Konsep:Kaidah Nafi al-'Usr wa al-Haraj
Kaidah Nafi al-'Usr wa al-Haraj (Bahasa Arab: قاعدة نفي العسر والحرج) adalah sebuah kaidah fikih yang bermakna tidak adanya penyariatan hukum-hukum yang sulit, berat, dan tidak tertahankan dalam syariat Islam. Para fakih menganggap kaidah masyhur ini berlaku dalam seluruh bab fikih, baik ibadah maupun muamalah. Kaidah Nafi al-'Usr wa al-Haraj disandarkan pada Al-Kitab, Sunnah, Ijmak, dan dasar kaum berakal. Kaidah ini dianggap sebagai bentuk anugerah (imtinan) dan kemudahan (irfaq) bagi umat Nabi Muhammad saw. Dari kaidah ini dipahami bahwa syariat Islam tidak bersifat memberatkan.
Kaidah Nafi al-'Usr wa al-Haraj berpengaruh dalam banyak bab fikih dan telah mengubah sebagian hukum; di antaranya adalah tidak wajibnya mandi atau wudu dalam cuaca yang sangat dingin, bolehnya berbuka puasa di bulan Ramadan bagi orang sakit dan musafir, serta hak cerai bagi istri jika terdapat 'usr wa haraj (kesulitan yang berat). Murtadha Muthahhari menganggap keberadaan kaidah-kaidah semacam ini sebagai penyebab perubahan hukum dan tanda fleksibilitas dalam hukum-hukum Islam.
Pengenalan
Kaidah Nafi al-'Usr wa al-Haraj termasuk kaidah fikih yang dikenal dan penting yang berlaku dalam seluruh bab fikih, baik ibadah maupun muamalah.[1] Yang dimaksud dengan kaidah ini adalah bahwa dalam syariat Islam tidak ada hukum yang sulit dan berat yang disyariatkan bagi para mukalaf.[2] Sesuai kaidah ini, apabila pelaksanaan sebuah hukum syariat menyebabkan terjadinya kesulitan yang tidak tertahankan bagi seseorang, atau perwujudan beberapa hukum syariat dalam kondisi khusus mendatangkan haraj (kesempitan/kesulitan), maka pelaksanaannya diangkat dari pundak mukalaf.[3]
Sebagian berpendapat bahwa kaidah ini tidak bermakna bahwa sekadar adanya kepayahan dan kesulitan lantas membolehkan penghentian hukum-hukum syariat;[4] melainkan yang dimaksud dengan haraj adalah kesulitan yang sangat berat.[5] Makarim Syirazi menyatakan bahwa maksud dari 'usr wa haraj bukanlah setiap jenis kesulitan dan kepayahan; karena pelaksanaan banyak kewajiban senantiasa disertai dengan kepayahan. Menurut pandangannya, yang dimaksud adalah kepayahan yang sangat berat yang menurut kebiasaan tidak dapat ditanggung.[6] Dikatakan bahwa kaidah la haraj mengangkat kepayahan tambahan yang muncul pada kewajiban-kewajiban (melebihi haraj yang biasa ada pada kewajiban tersebut).[7] Sebagian berpendapat bahwa berlakunya kaidah la haraj bergantung pada penilaian urf (kebiasaan masyarakat), dan di mana pun urf menganggap suatu hukum sebagai misdaq (manifestasi) dari haraj, maka kaidah ini dapat dijalankan.[8]
