Konsep:Qashaid Hasyimiyat
Qashaid Hasyimiyat adalah judul delapan bait puisi (kasidah) dalam bahasa Arab karya Kumait bin Zaid al-Asadi, yang menurut Abu al-Faraj al-Isfahani termasuk di antara karya-karya awalnya. Puisi-puisi ini terdiri dari 563 bait dalam bentuk 8 kasidah, yang digubah untuk memuji keutamaan Bani Hasyim, keluarga Nabi (saw), peristiwa Ghadir Khum, dan syahadah Imam Husain (as).
Di antara ciri penting Hasyimiyat adalah keaslian diksi, kekokohan komposisi, dan keluhuran maknanya, sehingga sebagian orang menganggapnya setingkat dengan Al-Mu'allaqat al-Sab'. Selain itu, Kumait menciptakan gaya baru dalam kumpulan ini dengan memadukan ungkapan perasaan dan kesedihan dengan bahasa akal dan argumentasi, sehingga meningkatkan kualitas tradisi ratapan (mersiyeh) Syiah. Berbeda dengan para sejarawan Syam, Kumait dalam menganalisis peristiwa Asyura tidak bersandar pada faktor gaib dan qadha serta qadar, melainkan berfokus pada kesalahan para pelaku utama kejahatan tersebut.
Dikatakan bahwa kumpulan ini sangat dipengaruhi oleh struktur dan kandungan Al-Qur'an, serta memberikan pengaruh besar pada penyair seperti Di'bil al-Khuza'i dan Sayyid Radhi. Kandungan kasidah-kasidah ini meliputi kecintaan kepada Ahlulbait, sifat-sihar Imam Ali (as), peristiwa Ghadir, kritik atas perampasan kekhalifahan, serta penjelasan tentang kekejaman Bani Umayyah.
Pengenalan Hasyimiyat
Hasyimiyat adalah judul kumpulan kasidah Arab karya Kumait bin Zaid al-Asadi yang menurut Abu al-Faraj al-Isfahani dalam Al-Aghani, dianggap sebagai puisi-puisi pertamanya.[1] Hasyimiyat digubah untuk memuji dan menjelaskan keutamaan Bani Hasyim dan keluarga Nabi, peristiwa Ghadir Khum, dan syahadah Imam Husain (as). Gubahan-gubahan ini dinamakan "Hasyimiyat" sesuai dengan isinya dan terdiri dari 563 bait dalam bentuk 8 kasidah.[2]
Karakteristik
Mohammad Reza Hakimi, penulis buku Soroud-e Jahesy-ha (Nyanyian Lompatan), mengutip dari para penyair dan sastrawan Arab bahwa Hasyimiyat berada pada tingkat yang sangat tinggi dalam hal keaslian diksi, kekokohan komposisi, keluhuran makna, kekuatan bakat, kepaduan kalam, dan kelembutan, sedemikian rupa sehingga puisi-puisi ini membangkitkan ingatan tentang Al-Mu'allaqat al-Sab' di dalam pikiran.[3] Dikatakan juga bahwa penggunaan bait-bait Hasyimiyat dalam puisi dan prosa sebagai saksi contoh, tazhmin, takhmis, dan sebagainya oleh para penyair sepanjang sejarah dan budaya literatur Islam, merupakan bukti atas urgensi kasidah-kasidah ini.[4]
Mohammad Abdul Azim-zadeh dalam sebuah penelitian mengenai kepribadian Kumait Zaid al-Asadi dan puisi-puisinya, menganggap salah satu karakteristik puisi Kumait dalam Hasyimiyat adalah perbedaan gaya dan corak puisi dari sisi isi dibandingkan dengan puisi penyair lain di masanya. Ia meyakini bahwa Kumait dalam Hasyimiyat telah menciptakan rancangan baru dan selain mengungkapkan perasaan serta kesedihan, ia berusaha menggunakan bahasa akal dan pemikiran dalam puisinya, sehingga meningkatkan martabat tradisi ratapan dalam budaya Syiah dan menyertainya dengan argumentasi serta penalaran.[5]
