Konsep:Ayat 5 Surah At-Tahrim
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | At-Tahrim |
| Ayat | 5 |
| Juz | 28 |
| Informasi Konten | |
| Sebab Turun | Gangguan terhadap Nabi Muhammad saw oleh sebagian istri-istrinya dan ancaman untuk menceraikan mereka |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Ancaman terhadap istri-istri Nabi Muhammad saw dengan perceraian dan sifat-sifat istri yang salehah |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 1 Surah At-Tahrim, Ayat 2 Surah At-Tahrim, Ayat 3 Surah At-Tahrim, Ayat 4 Surah At-Tahrim |
Ayat 5 Surah At-Tahrim memberikan peringatan kepada istri-istri Nabi Muhammad saw bahwa jika Nabi Muhammad saw menceraikan kalian, maka Allah akan menggantikan mereka dengan istri-istri yang lebih baik. Thanthawi (wafat: 1431/2009-10), salah seorang mufasir Ahlusunah, menganggap peringatan cerai ini ditujukan kepada istri-istri yang menyakiti Nabi Muhammad saw dengan menyebarkan rahasia beliau. Pada kelanjutan ayat, disebutkan enam sifat (Islam, Iman, ketundukan, Tobat, Ibadah, dan ketaatan) bagi istri-istri yang salehah.
Mengenai penyebaran rahasia Nabi Muhammad saw, sebagian kitab tafsir menganggap rahasia tersebut adalah sumpah Nabi Muhammad saw untuk tidak memakan madu, dan sebagian lain menganggapnya sumpah beliau untuk meninggalkan hubungan suami istri dengan istrinya, Mariyah Qibtiyah. Sebagian sumber juga menyebutkan rahasia Nabi Muhammad saw adalah kabar beliau tentang kepemimpinan Abu Bakar dan Umar.
Pengenalan dan Teks Ayat
Ayat kelima Surah At-Tahrim, yang tergolong sebagai ayat Madaniyah,[1] memberikan peringatan kepada istri-istri Nabi Muhammad saw, khususnya Hafshah dan Aisyah, bahwa jika Nabi Muhammad saw menceraikan kalian, Allah akan menggantikan dengan istri-istri yang lebih baik.[2] Thanthawi (wafat: 1431/2009-10), salah seorang mufasir Ahlusunah, menganggap ancaman cerai ini ditujukan kepada istri-istri yang menyakiti Nabi Muhammad saw dengan menyebarkan rahasia beliau - yang disebutkan dalam ayat ketiga surah ini.[3]
Pada kelanjutan ayat, disebutkan enam sifat (Islam, Iman, ketundukan, Tobat, Ibadah, dan ketaatan) bagi istri-istri yang layak.[4] Menurut Thabarsi, yang dimaksud dengan saihat (yang bermakna berjalan dan berwisata) adalah orang yang berjalan dalam ketaatan kepada Allah, orang yang berhijrah, atau orang yang berpuasa.[5] Thabarsi juga mengatakan; orang yang berpuasa disebut saihah karena ia terus-menerus menahan diri dari makan, sebagaimana seorang pelancong (saihah) terus-menerus melakukan perjalanan di muka bumi.[6]
| “ | عَسَىٰ رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا
|
” |
Boleh jadi Tuhannya, jika ia menceraikan kamu, akan menggantikan baginya isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, - yang menurut perintah, yang ikhlas imannya, yang taat, yang bertaubat, yang tetap beribadat, yang berpuasa, - (meliputi) yang janda dan yang anak dara.
Asbabun Nuzul
Dalam sebagian sumber disebutkan, ancaman cerai terhadap istri-istri Nabi Muhammad saw dikarenakan gangguan dan penyebaran rahasia Nabi Muhammad saw oleh sebagian dari mereka.[7] Namun mengenai apa dan bagaimana kejadian penyebaran rahasia ini, terdapat berbagai laporan dalam tafsir Syiah dan Sunni;[8] Allamah Thabathaba'i meyakini bahwa laporan-laporan ini tidak sepenuhnya sesuai dengan ayat-ayat awal surah ini.[9]
Meninggalkan Makan Madu
Sebagian tafsir menganggap rahasia Nabi Muhammad saw adalah sumpah beliau untuk tidak memakan madu; dalam Majma' al-Bayan dinukil bahwa seseorang membawakan seguci madu untuk Hafshah, dan setiap kali Nabi Muhammad saw mengunjunginya, Hafshah menjamu beliau dengan madu sehingga Rasulullah saw tinggal lebih lama bersamanya. Aisyah merasa kesal dengan hal ini; oleh karena itu ia merencanakan bersama istri-istri Nabi lainnya agar ketika Rasulullah saw mendatangi mereka, mereka mengatakan: "Kami mencium bau maghafir (getah pohon yang berbau tidak sedap) darimu." Maka setiap kali Nabi Muhammad saw mendatangi salah satu istrinya, beliau mendengar ucapan yang sama. Nabi Muhammad saw yang sangat menghindari bau tidak sedap, bersumpah di hadapan Aisyah untuk tidak memakan madu selamanya[10] dan meminta Aisyah untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun.[11] Sebagian mufasir menganggap peristiwa makan madu terjadi di rumah Zainab binti Jahsy atau Ummu Salamah atau Saudah, dan meyakini bahwa Aisyah dan Hafshah merencanakan hal ini bersama-sama dan Nabi Muhammad saw bersumpah di hadapan Hafshah.[12] Tafsir Nemuneh menilai laporan ini lebih masyhur dan lebih sesuai.[13]
Meninggalkan Hubungan dengan Mariyah
