Lompat ke isi

Konsep:Ghulam Ahmad Qadiyani

Dari wikishia
Ghulam Ahmad Qadiyani
Pendiri sekte Qadiyaniyah
Nama lengkapMirza Ghulam Ahmad Qadiyani
Terkenal denganPendiri sekte Qadiyaniyah
Afiliasi agamaQadiyaniyah
Kerabat termasyhurTimur Lenk
Lahir13 Februari 1835
Tempat tinggalQadian dan Lahore
Wafat26 Mei 1908
Tempat dimakamkanQadian
Guru-guruFadhl Ahmad • Gul Ali Shah • Ghulam Murtadha
Karya pentingBarahin-e-AhmadiyyaSurmah-e-Chashm-e-AryaRuhani Khazain


Ghulam Ahmad Qadiyani (lahir 1835 – wafat 1908 M) adalah pendiri sekte Qadiyaniyah dan salah satu tokoh yang mencetuskan klaim Mahdawiyah serta kenabian di India. Qadiyani mengemukakan pelbagai klaim terkait hubungan khususnya dengan Tuhan dan otoritas kepemimpinan umat. Ia mendeklarasikan dirinya sebagai Mujaddid Islam, Al-Masih yang Dijanjikan, Al-Mahdi yang Dijanjikan, dan nabi utusan Tuhan, sembari melabeli para penentangnya sebagai golongan Kafir.

Mayoritas ulama Islam telah merilis fatwa kekafiran terhadapnya. Penjatuhan fatwa ini didasarkan pada keyakinan Ghulam Ahmad mengenai konsep hulul dan tanasukh, penisbatan anak kepada Allah, penyamaan Tuhan dengan manusia, klaim kenabian, penolakan terhadap konsep keakhiran kenabian Nabi Muhammad saw, pengalihan lokus ibadah Haji dari Mekah ke Qadian, serta penghapusan syariat Jihad.

Ghulam Ahmad mulai dikenal luas pada masa kekuasaan kolonial Inggris di India, yang bertepatan dengan maraknya aktivitas misionaris Kristen. Ketenarannya mencuat melalui serangkaian debat teologis dengan penganut Hindu dan Kristen, yang kemudian disusul dengan penerbitan buku Barahin-e-Ahmadiyya. Sebagian pakar berpendapat bahwa dalam karya tersebut, ia lebih banyak memaparkan pengalaman kasyf dan syuhud, serta mendaku berbagai ilham dan karamah pribadinya. Ghulam Ahmad mengembuskan napas terakhir di kota Lahore, Pakistan, dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Qadian. Terdapat sekitar 75 karya tulis yang dinisbatkan kepada Qadiyani, yang mayoritas di antaranya dihimpun dalam koleksi 23 jilid berbahasa Urdu bertajuk Ruhani Khazain.

Biografi

Mirza Ghulam Ahmad Qadiyani merupakan pendiri sekte Qadiyaniyah sekaligus salah satu tokoh yang mengemukakan klaim kenabian[1] dan Mahdawiyah di lingkungan Ahlussunnah.[2] Ia dilahirkan pada tahun 1835 M[3] di desa Qadian, distrik Gurdaspur, wilayah Punjab, India.[4] Pada masa remajanya, ia mempelajari ilmu qiraah Al-Qur'an, literatur berbahasa Persia, dan tata bahasa Arab (Sharaf-Nahwu). Beranjak dewasa, ia mendalami logika, Hikmah, dan ilmu kedokteran di bawah bimbingan ayahnya, Mirza Ghulam Murtadha, beserta sejumlah guru lainnya.[5] Menurut kesaksian Sadruddin Ahmadi, salah satu tokoh terkemuka Qadiyaniyah, pasca wafatnya sang ayah, Ghulam Ahmad mulai mengasingkan diri untuk menjalani riyadhah spiritual.[6]

Pada abad ke-19 M, ketika India berada di bawah cengkeraman kolonial Inggris dan para misionaris Kristen gencar menyebarkan ajarannya,[7] Qadiyani meraih popularitas berkat kepiawaiannya berdebat dengan para pemuka Hindu dan Kristen.[8] Merespons meningkatnya kritik dan keraguan yang dilontarkan pihak oposisi terhadap Islam, ia menerbitkan sebuah buku bertajuk Barahin-e-Ahmadiyya pada tahun 1880 M untuk menegaskan keunggulan agama Islam.[9] Menurut Ihsan Ilahi Zahir, seorang cendekiawan Ahlussunnah, di dalam buku tersebut Qadiyani justru lebih banyak menguraikan kasyf dan syuhud pribadi, serta menyebutkan ilham dan karamah yang diklaimnya sendiri; hal inilah yang kemudian memicu para ulama Islam mulai mengambil jarak dan menjauhinya.[10]

