Konsep:Ayat 114 Surah At-Taubah
Ayat 114 Surah At-Taubah menganggap permohonan ampun dari pihak Nabi Ibrahim as untuk ayahnya yang musyrik semata-mata dikarenakan menepati janji istighfar yang telah Ibrahim berikan kepadanya. Beberapa mufasir Syiah meyakini bahwa Ibrahim as saat memohon ampunan untuk ayahnya belum mengetahui bahwa ayahnya adalah ahli neraka. Berdasarkan ayat ini, ketika Ibrahim menyadari permusuhan ayahnya terhadap Allah, ia berlepas diri darinya dan tidak lagi memohonkan ampun baginya. Ayat ini datang sebagai kelanjutan dan penjelasan bagi Ayat 113 Surah At-Taubah dalam pelarangan memohon ampun untuk kaum musyrik yang permusuhan mereka terhadap Allah dan status mereka sebagai ahli neraka telah menjadi nyata.
Para mufasir menganggap sebab turunnya ayat 114 At-Taubah adalah berkaitan dengan pertanyaan kaum Muslimin kepada Nabi saw mengenai permohonan ampun bagi orang tua musyrik yang telah meninggal dunia, dan dengan turunnya ayat ini mereka dilarang dari perbuatan tersebut.
Para mufasir berdasarkan Ayat 47 Surah Maryam mengatakan bahwa Ibrahim mengajak ayahnya, Azar, untuk beriman kepada Allah; namun sebaliknya ia menghadapi kekerasan dan ancaman dari Azar; meskipun demikian karena ia mengetahui Allah Maha Lembut kepadanya, ia menjanjikan permohonan ampun untuknya.
Poin-poin Umum Ayat
Ayat 114 At-Taubah mengabarkan bahwa permohonan ampun Nabi Ibrahim as untuk ayahnya yang musyrik, semata-mata karena menepati janji permohonan ampun yang telah diberikan kepadanya.[1] Tentu saja Mohammad Yazdi meyakini bahwa meskipun Ibrahim as memberikan janji istighfar kepada Azar, namun dengan nampaknya permusuhan ayahnya terhadap Allah, ia tidak menepati janji tersebut.[2] Ali bin Ibrahim al-Qumi menganggap janji istighfar ini bersyarat pada penghentian Azar dari penyembahan berhala, dan sesuai dengan apa yang ada dalam Tafsir al-Burhan, isi sebuah hadis dari Imam Shadiq as juga mengonfirmasi pandangan ini.[3]
Menurut para mufasir seperti Syaikh Thabarsi dan Makarim Syirazi, ketika permusuhan Azar terhadap Allah menjadi nyata bagi Ibrahim as dan ia berputus asa dari hidayah Azar, ia berlepas diri darinya dan tidak lagi memohonkan ampun untuknya.[4]
Di akhir ayat ini, Ibrahim as disifati dengan ungkapan "Awwāh", yang mana Imam Shadiq as memaknainya dengan karakteristik banyak berdoa dan menangis dari nabi ini. Pandangan yang sama juga dinukil dari Ibnu Abbas dan diterima oleh Tafsir Majma' al-Bayan.[5] Dalam tafsir ini disebutkan sepuluh teori untuk kata "Awwāh", di antaranya: khusyuk dan meratap, lembut terhadap hamba-hamba Allah, dan orang yang mengaduh saat mengingat api neraka.[6]
Templat:Quran NewTemplat:Quran New
Isi ayat ini merupakan kelanjutan dan berkaitan dengan kandungan Ayat 113 Surah At-Taubah. Dalam ayat 113, terdapat larangan memohon ampun untuk kaum musyrik yang permusuhan mereka terhadap Allah dan status mereka sebagai ahli neraka telah nyata.[7] Tafsir Nemuneh menganggap ayat 114 At-Taubah sebagai jawaban atas pertanyaan yang muncul setelah tadabur kaum Muslimin pada ayat 113. Yakni, mengapa meskipun terdapat keharaman istighfar untuk kaum musyrik dan penyembah berhala, Ibrahim as tetap berdoa dan memohon ampun untuk pamannya yang musyrik, Azar.[8]
Kesadaran Ibrahim as terhadap Kesyirikan Ayahnya
Para mufasir mengenai kesadaran Ibrahim as terhadap kesyirikan Azar pada saat memohon ampun baginya telah memberikan beberapa pandangan. Menurut pandangan sekelompok ulama seperti Allamah Thabathabai dan Sayid Muhammad Taqi Mudarrisi, Ibrahim as saat memohon ampun untuk ayahnya menyadari kesyirikannya, namun ia memberikan kemungkinan bahwa ayahnya tidak bersikap keras kepala serta teguh (lajuj) dan ia berharap pada hidayahnya.[9] Menurut pendapat Abdullah Jawadi Amuli dari mufasir Syiah, Ibrahim as pada masa memohon ampun untuk Azar tidak mengetahui tentang kesyirikan finalnya; karena hal itu belum diwahyukan kepadanya dan Azar pun belum meninggal dunia dalam keadaan musyrik.[10] Menurut keyakinan Muqaddas Ardabili, beliau mengetahui kesyirikan Azar, namun tidak mengetahui statusnya sebagai ahli neraka.[11]
