Konsep:Ayat 78 Surah An-Nisa
Templat:Kotak info ayat Ayat 78 Surah An-Nisa mencela orang-orang mukmin dengan iman yang lemah dan sebagian orang munafik yang karena takut terbunuh, menentang perintah jihad melawan orang-orang kafir. Ayat ini, menjawab kesalahan mereka yang menisbatkan setiap masalah dan kejadian buruk kepada Nabi Akram saw serta menganggap beliau bertanggung jawab atas kejadian-kejadian buruk.
Ayat ini mengisyaratkan pada tidak dapat dihindarinya kematian dan keyakinan yang salah dari orang-orang munafik yang mengira bahwa dengan melarikan diri dari perang atau bersembunyi di bangunan-bangunan yang kokoh mereka dapat lari dari kematian, tanpa menyadari bahwa kematian adalah ketetapan Ilahi yang pasti dan tidak ada seorang pun yang mampu menundanya. Oleh karena itu, kematian yang mulia di medan jihad, lebih utama daripada kematian yang disertai kehinaan saat melarikan diri.
Asy'ariyah menyimpulkan paham jabariyah (determinisme) dari bagian akhir ayat ini, sementara Muktazilah menyimpulkan kebebasan berkehendak (ikhtiar) manusia.
Pengenalan Ayat
Ayat 78 Surah An-Nisa yang turun di Madinah,[1] menyeru orang-orang mukmin untuk berjihad di jalan Allah dan tidak takut menghadapi kematian di medan pertempuran. Ayat ini juga merupakan jawaban atas pandangan negatif dan prasangka buruk orang-orang munafik yang alih-alih menganalisis kejadian secara logis dan tepat, malah menisbatkan kekalahan kepada Nabi Akram saw.[2]
Templat:Quran jadidTemplat:SakhTemplat:Quran jadid
Sebab Turun
Sekelompok umat muslim yang berada di bawah kezaliman dan siksaan kaum musyrik di Makkah, setelah hijrah ke Madinah datang kepada Nabi Akram saw dan mengeluhkan tekanan-tekanan di masa lalu. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, ketika kami masih musyrik, kami hidup dalam kemuliaan dan kehormatan, namun dengan menerima iman, kami jatuh ke dalam kehinaan dan ketidakberhargaan." Nabi saw menjawab: "Aku diperintahkan untuk memaafkan, maka janganlah kalian berperang." Namun ketika perintah perang dikeluarkan pada Perang Badar, melaksanakannya terasa sulit dan berat bagi sebagian dari mereka. Pada saat itulah, ayat 78 Surah An-Nisa turun.[3]
Ayat 78 Surah An-Nisa berkaitan dengan sekelompok orang munafik atau orang-orang mukmin yang lemah iman yang dengan tergesa-gesa menginginkan dimulainya perang melawan kaum musyrik.[4] Selain itu, ayat ini juga mencela orang-orang yang tidak menyadari konsekuensi akidah Tauhid dan menentang perintah berperang melawan orang-orang kafir.[5]
Tidak Dapat Dihindarinya Kematian dan Keutamaan Kematian yang Mulia dalam Jihad
Menurut perkataan sebagian mufasir Syiah, perumpamaan dalam ayat ini mengisyaratkan pada tidak dapat dihindarinya kematian,[6] dan menentang keyakinan yang salah dari orang-orang munafik yang mengira bahwa dengan melarikan diri dari perang atau bersembunyi di bangunan-bangunan yang kokoh mereka dapat lari dari kematian, tanpa menyadari bahwa kematian adalah ketetapan Ilahi yang pasti dan tidak ada seorang pun yang mampu menundanya.[7]
Berdasarkan pandangan Makarim Syirazi, Al-Qur'an pada ayat ini dan ayat sebelumnya, memberikan dua jawaban kepada orang-orang yang takut dan resah untuk hadir di medan pertempuran: pertama, mengingatkan akan kefanaan kehidupan dunia dan nilai tak tertandingi dari pahala akhirat; dan kemudian menekankan pada poin ini bahwa kematian bagaimanapun juga akan mendatangi manusia, bahkan jika ia berlindung di menara-menara yang tinggi dan kokoh.[8] Sebagai hasilnya, kematian yang mulia di medan jihad, lebih diutamakan daripada kematian yang disertai dengan kehinaan saat melarikan diri.[9] Berdasarkan sebagian riwayat, Imam Husain as dalam menjawab para jin yang datang untuk membantunya pada Peristiwa Karbala, bersandar pada penggalan ayat ini "أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ".[10]
Para mufasir menafsirkan kata "buruj" dalam ayat ini sebagai istana, benteng atau rumah-rumah dengan dinding yang kokoh.[11]
Segala Sesuatu Berasal dari Allah
Penggalan kedua ayat "وَ إِنْ تُصِبْهُمْ سَیئَةٌ یقُولُوا هذِهِ مِنْ عِنْدِک" mengisyaratkan pada salah satu anggapan batil dan perkataan tak berdasar lainnya dari orang-orang munafik; mereka yang menganggap setiap kemenangan dan kebaikan berasal dari sisi Allah, namun menisbatkan keburukan dan kejelekan kepada Nabi Akram saw.[12]
