Konsep:Ayat 74 Surah An-Nisa
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Surah An-Nisa |
| Ayat | 74 |
| Juz | 5 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Madinah |
| Deskripsi | Jihad di jalan Allah dan nilai kesyahidan |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 73 dan 75 Surah An-Nisa |
Ayat 74 Surah An-Nisa menyeru kaum Muslim untuk berJihad di jalan Allah[1] dan menyifati para mujahidin sebagai golongan yang rela menukar kehidupan dunia demi Akhirat.[2] Berdasarkan Tafsir Majma' al-Bayan, ungkapan "falyuqatil fi sabilillah" menggunakan bentuk kata kerja perintah (fi'il amr); dengan demikian, makna ayat tersebut menegaskan kewajiban untuk berjihad di jalan agama Allah.[3] Sejumlah fukaha juga menjadikan ayat ini sebagai dalil atas wajibnya jihad.[4] Selain itu, kelompok fukaha lainnya bersandar pada ayat ini untuk mengategorikan jihad ke dalam barisan dharuriyatuddin (perkara-perkara yang bersifat mendasar dalam agama).[5]
| “ | فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۚ وَمَنْ يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
|
” |
Oleh itu, orang-orang yang menjualkan kehidupan dunianya dengan (membeli) kehidupan akhirat, hendaklah mereka berperang pada jalan Allah; dan sesiapa yang berperang pada jalan Allah lalu ia mati terbunuh atau beroleh kemenangan, maka Kami akan mengurniakan kepadanya pahala yang besar.
Para mufasir memandang Ayat 74 Surah An-Nisa sebagai kelanjutan dari Ayat 73 Surah An-Nisa; yang mana ayat sebelumnya menyoroti keengganan kaum munafik untuk turut serta dalam jihad.[6] Menurut pandangan Allamah Thabathabai, ayat-ayat sebelumnya berisi seruan bagi kaum Muslimin untuk berjihad sekaligus memberikan teguran keras kepada mereka yang bersikap lalai atau menunda-nunda keberangkatan ke medan perang.[7]
Allamah Thabathabai berpendapat bahwa penyebutan kesyahidan yang mendahului kemenangan oleh Allah mengisyaratkan bahwa pahala bagi mereka yang gugur di jalan Allah bernilai lebih agung dan abadi.[8] Meskipun demikian, dalam tafsirnya, Mohsen Qara'ati memandang bahwa ganjaran bagi seorang syahid dan pejuang yang meraih kemenangan adalah setara.[9]
Pada pengujung ayat, Allah menjanjikan bahwa para mujahidin—baik yang memperoleh kemenangan di medan laga maupun yang meraih derajat kesyahidan—niscaya akan dikaruniai pahala yang amat besar.[10]
Catatan Kaki
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 4, hal. 418.
- ↑ Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 3, hal. 115.
- ↑ Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 3, hal. 115.
- ↑ Fadhil al-Miqdad, Kanz al-Irfan, al-Maktabah al-Haidariyyah, jld. 1, hal. 346.
- ↑ Najafi Jawaheri, Jawahir al-Kalam, 1362 HS, jld. 21, hal. 8; Kasyif al-Ghitha', Kasyf al-Ghitha', Maktab al-I'lam al-Islami, jld. 4, hal. 294.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hal. 7.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 4, hal. 418.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 4, hal. 419.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 2, hal. 106.
- ↑ Thabrisi, Tafsir Jawami' al-Jami', 1412 H, jld. 1, hal. 270.
Daftar Pustaka
- Kasyif al-Ghitha', Ja'far. Kasyf al-Ghitha' 'an Mubhamat al-Syari'ah al-Gharra'. Teheran, Maktab al-I'lam al-Islami, tanpa tahun.
- Korps Garda Revolusi Islam. Perwakilan Wali Fiqih. Lembaga Riset Ilmu Islam, dan Taqizadeh Akbari, Ali. 1386 HS. Jihad dar Ayineh-ye Qur'an. Qom, Zamzam-e Hedayat.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS.
- Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i' al-Islam. Koreksi: Abbas Qouchani dan Ali Akhoundi. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan Ketujuh, 1362 HS.
- Fadhil al-Miqdad, Abu Abdullah. Kanz al-Irfan fi Feqh al-Qur'an. Najaf, al-Maktabah al-Haidariyyah, tanpa tahun.
- Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran, Markaze Farhangi Dars-hai az Qur'an, 1388 HS.
- Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1352 HS/1393 H.
- Thabrisi, Fadhl bin Hasan. Jawami' al-Jami'. Qom, Hauzah Ilmiah Qom, 1412 H.
- Thabrisi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 H.