Diriwayatkan pula bahwa Qadiyani secara terus-menerus mengidap gangguan kesehatan seperti sakit kepala kronis, insomnia, dan melankolia (sejenis depresi berat).[11] Ilahi Zahir berargumentasi bahwa ucapan serta klaim-klaimnya sangat mungkin dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan dan penyakit yang dideritanya tersebut.[12] Ghulam Ahmad meninggal dunia pada tahun 1908 M di Lahore, Pakistan, dan dimakamkan di tempat kelahirannya, Qadian.[13]Templat:Catatan

Keyakinan

Sepanjang hidupnya, Ghulam Ahmad Qadiyani melontarkan berbagai klaim kontroversial. Dikatakan bahwa fondasi utama dari sebagian besar klaim tersebut bertumpu pada argumen-argumen subjektif seperti wahyu, ilham, ramalan, dan ajakan untuk melakukan mubahalah.[14] Beberapa klaim utamanya meliputi:

Mujaddid Islam

Pada usia lima puluh tahun, setelah mendaku telah mengalami serangkaian mimpi spiritual, Qadiyani mengumumkan bahwa dirinya menerima ilham ilahi.[15] Berselang beberapa waktu, ia mengutarakan pandangan bahwa setiap seratus tahun, Tuhan akan membangkitkan sosok pembaru (mujaddid) untuk merevitalisasi agama umat.[16] Ia pun mengklaim bahwa pada pergantian abad ke-13 menuju abad ke-14 H, Tuhan telah menunjuknya sebagai Mujaddid abad tersebut.[17] Berlandaskan hal itu, pada tahun 1888 M, ia menyerukan umat untuk membaiatnya seraya memperkenalkan diri sebagai "Mujaddid Islam" dan "Utusan dari Allah".[18]

Al-Masih yang Dijanjikan

Menurut doktrin Qadiyani, Nabi Isa as tidak wafat di tiang salib, melainkan bermigrasi ke wilayah Kashmir, hidup hingga usia 120 tahun, dan dimakamkan di kota Srinagar.[19] Ghulam Ahmad melakukan takwil spesifik terhadap hadis-hadis eskatologis terkait kedatangan kembali Nabi Isa as, dengan menegaskan bahwa sosok yang dimaksud bukanlah fisik Isa as itu sendiri, melainkan individu yang mewarisi sifat dan manifestasinya.[20] Ia meyakini bahwa ruh kebenaran Isa as telah terejawantahkan di dalam dirinya.[21] Pada tahun 1891 M, Qadiyani menerbitkan karya bertajuk Fath-e Islam dan secara resmi mendeklarasikan dirinya sebagai "Al-Masih yang Dijanjikan".[22] Bahkan, dalam sejumlah bait puisinya, ia berani menyejajarkan—atau melebihkan—kedudukannya di atas Nabi Isa as.

Al-Mahdi yang Dijanjikan

Ghulam Ahmad mendiskreditkan hadis-hadis yang menetapkan Al-Mahdi yang Dijanjikan sebagai keturunan langsung Sayidah Fatimah sa. Dengan bersandar pada hadis "La Mahdi illa Isa bin Maryam..." (Tidak ada Mahdi selain Isa bin Maryam),[23] yang tercantum dalam sebagian literatur AhlussunnahTemplat:Catatan dan dinisbatkan kepada Nabi Muhammad saw, ia membangun konklusi teologis bahwa Mahdi as dan Isa as adalah entitas tunggal yang sama.[24] Ia menegaskan bahwa Mahdi yang dinubuatkan adalah wujud manifestasi dari Al-Masih as dan Muhammad saw sekaligus. Klaim ini direpetisi secara konsisten dalam berbagai bukunya dengan diksi: "Akulah Al-Masih yang dijanjikan dan Al-Mahdi yang dinantikan" yang kini telah menampakkan diri.[25] Melalui untaian puisinya, ia juga memproklamirkan bahwa dirinya lebih mulia dibandingkan Imam Husain as.

