Lompat ke isi

Konsep:Ibnu Abjar al-Kinani

Dari wikishia
Ibnu Abjar al-Kinani
Informasi Pribadi
Nama LengkapAbdul Malik bin Sa'id bin Hayyan bin Abjar 'Ajli Kinani Hamdani Kufi
Terkenal denganTabib dan Muhaddits Syiah
LakabIbnu Abjar al-Kinani
Informasi ilmiah
Guru-guruSya'bi • Ikrimah • Thalhah bin Musharrif •Washil bin Ahdab
Murid-muridSufyan al-Tsauri • Zuhair bin Muawiyah • Ubaidullah Asyja'i • Sufyan bin UyainahSulaiman bin Mihran al-A'masy
Kegiatan Sosial dan Politik


Ibnu Abjar al-Kinani, dengan nama lengkap Abdul Malik bin Sa'id bin Hayyan bin Abjar, adalah salah satu tabib dan muhaddits Syiah pada abad-abad awal Islam. Dalam kitab-kitab rijal Syiah, ia disebutkan sebagai muhaddits yang tsiqah (terpercaya), dan namanya juga tercantum dalam sumber-sumber rijal Ahlusunah sebagai salah satu perawi hadis.[1] Ia berasal dari keluarga Abjar yang terkenal dengan profesi kedokteran, dan pada saat yang sama juga berperan dalam periwayatan hadis.

Biografi

Abdul Malik bin Sa'id bin Hayyan bin Abjar, yang dikenal sebagai Ibnu Abjar al-Kinani dan memiliki kunyah "Abu Bakar", berasal dari Kufah.[2] Dalam sumber-sumber rijal Syiah, keluarga Abjar disebutkan sebagai keluarga yang dikenal di Kufah, di mana anggota-anggotanya secara turun-temurun berprofesi sebagai tabib, namun beberapa di antara mereka juga termasuk dalam jajaran perawi hadis.[3]

Tidak ada laporan yang jelas mengenai tanggal pasti kelahiran dan wafatnya. Menurut catatan Ibnu Hajar al-Asqalani, Abdul Malik masih hidup pada tahun 161 H.[4] Sebaliknya, Najasyi melaporkan bahwa ia hidup hingga sekitar tahun 240 H.[5] Perbedaan waktu ini membuat para peneliti menduga bahwa mungkin ada lebih dari satu tokoh dengan nama "Abdul Malik Ibnu Abjar" yang dilaporkan dalam sumber-sumber sejarah.

Kedokteran

Sumber-sumber sejarah dan rijal memuji Ibnu Abjar dan keluarganya atas keahlian mereka dalam ilmu kedokteran. Ibnu Qutaibah menyebutkan pengetahuan medisnya.[6] Selain itu, Al-'Ajli menegaskan bahwa Ibnu Abjar tidak menerima upah dalam mengobati pasien, dan praktik kedokterannya memiliki aspek moral dan kemanusiaan.[7]

Guru

Dalam sumber-sumber rijal Ahlusunah, nama-nama seperti Sya'bi, Ikrimah, Thalhah bin Musharrif, dan Washil bin Ahdab disebutkan sebagai guru-guru hadis Ibnu Abjar.[8] Dalam sumber-sumber Syiah, tidak ada laporan independen mengenai guru-gurunya, namun ketsiqahannya dalam meriwayatkan hadis telah ditekankan.[9]

Murid

Di antara orang-orang yang meriwayatkan dari Ibnu Abjar, tercatat nama-nama seperti putranya Abdurrahman, Sufyan al-Tsauri, Zuhair bin Muawiyah, Ubaidullah Asyja'i, Sufyan bin Uyainah, dan Sulaiman bin Mihran al-A'masy.[10] Daftar ini menunjukkan posisinya dalam jaringan periwayatan hadis pada abad-abad awal Islam.

Pengajaran dan Hubungan dengan Sekolah Iskandariyah

Ibnu Abi Ushaibi'ah dalam bukunya menganggap Abdul Malik Ibnu Abjar sebagai salah satu guru Sekolah Iskandariyah dan memasukkannya ke dalam daftar dokter yang beraktivitas di lingkungan ilmiah wilayah tersebut setelah penaklukan Mesir.[11] Namun, laporan ini menghadapi masalah kronologis yang serius, dan banyak peneliti menganggapnya sebagai hasil dari pencampuran antara individu-individu yang memiliki nama sama.