Kumait dalam Hasyimiyat, saat menganalisis epos Asyura, tidak berbicara tentang qadha dan qadar serta faktor-gaib, mukjizat dan karamah, serta perkara-perkara luar biasa yang tidak dapat dipahami. Ia bahkan tidak menggunakan alasan darurat puitis untuk memberikan laknat pada hal-hal yang tidak wajar alih-alih pada para penguasa dan penjahat; melainkan ia membahas tentang para pelaku utama kejahatan ini dan kesalahan mereka. Hal ini berbeda dengan para sejarawan Syam dan Damaskus yang mencampuradukkan peristiwa Asyura dengan alam gaib dan mengaitkannya dengan qadha serta qadar, karamah jin, malaikat, dan sebagainya, tanpa menjelaskan realitas, pengaruh, dan kesalahan orang-orang yang secara lahiriah Muslim dalam terjadinya kejahatan semacam itu.[6]
Pengaruh dan Efek Hasyimiyat
Menurut para peneliti, Kumait dalam Hasyimiyat secara langsung maupun tidak langsung terpengaruh oleh struktur dan isi Al-Qur'an,[7] dan hal inilah yang menyebabkan keabadian puisinya serta nilai sastra Hasyimiyat yang luhur. Oleh karena itu, para penyair dan sastrawan terkemuka seperti Di'bil al-Khuza'i dan Sayyid Radhi juga terpengaruh oleh puisi-puisinya. Mohammad Abdul Azim-zadeh menyebutkan contoh-contoh pengaruh ini dalam penelitian Hasyimiyat-nya sebagai berikut:[8] Dengan membandingkan bait-bait dari Hasyimiyat seperti bait "Alam tarani min hubbi Alu Muhammad / Aruhu wa aghdu kha'ifan atraqqabu"[9] dengan bait-bait seperti "Alam tara anni min tsalatsina hujjatan / Aruhu wa aghdu da'ima al-hasarati" dari Madaris Ayat Di'bil al-Khuza'i, seseorang dapat melihat pengaruh Hasyimiyat pada puisi-puisi Di'bil al-Khuza'i.[10] Demikian juga dengan melihat bait dari Hasyimiyat ini: "Wa qalu Turabi hawahu wa ra'yuhu / Bi dzalika ud'a fihim wa ulaqqabu"[11] dan membandingkannya dengan bait dari Syarif Radhi ini: "Wa qalu 'ajibu 'ujbu mitsli bi nafsihi / Wa aina 'ala al-ayyami mitslu abi abun"[12], dikatakan bahwa pengaruh Hasyimiyat terlihat di seluruh kasidah 72 bait Sayyid Radhi yang digubah tepat dalam wazan dan qafiyah Hasyimiyat, serta memiliki motivasi dan pemikiran yang sejalan.[13]
Sayyid Radhi dalam bagian hikmah Nahjul Balaghah saat menukil salah satu perkataan Ali (as) (Wa 'ajabahu atakuunu al-khilafatu bi al-shahabati wa al-qarabati) bersandar pada salah satu puisi Kumait dalam Hasyimiyat (Fa in kunta bi al-syura malakta umurahum / Fa kaifa bi hadza wa al-musyiruna ghuyyabu // Wa in kunta bi al-qurba hajjajta khashimahum / Fa ghairuka aula bi al-Nabiyyi wa aqrabu).[14]
Kandungan
Penulis artikel "Hasyimiyat, Jihad dari Jenis Pena", melaporkan kandungan kasidah-kasidah Hasyimiyat dalam tema-tema seperti cinta dan kasih sayang, kepribadian Nabi (saw), sifat-sifat khusus Imam Ali (as), pujian terhadap Bani Hasyim, peristiwa Asyura, peristiwa Ghadir, dan perampasan kekhalifahan serta kebenaran Ali (as), pemerintahan para penguasa zalim, kekejaman Bani Umayyah, pembunuhan Zaid bin Ali dan musibah Bani Hasyim serta kesedihan dan duka, serta dorongan kepada masyarakat untuk berjuang dan berjihad.[15] Ia menjelaskan strukturnya sebagai berikut:[16]
- Hasyimiyah pertama yang dikenal sebagai kasidah Mimiyyah, dimulai dengan bait pembuka "Man li qalbin mutayyamim mustahami / Ghaira ma shabwatin wala ahlam" yang terdiri dari 103 bait.[17]
- Hasyimiyah kedua yang dikenal sebagai kasidah Ba'iyyah Kubra, dimulai dengan bait pembuka "Tharabtu wa ma syauqan ila al-bidhi athrabu / Wala la'iban adzu al-syaibi yal'abu". Dikatakan bahwa pertama kali Kumait membacakan puisi ini untuk pamannya (dari pihak ibu)[18] Farazdaq, penyair terkenal abad pertama dan kedua Hijriah, dan ia mendapatkan pujian darinya. Kasidah ini juga terdiri dari 140 bait.[19]
