Lompat ke isi

Konsep:Insan Kamil

Dari wikishia

Insan Kamil adalah manusia yang telah terbiasa dengan Akhlak ilahi, manifestasi sempurna dari Asma dan Sifat Allah, serta dikenal sebagai cermin yang menampilkan Tuhan secara utuh. Dari sudut pandang irfan, manusia ini adalah khalifah mutlak Tuhan yang ilmunya terhadap syariat dan hakikat bersifat pasti, dan seluruh makhluk pada akhirnya ada demi keberadaannya. Teori ini terbentuk di bawah pengaruh tokoh-tokoh seperti Husain bin Mansyur al-Hallaj dan Ibnu Arabi, serta dipaparkan secara luas dalam karya-karya mereka, termasuk Fariduddin Attar dan Ibnu Arabi.

Dalam Al-Qur'an, istilah "Insan Kamil" tidak disebutkan secara eksplisit, namun konsep-konsep yang berkaitan dengannya terdapat dalam kata-kata seperti "Khalifatullah", "Imam", "Muthahhar" (yang disucikan), dan lain-lain. Para mufasir Al-Qur'an melihat Insan Kamil pertama kali pada keberadaan para nabi, khususnya Nabi Muhammad saw, dan setelah beliau pada keberadaan para Imam as sebagai manifestasi dari Ism Azham dan jalan untuk mengenal Tuhan. Dalam riwayat-riwayat Islam juga, konsep-konsep seperti penciptaan manusia atas rupa ilahi dan pengenalan Tuhan melalui pengenalan diri (nafsi), merupakan dasar-dasar teori Insan Kamil. Mulla Sadra dalam Syarh Ushul al-Kafi meyakini bahwa Imam sebagai Insan Kamil adalah penyebab kelangsungan bumi dan penghuninya.

Fungsi-fungsi Insan Kamil dalam sistem eksistensi meliputi pengenalan Tuhan secara sempurna, membimbing umat manusia, kekhalifahan ilahi, dan tasarruf (kendali) di alam semesta. Karena kedudukannya sebagai manifestasi asma dan sifat ilahi, manusia ini menjadikan makrifat kepada al-Haq hanya mungkin dicapai melaluinya. Selain itu, sebagai mursyid (pembimbing), ia memahami ilmu-ilmu lahiriah maupun batiniah, dan menjalankan kekhalifahan ilahi melalui kedekatan (qurb) dan kefanaan di dalam al-Haq. Insan Kamil mampu mengendalikan sistem eksistensi karena memiliki sifat-sifat ilahi, sehingga makhluk-makhluk di alam semesta tunduk di bawah kehendaknya.

Terminologi dan Sejarah

Insan Kamil dikenal dengan berbagai julukan seperti "Kaun Jami'", "Quthb al-Alam", "Khalifah", "Imam", "Iksir Azham", "Dana" (Si Bijak), "Mahdi", "Pishva" (Pemimpin), dan "Hadi" (Pemberi Petunjuk).[1] Manusia ini, yang berhias dengan akhlak ilahi, diperkenalkan sebagai tujuan akhir (illat gha'i) penciptaan serta sebab bagi penciptaan dan keberlangsungan alam semesta. Ia adalah perwujudan dari nama komprehensif "Allah" dan bertindak sebagai perantara antara al-Haq dan makhluk. Menurut para peneliti, Insan Kamil adalah khalifah Allah yang tak terbantahkan, yang ilmunya terhadap syariat dan hakikat bersifat absolut.[2] Ia adalah manifestasi dari nama-nama indah Allah dan cermin sempurna yang memantulkan Tuhan.[3] Individu tersebut, yang memiliki perkataan, perbuatan, dan akhlak yang mulia, dikenal sebagai pemandu makhluk baik secara lahir maupun batin, dan telah menghimpun sifat-sifat ilahi dalam dirinya. Selain itu, ia telah mencapai kesatuan zat dengan identitas ilahi yang transenden dan, pada akhirnya, merupakan inti serta sari dari semua makhluk; sedemikian rupa sehingga makhluk-makhluk lain ada demi keberadaannya.[4]