Haraj yang menanggungnya di luar kemampuan manusia atau haraj yang menanggungnya menyebabkan kekacauan tatanan (nizham) atau mengakibatkan kerugian pada harta, jiwa, atau kehormatan dianggap keluar dari cakupan kaidah la haraj; karena pembahasan mengenai haraj di luar kemampuan telah dikaji dalam ilmu kalam dan juga ilmu usul fikih, di mana memberikan kewajiban (taklif) atasnya dianggap sebagai perkara yang mustahil dan tidak masuk akal.[9] Kaidah la haraj mencakup seluruh hukum baik kewajiban maupun keharaman,[10] serta mencakup hukum taklifi dan wadh'i.[11] Sebagian juga menyatakan bahwa kaidah la haraj dianggap setingkat dengan salah satu prinsip praktis (al-ushul al-'amaliyyah), bukan sebagai sebuah amar (indikator) atau dalil.[12]
Kaidah Nafi al-'Usr wa al-Haraj dianggap sebagai imtinan (anugerah) dan irfaq (keringanan) bagi umat Nabi Muhammad saw.[13] Dari kaidah ini dipahami bahwa syariat Islam tidak bersifat memberatkan[14] dan di dalamnya tidak terdapat hukum-hukum yang darinya timbul haraj dan kepayahan bagi manusia.[15] Murtadha Muthahhari menganggap kaidah ini dan kaidah-kaidah sejenisnya sebagai penyebab terkontrol dan berubahnya hukum-hukum yang menjadi tanda fleksibilitas dalam peraturan-peraturan Islam.[16]
Dalil
Kaidah Nafi al-'Usr wa al-Haraj disandarkan pada Al-Kitab,[17] Sunnah,[18] Ijmak,[19] dan dasar kaum berakal.[20] Di antara ayat-ayat terpenting yang dijadikan sebagai dalil kaidah 'usr wa haraj adalah Ayat 78 Surah Al-Hajj.[21] Ayat ini dianggap mengawasi seluruh hukum Islam.[22] Dikatakan bahwa maksud dari ayat tersebut adalah kapan pun akibat pengamalan hukum-hukum tersebut, mukalaf berada dalam 'usr wa haraj, maka hukum-hukum ini diangkat dari tanggung jawabnya.[23] Di antara ayat-ayat lain yang menjadi sandaran kaidah 'usr wa haraj adalah Ayat 6 Surah Al-Ma'idah,[24] Ayat 185 Surah Al-Baqarah,[25] Ayat 286 Surah Al-Baqarah,[26] dan Ayat 47 Surah Al-Hajj.[27] Dikatakan bahwa ayat-ayat ini karena sifat mutlaknya (ithlaq) mencakup seluruh hukum syariat dan meliputi seluruh peraturan Islami.[28] Sayid Muhammad Musawi Bojnourdi (Wafat: 1402 HS) berkeyakinan bahwa ayat-ayat ini menunjukkan dengan jelas perkara bahwa dalam agama Islam tidak disyariatkan hukum yang bersifat haraji dan jika sebuah hukum menyebabkan kebuntuan dan kepayahan, maka atas perintah ayat-ayat ini hukum tersebut menjadi gugur.[29]
Berbagai riwayat telah dinukil yang menjadi dasar bagi Kaidah Nafi al-'Usr wa al-Haraj.[30] Fadhil Naraqi membawa banyak riwayat mengenai peniadaan 'usr wa haraj dalam kitab Awa'id al-Ayyam[31] yang menunjukkan atas tidak disyariatkannya hukum haraji.[32] Hadis masyhur nabawi Templat:Arabi termasuk riwayat-riwayat yang menjadi dasar Kaidah Nafi al-'Usr wa al-Haraj.[33] Dalam tafsir riwayat ini dikatakan bahwa jika hukum-hukum haraji ada dalam agama, maka Nabi saw tidak akan menyifatkan agama sebagai kumpulan yang toleran dan mudah.[34]
Penerapan
Kaidah Nafi al-'Usr wa al-Haraj berpengaruh dalam banyak bab fikih dan telah mengubah sebagian hukum;[35] di antaranya:
- Tidak wajibnya mandi atau wudu dalam cuaca yang sangat dingin.[36]
- Tidak wajibnya Haji dalam kondisi 'usr wa haraj meskipun terdapat istitha'ah.[37]