- Hasyimiyah ketiga yang dikenal sebagai kasidah Ba'iyyah Wustha, dimulai dengan bait pembuka "Anna wa min aina abuka al-tharabu / Min haitsu la shabwatun wala riybu" dan terdiri dari 133 bait.[20]
- Hasyimiyah keempat yang dikenal sebagai kasidah Lamiyyah Kubra, dimulai dengan bait pembuka "Ala hal 'ammi fi ra'yihi muta'ammilu / Wa hal mudbirun ba'da al-isa'ati muqbilu" dan terdiri dari 111 bait.[21]
- Hasyimiyah kelima dikenal sebagai Ba'iyyah Sughra yang dimulai dengan bait pembuka "Tharabtu wa hal bika min mathrabi / Wa lam tatashaba wa lam tal'abi" dan terdiri dari 33 bait.[22]
- Hasyimiyah keenam yang dikenal sebagai kasidah 'Ainiyyah, dimulai dengan bait pembuka "Nafa 'an 'ainika al-araqu al-huju'a / Wa hammun yamtaru minha al-dumu'a". Dikatakan bahwa kasidah ini aslinya berjumlah 800 bait namun hanya tersisa 21 bait darinya.[23]
- Hasyimiyah ketujuh yang dikenal sebagai Lamiyyah Sughra, dimulai dengan bait pembuka "Sallu al-humuma li qalbin ghaira matbuli / Wala rahinan lada baidha'a 'uthbuli" dan terdiri dari 7 bait.
- Hasyimiyah kedelapan dikenal sebagai kasidah Ra'iyyah dan berbicara tentang Fadak dan warisan Sayyidah Zahra (sa) yang dirampas oleh Abu Bakar dan Umar, pertanggungjawaban yang akan diminta dari keduanya mengenai hal ini pada hari pembalasan, serta mengenai nas yang jelas dari Rasulullah (saw) tentang imamah Ali (as) dan kedudukan unggul Ali bin Abi Thalib. Kasidah ini dimulai dengan bait pembuka "Ahwa Aliyyan amira al-mu'minina wala / Alumu yauman Aba Bakrin wala Umara" dan terdiri dari 7 bait.[24]
- Penutup Hasyimiyat adalah dua bait puisi yang digubah penyair tentang kematian Zaid bin Ali; yang pertama dalam bentuk ejekan kepada Yusuf bin Umar al-Tsaqafi, pembunuh Zaid, dan dimulai dengan belasungkawa kepada Rasulullah (saw), dan yang lainnya menceritakan bahwa Zaid bin Ali telah memanggil penyair untuk membantunya namun ia tidak menyambutnya, dan kejadian ini menyebabkan kesedihan serta penyesalan yang mendalam baginya.[25]
Buku-buku Terkait
Berbagai buku telah ditulis untuk mensyarah dan mengumpulkan puisi-puisi Kumait bin Zaid al-Asadi, beberapa di antaranya adalah:
- Syarh Hasyimiyat al-Kumait bin Zaid al-Asadi termasuk di antara buku-buku yang mengumpulkan semua naskah yang tersisa dari puisi Hasyimiyat serta memberikan penjelasan dan pemaparan atas puisi-puisi tersebut. Dalam mukadimah buku ini, penulis menganggap cetakan Horovitz di Leiden pada tahun 1904 sebagai salah satu naskah cetak pertama Hasyimiyat.[26]
- Saraqat al-Kumait min al-Qur'an adalah buku pertama yang ditulis tidak lama setelah kesyahidan Kumait untuk mengkritik puisi-puisinya, khususnya Hasyimiyat. Penulis buku ini adalah Abu Muhammad Abdullah bin Isa yang dikenal sebagai Ibnu Kunasah al-Kufi (123-270 H) yang dalam buku ini merujuk pada kritik atas puisi-puisi Kumait dan pemanfaatannya terhadap ayat-ayat Al-Qur'an al-Karim dalam puisi-puisinya.[27] Allamah Amini, penulis buku Al-Ghadir, mengenai hal ini berkata: Ungkapan saraqat (pencurian) tidak lepas dari kefanatikan; karena mengikuti dan mengadaptasi Al-Qur'an serta melakukan tazhmin pada kata-katanya, bukan hanya bukan sebuah celaan bagi penyair melainkan niscaya adalah sebuah pujian.[28]
- Syarah Abu Riyasy Ahmad Ibnu Ibrahim al-Qaisi.[29]
- Syarah Muhammad Mahmoud al-Rafi'i al-Mishri.[30]
- Syarah Muhammad Syakir Nabulsi.
