Lompat ke isi

Konsep:Buq'ah Haram Imam Ridho as

Dari wikishia

|| || || || || || || || editorial box

Buq'ah Haram Imam Ridha as.

Buq'ah Haram Imam Ridha as (bahasa Arab: البقعة حرم إمام الرضا علیه السلام) atau disebut juga Buq'ah Haruniyyah (البقعة الهارونية) merupakan bagian tertua dari Haram Imam Ridha as di mana kubah emas terletak di atasnya dan dharih Imam Ridha as terletak di dalamnya. Menurut sejumlah riwayat, setelah wafatnya Imam Ridha as pada tahun 203 H, jenazah beliau dimakamkan di sini atas perintah Ma'mun al-Abbasi di dekat makam Harun al-Abbasi. Berdasarkan laporan-laporan sejarah, makam Imam Ridha as. telah tiga kali mengalami kehancuran pada periode-periode yang berbeda. Pada berbagai masa, upaya juga telah dilakukan untuk merenovasi, memperluas, serta menghias makam ini.

Selain kubah emas, Buq'ah Haram Imam Ridha as memiliki ruang bawah tanah tempat lokasi makan Imam Ridha as yang ditunjukkan secara simbolis. Di sekeliling buq'ah, terdapat "suffah" (lorong/serambi) sebagai jalur lalu lintas peziarah. Bangunan ini juga dilengkapi dengan sejumlah ornamen penting seperti batu nisan Imam Ridha as, dharih, kotak peninggalan, pintu-pintu, mihrab berlapis emas, serta hiasan kaligrafi dan permata bernilai tinggi.

Pengenalan dan Kedudukan

Sebait syair abadi dari Di'bil al-Khuza'i, seorang pujangga Syiah, melukiskan sebuah ironi agung tentang dua makam yang berdampingan, makam Imam Ridha as dan makam Harun Abbasi:


Dua pusara kini terbaring di tanah Tus; Satu milik manusia teragung,
satunya lagi milik si terhina. Inilah salah satu pelajaran abadi tentang nasib.
Sang durjana tak kan pernah tercerahkan oleh cahaya sang suci yang begitu dekat,
sebagaimana sang suci tak kan ternoda oleh kedekatan dengan sang durjana.



[1]


Buq'ah Haram Imam Ridha as, dikenal pula sebagai Buq'ah Mutahharah, Gunbadkhaneh, Buq'ah Haruni, dan Buq'ah Haruniyyah, adalah bagian tertua dari Haram Imam Ridha as. Kubah emas haram terletak tepat di atasnya dan Dharih Imam Ridha as terletak di dalamnya.[2]

Buq'ah ini terhubung ke sejumlah ruang penting: di sisi utara membuka ke Rawdhah Darul Faidh, di sebelah barat berbatasan langsung dengan Masjid Bala-e-Sar (Masjid Atas Kepala) Haram Imam Ridha as., pada sisi timur menghadap ke Rawdhah Gunbad Hatimkhani, sementara di selatan, ia terhubung dengan Rawdhah Darul Huffazh. Berdasarkan berbagai catatan, ruang buq'ah ini telah mengalami perubahan bentuk berkali-kali dengan tujuan utama untuk memperluas kapasitas dan areanya.[3]

Menurut beberapa penelaah, adanya karamah setelah pemakaman Imam Ridha as menyebabkan para penguasa semakin peduli akan perlindungan dan pemeliharaannya;[4] salah satunya tercatat dalam kitab Al-Thaqib fi al-Manaqib:[5] seorang tokoh Zoroaster bernama Anushirwan yang bekerja di istana Khawarizm datang ke Buq'ah Imam Ridha as untuk memohon kesembuhan, dan ia pun sembuh setelah bertawasul kepada sang Imam as.[6] Pasca peristiwa itu, pria tersebut pun memeluk Islam dan dengan penuh bakti menghadiahkan peti pusara pertama untuk makam suci Imam Ridha as.[7]

Sejarah

Catatan sejarah menunjukkan bahwa pembangunan awal Buq'ah Haram Imam Ridha as. merujuk pada periode sepuluh tahun sebelum kesyahidan Sang Imam as:[8] pada tahun 193 H, atas perintah Ma'mun al-Abbasi, sebuah bangunan didirikan di atas makam Harun al-Abbasi yang saat itu berada di istana gubernur Khurasan (Hamid bin Qahtabah at-Tai') di Sanabad Noqan Thus.[9] Bangunan inilah yang kemudian dikenal sebagai Buq'ah Haruniyyah.[10] Berdasarkan sejumlah riwayat, setelah kesyahidan Imam Ridha as pada tahun 203 H disemayamkan di sebuah lokasi yang berdekatan dengan pusara Harun ar-Rasyid atas perintah Khalifah Al-Ma'mun.[11]

