Lompat ke isi

Konsep:Ayat 26 Surah Al-Baqarah

Dari wikishia
Ayat 26 Surah Al-Baqarah
Informasi Ayat
SurahSurah Al-Baqarah
Ayat26
Juz1
Informasi Konten
Sebab
Turun
Jawaban Allah Swt dengan perumpamaan nyamuk kepada mereka yang meragukan atau mengolok-olok aspek wahyu Al-Qur'an dikarenakan perumpamaan-perumpamaan sebelumnya
Tempat
Turun
Madinah
TentangKaum Munafik atau Kaum Musyrik


Ayat 26 Surah Al-Baqarah merupakan jawaban Allah Swt kepada orang-orang yang memberikan sindiran kepada Nabi Islam saw mengenai perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur'an. Menurut pernyataan Allamah Thabathabai, ayat ini menjelaskan tentang kesesatan dan penyimpangan setelah melakukan Dosa, yang mana hal ini berbeda dengan kesesatan sebelum berbuat dosa.

Dua kemungkinan disebutkan di kalangan mufasir Syiah mengenai syan nuzul ayat ini. Kemungkinan pertama, ayat ini adalah jawaban bagi kaum munafik yang, dengan memperhatikan perumpamaan Allah pada ayat-ayat sebelumnya (Ayat 17 dan 19 Surah Al-Baqarah), meragukan aspek wahyu Al-Qur'an. Kemungkinan lainnya adalah bahwa ayat ini merupakan jawaban kepada kaum musyrik yang mengolok-olok Al-Qur'an dikarenakan perumpamaan seperti lalat dan laba-laba. Syaikh Thusi dan Abul Futuh Razi menganggap kemungkinan pertama lebih baik dan lebih tepat.

Penjelasan mengenai kehalusan ciptaan dan keagungan Tuhan bagi para mukmin, serta ketidakberdayaan kaum sombong untuk menciptakan makhluk semacam itu, merupakan bagian dari alasan mengapa Allah memberikan perumpamaan nyamuk sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis dan riwayat. Para mufasir Syiah, sembari menyebutkan perbedaan antara penyesatan (idhlal) Ilahi dan penyesatan setan, mengemukakan berbagai makna untuk penyesatan Ilahi, di antaranya adalah ujian, membiarkan orang-orang kafir dengan kondisi mereka sendiri, serta menahan anugerah (luthf).

Kedudukan

Berdasarkan sebuah riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir as, ayat 26 Surah Al-Baqarah merupakan jawaban dari sisi Allah kepada orang-orang yang menyindir Nabi Islam saw terkait perumpamaan-perumpamaan Allah sebelumnya mengenai lalat, laba-laba, dan lain-lain, serta berkata: "Perumpamaan macam apa ini?" Allah pun menjawab dengan ayat ini bahwa Dia tidak merasa malu untuk membuat perumpamaan dengan nyamuk atau yang lebih tinggi dari itu bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.[1] Menurut pandangan Mughniyah, Allah bermaksud memberikan pemahaman dan mendekatkan makna pada akal serta pikiran melalui perumpamaan ini.[2]

Dalam riwayat lain dari Imam Shadiq as, ayat ini dianggap sebagai penolakan terhadap orang-orang yang membayangkan bahwa Allah menyesatkan sebagian orang lalu menyiksa mereka dikarenakan kesesatan tersebut.[3] Menurut pernyataan Allamah Thabathabai, ayat ini menjadi saksi bahwa terkadang kesesatan dan penyimpangan datang menyusul orang yang berdosa sebagai bentuk hukuman, di mana kesesatan setelah dosa ini berbeda dengan kesesatan dan kebutaan sebelum dosa yang mendorongnya pada kemaksiatan.[4] Kesesatan setelah melakukan dosa dalam istilah disebut sebagai kesesatan hukuman atau Idhlal Mujazati.[5]

Teks dan Sebab Turun

Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan apa jua, (seperti) nyamuk hingga ke suatu yang lebih daripadanya (kerana perbuatan itu ada hikmahnya), maka di antara orang-orang yang beriman, maka mereka mengetahui bahawa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka; dan adapun orang-orang kafir, maka mereka akan berkata: "Apakah maksud Allah membuat perumpamaan dengan benda ini?" Allah menjadikan banyak orang sesat dengan perumpamaan itu, dan Allah menjadikan banyak orang mendapat petunjuk dengan perumpamaan itu; dan Allah tidak akan menjadikan sesat dengan perumpamaan itu melainkan orang-orang yang fasik;