Kenabian

Pada tahun 1900 M, sekelompok pengikut Ghulam Ahmad mulai menyematkan gelar nabi kepadanya. Mirza Ahmad secara implisit mengakomodasi atribusi tersebut dengan memperkenalkan terminologi teologis baru seperti "Nabi Naqish" (Nabi yang tidak sempurna), "Nabi Juz'i" (Nabi parsial), dan "Nabi Muhaddats".[26] Kendati demikian, guna meredam polemik, ia merilis pernyataan klarifikasi: "Aku adalah seorang 'Rasul Tabi' (Rasul yang Mengikuti) dan tidak bersifat independen. Wahyu diturunkan kepadaku dan aku menyingkap ilmu gaib, namun aku bukanlah pembawa syariat baru, melainkan sekadar penerima limpahan karunia melalui perantaraan kenabian Muhammad saw".[27]

Menyaksikan Penyatuan Ruh Tuhan

Dalam manuskrip Ayina-e-Kamalat-e-Islam, Ghulam Ahmad mengutarakan bahwa di alam mimpi, ia mengalami ekstase spiritual berupa penyatuan hakikat dirinya dengan Tuhan, di mana ruh ilahiah diklaim telah merasuk dan meliputi raga jasmaninya.[28] Lebih jauh lagi, melalui buku Al-Arba'in yang terbit pada 1900 M, ia mengklaim telah menerima transmisi ilham dari Tuhan, seraya berulang kali mengutip firman yang diklaim ditujukan kepadanya: "...Anta minni bi-manzilati tauhidi wa tafridi..." (Kedudukanmu di sisi-Ku adalah representasi dari tauhid dan keesaan-Ku).[29]

Menerima Wahyu Selain Al-Qur'an

Berdasarkan telaah sumber, Ghulam Ahmad Qadiyani mengklaim bahwa dirinya menerima turunan wahyu langsung dari langit yang ia posisikan setara dengan kedudukan Al-Qur'an. Narasi pewahyuan ini kerap ia bunyikan melalui diksi sastra dalam puisi-puisi berbahasa Persia gubahannya.

Pandangan Qadiyani dalam Jihad dan Takfir

Para peneliti mengidentifikasi bahwa Ghulam Ahmad mengadopsi pandangan syadz (ganjil/menyimpang) dalam ranah hukum fikih (furu'), khususnya terkait doktrin Jihad dan takfir.[30] Ghulam Ahmad secara lugas melabeli siapa pun yang menolak untuk beriman kepadanya serta mendustakan risalahnya sebagai golongan Kafir,[31] hingga pada taraf mengharamkan pengikutnya untuk bermakmum kepada non-Ahmadi dalam pelaksanaan salat.[32]

Sikap Qadiyani terkait yurisprudensi jihad memanifestasikan dualisme pandangan; dalam sebagian literaturnya, ia mewacanakan penghapusan (nasakh) dan pencabutan absolut hukum jihad secara fisik di era modern,[33] sementara pada referensi lain ia hanya menjustifikasi kebatilan inisiasi peperangan ekspansif melawan orang kafir dengan dalih penyebaran Islam—konsep yang secara historis dikenal sebagai Jihad Ibtida'i.[34]

Takfir Terhadap Qadiyani

Sebagian kalangan moderat berpendapat bahwa pengikut Ghulam Ahmad secara sosiologis tetap berstatus Muslim, kendati mereka cacat teologis karena mengingkari pilar keakhiran Nabi Muhammad saw.[35] Walau begitu, otoritas ulama Islam arus utama telah meratifikasi fatwa kekafiran secara kelembagaan terhadap Qadiyani. Keputusan ini berpijak pada penyimpangan akidah Ghulam Ahmad yang mencakup: adopsi paham hulul dan tanasukh, asersi bahwa Tuhan memiliki anak, antropomorfisme (penyerupaan Tuhan dengan manusia), pengakuan kenabian pasca-Muhammad, negasi dogma khatamiyah, pensakralan Qadian sebagai destinasi haji tandingan selain Mekah, serta abreviasi syariat jihad pertahanan.[36]

Menurut penuturan Muhammad Taqi Utsmani, konstelasi penolakan ini memuncak pada tahun 1394 H dalam sebuah muktamar akbar di Mekah. Konferensi yang diinisiasi oleh berbagai ligatur Dunia Islam dan dihadiri oleh delegasi dari 144 negara tersebut, secara aklamasi memutuskan bahwa sekte Qadiyaniyah berada di luar pangkuan Islam akibat kontradiksi fundamental ajaran Ghulam Ahmad dengan pilar-pilar esensial Islam.[37]