Perbedaan Pendapat

Ibnu Abi Ushaibi‘ah tidak menyebutkan secara jelas waktu masuk Islam tokoh ini. Namun, Wustenfeld—seorang orientalis Jerman—mengaitkannya dengan sekitar tahun 70 H/689 M dan berpendapat bahwa Abdul Aziz bin Marwan, Gubernur Mesir, berperan dalam mendorongnya untuk memeluk Islam.[12]

Ibnu Abi Ushaibi‘ah juga menyebutkan bahwa Al-A‘masy dan Sufyan meriwayatkan sejumlah ucapan Ibnu Abjar terkait metode menjaga kesehatan. Selain itu, ia menyinggung peristiwa pemindahan sekolah kedokteran dari Iskandariyah ke Antokia, yang terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz (99–101 H/718–720 M).[13]

Riwayat yang dinisbatkan kepada Sulaiman bin Mihran al-Razi yang dikenal sebagai Al-A‘masy (W. 148 H), Sufyan bin Uyainah (W. 198 H), dan Sufyan al-Tsauri (W. 162 H) dari Ibnu Abjar memang tercantum dalam sejumlah kitab rijal Ahlusunah yang telah disebutkan sebelumnya. Namun demikian, keterangan Ibnu Abi Ushaibi'ah ini sulit diterima, mengingat jarak waktu yang cukup panjang antara penaklukan Mesir dan masa hidup para perawi tersebut. Dengan asumsi bahwa Abdul Malik berusia setidaknya 30 tahun pada saat Iskandariyah jatuh dan ia telah berperan sebagai pengajar kedokteran, serta mempertimbangkan pernyataan Ibnu Hajar yang menunjukkan bahwa ia masih hidup pada tahun 161 H, maka ia harus berumur lebih dari 120 tahun.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat selisih usia sekitar 80 tahun antara sosok guru Sekolah Iskandariyah yang disebutkan dalam sebagian sumber, dengan Abdul Malik Ibnu Abjar sebagaimana digambarkan dalam sumber-sumber Ahlusunah dan tokoh bernama sama dalam sumber-sumber Syiah.

Pendapat Sezgin

Sezgin, dalam upayanya menjelaskan sebagian persoalan ini—tampaknya tanpa merujuk pada sumber-sumber Syiah—berpendapat bahwa tabib dari Sekolah Iskandariyah bernama Abjar, sementara Abdul Malik sang muhaddits adalah putranya. Ia menganggap bahwa kesalahan Ibnu Abi Ushaibi'ah hanyalah akibat pencampuran identitas antara ayah dan anak, dan tidak menutup kemungkinan bahwa di Sekolah Iskandariyah memang pernah ada seorang pengajar bernama Abjar.[14] Namun demikian, sebagaimana telah ditunjukkan sebelumnya, seluruh kitab rijal memperkenalkan leluhur Abdul Malik dengan nama-nama Arab. Oleh karena itu, keberadaan seorang pengajar Arab di Sekolah Iskandariyah pada masa Bizantium (Kekaisaran Romawi Timur) tampaknya sulit diterima.[15]

Di sisi lain, pada abad pertama Hijriah dikenal seorang ilmuwan Kristen bernama Adfer di Iskandariyah, yang juga memiliki pengetahuan tentang alkimia. Menurut Leclerc, Adfer ini kemungkinan adalah sosok yang sama dengan tokoh yang disebut Ibnu Abi Ushaibi'ah sebagai Ibnu Abjar.[16]

Dua Muhaddits Bernama Abdul Malik Tabib

Pada waktu yang sama, keberadaan sebuah keluarga bernama Abjar di Kufah—yang berasal dari kalangan mawali Kinanah, Bani 'Ijl, atau Bani Hamdan—tidak dapat diragukan. Sejumlah sumber juga menyebutkan bahwa profesi tradisional keluarga ini adalah sebagai tabib.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat dua orang muhaddits bernama Abdul Malik yang besar kemungkinan keduanya juga berprofesi sebagai tabib. Salah seorang di antaranya wafat pada abad kedua Hijriah, sedangkan yang lainnya pada abad ke-3 Hijriah. Oleh sebab itu, kemungkinan terjadinya kekeliruan dalam penyebutan nama ayah mereka, baik dalam sumber-sumber Syiah maupun Sunni, tidak dapat diabaikan.[17]

