Konsep:Daylamiyan
| Perlawanan terhadap Bani Umayyah dan Abbasiyah, mendirikan Alu Buwaih | |
|---|---|
| Nama | Daylamiyan |
| Bercabang dari | Ras asli Iran |
| Agama | Islam (Mayoritas Syiah) |
| Tempat menetap | Gilan (Pegunungan, sekitar Rudbar dan Manjil) |
| Peristiwa penting | Masuknya Islam melalui Nashir al-Uthrush |
| Akhir nasib | Bersatu dengan orang-orang Gil |
| Nama pemerintahan | Alu Buwaih, Alu Ziyar, Alu Jostan, Bani Musafir |
| Tokoh terkenal | Wabar bin Yuhannas, Firuz Daylami, Nafi' Daylami, Hammad al-Rawiyah, Yahya bin Ziyad al-Daylami |
Daylamiyan merupakan salah satu penduduk asli Iran yang memiliki pengaruh signifikan dalam penyebaran ajaran Syiah. Dinasti Alu Buwaih, yang pernah memerintah sebagian besar wilayah Dunia Islam, bermula dari kaum ini. Mereka mendiami kawasan pegunungan yang kini menjadi bagian dari Provinsi Gilan. Secara historis, bangsa ini sempat menolak kehadiran agama Islam untuk waktu yang lama dan gigih melakukan perlawanan terhadap kekhalifahan Bani Umayyah maupun Bani Abbasiyah. Kendati demikian, sekelompok dari mereka akhirnya memeluk Islam setelah bermigrasi ke wilayah-wilayah Muslim. Dalam berbagai literatur sejarah, tokoh-tokoh seperti Wabar bin Yuhannas, Daylam bin Firuz, dan Firuz Daylami tercatat sebagai Sahabat Nabi saw.
Akibat kondisi geografisnya yang terjal dan sulit dijangkau, serta lemahnya kendali dari penguasa Umayyah dan Abbasiyah, wilayah Daylam menjelma menjadi tempat pelarian sekaligus tujuan migrasi yang ideal bagi kaum Alawiyin. Gelombang migrasi kaum Alawiyin yang terjadi pada Abad ke-2/ke-8 membuka jalan bagi masyarakat setempat untuk mengenal agama Islam dan ajaran Syiah. Pasca-kesyahidan Imam Ridha as dan selama masa pemerintahan Mutawakkil Abbasi, jumlah kaum Alawiyin yang bermigrasi ke wilayah ini semakin meningkat pesat. Memasuki abad ke-4/ke-10, kehadiran Nashir al-Uthrush al-Alawi yang giat berdakwah membawa perubahan besar, di mana mayoritas kaum Daylamiyan akhirnya memeluk Islam dan menganut mazhab Syiah.
Kawasan ini juga melahirkan sejumlah ulama dan cendekiawan terkemuka, di antaranya Nafi' Daylami (pakar ilmu Hadis), Hammad al-Rawiyah (sejarawan), Yahya bin Ziyad al-Daylami atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Farra'" (pakar Ilmu Nahwu), dan Kushyar Daylami (pakar astronomi). Adapun masyarakat Gilan modern saat ini diyakini sebagai keturunan dari asimilasi dua kabilah utama, yakni kabilah Gil dan Daylamiyan.
