Lompat ke isi

Konsep:Ayat 42 Surah Ali 'Imran

Dari wikishia

Templat:Infobox Ayat

Ayat 42 Surah Ali 'Imran atau "Ayat Isthafa Maryam (sa)" merujuk pada terpilihnya Maryam sa oleh Allah swt, dan pada ayat-ayat selanjutnya dibahas mengenai kedudukan tinggi beliau. Para mufasir menganggap Maryam (sa) sebagai seorang "Muhaddatsah", dan Banu Amin meyakini bahwa panggilan Allah dengan nama kecil Maryam menunjukkan kecintaan-Nya kepadanya.

Kata "Tathir" (penyucian) ditafsirkan sebagai kesucian dari dosa-dosa, kebersihan dari darah haid dan nifas, serta kesucian dari persetubuhan dengan laki-laki. Beberapa mufasir meyakini bahwa terpilihnya Maryam (sa) tidak bertentangan dengan keutamaan Fatimah (sa), karena "Siyadah" (kepemimpinan) Fatimah (sa) bermakna keunggulan yang berbeda dengan "Isthafa".

Mengenai "Nisa' al-'Alamin" (wanita seluruh alam), mayoritas mufasir Syiah meyakini bahwa frasa ini merujuk pada wanita-wanita yang sezaman dengan Maryam (sa), sementara sebagian lainnya memperluasnya kepada wanita di seluruh zaman. Nashir Makarem Syirazi merujuk pada orang-orang di zaman yang sama, dan beberapa ulama Ahlusunah berpendapat bahwa jika terpilihnya Maryam (sa) dikarenakan imannya, maka itu terkait dengan wanita di zaman itu, namun jika dikarenakan kelahiran Isa (as), maka mencakup semua zaman.

Pengenalan dan Teks Ayat

Ayat 42 Surah Ali 'Imran atau "Isthafa Maryam (sa)" merujuk pada terpilihnya Maryam (sa) oleh Allah dan kedudukan tingginya yang disebutkan pada ayat-ayat setelahnya. Para mufasir Al-Qur'an menganggap Maryam (sa) sebagai "Muhaddatsah"Templat:Syarat Banu Amin, seorang fukaha dan mufasir Syiah, meyakini bahwa panggilan Allah dengan menyebut nama Maryam menunjukkan kedudukannya yang dicintai di sisi-Nya. Menurut mufasir, maksud dari kata "Tathir" berkaitan dengan Maryam (sa) adalah kesucian dari dosa, kesucian dari haid dan nifas, serta kesucian dari hubungan dengan laki-laki.

Templat:Al-Qur'an

Masalah Keutamaan Fatimah (sa) atas Maryam (sa)

Disebutkan bahwa jika terpilihnya Maryam (sa) adalah dari seluruh wanita di semua zaman, hal ini mungkin bertentangan dengan riwayat-riwayat yang menunjukkan keutamaan Fatimah (sa) atas wanita seluruh alam. Sebagai jawaban, sebagian mengatakan bahwa riwayat-riwayat tersebut merujuk pada "Siyadah" (keunggulan/kepemimpinan) Fatimah (sa) yang berbeda dengan "Isthafa". Isthafa adalah terpilih karena alasan-alasan khusus, sementara Siyadah bermakna kepemimpinan dan keunggulan. Abdullah Jawadi Amuli meyakini bahwa terpilihnya Fatimah (sa) bersifat mutlak dan merujuk pada fadhilah umum seperti ilmu dan Takwa, sementara terpilihnya Maryam (sa) dikarenakan keistimewaan khusus seperti kelahiran yang ajaib. Sebagian lain menyatakan bahwa Isthafa kedua Maryam berkaitan dengan kelahiran Isa (as) yang luar biasa, di mana Fatimah (sa) tidak berserikat di dalamnya.

Makna Isthafa

Menurut para mufasir, dalam Al-Qur'an kata "Isthafa" digunakan untuk pemilihan hamba-hamba khusus Allah, terutama para nabi. Nashir Makarem Syirazi berpendapat rahasia pengulangan kata "Isthafaki" dalam ayat ini adalah yang pertama untuk menunjukkan keterpilihan Maryam (sa) secara mutlak, dan yang kedua untuk keterpilihannya atas seluruh wanita di dunia. Terkait "Isthafa", beberapa poin telah dikemukakan:

  • Isthafa Pertama: Mencakup diterimanya nazar ibunda Maryam (sa), penghambaan Maryam (sa), dan kehadirannya di Baitul Maqdis. Kelahiran Isa (as) tanpa ayah secara mukjizat, pengkhususan makanan dan rezeki surgawi, penerimaan ibadah, kesucian (ishmah), intisari zat, serta melihat dan berbicara dengan malaikat.
  • Isthafa Kedua: Penekanan atas Isthafa pertama, kelahiran Isa (as) tanpa ayah, petunjuk bagi Maryam dan hubungannya dengan malaikat, serta keunggulan Maryam atas wanita lain atau atas semua orang.