Teori Insan Kamil dikenal sebagai sebuah teori antropologis independen dalam irfan Islam.[5] Dikatakan bahwa teori ini terbentuk di bawah pengaruh tokoh-tokoh seperti Husain bin Mansyur al-Hallaj dan Bayazid Bastami pada abad ketiga dan keempat Hijriah.[6] Hallaj, dengan menekankan bahwa "Tuhan menciptakan manusia atas rupa-Nya", meyakini penciptaan manusia yang menyerupai Tuhan.[7] Istilah "Insan Kamil" pertama kali digunakan dalam karya-karya Fariduddin AttarTemplat:Yad dan Ibnu Arabi.[8] Setelah Ibnu Arabi, murid-muridnya seperti Sadruddin Qunawi dan Azizuddin Nasafi juga membahas topik ini.[9] Selain itu, terdapat konsep serupa Insan Kamil dalam irfan Iran kuno yaitu Gayomard, yang dikenal sebagai manusia pertama.[10]

Yudaisme dan Teori Insan Kamil

Menurut para peneliti, dalam seluruh agama samawi, kesempurnaan manusia dimungkinkan melalui hubungan dengan Tuhan, yang memiliki segala kesempurnaan, dan melalui ketaatan kepada-Nya. Oleh karena itu, teori Insan Kamil dalam seluruh agama ini terbentuk di sekitar hubungan manusia dengan Tuhan.[11] Dalam Yudaisme, konsep ini dinyatakan dengan istilah-istilah seperti "Logos", "Adam Qadim", atau "Adam Ilwi" yang merujuk pada makhluk langit yang diciptakan Tuhan sesuai rupa-Nya dan diberi keutamaan atas seluruh makhluk. Insan kamil ini adalah manifestasi pertama Tuhan yang mencapai realitas tanpa ketergantungan pada pengajaran dan bertindak sebagai wakil Tuhan. Orang Yahudi meyakini bahwa semua manusia memiliki andil dalam karakteristik-karakteristik ini dalam derajat yang berbeda-beda[12] dan makhluk langit ini adalah pemilik segala kesempurnaan dan sebagai mikrokosmos (alam shoghir), ia menghimpun seluruh kekuatan makrokosmos (alam kabir) dalam bentuk kecil di dalam dirinya,[13] serta merupakan perantara dan sarana penciptaan makhluk.[14]

Kekristenan dan Teori Insan Kamil

Menurut keyakinan para peneliti, dalam Kekristenan, Yesus Kristus as adalah satu-satunya contoh nyata (mushadaq) Insan Kamil. Orang Kristen percaya bahwa manusia pada awalnya diciptakan menurut rupa dan gambar Allah serta memiliki karakteristik seperti akal, hati nurani, dan kehendak. Karakteristik-karakteristik ini memberikan keunggulan kepada manusia. Setelah dosa Adam as dan Hawa, keserupaan manusia dengan Allah menjadi rusak, namun Yesus as dengan sifat-sifat seperti maksum, kasih sayang, dan penyelamat berhasil mencapai kedudukan Insan Kamil.[15] Orang Kristen meyakini bahwa untuk mencapai kesempurnaan, mereka harus menyerahkan hati dan kehendak mereka kepada Tuhan serta beriman kepada Yesus Kristus. Menurut mereka, kesempurnaan akhlak di dunia ini tidak mungkin tercapai dan harus menunggu dunia setelah kematian.[16]

Insan Kamil dalam Pemikiran Ibnu Arabi

Ibnu Arabi memandang Insan Kamil sebagai "ruh alam", "khalifah Tuhan", dan manifestasi dari zat ilahi. Ia meyakini bahwa Tuhan menciptakan Insan Kamil untuk menyucikan cermin eksistensi dan merealisasikan kehendak-Nya.[17] Menurut keyakinan Ibnu Arabi, Insan Kamil mampu mengenal Tuhan dan menampakkan kesempurnaan-Nya karena memiliki akal, pikiran, dan spiritualitas. Insan kamil dapat mencakup seluruh manusia, bukan hanya nabi dan wali,[18] karena penciptaan manusia didasarkan pada fitrah ilahi.[19] Selain itu, perempuan pun dapat mencapai derajat Insan Kamil; ia merujuk pada wanita-wanita sempurna seperti Khadijah, Fatimah sa, Maryam, dan Asiyah.[20]

