Lompat ke isi

Konsep:Ghilman

Dari wikishia

Templat:Eskatologi-Vertikal Ghilman adalah sebuah istilah Al-Qur'ani[1] bermakna remaja-remaja tampan[2] yang melayani para penghuni surga.[3] Kata ini muncul satu kali dalam Ayat 24 Surah ath-Thur. Menurut para mufasir, yang dimaksud dengan kata wildan (anak-anak muda) dalam Ayat 19 Surah al-Insan dan Ayat 17 Surah al-Waqi'ah adalah ghilman yang sama.[4] Selain itu, dari lahiriah ayat-ayat ini tampak bahwa remaja-remaja penghuni surga yang tampan ini diciptakan semata-mata untuk melayani para penghuni surga.[5]

Para mufasir berbeda pendapat mengenai apakah ghilman merupakan makhluk asli surga ataukah manusia bumi yang berada dalam ciptaan baru untuk melayani penghuni surga. Sebagian meyakini bahwa ghilman adalah anak-anak kaum kafir yang tidak memiliki amal baik untuk mendapatkan pahala dan tidak pula memiliki dosa untuk dihukum. Dari Imam Ali (as) juga dinukil sebuah riwayat bahwa anak-anak kaum musyrik yang meninggal sebelum mencapai usia taklif akan menjadi pelayan para penghuni surga.[6] Allamah Tabataba'i juga menganggap ghilman sebagaimana Hurul 'In sebagai makhluk surgawi yang menurut ayat-hal Al-Qur'an, karena saking indahnya, mereka dijaga bagaikan mutiara yang tersimpan dalam wadah perbendaharaan.[7]

Amirul Mukminin (as) dalam penggalan sebuah riwayat panjang mengenai peristiwa-peristiwa setelah kematian, mensifati ghilman sedemikian rupa bahwa remaja-remaja bagaikan mutiara akan berkeliling di sekitar kalian di surga, dengan piala berisi minuman keras yang bening, putih, dan bersinar, yang memberikan kelezatan bagi para peminumnya.[8]

Mulla Sadra menganggap hakikat ghilman dan hurul 'in di surga sebagai tajali (manifestasi) dari amal-amal baik para penghuni surga yang tampak dalam bentuk-bentuk yang indah dan melezatkan di surga. Ia berkeyakinan bahwa sebagaimana azab-azab kiamat merupakan hakikat dari amal penghuni neraka, maka kelezatan surga pun merupakan hakikat dari amal baik para penghuni surga.[9] Beberapa penulis juga meyakini bahwa ungkapan "lu'lu'un maknun" (mutiara yang tersimpan) dalam Al-Qur'an mengacu pada kesegaran jiwa dan keindahan wajah para ghilman yang mengekspresikan keindahan Tuhan dan tidak ada kaitannya dengan masalah syahwat maupun seksual. Dari sudut pandang ini, kelezatan surgawi hanya bersifat spiritual dan bercahaya, serupa dengan kelezatan yang dirasakan manusia saat melihat keindahan sebuah bunga.[10]

Catatan Kaki

  1. Surah ath-Thur, ayat 24.
  2. Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, 1411 H, jld. 12, hlm. 440.
  3. Surah ath-Thur, ayat 24.
  4. Qurasyi, Qamus Qur'an, 1367 HS, jld. 7, hlm. 244.
  5. Thayyib, Athiyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 12, hlm. 302.
  6. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 327.
  7. Tabataba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 19, hlm. 14.
  8. Syekh Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 652.
  9. Mulla Sadra, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1366 HS, jld. 5, hlm. 188.
  10. "Maqshad az Lu'lu'un Maknun dar Qur'an-e Karim", Situs Maktab-e Wahy.

Daftar Pustaka

  • Al-Qur'an Al-Karim.
  • Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukram, Lisan al-Arab, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1411 H.
  • Mulla Sadra, Muhammad bin Ibrahim, Tafsir al-Qur'an al-Karim, Qom, Penerbit Bidar, cetakan kedua, 1366 HS.
  • Qurasyi, Ali Akbar, Qamus Qur'an, Tehran, Islamiyah, 1367 HS.
  • Tabataba'i, Sayid Muhammad Husain, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, Qom, Daftar Entesharat-e Eslami, 1417 H.
  • Thabrasi, Fadhl bin Hasan, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Tehran, Nasser Khosrow, 1372 HS.
  • Thayyib, Sayid Abdul Husain, Athiyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Tehran, Penerbit Islam, 1378 HS.
  • "Maqshad az Lu'lu'un Maknun dar Qur'an-e Karim", Situs Maktab-e Wahy, tanggal kunjungan: 8 Bahman 1404 HS.

Templat:Surga Templat:Istilah Al-Qur'an

Templat:درجه‌بندی