Sebagian para penelaah meyakini bahwa Buq'ah Imam Ridha as. telah mengalami tiga kali kehancuran dalam lembaran sejarah. Pertama terjadi di masa kekuasaan ayahanda Mahmud Ghaznawi. Malapetaka kedua datang dari serbuan suku Ghuzz Turkmen pada (pertengahan abad keenam Hijriah). Sedangkan penghancuran ketiga dan yang paling dahsyat, terjadi ketika gelombang invasi pasukan Mongol menerjang pada (abad ketujuh Hijriah).[12] Namun, seluruh kerusakan itu tidaklah sedemikian parah hingga menghancurkan atau melenyapkan Buq'ah tersebut sama sekali.[13] Upaya untuk merenovasi dan memperluas bangunan suci tersebut telah dilakukan secara berkesinambungan pada berbagai periode sejarah:

  • Perbaikan oleh Mahmud Ghaznawi,[14]
  • Renovasi dan dekorasi pada masa kekuasaan Dinasti Safavi, [15]
  • Pembukaan shuffah (koridor atau pintu gerbang) di area Bala-e-Sar (atas kepala) serta penerapan seni hias cermin pada kompleks makam di era Qajar.[16]
  • Perluasan dilakukan pada bagian Bala-e-Sar dan pemasangan keramik kaca (kashi) di sisi baratnya pada periode Pahlavi II,[17]
  • dan yang terakhir adalah pengembangan pada sisi Posht-e-Sar (belakang kepala) yang dilakukan pada masa Republik Islam Iran.[18]

Catatan sejarah menyebutkan bahwa serangan tentara Rusia ke Haram Imam Ridha as pada tahun 1330 H menimbulkan kerusakan serius pada Buq’ah dan kubah emas;[19] perbaikan atas kerusakan tersebut memakan waktu beberapa tahun.[20] Dalam insiden ledakan di haram pada tahun 1373 S, buq’ah juga sempat rusak ringan, namun langsung diperbaiki.[21]

Cirikhas Bangunan

Buq'ah Haram Imam Ridha as digambarkan memiliki bentuk persegi dengan luas sekitar 100 meter persegi, dan makam Imam Ridha as terletak sedikit miring ke sisi barat lautnya (balasar).[22] Pada tahun 1399 S, bangunan ini digambarkan sebagai berikut: empat dinding utama bangunan dilengkapi empat lengkungan rendah dan lebar, tempat pintu-pintu masuk (suffah) dibangun di bawahnya.[23]

Bagian ezareh (dinding dari lantai sampai bawah lengkungan) terdiri atas bingkai batu yang memuat kashikari berwarna emas — salah satu hiasan tertua dan termahal di kompleks haram.[24][catatan 1]

Di bagian atas ezareh dipasang kashikari bertatah halus, menggantikan hiasan cermin yang pernah ada sebelumnya.[25][26] Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa terdapat sebuah prasasti dari marmer yang berisi puisi-puisi Dabir al-Mulk Farahani, pengelola Astan-e Quds selama tahun 1285-1287 H.[27]

Salah satu prasasti penting adalah prasasti yang melingkar di sekeliling dinding, memuat isi Surah Al-Jumu'ah dalam huruf kaligrafi tsuluts karya Ali Reza Abbasi, serta dihiasi dengan cermin pada masa Dinasti Qajar.[28]

Kubah

Kubah emas Haram Imam Ridha as merupakan kubah berlapis ganda (dua kulit)[29] dengan keping tembaga yang dilapisi emas[30] dan menjadi salah satu simbol paling menonjol yang meninggalkan kesan mendalam bagi para peziarah.[31]

Prasasti gulungan pada kubah ini ditulis dalam gaya kaligrafi oleh Ali Reza Abbasi, berisi penjelasan tentang perjalanan kaki Syah Abbas Shafavi dari Ishfahan ke Masyhad pada tahun 1010 H dan pemugaran haram.[32]

Selain itu, terdapat beberapa prasasti lain yang ditulis dalam gaya tsuluts oleh Muhammad Reza Imami (kaligrafer terkenal pada masa Shafavi), berisi keterangan tentang renovasi kubah setelah gempa tahun 1084 H atas perintah Syah Suleiman Shafavi.[33]

