Lompat ke isi

Konsep:Ayat 55 Surah Adz-Dzariyat

Dari wikishia

Templat:Kotak info Ayat

Ayat 55 Surah Adz-Dzariyat memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk terus-menerus memberikan wejangan dan nasihat kepada orang-orang Mukmin,[1] karena peringatan tersebut bermanfaat bagi mereka.[2] Para mufasir Al-Qur'an menyebutkan bahwa setelah orang-orang Kafir Makkah menyebut Nabi saw sebagai tukang sihir dan orang gila,[3] pada Ayat 54 Surah Adz-Dzariyat beliau diperintahkan untuk berpaling dari orang-orang tersebut.[4]

Dalam tafsir seperti Majma' al-Bayan dan Tafsir Nemuneh disebutkan bahwa setelah perintah ini, Nabi dan orang-orang mukmin menjadi sedih dan khawatir, mereka menyangka bahwa ini adalah kata-kata terakhir Nabi di hadapan orang-orang kafir, Wahyu akan terputus, dan Azab Ilahi akan segera datang.[5] Tidak lama kemudian, ayat Templat:Arab turun dan memerintahkan Nabi saw untuk senantiasa memberikan peringatan kepada orang-orang mukmin.[6]

Ali bin Ibrahim Qumi berkeyakinan bahwa berpalingnya Nabi saw dari orang-orang kafir merupakan pendahuluan bagi turunnya azab Ilahi, namun dengan turunnya ayat 55 Surah Adz-Dzariyat, terjadi bada.[7] Beliau menganggap turunnya ayat ini sebagai bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari bada,[8] dan Sayyid Hasyim Bahrani dalam Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an menyandarkan hal ini pada beberapa riwayat.[9][10]
Huseini Syah Abdul Azhimi, penulis Tafsir Itsna Asyari, dalam penjelasan ayat ini mengatakan: Nasihat yang berpengaruh dan bermanfaat memiliki sepuluh syarat.[11] Beberapa syarat tersebut adalah:[12]

  • Berdasarkan rasa takut dan harap; sedemikian rupa sehingga pendengar terkadang takut akan keagungan Allah dan terkadang berharap pada rahmat dan kasih sayang Allah;
  • Mengingatkan akan nikmat-nikmat Ilahi sehingga berujung pada syukur;
  • Mengingatkan akan bisikan setan agar menjauhinya;
  • Mencakup penyebutan tentang dunia dan ketidakkekalannya agar tidak terpikat padanya;
  • Mengingatkan akan kematian, Kiamat, penjelasan sifat-sifat Surga, dan azab Neraka agar mempersiapkan diri untuknya.[13]

Catatan Kaki

  1. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 22, hlm. 379.
  2. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 22, hlm. 379.
  3. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 243.
  4. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 243.
  5. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 9, hlm. 268; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 22, hlm. 381-382.
  6. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 22, hlm. 382.
  7. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1367 HS, jld. 2, hlm. 330-331.
  8. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1367 HS, jld. 2, hlm. 331.
  9. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 8, hlm. 103.
  10. Bahrani, Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, 1416 H, jld. 5, hlm. 170.
  11. Huseini Syah Abdul Azhimi, Tafsir Itsna Asyari, 1363 HS, jld. 12, hlm. 284.
  12. Huseini Syah Abdul Azhimi, Tafsir Itsna Asyari, 1363 HS, jld. 12, hlm. 284.
  13. Huseini Syah Abdul Azhimi, Tafsir Itsna Asyari, 1363 HS, jld. 12, hlm. 284.

Daftar Pustaka

  • Bahrani, Sayyid Hasyim. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Bonyad-e Be'tsat, Cetakan Pertama, 1416 H.
  • Huseini Syah Abdul Azhimi, Husain. Tafsir Itsna Asyari. Teheran, Penerbit Miqat, Cetakan Pertama, 1363 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Keempat, 1407 H.
  • Makarem Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Pertama, 1374 HS.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Qom, Dar al-Kitab, Cetakan Keempat, 1367 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Penerbit Nashir Khusraw, Cetakan Ketiga, 1372 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Riset dan Anotasi: Lajnah dari Ulama dan Peneliti Spesialis. Cetakan Pertama, 1415 H. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Matbu'at.

Templat:Ayat Etika Al-Qur'an