Pengikut Qadiyani

Para loyalis dan pengikut ajaran Ghulam Ahmad Qadiyani berafiliasi di bawah nomenklatur Qadiyaniyah atau yang lebih populer dikenal sebagai Ahmadiyah.[38] Dinamika geopolitik pasca-kemerdekaan Pakistan pada tahun 1947 M memaksa komunitas Ahmadiyah bermigrasi dari Qadian menuju sebuah lahan strategis yang berjarak 145 km dari Lahore, tempat mereka merintis tata kota mandiri yang diberi nama "Rabwah".[39] Meskipun demikian, resistensi terus bergulir; para ulama Pakistan melancarkan kampanye masif yang mengidentifikasi mereka sebagai sekte sempalan non-Muslim berbalut agama baru.[40] Eskalasi ini mencapai puncaknya pada April 1984 M, saat tuntutan ulama beresonansi dengan ratifikasi undang-undang parlemen Pakistan yang membedel legalitas aktivitas sekte ini.[41] Jenderal Zia-ul-Haq, selaku Presiden Pakistan kala itu, menerbitkan dekrit eksekutif yang mengkriminalisasi segala bentuk aktivitas keagamaan Ahmadiyah yang mencatut nama Islam. Restriksi ketat ini mendorong eksodus para figur sentral Ahmadiyah menuju London, yang kemudian beralih fungsi menjadi episentrum komando dan propaganda global mereka.[42]

Pada konstelasi kontemporer, tampuk kepemimpinan tertinggi Jemaat Ahmadiyah dipegang oleh Mirza Masroor Ahmad.[43] Jejak rekam ekspansi dakwah mereka saat ini tercatat sangat agresif, dengan penetrasi masif terutama menyasar negara-negara di benua Afrika, seperti Burkina Faso dan Nigeria.[44]

Karya Tulis

Tercatat ada sekitar 75 judul literatur yang secara historis dinisbatkan sebagai buah pena Qadiyani, yang seluruhnya telah dipublikasikan.[45] Di antara korpus karyanya yang paling berpengaruh meliputi: Izalat al-Auham, Haqiqat al-Wahy, Haqiqat al-Nubuwwah, Khatm al-Nubuwwah, Al-Tajalliyat al-Ilahiyyah, Ain al-Ma'rifah, serta Tiryaq al-Qulub. Lebih dari itu, pasca-kematiannya, kompilasi pidato oral dan korespondensinya turut dikurasi serta diterbitkan oleh para penerusnya.[46] Ensiklopedia komprehensif yang memuat ragam gagasan Mirza Ghulam Ahmad telah dikompilasi ke dalam sebuah magnum opus bertajuk Ruhani Khazain (Harta Karun Rohani), yang membentang hingga 23 jilid tebal dalam bahasa Urdu.[47]

Kritik Terhadap Qadiyani

Resistensi intelektual terhadap diskursus Qadiyani telah melahirkan deretan karya bantahan (radd), antara lain:

  • Al-Qadiyani wa Al-Qadiyaniyah, sebuah antologi kritis yang disusun oleh Abu al-A'la al-Maududi bekerja sama dengan himpunan cendekiawan Pakistan.[48]
  • Qadiyani Fitnah Aur Millat-e-Islamiya Ka Mauqif, risalah berbahasa Urdu buah pemikiran analitis Muhammad Taqi Utsmani.
  • Naqd wa Barresi-ye Aqaid wa Bavarha-ye Ghulam Ahmad Qadiyani, sebuah tesis akademik komprehensif karya Sayid Muhammad Mahdi Rezayi Musawi.