Beberapa penelaah menyebut bahwa pembangunan kerangka dalam kubah dikaitkan dengan Mahmud Ghaznawi (sekitar tahun 400 H), dan lapisan luarnya dibangun oleh Abu Thahir Qumi, menteri Sultan Sanjar Seljuk.[34] Dilaporkan juga bahwa kubah buq'ah ini mulai dilapisi emas pada masa Syah Tahmasab Shafavi.[35]

Kubah ini telah mengalami beberapa kali pemugaran dalam periode-periode berikut:

Serdab (Ruang Bawah Tanah)

Menurut beberapa sumber, di bawah Baqi’ah Haram Imam Ridha as terdapat ruang bawah tanah (serdab) tempat makan Imam Ridha as berada.[39] Sebagian peneliti meyakini bahwa serdab ini belum ada sebelum wajah makam Harun al-Abbasi hilang (abad ke-8 H), dan baru dibangun kemudian seiring kenaikan permukaan lantai haram secara bertahap.[40] Pada tahun 1379 SH, dengan adanya suffah Sayyidah Ma'sumah (s.a.) di bawah baqi’ah, peti makan langka dipindahkan ke dalam serdab tersebut; sehingga kini serdab dan makan terletak di bagian dinding suffah untuk dikunjungi peziarah.[41]

Suffah-Suffah

Di sekeliling Baqi'ah, dirancang suffah-suffah (lorong atau gerbang) sebagai akses menuju baqi’ah:[42]

  • Suffah Selatan terletak di depan bangunan dan terhubung dengan Ruwāq Dar al-Huffāzh.[43]
  • Suffah Timur berada di sisi timur dan terhubung dengan Ruwāq Gunbad-e Hatimkhani.[44]
  • Suffah Barat terletak di belakang dan menghubungkan baqi’ah dengan dua area penting: Ruwāq Dār al-Faydh dan Ruwāq-e Tawhidkhaneh.[45] Area ini populer dengan nama Suffah Shah Tahmasbi, karena lokasi makam Shah Tahmasb Safawi berada di situ.
  • Suffah Utara atau Balāsar menjadi jalur penghubung antara baqi’ah dan Masjid Balāsar.[46]

Ornamen dan Peralatan Bangunan

Beberapa ornamen dan peralatan penting di Baqi'ah Haram Imam Ridha as meliputi: batu nisan Imam Ridha as, peti makan (makan), kotak peninggalan (sanduq), pintu-pintu, mihrab berlapis emas, serta hiasan kaligrafi dan permata.[47]

Batu Nisan

Sebagian besar peneliti menganggap bahwa batu nisan tertua Imam Ridha as adalah sebuah prasasti marmer yang berasal dari awal abad keenam Hijriah.[48] Batu ini sering disebut sebagai salah satu karya seni sejarah penting[49] dengan desain berbentuk mihrab dan bertuliskan ayat-ayat suci menggunakan huruf Kufi.[50]

Namun, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa batu ini bukanlah batu nisan makan Imam Ridha as, melainkan bagian dari salah satu tempat beliau selama perjalanan ke Merv.[51]

Batu nisan kedua yang dikaitkan dengan makan Imam Ridha as diletakkan di atas makan beliau dalam ruang bawah tanah (serdab) baqi’ah.[52] Sayangnya, informasi tentang batu ini masih sangat terbatas.[53]

Menurut beberapa sumber, batu nisan ketiga ditempatkan di atas makan Imam pada tahun 1379 SH.[54] Batu ini terbuat dari marmer hijau dan dilengkapi dengan prasasti-prasasti yang memuat informasi tentang Imam Ridha as.[55]

Isi prasasti pada batu ini termasuk beberapa ayat Al-Qur’an seperti Ayat an-Nafs al-Mutma'innah, Ayat at-Tathir, Ayat Ulil Amr, serta ayat 80 dan 81 Surah As-Saffat.[56] Selain itu, batu ini juga dihiasi dengan puisi-puisi Jami sebagai bentuk penghormatan kepada Imam Ridha as.[57]

Peti Makam

Templat:Utama

Peti makam Imam Ridha as merupakan struktur berbahan kayu atau logam, kadang kombinasi keduanya, yang ditempatkan di atas makam beliau.[58] Meskipun tidak jelas kapan pertama kali peti ini mulai digunakan, catatan sejarah menunjukkan bahwa tradisi ini sudah ada sejak masa Safawi.[59]

Dari masa Dinasti Safawi hingga era Republik Islam Iran, setidaknya telah dibuat lima peti makam untuk makam Imam Ridha as:[60]