Catatan Kaki

  1. Najasyi, Rijal, hlm. 217; Ibnu Hajar, Tahdzib al-Tahdzib, jil. 6, hlm. 394–395.
  2. Bukhari, al-Tarikh al-Kabir, jil. 3(1), hlm. 416.
  3. Najasyi, Rijal, hlm. 217.
  4. Ibnu Hajar, Tahdzib al-Tahdzib, jil. 6, hlm. 395.
  5. Najasyi, Rijal, hlm. 217.
  6. Ibnu Qutaibah, al-Ma'arif, hlm. 66.
  7. 'Ajli, Tarikh al-Tsiqat, hlm. 307–308.
  8. Ibnu Abi Hatim Razi, al-Jarh wa al-Ta'dil, jil. 2, hlm. 351–352.
  9. Najasyi, Rijal, hlm. 217.
  10. Ibnu Hajar, Tahdzib al-Tahdzib, jil. 6, hlm. 394–395.
  11. Ibnu Abi Ushaibi'ah, Uyun al-Anba, jil. 1, hlm. 116.
  12. Wustenfeld, hlm. 7.
  13. Ibnu Abi Ushaibi‘ah, Ahmad, Uyun al-Anba, jil. 1, hlm. 116.
  14. GAS, III/205–206.
  15. Meyerhof, Max, “Min al-Iskandariyyah ila Baghdad”, hlm. 66.
  16. Leclerc, Lucien, Histoire de la médecine arabe, hlm. 62–64.
  17. Maulavi, Ibnu Abjar al-Kinani, dalam Da’irat al-Ma'arif al-Kubra al-Islamiyyah, 1370 HS, jil. 2, hlm. 622–623.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Abi Hatim Razi, Muhammad bin Idris. Al-Jarh wa al-Ta'dil. Hyderabad Deccan: 1372 H/1953 M.
  • Ibnu Abi Ushaibi'ah, Ahmad bin Qasim. Uyun al-Anba fi Thabaqat al-Athibba. Diedit oleh Max Muller. Kairo: Bulaq, 1299 H/1882 M.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahmad bin Ali. Tahdzib al-Tahdzib. Hyderabad Deccan: 1326 H/1908 M.
  • Ibnu Manjuwaih, Ahmad bin Ali. Rijal Shahih Muslim. Diedit oleh Abdullah al-Laitsi. Beirut: 1407 H/1987 M.
  • Ibnu Qutaibah, Abdullah bin Muslim. Al-Ma'arif. Diedit oleh Tharwat Ukasyah. Kairo: 1960 M.
  • Ibnu Sa'ad, Muhammad bin Sa'ad. Al-Thabaqat al-Kubra. Diedit oleh Ihsan Abbas. Beirut: Dar Shadir, tanpa tahun.
  • Al-'Ajli, Ahmad bin Abdullah. Tarikh al-Tsiqat. Diedit oleh Abdul Mu'thi Qal'aji. Beirut: 1984 M.
  • Al-Basawi, Ya'qub bin Sufyan. Al-Ma'rifah wa al-Tarikh. Diedit oleh Akram Dhiya al-Umari. Baghdad: 1394 H/1981 M.
  • Al-Bukhari, Ismail bin Ibrahim. Al-Tarikh al-Kabir. Hyderabad Deccan: 1377 H/1958 M.
  • Leclerc, Lucien. Histoire de la médecine arabe. New York, 1971.
  • Maulavi, Muhammad Ali. "Ibnu Abjar al-Kinani". Dalam: Da'irat al-Ma'arif al-Kubra al-Islamiyyah. Teheran: Markaz Da'irat al-Ma'arif al-Kubra al-Islamiyyah, 1370 HS, jil. 2, hlm. 622–623.
  • Meyerhof, Max. "Min al-Iskandariyyah ila Baghdad". Dalam: Al-Turats al-Yunani fi al-Hadharah al-Islamiyyah. Terjemahan Abdurrahman Badawi. Beirut: 1980 M.
  • Najasyi, Ahmad bin Ali. Rijal al-Najasyi. Qom: 1407 H/1987 M.
  • Sezgin, Fuat. Geschichte des arabischen Schrifttums (GAS). (Vol. III).
  • Wustenfeld, Ferdinand. Geschichte der arabischen Aerzte und Naturforscher. New York, 1978.