Lompat ke isi

Konsep:Takwil

Dari wikishia

Takwil merupakan sebuah istilah dalam ilmu-ilmu Al-Qur'an yang berarti mengungkap dan mencapai makna-makna batin dan tersembunyi dari ayat-ayat. Menurut para peneliti Al-Qur'an, takwil Al-Qur'an dari segi akal dan naqli dianggap sebagai suatu hal yang diperlukan untuk mencegah penisbatan sifat-sifat yang tidak pantas kepada Allah swt.

Sayid Muhammad Husain Thabathaba'i memandang takwil diperlukan untuk semua ayat, baik yang muhkam maupun yang mutasyabih, sementara sebagian mufasir seperti Syekh Thusi dan Sayid Muhammad Baqir Shadr hanya menganggap ayat-ayat mutasyabih saja yang dapat ditakwil. Dikatakan bahwa takwil telah mendapat perhatian sejak masa turunnya Al-Qur'an, dan Khawarij adalah kelompok pertama yang melakukan takwil terhadap Al-Qur'an, diikuti kemudian oleh Mu'tazilah, Asy'ariyah, dan Sufiyah, serta selanjutnya oleh orang-orang ghulat, al-Bathiniyyah, dan para filsuf yang mengikuti metode ini. Allamah Thabathaba'i meyakini bahwa takwil-takwil yang keliru mengenai ayat-ayat mutasyabih menjadi sumber kemunculan pandangan-pandangan menyimpang dan kecenderungan takwil yang tidak benar.

Sebagian mufasir menganggap takwil sama dengan tafsir, namun dalam berbagai sumber, takwil diartikan sebagai mengungkap makna tersembunyi dan potensial dari ayat-ayat, sedangkan tafsir diartikan sebagai penjelasan terhadap zhahir lafaz. Allamah Thabathaba'i juga memandang takwil sebagai sebuah proses pemikiran dan istinbath (penarikan kesimpulan), dan tafsir sebagai sebuah proses praktis. Para peneliti membagi takwil menjadi dua jenis: yang sahih (benar) dan yang fasid (rusak); takwil fasid dilakukan tanpa dalil yang valid atau bertentangan dengan kapasitas lafaz, sedangkan takwil sahih memiliki dalil yang valid.

Para ulama Muslim telah menyebutkan kriteria-kriteria untuk takwil yang sahih, seperti keselarasan dengan zhawahir (makna-makna lahiriah) agama dan tidak bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur'an.

Pemahaman Konsep dan Pentingnya

Takwil diambil dari akar kata «أ-و-ل»[1] dan berarti memahami dan menjelaskan makna sebenarnya dan tersembunyi dari sebuah ucapan atau ungkapan.[2]

Dalam ilmu-ilmu Al-Qur'an, takwil didefinisikan dengan berbagai cara; Allamah Thabathaba'i (W. 1360 HS) mendefinisikan takwil sebagai mengungkap hakikat makna-makna Al-Qur'an dengan mengandalkan ketelitian dan argumentasi ilmiah.[3] Sayid Muhammad Baqir Hakim (W. 1382 HS]]) mendefinisikan takwil sebagai menafsirkan makna kalam (bukan lafaz-lafaznya).[4] Ibn Atsir, salah seorang ahli hadits dari Ahlusunah, mendefinisikan takwil sebagai mengembalikan makna zhahir kepada makna lain dengan adanya dalil, dan menekankan bahwa tidak boleh meninggalkan makna zhahir lafaz tanpa adanya dalil.[5]

Sayid Haidar Amuli, seorang arif Syiah pada abad ke-8 Hijriah, memandang takwil Al-Qur'an sebagai suatu hal yang necessary dan mewajibkannya dari segi akal dan naqli.[6] Menurutnya, pemahaman semata terhadap zhahir Al-Qur'an menyebabkan penisbatan sifat-sifat yang tidak pantas kepada Allah swt; oleh karena itu, takwil Al-Qur'an diperlukan untuk menyucikan Dzat Allah dari sifat-sifat tersebut.[7] Allamah Thabathaba'i memandang takwil sebagai hal yang melampaui konsep-konsep verbal dan berkaitan dengan realitas-realitas objektif, yang mencakup semua ayat Al-Qur'an, baik yang muhkam maupun yang mutasyabih. Sebagian besar mufasir juga sepakat bahwa seluruh Al-Qur'an memiliki takwil.[8] Namun, sebagian lainnya seperti Syekh Thusi (W.460 H),[9] dan Sayid Muhammad Baqir Shadr (W. 1359 HS]]),[10] berpendapat bahwa takwil khusus untuk ayat-ayat mutasyabih saja dan ayat-ayat muhkam tidak dapat ditakwil.