  • Makam Syah Tahmasbi – dipasang pada masa pemerintahan Syah Tahmasb I Safawi.
  • Makan Besi Syah Abbas atau dikenal juga sebagai Makan Fatḥali Syah – dipasang pada masa Syah Abbas I Safawi.[61]
  • Makam Bermotif Permata atau Makam Nadiri – dipasang pada tahun 1163 H.[62]
  • Makam Shir wa Sukhar (Gula dan Singa) – dipasang pada tahun 1338 SH.[63]
  • Makam Perak dan Emas – dipasang pada tahun 1379 SH.[64]

Kotak Peninggalan (Sanduq)

Kotak tertua yang pernah diletakkan di Baqi’ah Imam Ridha as diperkirakan berasal dari sekitar tahun 500 H, yaitu masa Sultan Sanjar Seljuk.[65]Templat:Catatan

Salah satu sanduq tersebut digambarkan dalam catatan perjalanan Ibnu Battutah (W. 770 H), yaitu sebuah kotak kayu yang dilapisi pelat perak.[66]

Pada masa Syah Abbas I Safawi, sebuah kotak baru dibuat dengan prasasti bertinta emas hasil karya Ali Reza Abbasi pada tahun 1011 H.[67] Isi prasasti tersebut termasuk Ayat al-Kursi dan doa-doa khusus yang berkaitan dengan salawat Imam Ridha as.[68]

Laporan menyebutkan bahwa kotak ini kemudian dibongkar pada tahun 1311 SH karena kondisinya yang rusak, dan prasasti emasnya dipindahkan ke Museum Astān-e Quds.[69]

Dalam sejumlah sumber, kotak Abbasid disebut sebagai kotak terakhir yang pernah diletakkan di atas makan Imam Ridha as.[70] Sementara sumber lain menyebut bahwa kotak kayu terakhir diletakkan pada masa Dinasti Safawi.[71]

Pada tahun 1311 SH, sebuah kotak berbahan marmer transparan berwarna kuning lemon dibuat dan dilengkapi dengan sistem penerangan dari dalam.[72] Diketahui bahwa kotak ini kemudian diganti dengan batu nisan pada tahun 1379 SH.[73]

Pintu-Pintu

Sejak zaman dahulu, Baqi’ah Haram Imam Ridha as dilengkapi dengan pintu-pintu bernilai tinggi, yang tercatat dalam sumber-sumber sejarah;[74] salah satu contohnya adalah laporan Ibnu Battutah tentang pintu perak yang ada pada tahun 734 H.[75]

Di Baqi'ah ini terdapat dua pintu utama:

  • Pintu Pišru (Depan)
  • Pintu Payinpa (Bawah)

Keduanya telah mengalami beberapa kali pemugaran atau penggantian di berbagai masa:[76]

Pintu Pišru (Depan)

Diketahui bahwa hanya ada satu pintu utama di bagian depan Baqi’ah sampai masa Safawi.[77] Pada tahun 1272 H, Nashiruddin Syah Qajar menyumbangkan sebuah pintu bermotif warna-warni yang kemudian dipasang di bagian depan.[78]

Lalu, pada tahun 1354 SH, pintu tersebut digantikan dengan pintu emas,[79] yang kini dianggap sebagai salah satu pintu termahal dan termewah dalam kompleks haram.[80] Pintu empat daun ini kemudian direnovasi total pada tahun 1360 SH.[81]

Pintu Payinpa (Bawah)

Menurut beberapa riwayat, lokasi pintu ini dibuka atas perintah Shah Abbas I Safawi, dan selanjutnya dipasangi pintu bermotif dan bertatah permata indah.[82] Di permukaannya terdapat prasasti yang memuat riwayat penting seperti Hadis Madinat al-'Ilm.[83]

Pintu ini kemudian dipindahkan ke Museum Astān-e Quds pada tahun 1354 SH.[84] Dilaporkan bahwa pada tahun 1358 SH, telah dibuat dan dipasang kembali sebuah pintu emas baru dengan kualitas serupa.[85] Pintu empat daun ini dilengkapi dengan tulisan hadis-hadis dari Nabi Muhammad saw dan Imam Ridha as, sedangkan di bagian atasnya terdapat ayat dari Surah Az-Zumar, ayat 73.[86]

Mihrab Berlapis Emas

Menurut beberapa sumber, terdapat dua mihrab berlapis emas di Baqi’ah Imam Ridha as, yang merupakan karya seni kashikari abad ketujuh Hijriah (sekitar tahun 612 H), dan menjadi bagian dari peninggalan paling tua di haram.[87] Letaknya masing-masing berada di:

  • Dinding barat daya Baqi’ah (bagian depan),
  • Dinding tenggara Baqi’ah (bagian bawah).[88]

Berdasarkan prasasti-prasasti yang tertulis:

  • Mihrab Payinpa dibuat oleh Ali bin Muhammad bin Abi Thahir Kashi[89] (atau menurut versi lain, oleh Muhammad bin Abi Thahir Kashi),[90]
  • Mihrab Pišru dibuat oleh Muhammad bin Abi Thahir Kashi dengan bantuan Abuzaid pelukis.[91]

Kaligrafi pada kedua mihrab ini memuat ayat-ayat suci seperti Ayat Amma ar-Rasul, Ayat Wilayah, dan Ayat Shahadah.[92] Disebutkan bahwa kedua mihrab ini kemudian dipindahkan ke Museum Astān-e Quds selama proses renovasi antara tahun 1340–1344 SH.[93]

Panel Kaligrafi dan Kotak Bertatah Permata

Beberapa sumber menyebutkan bahwa khawanchah (panel hias) dan tarnuj (kotak bertatah permata) adalah hiasan yang tersemat di dinding-dinding Baqi’ah Mutahharah, berisi benda-benda berharga yang diserahkan oleh para penguasa dan tokoh penting kepada haram ini.[94]

Tanggal pasti pemasangan khawanchah dan tarnuj ini tidak diketahui secara rinci; namun dokumen sejarah menyebutkan bahwa mereka sudah ada sejak masa Nashiruddin Syah Qajar.[95] Isi benda-benda berharga dalam khawanchah dan jumlah serta posisinya telah mengalami perubahan dalam periode-periode tertentu;[96][97] dan menurut laporan, sejak tahun 1389 SH, Baqi’ah Imam Ridha as memiliki delapan khawanchah dan empat tarnuj dengan ukuran sama dan tampilan seragam.[98]