Ibnu Arabi memperkenalkan tingkatan-tingkatan kesempurnaan dan menganggap Nabi Muhammad saw sebagai yang paling sempurna (akmal), para nabi lainnya sebagai sempurna (kamil), dan para pewaris nabi sebagai khalifah yang sempurna. Ia menganggap wilayah sebagai salah satu karakteristik Insan Kamil dan melihat keberlanjutan kesempurnaan manusia pada para Quthb sufi dan Rijal al-Ghaib. Para arif Syiah juga memandang keberlanjutan Cahaya Muhammad tertuju pada Alu Muhammad dan para Imam Dua Belas.[21] Pandangan-pandangannya tentang Insan Kamil berlanjut dalam karya para pensyarah seperti Qunawi dan Nasafi, dan akhirnya Abdul Karim Jili mengumpulkannya dalam kitab Al-Insan al-Kamil.[22]

Kedudukan dalam Al-Qur'an dan Riwayat

Istilah "Insan Kamil" tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an, namun konsep-konsep yang berkaitan dengannya terdapat dalam beberapa kata Al-Qur'an seperti "Khalifatullah", "Imam", "Muthahhar", "Muhtadi", "Shiddiq", "Muqarrab", "Mushthafa", "Rasul", "Nabi", "Nafs Muthmainnah", "Mujtaba", dan lain-lain.Templat:Yad Para mufasir menisbatkan kata-kata ini kepada Insan Kamil dan mengaitkan ayat-ayat yang merujuk pada fadhilah kemanusiaan dengan konsep ini.[23] Menurut pendapat mereka, karena Insan Kamil adalah Al-Qur'an yang berbicara (nathiq), maka seluruh Al-Qur'an dapat dianggap sebagai tajali dari keberadaan tertulisnya. Ayat 29 Surah Al-Hijr, ayat 9 Surah As-Sajdah, ayat 72 Surah Shad, ayat 72 Surah Al-Ahzab, dan ayat 70 Surah Al-Isra' adalah beberapa ayat terpenting yang dirujuk dalam menjelaskan teori Insan Kamil dalam Al-Qur'an.[24]

Para mufasir dengan bersandar pada riwayat dan isyarat Al-Qur'an meyakini bahwa contoh nyata Insan Kamil pada awalnya muncul pada keberadaan beberapa nabi, khususnya Nabi Muhammad saw, dan setelah beliau berkaitan dengan teori Imamah dalam Syiah muncul pada keberadaan para Imam as.[25] Tokoh-tokoh ini diperkenalkan sebagai manifestasi dari Ism Azham dan jalan pengenalan Tuhan.[26]

Teori Insan Kamil juga digali dari riwayat-riwayat Islam. Secara khusus, pemikiran tentang penciptaan manusia atas rupa ilahiTemplat:Yad [27] serta riwayat "Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu" (Barangsiapa mengenal dirinya maka ia telah mengenal Tuhannya)[28] yang menganggap pengenalan Tuhan bergantung pada pengenalan nafsu manusia, merupakan dasar-dasar teori ini. Pengenalan ini hanya mungkin terjadi pada Insan Kamil yang memiliki kapasitas untuk mencapai kesempurnaan.[29] Mulla Sadra dalam Syarh Ushul al-Kafi meyakini bahwa Imam sebagai Insan Kamil adalah penyebab kelangsungan bumi dan penghuninya.[30]

Hikmah dan Urgensi

Hikmah dan urgensi keberadaan Insan Kamil dalam sistem eksistensi dianggap perlu karena beberapa alasan:

