Konsep:Ayat 42 Surah Ali 'Imran
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Nama | Ayat 42 Surah Ali 'Imran |
| Surah | Surah Ali 'Imran |
| Ayat | 42 |
| Juz | 3 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Terpilih dan sucinya Maryam sa oleh Allah di antara wanita-wanita dunia. |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 33 dan 34 Surah Ali 'Imran |
Ayat 42 Surah Ali 'Imran atau Keterpilihan Sayidah Maryam sa merujuk pada pemilihan Sayidah Maryam sa oleh Allah, dan ayat-ayat berikutnya membahas kedudukan mulia beliau. Para mufasir menganggap Sayidah Maryam sa sebagai "Muhaddatsah", dan Banu Amin meyakini bahwa panggilan Allah dengan menggunakan nama kecil Maryam menunjukkan kecintaannya kepada beliau.
Kata "Tathir" (penyucian) ditafsirkan sebagai keterjagaan dari dosa-dosa, kesucian dari haid dan nifas, serta kesucian dari hubungan intim dengan laki-laki. Sebagian mufasir berpendapat bahwa keterpilihan Maryam sa tidak bertentangan dengan keutamaan Sayidah Fatimah sa, karena "Siyadah" (kepemimpinan) Fatimah sa berarti kepemimpinan tertinggi yang berbeda maknanya dengan "Ishthifa" (keterpilihan).
Mengenai frasa "Nisa al-'Alamin" (wanita-wanita semesta alam), sebagian besar mufasir Syiah berpendapat bahwa frasa ini merujuk pada wanita-wanita yang sezaman dengan Sayidah Maryam sa, sementara sebagian lainnya memperluas maknanya untuk mencakup wanita-wanita di segala zaman. Makarem Syirazi merujuk pada orang-orang di zaman yang sama, dan sebagian ulama Ahlusunah juga berpendapat bahwa jika keterpilihan Maryam sa disebabkan oleh imannya, maka itu merujuk pada wanita-wanita di zamannya, namun jika itu karena kelahiran Nabi Isa as, maka mencakup segala zaman.
Pengenalan dan Teks Ayat
Ayat 42 Surah Ali 'Imran atau "Ishthifa Sayidah Maryam sa"[1] mengacu pada keterpilihan Sayidah Maryam sa oleh Allah, dan ayat-ayat selanjutnya membahas kedudukan mulianya.[2] Para mufasir Al-Qur'an menganggap Sayidah Maryam sa sebagai "Muhaddatsah"Templat:Catatan.[3] Banu Amin, seorang fakih dan mufasir Syiah, meyakini bahwa panggilan Allah dengan menyebut nama kecil Maryam menunjukkan kecintaannya di sisi Allah.[4] Menurut para mufasir, maksud dari kata "Tathir" sehubungan dengan Sayidah Maryam sa adalah keterjagaannya dari dosa-dosa,[5] kesucian dari haid dan nifas,[6] serta kesucian dari hubungan badan dengan pria.[7]
| “ | وَإِذْ قَالَتِ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ يَـٰمَرْيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰكِ وَطَهَّرَكِ وَٱصْطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلْعَـٰلَمِينَ
|
” |
Dan (ingatlah) ketika malaikat berkata: "Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, dan mensucikanmu, dan telah memilihmu (beroleh kemuliaan) melebihi perempuan-perempuan seluruh alam (yang sezaman denganmu)."