Catatan Kaki

  1. Abu al-Faraj Ishfahani, Al-Aghani, 1415 H, jld. 20, hlm. 335.
  2. Mu'taman, Rahnama, 1348 S, hlm. 63; Labbaf Khaniki, “Ghunbad wa Buq’ah Mutahharah”, hlm. 413.
  3. Labbaf Khaniki, “Gunbad wa Buq’ah Mutahharah”, hlm. 413.
  4. Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tarikh, 1395 S, hlm. 27–28.
  5. Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tarikh, 1395 S, hlm. 28.
  6. Ibnu Hamzah Thusi, Ats-Tsaqib fi al-Manaqib, 1412 H, hlm. 205–206.
  7. Ibnu Hamzah, Ats-Tsaqib fi al-Manaqib, 1412 H, hlm. 205–206.
  8. Labbaf Khaniki, “Gunbad wa Buq'ah Muthahhar”, hlm. 414.
  9. Mufid, al-Irsyad, 1413 H, jld. 2, hlm. 271.
  10. Mu'taman, Rahnama, 1348 S, hlm. 60–61; Atardei, Tarikh-e Astan-e Quds-e Razavi, 1371 S, jld. 1, hlm. 58.
  11. Thabari, Tarikh Thabari, jld. 8 hlm. 568; Mufid , Al-Irsyad, 1413 H, jld. 2, hlm, 271.
  12. Mu'taman, Rahnama, 1348 S, hlm. 61.
  13. Mu'taman, Rahnama, 1348 S, hlm. 62.
  14. Ibnu Atsir, Al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 H, jld. 9, hlm. 401.
  15. Silahkan lihat: Mulla Jalaluddin Munjam, Tarikh Abbasi, 1366 S, hlm. 218.
  16. Labbaf Khaniki, Gunbad wa Buq'ah Muthahhar, hlm. 419-420.
  17. Syahrestani, Tause'e Haram Muathahhar, hlm. 115-120.
  18. Labbaf Khaniki, “Gunbad wa Buq’ah Muthahhar”, hlm. 421.
  19. Ihtesyam Kavianiyan, Syams al-Syumus, 1354 S, hlm. 82.
  20. Ihtesyam Kavianiyan, Syams al-Syumus, 1354 S, hlm. 88–89; Labbaf Khaniki, “Gunbad wa Buq’ah Muthahhar”, hlm. 420.
  21. Labbaf Khaniki, “Gunbad wa Buq’ah Mutahhar”, hlm. 423.
  22. Mu'taman, Rahnama, 1348 S, hlm. 63; Labbaf Khaniki, “Gunbad wa Buq’ah Mutahhar”, hlm. 413.
  23. Labbaf Khaniki, “Gunbad wa Buq’ah Mutahhar”, hlm. 413.
  24. Labbaf Khaniki, “Gunbad wa Buq’ah Mutahhar”, hlm. 413.
  25. Mu'taman, Rahnama, 1348 S, hlm. 70.
  26. Labbaf Khaniki, “Gunbad wa Buq'ah Mutahhar”, hlm. 414.
  27. Mu'taman, Rahnama, 1348 S, hlm. 69; Labbaf Khaniki, “Gunbad wa Buq’ah Mutahhar”, hlm. 414.
  28. Mu'taman, Rahnama, 1348 S, hlm. 71.
  29. Labbaf Khaniki, “Gunbad wa Buq’ah Mutahhar”, hlm. 406.
  30. Mu'taman, Rahnama, 1348 S, hlm. 101–102.
  31. Alamzadeh, Haram Razavi be Riwayat-e Tarikh, 1395 S, hlm. 71–72.
  32. Ihtesyam Kavianiyan, Shams al-Shumus, 1354 S, hlm. 57; Mu'taman, Rahnama, 1348 S, hlm. 102; Labbaf Khaniki, “Gunbad wa Buq’ah Mutahhar”, hlm. 408.
  33. Ihtesyam Kavianiyan, Shams al-Shumus, 1354 S, hlm. 57; Mu'taman, Rahnama, 1348 S, hlm. 102–103; Labbaf Khaniki, “Gunbad wa Buq’ah Muthahhar”, hlm. 410.
  34. Ihtesyam Kavianiyan, Shams al-Shumus, 1354 S, hlm. 56; Alamzadeh, Haram Razavi be Riwayat-e Tarikh, 1395 S, hlm. 74.
  35. Labbaf Khaniki, “Gunbad wa Buq’ah Mutahhar”, hlm. 417.
  36. Ihtesyam Kavianiyan, Shams al-Shumus, 1354 S, hlm. 57; Mu'taman, Rahnama, 1348 S, hlm. 102–103.
  37. Ihtesyam Kavianiyan, Shams al-Shumus, 1354 S, hlm. 82.
  38. Labbaf Khaniiki, “Gunbad wa Buq’ah Mutahhar”, hlm. 421; ‘Alamzadeh, Haram Razavi be Riwayat-e Tarikh, 1395 S, hlm. 75–76.
  39. ‘Atardi, Tārikh-e Astān-e Quds-e Razavi, 1371 SH, juz 1, hlm. 61.
  40. ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, Mashhad, 1395 SH, hlm. 86–87.
  41. ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, Mashhad, 1395 SH, hlm. 87–88.
  42. Mu'taman, Rahnemā, 1348 SH, hlm. 63; ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, Mashhad, 1395 SH, hlm. 55.
  43. Ibid.
  44. Ibid.
  45. Ibid.
  46. Ibid.
  47. Souhanian Haqiqi, Nafāyes-e Haram Razavi, 1401 SH, hlm. 9–64.
  48. Imam, Mashhad Tus, 1348 SH, hlm. 434; Ahtesham Kavianian, Shams al-Shumus, 1354 SH, hlm. 33; ‘Atardi, Tārikh-e Astān-e Quds-e Razavi, 1371 SH, juz 1, hlm. 64.