Catatan Kaki

  1. Utsmani, Qadiyani Fitnah, 2005, hlm. 39.
  2. Rezayi Musawi dan Rezanejad, "Ruikard-e Qadiyaniyah dar Mas'alah-ye Ruju'-e Dobareh-ye Hazrat-e Isa as", hlm. 119.
  3. Qadiyani, Barahin-e-Ahmadiyya, 1327 HS, hlm. 2.
  4. Farmanian, "Qadiyaniyah", hlm. 159.
  5. Qadiyani, Barahin-e-Ahmadiyya, 1327 HS, hlm. 2-8.
  6. Qadiyani, Barahin-e-Ahmadiyya, 1327 HS, hlm. 6.
  7. Farmanian, "Qadiyaniyah", hlm. 159.
  8. Qadiyani, Barahin-e-Ahmadiyya, 1327 HS, hlm. 2-8.
  9. Qadiyani, Barahin-e-Ahmadiyya, 1327 HS, hlm. 2-8.
  10. Ilahi Zahir, Al-Qadiyaniyah Dirasat wa Tahlil, hlm. 136.
  11. Ilahi Zahir, Al-Qadiyaniyah Dirasat wa Tahlil, hlm. 134.
  12. Ilahi Zahir, Al-Qadiyaniyah Dirasat wa Tahlil, hlm. 134.
  13. Qadiyani, Barahin-e-Ahmadiyya, 1327 HS, hlm. 8.
  14. Rezayi Musawi dan Rezanejad, "Naqd wa Barresi-ye Adillah-ye Naqli-ye Qadiyaniyah dar Mau'ud Angari-ye Ghulam Ahmad Qadiyani", hlm. 147.
  15. Qadiyani, Al-Istifta, 2005, hlm. 15-16.
  16. Qadiyani, Ruhani Khazain, jld. 14, hlm. 59.
  17. Qadiyani, Ruhani Khazain, jld. 13, hlm. 201.
  18. Al-Maududi dkk, Al-Qadiyani wa Al-Qadiyaniyah, 1421 H, hlm. 21.
  19. Qadiyani, Ruhani Khazain, jld. 14, hlm. 400.
  20. Qadiyani, Ruhani Khazain, jld. 19, hlm. 297-301.
  21. Kamil Sulaiman, Rozgar-e Rahayi, 1381 HS, jld. 1, hlm. 552.
  22. Qadiyani, Ruhani Khazain, jld. 3, hlm. 51.
  23. Ibnu Atsir, Jami' al-Ushul, 1420 H, jld. 9, hlm. 202.
  24. Qadiyani, Ruhani Khazain, jld. 14, hlm. 455.
  25. Qadiyani, Ruhani Khazain, jld. 18, hlm. 7-8 dan jld. 22, hlm. 641.
  26. Al-Maududi dkk, Al-Qadiyani wa Al-Qadiyaniyah, 1432 H, hlm. 22.
  27. Qadiyani, Ruhani Khazain, jld. 18, hlm. 211.
  28. Qadiyani, Ruhani Khazain, jld. 5, hlm. 564.
  29. Qadiyani, Ruhani Khazain, jld. 17, hlm. 382 dan 510.
  30. Ilahi Zahir, Al-Qadiyaniyah Dirasat wa Tahlil, hlm. 120-122.
  31. Qadiyani, Ruhani Khazain, jld. 22, hlm. 167.
  32. Qadiyani, Ruhani Khazain, jld. 17, hlm. 164.
  33. Qadiyani, Ruhani Khazain, jld. 7, hlm. 443.
  34. Qadiyani, Ruhani Khazain, jld. 15, hlm. 120-121.
  35. Satwati, Syiah Pakistan, 1380 HS, hlm. 43.
  36. An-Nadwah al-Alamiyyah li al-Syabab al-Islami, Al-Mausu'ah al-Muyassarah, 1420 H, jld. 1, hlm. 418.
  37. Utsmani, Qadiyani Fitnah, 2005, hlm. 44.
  38. Farmanian, "Qadiyaniyah", hlm. 159.
  39. Friedmann, "Ahmadiyah", jld. 1, hlm. 119.
  40. Nuri, Khatamiyat-e Payambar-e Islam, 1360 HS, hlm. 92-93.
  41. Farzinnia, Pakistan, 1376 HS, hlm. 21.
  42. Friedmann, "Ahmadiyah", jld. 1, hlm. 119.
  43. "Sirah Khulafa' al-Imam al-Mahdi", Situs Resmi Jemaat Ahmadiyah.
  44. "Sirah Khulafa' al-Imam al-Mahdi", Situs Resmi Jemaat Ahmadiyah.
  45. Farmanian, "Qadiyaniyah", hlm. 161.
  46. Farmanian, "Qadiyaniyah", hlm. 161.
  47. "Ruhani Khazain", Pangkalan Informasi Perpustakaan Iran.
  48. Al-Qadiyani wa Al-Qadiyaniyah, Abu al-A'la al-Maududi, Beirut, Penerbit Dar Ibnu Katsir, 1432 H.