Masalah Keutamaan Sayidah Fatimah az-Zahra sa atas Sayidah Maryam sa
Dikatakan bahwa jika keterpilihan Maryam sa adalah di antara wanita-wanita sepanjang masa, hal ini mungkin bertentangan dengan riwayat-riwayat yang menunjukkan keutamaan Sayidah Fatimah sa di atas wanita-wanita semesta alam. Sebagai jawaban, sebagian ulama mengatakan bahwa riwayat-riwayat ini merujuk pada "Siyadah" (kepemimpinan) Sayidah Fatimah sa, yang berbeda dengan "Ishthifa" (keterpilihan);[8] Ishthifa didasarkan pada alasan-alasan keterpilihan yang khusus, namun Siyadah berarti kepemimpinan dan keunggulan mutlak.[9] Abdullah Jawadi Amuli meyakini bahwa keterpilihan Sayidah Fatimah sa bersifat mutlak dan merujuk pada keutamaan umum seperti ilmu dan ketakwaan, sedangkan keterpilihan Maryam sa disebabkan oleh karakteristik khusus seperti kelahirannya yang ajaib.[10] Sebagian lainnya juga menyatakan bahwa "Ishthifa" kedua dari Maryam sa berkaitan dengan karakteristik khusus dari kelahiran ajaibnya, di mana Sayidah Fatimah sa tidak berbagi dalam hal tersebut.[11]
Makna Ishthifa
Menurut para mufasir, dalam Al-Qur'an, kata "Ishthifa" digunakan untuk merujuk pada pemilihan hamba-hamba Allah yang khusus, khususnya para nabi.[12] Naser Makarem Shirazi menjelaskan bahwa rahasia diulangnya kata "ishthafaki" dalam ayat ini adalah: penyebutan yang pertama untuk menyatakan keterpilihan Maryam sa secara mutlak, dan penyebutan kedua untuk menunjukkan keterpilihannya di atas seluruh wanita di dunia.[13] Mengenai "Ishthifa", terdapat beberapa pandangan:
- Ishthifa Pertama: Meliputi diterimanya nazar ibu Sayidah Maryam sa,[14] penghambaan Maryam sa dan kehadirannya di Baitulmaqdis.[15] Kelahiran Nabi Isa as tanpa ayah dan secara mukjizat,[16] pengkhususan makanan dan rezeki surga.[17] Penerimaan ibadah dan kemaksuman.[18] Esensi zat dan sifat-sifat bawaan (esensial).[19] Melihat malaikat dan berbicara dengan mereka.[20]
- Ishthifa Kedua: Penegasan atas ishthifa pertama.[21] Kelahiran Nabi Isa as, tanpa seorang ayah,[22] atas diberinya hidayah kepada Maryam sa serta hubungannya dengan malaikat dan melihat mereka.[23] Keunggulan Maryam atas wanita-wanita lainnya.[24] Keunggulan Maryam atas semua orang.[25]
Makna Nisa al-'Alamin
Dalam memaknai ungkapan "Nisa al-'Alamin" (wanita-wanita semesta alam) dalam ayat tersebut, para mufasir mengemukakan beberapa kemungkinan:
- Mufasir Syiah sebagian besar meyakini bahwa yang dimaksud dengan "Nisa al-'Alamin" adalah wanita-wanita yang sezaman dengan Sayidah Maryam sa, bukan seluruh wanita,[26] karena beberapa riwayat menyebutkan bahwa Maryam sa adalah wanita pilihan pada zamannya, sedangkan Fatimah Zahra sa adalah wanita paling utama dari segala zaman.[27] Naser Makarem Shirazi juga merujuk pada Ayat 47 Surah Al-Baqarah dan menafsirkan "'Alamin" sebagai orang-orang pada zaman itu.[28] Sebagian lainnya menganggap ayat tersebut bersifat mutlak dan meyakini bahwa "Nisa al-'Alamin" merujuk pada seluruh wanita di segala zaman.[29]
- Mufasir Ahlusunah juga memberikan rincian: jika keterpilihan Maryam sa karena imannya, maka "Nisa al-'Alamin" merujuk pada wanita-wanita pada zaman itu saja; namun jika itu karena kelahiran Nabi Isa as, maka mencakup segala zaman.[30]
Catatan Kaki
- ↑ "Takhshish Ayat Ishthifa Maryam ba Riwayat", situs Wikiporsesh.
- ↑ Lihat Babai, Guzideh-ye Tafsir Nemuneh, 1382 HS, jld. 1, hlm. 283.
- ↑ Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 3, hlm. 188.
- ↑ Amin, Makhzan al-'Irfan dar Tafsir-e Qur'an, 1361 HS, jld. 3, hlm. 108.
- ↑ Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 3, hlm. 188.
- ↑ Thabarsi, Tafsir Jawami' al-Jami', jld. 1, 1377 HS, hlm. 173.
- ↑ Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 4, hlm. 318.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1378 HS, jld. 3, hlm. 193.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1389 HS, jld. 14, hlm. 247.
- ↑ Lihat: Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1389 HS, jld. 14, hlm. 247.
- ↑ "Maryam Bargozideh-ye Khoda", Situs Muassasah Tahqiqati Hazrat Waliy 'Ashr (aj).
- ↑ Ismaili, "Barresi wa Tahlil-e Ara-ye Mufassiran-e Qur'an az Mafhum-e "Ishthifa" wa "'Alamin" dar Ayah-e 42 Surah Ali 'Imran", hlm. 194.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hlm. 542.
- ↑ Thabarsi, Jawami' al-Jami', 1377 HS, jld. 1, hlm. 174; Faidh Kasyani, Al-Ashfa, 1415 H, jld. 1, hlm. 336; Najafi, Tafsir Asan, 1398 H, jld. 2, hlm. 275; Baidhawi, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil, 1418 H, jld. 2, hlm. 17.