- Selain itu, sekelompok sastrawan dan penyair juga melakukan "takhmis" pada puisi-puisinya[31] dan Mohammad Samawi al-Najafi telah menerjemahkannya ke dalam bahasa Jerman.[32]
Contoh-contoh Hasyimiyat tentang Imam Husain (as) dan Peristiwa Asyura
Contoh dari Hasyimiyah kedua: Templat:Puisi Terjemahan: Templat:Puisi Contoh dari Hasyimiyah keempat: Templat:Puisi Terjemahan: Templat:Puisi
Lihat Juga
Catatan Kaki
- ↑ Al-Isfahani, Al-Aghani, 1415 H, jld. 17, hlm. 22-23.
- ↑ Al-Marzubani al-Khurasani, Akhbar Syu'ara' asy-Syiah, 1347 HS, hlm. 71.
- ↑ Hakimi, Jahesy-ha, 1366 HS, hlm. 203.
- ↑ Syekh Mufid, Al-Mushannafat al-Syekh al-Mufid, 1413 H, jld. 8, hlm. 18.
- ↑ Abdul Azim-zadeh, "Hasyimiyat", hlm. 12; Ibnu Manzhur, Mukhtashar Tarikh Dimasyq, jld. 21, hlm. 215.
- ↑ Abdul Azim-zadeh, "Hasyimiyat", hlm. 12; Tarjamah al-Imam al-Husain min Tarikh Madinah Dimasyq, hlm. 324, 345, 346, 352, 409; Tarikh Madinah Dimasyq, jld. 14, hlm. 225-245.
- ↑ Abbas-zadeh, "Pajvak-e Vahyi dar Cekame-haye Kumait Zaid al-Asadi" (Gema Wahyu dalam Puisi Kumait Zaid al-Asadi), 1398 HS, hlm. 3.
- ↑ Abdul Azim-zadeh, "Hasyimiyat", hlm. 11.
- ↑ Al-Qashaid al-Hasyimiyat, hlm. 38, 20.
- ↑ Di'bil al-Khuza'i, Diwan Di'bil bin Ali al-Khuza'i, hlm. 141.
- ↑ Al-Qashaid al-Hasyimiyat, hlm. 29.
- ↑ Asy-Syarif al-Radhi, Diwan asy-Syarif al-Radhi, 1415 H, jld. 1, hlm. 112.
- ↑ Asy-Syarif al-Radhi, Diwan asy-Syarif al-Radhi, jld. 1, hlm. 112.
- ↑ Nahjul Balaghah, hikmah 190.
- ↑ Hasyimiyat, "Jihad az Jense Qalam", hlm. 230.
- ↑ Fuadiyan dan Mohammadi, "Hasyimiyat, Jihad az Jense Qalam", hlm. 229-232.
- ↑ Fuadiyan dan Mohammadi, "Hasyimiyat, Jihad az Jense Qalam", hlm. 229-232.
- ↑ Al-Marzubani, Akhbar Syu'ara' asy-Syiah, hlm. 71 dan 178.
- ↑ Fuadiyan dan Mohammadi, "Hasyimiyat, Jihad az Jense Qalam", hlm. 229-232.
- ↑ Fuadiyan dan Mohammadi, "Hasyimiyat, Jihad az Jense Qalam", hlm. 229-232.
- ↑ Fuadiyan dan Mohammadi, "Hasyimiyat, Jihad az Jense Qalam", hlm. 229-232.
- ↑ Fuadiyan dan Mohammadi, "Hasyimiyat, Jihad az Jense Qalam", hlm. 229-232.
- ↑ Abdul Azim-zadeh, "Hasyimiyat", hlm. 11, catatan kaki 72.
- ↑ Fuadiyan dan Mohammadi, "Hasyimiyat, Jihad az Jense Qalam", hlm. 229; Abdul Azim-zadeh, "Hasyimiyat", artikel 11.
- ↑ Abdul Azim-zadeh, "Hasyimiyat", artikel 11.