Kedudukan dan Latar Belakang

Kata takwil dan kata-kata lain yang diturunkan darinya, digunakan sebanyak 17 kali dalam 15 ayat dan 7 surah, di mana tiga di antaranya[11] berkaitan dengan takwil Al-Qur'an.[12]

Menurut Muhammad Hadi Ma'rifat (W. 1385 HS]]), takwil dalam Al-Qur'an memiliki tiga makna: penjelasan terhadap ayat-ayat mutasyabih, ta'bir mimpi (interpretasi mimpi), dan akhir serta hasil dari segala urusan.[13] Sebagian mufasir, dalam pendahuluan kitab-kitab tafsir mereka[14] atau saat menafsirkan ayat-ayat terkait, khususnya ayat 7 Surah Ali 'Imran, telah membahas tentang takwil.[15] Berdasarkan penuturan para peneliti Al-Qur'an, kata "takwil" dalam beberapa riwayat berarti tafsir[16] dan dalam riwayat-riwayat lainnya, digunakan sebagai lawan dari tafsir.[17] Juga dikatakan bahwa dalam beberapa riwayat, takwil ditempatkan sebagai lawan dari tanzil (penurunan wahyu).[18]

Dikatakan bahwa Khawarij adalah kelompok pertama yang melakukan takwil terhadap nash-nash Al-Qur'an, diikuti kemudian oleh Mu'tazilah, Asy'ariyah, dan Sufiyah[19] dan selanjutnya oleh orang-orang ghulat, al-Bathiniyyah, dan para filsuf yang mengikuti metode ini.[20] Dari sudut pandang Allamah Thabathaba'i, takwil-takwil yang keliru tentang ayat-ayat mutasyabih adalah alasan utama munculnya pandangan-pandangan menyimpang dan pendekatan serta kecenderungan takwili.[21]

Perbedaan Takwil dan Tafsir

Meskipun Syekh Thusi (385–460 H) dan Fakhruddin ar-Razi (W. 544 H) menganggap takwil sama dengan tafsir;[22] namun penulis kitab Al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim mendefinisikan tafsir sebagai penjelasan makna zhahir lafaz dan takwil sebagai penentuan makna tersembunyi dan maksud sebenarnya dari lafaz yang mungkin tidak jelas dari zhahir-nya dan memerlukan pemahaman yang lebih mendalam.[23] Allamah Thabathaba'i mendefinisikan tafsir sebagai penjelasan makna yang pasti dan tertentu dari sebuah kata atau ungkapan yang biasanya hanya memiliki satu makna, sedangkan takwil adalah memilih satu dari beberapa makna yang mungkin untuk sebuah lafaz yang pemilihannya didasarkan pada dalil dan tidak selalu bersifat pasti.[24]

Dari sudut pandang Muhammad Hadi Ma'rifat, seorang peneliti ilmu-ilmu Al-Qur'an, tafsir berarti menjelaskan makna kata-kata yang samar, sedangkan takwil adalah mengungkap makna sebenarnya dan tersembunyi dari lafaz yang tidak terlihat pada zhahir-nya dan dilakukan dengan menggunakan dalil dan kriteria tertentu.[25] Menurut Abu al-Futuh ar-Razi, salah seorang mufasir Syiah pada abad ke-6 Hijriah, penjelasan makna ayat-ayat muhkam disebut "tafsir" dan penjelasan makna ayat-ayat mutasyabih beserta berbagai wajah dan kemungkinannya disebut "takwil".[26] As-Suyuthi, seorang ulama Syafi'i abad ke-9 dan ke-10 Hijriah, dalam kitab Al-Itqan menukil bahwa sebagian orang menganggap tafsir sebagai pemahaman makna ayat melalui riwayat, dan takwil sebagai pemahamannya melalui perenungan dan pemikiran.[27]