- ↑ Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 4, hlm. 318; Thusi, Al-Tibyan, tanpa tahun, jld. 2, hlm. 456; Husaini Syah Abdula'zhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 H, jld. 2, hlm. 94; Surabadi, Tafsir Surabadi, 1380 H, jld. 1, hlm. 281.
- ↑ Shadeqi Tehrani, Al-Balagh fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an, 1419 H, hlm. 55; Tsa'labi Naisaburi, Al-Kasyf wa al-Bayan, 1422 H, jld. 3, hlm. 67.
- ↑ Surabadi, Tafsir Surabadi, 1380 H, jld. 1, hlm. 281; Haqqi Burusawi, Tafsir Ruh al-Bayan, tanpa tahun, jld. 2, hlm. 33; Ruzbihan Baqli Syirazi, Tafsir 'Ara'is al-Bayan, 2008 M, jld. 1, hlm. 150.
- ↑ Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H. jld. 3, hlm. 188.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1389 HS, jld. 14, hlm. 231; Husaini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 66.
- ↑ Ruzbihan Baqli Syirazi, Tafsir 'Ara'is al-Bayan, 2008 M, jld. 1, hlm. 150.
- ↑ Shadeqi Tehrani, Al-Balagh fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an, 1419 H, hlm. 55; Zuhaili, Al-Tafsir al-Munir, 1418 H, jld. 3, hlm. 225.
- ↑ Thusi, Al-Tibyan, tanpa tahun, jld. 2, hlm. 456; Thabarsi, Jawami' al-Jami', 1377 HS, jld. 1, hlm. 174; Syarif Lahiji, Tafsir Syarif Lahiji, 1373 HS, jld. 1, hlm. 324; Faidh Kasyani, Al-Ashfa fi Tafsir al-Qur'an, 1415 H, jld. 1, hlm. 336; Balkhi, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 1, hlm. 275; Haqqi Burusawi, Tafsir Ruh al-Bayan, tanpa tahun, jld. 2, hlm. 33.
- ↑ Faidh, Kasyani, Al-Ashfa fi Tafsir al-Qur'an, 1415 H, jld. 1, hlm. 336; Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 2, hlm. 17; Hijazi, Al-Tafsir al-Wadhih, 1413 H, jld. 1, hlm. 231.
- ↑ Surabadi, Tafsir Surabadi, 1380 H, jld. 1, hlm. 281; Khazin, Lubab al-Ta'wil, 1415 H, jld. 1, hlm. 244.
- ↑ Ibnu Asyur, Al-Tahrir wa al-Tanwir, tanpa tahun, jld. 3, hlm. 95.
- ↑ Syarif Lahiji, Tafsir Syarif Lahiji, 1373 HS, jld. 1, hlm. 324; Syaukani, Fath al-Qadir, 1414 H, jld. 1, hlm. 388; Gunabadi, Tafsir Bayan as-Sa'adah, 1408 H, jld. 1, hlm. 262; Husaini Syah Abdula'zhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 H, jld. 2, hlm. 94; Surabadi, Tafsir Surabadi, 1380 H, jld. 1, hlm. 281, Husaini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 66; Shadeqi Tehrani, Al-Balagh fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an, 1365 HS, jld. 5, hlm. 130.
- ↑ "ama maryam kanat sayyidatu nisa'i zamaniha ama fathimah fahiya sayyidatu nisa'il 'alamin minal awwalin wal akhirin" (Adapun Maryam adalah penghulu para wanita di zamannya, sedangkan Fatimah adalah penghulu para wanita semesta alam, baik dari orang-orang terdahulu maupun yang akan datang). Nur ats-Tsaqalain, 1415 H, jld. 1, hlm. 336.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hlm. 542
- ↑ Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 3, hlm. 189; Faidh Kasyani, Al-Ashfa, 1415 H, jld. 1, hlm. 336.
- ↑ Thanthawi, Al-Tafsir al-Wasith, tanpa tahun, jld. 2, hlm. 102.
Daftar Pustaka
- Alusi, Sayid Mahmud. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, riset: Ali Abdul Bari Athiyyah, 1415 H.
- Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali. Ma'ani al-Akhbar. Qom: Daftar Intisyarat Eslami Wabasiteh be Jami'ah Mudarrisin Hauzeh Ilmiah Qom, 1403 H.
- Ibnu Asyur, Muhammad bin Thahir. Al-Tahrir wa al-Tanwir. Beirut: Muassasah al-Tarikh, tanpa tahun.
- Ismaili, Dawud. "Barresi wa Tahlil-e Ara-ye Mufassiran-e Qur'an az Mafhum-e 'Ishthifa' wa Alamin' dar Ayah-e 42 Surah Ali 'Imran". Jurnal Dwi-tahunan Pajouhesy-haye Tafsir Tathbiqi, Tahun 7, No. 2, Musim Gugur dan Musim Dingin 1400 HS.
