Konsep:Ayat 200 Surah Al-A'raf
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Al-A'raf |
| Ayat | 200 |
| Juz | 9 |
| Informasi Konten | |
| Tentang | Berlindung kepada Allah saat godaan Setan |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 36 Surah Fussilat |
Ayat 200 Surah Al-A'raf adalah perintah bahwa saat terjadi godaan Setan, hendaknya berlindung kepada Allah dan menyerahkan diri kepada-Nya.[1] Sebagian mufasir meyakini bahwa secara lahiriah ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad saw.[2] Namun karena Nabi Muhammad saw adalah maksum,[3] dan godaan setan tidak memiliki jalan pada beliau,[4] maka maksud dari ayat ini adalah umat Nabi Muhammad saw.[5] Sebaliknya, sebagian meyakini bahwa meskipun Nabi Islam maksum, namun godaan setan juga ada pada para Maksumin,[6] tetapi mereka tidak menyerah pada godaan setan dan tidak menyimpang dari jalan kebenaran.[7]
Beberapa sumber Syiah[8] dan Ahli Sunah[9] meriwayatkan bahwa dengan turunnya Ayat 199 Surah Al-A'raf, diperintahkan agar Nabi Muhammad saw berpaling dari orang-orang bodoh. Nabi Muhammad saw bertanya, apa yang bisa dilakukan dengan kemarahan yang timbul akibat perilaku orang-orang bodoh? Pada saat itulah ayat 200 Al-A'raf turun dan memerintahkan agar dalam kondisi godaan setan, beliau berlindung kepada Allah.
Ayat ini juga diulang dalam Ayat 36 Surah Fussilat dan hanya dalam Surah Fussilat kata "Huwa" dalam "Innahu Huwa Sami'un 'Alim" datang untuk penekanan,[10] yang mana tidak ada dalam 200 Al-A'raf.[11] Tentu saja, ayat 200 Al-A'raf datang setelah perintah untuk berpaling dari orang-orang bodoh.[12] [13] Namun dalam Surah Fussilat diperintahkan: "Idfa' billati hiya ahsan; tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik"[14] dan hadapilah lawan dengan cara terbaik agar engkau dapat mengubah mereka.[15] Kemudian diingatkan jika Setan menggodamu untuk bersikap buruk terhadap musuh, berlindunglah kepada Allah.[16]
Kata "Nazgh" dalam ayat ini diartikan sebagai godaan setan[17] yang menyeret manusia ke arah melakukan dosa-dosa.[18] Ungkapan "Yanzaghannaka" karena datang dengan Nun Taukid, diartikan sebagai kepastian adanya godaan setan.[19] Juga bentuk Fi'il Mudhari' dari ungkapan ini menunjukkan sifat permanen dari godaan setan.[20] Ungkapan "Fasta'idz billah" diartikan sebagai memohon perlindungan kepada Allah.[21] Dalam makna berlindung kepada Allah dikatakan bahwa hal itu tidak hanya dengan mengucapkan kata "A'udzu billah; aku berlindung kepada Allah", melainkan membangun sebuah ikatan dan hubungan spiritual serta menyerahkan diri kepada Allah.[22]
| “ | وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
|
” |
Dan jika engkau dihasut oleh sesuatu hasutan dari Syaitan, maka hendaklah engkau meminta perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia lah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.
Catatan Kaki
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 7, hlm. 63.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 8, hlm. 381.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 8, hlm. 381.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 6, hlm. 62.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 8, hlm. 381; Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 6, hlm. 62.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 4, hlm. 256.
- ↑ Ja'fari, Kautsar, 1376 HS, jld. 4, hlm. 304.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 788.
- ↑ Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 7, hlm. 347.
- ↑ Safi, Al-Jadwal fi I'rab al-Qur'an, 1418 H, jld. 24, hlm. 311.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 11, hlm. 435.
- ↑ Surah Al-A'raf, ayat 199.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 788.
- ↑ Surah Fussilat, ayat 34.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 10, hlm. 344.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 10, hlm. 344.
- ↑ Wasithi Zabidi, Taj al-'Arus, 1414 H, jld. 12, hlm. 65.
- ↑ Thurihi, Majma' al-Bahrain, 1375 HS, jld. 5, hlm. 17.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 4, hlm. 256.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 4, hlm. 256.
- ↑ Madani Shirazi, Al-Thiraz al-Awwal, 1384 HS, jld. 6, hlm. 417.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 4, hlm. 256.
Daftar Pustaka
- Ja'fari, Ya'qub. Kautsar. Qom, Hijrat, cetakan pertama, 1376 HS.
- Sesi Pelajaran Akhlak (26/11/1391). Situs Ayatullah Jawadi Amuli.
- Madani Shirazi, Ali Khan bin Ahmad. Al-Thiraz al-Awwal wa al-Kinaz lima 'alaihi min Lughah al-'Arab al-Mu'awwal. Masyhad, Muassasah Alulbait as li Ihya al-Turats, cetakan pertama, 1384 HS.
- Makarem Shirazi, Naser. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan pertama, 1374 HS.
- Qara'ati, Muhsin. Tafsir Nur. Teheran, Pusat Budaya Dars-ha-yi az Qur'an, cetakan kesebelas, 1383 HS.
- Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Teheran, Nashr Khosrow, cetakan pertama, 1364 HS.
- Safi, Mahmud bin Abdurrahim. Al-Jadwal fi I'rab al-Qur'an. Damsyik, Dar al-Rasyid, Muassasah al-Iman, 1418 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Pengantar: Muhammad Jawad Balaghi. Teheran, Nashr Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
- Thabathabai, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Kantor Penerbitan Islami, cetakan kelima, 1417 H.
- Thurihi, Fakhruddin. Majma' al-Bahrain. Riset: Sayyid Ahmad Husaini. Teheran, Toko Buku Murtadhawi, cetakan ketiga, 1375 HS.
- Thayyib, Sayyid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Penerbit Islam, 1378 HS.
- Wasithi Zabidi, Muhibbuddin Sayyid Muhammad Murtadha. Taj al-'Arus min Jawahir al-Qamus. Riset dan Koreksi: Ali Syiri. Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1414 H.