Posisi Geografis
Kaum Daylamiyan merupakan penduduk asli Iran[1] dan diakui sebagai salah satu kabilah yang masyhur serta berpengaruh di negara tersebut.[2] Mereka menetap di wilayah yang kini dikenal sebagai Provinsi Gilan, atau menurut pandangan sebagian sejarawan, berpusat di sebuah kawasan kecil di sekitar Rudbar dan Manjil yang bertetangga langsung dengan permukiman masyarakat Gil.[3] Sejumlah peneliti membagi wilayah historis Daylam ke dalam dua bentang alam utama: dataran rendah (jalgeh) dan pegunungan. Wilayah dataran rendah umumnya dihuni oleh orang-orang Gil, sementara kawasan pegunungan didominasi oleh kaum Daylamiyan.[4]
Sebelum Islam
Catatan historis mengenai eksistensi kaum Daylamiyan sebelum era Kekaisaran Sasanian terbilang sangat minim.[5] Namun, pada masa pemerintahan Sasanian, mereka tercatat turut membantu Saif bin Dzi Yazan dalam upaya merebut kembali Yaman dari kekuasaan Habsyi. Selain itu, dilaporkan pula bahwa terdapat sekitar empat ribu orang Daylam yang bermukim di ibu kota pemerintahan Khosrow Parviz, di mana mereka diangkat sebagai abdi dalem dan orang kepercayaan raja.[6]
Setelah Islam
Pada masa awal kedatangan Islam, kaum Daylamiyan tercatat sebagai kelompok yang memberikan perlawanan paling sengit dan menolak ajaran Islam untuk jangka waktu yang cukup lama.[7] Pasukan Muslim tercatat melancarkan beberapa kali ekspedisi militer ke wilayah ini,[8] namun akibat medan pegunungan yang ekstrem dan berbagai faktor lainnya, penaklukan secara total tidak pernah berhasil diwujudkan.[9] Serangkaian invasi militer yang dikerahkan oleh kekhalifahan Bani Umayyah maupun Bani Abbasiyah untuk mengislamkan mereka pun selalu berujung pada kegagalan.[10]
Lebih dari itu, kaum Daylamiyan tidak pernah menjalin kesepakatan damai dengan pemerintahan Bani Umayyah maupun Bani Abbasiyah dan senantiasa mengobarkan perlawanan.[11] Dalam banyak peristiwa, mereka secara aktif mendukung pergerakan kaum Alawiyan di Tabaristan dalam menghadapi pasukan pemerintah pusat.[12] Kondisi ini menjadikan penumpasan kaum Daylamiyan dan pencegahan serangan mereka sebagai salah satu tugas paling krusial bagi para gubernur yang ditugaskan di wilayah Jibal.[13] Pada masa tersebut, masyarakat Daylam dipandang sebagai ancaman serius bagi umat Muslim dan secara yurisprudensi diklasifikasikan sebagai Kafir Harbi.[14]
Penerimaan Islam
Memasuki Abad ke-2/ke-8, interaksi sosial serta kebijakan pemberian suaka kepada kaum Alawiyin mulai membuka jalan bagi masyarakat Daylamiyan untuk mengenal agama Islam dan ajaran Syiah.[15] Berkat upaya dakwah yang intensif dari para pemimpin Zaidiyah seperti Hasan bin Zaid,[16] Muhammad bin Zaid, serta Nashir al-Uthrush, kaum ini akhirnya berbondong-bondong memeluk Islam.[17] Kendati demikian, wilayah ini tetap bertahan sebagai basis pertahanan bagi kelompok-kelompok penentang kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah untuk waktu yang lama.[18]