Pembagian Takwil

Para peneliti membagi takwil ke dalam beberapa jenis seperti sahih (benar) dan fasid (rusak),[28] dan mereka menganggap takwil fasid sebagai takwil yang tidak memiliki dalil yang valid untuk kebenarannya,[29] atau lafaz tidak memiliki kapasitas dan kemampuan untuk dibawa kepada makna tersebut.[30] Sebaliknya, takwil sahih adalah takwil yang disertai dengan dalil yang valid, yang sendiri terbagi menjadi dua jenis:[31]

  1. Takwil Qarib (Dekat): Takwil yang dekat dengan pemikiran pendengar dan diterima dengan dalil yang paling minimal;[32] seperti mentakwil «وَاسْئَلِ القَرْیَةَ» (dan tanyalah negeri) menjadi «واسئل أهل القریة» (dan tanyalah penduduk negeri).[33]
  2. Takwil Ba'id (Jauh): Takwil yang pikiran memerlukan dalil yang lebih kuat untuk menerimanya dan tidak mudah menerimanya.[34] Dikatakan bahwa takwil pengikut mazhab Hanafi mengenai cara pelaksanaan kafarat melanggar sumpah adalah contoh dari jenis takwil ini; para fuqaha Hanafi dalam menafsirkan ayat 89 Surah Al-Ma'idah, alih-alih memberi makan 10 orang miskin dalam satu hari, mereka mengatakan bahwa jumlah makanan yang sama dapat diberikan kepada satu orang miskin dalam 10 hari; karena maksud dari hukum tersebut adalah memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan, bukan harus jumlah tertentu dalam satu waktu; baik dengan memberikan makanan kepada sepuluh orang dalam satu hari atau kepada satu orang dalam sepuluh hari.[35]

Kriteria dan Standar takwil

Ulama Muslim telah menyebutkan kriteria dan standar-standar untuk takwil yang sahih, yaitu:

  1. Tidak Bertentangan dengan Zhawahir (Makna Lahiriah) Agama: Menurut Jawadi Amuli (L. 1312 HS]]), seorang mufasir dan fakih Syiah, takwil dapat diterima dan valid apabila either disetujui oleh riwayat-riwayat, memiliki bukti dari Al-Qur'an, atau disertai dengan kehalusan-kehalusan akal. Selain itu, takwil tidak boleh bertentangan dengan zhawahir agama dan argumen-argumen rasional; jika tidak, ia akan gugur dari tingkat validitas.[36]
  2. Tidak Bertentangan dengan Akal: Menurut Syekh Thusi, takwil harus didasarkan pada dalil-dalil rasional dan syar'i yang valid; sedemikian rupa sehingga disepakati (ijma') atau bersandar pada periwayatan yang mutawatir, dan dalam hal ini, khabar wahid, secara sendiri, tidak dianggap sebagai kriteria yang cukup untuk takwil.[37] Selain itu, takwil harus selaras dengan Al-Qur'an dan Sunnah.[38]
  3. Tidak Bertentangan dengan Ayat-ayat Al-Qur'an: Muhammad Kazim Syakir, salah seorang peneliti Al-Qur'an, meyakini bahwa takwil dianggap sahih dan valid apabila ia memiliki landasan Qur'ani dan juga tidak kontradiksi dengan ayat-ayat Al-Qur'an lainnya. Dalam hal ini, sambil menjaga kedudukan hadis-hadis Rasulullah saw dan para Imam as, seseorang harus dapat memanfaatkan metode tafsir Al-Qur'an dengan Al-Qur'an.[39]
  4. Tidak Berseberangan dengan Tafsir: Shadr al-Din Syirazi (W. tahun 1050 Hijriah) menekankan bahwa takwil harus sejalan dengan tafsir Al-Qur'an yang valid dan konvensional; jika tidak, ia tidak akan dapat diterima.[40]

