Lompat ke isi

Konsep:Ahmadiyyah

Dari wikishia

Templat:Infobox Aliran Islam Ahmadiyyah atau Qadiyaniyah adalah salah satu aliran Ahlusunnah yang didirikan oleh Ghulam Ahmad Qadiyani di India pada abad ke-19 Masehi (abad ke-13 HS). Keyakinan bahwa Ghulam Ahmad adalah Al-Masih dan Mahdi al-Mau'ud merupakan bagian dari kepercayaan aliran ini. Mereka juga menisbatkan Kenabian kepadanya dengan istilah-istilah seperti "Rasul Tabi'" (rasul pengikut) dan "Rasul Naqish" (rasul yang tidak sempurna). Dasar klaim Qadiyani sebagian besar dianggap berasal dari wahyu, ilham, dan takwil ayat-ayat Al-Qur'an.
Pada tahun 1394 H, dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi Dunia Islam di Mekah yang dihadiri oleh perwakilan dari 144 negara, aliran Ahmadiyyah dinyatakan keluar dari Islam karena pertentangannya dengan prinsip-prinsip Islam. Beberapa pihak menganggap fatwa penghapusan Jihad oleh Qadiyani—yang dikeluarkan pada saat penjajah Inggris di India menghadapi gerakan kemerdekaan—serta kemunculan aliran ini yang bersamaan dengan gerakan Babiyyah dan Bahai di Iran, sebagai indikasi campur tangan Inggris dalam pembentukan aliran-aliran di dunia Islam.
Setelah kematian Ghulam Ahmad, terjadi perselisihan di antara para pengikutnya yang kemudian terbagi menjadi dua kelompok: Ahmadiyyah dan Lahoriyyah. Kelompok Ahmadiyyah, yang merupakan mayoritas, meyakini kenabian dan syariat baru Ghulam Ahmad dan berpusat di Lahore. Namun, setelah menghadapi tentangan dari para ulama Pakistan dan pengesahan undang-undang di parlemen negara tersebut mengenai pelarangan aktivitas aliran ini, pada tahun 1984 M (1363 HS) pusat mereka dipindahkan ke London. Para pemimpin Ahmadiyyah setelah Ghulam Ahmad secara berurutan adalah Nuruddin Bhairawi, Mahmood Ahmad, Nasir Ahmad, dan Tahir Ahmad, dan saat ini dipimpin oleh Masroor Ahmad. Aktivitas dakwah Ahmadiyyah dilaporkan berada di lebih dari 150 negara, terutama di negara-negara Afrika seperti Burkina Faso dan Nigeria.

Pendiri

Mirza Ghulam Ahmad Qadiyani

Templat:Utama Pendiri aliran Qadiyaniyah adalah Ghulam Ahmad Qadiyani. [1] Ia lahir pada tahun 1835 M (1213 HS) [2] di desa Qadian, wilayah Gurdaspur, provinsi Punjab, India. [3] Menurut Sadruddin Ahmadi, salah satu tokoh terkemuka Qadiyaniyah, pada tahun 1876 M setelah kematian ayahnya, Ghulam Ahmad mendapat tugas dalam mimpi untuk melakukan mujahadah spiritual guna memperoleh limpahan karunia Ilahi; oleh karena itu, ia mulai melakukan uzlah dan riyadah nafs. [4] Diriwayatkan dari Qadiyani bahwa ia terus-menerus menderita penyakit seperti sakit kepala, kurang tidur, dan melankolia (sejenis depresi berat). [5] Ehsan Elahi Zhahir, salah satu penulis Ahlusunnah, meyakini bahwa ucapan dan klaim-klaimnya bisa jadi dipengaruhi oleh penyakit-penyakit tersebut. [6]
Ghulam Ahmad memiliki sekitar 75 karya tulis, [7] yang sebagian besar dihimpun dalam kumpulan berjudul Ruhani Khazain sebanyak 23 jilid dalam bahasa Urdu. [8] Ghulam Ahmad meninggal dunia pada tahun 1908 M (1287 HS) di Lahore, Pakistan, dan dimakamkan di Qadian. [9]