Dua kemungkinan disebutkan di kalangan mufasir Syiah mengenai syan nuzul ayat 26 Surah Al-Baqarah. Pada kemungkinan pertama yang dinukil dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud, ayat ini disampaikan sebagai jawaban bagi kaum munafik yang dengan memperhatikan perumpamaan Allah pada ayat-ayat terdahulu (Ayat 17 dan 19 Surah Al-Baqarah), meragukan aspek wahyu Al-Qur'an dan menyebut Allah lebih agung dari perumpamaan semacam itu.[6]

Pada kemungkinan lainnya yang dinukil dari Qatadah dan Hasan al-Bashri, ayat ini turun sebagai jawaban bagi kaum musyrik yang mengolok-olok Al-Qur'an dikarenakan membuat perumpamaan lalat dan laba-laba.[7] Muqatil bin Sulaiman al-Balkhi dalam tafsirnya, menyebutkan audiens kemungkinan kedua adalah kaum Yahudi.[8] Syaikh Thusi[9] dan Abul Futuh Razi[10] menganggap kemungkinan pertama lebih baik dan lebih sesuai.

Alasan Perumpamaan Nyamuk

Dalam berbagai tafsir dengan bersandar pada hadis, alasan pembuatan perumpamaan nyamuk dalam ayat 26 Surah Al-Baqarah dianggap untuk menjelaskan kehalusan ciptaan dan keagungan Tuhan. Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as mengenai perbandingan nyamuk dengan gajah disebutkan bahwa meskipun nyamuk secara fisik sangat kecil, namun secara struktur tubuh serupa dengan gajah dan bahkan memiliki dua organ tambahan yakni sayap dan belalai (tanduk). Menurut riwayat ini, Allah dengan menyebut perumpamaan ini sedang menjelaskan kehalusan ciptaan dan keagungan Tuhan bagi para mukmin. Sebagaimana Amirul Mukminin as dalam Nahjul Balaghah saat menyifati penciptaan nyamuk, menganggap manusia tidak berdaya untuk menciptakan makhluk yang semisalnya.[11]

Ketidakberdayaan kaum sombong,[12] kemaslahatan serta manfaat bagi para hamba,[13] dan fakta bahwa nyamuk tetap hidup selama ia lapar namun akan mati jika ia kenyang (gemuk), merupakan kemungkinan lain yang disebutkan mengenai perumpamaan nyamuk.[14]

Maksud dari Ma Fauqaha

Menurut pandangan mufasir Syiah, terdapat dua pendapat mengenai makna (ma fauqaha): lebih dari itu dalam hal kecilnya (yakni perumpamaan yang lebih kecil dari nyamuk)[15] dan lebih dari itu dalam hal besarnya (seperti lalat).[16] Beberapa pihak juga menganggap keduanya memungkinkan.[17] Makarim Syirazi pun sembari menjelaskan kedua kemungkinan, menganggap pendapat pertama lebih tepat.[18]

Penyesatan Ilahi Berbeda dengan Penyesatan Setan

Beberapa mufasir Syiah menjelaskan bahwa kalimat "yudhillu bihi katsiran wa yahdi bihi katsiran" dalam ayat 26 Surah Al-Baqarah merupakan kutipan ucapan dari kaum kafir, sedemikian rupa sehingga setelah perumpamaan Allah mengenai nyamuk, kaum kafir berkata: apa maksud Allah dengan perumpamaan ini yang dengannya banyak orang menjadi sesat dan banyak orang mendapat petunjuk? Dalam asumsi ini, kalimat berikutnya "wa ma yudhillu bihi illal fāsiqīn" disebut sebagai jawaban Allah kepada kaum kafir.[19]

Berdasarkan sudut pandang mufasir lainnya, kalimat ini merupakan pernyataan dari Allah Swt sendiri, bukan setan, dalam artian Allah menyebutkan bahwa Dia sendiri yang menjadikan banyak orang tertimpa kesesatan dan banyak orang mendapat petunjuk; oleh karena itu kesesatan dari arah Syaitan dalam makna menghalangi kebaikan, mengajak pada penyimpangan,[20] keraguan, dan menjerumuskan dalam kerusakan, tidak memiliki jalan pada diri Allah.[21] Imtihan dan ujian,[22] membiarkan orang kafir dengan kondisi mereka sendiri dan menahan anugerah,[23] penetapan hukum atas kekufuran dan pengkafiran (takfir) namun bukan menjadikan mereka kafir dan sesat,[24] serta kebinasaan, azab, dan kebatilan[25] merupakan beberapa makna yang disebutkan mengenai penyesatan (idhlal) dari sisi Allah.