Pandangan-Pandangan tentang takwil

Mengenai hakikat takwil Al-Qur'an, berbagai pandangan telah dikemukakan oleh ulama Muslim. Beberapa pandangan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Tafsir dan Penjelasan Makna Kalam: Dikatakan bahwa takwil menurut mufasir generasi awal identik dengan tafsir; artinya, semua ayat Al-Qur'an memiliki takwil.[41] Sebagai contoh, menurut Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Jarir al-Thabari, penulis kitab Tafsir al-Thabari, dalam tafsirnya menggunakan kedua kata ini secara setara dan sering menggunakan "takwil" sebagai pengganti "tafsir".[42] Namun, Syamsuddin adz-Dzahabi, seorang sejarawan Ahlusunah pada abad ke-8 dan ke-9 Hijriah, dengan menukil berbagai pandangan, menunjukkan bahwa hubungan antara kedua kata ini telah dijelaskan sebagai hubungan 'am dan khas (umum dan khusus)[43] atau sebagai dua hal yang terpisah (tabayun).[44]
  • Penjelasan Makna Isyari dan Simbolik: Dikatakan bahwa sekelompok arif,[45] sufi,[46] dan bathiniyyah,[47] meyakini bahwa ayat-ayat Al-Qur'an memiliki makna simbolik dan isyari (petunjuk) yang tersembunyi di balik zhahir ayat-ayat dan tidak dapat dipahami dengan kaidah-kaidah biasa. Kelompok ini menyebut pengungkapan makna simbolik dan isyari ini sebagai takwil.[48]
  • Takwil Terpisah dari Konsep dan Melampaui Lafaz: Menurut Allamah Thabathaba'i, takwil Al-Qur'an adalah realitas hakiki yang menjadi landasan pernyataan-pernyataan Qur'ani -baik dalam bentuk hukum, nasihat, atau hikmah- dan ada untuk semua ayat Al-Qur'an, baik muhkam maupun mutasyabih. takwil ini bukanlah konsep biasa yang ditunjukkan oleh lafaz-lafaz, melainkan suatu hal yang objektif yang melampaui lingkup lafaz-lafaz, dan Allah swt telah membungkusnya dalam bentuk lafaz-lafaz yang terbatas untuk mendekatkannya kepada pemahaman manusia.[49] Allamah Thabathaba'i menganggap penggunaan kata "Takwil" oleh Al-Qur'an dalam kisah-kisah seperti Nabi Khidir as dan Musa as serta Nabi Yusuf as sebagai bukti atas realitas objektif ini.[50]
Berkas:Kitab Ravesy-ha-ye takwil-e Qur'an.jpg
Kitab Ravesy-ha-ye takwil-e Qur'an (Metode-Metode takwil Al-Qur'an)

Monografi

Kitab "Ravesy-ha-ye takwil-e Qur'an: Ma'na Syenasi va Ravesy Syenasi dar Se Howzeh Revayi, Bathini va Ushuli" (Metode-Metode takwil Al-Qur'an: Semantik dan Metodologi dalam Tiga Ranah Riwayat, Bathiniyyah, dan Ushul) karya Muhammad Kazim Syakir, membahas semantik dan metodologi takwil Al-Qur'an dalam tiga ranah pengetahuan agama. Ketiga ranah ini mencakup teks-teks Islam (ayat dan riwayat), mazhab-mazhab bathiniyyah, serta fikih dan ushul fikih. Kitab ini disusun dalam enam bab dan cetakan pertamanya diterbitkan pada tahun 1376 HS oleh Muassasah Bustan-e Kitab.