Pembentukan

Pada abad ke-19, ketika India berada di bawah kekuasaan Inggris dan para misionaris Kristen menyebarkan agama Kristen, [10] Qadiyani menjadi terkenal melalui debat-debat yang dilakukannya dengan umat Hindu dan Kristen serta mendapat apresiasi dari para ulama Islam. Seiring dengan meningkatnya syubhat dari para penentang dalam mengkritik Islam, ia menerbitkan buku berjudul Barahin-e Ahmadiyya (Argumen-argumen Ahmadiyyah) pada tahun 1880 M (1259 HS) mengenai keunggulan Islam. [11] Namun menurut Elahi Zhahir, dalam buku ini ia lebih banyak memaparkan mukasyafah, ilham, dan karamah yang ia klaim sendiri, serta mulai memuji penjajah Inggris; oleh karena itu, para ulama Islam menjauh darinya. [12]
Qadiyani mengadakan banyak debat dan ceramah dalam mempromosikan keyakinannya, dan daya tarik bicaranya menarik perhatian banyak orang. [13] Menurut klaim Sadruddin Ahmadi, pengikutnya pada tahun 1903 M (1282 HS) mencapai seratus ribu orang. [14]

Keyakinan

Ahmadiyyah dianggap sebagai salah satu aliran Ahlusunnah. [15] Poros keyakinan mereka adalah klaim Ghulam Ahmad bahwa ia adalah seorang pembaharu agama yang mendapat ilham dari Tuhan. [16] Qadiyani memiliki banyak klaim dalam hal ini; awalnya ia menyebut dirinya sebagai mujaddid Islam [17] dan pada tahun 1891 M ia memperkenalkan dirinya sebagai "Al-Masih al-Mau'ud". [18] Kemudian, dengan klaim bahwa Nabi Isa (as) dan Imam Mahdi (as) adalah satu sosok yang sama, [19] ia mengklaim bahwa ruh Nabi Isa (as) telah bermanifestasi dalam dirinya [20] dan dialah "Al-Masih al-Mau'ud dan Mahdi al-Ma'hud" yang telah muncul. [21] Klaim ini adalah keyakinan yang saat ini dinyatakan secara eksplisit oleh Qadiyaniyah. [22]
Qadiyani secara eksplisit menyebut dirinya sebagai "Nabi Mursal" pada tahun 1901 M, [23] namun kemudian ia menyatakan: "Aku adalah seorang rasul tabi' (pengikut), naqish (tidak sempurna), dan tidak independen. Wahyu turun kepadaku dan aku mengetahui ilmu gaib, namun aku tidak memiliki syariat sendiri." [24] Ia juga meyakini adanya penyatuan ruh Tuhan (hulul) dan mengklaim bahwa dalam mimpi, ia menyaksikan penyatuan dirinya dengan Tuhan. [25] Dalam beberapa tulisannya, ia juga berpendapat tentang penghapusan hukum Jihad di masa sekarang. [26]

Dalil Qadiyani dan Pandangan Para Penentang

Dasar klaim Qadiyani dalam sebagian besar klaimnya adalah wahyu dan ilham. [27] Ia juga menggunakan tafsir dan takwil ayat-ayat Al-Qur'an dalam beberapa keyakinannya. Dengan bersandar pada ayat "Idz qala Allahu ya 'Isa inni mutawaffika wa rafi'uka ilayya...", [28] ia memaknai kata "tawaffi" sebagai kematian dan berpendapat bahwa Nabi Isa (as) telah meninggal. [29] Selain itu, dengan mentakwil hadis-hadis terkait kembalinya Nabi Isa (as), ia meyakini bahwa yang dimaksud bukanlah kembalinya sosok Nabi Isa (as) itu sendiri, melainkan seseorang yang serupa dan merupakan manifestasinya, serta menganggap ruh Nabi Isa (as) bermanifestasi dalam dirinya. [30] Namun menurut beberapa peneliti, makna lahiriah ayat-ayat Al-Qur'an beserta penegasan riwayat-riwayat masyhur Islam menunjukkan bahwa Nabi Isa bin Maryam (as) masih hidup dan akan turun di Akhir Zaman. [31] Selain itu, kata "tawaffi" berasal dari akar kata "wafa" dan bukan "fawt" sehingga makna utamanya bukanlah kematian. [32]
Para ulama Islam telah mengeluarkan fatwa kafir terhadapnya karena keyakinan Ghulam Ahmad pada hulul dan reinkarnasi (tanasukh), penyerupaan Tuhan dengan manusia, klaim kenabian, pengingkaran khatamiyah Nabi Muhammad (saw), dan penghapusan hukum Jihad. [33] Menurut Ezzuddin Rezanezhad, ketua Pusat Penelitian Ilmu Islam Jamiah al-Mustafa, fatwa penghapusan jihad oleh Ghulam Ahmad Qadiyani dan penegasannya bahwa Mahdi adalah penghenti peperangan, muncul tepat pada saat penjajah Inggris menghadapi berbagai gerakan kemerdekaan di India. Menurutnya, kemunculan aliran Qadiyaniyah yang bersamaan dengan gerakan Babiyyah dan Bahai di Iran menunjukkan dengan jelas bagaimana penjajah Inggris fokus pada pembentukan aliran-aliran di Dunia Islam. [34]