Dari sudut pandang Makarim Syirazi dan Fadhlullah, petunjuk dan kesesatan yang disebutkan dalam ayat tidaklah berdasarkan paksaan (ijbar),[26] sebagaimana berdasarkan ucapan para Imam as mengenai perbuatan manusia, tidak ada paksaan mutlak (jabr) maupun kebebasan mutlak (ikhtiyar); melainkan urusannya berada di antara keduanya (amrun baina amrain).[27]

Siapakah Orang-orang Fasik Itu?

Beberapa mufasir Syiah, di bawah tafsir ayat 26 Surah Al-Baqarah, mengartikan orang-orang fasik sebagai individu yang keluar dari jalan penghambaan.[28] Sebagaimana dari pandangan ini, orang munafik, kafir, dan bahkan Iblis pun disebut sebagai fasik.[29] Sayid Abdullah Syubbar juga dalam al-Jauhar al-Tsamin, menganggap fasik adalah orang yang telah keluar dari agama Allah.[30] Dalam tafsir yang dinisbatkan kepada Imam Hasan al-Askari as, disebutkan sebuah riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir as bahwa yang dimaksud dengan orang fasik diartikan sebagai para pelaku kejahatan atas diri mereka sendiri dan pengabaian perintah Allah.[31]

Sayid Muhammad Taqi Mudarrisi dalam Tafsir Min Huda al-Qur'an, sembari menyebutkan bahwa kefasikan merupakan penyebab kesesatan, menganggap maksud dari fasik adalah sosok sombong yang pada hakikatnya melakukan penyembahan terhadap dirinya sendiri dan tidak melihat apa pun selain kepentingannya sendiri serta tidak menjaga hak-hak orang lain.[32]

