Konsep:Ayat 9 Surah Al-Kahf
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Nama | Surah Al-Kahfi |
| Ayat | 9 |
| Juz | 15 |
| Informasi Konten | |
| Tentang | Allah memiliki tanda-tanda yang lebih menakjubkan dari kisah Ashabul Kahfi |
Ayat 9 Surah Al-Kahfii (bahasa Arab:آیة ۹ سورة الکهف) mengisyaratkan bahwa Allah memiliki tanda-tanda yang lebih menakjubkan daripada kisah Ashabul Kahfi dan Ashhab Raqim. Berdasarkan sumber-sumber Syiah, kepala Imam Husain as, di atas tombak, membacakan ayat ini.
Para mufasir berdasarkan ayat 9 Surah Al-Kahfi meyakini bahwa kisah Ashabul Kahfi meskipun di luar pemahaman dan nalar manusia, namun di hadapan kekuasaan dan tanda-tanda Allah, hal itu bukanlah sesuatu yang paling menakjubkan. Kisah Ashabul Kahfi yang tertidur selama lebih dari tiga abad membuat orang-orang yang tidak percaya pada kehidupan setelah mati merasa sangat takjub. Namun, Allah dalam ayat 9 Surah Al-Kahfi mengingatkan bahwa peristiwa Ashabul Kahfi tidak lebih aneh daripada tanda-tanda ilahi lainnya.
Sumber-sumber Syiah menukil riwayat bahwa kepala Imam Husain as ketika berada di atas tombak membacakan ayat 9 Surah Al-Kahfi. Berbagai sumber menukil kisah ini dari Zaid bin Arqam, sahabat Nabi saw, bahwa ketika kepala Imam Husain as diarak di lorong-lorong dan kabilah-kabilah Kufah, Zaid melihat kepala suci beliau sedang membaca ayat 9 Surah Al-Kahfi: "Apakah engkau mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua, dan (yang mempunyai) raqim itu, termasuk tanda-tanda Kami yang menakjubkan?". Zaid yang sangat terenyuh berkata: "Kepalamu wahai putra Rasulullah, lebih menakjubkan dan lebih menakjubkan."
Pengenalan
Para mufasir meyakini bahwa ayat-ayat sebelum ayat 9 Surah Al-Kahfi, menggambarkan kehidupan dunia ini, cara menguji manusia, dan jalan hidup mereka. Kemudian pada ayat-ayat berikutnya membahas kisah Ashabul Kahfi dan menyebut mereka sebagai "teladan" dan "panutan".[1] Allah dalam ayat 9 Surah Al-Kahfi menyatakan bahwa kisah Ashabul Kahfi, yang menyebabkan ketakjuban mereka, tidak lebih menakjubkan daripada ayat-ayat dan tanda-tanda Allah lainnya.[2] Allamah Thabathaba'i, mufasir Syiah, menganggap ayat ini sebagai penguat ayat-ayat sebelumnya.[3]
Ayat-ayat seputar Ashabul Kahfi dalam Surah Al-Kahfi termasuk ayat 9, merupakan jawaban atas salah satu dari 3 pertanyaan yang diajarkan oleh orang-orang Yahudi kepada Quraisy untuk ditanyakan kepada Nabi saw guna mengetahui kejujuran atau kedustaan beliau.[4] Ungkapan "Am" (أَمْ) di awal ayat 9 Al-Kahfi dimaknai sebagai Hamzah Istifham Inkari (pertanyaan retoris untuk penyangkalan).[5] Ungkapan "Hasibta" (حَسِبْتَ) juga dimaknai sebagai menyangka dan menduga.[6] Ayat ini meskipun secara lahiriah ditujukan kepada Nabi saw, namun audiensnya dianggap mencakup semua orang yang merasa takjub terhadap hal-hal yang menyalahi kebiasaan dan bahkan mungkin mengingkarinya.[7]
"Apakah engkau (Muhammad) mengira bahwa penghuni gua (Ashhabul Kahf) dan Ar-Raqim itu termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang menakjubkan?" (Q.S. Al-Kahfi: 9)
Ashabul Kahfi dan Raqim
Ashabul Kahfi adalah orang-orang beriman (Kristen) yang bersembunyi di sebuah gua karena kezaliman Decius (Daqyanus) (201-251 M)[8] dan tertidur selama sedikit lebih dari tiga abad.[9] Mereka tertidur.[10] Setelah bangun, mereka mengira hanya tidur beberapa jam saja.[11] Ayat 8 hingga 26 Surah Al-Kahfi mengisyaratkan tentang hidayah Ashabul Kahfi, keimanan dan konflik mereka dengan orang-orang kafir, perlindungan ke gua, mukjizat tetap hidup, kebangunannya kembali, interaksi dengan masyarakat, dan terungkapnya kebenaran.[12]