Perpecahan dalam Qadiyaniyah

Setelah kematian Ghulam Ahmad, dewan Ahmadiyyah menunjuk "Nuruddin Bhairawi" sebagai penggantinya. Namun lambat laun terjadi perselisihan di antara para pengikut Qadiyani dan mereka terbagi menjadi dua kelompok: [35]

  • Ahmadiyyah

Kelompok ini, yang merupakan mayoritas Qadiyaniyah, memilih "Bashiruddin Mahmood Ahmad", putra Ghulam Ahmad, sebagai pemimpin setelah Maulawi Nuruddin. [36] Mereka meyakini kenabian dan syariat baru Ghulam Ahmad, serta menganggap hasil dari perbuatan baik dan buruk akan diterima di dunia ini. [37] Selain itu, mereka menganggap orang-orang di luar keyakinan mereka sebagai kafir dan tidak memperbolehkan pernikahan dengan mereka. [38] Setelah berdirinya negara Pakistan pada tahun 1947 M (1326 HS), kelompok Ahmadiyyah pindah dari Qadian ke sebuah tempat berjarak 145 kilometer dari Lahore dan membangun sebuah kota di daerah tersebut yang mereka beri nama "Rabwah". [39] Namun para ulama Pakistan memperkenalkan mereka sebagai aliran non-muslim dengan ajaran baru. [40] Pada bulan April 1984 M (1363 HS), atas permintaan para ulama Islam dan menyusul pengesahan undang-undang di parlemen Pakistan mengenai pelarangan aktivitas aliran ini, [41] Jenderal Zia-ul-Haq, presiden Pakistan, dalam dekrit resminya mengumumkan bahwa aktivitas keagamaan Ahmadiyyah dengan nama Islam adalah tindakan kriminal; oleh karena itu, para pemimpin Ahmadiyyah pergi ke London dan menjadikan tempat tersebut sebagai pusat aktivitas dakwah mereka. [42] Menurut Taqi Athmani, pada tahun 1394 H, dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi dunia Islam di Mekah yang dihadiri oleh perwakilan dari 144 negara, aliran ini dinyatakan keluar dari Islam karena pertentangannya dengan prinsip-prinsip Islam, termasuk klaim kenabian, distorsi ayat-ayat Al-Qur'an, dan fatwa tentang batilnya jihad. [43]

  • Lahoriyyah

Kelompok Lahoriyyah, setelah Maulawi Nuruddin, memilih Maulawi Muhammad Ali, pemimpin redaksi majalah "Tinjauan Agama Qadiyaniyah", sebagai pemimpin. [44] Menurut keyakinan mereka, Ghulam Ahmad bukanlah seorang nabi, Mahdi, atau Al-Masih, melainkan seorang mujaddid Islam yang telah membersihkan beberapa takhayul dari Islam. Selain itu, mereka hanya menganggap muslim yang menganggap Ahmadiyyah sebagai kafir sebagai orang kafir. [45] Kelompok Lahoriyyah memperkenalkan diri mereka seperti muslim lainnya, namun dalam banyak kasus, mereka menggunakan takwil-takwil dan justifikasi khusus Ghulam Ahmad dalam tafsir Al-Qur'an atau konsep-konsep Islam. [46]
Namun Elahi Zhahir menganggap perselisihan Qadiyaniyah bersifat formalitas semata dan meyakini bahwa penyebab utama perpecahan di antara para pemimpin Qadiyaniyah adalah perselisihan finansial; karena setelah kematian Ghulam Ahmad, keluarganya memonopoli sebagian besar harta dan hadiah dari masyarakat, dan hal ini menimbulkan kebencian bagi para pemimpin Lahoriyyah. [47] Selain itu, beberapa keyakinan, seperti kepercayaan pada kenabian Ghulam Ahmad, telah menyebabkan Qadiyaniyah dikucilkan dari masyarakat muslim, dan dirasakan bahwa untuk kembali ke masyarakat muslim dan memenangkan hati mereka, mereka harus menarik kembali sebagian dari keyakinan mereka. [48]

