Lompat ke isi

Konsep:Ayat 124 Surah Thaha

Dari wikishia

Templat:Kotak info ayat Ayat 124 Surah Thaha berkaitan dengan berpaling dari mengingat Allah dan dampak-dampaknya pada kehidupan manusia. Ayat ini menegaskan bahwa akibat dari berpaling dari mengingat Allah adalah kesempitan hidup, dan dibangkitkan dalam keadaan buta pada hari kiamat. Dalam sebagian riwayat, berpaling dari mengingat Allah ditafsirkan sebagai berpaling dari wilayah Imam Ali as dan sebagian mufasir meyakini bahwa kebutaan mereka pada hari kiamat juga merupakan kebutaan dari wilayah Imam Ali as.

Kesempitan hidup dimaknai baik secara duniawi maupun berkaitan dengan kehidupan setelah kematian, siksa kubur dan siksaan-siksaan neraka. Para mufasir, juga menggambarkan kesempitan hidup di dunia secara maknawi di mana misdak (contoh) terpentingnya adalah keterlibatan manusia dalam perangkap keserakahan terhadap apa yang tidak dimiliki dan ketakutan akan kehilangan apa yang dimiliki. Oleh karena itu sebagian orang-orang kafir dengan kekayaan yang melimpah pun memiliki kehidupan maknawi yang sulit.

Para mufasir meyakini bahwa kebutaan di akhirat tidak seperti kebutaan di dunia, melainkan mungkin saja seseorang buta terhadap kebaikan-kebaikan dan melihat terhadap keburukan-keburukan, menurut pandangan mereka, kebutaan di akhirat dapat dianggap bermakna tidak adanya jalan menuju kebahagiaan dan surga.

Kepentingan dan Kedudukan Ayat

Menurut perkataan para mufasir, ayat 124 Surah Thaha berkaitan dengan salah satu sunah Ilahi mengenai individu dan masyarakat[1] yang berdasarkan hal tersebut, bagi orang-orang yang berpaling dari mengingat Allah, terdapat dua hukuman: pertama, penghidupan yang sempit (kehidupan yang sulit) di dunia ini dan kedua, kebutaan di dunia lain.[2]

Templat:Arab; Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (Surah Thaha, ayat 124)

Sebagian mufasir meyakini bahwa kandungan ayat ini berada pada titik yang berlawanan dengan ungkapan "fa mani ittaba'a hudaya" pada ayat sebelumnya, dan menunjukkan bahwa sebagaimana mengikuti hidayah Ilahi, membawa kebahagiaan, berpaling dari mengingat Allah juga menyebabkan kesempitan dan keburukan dalam penghidupan.[3]

Sebagian peneliti, telah menyebutkan makna ayat ini dalam rangka menjelaskan dasar-dasar dan prinsip-prinsip kemajuan[4] dan sebagian juga dengan pandangan psikologis pada ayat tersebut memperkenalkannya sebagai resep Ilahi dalam mengobati stres dan kecemasan.[5]

Makna I'radh dan Berpaling dari Mengingat Allah

Templat:Kotak kutipan Para mufasir meyakini bahwa i'radh dan berpaling dari mengingat Allah, adalah keadaan yang dilakukan secara sengaja dan bermaksud. Sebagai hasilnya, hukum ayat ini tidak mencakup kasus-kasus ketidaksengajaan, lupa, atau lalai.[6]

Sebagian peneliti dengan memperhatikan sebagian ayat-ayat yang di dalamnya diisyaratkan pada masalah berpaling dari Allah, mendefinisikan tanda-tandanya pada kasus-kasus seperti "perhatian penuh pada daya tarik dunia", "tertutupnya hati dan telinga untuk petunjuk", dan "akhir yang buruk serta kesulitan ukhrawi".[7]

Dalam sebagian riwayat, masalah berpaling dari mengingat Allah ditafsirkan sebagai berpaling dari masalah-masalah seperti "wilayah Imam Ali as"[8] dan juga "meninggalkan ibadah haji"[9].

Makna Kesempitan Kehidupan

Para mufasir telah menjelaskan berbagai makna untuk kesempitan hidup.[10] Sebagian riwayat juga menganggap ayat ini berkaitan dengan orang-orang Nashibi dan di zaman raj'ah Ahlulbait as.[11] Sebagian mufasir juga menganggapnya berkaitan dengan penghidupan yang sempit di akhirat dan menafsirkannya pada kasus-kasus seperti siksa kubur,[12] makanan-makanan neraka,[13] dan penguasaan ular-ular neraka.[14] Husaini Tehrani dengan mengumpulkan berbagai riwayat menegaskan bahwa maksud dari kesempitan hidup adalah kesempitan di kehidupan barzakh.[15]

