami, 1384 HS.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1390 H.
  • Qadhi Abdul Jabbar Mu'tazili, Abdul Jabbar bin Ahmad. Al-Mughni fi Abwab al-Tauhid wa al-'Adl wa al-Imamah. Riset Mahmud Muhammad Qasim. Tanpa Tempat, Tanpa Penerbit, Tanpa Tahun.
  • Ghadrdan Gharamaleki, Muhammad Hasan. Pasukh be Syubahat-e Kalami (Daftar-e Syisyom: ‘Adl-e Ilahi) (Jawaban atas Syubhat Teologis: Keadilan Ilahi). Teheran: Sazman-e Entisyarat-e Pajuhesygah-e Farhang wa Andisyeh Eslami, 1391 HS.
  • Ghadrdan Gharamaleki, Muhammad Hasan. Khoda wa Mas'aleh Syar (Tuhan dan Masalah Kejahatan). Qom: Bustan-e Ketab, 1388 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
  • Mishbah Yazdi, Muhammad Taqi. Amuzesy-e Falsafah (Pendidikan Filsafat). Qom: Muassaseh Amuzesyi Pajuhesyi Imam Khomeini, 1399 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Adl-e Ilahi (Keadilan Ilahi). Teheran: Sadra, 1402 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Majmu’eh Asar-e Ostad Syahid Muthahhari (Kumpulan Karya Ustaz Syahid Muthahhari). Teheran: Sadra, 1376 HS.
  • Mufadhdhal bin Umar. Tauhid al-Mufadhdhal. Qom: Entisyarat-e Maktabah al-Dawari, Cetakan ketiga, Tanpa Tahun.
  • Mirsadri, Saideh. Farasu-ye Syar, Fararu-ye Ranj: Bazsazi-ye Teodiseh Eslami dar Sayeh wasazi-ye Sonnat (Melampaui Kejahatan, Menghadapi Penderitaan: Rekonstruksi Teodisi Islam dalam Bayang-bayang Dekonstruksi Tradisi). Qom: Entisyarat-e Taha, 1401 HS.
  • Mackie, J.L, The Miracle of Theism, New York: Oxford, 1982.