Jauh sebelum kedatangan kaum Alawiyin, segelintir orang Daylam yang bermigrasi ke wilayah Islam telah lebih dahulu mengucapkan syahadat;[19] termasuk sebuah detasemen pasukan khusus raja Iran pada Perang Qadisiyah. Pasca-kekalahan mereka dalam pertempuran tersebut, kelompok ini menyerahkan diri, memeluk Islam, dan kemudian menetap di Kufah. Kelompok mualaf ini secara historis dikenal dengan sebutan Hamra Daylam.[20]
Kehadiran Nashir al-Uthrush
Templat:Utama Pada awal abad ke-4/ke-10, seorang keturunan Imam Hasan as bernama Hasan bin Ali bin Muhammad, yang masyhur dengan gelar Nashir al-Uthrush, melakukan perjalanan ke wilayah Daylam. Pada tahun 301/913-14, ia menginisiasi perlawanan terhadap otoritas lokal, berhasil mendirikan sebuah pemerintahan baru, dan secara masif mengajak penduduk setempat untuk memeluk Islam.[21] Berbagai literatur sejarah mengonfirmasi bahwa pada periode inilah mayoritas penduduk Daylam secara resmi menjadi Muslim.[22]
Perlindungan Bagi Kaum Alawiyin
Didorong oleh kecintaan masyarakat Daylam terhadap keluarga Nabi (Ahlulbait) serta didukung oleh topografi pegunungan yang sulit ditembus, wilayah ini menjelma menjadi tempat persembunyian paling aman bagi kaum Alawiyin.[23] Tokoh Alawi pertama yang tercatat mencari suaka ke Daylam adalah Yahya bin Abdullah bin Hasan, yang melarikan diri pasca-tragedi berdarah Peristiwa Fakh.[24] Ia sukses menghimpun kekuatan politik dan menggalang pengikut dari berbagai kota, namun pada akhirnya ia tertangkap melalui tipu muslihat Harun Abbasi lalu dijebloskan ke dalam bui[25] hingga wafat di sana.[26]
Pasca-kesyahidan Imam Ridha as, gelombang eksodus para Sayid ke wilayah Daylam meningkat pesat demi menghindari persekusi dan penangkapan oleh penguasa Abbasiyah.[27] Kendati demikian, puncak eksodus dan migrasi massal para Sayid ke wilayah ini baru terjadi pada era kepemimpinan Mutawakkil Abbasi.[28] Kelak pada abad ke-8/ke-14, keturunan para Sayid inilah yang memelopori berdirinya pemerintahan Bani Kiya di wilayah Gilan.[29]
Mazhab Syiah
Sejak pertama kali memeluk Islam, kaum Daylamiyan secara kolektif berafiliasi dengan mazhab Syiah.[30] Di antara berbagai cabang Syiah, Zaidiyah tampil sebagai sekte pertama yang paling dominan, utamanya berkat pengaruh kuat dakwah Nashir al-Uthrush. Namun, seiring dengan masifnya aktivitas penyebaran ajaran oleh Abu Hatim Razi dan Hasan Sabbah, sekte Ismailiyah juga perlahan-lahan mulai menarik banyak pengikut.[31] Sementara itu, penyebaran mazhab Imamiyah diinisiasi oleh putra-putra Nashir al-Uthrush yang merupakan penganut Syiah Imamiyah. Seiring berjalannya waktu, mazhab ini berkembang pesat hingga akhirnya menjadi keyakinan mayoritas masyarakat Daylam.[31]
Sahabat dan Ulama
Wabar bin Yuhannas secara luas diakui sebagai orang Daylam pertama yang memeluk agama Islam.[32] Ia bahkan mendapat kehormatan diutus secara langsung oleh Rasulullah saw ke wilayah Yaman untuk berdakwah.[33] Tokoh lain, yakni Daylam bin Firuz, juga tercatat dalam daftar Sahabat Nabi saw, dan terdapat sejumlah riwayat hadis yang bersumber darinya.[34] Hal yang sama berlaku bagi Firuz Daylami, sosok pemberani yang berhasil menumpas nabi palsu Aswad Ansi, yang juga dihitung ke dalam barisan sahabat Rasulullah saw.[35]