  49. ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, 1395 SH, hlm. 80.
  50. Imam, Mashhad Tus, 1348 SH, hlm. 434–435.
  51. Afshar, Yadegār-e Yazd, 1354 SH, juz 2, hlm. 918–924.
  52. ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, Mashhad, 1395 SH, hlm. 81.
  53. Ibid., hlm. 82.
  54. Souhanian Haqiqi, Nafāyes-e Haram Razavi, 1401 SH, hlm. 10; ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, 1395 SH, hlm. 82.
  55. Souhanian Haqiqi, Nafāyes-e Haram Razavi, 1401 SH, hlm. 11.
  56. Souhanian Haqiqi, Nafāyes-e Haram Razavi, 1401 SH, hlm. 12.
  57. Ibid.
  58. Souhanian Haqiqi, Nafāyes-e Haram Razavi, 1401 SH, hlm. 12.
  59. ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, 1395 SH, hlm. 88.
  60. Souhanian Haqiqi, Nafāyes-e Haram Razavi, 1401 SH, hlm. 13.
  61. Souhanian Haqiqi, Nafāyes-e Haram Razavi, 1401 SH, hlm. 13–15.
  62. Ibid., hlm. 15–18.
  63. Ibid., hlm. 18–22; ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, 1395 SH, hlm. 91–92.
  64. Ibid., hlm. 22–24; ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, 1395 SH, hlm. 92–95.
  65. Mu'taman, Rahnemā, 1348 SH, hlm. 84; Ahtesham Kavianian, Shams al-Shumus, 1354 SH, hlm. 36; ‘Atardi, Tārikh-e Astān-e Quds-e Razavi, 1371 SH, juz 1, hlm. 65; ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, 1395 SH, hlm. 83.
  66. Ibnu Battutah, Riḥlat Ibn Baṭūṭah, 1417 H, juz 3, hlm. 55.
  67. Nemati, “Kitabah Zarnegar Ali Reza Abbasi”, hlm. 340.
  68. Ibid., hlm. 341–344.
  69. Ahtesham Kavianian, Shams al-Shumus, 1354 SH, hlm. 36–39.
  70. Mousavi Panah, Haram dar Vajeha, 1391 SH, hlm. 32.
  71. ‘Atardi, Tārikh-e Astān-e Quds-e Razavi, 1371 SH, juz 1, hlm. 65.
  72. Ahtesham Kavianian, Shams al-Shumus, 1354 SH, hlm. 38; ‘Atardi, Tārikh-e Astān-e Quds-e Razavi, 1371 SH, juz 1, hlm. 66–68; ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, 1395 SH, hlm. 85–86.
  73. ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, 1395 SH, hlm. 86.
  74. Husayni, “Derhay-e Haram”, hlm. 477.
  75. Ibnu Battutah, Riḥlat Ibn Baṭūṭah, 1417 H, juz 3, hlm. 55.
  76. ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, 1395 SH, hlm. 43–56.
  77. Ahtesham Kavianian, Shams al-Shumus, 1354 SH, hlm. 174; ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, 1395 SH, hlm. 51.
  78. Ahtesham Kavianian, Shams al-Shumus, 1354 SH, hlm. 72.
  79. Husayni, “Derhay-e Haram”, hlm. 480.
  80. ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, 1395 SH, hlm. 42.
  81. Husayni, “Derhay-e Haram”, hlm. 480.
  82. Mulla Jalaluddin Munajjim, Tārikh-e 'Abbāsi, 1366 SH, hlm. 218; Ahtesham Kavianian, Shams al-Shumus, 1354 SH, hlm. 169.
  83. Delir, “Der-e Du ru Payinpa Mubarok”, hlm. 474–475.
  84. Delir, “Der-e Du ru Payinpa Mubarok”, hlm. 476.
  85. ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, 1395 SH, hlm. 54.
  86. ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, 1395 SH, hlm. 52–53; Husayni, “Derhay-e Haram”, hlm. 478.
  87. Souhanian Haqiqi, Nafāyes-e Haram Razavi, 1401 SH, hlm. 41; Mishdar, “Mihrab Payinpa”, hlm. 438; Labbaf Khaniiki, “Mihrab Pišru”, hlm. 440.
  88. Mu'taman, Rahnemā, 1348 SH, hlm. 76.
  89. Mishdar, “Mihrab Payinpa”, hlm. 438.
  90. Souhanian Haqiqi, Nafāyes-e Haram Razavi, 1401 SH, hlm. 46; ‘Alamzadeh, Haram Razavi dar Nazar-e Tārikhī, 1395 SH, hlm. 56.
  91. Souhanian Haqiqi, Nafāyes-e Haram Razavi, 1401 SH, hlm. 41; Mishdar, “Mihrab Payinpa”, hlm. 440.
  92. Mu'taman, Rahnemā, 1348 SH, hlm. 76.
  93. Souhanian Haqiqi, Nafāyes-e Haram Razavi, 1401 SH, hlm. 41.
  94. Ikhwān Mahdavi, “Khawānchah-hā-ye Javāherāt”, hlm. 392; Souhanian Haqiqi, Nafāyes-e Haram Razavi, 1401 SH, hlm. 132.