- ↑ Kumait bin Zaid, Salloum, Dawood, Qaisi, Nuri Hamudi, dan Qaisi, Ahmad bin Ibrahim. 1406-1986. Syarh Hasyimiyat al-Kumait bin Zaid al-Asadi. 1 jld. Beirut - Lebanon: Alam al-Kutub.
- ↑ Ibnu Nadim, Fihrist Ibn al-Nadim, hlm. 119.
- ↑ Amini, Al-Ghadir, 1416 H, jld. 2, hlm. 287.
- ↑ "Syarh Hasyimiyat al-Kumait bin Zaid al-Asadi".
- ↑ "Syarh al-Hasyimiyat Kumait bin Zaid al-Asadi", Situs Informasi Perpustakaan-perpustakaan Iran.
- ↑ Amini, Al-Ghadir, jld. 2, hlm. 186.
- ↑ Abdul Azim-zadeh, "Hasyimiyat", 1381 HS.
Daftar Pustaka
- Abbas-zadeh, Hamid. "Pajvak-e Vahyi dar Cekame-haye Velayi-ye Kumait bin Zaid al-Asadi" (Gema Wahyu dalam Puisi Wilayah Kumait bin Zaid al-Asadi). Dalam Jurnal Amuzesy-haye Qur'ani Danesy-gah-e Olum-e Islami Razavi, periode ke-16, No. 30, 1398 HS.
- Abdul Azim-zadeh, Mohammad. "Hasyimiyat". Dalam dwi-bulanan Ayine-ye Pajushi, Qom, Daftar Tablighat Islami, No. 88, 1383 HS.
- Al-Asadi al-Kufi, al-Kumait bin Zaid. Qashaid al-Hasyimiyat. Dikumpulkan dan diedit oleh Mohammad Syakir Khayyat. Beirut, Mathba'ah al-Mausu'at, tanpa tahun.
- Al-Isfahani, Abu al-Faraj. Al-Aghani. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1415 H.
- Al-Marzubani, Abu Abdullah. Akhbar Syu'ara' asy-Syiah. Riset: Mohammad Hadi Amini. Irak, al-Jam'iyyah al-Islamiyyah li al-Khidamat al-Tsaqafiyyah, cetakan kedua, 1413 H.
- Amini, Abdul Husain. Al-Ghadir. Qom, Markaz al-Ghadir li al-Dirasat al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1416 H/1995 M.
- Asy-Syarif al-Radhi, Muhammad bin Husain. Diwan asy-Syarif al-Radhi. Syarah: Yusuf Syukri. Beirut, Dar al-Jil, 1415 H.
- Di'bil al-Khuza'i. Diwan Di'bil al-Khuza'i. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan pertama, 1414 H.
- Fuadiyan, Mohammad Hasan; dan Mohammadi, Majid. "Hasyimiyat: Jihad az Jense Qalam" (Hasyimiyat: Jihad dari Jenis Pena). Dalam Jurnal Adab-e Arabi, No. 3, 1390 HS.
- Hakimi, Mohammad Reza. Jahesy-ha (Lompatan). Teheran, Penerbit Daftar-e Nasyr-e Farhang-e Islami, 1366 HS.
- Ibnu Abil Hadid, Abdul Hamid bin Hibatullah. Al-Raudhah al-Mukhtarah. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Matbu'at, tanpa tahun.
- Ibnu Asakir, Ali bin al-Hasan. Tarikh Madinah Dimasyq. Riset: Ali Syiri. Beirut, Dar al-Fikr li al-Thiba'ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi', 1415 H.
- Ibnu Nadim, Muhammad bin Ishaq. Al-Fihrist. Beirut, Dar al-Ma'rifah, cetakan kedua, 1417 H.
- Mohammadi, Majid. Tajalli-ye Esyq va Jihad dar Cekame Hasyimiyat (Manifestasi Cinta dan Jihad dalam Puisi Hasyimiyat). Teheran, Universitas Ilmu dan Pengetahuan Al-Qur'an, 1393 HS.
- Salloum, Dawood; dan Nuri Hamudi al-Qaisi; dan Ahmad bin Ibrahim al-Qaisi. Syarh Hasyimiyat al-Kumait bin Zaid al-Asadi. Beirut, Alam al-Kutub, 1406-1986 H.
- Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu'man. Al-Mushannafat al-Syekh al-Mufid. Riset: Mohammad Hassoun. Qom, Al-Mu'tamar al-Alami li Alfiyyah al-Syekh al-Mufid, 1413 H.