Lompat ke isi

Konsep:Ayat 13 Surah Asy-Shaff

Dari wikishia

Templat:Kotak info ayat

Ayat 13 Surah Asy-Shaff atau Ayat Nasr min Allah wa Fath Qarib memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin akan pertolongan dari Allah dan kemenangan atas musuh-musuh dalam waktu dekat. Allah pada ayat-ayat sebelumnya, menganggap iman dan jihad sebagai perniagaan yang sangat menguntungkan dan mengisyaratkan pada hasil-hasil ukhrawinya lalu kemudian pada ayat ini membahas tentang hasil-hasil duniawinya. Dikatakan bahwa alasan janji pahala duniawi di samping pahala ukhrawi, adalah ketertarikan manusia pada pahala-pahala yang dekat dan lebih memilih memperoleh keuntungan yang dekat daripada masa depan yang jauh.

Sebagian mufasir, menganggap kemenangan yang dijanjikan sebagai kemenangan kaum muslimin atas orang-orang kafir Quraisy dan Fathu Makkah; sebagaimana janji penaklukan Iran dan Romawi juga telah dibicarakan; namun sejumlah orang menganggapnya berkaitan dengan seluruh penaklukan Islam. Dikatakan bahwa janji Ilahi mencakup seluruh orang mukmin di sepanjang sejarah dan Fathu Makkah adalah salah satu misdak (contoh) darinya. Para mufasir Syiah dengan mengisyaratkan pada sebuah riwayat, menganggap maksud dari kemenangan yang dijanjikan sebagai kemenangan Qaim (aj).

Kalimat "nasr min Allah wa fath qarib" (pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat) telah digunakan dalam berbagai peristiwa dan kesempatan oleh kaum Syiah dan berubah menjadi slogan; sebagaimana ia juga telah digunakan dalam karya-karya dan arsitektur mereka.

Pengenalan dan Terjemahan Ayat

Ayat Nasr min Allah wa Fath Qarib termasuk dari ayat-ayat masyhur Surah Asy-Shaff[1] yang memberikan kabar gembira kepada seluruh orang mukmin[2] atau sahabat[3] akan pertolongan Allah dan kemenangan atas musuh-musuh. Menurut keyakinan Nashir Makarim Syirazi salah seorang mufasir Syiah salah satu tujuan penting Surah Asy-Shaff, adalah seruan kepada orang-orang mukmin pada iman dan jihad di jalan Allah[4] dan ayat ini yang dianggap terkait dengan ayat-ayat sebelumnya[5] mengisyaratkan pada buah iman dan jihad di dunia[6] serta mendorong orang-orang mukmin untuk menolong agama melalui jihad[7] dan berjuang melawan dunia syirik dan kekafiran[8].

Templat:Quran jadidTemplat:SakhTemplat:Quran jadid

Tafsir

Allah dalam ayat-ayat sebelumnya membicarakan tentang perniagaan yang sangat menguntungkan yang disertai dengan keselamatan dari siksa Ilahi dan itu adalah iman kepada Allah dan Nabi saw serta jihad di jalan Allah.[9] Allah selanjutnya mengisyaratkan pada harga transaksi ini yang mana dua hal darinya adalah pahala ukhrawi (ampunan atas dosa-dosa dan masuk ke surga) dan dua hal lainnya yang dibahas dalam ayat ini, berkaitan dengan pahala duniawi[10] yang mana juga membawa serta pahala akhirat.[11] Salah satunya adalah pertolongan dari sisi Allah dan yang lainnya adalah kemenangan atas musuh-musuh dalam waktu dekat dan penaklukan wilayah-wilayah mereka.[12] Dikatakan bahwa kedua hal ini, adalah pahala tambahan yang dianugerahkan kepada orang-orang mukmin sejalan dengan nikmat akhirat.[13]

Tidak terkhususnya pahala-pahala untuk akhirat, memberikan dorongan semangat dan harapan kepada para pejuang untuk masa depan yang cerah,[14] kepastian pertolongan Allah dalam hal jihad[15] dan juga kemenangan sempurna dalam hal istikamah (keteguhan)[16] termasuk dari kesimpulan para mufasir dari ayat ini.