- Tidak wajibnya Jihad bagi orang yang tidak berdaya dan orang yang pelaksanaan jihad merupakan kepayahan baginya.[38]
- Tidak wajibnya mendiagnosis dan taklid kepada yang paling alim (al-a'lam) bagi orang yang hal itu merupakan haraj dan kepayahan baginya.[39]
- Legalitas Tayammum dikarenakan kerugian dalam mendapatkan air; seperti membeli air untuk wudu dengan harga berkali-kali lipat.[40]
- Bolehnya berbuka puasa di bulan Ramadan bagi orang sakit,[41] musafir,[42] lansia[43] dan bagi orang yang mengalami rasa haus yang sangat hebat.[44]
- Bolehnya cerai bagi istri oleh hakim syariat. Jika kelangsungan pernikahan menyebabkan 'usr wa haraj bagi istri, maka dengan berpegang pada Kaidah Nafi al-'Usr wa al-Haraj, bolehnya cerai bagi hakim syariat dianggap terbukti.[45] Masalah ini juga tercantum dalam pasal 1130 Undang-Undang Perdata (Iran).[46] Begitu pula gila pada suami sebelum akad, dikarenakan 'usr wa haraj yang berat, menjadi penyebab adanya Khiyar Faskh bagi istri.[47]
Catatan Kaki
- ↑ Bojnourdi, Qawa'id-e Feqhiyyah, Teheran, 1401 H, jld. 1, hal. 365; Fadhil Lankarani, Qa'ideh La Haraj, 1385 HS, hal. 21.
- ↑ Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, Farhang-e Feqh, 1395 HS, jld. 6, hal. 437; Muhaqqiq Damad, Qawa'id-e Feqh, 1406 H, jld. 2, hal. 92.
- ↑ Makarim Syirazi, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1370 HS, jld. 1, hal. 195; Bojnourdi, Qawa'id-e Feqhiyyah, 1401 H, jld. 1, hal. 368; Valayi, Farhang-e Tasyrihi-ye Istilahat-e Ushul, 1393 HS, hal. 261.
- ↑ Fadhil Lankarani, Qa'ideh La Haraj, 1385 HS, hal. 21.
- ↑ Alimuradi, "Qa'ideh Nafi al-'Usr wa al-Haraj", hal. 144.
- ↑ Makarim Syirazi, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1370 HS, jld. 1, hal. 181 sampai 183.
- ↑ Fadhil Lankarani, Qa'ideh La Haraj, 1385 HS, hal. 127 dan 128.
- ↑ Haq-gouyan, "Mahiyyat wa Qalamraw-e Qa'ideh Nafi-ye 'Usr wa Haraj dar Feqh-e Imamiyyah", hal. 54.
- ↑ Makarim Syirazi, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1370 HS, jld. 1, hal. 160 dan 161.
- ↑ Fadhil Lankarani, Qa'ideh La Haraj, 1385 HS, hal. 161; Bojnourdi, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1377 HS, jld. 1, hal. 257.
- ↑ Bojnourdi, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1377 HS, jld. 1, hal. 255; Alimuradi, "Qa'ideh Nafi al-'Usr wa al-Haraj", hal. 150.
- ↑ Fadhil Lankarani, Qa'ideh La Haraj, 1385 HS, hal. 24.
- ↑ Haq-gouyan, "Mahiyyat wa Qalamraw-e Qa'ideh Nafi-ye 'Usr wa Haraj dar Feqh-e Imamiyyah", hal. 44.
- ↑ Fadhil Lankarani, Qa'ideh La Haraj, 1385 HS, hal. 21.
- ↑ Alimuradi, "Qa'ideh Nafi al-'Usr wa al-Haraj", hal. 151.
- ↑ Muthahhari, Majmu'eh Atsar, 1389 HS, jld. 21, hal. 335.
- ↑ Fadhil Lankarani, Qa'ideh La Haraj, 1385 HS, hal. 32.
- ↑ Bojnourdi, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1377 HS, jld. 1, hal. 250.
- ↑ Bojnourdi, Qawa'id-e Feqhiyyah, 1401 H, jld. 1, hal. 368.
- ↑ Muhaqqiq Damad, Qawa'id-e Feqh, 1406 H, jld. 2, hal. 89.