Pemimpin Qadiyaniyah

Masroor Ahmad
(Pemimpin Ahmadiyyah saat ini)

Para pemimpin Ahmadiyyah setelah Ghulam Ahmad Qadiyani adalah sebagai berikut: 1. Hakim Nuruddin Bhairawi (1220-1293 HS/1841-1914 M); ia dikenal sebagai orang pertama yang berbaiat kepada Ghulam Ahmad [49] dan ia adalah penulis buku Tasdiq Barahin-e Ahmadiyya. [50] 2. Mirza Bashiruddin Mahmood Ahmad (1268-1293 HS/1889-1965 M), putra Ghulam Ahmad, yang diikuti oleh mayoritas aliran ini. [51] Ia menulis tafsir Al-Qur'an sebanyak tujuh jilid dan mengklaim bahwa pemahaman ayat-ayat di dalamnya didasarkan pada ilham Ilahi. [52] 3. Hafizh Mirza Nasir Ahmad (1288-1361 HS/1909-1982 M), putra Mahmood Ahmad. Pada tahun 1978 M ia mendirikan Masjid Nasir di Swedia dan Yayasan Bisyarat di Spanyol. [53] 4. Hafizh Mirza Tahir Ahmad (1307-1382 HS/1928-2003 M), saudara Nasir Ahmad. Ia menulis buku-buku untuk menyebarkan keyakinan Ahmadiyyah, termasuk Al-Qatlu bism al-Din. [54] Dalam buku ini, ia tidak menganggap hukuman mati bagi orang murtad sebagai prinsip Islam dan menyerang perintah Imam Khomeini mengenai pembunuhan Salman Rusydi. [55] Pada masa Mirza Tahir, pusat aktivitas Qadiyaniyah dipindahkan dari Pakistan ke Inggris, dan dakwah Ahmadiyyah meluas ke lebih dari 150 negara serta saluran satelit "MAT" didirikan untuk tujuan ini. [56] 5. Hafizh Mirza Masroor Ahmad (lahir 1329 HS/1950 M); ia adalah pemimpin Qadiyaniyah saat ini dan cucu dari Mirza Syarif Ahmad, putra ketiga Ghulam Ahmad. [57] Pada tahun 1999 M ia dipenjara di Pakistan atas tuduhan distorsi ayat-ayat Al-Qur'an dan dibebaskan dengan jaminan setelah sepuluh hari, kemudian pada tahun 2003 M menggantikan Mirza Tahir. [58] Sebagian besar aktivitas dakwah Qadiyaniyah pada masanya dilaporkan berada di negara-negara Afrika seperti Burkina Faso, Guinea, Nigeria, dan Benin. [59]

Kritik terhadap Ahmadiyyah

Banyak karya telah ditulis dalam mengkritik keyakinan aliran Ahmadiyyah, di antaranya:

  • al-Qadiyaniyah Dirasat wa Tahlil, ditulis oleh Ehsan Elahi Zhahir dalam bahasa Arab.
  • al-Qadiyani wa al-Qadiyaniyah, ditulis oleh Abul A'la al-Maududi dan beberapa ulama Pakistan lainnya.
  • "Naqd wa Barresi-ye Adelle-ye Naqli-ye Qadiyaniyah dar Mau'ud-engari-ye Ghulam Ahmad Qadiyani" (artikel), karya Sayid Mohammad Mahdi Rezai Musawi dan Ezzuddin Rezanezhad, dalam Jurnal Ilmiah Entezar-e Mau'ud nomor 46.
  • Qadiyani Fitnah, karya Mohammad Taqi Athmani, salah satu ulama Ahlusunnah yang mengkritik keyakinan aliran ini dengan menggunakan klaim-klaim Ghulam Ahmad Qadiyani sendiri.