Raqim bermakna *marqum*, tulisan[13] dan garis.[14] Kebanyakan mufasir menganggap Ashab al-Raqim sebagai nama lain dari Ashabul Kahfi yang menjadi terkenal sebagai Ashab al-Raqim karena penulisan kisah mereka pada sebuah loh (batu tulis).[15] Berdasarkan riwayat lain, Ashab al-Raqim berkaitan dengan tiga pemuda yang memasuki sebuah gua dan terkurung di dalamnya akibat tertutupnya pintu masuk gua. Setelah banyak beristighatsah (memohon pertolongan), mereka memutuskan agar masing-masing menyebutkan perbuatan baik mereka, supaya pintu gua terbuka. Mereka melakukan hal tersebut dan terbebas dari gua.[16] Syekh Shaduq, salah satu muhaddis abad ke-4 Hijriah, menyebutkan kisah ini secara rinci.[17]
Ayat-ayat Allah yang Menakjubkan
Allah dalam ayat 9 Surah Al-Kahfi ingin menyampaikan poin bahwa kisah Ashabul Kahfi, meskipun di luar pemahaman dan nalar manusia serta memiliki urgensi yang luar biasa,[18] namun di hadapan kekuasaan dan tanda-tanda Allah, itu sama sekali tidak mengherankan.[19] Allah yang telah menciptakan Ashabul Kahfi dan alam semesta beserta isinya, bagaimana bisa mengherankan jika Dia menidurkan para pemuda untuk waktu yang lama dan kemudian membangunkan mereka.[20] Dari ayat 9 Surah Al-Kahfi dipahami bahwa masyarakat sebelum turunnya wahyu, secara umum telah mengenal kisah Ashabul Kahfi.[21] Ashabul Kahfi yang tertidur lebih dari tiga abad[22] menyebabkan ketakjuban masyarakat.[23] Bagi orang-orang yang tidak mempercayai kehidupan setelah mati, wajar jika kisah Ashabul Kahfi tidak dapat dipercaya dan mengherankan bagi mereka.[24]
Para mufasir di bawah ayat 9 Surah Al-Kahfi menyinggung poin bahwa Allah telah menciptakan tanda-tanda yang lebih menakjubkan di langit dan bumi. Demikian pula penciptaan manusia adalah contoh dari keagungan dan kebesaran penciptaan, dan pastinya kisah Ashabul Kahfi tidak lebih menakjubkan dari hal-hal tersebut.[25] Tidak ada sesuatu pun yang mengherankan jika dibandingkan dengan kekuasaan Allah;[26] karena kekuasaan-Nya atas hal-hal besar dan kecil adalah sama, baik itu sesuai dengan kebiasaan maupun menyalahi kebiasaan.[27] Allamah Fadhlullah, mufasir Syiah meyakini bahwa Allah dalam ayat-ayat awal Surah Al-Kahfi ini mencela pengingkaran masyarakat terhadap hal-hal yang menakjubkan; karena tanda-tanda Allah tidak ada tempat untuk diherankan dan seluruh alam semesta adalah tanda dari kekuasaan Allah.[28]
Kepala Imam Husain as dan Membaca Ayat 9 Al-Kahfi
Sumber-sumber Syiah menukil riwayat bahwa kepala Imam Husain as ketika berada di atas tombak membacakan ayat 9 Surah Al-Kahfi.[29] Syekh Mufid,[30] ulama abad ke-4 Hijriah, Thabarsi,[31] dan Ibnu Syahr Asyub[32] ulama abad ke-6 Hijriah, serta Arbeli ulama abad ke-7,[33] menukil sebuah kisah dari Zaid bin Arqam, sahabat Nabi saw. Setelah Peristiwa Asyura, Ibnu Ziyad memerintahkan agar kepala Imam Husain as diarak di lorong-lorong dan kabilah-kabilah Kufah. Dinukil dari Zaid bin Arqam bahwa: "Ketika kepala beliau yang berada di atas tombak dilewatkan di hadapanku, aku sedang berada di ruang atas, dan ketika sampai di depanku, aku mendengar ia sedang membaca ayat ini: 'Apakah engkau mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua, dan (yang mempunyai) raqim itu, termasuk tanda-tanda Kami yang menakjubkan?' (Ayat 9 Al-Kahfi). Demi Allah aku sangat terenyuh dan berkata: 'Kepalamu wahai putra Rasulullah, lebih menakjubkan dan lebih menakjubkan'.
