Lompat ke isi

Konsep:Ayat 9 Surah Yasin

Dari wikishia

Templat:Kotak info ayat

Ayat 9 Surah Yasin mengisyaratkan pada tindakan Allah yang meletakkan dinding (penghalang) di depan dan di belakang para pemimpin kaum kafir dan musyrik yang keras kepala, sehingga mereka tidak dapat melihat tanda-tanda kebesaran-Nya (ayat afaqi) dan iman tidak dapat masuk ke dalam hati mereka. Para mufasir menganggap sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan rencana pembunuhan Nabi Muhammad saw oleh Abu Jahal dan orang-orang kafir lainnya, di mana Nabi dengan inayah Allah tersembunyi dari pandangan mereka sehingga rencana tersebut gagal.

Disebutkan bahwa kandungan ayat ini menjelaskan sebab tidak berimannya dan terhalangnya orang-orang kafir dari hidayah. Ja'far Subhani meyakini maksud ayat ini adalah penciptaan dinding dan penghalang antara kaum kafir dengan hidayah tasyri'i para nabi dan wali, serta menganggap hukuman ini sebagai hasil dari perbuatan mereka sendiri yang mengabaikan hidayah ammah berupa akal dan Fitrah.

Dalam sebuah hadis dari Imam Shadiq as, kandungan ayat ini dideskripsikan sebagai hukuman di dunia bagi para pengingkar wilayah para Imam Syiah.

Membaca ayat ini agar tersembunyi dari pandangan orang lain merupakan hal yang umum dalam budaya umat beriman.

Pengenalan Singkat

Ayat 9 Surah Yasin dianggap sebagai deskripsi tentang keadaan para pemimpin kaum kafir, musyrik, dan munafik yang keras kepala.[1] Menurut perkataan Nashir Makarim Syirazi, mufasir Syiah, Allah dikarenakan penyimpangan awal mereka, telah meletakkan dinding di depan dan di belakang mereka sehingga mereka tidak melihat tanda-tanda kebesaran-Nya dan iman tidak meresap ke dalam hati mereka.[2]

Allamah Thabathaba'i menganggap ungkapan ayat mengenai penciptaan dinding dari depan dan belakang sebagai kinayah (kiasan) dari tertutupnya segala sisi orang-orang kafir. Menurut pendapatnya, ayat ini bersama dengan Ayat 8 Surah Yasin menjelaskan alasan terhalangnya dan tidak berimannya orang-orang kafir yang telah disebutkan dalam Ayat 7 Surah Yasin.[3]

Templat:Quran jadid|Templat:Quran jadid

Sebab Turun

Dalam beberapa tafsir riwayati, dinukil sebuah hadis dari Imam Muhammad Baqir as mengenai sebab turunnya ayat 9 Surah Yasin.[4] Berdasarkan hadis ini, Abu Jahal telah ber-sumpah bahwa jika ia melihat Nabi saw sedang salat, ia akan memukul kepala beliau. Ia datang dengan batu di tangannya dan melihat Nabi saw sedang berdiri menunaikan salat. Setiap kali ia ingin mengangkat batu untuk memukul kepala beliau, Allah membelenggu tangannya ke lehernya sehingga batu itu tidak bisa digerakkan. Ketika ia kembali kepada sahabat-sahabatnya, batu itu jatuh dari tangannya. Kemudian orang lain dari kerabatnya mencoba melakukan hal yang sama, namun ia menjadi ketakutan mendengar bacaan Nabi dan ia pun kembali dengan rasa takut.[5] Berita lainnya dari Ibnu Abbas dinukil mengenai ayat ini yang mengisyaratkan pada rencana pembunuhan Nabi saw oleh orang-orang kafir seperti Abu Jahal dan peristiwa tidak terlihatnya Nabi saw.[6]

Terhalangnya Orang-orang Kafir

Para mufasir Syiah menganggap ayat 9 Surah Yasin sebagai penjelasan atas hukuman dan terhalangnya orang-orang kafir dari nikmat iman.[7] Ja'far Subhani, mufasir Syiah, meyakini maksud ayat ini adalah penciptaan dinding dan penghalang antara orang kafir dengan hidayah tasyri'i para nabi dan wali. Ia menganggap keterhalangan ini sebagai hasil dari tindakan orang-orang kafir sendiri yang meninggalkan hidayah ammah berupa akal dan Fitrah.[8] Dalam tafsir Majma' al-Bayan disebutkan dua kemungkinan mengenai ayat ini:

  • Ayat ini dalam sebuah perumpamaan Al-Qur'an menyerupakan keadaan orang-orang kafir yang berpaling dari kebenaran dan penerimaan iman dengan orang-orang yang jalan di depannya dan jalur kembalinya telah tertutup sehingga Allah membuat mereka tidak berdaya. Jika ayat ini merujuk pada akhirat, maka ia menjelaskan tentang penciptaan penghalang di sekitar mereka dan sempitnya tempat mereka di Neraka.
  • Ayat ini mengenai orang-orang kafir yang berniat membunuh Nabi saw. Sebagaimana berdasarkan sebuah riwayat, Abu Jahal memiliki niat seperti itu. Ia mencoba melakukannya di malam hari, namun dengan diciptakannya penghalang dari sisi Allah, ia tidak melihat beliau.[9]