  • Sebab Puncak (Illat Gha'i) Penciptaan: Keberadaan alam semesta dianggap tidak mungkin tanpa Insan Kamil dengan bersandar pada Hadis Qudsi "Lawlaka lama khalaqtal aflak" (Jika bukan karenamu niscaya tidak Aku ciptakan cakrawala), dan tanpa keberadaannya, alam ini dianggap kurang dan terputus.[31]
  • Sumber Keluarnya Limpahan (Faidh) Ilahi: Keberadaan Insan Kamil menjadi sebab keluarnya faidih dari sumber keberadaan sebagaimana dalam Ziarah Jami'ah Kabirah dalam mensifati para Imam disebutkan: "Bikum fatahallahu wa bikum yakhtim" (Sebab kalian Allah membuka dan sebab kalian Dia menutup).
  • Maqam Khalifatullah: Berdasarkan banyak ayat Al-Qur'an, Allah menempatkan Insan Kamil sebagai wakil-Nya di bumi.[32]

Keutamaan dan Karakteristik

Dalam teks-teks irfani, bagi Insan Kamil disebutkan berbagai keutamaan dan karakteristik termasuk ruh eksistensi, manifestasi asma dan sifat Tuhan, ringkasan dari seluruh makhluk,[33] dan lain-lain, yang beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Ruh Eksistensi: Insan Kamil dianggap sebagai ruh bagi eksistensi dan alam semesta, alam yang laksana jasad baginya. Dari sudut pandang ini, Insan Kamil mengendalikan dan mengelola alam, dan jika ia tidak ada, alam akan kosong dari segala kesempurnaan.[34]
  • Manifestasi Asma dan Sifat Tuhan: Insan Kamil diperkenalkan sebagai khalifah Tuhan dan manifestasi sempurna dari asma dan sifat-sifat Allah serta nama komprehensif "Allah".[35] Ia sendirian dan dengan komprehensivitasnya telah menampilkan seluruh sifat keindahan (jamal) dan seluruh nama-nama-Nya yang indah.[36]
  • Ubudiyah dan Fana: Ubudiyah Insan Kamil dianggap sebagai ubudiyah mutlak, dalam artian ia telah keluar dari keakuan (ananiyah) dirinya dan telah fana dalam zat dan sifat Tuhan[37] serta mencapai maqam kesempurnaan pemutusan hubungan demi Tuhan (Ilahi hab li kamal al-inqitha' ilaika).[38]
  • Terpilih (Istifa'): Dalam Al-Qur'an, kedudukan sebagai orang pilihan (mushthafa) diberikan kepada Insan Kamil.[39]
  • Keesaan dan Kesatuan: Insan Kamil dari segi asal dan akarnya adalah satu hakikat yang diistilahkan sebagai Hakikat Muhammadiyah;[40] namun sesuai dengan tuntutan dan waktu yang berbeda, ia memiliki banyak manifestasi dan tajali dalam bentuk para nabi dan para wali yang maksum.[41] Al-Qur'an menganggap para nabi saling mendukung dan membenarkan satu sama lain[42] di mana tidak ada perbedaan di antara mereka,[43] meskipun contoh-contoh ini pun berdasarkan ayat Al-Qur'an sebagian memiliki keutamaan atas yang lain.[44]
  • Ilmu dan Kekuasaan: Insan Kamil sebagai khalifah Tuhan dianggap sebagai manifestasi dari dua nama Tuhan yaitu Alim (Maha Mengetahui) dan Qadir (Maha Kuasa). Atas dasar ini, sesuai ayat Al-Qur'an, jangkauan ilmunya menembus hingga batas informasi atas ghaib,[45] menyaksikan malakut,[46] mengetahui bahasa hewan-hewan lain,[47] dan seterusnya. Kekuasaannya pun diperluas hingga batas penciptaan (khalq)[48] dan menghidupkan orang mati[49] dan lain-lain.[50]

Fungsi-fungsi

Insan Kamil karya Murtadha Motahhari

Teori Insan Kamil dikemukakan dalam dua dimensi: teoretis dan praktis. Dalam dimensi praktis, dibahas tentang fungsi-fungsi Insan Kamil dalam sistem eksistensi dan perannya dalam kesempurnaan salik. Di antara fungsi-fungsi ini:

  • Makrifat al-Haq: Pengenalan Tuhan secara sempurna hanya mungkin melalui Insan Kamil, karena ia adalah manifestasi komprehensif dari asma dan sifat Allah.[51]
  • Pemandu Manusia: Insan Kamil dikenal sebagai mursyid lahiriah dan batiniah manusia yang sempurna dalam ilmu syariat dan tarekat serta mengetahui penyakit-penyakit nafsu dan cara mengobatinya.[52]
  • Khilafah Ilahiyah: Kekhalifahan Insan Kamil dari sisi Tuhan disebabkan oleh kedekatan dan kefanaannya di dalam al-Haq yang mencakup sejenis Rububiyah dan Masyiah (kehendak).[53]
  • Tasarruf di Alam: Insan Kamil karena memiliki sifat-sifat ilahi, mempunyai kemampuan untuk mengendalikan (tasarruf) dan mengatur sistem eksistensi, dan makhluk-makhluk di alam semesta tunduk pada kehendaknya.[54]Templat:Yad

Monograf

Insan Kamil, Murtadha Motahhari. Buku Insan Kamil merupakan kumpulan dari tiga belas ceramah Ustadz Murtadha Motahhari pada bulan Ramadan tahun 1353 HS di masjid-masjid Teheran.

Catatan Kaki

  1. Nasafi, Al-Insan al-Kamil, 1386 HS, hlm. 75.
  2. Mayel Heravi, "Inshan-e Kamil", hlm. 373.
  3. Motahhari, Inshan-e Kamil, hlm. 4-5.
  4. Ibnu Arabi, Al-Futuhat, 1405 H, jld. 13, hlm. 129; Nasafi, Al-Insan al-Kamil, 1386 HS, hlm. 357 dan 269.
  5. Syakir dan Musawi, "Qera'ati beina Adyani az Inshan-e Kamil ba Rouikerd-e Irfani", hlm. 26.
  6. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 134.
  7. Afifi, Syrahi bar Fushush al-Hikam, 1380 HS, hlm. 43.
  8. Ibnu Arabi, Al-Futuhat, 1410 H, jld. 13, hlm. 129; Qaisari, Syarh Fushush al-Hikam, 1370 HS, hlm. 38.
  9. Nasafi, Al-Insan al-Kamil, 1386 HS.
  10. Mayel Heravi, "Inshan-e Kamil", hlm. 373.
  11. Syakir dan Musawi, "Qera'ati beina Adyani az Inshan-e Kamil ba Rouikerd-e Irfani", hlm. 20-23.
  12. Hick, Ostoureh-ye Tajassod-e Khoda, 1386 HS, hlm. 222.
  13. Soleimani, Yudaisme, 1383 HS, hlm. 275.
  14. Haji Ebrahimi, "Irfan-e Yahudi va Maktab-e Gunosi".
  15. Thiessen, Elahiyat-e Masihi, Qom, hlm. 147-151; Stott, Mabani-ye Masihiyat, 1368 HS, hlm. 55.
  16. Syakir dan Musawi, "Qera'ati beina Adyani az Inshan-e Kamil ba Rouikerd-e Irfani", hlm. 23-24.
  17. Ibnu Arabi, Terjemahan Fushush al-Hikam, 1386 HS, hlm. 7-9.
  18. Syakir dan Musawi, "Qera'ati beina Adyani az Inshan-e Kamil ba Rouikerd-e Irfani", hlm. 29.
  19. Amuli, Jami' al-Asrar va Manba' al-Anwar, 1367 HS, hlm. 135-136.
  20. Qaisari, Syarh Fushush al-Hikam, 1375 HS, hlm. 121.
  21. Mayel Heravi, "Inshan-e Kamil", hlm. 377-378.
  22. Mayel Heravi, "Inshan-e Kamil", hlm. 378.
  23. Mulla Sadra, Tafsir al-Qur'an al-Karim, jld. 4, hlm. 407-408; Qaisari, Syarh Fushush al-Hikam, hlm. 362.