Berbagai riwayat mengenai tafsir ayat telah dinukil dalam buku-buku tafsir dengan pendekatan riwayat.[17] Dalam tafsir ayat diisyaratkan pada perjanjian Aqabah bahwa Nabi saw setelah menjelaskan dua syarat iman kepada Allah dan jihad, memperkenalkan surga sebagai pahalanya yang mana disambut dengan baik oleh masyarakat Madinah.[18]

Isyarat pada Ketertarikan Orang-orang Mukmin

Sebagian mufasir mengenai alasan dianugerahkannya pahala duniawi di samping pahala ukhrawi dan isyarat pada ketertarikan orang-orang mukmin terhadapnya telah menyebutkan, tabiat manusia adalah sedemikian rupa sehingga ia memiliki ketertarikan yang lebih pada pahala-pahala duniawi yang dekat dibandingkan pahala ukhrawi[19] dan menganggapnya tunai (langsung)[20] serta mengekspresikan ketertarikan hati padanya[21] dan secara umum lebih memilih waktu yang segera untuk memperoleh keuntungan daripada masa depan;[22] oleh karena itu Allah setelah menyebutkan nikmat ukhrawi mengisyaratkan pada nikmat dari dunia yang disukai oleh orang-orang mukmin[23] dan mereka berhasrat untuk memperolehnya.[24]

Kemajuan di dunia dan kemenangan atas musuh-musuh juga dianggap termasuk di antara alasan ketertarikan yang mereka kejar demi keagungan Islam atau demi kepentingan pribadi dan memperoleh harta rampasan perang (ganimah) dari orang-orang kafir.[25] Menurut keyakinan sebagian peneliti, kalimat "ukhra tuhibbunaha" secara umum juga mencela kecintaan kepada dunia.[26]

Misdak-misdak Pertolongan Ilahi dan Kemenangan yang Dekat

Dikatakan bahwa pertolongan Ilahi dan kemenangan yang dijanjikan dalam ayat ini telah berulang kali terwujud di medan-medan pertempuran bagi kaum muslimin;[27] oleh karena itu mereka menganggap ayat ini sebagai bukti atas kebenaran Nabi saw dalam memberikan kabar tentang masa depan.[28]

Berbagai kemungkinan mengenai misdak pertolongan Ilahi dan kemenangan dalam waktu dekat bagi orang-orang mukmin telah dikemukakan.[29] Sejumlah orang menafsirkannya sebagai kemenangan kaum muslimin atas orang-orang kafir[30] Quraisy[31] dan Fathu Makkah[32] yang mana kaum muslimin diusir secara paksa darinya;[33] sebagaimana penaklukan Iran dan Romawi juga dianggap termasuk dari misdak-misdaknya;[34] namun sejumlah orang selain menyebutkan kemungkinan-kemungkinan tersebut, menafsirkan ayat ini mengenai penaklukan banyak bagian dari negeri-negeri orang-orang musyrik dan kafir[35] atau seluruh penaklukan Islam[36] di tanah-tanah orang kafir.[37]

Menurut keyakinan sebagian peneliti, kalimat ini memiliki makna yang sangat luas dan luas cakupannya serta mukhathab (lawan bicara) ayat tersebut bukan hanya sahabat Nabi dan mencakup seluruh orang mukmin di sepanjang sejarah dan Fathu Makkah dianggap sebagai salah satu misdak nyata terwujudnya ayat ini.[38] Oleh karena itu mencakup seluruh penaklukan kaum muslimin di dunia.[39] Sejumlah mufasir dengan mengisyaratkan pada riwayat yang terdapat dalam buku Tafsir Ali bin Ibrahim Qumi[40] menyatakan maksud dari kemenangan yang dijanjikan sebagai penaklukan (kemenangan) Al-Qaim afs.[41]

Mengenai bagaimana pertolongan Ilahi dikatakan bahwa Allah dengan mengutus para malaikat atau dengan menanamkan rasa takut dan ngeri di hati orang-orang kafir serta ketenangan dan keyakinan di hati orang-orang mukmin, bergegas menolong mereka.[42]

Ayat Nasr min Allah pada bendera kubah Haram Imam Ridhha as

Kabar Gembira kepada Orang-orang Mukmin

Di akhir ayat diminta dari Nabi saw agar memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin;[43] namun mengenai apa yang dikabarkan, disebutkan berbagai pandangan yang berbeda yang mana sebagian darinya adalah:

  • Kabar gembira kepada orang-orang mukmin atas perniagaan yang sangat menguntungkan[44] dan pahala ukhrawi serta duniawi[45] berupa surga dan kemenangan atas musuh-musuh.[46]
  • Kabar gembira atas keseluruhan pahala-pahala yang Allah berikan di dunia dan akhirat.[47]
  • Kabar gembira yang didasarkan pada keridaan Ilahi.[48]
  • Kabar gembira atas kemenangan orang-orang mukmin.[49]
  • Kabar gembira atas seluruh kebaikan bagi orang-orang mukmin.[50]

Menjadi Slogan Syiah

Spanduk dengan teks Ayat 113 Surah Asy-Shaff pada Demonstrasi Asyura Bahman 1357 HS di tangan para demonstran/Teheran

Dikatakan bahwa kalimat "nasr min Allah wa fath qarib" di kalangan Syiah, telah berubah menjadi sebuah slogan dan masyarakat menggunakannya pada berbagai kesempatan dan bahkan menulisnya di atas bendera;[51] sebagaimana kalimat ini dalam sebagian operasi Iran melawan rezim Ba'ath Irak seperti Operasi Tsamin al-A'immah yang berujung pada pencabutan pengepungan Abadan dipilih sebagai sandi operasi dan bahkan nama operasi pembebasan Dezful barat, dinamai Operasi Fath al-Mubin.[52]

Ungkapan ini termasuk dari ungkapan-ungkapan Al-Qur'an yang terukir pada karya-karya dan arsitektur masyarakat muslim Iran.[53] Dikatakan bahwa kaum muslimin dengan memperhatikan ungkapan ini dan menuliskannya pada berbagai karya, selalu memperkuat kekuatan harapan pada masa depan dan tawakal kepada Allah di dalam diri mereka.[54]