Wilayah ini juga melahirkan jajaran ulama dan cendekiawan terkemuka, di antaranya adalah Nafi' Daylami (w. 117/735) yang merupakan seorang pakar ilmu Hadis, Hammad bin Abi Laila Daylami alias "Hammad al-Rawiyah" (w. 156/772-73) yang mempuni di bidang sejarah, serta Yahya bin Ziyad al-Daylami (w. 203/818-19) yang lebih dikenal dengan julukan "Farra'". Farra' adalah penulis mahakarya tafsir Ma'ani al-Qur'an[36] sekaligus seorang pakar ilmu nahwu yang disegani.[37] Tokoh penting lainnya meliputi Kushyar Daylami, seorang astronom ternama pada abad ke-4/ke-10, serta Mahyar Marzuyeh Daylami, seorang penyair terkemuka yang bersyahadat dan memeluk Islam di bawah bimbingan Sayid Radhi pada tahun 392/1001-02.[38]
Pemerintahan
Secara politis, kawasan Daylam sempat dikuasai oleh sejumlah pemerintahan dan dinasti lokal seperti Alu Ziyar, Alu Jostan, dan Bani Musafir. Beberapa di antara dinasti ini bahkan sukses mengekspansi pengaruh dan wilayah kekuasaan mereka hingga melampaui batas geografis Daylam.[31]
Alu Buwaih
Templat:Utama Dinasti Alu Buwaih (322/934 - 447/1055), yang memiliki akar nasab dari klan Daylamiyan,[39] sukses mendirikan imperium bermazhab Syiah yang membentang luas mencakup wilayah Iran, Irak, Jazirah, dan Syam.[40] Dinasti ini memiliki andil yang sangat fundamental dalam mengonsolidasikan ajaran Syiah beserta syiar-syiarnya, seperti melembagakan peringatan duka cita Imam Husain as pada momentum Hari Asyura,[41] menyelenggarakan perayaan Idul Ghadir secara terpusat,[42] serta memugar dan merestorasi makam para Imam as. Hegemoni kekuasaan dinasti ini pada akhirnya tumbang pada tahun 447/1055 akibat invasi militer pasukan Seljuk.[43]
Akhir Nasib
Sebagai sebuah entitas etnis, kaum Daylamiyan tetap bertahan sebagai suku yang independen dan terpisah dari suku Gil setidaknya hingga memasuki abad ke-8/ke-14. Namun seiring berlalunya waktu, sisa-sisa populasi kaum ini mulai berbaur dan berasimilasi secara komprehensif dengan masyarakat Gil. Oleh sebab itu, penduduk etnis Gilak pada era modern saat ini merupakan keturunan langsung dari peleburan kedua kabilah bersejarah tersebut.[44]
Lihat Juga
Catatan Kaki
- ↑ Faqihi, Chegunegi-ye Farmanrava'i-ye Adhud al-Daulah Daylami, 1373 HS, hlm. 13; Faqihi, Tarikh-e Alu Buwaih, 1378 HS, hlm. 1.
- ↑ Ashabi Damghani, Tarikh-e Entesyare-e Tasyayyu' dar Iran, 1350 HS, hlm. 45.
- ↑ Faqihi, Tarikh-e Alu Buwaih, 1378 HS, hlm. 1.
- ↑ Istakhri, al-Masalik wa al-Mamalik, Beirut, hlm. 204.
- ↑ Faqihi, Tarikh-e Alu Buwaih, 1378 HS, hlm. 1.
- ↑ Baladzuri, Futuh al-Buldan, 1988 H, hlm. 275.
- ↑ Amin, Partovi az Tarikh-e Tasyayyu', 1385 HS, hlm. 93.
- ↑ Syariati Foulai, Hukumat-e Syi'i-ye Al-e Kiya dar Gilan, 1388 HS, hlm. 45-47.
- ↑ Syariati Foulai, Hukumat-e Syi'i-ye Al-e Kiya dar Gilan, 1388 HS, hlm. 44.
- ↑ Amin, Partovi az Tarikh-e Tasyayyu', 1385 HS, hlm. 93.
- ↑ Faqihi, Chegunegi-ye Farmanrava'i-ye Adhud al-Daulah Daylami, 1373 HS, hlm. 14.
- ↑ Faqihi, Tarikh-e Alu Buwaih, 1378 HS, hlm. 3.
- ↑ Syariati Foulai, Hukumat-e Syi'i-ye Al-e Kiya dar Gilan, 1388 HS, hlm. 44.
- ↑ Syariati Foulai, Hukumat-e Syi'i-ye Al-e Kiya dar Gilan, 1388 HS, hlm. 45.
- ↑ Faqihi, Chegunegi-ye Farmanrava'i-ye Adhud al-Daulah Daylami, 1373 HS, hlm. 14.