  24. Mayel Heravi, "Inshan-e Kamil", hlm. 374.
  25. Ibnu Arabi, Tafsir Ibnu Arabi, 1422 H, jld. 1, hlm. 209; Faidh Kasyani, Al-Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 1, hlm. 91-92; Thayib, Ath-thayib al-Bayan, 1378 HS, jld. 12, hlm. 370; Borujerdi, Tafsir Jame', 1366 HS, jld. 1, hlm. 106; Khomeini, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1418 H, jld. 2, hlm. 378.
  26. Mulla Sadra, Syarh Ushul al-Kafi, 1383 HS, jld. 4, hlm. 156.
  27. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 134.
  28. Mishbah al-Syari'ah, dinisbatkan kepada Imam Ja'far ash-Shadiq as, 1400 H, hlm. 13.
  29. Syakir dan Musawi, "Qera'ati beina Adyani az Inshan-e Kamil ba Rouikerd-e Irfani", hlm. 33-34.
  30. Mulla Sadra, Syarh Ushul al-Kafi, 1383 HS, jld. 2, hlm. 502.
  31. Mulla Sadra, Syarh Ushul al-Kafi, 1383 HS, jld. 3, hlm. 435; Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Alu Abi Thalib, 1412 H, jld. 1, hlm. 186.
  32. Ramadhani, "Inshan-e Kamil", hlm. 512.
  33. Nasafi, Al-Insan al-Kamil, 1386 HS, hlm. 441.
  34. Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, 1400 H, hlm. 50.
  35. Ibnu Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyah, 1410 H, jld. 13, hlm. 100.
  36. Mulla Sadra, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1366 HS, jld. 2, hlm. 313.
  37. Qaisari, Syarh Fushush al-Hikam, 1375 HS, hlm. 338-339.
  38. Ibnu Thawus, Al-Iqbal al-A'mal, 1390 H, jld. 2, hlm. 299.
  39. Surah Ali Imran, ayat 33; Surah Al-An'am, ayat 86-87; Surah Shad, ayat 45-46; Surah Al-Ahzab, ayat 33.
  40. Al-Ghaffari, Mishbah al-Uns, 1416 H, hlm. 338-339; Imam Khomeini, Mishbah al-Hidayah, 1376 HS, hlm. 25.
  41. Qaisari, Syarh Fushush al-Hikam, 1375 HS, hlm. 128.
  42. Surah Ash-Shaff, ayat 6.
  43. Surah Al-Baqarah, ayat 285.
  44. Surah Al-Baqarah, ayat 253.
  45. Surah Al-Jin, ayat 26-27.
  46. Surah Al-An'am, ayat 75.
  47. Surah An-Naml, ayat 16.
  48. Surah Ali Imran, ayat 49.
  49. Surah Ali Imran, ayat 49.
  50. Hasanzadeh Amuli, Inshan-e Kamil az Didgah-e Nahj al-Balaghah, Qom, hlm. 79; Ramadhani, "Inshan-e Kamil", hlm. 508-509.
  51. Ibnu Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyah, 1410 H, jld. 4, hlm. 132; Jili, Al-Insan al-Kamil fi Ma'rifah al-Awakhir va al-Awa'il, 1418 H, hlm. 31.
  52. Amuli, Nass al-Fushush dar Syarh Fushush al-Hikam, 1375 HS, hlm. 441.
  53. Ibnu Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyah, 1410 H, jld. 1, hlm. 92.
  54. Majlisi, Bihar al-Anwar, Penerbit: Dar al-Ridha, jld. 33, hlm. 58.