Catatan Kaki

  1. "Shaff; Sureh-i ke be Jihad-garan Iasyareh Mikunad" (Asy-Shaff; Surah yang Mengisyaratkan pada Para Mujahid), Situs Al-Kautsar.
  2. Sabzawari Najafi, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, hlm. 557.
  3. Mughniyah, Al-Tafsir al-Mubin, Qom, hlm. 740.
  4. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 24, hlm. 87.
  5. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 19, hlm. 260.
  6. Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1377 HS, jld. 11, hlm. 151.
  7. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 423.
  8. Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhsyan, 1404 H, jld. 16, hlm. 337.
  9. Syekh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 9, hlm. 597; Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 7, hlm. 318-319; Husaini Syirazi, Taqrib al-Qur'an, 1424 H, jld. 5, hlm. 408.
  10. Ibnu Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 4, hlm. 317; Abu al-Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 19, hlm. 188; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 24, hlm. 87-90; Husaini Syah Abdul Azhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 HS, jld. 13, hlm. 155.
  11. Fakhrurrazi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 29, hlm. 532; Syekh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 9, hlm. 597; Tsa'labi, Al-Kasyaf wa al-Bayan, 1422 H, jld. 9, hlm. 304.
  12. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 423; Syekh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 9, hlm. 597; Sabzawari Najafi, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, hlm. 557.
  13. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, 1419 H, jld. 8, hlm. 139.
  14. Qira'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 9, hlm. 621.
  15. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, 1419 H, jld. 8, hlm. 139.
  16. Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhsyan, 1404 H, jld. 16, hlm. 337.
  17. Sebagai contoh lihat: Bahrani, Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, 1416 H, jld. 5, hlm. 368.
  18. Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1425 H, jld. 8, hlm. 87.
  19. Burujerdi, Tafsir Jami', 1366 HS, jld. 7, hlm. 135; Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhsyan, 1404 H, jld. 16, hlm. 336.
  20. Tsaqafi Tehrani, Tafsir Rawan Jawid, 1398 H, jld. 5, hlm. 199.
  21. Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhsyan, 1404 H, jld. 16, hlm. 336.
  22. Qumi Masyhadi, Kanz al-Daqa'iq, 1368 HS, jld. 13, hlm. 237; Sabzawari Najafi, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, hlm. 557.
  23. Ibnu Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 4, hlm. 317; Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 5, hlm. 209; Qumi Masyhadi, Kanz al-Daqa'iq, 1368 HS, jld. 13, hlm. 237; Husaini Syah Abdul Azhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 HS, jld. 13, hlm. 155.
  24. Mirza Khusrawani, Tafsir Khusrawi, 1390 H, jld. 8, hlm. 278; Tsaqafi Tehrani, Tafsir Rawan Jawid, 1398 H, jld. 5, hlm. 199.
  25. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jld. 12, hlm. 521.
  26. Fakhrurrazi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 29, hlm. 532; Haqqi Burusawi, Ruh al-Bayan, Beirut, jld. 9, hlm. 510.
  27. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 24, hlm. 91.
  28. Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 10, hlm. 89.
  29. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 24, hlm. 91.
  30. Husaini Syirazi, Taqrib al-Qur'an, 1424 H, jld. 5, hlm. 408.
  31. Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 10, hlm. 89; Haqqi Burusawi, Ruh al-Bayan, Beirut, jld. 9, hlm. 510.
  32. Ibnu Abi Zamanin, Tafsir Ibnu Abi Zamanin, 1424 H, hlm. 414; Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 7, hlm. 319; Burujerdi, Tafsir Jami', 1366 HS, jld. 7, hlm. 135.
  33. Mughniyah, Al-Tafsir al-Mubin, Qom, hlm. 740.
  34. Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 18, hlm. 89; Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 10, hlm. 89; Haqqi Burusawi, Ruh al-Bayan, Beirut, jld. 9, hlm. 510; Baghawi, Ma'alim al-Tanzil, 1420 H, jld. 5, hlm. 80.
  35. Husaini Syirazi, Taqrib al-Qur'an, 1424 H, jld. 5, hlm. 408.
  36. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 423; Husaini Syah Abdul Azhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 HS, jld. 13, hlm. 155; Husaini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 566; Tsaqafi Tehrani, Tafsir Rawan Jawid, 1398 H, jld. 5, hlm. 199.
  37. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jld. 12, hlm. 521.
  38. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 24, hlm. 91.
  39. Husaini Syah Abdul Azhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 HS, jld. 13, hlm. 155.
  40. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1363 HS, jld. 2, hlm. 366.
  41. Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 5, hlm. 318; Bahrani, Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, 1416 H, jld. 5, hlm. 368; Qumi Masyhadi, Kanz al-Daqa'iq, 1368 HS, jld. 13, hlm. 237; Tsaqafi Tehrani, Tafsir Rawan Jawid, 1398 H, jld. 5, hlm. 199.
  42. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jld. 12, hlm. 521.
  43. Fakhrurrazi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 29, hlm. 532; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 24, hlm. 87-90.
  44. Baghawi, Ma'alim al-Tanzil, 1420 H, jld. 5, hlm. 80.
  45. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 423; Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 5, hlm. 210; Abu al-Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 19, hlm. 188; Sabzawari Najafi, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, hlm. 557.
  46. Tafsir Ibnu Abi Zamanin, hlm. 414; Ibnu Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 4, hlm. 317; Baghawi, Ma'alim al-Tanzil, 1420 H, jld. 5, hlm. 80.
  47. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 19, hlm. 260; Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jld. 12, hlm. 521; Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1377 HS, jld. 11, hlm. 151.
  48. Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 18, hlm. 89.
  49. Ibnu Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 4, hlm. 317.
  50. Husaini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 566.
  51. "Shaff; Sureh-i ke be Jihad-garan Iasyareh Mikunad" (Asy-Shaff; Surah yang Mengisyaratkan pada Para Mujahid). Al-Kautsar.
  52. "Amaliyat-e Fath al-Mubin" (Operasi Fath al-Mubin). Markaz-e Asnad wa Tahqiqat-e Difa'-e Muqaddas.
  53. Agha'i dan Husaini, "Barrasi-e Ibadat-e Nasr min Allah wa Fath Qarib dar Atsar-e Honari-e Daureh-ye Islami".
  54. Agha'i dan Husaini, "Barrasi-e Ibadat-e Nasr min Allah wa Fath Qarib dar Atsar-e Honari-e Daureh-ye Islami".

