Konsep:Ayat 114 Surah Al-Ma'idah
Templat:Kotak info Ayat Ayat 114 Surah Al-Ma'idah mengisahkan bagian dari percakapan Hawariyyun dengan Nabi Isa as, yang mana berdasarkan percakapan tersebut, Nabi Isa as memohon kepada Allah agar menurunkan hidangan surgawi untuk mereka. Doa Nabi Isa as ini merupakan pengabulan atas permintaan para Hawariyyun yang telah disebutkan dalam ayat 112 surah yang sama.
Dikatakan bahwa permohonan Nabi Isa as kepada Allah disampaikan dengan cara yang lebih layak dibandingkan permintaan para Hawariyyun. Menurut Allamah Thabathaba'i, dimulainya doa ini dalam ucapan Nabi Isa as dengan ungkapan "Allahumma Rabbana" tidak ditemukan dalam doa-doa nabi lainnya yang dikisahkan dalam Al-Qur'an. Selain memohon hidangan kepada Allah, beliau juga meminta agar hidangan tersebut atau hari turunnya hidangan itu dijadikan sebagai hari id (hari raya). Menurut pandangan Syaikh Thusi dan Thabarsi, ungkapan "Khair al-Raziqin" di akhir ayat menunjukkan bahwa selain Allah, para hamba-Nya pun memberikan rezeki satu sama lain.
Kedudukan Ayat dalam Surah
Ayat 114 Surah Al-Ma'idah merupakan kelanjutan dari ayat-ayat yang dimulai dari ayat 110 yang menyebutkan beberapa karunia Ilahi kepada Nabi Isa as dan ibundanya, Sayyidah Maryam sa. Ayat 111 hingga 115 menukil percakapan Hawariyyun dan Isa mengenai kekuasaan Allah untuk menurunkan hidangan surgawi.[1] Kemudian dalam ayat 114, dilaporkan doa Isa di hadirat Allah dan permohonan turunnya hidangan surgawi,[2] yang mana dalam kelanjutannya beliau memohon kepada Allah agar menjadikan hidangan ini sebagai hari raya (id) dan menyifatkan Allah sebagai sebaik-baik pemberi rezeki.
Templat:Quran baruTemplat:SakhTemplat:Quran baru
Allah Sebaik-baik Pemberi Rezeki
Sebagian mufasir Syiah mengatakan bahwa mungkin maksud dari ungkapan "warzuqna" dalam ayat 114 adalah jadikanlah hidangan ini sebagai rezeki kami.[3] Sebagian lainnya memberikan kemungkinan bahwa maksud dari ungkapan ini adalah syukur atas hidangan tersebut.[4] Syaikh Thusi juga menyebutkan kedua kemungkinan tersebut.[5] Menurut pandangan Syaikh Thusi dan Thabarsi, ayat ini menunjukkan bahwa para hamba juga harus memberi rezeki satu sama lain; karena jika tidak demikian, maka tidak ada alasan bagi Allah untuk menjadi sebaik-baik pemberi rezeki.[6]
Metode Berdoa Nabi Isa yang Layak
Ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam doa Nabi Isa as telah dideskripsikan oleh para mufasir seperti Nasir Makarem Syirazi dan Sayyid Quthb sebagai metode yang lebih layak[7] dalam berdoa serta mengandung adab dan makrifat.[8] Menurut pandangan Mohammad Sadeqi Tehrani dalam Al-Furqan, poin ini muncul dari fakta bahwa ungkapan-ungkapan "Rabbuka", "yastathi'" dan "na'kul" dalam ucapan Hawariyyun telah berubah menjadi ungkapan "Allahumma Rabbana", "anzil" dan "arzuqna" dalam ucapan Al-Masih as.[9] Thabathaba'i juga menekankan dimulainya doa dengan ungkapan "Allahumma Rabbana" dan menyifatkan ungkapan ini sebagai hal yang unik di antara semua doa para nabi yang dikisahkan dalam Al-Qur'an, karena doa-doa lainnya dimulai dengan "Rabbi" atau "Rabbana".[10]
Hari Raya (Id), Inisiatif Nabi Isa as
Nabi Isa as dalam ayat 114 Surah Al-Ma'idah, dengan ungkapan "takuna lana 'idan", memohon kepada Allah agar hidangan yang diturunkan bagi mereka menjadi sebuah id (hari raya).[11] Menamai hidangan ini sebagai hari raya merupakan inisiatif Al-Masih as yang mana hal semacam itu tidak ada dalam permintaan Hawariyyun.[12] Allamah Thabathaba'i dalam Al-Mizan menjelaskan bahwa "id" dikatakan untuk hari yang menjadi karunia khusus dan berulang bagi suatu kaum tertentu. Oleh karena itu, hari turunnya hidangan bagi umat Kristiani juga merupakan semacam hari raya, karena hari raya selalu disertai dengan kepulangan dan pengulangan serta membawa persatuan, kegembiraan, dan pembaruan kehidupan masyarakat.[13]
Sebagian mufasir Syiah menganggap maksud dari hari raya adalah hari yang sama saat nikmat-nikmat surgawi tersebut diturunkan.[14] Thabari dari ulama Ahlusunah juga mendahulukan kemungkinan ini.[15] Menurut Tafsir Al-Mizan, hari raya bagi setiap kaum adalah hari di mana sebuah karunia dan nikmat khusus terjadi bagi mereka.[16] Di sisi lain, sebagian mufasir seperti Syaikh Thusi dan Thabarsi mengatakan maksudnya adalah sebuah nikmat akan kembali kepada kami dan kami akan menikmatinya.[17] Abul Futuh Razi juga mengemukakan kedua kemungkinan dalam makna hari raya tersebut.[18]