Topik Terkait

Catatan Kaki

  1. Ibn Faris, Mu'jam Maqayis al-Lughah, 1404 H, pada materi «أول».
  2. Al-Zurqani, Manahil al-'Irfan, 1943 M, jilid 2, hlm. 4; Muhammadi Reyshahri, Shenakht-nameh Qur'an, 1391 HS, jilid 4, hlm. 43; Muaddab, Mabani Tafsir Qur'an, 1390 HSy, hlm. 33-34.
  3. Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jilid 3, hlm. 42-53.
  4. Hakim, 'Ulum al-Qur'an, 1417 H, hlm. 230.
  5. Ibn Atsir, Al-Nihayah, 1399 H, pada materi «أول».
  6. Amuli, Tafsir al-Muhith al-A'zham, 1428 H, jilid 1, hlm. 293.
  7. Amuli, Tafsir al-Muhith al-A'zham, 1428 H, jilid 1, hlm. 294.
  8. Amuli, Tafsir al-Muhith al-A'zham, 1428 H, jilid 1, hlm. 294-303; Imam Khomeini, Syarh Doa-e Sahar, 1391 HS, hlm. 60; Ma'refat, 'Ulum Qur'ani, 1381 HS, hlm. 274; Jawadi Amuli, Tasnim, 1389 HSy, jilid 13, hlm. 160; Sobhani, Tafsir Sahih Ayat Musykilah Qur'an, 1391 HS, hlm. 295-298.
  9. Thusi, Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, 1413 H, jilid 1, hlm. 11.
  10. Shadr, Bahuts fi 'Ilm al-Ushul, 1417 H, jilid 9, hlm. 350-355.
  11. Surah Ali 'Imran, ayat 7; Surah Al-A'raf, ayat 53; Surah Yunus, ayat 39.
  12. Ma'rifat, Danishnameh 'Ulum-e Qur'an, 1402 HSy, jilid 4, hlm. 117.
  13. Ma'rifat, Tafsir va Mufassiran, 1379 HS, jilid 1, hlm. 24-25.
  14. Qummi, Tafsir al-Qummi, 1404 H, jilid 1, hlm. 13-15; Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jilid 1, hlm. 26-30; 'Ayyasyi, Kitab al-Tafsir, 1380 H, jilid 1, hlm. 14-17.
  15. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jilid 2, hlm. 698-699.
  16. Kulaini, Al-Kafi, 1363 HS, jilid 3, hlm. 261.
  17. 'Ayyasyi, Kitab al-Tafsir, 1380 H, jilid 2, hlm. 56.
  18. Ma'rifat, Danishnameh 'Ulum-e Qur'an, 1402 HSy, jilid 4, hlm. 117.
  19. Jalind, al-Imam Ibnu Taymiyyah wa Qadhiyyah al-Takwil, 2000 M, hlm. 95.
  20. Syakir, Ravesy-ha-ye Takwil-e Qur'an, 1388 HS, hlm. 63.
  21. Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jilid 3, hlm. 41.
  22. Thusi, Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, 1413 H, jilid 2, hlm. 399; Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1425 H, jilid 3, hlm. 164.
  23. Musthafawi, Al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim, 1385 HSy, jilid 1, hlm. 190-192.
  24. Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jilid 3, hlm. 46.
  25. Ma'refat, Tafsir va Mufassiran, 1379 HS, jilid 1, hlm. 23.
  26. Abu al-Fath ar-Razi, Raudh al-Jinan, 1376 HS, jilid 4, hlm. 179.
  27. Suyuthi, Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an, 1394 H, jilid 4, hlm. 192.
  28. Syaukani, Irsyad al-Fuhul, 1424 H, jilid 2, hlm. 35; Syanqithi, Mudzakkirah fi Ushul al-Fiqh, 2001 M, hlm. 212; Haitou, Al-Wajiz fi Ushul al-Tasyri' al-Islami, 1421 H, hlm. 231.
  29. Syakir, Ravesy-ha-ye Takwil-e Qur'an, 1388 HSy, hlm. 295.
  30. Syaukani, Irsyad al-Fuhul, 1424 H, jilid 2, hlm. 35.
  31. Syaukani, Irsyad al-Fuhul, 1424 H, jilid 2, hlm. 35.
  32. Syaukani, Irsyad al-Fuhul, 1424 H, jilid 2, hlm. 35.
  33. Syakir, Ravesy-ha-ye Takwil-e Qur'an, 1388 HSy, hlm. 291.
  34. Haitou, Al-Wajiz fi Ushul al-Tasyri' al-Islami, 1421 H, hlm. 231.
  35. Darini, Al-Manahij al-Ushuliyyah, 1434 H, hlm. 184.
  36. Jawadi Amuli, Tasnim, 1389 HS, jilid 13, hlm. 176.
  37. Thusi, al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, 1413 H, jilid 1, hlm. 6-7.
  38. Shadr al-Din Syirazi, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1366 HSy, jilid 2, hlm. 157.
  39. Syakir, Ravesy-ha-ye takwil-e Qur'an, 1388 HSy, hlm. 67-69.
  40. Shadr al-Din Syirazi, Seh Risalah Falsafi, 1378 HS, hlm. 282.
  41. Allamah Thabathaba'i, Al-Qur'an fi al-Islam, Sazman-e Tablighat-e Islami, hlm. 54-56.; Ibn Taimiyyah, Al-Kalil fi al-Mutasyabih wa al-takwil, Dar al-Iman, hlm. 23; Al-Zurqani, Manahil al-'Irfan, 1943 M, jilid 2, hlm. 5.
  42. Ibnu Taimiyyah, Al-Kalil fi al-Mutasyabih wa al-takwil, Dar al-Iman, hlm. 28.
  43. Thufi, Al-Iksir fi 'Ilm al-Tafsir, 2002 M, hlm. 11; Haji Khalifah, Kasyf al-Zhunun, 1941 M, jilid 1, hlm. 334.
  44. Dzahabi, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, Maktabah Wahbah, jilid 1, hlm. 17.
  45. Al-Zurqani, Manahil al-'Irfan, 1943 M, jilid 2, hlm. 86.
  46. Tustari, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Dar al-Kutub al-'Arabiyyah, hlm. 1127.
  47. Ghazali, Fada'ih al-Bathiniyyah, 1422 H, hlm. 21-25.
  48. Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jilid 1, hlm. 7-10; Nasir Khusraw, Wajh-e Din, 1384 HS, hlm. 178-180.
  49. Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jilid 3, hlm. 49.
  50. Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jilid 3, hlm. 44-49.