- ↑ Hasan bin Zaid melakukan upaya keras untuk mengislamkan Daylamiyan. Ia memerintahkan para pejabatnya untuk mengikuti Al-Qur'an serta sunnah Nabi saw dan Imam Ali as, serta menyebarkan syiar-syiar Syiah di seluruh wilayah kekuasaannya. (Syariati Foulai, Hukumat-e Syi'i-ye Al-e Kiya dar Gilan, 1388 HS, hlm. 51.)
- ↑ Syakir, Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran, Tehran, hlm. 113.
- ↑ Faqihi, Chegunegi-ye Farmanrava'i-ye Adhud al-Daulah Daylami, 1373 HS, hlm. 15.
- ↑ Faqihi, Chegunegi-ye Farmanrava'i-ye Adhud al-Daulah Daylami, 1373 HS, hlm. 17.
- ↑ Baladzuri, Futuh al-Buldan, 1988 H, hlm. 275.
- ↑ Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 457-458.
- ↑ Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 4, hlm. 217.
- ↑ Syariati Foulai, Hukumat-e Syi'i-ye Al-e Kiya dar Gilan, 1388 HS, hlm. 49.
- ↑ Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 390.
- ↑ Laitsi, Jihad-e Syi'eh dar Doure-ye Avval-e Abbasi, 1384 HS, hlm. 347.
- ↑ Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hlm. 408.
- ↑ Syariati Foulai, Hukumat-e Syi'i-ye Al-e Kiya dar Gilan, 1388 HS, hlm. 49.
- ↑ Faqihi, Chegunegi-ye Farmanrava'i-ye Adhud al-Daulah Daylami, 1373 HS, hlm. 19-20.
- ↑ Jafarian, Atlas-e Syi'eh, 1379 HS, hlm. 278.
- ↑ Faqihi, Chegunegi-ye Farmanrava'i-ye Adhud al-Daulah Daylami, 1373 HS, hlm. 16.
- ↑ 31,0 31,1 31,2 Untuk informasi lebih lanjut, lihat: Torkamani Azar, "Mazhab-e Daylamiyan dar Doure-ye Eslami", 1384 HS, hlm. 1-14.
- ↑ Faqihi, Tarikh-e Alu Buwaih, 1378 HS, hlm. 2.
- ↑ Ibnu Sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 6, hlm. 62; Ibnu Hajar, al-Ishabah, 1415 H, jld. 6, hlm. 468.
- ↑ Ibnu Hajar, al-Ishabah, 1415 H, jld. 2, hlm. 328.
- ↑ Safaviye dar Arse-ye Din, Farhang va Siyasat, jld. 1, hlm. 443.
- ↑ Agha Bozorg Tehrani, Mushannafat-e Syi'eh, 1372 HS, jld. 2, hlm. 116.
- ↑ Faqihi, Tarikh-e Alu Buwaih, 1378 HS, hlm. 3.
- ↑ Faqihi, Chegunegi-ye Farmanrava'i-ye Adhud al-Daulah Daylami, 1373 HS, hlm. 20.
- ↑ Beberapa berpendapat bahwa Alu Buwaih pada asalnya bukan Daylami dan nasabnya kembali ke Sasanian, namun mereka masyhur dengan Daylami karena tinggal di wilayah tersebut. (Ibnu Thiqthiqa, al-Fakhri, 1418 H, hlm. 270.)
- ↑ Sajjadi, Alu Buwaih, 1380 HS, jld. 1, hlm. 629.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 1, hlm. 183.
- ↑ Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1391 HS, jld. 3, hlm. 420-425.
- ↑ Iqbal Ashtiani, Tarikh-e Iran ba'd az Eslam, 1380 HS, hlm. 266-274.
- ↑ Syakir, Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran, hlm. 113.
Daftar Pustaka
- Agha Bozorg Tehrani, Muhammad Muhsin. Mushannafat-e Syi'eh. Masyhad: Astan Quds Razavi, 1372 HS.