Dalam sebagian laporan, rahasia Nabi Muhammad saw disebutkan sebagai sumpah beliau untuk meninggalkan hubungan suami istri dengan Mariyah Qibtiyah; Syeikh Thabarsi menukil bahwa suatu hari Nabi Muhammad saw berhubungan dengan Mariyah Qibtiyah di rumah Hafshah saat Hafshah sedang tidak ada. Ketika Hafshah mengetahui hal itu, ia memprotes Nabi Muhammad saw, dan Nabi Muhammad saw demi mendapatkan kerelaannya bersumpah untuk tidak lagi berhubungan badan dengan Mariyah dan meminta Hafshah agar tidak memberitahukan sumpah ini kepada siapa pun.[14] Berdasarkan sebagian laporan, Nabi Muhammad saw mengharamkan hubungan dengan Mariyah atas dirinya karena permintaan Hafshah atau ancaman Aisyah yang tidak akan memandang Nabi Muhammad saw lagi.[15]
Kepemimpinan Abu Bakar dan Umar
Sebagian sumber menyebutkan rahasia Nabi Muhammad saw adalah kabar beliau tentang kepemimpinan Abu Bakar dan Umar; Ali bin Ibrahim al-Qummi, salah seorang muhadis dan mufasir Syiah, dalam kitab tafsirnya menulis: Setelah bersumpah untuk meninggalkan hubungan dengan Mariyah Qibtiyah, Nabi Muhammad saw menceritakan sebuah rahasia kepada Hafshah, yaitu: Setelah beliau, Abu Bakar dan kemudian Umar akan memegang kekhilafahan, dan beliau meminta Hafshah untuk tidak menyebarkan rahasia ini, namun saat itu juga Hafshah memberitahu Aisyah, dan dengan demikian Abu Bakar dan Umar pun mengetahuinya lalu merencanakan untuk meracuni Nabi Muhammad saw, maka turunlah ayat-ayat ini.[16]
Catatan Kaki
- ↑ Ma'rifat, Amuzesy-e Olum-e Qur'an, 1371 HS, jld. 2, hlm. 168.
- ↑ Tsaqafi Tehrani, Rawan-e Javid, 1398 H, jld. 5, hlm. 231.
- ↑ Thanthawi, Al-Tafsir al-Wasith, 1997 M, jld. 14, hlm. 473.
- ↑ Dehqan, Ba Qur'an dar Makkeh va Madineh, 1391 HS, hlm. 298.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 10, hlm. 475.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 10, hlm. 475.
- ↑ Sebagai contoh, lihat: Shabuni, Shafwah al-Tafasir, 1421 H, jld. 3, hlm. 383; Markaz-e Farhang va Ma'aref-e Qur'an, Dairah al-Ma'arif Qur'an Karim, 1382 HS, jld. 6, hlm. 441; Qurasyi Banabi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1375 HS, jld. 11, hlm. 229.
- ↑ Sebagai contoh, lihat: Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 10, hlm. 471; Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 4, hlm. 562-563; Suyuthi, Al-Durr al-Manthur, 1404 H, jld. 6, hlm. 239; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 24, hlm. 271.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 19, hlm. 337-338.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 10, hlm. 471.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 24, hlm. 271.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 10, hlm. 471; Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 4, hlm. 563; Suyuthi, Al-Durr al-Manthur, 1404 H, jld. 6, hlm. 239; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 24, hlm. 271.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 24, hlm. 271.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 10, hlm. 471-472.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, Mansyurat Ismailiyan, jld. 19, hlm. 338.
- ↑ Qumi, Tafsir al-Qummi, 1404 H, jld. 2, hlm. 375-376.
Daftar Pustaka
- Dehqan, Akbar. Ba Qur'an dar Makkeh va Madineh. Teheran, Mas'ar, Cetakan kedua, 1391 HS.
- Ma'rifat, Muhammad Hadi. Amuzesy-e Olum-e Qur'an. Qom, Markaz-e Chap va Nasyr Sazman-e Tablighat-e Eslami, Cetakan pertama, 1371 HS.
- Makarim Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan pertama, 1374 HS.
- Markaz-e Farhang va Ma'aref-e Qur'an. Dairah al-Ma'arif Qur'an Karim. Qom, Bustan-e Ketab, Cetakan ketiga, 1382 HS.
- Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. Peneliti dan Korektor: Sayid Thayib Musavi Jazairi. Qom, Dar al-Kitab, Cetakan ketiga, 1404 H.
- Qur'an Karim. Terjemahan Husain Ansarian.
- Qurasyi Banabi, Ali Akbar. Tafsir Ahsan al-Hadits. Teheran, Bunyad-e Bi'tsat, Markaz-e Chap va Nasyr, Cetakan kedua, 1375 HS.
- Shabuni, Muhammad Ali. Shafwah al-Tafasir. Beirut, Dar al-Fikr, Cetakan pertama, 1421 H.
- Suyuthi, Abdurrahman. Al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. Qom, Kitabkhaneh Umumi-ye Hazrat-e Ayatullah Mar'asyi Najafi (ra), Cetakan pertama, 1404 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar Intisharat-e Eslami, Cetakan kelima, 1417 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Dengan mukadimah Muhammad Jawad Balaghi. Teheran, Nashir Khusro, Cetakan ketiga, 1382 HS.
- Thanthawi, Muhammad. Al-Tafsir al-Wasith lil-Qur'an al-Karim. Mesir, Nahdhah Mishr, Cetakan pertama, 1997 M.
- Tsaqafi Tehrani, Muhammad. Tafsir Rawan-e Javid. Intisharat-e Borhan, Teheran, Cetakan ketiga, 1398 H.
- Zamakhsyari, Mahmud. Al-Kasysyaf 'an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil. Beirut, Dar al-Kitab al-'Arabi, Cetakan ketiga, 1407 H.