Kesempitan Hidup di Dunia dan Secara Maknawi

Berdasarkan sebuah penelitian, kebanyakan mufasir telah menafsirkan makna kesempitan hidup pada ayat 124 Surah Thaha sebagai kesulitan hidup di kehidupan dunia.[16] Kesulitan hidup ini menunjukkan dirinya pada ketiadaan berkah,[17] sifat kikir dan kebakhilan,[18] keterlibatan dengan harta haram,[19] pendeknya umur,[20] kesempitan hati akibat jauhnya dari wilayah Imam Ali as,[21] dan tidak melihat jalan hidayah.[22] Yang paling penting dari semuanya itu adalah keserakahan dan ambisi berlebihan terhadap apa yang tidak dimiliki dan ketakutan akan kehilangan apa yang dimiliki.[23]

Mengingat kata "ma'isyah" dalam ayat ini muncul dalam bentuk nakirah (indefinit), menurut sebagian peneliti hal ini bermakna bahwa jenis kehidupan ini memiliki kesulitan-kesulitan yang tak terbayangkan dan tak dikenal.[24] Namun, mereka meyakini bahwa dengan merangkum semua pandangan, kesempitan hidup dapat diartikan sebagai "ketiadaan ketenangan dan kedamaian yang stabil dalam kehidupan" yang setiap saat menunjukkan dirinya dengan suatu cara.[25] Maulawi, seorang penyair Iran, juga menganggap kesempitan hidup sebagai kesedihan (keresahan hati) yang dihasilkan dari rintihan orang yang dizalimi di dalam diri orang yang zalim.[26]

Berdasarkan hal ini, orang-orang kafir bahkan jika mereka kaya dan berharta, meskipun demikian berbeda dengan seorang mukmin, mereka selalu hidup dalam ketidakpuasan terhadap apa yang mereka miliki dan keterikatan pada apa yang tidak mereka miliki.[27] Karena berdasarkan tafsir Allamah Thabathaba'i, seorang mufasir dan filsuf Syiah, maksud Allah dalam ayat yang sedang dibahas bukanlah kesempitan dalam kehidupan materi.[28]

Kebutaan di Akhirat

Para mufasir meyakini bahwa maksud dari kebutaan dalam ayat ini adalah bahwa mereka tidak akan menemukan jalan menuju kebahagiaan dan surga.[29] Sebagaimana dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as, kebutaan mereka didefinisikan sebagai kebutaan dari jalan kebenaran.[30] Sebagian mufasir lain mengatakan bahwa mereka hanya buta terhadap kebaikan-kebaikan dan akan melihat keburukan-keburukan kiamat.[31] Sebagaimana Sulthan Muhammad Gunabadi, dalam tafsir Bayan al-Sa'adah, menganggap kebutaan mereka sebagai kebutaan dari wilayah Imam Ali as, tanda-tanda kebenaran, dan nikmat-nikmat akhirat.[32]

Catatan Kaki

  1. Aghajani, "Wizhegi-ha wa Anwa'-e Sunnat-haye Ilahi dar Tadbir-e Jawami'", hlm. 52.
  2. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 330.
  3. Najafi Khumaini, Tafsir Asan, 1398 H, hlm. 131.
  4. Nazhari, "Mabani wa Ushul-e Pisyraft dar Quran-e Karim", hlm. 80.
  5. Nashiri, Tafsir Maudhu'i Quran, t.t., jld. 3, hlm. 22-27.
  6. Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhsyan dar Tafsir-e Quran, 1380 HS, jld. 10, hlm. 524; Musawi Muqaddam, "Arzyabi-e Didgah-e Mufassiran Darbareh-ye Ma'nasyenasi-e 'Ma'isyat-e Dhank' dar Ayeh 124 Thaha", hlm. 70.
  7. Musawi Muqaddam, "Arzyabi-e Didgah-e Mufassiran Darbareh-ye Ma'nasyenasi-e 'Ma'isyat-e Dhank' dar Ayeh 124 Thaha", hlm. 70.
  8. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 435.
  9. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 330.
  10. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 327; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 55; Thabarsi, Jawami' al-Jami', 1377 HS, jld. 2, hlm. 441; Gunabadi, Bayan al-Sa'adah, 1408 H, jld. 3, hlm. 39; Bahrani, Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, 1416 H, jld. 3, hlm. 785; Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 3, hlm. 95; Thabathaba'i, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 14, hlm. 255; Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 22, hlm. 111.
  11. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hlm. 66; Bahrani, Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, 1416 H, jld. 3, hlm. 785.
  12. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 55; Bahrani, Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, 1416 H, jld. 3, hlm. 786.
  13. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 55.
  14. Syah Abdul Azhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 HS, jld. 8, hlm. 343.
  15. Husaini Tehrani, Ma'adsyenasi, 1427 H, jld. 2, hlm. 261-263.
  16. Musawi Muqaddam, "Arzyabi-e Didgah-e Mufassiran Darbareh-ye Ma'nasyenasi-e 'Ma'isyat-e Dhank' dar Ayeh 124 Thaha", hlm. 75-76.
  17. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 326.
  18. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 327; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 55; Thabarsi, Jawami' al-Jami', 1377 HS, jld. 2, hlm. 441.
  19. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 55.
  20. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 55.
  21. Gunabadi, Bayan al-Sa'adah, 1408 H, jld. 3, hlm. 39.
  22. Bahrani, Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, 1416 H, jld. 3, hlm. 785.
  23. Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 3, hlm. 95; Thabathaba'i, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 14, hlm. 255; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 328; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 55; Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 22, hlm. 111.
  24. Musawi Muqaddam, "Arzyabi-e Didgah-e Mufassiran Darbareh-ye Ma'nasyenasi-e 'Ma'isyat-e Dhank' dar Ayeh 124 Thaha", hlm. 74.
  25. Musawi Muqaddam, "Arzyabi-e Didgah-e Mufassiran Darbareh-ye Ma'nasyenasi-e 'Ma'isyat-e Dhank' dar Ayeh 124 Thaha", hlm. 81.
  26. Tajdini, Farhang-e Namad-ha wa Nesyaneh-ha dar Andisyeh-e Maulana, 1383 HS, hlm. 354.
  27. Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 14, hlm. 224.
  28. Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 14, hlm. 224.
  29. Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 14, hlm. 224.
  30. Bahrani, Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, 1416 H, jld. 3, hlm. 787.
  31. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 330.
  32. Gunabadi, Bayan al-Sa'adah, 1408 H, jld. 3, hlm. 39.