Menurut perkataan Abdullah Jawadi Amuli, sebagian dari orang-orang ini yang tidak mempercayai khurafat, menganggap masalah-masalah tersebut berasal dari lemahnya manajemen dan kepemimpinan Nabi saw; sedangkan kelompok yang mempercayai khurafat, menisbatkan nasib buruk pada kedatangan Nabi saw.[13] Ia meyakini bahwa meramalkan hal yang baik dan buruk adalah hasil dari menjauhnya dari akal serta wahyu dan jenis pandangan ini serupa dengan pandangan sebagian dari Bani Israel terhadap Nabi Musa as.[14] Kemiripan perkataan orang-orang munafik dengan keyakinan Bani Israel, disebutkan karena kedekatan dalam pola pikir dan struktur psikologis mereka.[15]
Sebagian mufasir menganggap ayat 78 Surah An-Nisa mengawasi perilaku orang-orang Yahudi yang setelah kedatangan Nabi saw ke Madinah, menganggap kejadian-kejadian menyenangkan berasal dari Allah dan kejadian-kejadian tidak menyenangkan karena kedatangan Nabi saw.[16]
Kesimpulan-kesimpulan Ilmu Kalam
Aliran-aliran ilmu kalam memiliki kesimpulan yang berbeda-beda dari ayat ini:
- Asy'ariyah dengan bersandar pada penggalan "قُلْ کلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ", mengemukakan pandangan jabariyah (determinisme) dan menganggap seluruh kebaikan serta keburukan berasal dari Allah.[17]
- Muktazilah dalam menjawab Asy'ariyah, dengan bersandar pada kelanjutan ayat "فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَایکادُونَ یفْقَهُونَ حَدِیثًا" berargumen bahwa jika manusia tidak memiliki ikhtiar (kebebasan memilih), celaan Ilahi terhadap ketiadaan pemikiran dan pembedaan antara kebaikan dan keburukan (sayyi'at) akan menjadi tidak bermakna.[18]
Catatan Kaki
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 3.
- ↑ Qira'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 2, hlm. 112.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 119; Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 5, hlm. 108.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1389 HS, jld. 19, hlm. 542.
- ↑ Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhsyan dar Tafsir-e Quran, 1404 H, jld. 4, hlm. 125.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1402 H, jld. 5, hlm. 7.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1389 HS, jld. 19, hlm. 562.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 4, hlm. 17.
- ↑ Tsaqafi Tehrani, Rawan Jawid dar Tafsir-e Quran-e Majid, 1398 H, jld. 2, hlm. 86.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 44, hlm. 330.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 120.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 4, hlm. 20.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1389 HS, jld. 19, hlm. 566.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1389 HS, jld. 19, hlm. 566.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1389 HS, jld. 19, hlm. 566.
- ↑ Farra', Ma'ani al-Qur'an, 1980 M, jld. 1, hlm. 278.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1389 HS, jld. 19, hlm. 567.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1389 HS, jld. 19, hlm. 567.
Daftar Pustaka
- Farra', Yahya bin Ziyad. Ma'ani al-Qur'an. Penelitian: Muhammad Ali Najjar dan Ahmad Yusuf Najati. Mesir, Al-Hai'ah al-Mishriyyah al-'Ammah li al-Kitab, cetakan kedua, 1980 M.
- Husaini Hamadani, Muhammad. Anwar-e Derakhsyan dar Tafsir-e Quran. Penelitian: Muhammad Baqir Behbudi. Taheran, Penerbit Luthfi, cetakan pertama, 1404 H.
- Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Qom, Penerbit Asra', 1389 HS.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Peneliti: sekelompok peneliti. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.
- Qira'ati, Muhsin. Tafsir Nur (Tafsir Nur). Taheran, Markaz-e Farhangi-e Dars-hayi az Quran, cetakan pertama, 1388 HS.
- Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-Ma'rifah, cetakan pertama, 1412 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Fadhlullah Yazdi Thabathaba'i, Hasyim Rasuli. Taheran, Penerbit Nashir Khusraw, cetakan ketiga, 1372 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Mu'assasah al-A'lami li al-Mathbu'at, cetakan kedua, 1390 H.
- Tsaqafi Tehrani, Muhammad. Rawan Jawid dar Tafsir-e Quran-e Majid. Taheran, Penerbit Burhan, cetakan kedua, 1398 H.