Daftar Pustaka

  • Amuli, Sayid Haidar bin Ali, Tafsir al-Muhit al-A'zam wa al-Bahr al-Khadham fi Ta'wil Kitab Allah al-Aziz al-Muhkam, riset: Muhsin Musawi Tabrizi, Qum, Nashr Nur 'ala Nur, 1428 Q.
  • Abul Futuh Razi, Husain bin Ali, Rawd al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an, tashih Muhammad Mahdi Nasih, Masyhad, Astan Quds Razavi Bunyad Pazhuhish-ha-ye Islami, 1376 HS.
  • Ibnu Atsir, Mubarak bin Muhammad, Al-Nihayah fi Gharib al-Hadith wa al-Atsar, riset: Thahir Ahmad al-Zawi wa Mahmud Muhammad al-Tanahi, Beirut, al-Maktabah al-'Ilmiyyah, 1399 Q.
  • Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin Abd al-Halim, Al-Iklil fi al-Mutasyabih wa al-Ta'wil, Iskandariyah, Dar al-Iman, tanpa tahun.
  • Ibnu Faris, Ahmad bin Faris, Mu'jam Maqayis al-Lughah, tahqiq Abd al-Salam Muhammad Harun, Qum, Daftar Tablighat Islami, 1404 Q.
  • Al-Zurqani, Muhammad Abdul Azim, Manahil al-'Irfan fi 'Ulum al-Qur'an, Kairo, Mathba'ah 'Isa al-Babi al-Halabi wa Syurakah, cetakan ke-3, 1943 M.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah, Syarh Do'a-ye Sahr, terjemahan: Ahmad Fahri Zanjani, Tehran, Mu'assasah Tanzim wa Nashr Asar-e Imam Khomeini, cetakan ke-3, 1391 HS.
  • Tustari, Sahl bin Abdullah, Tafsir al-Qur'an al-Azim, Kairo, Dar al-Kutub al-Arabiyyah, tanpa tahun.
  • Julaind, Muhammad Sayid, Al-Imam Ibn Taymiyyah wa Qadhiyyah al-Ta'wil: Dirasah li Manhaj Ibn Taymiyyah fi al-Ilahiyyat wa Mawqifih min al-Mutakallimin wa al-Falasifah wa al-Sufiyyah, Kairo, Dar Quba, 2000 M.
  • Jawadi Amuli, Abdullah, Tafsir Tasnim, Qum, Nashr Isra, 1389 HS.
  • Haji Khalifah, Musthafa bin Abdullah, Kasyf al-Zhunun 'an Asami al-Kutub wa al-Funun, Baghdad, Maktabah al-Mutsanna, 1941 M.
  • Hakim, Sayid Muhammad Baqir, 'Ulum al-Qur'an, Qum, Mu'assasah al-Hadi as, 1417 Q.
  • Darini, Fathi, Al-Manahij al-Ushuliyyah fi al-Ijtihad bi al-Ra'y fi al-Tasyri' al-Islami, Beirut, Mu'assasah al-Risalah, 1434 Q.
  • Dzahabi, Muhammad Husain, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, Kairo, Maktabah Wahbah, tanpa tahun.
  • Subhani Tabrizi, Ja'far, Tafsir Sahih Ayat Musykilah Qur'an, taqrir Sayid Hadi Khosrowshahi, Qum, Mu'assasah Imam Shadiq as, 1391 HS.
  • Suyuthi, Abd al-Rahman bin Abi Bakr, Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an, tahqiq Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, Kairo, al-Hai'ah al-Mishriyyah al-Ammah lil Kitab, 1394 Q.
  • Syakir, Muhammad Kazim, Ravesy-ha-ye Ta'wil-e Qur'an, Qum, Bustan-e Kitab, cetakan ke-3, 1388 HS.
  • Syanqithi, Muhammad Amin, Mudzakkirah fi Ushul al-Fiqh, Madinah, Maktabah al-'Ulum wa al-Hikam, cetakan ke-5, 2001 M.
  • Syaukani, Muhammad, Irsyad al-Fuhul ila Tahqiq al-Haqq min 'Ilm al-Ushul, Beirut, Dar al-Kutub al-Arabi, 1424 Q.