Catatan Kaki

  1. Farmaniyan, "Qadiyaniyah", hlm. 159.
  2. Qadiyani, Barahin-e Ahmadiyya, 1327 HS, hlm. 2.
  3. Farmaniyan, "Qadiyaniyah", hlm. 159.
  4. Qadiyani, Barahin-e Ahmadiyya, 1327 HS, hlm. 6.
  5. Elahi Zhahir, al-Qadiyaniyah Dirasat wa Tahlil, Penerbit Idarah Tarjuman al-Sunnah, hlm. 134.
  6. Elahi Zhahir, al-Qadiyaniyah Dirasat wa Tahlil, Penerbit Idarah Tarjuman al-Sunnah, hlm. 134.
  7. Farmaniyan, "Qadiyaniyah", hlm. 161.
  8. "Ruhani Khazain", Situs Informasi Perpustakaan-Perpustakaan Iran.
  9. Qadiyani, Barahin-e Ahmadiyya, 1327 HS, hlm. 8.
  10. Farmaniyan, "Qadiyaniyah", hlm. 159.
  11. Qadiyani, Barahin-e Ahmadiyya, 1327 HS, hlm. 2-8.
  12. Elahi Zhahir, al-Qadiyaniyah Dirasat wa Tahlil, Penerbit Idarah Tarjuman al-Sunnah, hlm. 136.
  13. Qadiyani, Barahin-e Ahmadiyya, 1327 HS, hlm. 9.
  14. Qadiyani, Barahin-e Ahmadiyya, 1327 HS, hlm. 12.
  15. "Mahdawigari Ghulam Ahmad Qadiyani", Situs Berita Resmi Hauzah.
  16. Friedman, "Ahmadiyyah", jld. 1, hlm. 119.
  17. Qadiyani, Ruhani Khazain, Penerbit Dhiya' al-Islam, jld. 13, hlm. 201.
  18. Qadiyani, Ruhani Khazain, Penerbit Dhiya' al-Islam, jld. 3, hlm. 51.
  19. Qadiyani, Ruhani Khazain, Penerbit Dhiya' al-Islam, jld. 14, hlm. 455.
  20. Kamil Sulaiman, Ruzgar-e Rahayi (Hari-hari Pembebasan), 1381 HS, jld. 1, hlm. 552.
  21. Qadiyani, Ruhani Khazain, Penerbit Dhiya' al-Islam, jld. 18, hlm. 7-8 dan jld. 22, hlm. 641.
  22. "Al-Imam al-Mahdi wa al-Masih al-Mau'ud", Situs Resmi Jemaat Ahmadiyyah.
  23. Al-Maududi dkk, al-Qadiyani wa al-Qadiyaniyah, 1421 H, hlm. 23.
  24. Qadiyani, Ruhani Khazain, Penerbit Dhiya' al-Islam, jld. 18, hlm. 211.
  25. Qadiyani, Ruhani Khazain, Penerbit Dhiya' al-Islam, jld. 5, hlm. 564.
  26. Qadiyani, Ruhani Khazain, Penerbit Dhiya' al-Islam, jld. 7, hlm. 443.
  27. Rezai Musawi dan Rezanezhad, "Naqd wa Barresi-ye Adelle-ye Naqli-ye Qadiyaniyah dar Mau'ud-engari-ye Ghulam Ahmad Qadiyani", hlm. 147.
  28. Surah Ali Imran, ayat 35.
  29. Qadiyani, Ruhani Khazain, Penerbit Dhiya' al-Islam, jld. 7, hlm. 311.
  30. Qadiyani, Ruhani Khazain, Penerbit Dhiya' al-Islam, jld. 19, hlm. 297-301.
  31. Rezai Musawi dan Rezanezhad, "Naqd wa Barresi-ye Adelle-ye Naqli-ye Qadiyaniyah dar Mau'ud-engari-ye Ghulam Ahmad Qadiyani", hlm. 136.