- Amin, Sayyidah Nushrat. Makhzan al-'Irfan dar Tafsir-e Qur'an. Teheran: Nahdhat Zanan Mosalman, 1361 HS.
- Babai, Ahmad Ali. Bargozideh Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1382 HS.
- Balkhi, Muqatil bin Sulaiman. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1423 H.
- Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1418 H.
- Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1418 H.
- Tsa'labi Naisaburi, Ahmad bin Ibrahim. Al-Kasyf wa al-Bayan 'an Tafsir al-Qur'an. Beirut: Dar Ihya' lil Turats al-'Arabi, 1422 H.
- Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Intisyarat Asra', 1389 HS.
- Hijazi, Muhammad Mahmud. Al-Tafsir al-Wadhih. Beirut: Dar al-Jil al-Jadid, 1413 H.
- Husaini Syah Abdula'zhimi, Husain bin Ahmad. Tafsir Itsna 'Asyari. Teheran: Intisyarat Miqat, 1363 HS.
- Husaini Syirazi, Sayid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut: Dar al-'Ulum, 1423 H.
- Haqqi Burusawi, Ismail. Tafsir Ruh al-Bayan. Beirut: Dar al-Fikr, tanpa tahun.
- Khazin, Ali bin Muhammad. Lubab al-Ta'wil fi Ma'ani al-Tanzil. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1415 H.
- Razi, Abul Futuh Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an. Riset: Dr. Muhammad Ja'far Yahaqqi, Dr. Muhammad Mahdi Naseh. Masyhad: Bonyad Pajouhesy-haye Eslami Astan Quds Razavi, 1408 H.
- "Takhshish Ayat Ishthifa Maryam ba Riwayat". Situs Wikiporsesh, Tanggal Akses: 7 Aban 1402 HS.
- Ruzbihan Baqli Syirazi. Tafsir. Riset: Ahmad Farid al-Mazidi. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 2008 M.
- Zuhaili, Wahbah bin Mushthafa. Al-Tafsir al-Munir fi al-'Aqidah wa asy-Syari'ah wa al-Manhaj. Beirut: Dar al-Fikr, 1418 H.
- Sabzawari Najafi, Muhammad bin Habibullah. Al-Jadid fi Tafsir al-Qur'an al-Majid. Beirut: Dar al-Ta'aruf, 1406 H.
- Surabadi, Abu Bakar 'Atiq bin Muhammad. Tafsir Surabadi. Teheran: Farhang Nasyr Nou, 1380 HS.
- Syarif Lahiji, Muhammad bin Ali. Tafsir Syarif Lahiji. Teheran: Daftar Nasyr Dad, 1373 HS.
- Syaukani, Muhammad bin Ali. Fath al-Qadir. Damaskus: Dar Ibnu Katsir, Dar al-Kalam al-Thayyib, 1414 H.
- Shadeqi Tehrani, Muhammad. Al-Balagh fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an. Qom: Tanpa penerbit, 1419 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Jawami' al-Jami'. Teheran: Intisyarat Danesygahe Teheran, Tanpa tempat, 1377 HS.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Pengantar: Muhammad Jawad Balaghi. Teheran: Intisyarat Naser Khosrow, 1372 HS.
- Thanthawi, Sayid Muhammad. Al-Tafsir al-Wasith lil Qur'an al-Karim. Kairo: Dar Nahdhah Mishr, tanpa tahun.
- Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Intisyarat Eslam, 1378 HS.
- Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, tanpa tahun.
- 'Arusi Huwaizi, Abdul Ali bin Jum'ah. Tafsir Nur ats-Tsaqalain. Riset: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati. Qom: Intisyarat Ismailiyan, 1415 H.
- Allamah Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan. Cetakan Kelima. Qom: Maktabah al-Nasyr al-Islami, 1417 H.
- Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Al-Ashfa fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Intisyarat as-Shadr, 1415 H.
- Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran: Markaz Farhangi Darshayi az Qur'an, 1383 HS.
- Gunabadi, Sulthan Muhammad. Tafsir Bayan as-Sa'adah fi Maqamat al-'Ibadah. Beirut: Muassasah al-A'lami, 1408 H.
- "Maryam Bargozideh-ye Khoda". Situs Muassasah Tahqiqati Hazrat Waliy 'Ashr (aj), Tanggal Publikasi: Sabtu, 1 Farvardin 1394, Tanggal Akses: 5 Aban 1402 HS.
- Makarem Syirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Pertama, 1374 HS.
- Najafi, Muhammad Jawad. Tafsir Asan. Teheran: Intisyarat Islamiyyah, 1398 H.