  95. Ikhwān Mahdavi, “Khawānchah-hā-ye Javāherāt”, hlm. 392; Souhanian Haqiqi, Nafāyes-e Haram Razavi, 1401 SH, hlm. 132.
  96. Lihat deskripsi isi khawanchah dan tarnuj pada tahun 1324 SH: Ahtesham Kavianian, Shams al-Shumus, 1354 SH, hlm. 63–70.
  97. Ikhwān Mahdavi, “Khawānchah-hā-ye Javāherāt”, hlm. 392–393.
  98. Ikhwān Mahdavi, “Khawānchah-hā-ye Javāherāt”, hlm. 393; Souhanian Haqiqi, Nafāyes-e Haram Razavi, 1401 SH, hlm. 135.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad, Al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar Shadir, 1385 H.
  • Ibnu Battutah, Muhammad bin Abdullah Tangi, Riḥlah Ibnu Baṭūṭah (Tuḥfat an-Nuzzar fi Ghara'ib al-Amsar wa 'Aja'ib al-Asfar), tahqiq Abdulhadi at-Tazi, Rabat (Maroko), Akademiyyah Kerajaan Maroko, 1417 H.
  • Ibnu Hamzah Tusiy, Abdullah bin Hamzah, Al-Thaqib fi al-Manaqib, tahqiq Nabil Rida al-'Alawi, Qom, Penerbit Ansariyan, 1412 H.
  • Abu al-Faraj Isfahani, Ali bin Husain, Al-Aghani, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1415 H.
  • Ahtesham Kavianian, Muhammad, Syams al-Syumus atau Anis al-Nufus (Sejarah Astan-e Quds), Mashhad, tanpa penerbit, 1354 SH.
  • Ikhwan Mahdavi, Ali, “Khawanchah-ha-ye Javaherat”, dalam Da'irah al-Ma'arif Astan-e Quds Razavi (Juz 1: Alif–Sin), Mashhad: Yayasan Penelitian Astan-e Quds Razavi, 1393 SH.
  • Husayni, Sayyid Hasan, “Derhay-e Haram”, dalam Da'irah al-Ma'arif Astan-e Quds Razavi (Juz 1: Alif–Sin), Mashhad, Yayasan Penelitian Astan-e Quds Razavi, 1393 SH.
  • Delir, Abu al-Qasim, “Der-e Du ru Payinpa Mubarok”, dalam Da'irah al-Ma'arif Astan-e Quds Razavi (Juz 1: Alif–Sin), Mashhad, Yayasan Penelitian Astan-e Quds Razavi, 1393 SH.
  • Delir, Abu al-Qasim, “Der-e Du ru Pišru Mubarok”, dalam Da'irah al-Ma'arif Astan-e Quds Razavi (Juz 1: Alif–Sin), Mashhad, Yayasan Penelitian Astan-e Quds Razavi, 1393 SH.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Thabari (Tarikh al-Umam wa al-Mulūk), tahqiq Muhammad Abu al-Fadl Ibrahim, Beirut, tanpa penerbit, tanpa tahun.
  • ‘Alamzadeh, Bozorg, Haram Razavi dar Nazar-e Tarikhi, Mashhad, Nashr-e Beh, 1395 SH.
  • ‘Atardi, 'Azizullah, Tarikh-e Astan-e Quds-e Razavi, Tehran, Organisasi Cetak dan Publikasi Kementerian Budaya dan Bimbingan Islam serta Penerbit ‘Atardi, 1371 SH.
  • Labbaf Khaniiki, Rajab 'Ali, “Gunbad wa Baqi’ah Mutahharah”, dalam Da'irah al-Ma'arif Astan-e Quds Razavi (Juz 2: Sin–Ya), Mashhad, Yayasan Penelitian Astan-e Quds Razavi, 1399 SH.
  • Labbaf Khaniiki, Rajab 'Ali, “Mihrab Pišru”, dalam Da'irah al-Ma'arif Astan-e Quds Razavi (Juz 2: Sin–Ya), Mashhad, Yayasan Penelitian Astan-e Quds Razavi, 1399 SH.
  • Mu'taman, Ali, Rahnema ya Tarikh-e Astan-e Quds Razavi, Tehran, tanpa penerbit, 1348 SH.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad, Al-Irshad fi Ma'rifat Ḥujaj Allah 'ala al-'Ibad, Qom, Kongres Internasional Milad alfiyah Syekh Mufid, 1413 H.
  • Mulla Jalaluddin Munajjim, Tarikh-e 'Abbasi atau Ruznamah-e Mulla Jalal, tahqiq Seifullah Wahidnia, Tehran, Penerbit Wahid, 1366 SH.
  • Musawi Panah, Sayyid Ibrahim, Haram dar Vajeha (Pengetahuan tentang Makna "Haram" Imam Ridha), Mashhad, Astan-e Quds Razavi, 1391 SH.
  • Mishdar, Ibrahim, “Mihrab Payinpa”, dalam Da'irah al-Ma'arif Astan-e Quds Razavi (Juz 2: Sin–Ya), Mashhad, Yayasan Penelitian Astan-e Quds Razavi, 1399 SH.
  • Nemati, Behzad, “Kitabah Zarnegar-e 'Alireza Abbasi”, dalam Da'irah al-Ma'arif Astan-e Quds Razavi (Juz 2: Sin–Ya), Mashhad, Yayasan Penelitian Astan-e Quds Razavi, 1399 SH.


Kesalahan pengutipan: Ditemukan tag <ref> untuk kelompok bernama "catatan", tapi tidak ditemukan tag <references group="catatan"/> yang berkaitan