- Amin, Hasan. Partovi az Tarikh-e Tasyayyu'. Terjemahan Hasan Ayatullahi. Qom: Muassasah Dairatul Ma'arif Fiqh-e Islami, 1385 HS.
- Ashabi Damghani, Muhammad. Tarikh-e Entesyare-e Tasyayyu' dar Iran. Qom: Penerbit Pirouz, 1350 HS.
- Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Futuh al-Buldan. Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal, 1988 H.
- Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad. Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam. Riset: Umar Abdussalam Tadmuri. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1413 H.
- Faqihi, Ali Ashghar. Tarikh-e Alu Buwaih. Tehran: Samt, 1378 HS.
- Faqihi, Ali Ashghar. Chegunegi-ye Farmanrava'i-ye Adhud al-Daulah Daylami. Tehran: Penerbit Partov, 1373 HS.
- Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahmad bin Ali. al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah. Riset: Adil Ahmad Abdul Maujud dkk. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
- Ibnu Khaldun, Abdurrahman bin Muhammad. Diwan al-Mubtada' wa al-Khabar.... Riset: Khalil Syihadah. Beirut: Dar al-Fikr, 1408 H.
- Ibnu Sa'ad, Muhammad. al-Thabaqat al-Kubra. Riset: Muhammad Abdul Qadir Atha. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1410 H.
- Ibnu Thiqthiqa, Muhammad bin Ali. al-Fakhri fi al-Adab al-Sulthaniyyah. Riset: Abdul Qadir Muhammad Mayo. Beirut: Dar al-Qalam al-Arabi, 1418 H.
- Ibnu 'Inabah al-Hasani, Ahmad bin Ali. Umdah al-Thalib fi Ansab Ali Abi Thalib. Qom: Anshariyan, 1417 H.
- Iqbal Ashtiani. Tarikh-e Iran ba'd az Eslam. Tehran: Penerbit Namak, 1380 HS.
- Isfahani, Abul Faraj Ali bin Husain. Maqatil al-Thalibiyyin. Riset: Sayid Ahmad Shaqar. Beirut: Dar al-Ma'rifah, t.t.
- Istakhri, Ibrahim bin Muhammad. al-Masalik wa al-Mamalik. Beirut: Dar Sadir, t.t.
- Jafarian, Rasul. Atlas-e Syi'eh. Tehran: Organisasi Geografi Angkatan Bersenjata, 1387 HS.
- Jafarian, Rasul. Safaviye dar Arse-ye Din, Farhang va Siyasat. Qom: Pajoheshgah Houzeh va Danesyegah, 1379 HS.
- Laitsi, Samira Mukhtar. Jihad-e Syi'eh dar Doure-ye Avval-e Abbasi. Tehran: Syiah-syenasi, 1384 HS.
- Mas'udi, Ali bin Husain. Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jauhar. Riset: As'ad Daghir. Qom: Dar al-Hijrah, 1409 H.
- Mustaufi Qazwini, Hamdullah. Tarikh-e Gozideh. Riset: Abdul Husain Nawai. Tehran: Amirkabir, 1364 HS.
- Qomi, Hasan bin Ali. Tarikh-e Qom. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar'ashi Najafi, 1385 HS.
- Sajjadi, Shadiq. Dairatul Ma'arif-e Bozorg-e Eslami. Tehran: Markaz Dairatul Ma'arif-e Eslami, 1380 HS.
- Syakir, Abul Qasim. Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran. Tehran: Perwakilan Wali Faqih IRGC, t.t.
- Syariati Foulai, Hasan. Hukumat-e Syi'i-ye Al-e Kiya dar Gilan. Qom: Syiah-syenasi, 1388 HS.
- Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Thabari. Riset: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut: Dar al-Turats, 1387 H.
- Torkamani Azar, Parvin. "Mazhab-e Daylamiyan dar Doure-ye Eslami". Majalah Farhang, No. 56, Musim Dingin 1384 HS.
- Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qubi. Tarikh al-Ya'qubi. Beirut: Dar Sadir, t.t.