Lompat ke isi

Konsep:Ayat 51 Surah Asy-Syura

Dari wikishia

Templat:Kotak info ayat Ayat 51 Surah Asy-Syura mengisyaratkan jalan-jalan komunikasi dan pembicaraan Allah dengan para nabi as dan hamba-hamba-Nya. Berdasarkan ayat ini, Allah berbicara dengan para nabi melalui penyampaian pesan-Nya ke dalam hati para nabi, pengiriman wahyu dari balik tabir (menyampaikan suara ke telinga para nabi) dan pengutusan malaikat wahyu. Penyampaian ke dalam hati kadang-kadang juga terjadi pada orang-orang lain yang tidak memiliki kedudukan kenabian; seperti ibu Nabi Musa, Sayidah Maryam.

Mengenai asbabun nuzul ayat 51 Surah Asy-Syura dikatakan bahwa ayat ini turun sebagai jawaban atas sekelompok orang Yahudi yang berkata kepada Nabi Islam saw bahwa jika engkau berbicara dengan Allah seperti Musa as, kami akan beriman kepadamu. Menurut pandangan Nashir Makarim Syirazi, ayat ini adalah jawaban yang jelas bagi orang-orang yang karena ketidaktahuannya mungkin berpikir bahwa para nabi melihat Allah dan berbicara dengan-Nya pada saat wahyu turun.

Jawadi Amuli, seorang mufasir Syiah, mengenai ungkapan "أَوْ مِنْ وَراءِ حِجابٍ" dalam ayat ini, meyakini bahwa suara yang didengar Musa as dari pohon di lembah Thuwa bukanlah bersifat materi dan fisik; karena jika demikian, suara ini pasti berasal dari satu arah; namun berdasarkan riwayat, Musa as mendengar suara tersebut dari enam arah; tetapi ia merasa bahwa itu berasal dari arah pohon. Selain itu, jika suara ini bersifat materi, semua manusia akan mendengarnya, padahal orang lain tidak dapat mendengarnya.

Jalan-jalan Komunikasi Para Nabi dengan Allah

Surah Asy-Syura dimulai dengan masalah wahyu dan diakhiri dengan masalah wahyu.[1] Menurut para mufasir, ayat 51 Surah Asy-Syura mengisyaratkan pada jalan-jalan komunikasi dan pembicaraan Allah dengan para nabi as dan hamba-hamba-Nya[2] dan jalan-jalan tersebut adalah:

Selain itu, Imam Ali as dalam menjawab seorang pria yang bertanya, "Aku meragukan kitab yang diturunkan dari sisi Allah", membacakan ayat 51 Surah Asy-Syura. Ali as mengisyaratkan pada metode-metode turunnya wahyu kepada Nabi dan menganggap apa yang diturunkan kepada Nabi saw adalah murni firman Allah.[11]

Ilham Allah pada Hati Para Imam Maksum as

Sebagian pemikir ilmu kalam, dengan memperhatikan ayat 51 Surah Asy-Syura, menganggap penyampaian ilmu Ilahi ke dalam hati para Imam Maksum as sebagai salah satu kasus hubungan orang yang maksum dengan Allah dan dalam berbagai riwayat, selain wasiat, penerimaan ilmu-ilmu oleh para Imam Syiah as melalui ilham (penyampaian ke dalam hati) dan semacamnya juga telah diisyaratkan.[12] Berdasarkan sebuah riwayat, Imam Shadiq as dalam menjawab seseorang yang bertanya, "Dari mana Imam mengetahui jawaban pertanyaan-pertanyaan?", beliau bersabda bahwa hal itu secara khusus dimasukkan ke dalam hati Imam atau didengar melalui telinga dan kadang-kadang juga dengan kedua cara tersebut.[13]