- ↑ Muhaqqiq Damad, Qawa'id-e Feqh, 1406 H, jld. 2, hal. 82; Bojnourdi, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1377 HS, jld. 1, hal. 249; Husseini Syirazi, al-Feqh, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1414 H, hal. 83.
- ↑ Muhaqqiq Damad, Qawa'id-e Feqh, 1406 H, jld. 2, hal. 82.
- ↑ Muhaqqiq Damad, Qawa'id-e Feqh, 1406 H, jld. 2, hal. 82.
- ↑ Husseini Syirazi, al-Feqh, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1414 H, hal. 83.
- ↑ Fadhil Lankarani, Qa'ideh La Haraj, 1385 HS, hal. 77.
- ↑ Fadhil Lankarani, Qa'ideh La Haraj, 1385 HS, hal. 81.
- ↑ Fadhil Lankarani, Qa'ideh La Haraj, 1385 HS, hal. 32.
- ↑ Muhaqqiq Damad, Qawa'id-e Feqh, 1406 H, jld. 2, hal. 83.
- ↑ Bojnourdi, Qawa'id-e Feqhiyyah, 1401 H, jld. 1, hal. 366.
- ↑ Muhaqqiq Damad, Qawa'id-e Feqh, 1406 H, jld. 2, hal. 84; Husseini Syirazi, al-Feqh, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1414 H, hal. 84.
- ↑ Naraqi, Awa'id al-Ayyam, 1375 HS, hal. 174 sampai 181.
- ↑ Bojnourdi, Qawa'id-e Feqhiyyah, 1401 H, jld. 1, hal. 368.
- ↑ Muhaqqiq Damad, Qawa'id-e Feqh, 1406 H, jld. 2, hal. 87.
- ↑ Muhaqqiq Damad, Qawa'id-e Feqh, 1406 H, jld. 2, hal. 87.
- ↑ Sajjadi Amin, "Tabyin-e Mabani-ye Feqhi-ye Mo'atstser dar Tathbiq-e Qa'ideh-ye Nafi-ye 'Usr wa Haraj bar Masa'il-e Feqhi-ye Khanevadeh", hal. 33.
- ↑ Bojnourdi, Qawa'id-e Feqhiyyah, 1401 H, jld. 1, hal. 376; Bojnourdi, al-Qawa'id al-Feqhiyyah, 1377 HS, jld. 1, hal. 256.
- ↑ Bojnourdi, Qawa'id-e Feqhiyyah, 1401 H, jld. 1, hal. 377.
- ↑ Syahinfard, "Gostareh-ye Mafhumi-ye Qa'ideh Nafi-ye 'Usr wa Haraj dar Abvab-e Feqhi wa Nesbat-e an ba Vazheh-haye Mosyabeh", hal. 54.
- ↑ Jannati, Advar-e Feqh wa Kaifiyyat-e Bayan-e an, 1374 HS, hal. 361.
- ↑ Syahinfard, "Gostareh-ye Mafhumi-ye Qa'ideh Nafi-ye 'Usr wa Haraj dar Abvab-e Feqhi wa Nesbat-e an ba Vazheh-haye Mosyabeh", hal. 50.
- ↑ Thabathabai Ha'iri, Riyadh al-Masail, 1418 H, jld. 5, hal. 485.
- ↑ Muhaqqiq Damad, Qawa'id-e Feqh, 1406 H, jld. 2, hal. 83.
- ↑ Misykini, Istilahat al-Ushul, 1371 HS, hal. 213.
- ↑ Syahinfard, "Gostareh-ye Mafhumi-ye Qa'ideh Nafi-ye 'Usr wa Haraj dar Abvab-e Feqhi wa Nesbat-e an ba Vazheh-haye Mosyabeh", hal. 52.
- ↑ Bojnourdi, Qawa'id-e Feqhiyyah, 1401 H, jld. 1, hal. 374; Haq-gouyan, "Mahiyyat wa Qalamraw-e Qa'ideh Nafi-ye 'Usr wa Haraj dar Feqh-e Imamiyyah", hal. 51.