  • Syekh Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, tashih Sayid Hasyim Rasul-i Mahallati wa digaran, Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 Q.
  • Shadr, Sayid Muhammad Baqir, Bahuts fi 'Ilm al-Ushul, Beirut, al-Dar al-Islamiyyah, 1417 Q.
  • Shadr al-Din Syirazi, Muhammad bin Ibrahim, Tafsir al-Qur'an al-Karim, tashih Muhammad Khwajawi, Qum, Nashr Bidar, cetakan ke-2, 1366 HS.
  • Shadr al-Din Syirazi, Muhammad bin Ibrahim, Seh Risalah Falsafi: Mutasyabihat al-Qur'an, al-Masa'il al-Qudsiyyah, Ajwibah al-Masa'il, Qum, Daftar Tablighat Islami Hawzah 'Ilmiyyah Qum, 1387 HS.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1412 Q.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Qum, Mu'assasah Nashr Islami, cetakan pertama, 1413 Q.
  • Thufi, Sulaiman bin Abdul Qawi, Al-Iksir fi 'Ilm al-Tafsir, Kairo, Maktabah al-Adab, 2002 M.
  • Allamah Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain, Al-Qur'an fi al-Islam, Qum, Sazman-e Tablighat-e Islami, tanpa tahun
  • Allamah Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, Qum, Daftar Intisharat Islami, cetakan ke-5, 1417 Q.
  • Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud, Kitab al-Tafsir, tahqiq Sayid Hashim Rasul-i Mahallati, Tehran, Chapkhaneh 'Ilmiyyah, 1380 Q.
  • Ghazali, Muhammad bin Muhammad, Fada'ih al-Bathiniyyah, tahqiq Muhammad Ali Quthb, Beirut, al-Maktabah al-Ashriyyah, 1422 Q.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin 'Umar, Al-Tafsir al-Kabir, Beirut, Nashr Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1425 Q.
  • Qummi, Ali bin Ibrahim, Tafsir al-Qummi, riset: Sayid Thayyib Musawi Jaza'iri, Qum, Nashr Dar al-Kitab, 1404 Q.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, Al-Kafi, riset: Ali Akbar Ghaffari, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1363 HS.
  • Muaddab, Sayid Reza, Mabani Tafsir Qur'an, Qum, Danesygah Qum, cetakan pertama, 1390 HS.
  • Muhammadi Rey Syahri, Muhammad, wa jami'i az pazhuhishgaran, Syenakht-nameh Qur'an bar payeh Qur'an wa Hadith, Qum, Dar al-Hadith, cetakan pertama, 1391 HS.
  • Musthafawi, Hasan, Al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim, Tehran, Nashr Asar-e Allamah Musthafawi, cetakan pertama, 1385 HS.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi, Tafsir va Mufassiran, Qum, Mu'assasah Farhangi al-Tamhid, 1379 HS.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi, Danesynameh 'Ulum-e Qur'an, jild 4: Tafsir; Mabani wa Mantiq-e Fahm, Qum, Sazman-e Intisharat-e Pazuheshgah Farhang wa Andisheh Islami, cetakan kedua, 1402 HS.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi, 'Ulum Qur'ani, Qum, Mu'assasah Farhangi al-Tamhid, 1381 HS.
  • Nashir Khusraw, Wajh-e Din, Tehran, Nashr Asathir, 1384 HS.
  • Haito, Muhammad Hasan, Al-Wajiz fi Ushul al-Tasyri' al-Islami, Beirut, Mu'assasah al-Risalah, 1421 Q.