  32. Rezai Musawi dan Rezanezhad, "Naqd wa Barresi-ye Adelle-ye Naqli-ye Qadiyaniyah dar Mau'ud-engari-ye Ghulam Ahmad Qadiyani", hlm. 129.
  33. Nadwah al-Alamiyah lil Syabab al-Islami, al-Mausu'ah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Madzahib wa al-Ahzab al-Mu'ashirah, 1420 H, jld. 1, hlm. 418.
  34. Mahdawigari Ghulam Ahmad Qadiyani Dikritik, Situs Berita Resmi Hauzah.
  35. Friedman, "Ahmadiyyah", jld. 1, hlm. 119.
  36. Friedman, "Ahmadiyyah", jld. 1, hlm. 119.
  37. Friedman, "Ahmadiyyah", jld. 1, hlm. 119.
  38. Nouri, Khatamiyat-e Payambar-e Eslam (Khatamiyah Nabi Islam), 1360 HS, hlm. 92-93.
  39. Friedman, "Ahmadiyyah", jld. 1, hlm. 119.
  40. Nouri, Khatamiyat-e Payambar-e Eslam (Khatamiyah Nabi Islam), 1360 HS, hlm. 92-93.
  41. Farzin-nia, Pakistan, 1376 HS, hlm. 21.
  42. Friedman, "Ahmadiyyah", jld. 1, hlm. 119.
  43. Athmani, Qadiyani Fitnah, 2005 M, hlm. 44.
  44. Rezai Musawi, Naqd wa Barresi Aqa'id wa Bavar-ha-ye Ghulam Ahmad Qadiyani (Kritik dan Kajian Akidah serta Keyakinan Ghulam Ahmad Qadiyani), 1392 HS, hlm. 24.
  45. Horramsyahi dkk, Dairat al-Ma'arif-e Tasyayyu', "Ahmadiyyah", jld. 1, hlm. 535.
  46. Nouri, Khatamiyat-e Payambar-e Eslam (Khatamiyah Nabi Islam), 1360 HS, hlm. 94.
  47. al-Qadiyaniyah Dirasat wa Tahlil, hlm. 248-249.
  48. al-Qadiyaniyah Dirasat wa Tahlil, hlm. 248-249.
  49. Rezai Musawi, Naqd wa Barresi Aqa'id wa Bavar-ha-ye Ghulam Ahmad Qadiyani (Kritik dan Kajian Akidah serta Keyakinan Ghulam Ahmad Qadiyani), 1392 HS, hlm. 25-31.
  50. "Sirah Khulafa' al-Imam al-Mahdi", Situs Resmi Jemaat Ahmadiyyah.
  51. Farmaniyan, "Qadiyaniyah", hlm. 159.
  52. "Sirah Khulafa' al-Imam al-Mahdi", Situs Resmi Jemaat Ahmadiyyah.
  53. "Sirah Khulafa' al-Imam al-Mahdi", Situs Resmi Jemaat Ahmadiyyah.
  54. Rezai Musawi, Naqd wa Barresi Aqa'id wa Bavar-ha-ye Ghulam Ahmad Qadiyani (Kritik dan Kajian Akidah serta Keyakinan Ghulam Ahmad Qadiyani), 1392 HS, hlm. 27.
  55. Tahir Ahmad, al-Qatlu bism al-Din, 1990 M, hlm. 72.
  56. "Sirah Khulafa' al-Imam al-Mahdi", Situs Resmi Jemaat Ahmadiyyah.
  57. Farmaniyan, "Qadiyaniyah", hlm. 159.
  58. Rezai Musawi, Naqd wa Barresi Aqa'id wa Bavar-ha-ye Ghulam Ahmad Qadiyani (Kritik dan Kajian Akidah serta Keyakinan Ghulam Ahmad Qadiyani), 1392 HS, hlm. 28.
  59. "Sirah Khulafa' al-Imam al-Mahdi", Situs Resmi Jemaat Ahmadiyyah.