Banu Amin dalam tafsir Makhzan al-Irfan meyakini Ayat 8 Surah Yasin mengisyaratkan pada sifat-sifat batin kaum kafir dan musyrik, sedangkan ayat kesembilan mengenai dampak yang timbul dari sifat dan akhlak mereka. Menurutnya, akibat dari sifat-sifat kaum kafir dan musyrik, di depan dan di belakang mereka ditarik tirai kelalaian sehingga menutupi kebenaran dan ayat-ayat Al-Qur'an dari pandangan mereka sampai mata hati mereka menjadi buta dan telinga hati mereka menjadi tuli, serta mereka tidak melihat dan mendengar ayat-ayat Al-Qur'an.[10]

Tafsir Riwayati

Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as, diletakkannya dinding di depan dan di belakang serta tertutupnya pandangan dan penglihatan, dideskripsikan sebagai hukuman bagi para pengingkar wilayah para Imam Syiah di dunia.[11] Menurut laporan Tafsir Ali bin Ibrahim Qumi dalam peristiwa Lailatul Mabith, rumah Nabi saw dikepung oleh kabilah Quraisy dengan tujuan untuk membunuh beliau. Jibril turun di tengah malam, kemudian memegang tangan Nabi Muhammad saw dan saat beliau membaca ayat ini di hadapan kaum Quraisy, beliau keluar dari rumah secara sembunyi-sembunyi dan memulai Hijrah ke Madinah.[12] Dalam sebuah hadis dari Imam Ali as, ayat 9 Surah Yasin termasuk dari ayat-ayat yang dibaca oleh Nabi Adam as di surga.[13]

Pembacaan Ayat untuk Tersembunyi dari Pandangan Orang Lain

Dengan memperhatikan berita-berita mengenai terjaganya nyawa Nabi saw akibat membaca ayat 9 Surah Yasin, umat beriman juga membaca ayat ini agar tersembunyi dari pandangan orang lain.[14] Para ulama menganggap tingkat efektivitas hal semacam itu bergantung pada tingkat keikhlasan dan keyakinan seseorang terhadap Al-Qur'an.[15] Disebutkan bahwa beberapa pejuang Iran dalam Perang Iran-Irak menggunakan ayat ini untuk bersembunyi dari pandangan musuh.[16]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, hlm. 323-324.
  2. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, hlm. 323, 325 dan 327.
  3. Allamah Thabathaba'i, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 17, hlm. 65.
  4. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hlm. 212; Bahrani, Tafsir al-Burhan, 1374 HS, jld. 4, hlm. 565.
  5. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hlm. 212; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 8, hlm. 649-650; Bahrani, Tafsir al-Burhan, 1374 HS, jld. 4, hlm. 565.
  6. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 8, hlm. 649-650; Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 18, hlm. 72-73 dan 64-65.
  7. Sebagai contoh lihat: Allamah Thabathaba'i, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 17, hlm. 65; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, hlm. 323; Banu Amin, Makhzan al-Irfan, 1363 HS, jld. 11, hlm. 11-12.
  8. "Dars-e Tafsir Ayatollah Sobhani", Situs Madrasah Faqahat.
  9. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 8, hlm. 652.
  10. Banu Amin, Makhzan al-Irfan, 1363 HS, jld. 11, hlm. 11-12.
  11. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 432.
  12. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1367 HS, jld. 1, hlm. 275 dan 276.
  13. Syekh Shaduq, Ilal al-Syarayi', 1385 HS, jld. 2, hlm. 594-595.
  14. Sekelompok peneliti, Farhangnameh-ye Ulum-e Qurani, 1394 HS, hlm. 557; "Dzikri ke Mo'jezeh Mikonad!" (Zikir yang membuat mukjizat!), Situs Tebyan.
  15. Sekelompok peneliti, Farhangnameh-ye Ulum-e Qurani, 1394 HS, hlm. 557.
  16. Haidari Abhari, Barayam az Quran Begu, 1385 HS, hlm. 25; "Dzikri ke Mo'jezeh Mikonad!", Situs Tebyan.

Daftar Pustaka

  • Banu Amin, Sayidah Nusrat Begum. Makhzan al-Irfan dar Tafsir-e Quran. Teheran, Nahdhat-e Zanan-e Musalman, 1363 HS.
  • Bahrani, Sayid Hasyim. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Bonyad-e Bi'tsat, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Sekelompok peneliti. Farhangnameh-ye Ulum-e Qurani. Qom, Pazhuhesyghah-e Ulum wa Farhang-e Islami, cetakan pertama, 1394 HS.
  • Haidari Abhari, Gholamreza. Barayam az Quran Begu (Katakan padaku tentang Al-Qur'an). Qom, Nasyr-e Jamal, 1385 HS.
  • "Dars-e Tafsir Ayatollah Sobhani". Situs Madrasah Faqahat, tanggal diakses: 17 Dey 1402 HS.
  • "Dzikri ke Mo'jezeh Mikonad!". Situs Tebyan, tanggal rilis: 5 Esfand 1388 HS, tanggal diakses: 17 Dey 1402 HS.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Ilal al-Syarayi'. Qom, Toko Buku Dawari, cetakan pertama, 1385 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Entisyarat-e Nasir Khosraw, 1372 HS.
  • Allamah Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar Entisyarat Eslami, cetakan kelima, 1417 H.
  • Allamah Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-Aimmah al-Athhar. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Penelitian: Sayid Thayyib Musawi Jaza'iri. Qom, Dar al-Kitab, 1404 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Penelitian: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS.

Templat:Ayat-ayat Akidah Al-Qur'an