Daftar Pustaka

  • Al-Ghaffari, Muhammad bin Hamzah. Mishbah al-Uns. Atas usaha Mohammad Khwajawi. Teheran, Penerbit Moula, 1416 H.
  • Amidi. Abkar al-Afkar fi Ushul al-Din. 1423 H.
  • Amuli, Sayid Haidar. Jami' al-Asrar va Manba' al-Anwar. Teheran, Intisyarat-e Ilmi Farhangi, 1367 HS.
  • Amuli, Sayid Haidar. Nass al-Nushush fi Syarh Fushush al-Hikam. Teheran, Tous, 1367 HS.
  • Borujerdi, Sayid Muhammad Ibrahim. Tafsir Jame'. Teheran, Penerbit Sadr, 1366 HS.
  • Gili, Abdul Karim bin Ibrahim. Al-Insan al-Kamil fi Ma'rifah al-Awakhir va al-Awa'il. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1418 H.
  • Haji Ebrahimi, Tahereh. "Irfan-e Yahudi va Maktab-e Gunosi", Jurnal Triwulanan Haft Asman, nomor 17.
  • Hasanzadeh Amuli, Hasan. Inshan-e Kamil az Didgah-e Nahj al-Balaghah. Qom, Penerbit Qiyam, tanpa tahun.
  • Hick, John. Ostoureh-ye Tajassod-e Khoda. Penerjemah: Abdul Rahim Soleimani dan Muhammad Hasan Mohammadi. Qom, Markaz Mutala'at va Pazhouhesy-ha-ye Adyan va Madzahib, 1386 HS.
  • Ibnu Arabi, Muhyiddin. Al-Futuhat al-Makkiyah. Kairo, Al-Hai'ah al-Mashriyah al-Ammah lil Kitab, 1405 H.
  • Ibnu Arabi, Muhyiddin. Matn va Tarjomeh-ye Fushush al-Hikam. Penerjemah: Mohammad Khwajavi. Teheran, Penerbit Moula, 1387 HS.
  • Ibnu Arabi, Muhyiddin. Tafsir Ibnu Arabi. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1422 H.
  • Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali. Manaqib Alu Abi Thalib. Beirut, Dar al-Adhwa', 1412 H.
  • Ibnu Thawus, Ali bin Musa. Al-Iqbal al-A'mal. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1390 H.
  • Imam Khomeini, Ruhullah. Mishbah al-Hidayah ila al-Khilafah va al-Wilayah. Atas usaha Ashtiani. Teheran, Lembaga Pengaturan dan Publikasi Karya Imam Khomeini, 1376 HS.
  • Khomaeni, Mushthafa. Tafsir al-Qur'an al-Karim. Teheran, Lembaga Pengaturan dan Publikasi Karya Imam Khomeini, 1418 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Mayel Heravi. "Inshan-e Kamil".
  • Mishbah al-Syari'ah, dinisbatkan kepada Imam Ja'far ash-Shadiq as. Beirut, Penerbit Al-A'lami, 1400 H.
  • Motahhari, Murtadha. Inshan-e Kamil. Qom, Penerbit Islami, 1364 HS.
  • Motahhari, Murtadha. Majmu'ah Atsar. 1389 HS.
  • Mulla Sadra, Muhammad bin Ibrahim. Syarh Ushul al-Kafi. Koreksi: Mohammad Khwajavi. Teheran, Lembaga Studi dan Penelitian Budaya, 1383 HS.
  • Mulla Sadra, Muhammad bin Ibrahim. Tafsir al-Qur'an al-Karim. Qom, Bidar, 1366 HS.
  • Nasafi, Azizuddin. Al-Insan al-Kamil. Pendahuluan: Henry Corbin. Penerjemah: Dhiya'uddin Dehshiri. Teheran, Penerbit Tahouri, 1386 HS.
  • Qaisari, Dawud bin Mahmoud. Syarh Fushush al-Hikam. Peneliti: Sayid Jalaluddin Ashtiani. Teheran, Amirkabir, 1370 HS.
  • Qaisari, Dawud. Syarh Fushush al-Hikam. Teheran, Intisyarat-e Ilmi va Farhangi, 1375 HS.
  • Qunawi, Sadruddin. Miftah al-Ghaib va Syrahuhu Mishbah al-Uns. 1381 HS.
  • Syakir, Mohammad Kazim dan Fatima Musawi. "Qera'ati beina Adyani az Inshan-e Kamil ba Rouikerd-e Irfani", Elahiyat-e Tathbiqi, nomor 4, 1389 HS.
  • Soleimani Ardestani, Abdul Rahim. Yudaisme. Qom, Asosiasi Ma'arif Islami, 1383 HS.
  • Stott, John. Mabani-ye Masihiyat. Penerjemah: Robert Asserian. Teheran, Hayat-e Abadi, 1368 HS.
  • Thayib, Abdul Husain. Ath-thayib al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Penerbit Islam, 1378 HS.
  • Thiessen, Henry. Elahiyat-e Masihi. Teheran, Hayat-e Abadi.

Pranala Luar

Templat:Irfan Islam

Templat:Pemeringkatan