Daftar Pustaka

  • Agha'i, Samaneh, dan Sayidah Maryam Husaini. "Barrasi-e Ibadat-e Nasr min Allah wa Fath Qarib dar Atsar-e Honari-e Daureh-ye Islami" (Mengkaji Ungkapan Nasr min Allah wa Fath Qarib dalam Karya Seni Periode Islam). Konferensi Internasional Arsitektur, Pembangunan Kota, Konstruksi, Seni dan Lingkungan; Cakrawala Masa Depan, Melihat Masa Lalu, 1394 HS.
  • Abu al-Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an. Masyhad, Astan Quds Razawi, 1408 H.
  • Baghawi, Husain bin Mas'ud. Ma'alim al-Tanzil fi Tafsir al-Qur'an. Penelitian Abdul Razzaq al-Mahdi. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1420 H.
  • Bahrani, Hasyim bin Sulaiman. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Penelitian Bonyad-e Bi'tsat. Qom, Mu'assaseh-ye Al-Bi'tsah, 1416 H.
  • Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1418 H.
  • Burujerdi, Sayid Muhammad Ibrahim. Tafsir Jami'. Taheran, Entisyarat-e Shadr, 1366 HS.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
  • Haqqi Burusawi, Ismail. Tafsir Ruh al-Bayan. Beirut, Penerbit Dar al-Fikr, t.t.
  • Husaini Hamadani, Sayid Muhammad. Anwar-e Derakhsyan. Penelitian Muhammad Baqir Behbudi. Taheran, Toko Buku Luthfi, 1404 H.
  • Husaini Syah Abdul Azhimi, Husain bin Ahmad. Tafsir Itsna 'Asyari (Tafsir Dua Belas). Taheran, Penerbit Miqat, 1363 HS.
  • Husaini Syirazi, Sayid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-'Ulum, cetakan kedua, 1423 H.
  • Husaini Syirazi, Sayid Muhammad. Taqrib al-Qur'an ila al-Adzhan. Beirut, Penerbit Dar al-'Ulum, 1424 H.
  • Huwaizi, Abdul Ali bin Jum'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Qom, Penerbit Isma'iliyan, cetakan keempat, 1415 H.
  • Ibnu Abi Zamanin, Muhammad bin Abdullah. Tafsir Ibnu Abi Zamanin. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1424 H.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1419 H.
  • Ibnu Sulaiman, Muqatil. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1423 H.
  • Maibudi, Ahmad bin Muhammad. Kasyf al-Asrar wa 'Uddat al-Abrar. Taheran, Amir Kabir, cetakan kelima, 1371 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.
  • Mirza Khusrawani, Ali Ridha. Tafsir Khusrawi. Taheran, Entisyarat-e Islamiyyeh, 1390 H.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Tafsir al-Mubin. Qom, Bonyad-e Bi'tsat, cetakan ketiga, t.t.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Qom, Penerbit Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
  • "Amaliyat-e Fath al-Mubin" (Operasi Fath al-Mubin). Markaz-e Asnad wa Tahqiqat-e Difa'-e Muqaddas, tanggal diakses: 27 Aban 1402 HS.
  • Qira'ati, Muhsin. Tafsir Nur (Tafsir Nur). Taheran, Markaz-e Farhangi-e Dars-hayi az Quran, 1388 HS.
  • Qumi Masyhadi, Muhammad bin Muhammad Ridha. Tafsir Kanz al-Daqa'iq wa Bahr al-Ghara'ib. Penelitian Husain Dargahi. Taheran, Sazman-e Chap wa Entisyarat-e Wizarat-e Irsyad-e Islami, 1368 HS.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Qom, Penerbit Dar al-Kitab, cetakan ketiga, 1363 HS.
  • Qurasyi, Sayid Ali Akbar. Tafsir Ahsan al-Hadits. Taheran, Bonyad-e Bi'tsat, 1377 HS.
  • Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Taheran, Penerbit Nashir Khusraw, 1364 HS.
  • Sabzawari Najafi, Muhammad. Irsyad al-Adzhan ila Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-Ta'aruf li al-Mathbu'at, 1419 H.
  • Sayid Quthb, Ibrahim Husain Syadzili. Fi Zhilal al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-Syuruq, cetakan ketiga puluh lima, 1425 H.
  • "Shaff; Sureh-i ke be Jihad-garan Iasyareh Mikunad" (Asy-Shaff; Surah yang Mengisyaratkan pada Para Mujahid). Al-Kautsar, tanggal dimuat: 27 Day 1400 HS, tanggal diakses: 26 Aban 1402 HS.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, t.t.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Taheran, Penerbit Nashir Khusraw, cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Mu'assasah al-A'lami li al-Mathbu'at, cetakan kedua, 1390 H.
  • Thayyib, Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Taheran, Penerbit Islam, cetakan kedua, 1369 HS.
  • Tsa'labi, Ahmad bin Muhammad. Al-Kasyaf wa al-Bayan al-Ma'ruf Tafsir al-Tsa'labi. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1422 H.
  • Tsaqafi Tehrani, Muhammad. Tafsir Rawan Jawid. Taheran, Entisyarat-e Burhan, cetakan ketiga, 1398 H.

Templat:Ayat-ayat Akidah Al-Qur'an