Lompat ke isi

Konsep:Jabbar

Dari wikishia

Jabbar merupakan salah satu dari Nama-nama Allah[1] yang bermakna Pemulih (pemberi ganti), Yang Memperbaiki kehidupan makhluk, Pemilik kekuasaan mutlak, Pemilik kehendak yang tak terbantahkan,[2] serta Yang Maha Agung dan Megah.[3] Terma ini merupakan bentuk mubalaghah (hiperbola) dari akar kata "Jabr".[4] Terdapat pandangan historis yang menyebutkan bahwa tokoh pertama yang menyematkan kata "Jabbar" kepada Allah dengan signifikansi makna penambalan dan perbaikan (kompensasi) adalah Washil bin Atha', seorang ulama terkemuka dari kalangan Muktazilah.[5]

Para mufasir dan peneliti Al-Qur'an mencatat bahwa kata "Jabbar" disebutkan sebanyak sepuluh kali di dalam Al-Qur'an al-Karim.[6] Satu penyebutan di antaranya merujuk secara eksklusif pada sifat Allah, sedangkan sembilan penyebutan lainnya ditujukan sebagai karakteristik bagi orang-orang yang zalim dan durhaka.[7] Pada Ayat 23 Surah Al-Hasyr, atribut ini disandingkan dengan beberapa asma Allah lainnya, seperti "Aziz" dan "Mutakabbir".[8] Kemudian, pada ayat berikutnya, eksistensi Ilahi diperkenalkan melalui rujukan kepada Asmaul Husna (Nama-nama yang Paling Baik).[9]

Terma Jabbar beserta derivasinya (kata seakar) juga lazim dijumpai dalam sejumlah teks doa, seperti Doa Kumail,[10] Yastasyir,[11] Masylul,[12] dan Mujir.[13] Di dalam Doa Jausyan Kabir, kata "Jabbar" dirapalkan setelah asma Qahhar (Yang Mahaperkasa dan Menundukkan), sedangkan kata "Jabir" dilafalkan setelah Kasir (Yang Mematahkan), serta muncul pula dalam frasa Jabir al-'Azhm al-Kasir (Penyambung tulang yang patah).[14]

Berdasarkan tinjauan linguistik dari para ahli bahasa, terdapat diferensiasi fundamental dalam penggunaan kata "Jabbar" antara Allah dan manusia; penerapannya bagi Allah berkonotasi afirmatif (positif), sementara bagi entitas selain Allah selalu berkonotasi negatif.[15] Para pakar meyakini bahwa predikat "Jabbar" secara eksklusif hanya layak disandang oleh Allah, sehingga tidak ada justifikasi apa pun bagi manusia untuk mengadopsi sifat ini.[16] Nisbah sifat ini kepada manusia justru mengimplikasikan pembangkangan, kebinasaan (syaqawah), dan perilaku tercela.[17]

Di dalam berbagai riwayat, terminologi "Jabbar" senantiasa diposisikan secara afirmatif ketika merujuk kepada Allah, sedangkan manusia yang bersikap jabbar selalu mendapatkan kecaman keras. Melalui Surat Perjanjian Malik al-Asytar, Imam Ali as memberikan preskripsi yang tegas kepada Malik: "Hindarilah menyamakan dirimu dalam keagungan dengan Allah atau menyejajarkan dirimu dengan-Nya dalam kebesaran dan kekuasaan (jabarut), karena Allah menghinakan setiap jabbar (tiran yang sewenang-wenang) dan merendahkan setiap orang yang sombong."[18]

Catatan Kaki

  1. Darudabadi, Syarh al-Asma' al-Husna, 1426 H, hal. 71.
  2. Sebagai contoh lihat: Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 14, hal. 71; Thabathabai, Al-Mizan, 1371 HS, jld. 19, hal. 20; Fakhruddin Razi, At-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 29, hal. 255.
  3. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 5, hal. 260; Thusi, At-Tibyan, 1376 H, jld. 9, hal. 574.
  4. Syarbashi, Musu'ah Lahu al-Asma' al-Husna, 1408 H, jld. 1, hal. 74.
  5. Askari, Al-Furuq al-Lughawiyyah, 1412 H, hal. 205.
  6. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1380 HS, jld. 23, hal. 554.
  7. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1380 HS, jld. 23, hal. 554.
  8. Surah Al-Hasyr, ayat 23.
  9. Surah Al-Hasyr, ayat 24.
  10. Qumi, Mafatih al-Jinan, 1392 HS, hal. 62.
  11. Qumi, Mafatih al-Jinan, 1392 HS, hal. 78.
  12. Qumi, Mafatih al-Jinan, 1392 HS, hal. 74.
  13. Qumi, Mafatih al-Jinan, 1392 HS, hal. 80.
  14. Qumi, Mafatih al-Jinan, 1392 HS, hal. 86.
  15. Sebagai contoh lihat: Tharihi, Majma' al-Bahrain, 1375 HS, jld. 3, hal. 239; Raghib Isfahani, Mufradat fi Gharaib al-Qur'an, 1412 H, entri Jabr.
  16. Askari, Al-Furuq al-Lughawiyyah, 1412 H, hal. 205.
  17. Sebagai contoh lihat: Tharihi, Majma' al-Bahrain, 1375 HS, jld. 3, hal. 239; Raghib Isfahani, Mufradat fi Gharaib al-Qur'an, 1412 H, entri Jabr.
  18. Ray-Syahri, Mizan al-Hikmah, 1380 HS, jld. 1, hal. 368.

Daftar Pustaka

Askari, Hasan bin Abdullah. Al-Furuq al-Lughawiyyah. Kairo, Qom, Penerbit Islami, 1412 H. Fakhruddin Razi, Muhammad bin Umar. At-Tafsir al-Kabir. Beirut, Penerbit Ihya' at-Turats al-Arabi, 1420 H. Farahidi, Khalil bin Ahmad. Al-Ain. Qom, Penerbit Hijrat, 1409 H. Makarim, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Penerbit Al-Kutub Al-Islamiyyah, 1380 HS. Muhammadi Ray-Syahri, Muhammad. Mizan al-Hikmah. Qom, Lembaga Dar al-Hadits, 1380 HS. Qumi, Abbas. Kulliyat Mafatih al-Jinan. Qom, Uswah, 1392 HS. Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. Mufradat fi Gharaib al-Qur'an. Beirut, Penerbit Asy-Syamiyah, 1412 H. Syarbashi, Ahmad. Musu'ah Lahu al-Asma' al-Husna. Beirut, Penerbit Al-Jil, 1408 H. Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Al-Ma'rifah, 1408 H. Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Ismailiyan, 1371 HS. Thabari, Muhammad. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Al-Ma'rifah, 1412 H. Tharihi, Fakhruddin. Majma' al-Bahrain. Teheran, Penerbit Murtadhawi, 1375 HS. Thusi, Muhammad bin Hasan. At-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Ihya' at-Turats al-Arabi, 1376 H.