- ↑ Alimuradi, "Qa'ideh Nafi al-'Usr wa al-Haraj", hal. 151.
- ↑ Makarim Syirazi, Kitab al-Nikah, 1424 H, jld. 5, hal. 94.
Daftar Pustaka
Alimuradi, Amanullah. "Qa'ideh Nafi al-'Usr wa al-Haraj". Feqh wa Mabani-ye Huquq, nomor 3, 1384 HS. Allamah Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-Arabi, 1368 HS. Bojnourdi, Hassan. al-Qawa'id al-Feqhiyyah. Tahqiq: Mahdi Mehrizi dan Muhammad Husain Darayati. Qom, Penerbit al-Hadi, 1377 HS. Bojnourdi, Sayid Muhammad. Qawa'id-e Feqhiyyah. Teheran, Muassasah Uruj, 1401 H. Fadhil Lankarani, Muhammad Jawad. Qa'ideh La Haraj. Taqrir dan pengaturan oleh Javad Husseini-khwah. Qom, Markaz-e Feqhi-ye Aimmeh Athar as, 1385 HS. Haq-gouyan, Alireza. "Mahiyyat wa Qalamraw-e Qa'ideh Nafi-ye 'Usr wa Haraj dar Feqh-e Imamiyyah". Mothale'at wa Tahqiqat dar Ulum-e Raftari, nomor 6, tahun ketiga, musim semi 1400 HS. Husseini Syirazi, Sayid Muhammad. al-Feqh, al-Qawa'id al-Feqhiyyah. Beirut, al-Markaz al-Tsaqafi al-Husseini, 1414 H. Jannati, Muhammad Ibrahim. Advar-e Feqh wa Kaifiyyat-e Bayan-e an. Teheran, Keyhan, 1374 HS. Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam. Farhang-e Feqh Mathabiq-e Madzhab-e Ahlulbait as. Di bawah pengawasan: Sayid Mahmoud Hashemi Shahroudi. Qom, Muassasah Dairah al-Ma'arif-e Feqh-e Eslami, 1395 HS. Makarim Syirazi, Nashir. al-Qawa'id al-Feqhiyyah. Qom, Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib as, 1370 HS. Makarim Syirazi, Nashir. Kitab al-Nikah. Qom, Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib as, 1424 H. Misykini, Ali. Istilahat al-Ushul. Qom, Penerbit al-Hadi, 1371 HS. Muhaqqiq Damad, Sayid Mustafa. Qawa'id-e Feqh. Teheran, Markaz-e Nasyr-e Ulum-e Eslami, 1406 H. Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh Atsar. Teheran, Sadra, 1389 HS. Naraqi, Ahmad bin Muhammad Mahdi. Awa'id al-Ayyam. Qom, Daftare Tablighat-e Eslami Hauzah Ilmiah Qom, 1375 HS. Sajjadi Amin, Mahdi. "Tabyin-e Mabani-ye Feqhi-ye Mo'atstser dar Tathbiq-e Qa'ideh-ye Nafi-ye 'Usr wa Haraj bar Masa'il-e Feqhi-ye Khanevadeh". Mothale'at-e Jensiyyat wa Khanevadeh, nomor 5, musim gugur dan musim dingin 1394 HS. Syahinfard, Khatereh, dkk. "Gostareh-ye Mafhumi-ye Qa'ideh Nafi-ye 'Usr wa Haraj dar Abvab-e Feqhi wa Nesbat-e an ba Vazheh-haye Mosyabeh". Mabani-ye Feqhi-ye Huquq-e Eslami, nomor 2, tahun kesepuluh, musim gugur dan musim dingin 1396 HS. Thabathabai Ha'iri, Sayid Ali. Riyadh al-Masail. Qom, Muassasah Alu al-Bait as, 1418 H. Valayi, 'Isa. Farhang-e Tasyrihi-ye Istilahat-e Ushul. Teheran, Ney, 1393 HS.