Asbabun Nuzul

Mengenai asbabun nuzul ayat 51 Surah Asy-Syura dikatakan bahwa sekelompok orang Yahudi berkata kepada Nabi Islam saw, "Jika engkau seorang nabi, mengapa engkau tidak berbicara dengan Allah seperti Musa as? Dan mengapa engkau tidak melihat-Nya? Agar kami beriman kepadamu". Nabi menjawab bahwa Musa tidak pernah melihat Allah, dan pada saat inilah ayat 51 Asy-Syura turun dan menjelaskan bagaimana komunikasi para nabi dengan Allah.[14]

Menurut tulisan Tafsir Nemuneh, ayat ini mencerminkan roh dan hakikat wahyu secara ringkas dan akurat. Selain itu, ayat 51 Asy-Syura adalah jawaban yang jelas bagi orang-orang yang karena ketidaktahuannya mungkin berpikir bahwa para nabi melihat Allah dan berbicara dengan-Nya pada saat wahyu turun.[15]

Templat:Kutipan

Pengiriman Pesan Allah oleh Para Malaikat kepada Para Nabi

Menurut tulisan Makarim Syirazi di bawah tafsir ayat 51 Surah Asy-Syura, sebagian orang meyakini bahwa turunnya wahyu melalui pengutusan malaikat wahyu, dilakukan dengan empat cara:[16]

  1. Di mana malaikat menyampaikannya ke dalam rohnya tanpa menampakkan diri kepada nabi tersebut.
  2. Kadang-kadang malaikat berwujud manusia dan berbicara kepada nabi serta menyampaikan sesuatu kepadanya; seperti penampakan Jibril dalam wujud Dihyah al-Kalbi.
  3. Kadang-kadang dalam bentuk yang terdengar seperti bunyi lonceng di telinga nabi dan ini adalah jenis wahyu yang paling berat sedemikian rupa sehingga bahkan pada hari-hari yang sangat dingin wajah Nabi Muhammad saw bercucuran keringat dan jika beliau sedang menunggangi, hewan tunggangannya menjadi sangat berat sehingga ia duduk di tanah tanpa sadar.
  4. Kadang-kadang Jibril menampakkan diri kepada nabi dalam wujud aslinya seperti saat Allah menciptakannya dalam bentuk tersebut dan hal ini terjadi hanya dua kali sepanjang hidup Nabi.

Turunnya Wahyu Secara Tersembunyi

Berdasarkan ayat 51 Surah Asy-Syura salah satu jalan komunikasi para nabi dengan Allah, adalah dari balik tabir dan melalui suara ke telinga nabi. Menurut pandangan para mufasir Syiah mengenai "أَوْ مِنْ وَراءِ حِجابٍ" dalam ayat ini, wahyu Ilahi dari balik layar atau tabir; seperti pohon,[17] mencapai telinga nabi tersebut dalam bentuk suara dan diwahyukan kepadanya.[18] Menurut tulisan Muhammad Hadi Ma'rifat dalam Tarikh Quran, mendengar suara dengan cara seperti ini dan tidak melihat pemilik suara, adalah seperti seseorang yang berbicara dari balik layar dan karena alasan inilah ia disebut dengan ungkapan "min wara' al-hijab".[19]

Jawadi Amuli, seorang mufasir Al-Qur'an, meyakini bahwa berdasarkan ayat 11-13 Surah Thaha, suara wahyu Allah - yang didengar Musa as di lembah Thuwa dari pohon - karena dua alasan bukanlah suara materi dan fisik;

1. Jika demikian, semua manusia pasti akan mendengarnya, padahal tidak demikian dan orang lain tidak dapat mendengarnya.

2. Suara ini pasti berasal dari satu arah tertentu; namun berdasarkan riwayat, Nabi Musa as mendengar suara tersebut dari enam arah; tetapi ia merasa bahwa itu berasal dari arah pohon.[20]