Catatan Kaki

  1. al-Tafsir al-Mansub ila al-Imam al-Hasan al-Askari as, koreksi: Mohammad Baqer Mowahhed Abtahi Isfahani, hal. 204-205.
  2. Mughniyah, al-Tafsir al-Mubin, 1425 H, hal. 7.
  3. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 1, hal. 34; Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 1, hal. 44-45.
  4. Thabathabai, Al-Mizan, 1350-1353 H, jld. 1, hal. 91.
  5. Thabathabai, Al-Mizan, Mansyurat Isma'iliyan, jld. 12, hal. 214 dan 244.
  6. Syaikh Thusi, at-Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 1, hal. 110-111; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1366-1378 HS, jld. 1, hal. 175; Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hal. 165; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 1, hal. 145.
  7. Syaikh Thusi, at-Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 1, hal. 111; Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hal. 165; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1366-1378 HS, jld. 1, hal. 175; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 1, hal. 145-146; Syubbar, al-Jauhar al-Tsamin, 1407 H, jld. 1, hal. 82.
  8. Ibnu Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 1, hal. 94-95.
  9. Syaikh Thusi, at-Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 1, hal. 111.
  10. Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1366-1378 HS, jld. 1, hal. 175.
  11. Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hal. 165-166; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 1, hal. 150; Shadeqi Tehrani, al-Furqan, 1406-1410 H, jld. 1, hal. 254.
  12. Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 1, hal. 197.
  13. al-Tafsir al-Mansub ila al-Imam al-Hasan al-Askari as, koreksi: Mohammad Baqer Mowahhed Abtahi Isfahani, hal. 205.
  14. Syaikh Thusi, at-Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 1, hal. 111.
  15. Shadeqi Tehrani, al-Furqan, 1406-1410 H, jld. 1, hal. 254.
  16. al-Tafsir al-Mansub ila al-Imam al-Hasan al-Askari as, koreksi: Mohammad Baqer Mowahhed Abtahi Isfahani, hal. 205; Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1416 H, jld. 1, hal. 104.
  17. Syaikh Thusi, at-Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 1, hal. 113; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1366-1378 HS, jld. 1, hal. 178; Syarif Lahiji, Tafsir Syarif Lahiji, 1373 HS, jld. 1, hal. 24.
  18. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 1, hal. 147.
  19. al-Tafsir al-Mansub ila al-Imam al-Hasan al-Askari as, hal. 206; Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 1, hal. 35; Bahrani, al-Burhan, 1415 H, jld. 1, hal. 158; Tehrani, al-Furqan, 1406-1410 H, jld. 1, hal. 254-255; Syubbar, al-Jauhar al-Tsamin, 1407 H, jld. 1, hal. 83; Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hal. 166-167.
  20. Syaikh Thusi, at-Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 1, hal. 115-116.
  21. Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hal. 166-167.
  22. Syaikh Thusi, at-Tibyan, jld. 1, hal. 116; Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 1, hal. 166-167
  23. Syaikh Thusi, at-Tibyan, jld. 1, hal. 116; Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 1, hal. 166-167; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 1, hal. 151-152; Syarif Lahiji, Tafsir Syarif Lahiji, 1373 HS, jld. 1, hal. 25.
  24. Syaikh Thusi, at-Tibyan, jld. 1, hal. 116.
  25. Syaikh Thusi, at-Tibyan, jld. 1, hal. 116; Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 1, hal. 166-167
  26. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 1, hal. 151-152; Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 1, hal. 198-199.
  27. Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 1, hal. 198-199.
  28. Syaikh Thusi, at-Tibyan, jld. 1, hal. 116-117; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 1, hal. 152; Shadeqi Tehrani, al-Furqan, 1406-1410 H, jld. 1, hal. 254; Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 1, hal. 197.
  29. Syaikh Thusi, at-Tibyan, jld. 1, hal. 118.
  30. Syubbar, al-Jauhar al-Tsamin, 1407 H, jld. 1, hal. 83.
  31. al-Tafsir al-Mansub ila al-Imam al-Hasan al-Askari as, hal. 206.
  32. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 1, hal. 121-122.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Sulaiman, Muqatil. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Koreksi: Abdullah Mahmoud Syahatah. Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 1423 H.
  • Abul Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan. Pengumpul: Mohamad Mahdi Naseh dan Mohamad Jafar Yahaghi. Masyhad, Astan Qods Razavi, 1366-1378 HS.
  • Bahrani, Hashem bin Sulaiman. al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Muassasah al-Bi'tsah: Markaz al-Thiba'ah wa al-Nasyr, 1415 H.
  • al-Tafsir al-Mansub ila al-Imam al-Hasan al-Askari as. Koreksi: Mohammad Baqer Mowahhed Abtahi Isfahani. Qom, Madrasah al-Imam al-Mahdi af, 1409 H.
  • Huwaizi, Abd Ali bin Jumu'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Koreksi: Hashem Rasuli. Qom, Isma'iliyan, 1415 H.
  • Syubbar, Abdullah. al-Jauhar al-Tsamin fi Tafsir al-Kitab al-Mubin. Kuwait, Syirkah Maktabah al-Alfain, 1407 H.
  • Syarif Lahiji. Tafsir Syarif Lahiji. Pengumpul: Jalaluddin Muhaddis. Teheran, Daftare Nasyr-e Dad, 1373 HS.
  • Syaikh Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Hashem Rasuli dkk. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 H.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. at-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Riset: Ahmad Qashir Amili. Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Shadeqi Tehrani, Mohammad. al-Furqan. Qom, Farhang-e Eslami, 1406-1410 H.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1350-1353 H.
  • Fadhlullah, Muhammad Husain. Min Wahy al-Qur'an. Beirut, Dar al-Malak lil-Thiba'ah wa al-Nasyr wa al-Tawzi', 1419 H.
  • Faidh Kasyani, Mohammad Muhsin. Tafsir al-Shafi. Riset: Sayid Mohsen Husseini Amini. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Pertama, 1416 H.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Koreksi: Thayyib Jazairi. Qom, Dar al-Kitab, 1404 H.
  • Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Teheran, Dar Muhibbi al-Husain as, 1419 H.
  • Mughniyah, Mohammad Javad. al-Tafsir al-Mubin. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, 1425 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1371-1374 HS.