Sayid Muhammad Taqi Modarresi, mufasir Syiah dalam menganalisis mengapa kepala Imam Husain as membaca ayat 9 Al-Kahfi menyatakan agar masyarakat tidak merasa takjub bagaimana kepala suci tersebut membaca Al-Qur'an. Selain itu, kepala tersebut mengisyaratkan pada perkara ini bahwa alam semesta berjalan dalam sebuah persamaan yang bijaksana, di mana bagian dari persamaan ini adalah dukungan Allah terhadap orang-orang yang terzalimi dan tertindas.[34]
Catatan Kaki
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh (Tafsir Contoh), 1374 HS, jld. 12, hlm. 354.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 5, hlm. 105.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 13, hlm. 244.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 13, hlm. 244; Fakhr Razi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 21, hlm. 428.
- ↑ Najafi Khomeini, Tafsir Asan (Tafsir Mudah), 1398 H, jld. 10, hlm. 228.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 13, hlm. 245.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1378 HS, jld. 8, hlm. 330.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 14, hlm. 411.
- ↑ Kasyani, Tafsir Manhaj al-Shadiqin fi Ilzam al-Mukhalifin, 1336 HS, jld. 5, hlm. 319.
- ↑ Thabari, Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1412 H, jld. 15, hlm. 132.
- ↑ Surah Al-Kahfi, ayat 18 dan 19.
- ↑ Ma'muri, Tahlil-e Sakhtar-e Rewayat dar Qur'an (Analisis Struktur Riwayat dalam Al-Qur'an), 1392 HS, hlm. 160.
- ↑ Jauhari, Al-Shihhah, 1410 H, jld. 5, hlm. 1936.
- ↑ Raghib Isfahani, Mufradat, 1412 H, hlm. 362.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh (Tafsir Contoh), 1371 HS, jld. 12, hlm. 355.
- ↑ Thusi, Al-Amali, 1401 H, hlm. 408-409.
- ↑ Syekh Shaduq, Al-Khishal, 1362 HS, hlm. 184-185.
- ↑ Najafi Khomeini, Tafsir Asan (Tafsir Mudah), 1398 H, jld. 10, hlm. 229.
- ↑ Syekh Thusi, Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, jld. 7, hlm. 11.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 5, hlm. 105.
- ↑ Thaba'thaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 13, hlm. 244.
- ↑ Kasyani, Tafsir Manhaj al-Shadiqin fi Ilzam al-Mukhalifin, 1336 HS, jld. 5, hlm. 319.
- ↑ Fakhr Razi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 21, hlm. 428.
- ↑ Fadhlullah, Tafsir min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 14, hlm. 278.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh (Tafsir Contoh), 1374 HS, jld. 12, hlm. 355.
- ↑ Husaini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 306.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1378 HS, jld. 8, hlm. 330.
- ↑ Fadhlullah, Tafsir min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 14, hlm. 278.