Daftar Pustaka

  • "Al-Imam al-Mahdi wa al-Masih al-Mau'ud". Situs Resmi Jemaat Ahmadiyyah, tanggal akses: 29 Juni 1402 HS.
  • Al-Maududi, Abul A'la dkk. al-Qadiyani wa al-Qadiyaniyah. Damaskus, Penerbit Dar Ibnu Katsir, cet. 1, 1421 H.
  • Athmani, Mohammad Taqi. Qadiyani Fitnah. Karachi, Idarah al-Ma'arif, cet. 2, 2005 M.
  • Elahi Zhahir, Ehsan. al-Qadiyaniyah Dirasat wa Tahlil. Lahore, Penerbit Idarah Tarjuman al-Sunnah, tanpa tahun.
  • Farmaniyan, Mahdi. "Qadiyaniyah". Jurnal Ilmiah Haft Aseman, nomor 17, Musim Semi 1382 HS.
  • Farzin-nia, Ziba. Pakistan. Teheran, Penerbit Pusat Cetak dan Penerbit Kementerian Luar Negeri, 1376 HS.
  • Friedman, Yohanan. "Ahmadiyyah". Dalam Dairat al-Ma'arif-e Jahan-e Nowin-e Eslam (Ensiklopedi Dunia Islam Modern). Terjemahan dan riset: Dashti, Mahdi; Taremi, Hasan. Teheran, Penerbit Ketab-e Marja', 1388 HS.
  • Horramsyahi, Bahauddin dkk. Dairat al-Ma'arif-e Tasyayyu' (Ensiklopedi Syiah). Teheran, Penerbit Syahid Said Muhibbi, cet. 4, 1386 HS.
  • Kamil Sulaiman. Ruzgar-e Rahayi (Hari-hari Pembebasan). Terjemahan: Ali Akbar Mehdipour. Teheran, Penerbit Afaq, cet. 4, 1381 HS.
  • "Mahdawigari Ghulam Ahmad Qadiyani". Situs Berita Resmi Hauzah, tanggal terbit: 26 Farvardin 1397 HS, tanggal akses: 30 Juni 1402 HS.
  • Nadwah al-Alamiyah lil Syabab al-Islami. al-Mausu'ah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Madzahib wa al-Ahzab al-Mu'ashirah. Di bawah pengawasan, perencanaan, dan tinjauan: Dr. Mane' bin Hammad al-Juhani. Penerbit Dar al-Nadwah al-Alamiyah, 1420 H.
  • Nouri, Yahya. Khatamiyat-e Payambar-e Eslam wa Ibtal-e Tahlil-e Babigari, Bahai-gari wa Qadiyani-gari (Khatamiyah Nabi Islam dan Pembatalan Analisis Babisme, Bahai, dan Qadiyaniyah). Teheran, Penerbit Yayasan Ilmiah dan Islami Madrasah al-Syuhada, cet. 1, 1360 HS.
  • Qadiyani, Ghulam Ahmad. Barahin-e Ahmadiyya (Argumen-argumen Ahmadiyyah). Terjemahan: Sadruddin Ahmadi Qadiyani. Teheran, cet. 1, 1327 HS.
  • Qadiyani, Ghulam Ahmad. Ruhani Khazain. Rabwah, Penerbit Dhiya' al-Islam, tanpa tahun.
  • Rezai Musawi, Sayid Mohammad Mahdi; Rezanezhad, Ezzuddin. "Naqd wa Barresi-ye Adelle-ye Naqli-ye Qadiyaniyah dar Mau'ud-engari-ye Ghulam Ahmad Qadiyani". Jurnal Ilmiah Entezar-e Mau'ud, nomor 46, Musim Gugur 1393 HS.
  • Rezai Musawi, Sayid Mohammad Mahdi. Naqd wa Barresi Aqa'id wa Bavar-ha-ye Ghulam Ahmad Qadiyani (Kritik dan Kajian Akidah serta Keyakinan Ghulam Ahmad Qadiyani). Tesis Level 3 bidang Mahdawiyah. Qom, Pusat Spesialisasi Mahdawiyah, 1392 HS.
  • "Sirah Khulafa' al-Imam al-Mahdi". Situs Resmi Jemaat Ahmadiyyah, tanggal akses: 28 Juni 1402 HS.
  • Tahir Ahmad, Mirza. al-Qatlu bism al-Din. Terjemahan: Syafi'i, Mohammad Hilmi. Islamabad, Penerbit al-Syirkah al-Islamiyyah, 1990 M.