Makna Nisa' al-'Alamin

Dalam memaknai frasa "Nisa' al-'Alamin" (wanita seluruh alam) dalam ayat tersebut, para mufasir mengemukakan beberapa kemungkinan:

  1. Mufasir Syiah mayoritas meyakini bahwa maksud "Nisa' al-'Alamin" adalah wanita-wanita yang sezaman dengan Maryam (sa), bukan semua wanita sepanjang sejarah. Hal ini karena beberapa riwayat menyebutkan Maryam (sa) sebagai wanita pilihan di zamannya, sementara Fatimah az-Zahra (sa) adalah wanita terbaik di seluruh zaman dari awal hingga akhir. Nashir Makarem Syirazi juga merujuk pada Ayat 47 Surah Al-Baqarah dan menafsirkan "Alamin" sebagai orang-orang pada zaman tersebut. Sebagian lainnya menganggap ayat ini bersifat mutlak dan meyakini frasa tersebut mencakup semua wanita di semua zaman.
  2. Mufasir Ahlusunah merinci; jika terpilihnya Maryam (sa) dikarenakan imannya, maka "Nisa' al-'Alamin" merujuk pada wanita di zaman itu, namun jika dikarenakan kelahiran Isa (as), maka mencakup seluruh zaman.

Catatan Kaki

Syarat

Templat:Syarat

Daftar Pustaka

  • Al-Alusi, Sayid Mahmud. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-Azhim. Riset: Ali Abdul Bari Athiyyah. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H.
  • Al-Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Takwil. Beirut, Penerbit Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1418 H.
  • Al-Faiz al-Kasyani, Mulla Muhsin. Al-Ashfi fi Tafsir al-Qur'an. Tehran, Penerbit al-Shadr, 1415 H.
  • Al-Haqqi al-Brusawi, Ismail. Tafsir Ruh al-Bayan. Beirut, Penerbit Dar al-Fikr, t.th.
  • Al-Hussaini al-Syirazi, Sayid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-Ulum, 1423 H.
  • Al-Thabari, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Tehran, Penerbit Nashir Khusru, 1372 HS.
  • Al-Thabari, Fadhl bin Hasan. Tafsir Jawami' al-Jamik. Tehran, Penerbit Universitas Tehran, 1377 HS.
  • Al-Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar Ihya al-Turats al-Arabi, t.th.
  • Al-Zuhaili, Wahbah bin Mushthafa. Al-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al-Syari'ah wa al-Manhaj. Beirut, Penerbit Dar al-Fikr, 1418 H.
  • Amin, Sayidah Nusrat. Makhzan al-Irfan dar Tafsir-e Qur'an (Khazanah Makrifat dalam Tafsir Al-Qur'an). Tehran, Nahzat-e Zanan-e Mosalman, 1361 HS.
  • Baba'i, Ahmad Ali. Bargozideh-ye Tafsir-e Nemuneh (Ringkasan Tafsir al-Amtsal). Tehran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1382 HS.
  • Hussaini Syah Abdul Azhimi, Husain bin Ahmad. Tafsir Itsna Asyari. Tehran, Penerbit Miqat, 1363 HS.
  • Ismaili, Dawud. "Barresi wa Tahlil-e Ara-ye Mofassiran-e Qur'an az Mafhum-e 'Isthafa' wa 'Alamin' dar Ayah 42 Surah Ali 'Imran". Jurnal Pazhuhesh-ha-ye Tafsir-e Tatbiqi, tahun 7, no. 2, 1400 HS.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Penerbit Isra, 1389 HS.
  • Makarem Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir al-Amtsal). Tehran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.
  • Razi, Abul Futuh Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an. Masyhad, Bunyad-e Pazhuhesh-ha-ye Islami Astan-e Quds-e Razavi, 1408 H.
  • Surabadi, Abu Bakar Atiq bin Muhammad. Tafsir Surabadi. Tehran, Farhang-e Nashr-e Now, 1380 HS.
  • Syarif Lahiji, Muhammad bin Ali. Tafsir Syarif Lahiji. Tehran, Daftare Nashre Dad, 1373 HS.
  • Syaukani, Muhammad bin Ali. Fath al-Qadir. Damaskus, Penerbit Dar Ibnu Katsir, 1414 H.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Maktabah al-Nasyr al-Islami, 1417 H.
  • Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athiyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Tehran, Penerbit Islam, 1378 HS.
  • "Maryam Bargozideh-ye Khoda". Situs Lembaga Riset Hazrat Wali Ashr (aj).
  • "Takshis Ayah Isthafa Maryam ba Riwayah". Situs Wiki Porsesh.