- ↑ Ibnu Hamzah Thusi, Al-Tsaqib fi al-Manaqib, 1419 H, hlm. 333.
- ↑ Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma'rifah Hujaj Allah 'ala al-'Ibad, 1413 H, jld. 2, hlm. 117.
- ↑ Thabarsi, I'lam al-Wara bi A'lam al-Huda, 1417 H, hlm. 252.
- ↑ Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Alu Abi Thalib as, jld. 4, hlm. 61.
- ↑ Arbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-A'immah, 1381 HS, jld. 2, hlm. 67.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 6, hlm. 364.
Daftar Pustaka
- Arbili, Ali bin Isa. Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-A'immah. Peneliti dan Korektor: Hasyim Rasuli Mahallati. Tabriz: Penerbit Bani Hasyimi, cetakan pertama, 1381 H.
- Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Tafsir min Wahy al-Qur'an. Beirut: Dar al-Malak, cetakan kedua, 1419 H.
- Fakhr Razi, Abu Abdillah Muhammad bin Umar. Mafatih al-Ghaib. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
- Husaini Syirazi, Sayid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ulum, cetakan kedua, 1423 H.
- Ibnu Hamzah Thusi, Muhammad bin Ali. Al-Tsaqib fi al-Manaqib. Peneliti dan Korektor: Nabil Ridha Alwan. Qom: Penerbit Ansariyan, cetakan ketiga, 1419 H.
- Ibnu Syahrasyub Mazandarani. Manaqib Alu Abi Thalib as. Qom: Penerbit Allamah, cetakan pertama, 1379 H.
- Jauhari, Ismail bin Hammad. Al-Shihah; Taj al-Lughah wa Shihah al-Arabiyyah. Koreksi: Ahmad Abdul Ghafur Atthar. Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, 1410 H.
- Kasyani, Mulla Fathullah. Tafsir Manhaj al-Shadiqin fi Ilzam al-Mukhalifin. Teheran, Kitabfurushi Muhammad Hasan Ilmi, 1336 HS.
- Ma'muri, Ali. Tahlil-e Sakhtar-e Revayat dar Qur'an (Analisis Struktur Riwayat dalam Al-Qur'an). Teheran: Negah-e Moaser, 1392 HS.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li-Durar Akhbar al-A'immah al-Athhar. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir-e Nemuneh (Tafsir Contoh). Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir-e Nemuneh (Tafsir Contoh). Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1371 HS.
- Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Teheran: Dar Muhibbi al-Husain, cetakan pertama, 1419 H.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1424 H.
- Najafi Khomeini, Muhammad Jawad. Tafsir Asan (Tafsir Mudah). Teheran: Penerbit Islamiyyah, cetakan pertama, 1398 H.
- Qummi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. Peneliti: Thayib Musawi Jazairi. Qom: Dar al-Kitab, cetakan ketiga, 1404 H.
- Raghib Isfahani, Hasan bin Muhammad. Mufradat Alfazh al-Qur'an. Koreksi: Shafwan Adnan Dawudi. Lebanon - Suriah: Dar al-Ilm - Al-Dar al-Syamiyyah, 1412 H.
- Syekh Mufid. Al-Irsyad fi Ma'rifah Hujaj Allah 'ala al-'Ibad. Qom: Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H.
- Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Khishal. Koreksi: Ali Akbar Ghaffari. Qom: Jami'ah Mudarrisin, 1362 HS.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Amali. Diupayakan oleh Muhammad Shadiq Bahrululum. Beirut: Tanpa Penerbit, 1981 M.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Dengan pengantar: Syekh Agha Buzurg Tehrani. Peneliti: Ahmad Qashir Amili. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Tanpa Tahun.
- Thaba'thaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Penerbit Daftar-e Intisharat-e Eslami, cetakan kelima, 1417 H.
- Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ma'rifah, cetakan pertama, 1412 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. I'lam al-Wara bi A'lam al-Huda. Qom: Mu'assasah Alu al-Bait, cetakan pertama, 1417 H.
- Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Penerbit Islam, cetakan kedua, 1378 HS.