Daftar Pustaka

  • Aghajani, Nashrullah. "Wizhegi-ha wa Anwa'-e Sunnat-haye Ilahi dar Tadbir-e Jawami'". Nomor 7, musim dingin 1393 HS.
  • Allamah Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Maktabah al-Nasyr al-Islami, cetakan kelima, 1417 H.
  • Bahrani, Hasyim bin Sulaiman. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Penelitian: Qism al-Dirasat al-Islamiyyah Mu'assasah al-Bi'tsah. Taheran, Bonyad-e Bi'tsat, cetakan pertama, 1416 H.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
  • Gunabadi, Sulthan Muhammad bin Haidar. Bayan al-Sa'adah fi Maqamat al-'Ibadah. Beirut, Penerbit Mu'assasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1408 H.
  • Husaini Hamadani, Muhammad. Anwar-e Derakhsyan dar Tafsir-e Quran. Taheran, Penerbit Luthfi, 1380 HS.
  • Husaini Tehrani, Sayid Muhammad Husain. Ma'adsyenasi (Eskatologi). Masyhad, Nur-e Malakut-e Quran, 1427 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Tafsir al-Kasyif. Qom, Penerbit Dar al-Kitab al-Islami, cetakan pertama, 1424 H.
  • Musawi Muqaddam, Sayid Muhammad. "Arzyabi-e Didgah-e Mufassiran Darbareh-ye Ma'nasyenasi-e 'Ma'isyat-e Dhank' dar Ayeh 124 Thaha" (Evaluasi Pandangan Mufasir Tentang Semantik 'Ma'isyah Dhank' dalam Ayat 124 Thaha). Muthala'at Tafsiri, nomor 27, 1395 HS.
  • Najafi Khumaini, Muhammad Jawad. Tafsir Asan (Tafsir Mudah). Taheran, Penerbit Islamiyyah, cetakan pertama, 1398 H.
  • Nashiri, Ali. Tafsir Maudhu'i Quran (Tafsir Tematik Al-Qur'an). Isfahan, Markaz-e Tahqiqat-e Rayaneh-i Qa'imiyyeh, t.t.
  • Nazhari, Muhammad Ali. "Mabani wa Ushul-e Pisyraft dar Quran-e Karim". Pazhuhesynameh 'Ulum Insani Islami, nomor 2, musim gugur dan musim dingin 1393 HS.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Qom, Penerbit Dar al-Kitab, 1404 H.
  • Ridhha'i Isfahani, Muhammad Ali. Tafsir Quran Mehr (Tafsir Al-Qur'an Mehr). Qom, Pazhuhesyhay-e Tafsir wa Ulum-e Quran, cetakan pertama, 1387 HS.
  • Syah Abdul Azhimi, Sayid Husain. Tafsir Itsna 'Asyari (Tafsir Dua Belas). Taheran, Penerbit Miqat, cetakan pertama, 1363 HS.
  • Tajdini, Ali. Farhang-e Namad-ha wa Nesyaneh-ha dar Andisyeh-e Maulana (Kamus Simbol dan Tanda dalam Pemikiran Maulana). Taheran, Penerbit Surusy, 1383 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan li 'Ulum al-Qur'an. Taheran, Penerbit Nashir Khusraw, cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Tafsir Jawami' al-Jami'. Qom, Hauzeh Ilmiyah Qom, 1377 HS.
  • Zamakhsyari, Jarullah Mahmud bin Umar. Al-Kasysyaf 'an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil. Beirut, Penerbit Dar al-Kitab al-'Arabi, cetakan ketiga, 1407 H.