Daftar Pustaka

  • Al-Maududi, Abu al-A'la. Ma Hiya Al-Qadiyaniyah. Lahore, Penerbit Dar al-Qalam, 1967.
  • Al-Maududi, Abu al-A'la dkk. Al-Qadiyani wa Al-Qadiyaniyah. Damaskus, Penerbit Dar Ibnu Katsir, 1421 H.
  • An-Nadwah al-Alamiyyah li al-Syabab al-Islami. Al-Mausu'ah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Madzahib wa al-Ahzab al-Mu'ashirah. Di bawah pengawasan: Man' bin Hammad al-Juhani. Penerbit Dar al-Nadwah al-Alamiyyah, 1420 H.
  • Farmanian, Mahdi. "Qadiyaniyah" dalam Jurnal Spesialis Haft Asman, No. 17, Musim Semi 1382 HS.
  • Farzinnia, Ziba. Pakistan. Teheran, Penerbit Kementerian Luar Negeri, 1376 HS.
  • Friedmann, Yohanan. "Ahmadiyah" dalam Ensiklopedia Dunia Islam, jld. 1.
  • Ibnu Atsir, Mubarak bin Muhammad. Jami' al-Ushul fi Ahadits al-Rasul. Riset: Abd al-Qadir Arnauth. Beirut, Penerbit Dar al-Fikr, 1420 H.
  • Ilahi Zahir, Ihsan. Al-Qadiyaniyah Dirasat wa Tahlil. Lahore, Penerbit Idarah Tarjuman al-Sunnah, tanpa tahun.
  • Kamil Sulaiman. Rozgar-e Rahayi (Era Pembebasan). Terjemahan: Ali Akbar Mahdipour. Teheran, Penerbit Afaq, 1381 HS.
  • Nuri, Yahya. Khatamiyat-e Payambar-e Islam wa Ibthal-e Tahlil-e Babigari, Baha'igari wa Qadiyanigari (Penutup Kenabian Nabi Islam dan Pembatalan Analisis Babisme, Baha'isme, dan Qadiyanisme). Teheran, Yayasan Sekolah al-Syuhada, 1360 HS.
  • Qadiyani, Ghulam Ahmad. Al-Istifta. Inggris, Penerbit Al-Syirkah al-Islamiyyah al-Mahdudah, 2005.
  • Qadiyani, Ghulam Ahmad. Barahin-e-Ahmadiyya (Bukti-bukti Ahmadiyah). Terjemahan: Sadruddin Ahmadi Qadiyani. Teheran, 1327 HS.
  • Qadiyani, Ghulam Ahmad. Izalat al-Auham. Lahore, Kashi Ram Press, 1308 H.
  • Qadiyani, Ghulam Ahmad. Nazul al-Masih. Lahore, Qadian, 1909.
  • Qadiyani, Ghulam Ahmad. Ruhani Khazain (Harta Karun Rohani). Rabwah, Penerbit Dhiya' al-Islam, tanpa tahun.
  • Rezayi Musawi, Sayid Muhammad Mahdi dan Izzuddin Rezanejad. "Naqd wa Barresi-ye Adillah-ye Naqli-ye Qadiyaniyah dar Mau'ud Angari-ye Ghulam Ahmad Qadiyani" dalam Jurnal Enthezar-e Mou'ud, No. 46, Musim Gugur 1393 HS.
  • Rezayi Musawi, Sayid Muhammad Mahdi dan Izzuddin Rezanejad. "Ruikard-e Qadiyaniyah dar Mas'alah-ye Ruju'-e Dobareh-ye Hazrat-e Isa as" dalam Jurnal Enthezar-e Mou'ud, No. 43, Musim Dingin 1392 HS.
  • "Ruhani Khazain". Pangkalan Informasi Perpustakaan Iran. Diakses pada 16 Khordad 1402 HS.
  • Satwati, Ja'far. Syiah Pakistan. Teheran, Penerbit Majma' Jahani Ahlulbait as, 1380 HS.
  • Shadr, Sayid Sadruddin. Al-Mahdi (afj). tanpa tahun.
  • "Sirah Khulafa' al-Imam al-Mahdi". Situs Resmi Jemaat Ahmadiyah. Diakses pada 28 Khordad 1402 HS.
  • Utsmani, Muhammad Taqi. Qadiyani Fitnah. Karachi, Penerbit Idarah al-Ma'arif, 2005.