Catatan Kaki

  1. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 HS, jld. 18, hlm. 5; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 20, hlm. 486.
  2. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H. jld. 9, hlm. 57; Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hlm. 279; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 HS, jld. 18, hlm. 72; Syubbar, Tafsir al-Qur'an al-Karim, Mu'assasah Dar al-Hijrah, hlm. 457; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 20, hlm. 486; Ma'rifat, Al-Tamhid, 1388 HS, jld. 1, hlm. 71-72.
  3. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 18, hlm. 258.
  4. Surah Al-Mukminun, ayat 27.
  5. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H. jld. 9, hlm. 57.
  6. Gharawi Naini, "Bazkhani-e Anwa'-e Wahy", hlm. 247-249.
  7. Ma'rifat, Tarikh Quran, 1382 HS, hlm. 12-13.
  8. Surah An-Nisa', ayat 164; Syekh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, jld. 9, hlm. 177.
  9. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 20, hlm. 486; Ma'rifat, Al-Tamhid, 1388 HS, jld. 1, hlm. 94-95.
  10. Surah Al-Baqarah, ayat 97; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 20, hlm. 486.
  11. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 18, hlm. 257-258.
  12. Lihat: Jannati dan Abidi Syahrudi, "Thariqeh-haye Takallum-e Khoda ba Imam-e Ma'sum (a) Bar Asas-e Ayeh 51 Sureh-ye Syura (ba Ta'kid bar Aray-e Mufassirin-e Syi'eh)", hlm. 53.
  13. Syekh Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 408.
  14. Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, 1384 H, jld. 16, hlm. 53.
  15. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 20, hlm. 486.
  16. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 20, hlm. 488.
  17. Surah Thaha, ayat 11-13.
  18. Syekh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, jld. 9, hlm. 177; Abu al-Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1366-1378 HS, jld. 17, hlm. 143; Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 6, hlm. 534; Jawadi Amuli, Quran dar Quran, 1397 HS, hlm. 53.
  19. Ma'rifat, Tarikh Quran, 1382 HS, hlm. 13.
  20. Jawadi Amuli, Quran dar Quran, 1397 HS, hlm. 53.

Daftar Pustaka

  • Abu al-Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an. Dikumpulkan oleh: Muhammad Mahdi Nashih dan Muhammad Ja'far Yahaqqi. Masyhad, Astan Quds Razawi. Bonyad Pazhuhesyhay-e Eslami, 1366-1378 HS.
  • Gharawi Naini, Nahleh. "Bazkhani-e Anwa'-e Wahy" (Membaca Ulang Jenis-jenis Wahyu). Faslnameh Muthala'at Qur'ani, nomor 43, musim gugur 1399 HS.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Quran dar Quran (Al-Qur'an dalam Al-Qur'an). Qom, Nasyr-e Asra, cetakan kelima, 1397 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-A'immah al-Athar. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Taheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371-1374 HS.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi. Al-Tamhid fi 'Ulum al-Qur'an. Qom, Mu'assaseh-ye Farhangi Entisyarati Al-Tamhid, 1388 HS/ 1429 H/ 2009 M.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi. Tarikh Quran (Sejarah Al-Qur'an). Taheran, Sazman-e Muthala'eh wa Tadwin-e Kutub-e 'Ulum-e Ensani-e Danesyghah-ha (Samt), cetakan kelima, 1382 HS.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H/ 2003 M.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Dikoreksi oleh: Thayyib Jaza'iri. Qom, Dar al-Kitab, 1404 H.
  • Qurthubi, Syamsuddin. Tafsir al-Qurthubi. Diteliti oleh: Ahmad al-Barduni dan Ibrahim Athfisy. Kairo, Dar al-Kutub al-Mishriyyah, cetakan kedua, 1384 H/ 1964 M.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Amali. Qom, Dar al-Tsaqafah, 1414 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, t.t.
  • Syubbar, Sayid Abdullah. Tafsir al-Qur'an al-Karim. Qom, Mu'assasah Dar al-Hijrah, t.t.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Mu'assasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1350-1353 HS/ 1390-1394 H/ 1971-1974 M.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Dikoreksi oleh: Hasyim Rasuli dan Fadhlullah Yazdi Thabathaba'i. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 H.

Pranala Luar