Sebagian mengatakan maksud dari awal dan akhir dalam ungkapan "li-awwalina wa akhirina" yang digunakan mengenai hari raya adalah orang-orang pada masa Isa dan periode-periode setelah Isa.[19] Sebagian lainnya juga menukil dari Ibnu Abbas bahwa maksud Nabi Isa adalah awal dan akhir dari orang-orang pada masanya yang memakan hidangan tersebut. Faidh Kasyani mengemukakan kemungkinan ini dan sebagaimana Thabarsi serta Abul Futuh Razi, beliau melemahkan kemungkinan pertama.[20] Thabari dari ulama Ahlusunah juga menganggap pendapat pertama lebih benar.[21]
Catatan Kaki
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 5, hlm. 127; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 H, jld. 6, hlm. 224.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 H, jld. 6, hlm. 235.
- ↑ Abul Futuh Razi, Rawdh al-Jinan, 1366-1378 HS, jld. 7, hlm. 209; Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H. jld. 3, hlm. 409.
- ↑ Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H. jld. 3, hlm. 409.
- ↑ Syaikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 4, hlm. 61.
- ↑ Syaikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 4, hlm. 62; Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H. jld. 3, hlm. 409.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 5, hlm. 129.
- ↑ Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1408 H, jld. 2, hlm. 1000.
- ↑ Sadeqi Tehrani, Al-Furqan, 1406-1410 H, jld. 9, hlm. 302.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 H, jld. 6, hlm. 235.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 H, jld. 6, hlm. 235.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 H, jld. 6, hlm. 235.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, Penerbit Mansyurat Isma'iliyan, jld. 6, hlm. 235.
- ↑ Syaikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 4, hlm. 61; Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H. jld. 3, hlm. 409; Fakhr Razi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 12, hlm. 463; Faidh Kasyani, Tafsir al-Safi, 1373 HS, jld. 2, hlm. 328; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 H, jld. 6, hlm. 235; Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 3, hlm. 149.
- ↑ Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 7, hlm. 86.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 H, jld. 6, hlm. 228.
- ↑ Syaikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 4, hlm. 61; Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H. jld. 3, hlm. 409.
- ↑ Abul Futuh Razi, Rawdh al-Jinan, 1366-1378 HS, jld. 7, hlm. 209.
- ↑ Syaikh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 4, hlm. 61; Syaikh Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H. jld. 3, hlm. 409; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 H, jld. 6, hlm. 235; Fakhr Razi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 12, hlm. 463.
- ↑ Faidh Kasyani, Tafsir al-Safi, 1373 HS, jld. 2, hlm. 328.
- ↑ Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 7, hlm. 86.
Daftar Pustaka
- Abul Futuh Razi, Husain bin Ali. Rawdh al-Jinan. Pengumpul: Muhammad Mahdi Naseh dan Muhammad Ja'far Yahaghi. Masyhad, Astan Quds Razavi, 1366-1378 HS.
- Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil (Tafsir al-Baidhawi). Peneliti: Muhammad Abdurrahman Mar'asyali. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1418 H.
- Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Tafsir al-Safi. Riset: Husain A'lami. Teheran, Penerbit Al-Sadr, Cetakan Kedua, 1415 H.
- Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H.
- Makarem Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1371-1374 HS.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
- Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. Mufradat Alfadz al-Qur'an. Koreksi: Adnan Safwan Dawudi. Beirut, Dar al-Syamiyah, 1412 H.
- Sadeqi Tehrani, Muhammad. Al-Furqan. Qom, Farhang-e Eslami, 1406-1410 H.
- Sayyid Quthb, Ibrahim Husain Syadzali. Fi Zhilal al-Qur'an. Beirut, Dar al-Syuruq, 1408 H.
- Syaikh Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Hasyim Rasuli dkk. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 H.
- Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan. Pengumpul: Ahmad Habib Amili. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Tanpa Tahun.
- Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
- Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Matbu'at, 1350-1353 H.