Tafsir Nur al-Tsaqalain dengan menukil sebuah hadis dari Imam Shadiq as mengisyaratkan poin ini bahwa waktu jelasnya permusuhan Azar terhadap Allah bagi Ibrahim adalah ketika ia meninggal dunia dalam keadaan musyrik.[12]
Pemberi Janji
Terdapat perbedaan pendapat di antara mufasir mengenai siapa yang telah memberikan janji kepada yang lain. Sekelompok ulama mengatakan bahwa ayah Ibrahim as menjanjikan kepadanya bahwa kapan pun Ibrahim memohonkan ampun untuknya, ia akan beriman. Beliau pun dengan mempercayai janji ini memohonkan ampun untuk ayahnya. Meskipun demikian, menurut pandangan sebagian lainnya, Ibrahim-lah yang menjanjikan kepada ayahnya untuk memohonkan ampun baginya selama ia masih hidup, dan beliau memohonkan ampun untuknya dengan niat agar ayahnya menjadi mukmin.[13]
Sebab Turun
Berdasarkan laporan sejumlah tafsir riwayi, ayat 114 Surah At-Taubah diturunkan ketika salah seorang sahabat Nabi melihat seorang laki-laki setelah Salat memohon ampun bagi ayah dan ibunya yang telah meninggal dunia dalam keadaan musyrik sebelum Islam. Ia bertanya tentang alasan istighfar tersebut dan mendapatkan jawaban bahwa Nabi Ibrahim as pun melakukan hal yang sama untuk ayahnya. Sang sahabat menceritakan kejadian itu kepada Nabi saw dan pada saat itulah ayat 114 At-Taubah turun. Nabi saw juga bersabda bahwa dengan kematian Azar dalam kemusyrikan, permusuhannya terhadap Allah menjadi jelas dan Ibrahim as tidak lagi memohonkan ampun baginya.[14]
Teks Janji dan Istighfar Ibrahim as
Para mufasir Syiah menganggap janji permohonan ampun Ibrahim as bagi ayahnya adalah janji yang sama yang terdapat dalam Ayat 47 Surah Maryam. Yakni saat Azar mengucapkan kata-kata kekerasan dan ancaman sebagai balasan atas ajakan Ibrahim as untuk beriman kepada Allah; namun Ibrahim as berkata: Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku, karena Dia sangat baik dan lembut kepadaku.[15] Selain itu, mereka menganggap istighfar Ibrahim as adalah doa eksplisitnya dalam Ayat 86 Surah Asy-Syu'ara untuk Azar yang mana beliau memohonkan ampun baginya.[16]
Catatan Kaki
- ↑ Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 4, hal. 288; Allamah Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 9, hal. 397-398.
- ↑ Yazdi, Feqh al-Qur'an, 1415 H, jld. 4, hal. 211.
- ↑ Bahrani, al-Burhan, 1416 H, jld. 2, hal. 858-859.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hal. 116; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 8, hal. 156.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hal. 116.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hal. 116.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1394 HS, jld. 35, hal. 391; Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 4, hal. 288.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 8, hal. 155.
- ↑ Allamah Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 9, hal. 397-398; Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 4, hal. 288.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1394 HS, jld. 35, hal. 376-377.
- ↑ Ardabili, Zubdah al-Bayan, al-Maktabah al-Ja'fariyah, hal. 387.
- ↑ Arusi Huwaizi, Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 2, hal. 275.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hal. 116.
- ↑ Arusi Huwaizi, Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 2, hal. 274-275; Bahrani, al-Burhan, 1416 H, jld. 2, hal. 859.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 3, hal. 83-85; Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 17, hal. 129.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hal. 304; Banu Amin, Makhzan al-'Irfan, 1361 HS, jld. 9, hal. 256; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 8, hal. 157.
Daftar Pustaka
Ardabili, Ahmad bin Muhammad. Zubdah al-Bayan fi Ahkam al-Qur'an. Riset: Muhammad Baqir Behbudi. Teheran, al-Maktabah al-Ja'fariyah li-Ihya al-Atsar al-Ja'fariyah, Cetakan Pertama, tanpa tahun. Banu Amin, Sayidah Nusrat Begum. Makhzan al-'Irfan dar Tafsir-e Qur'an. Teheran, Nahdhat-e Zanan-e Mosalman, 1361 HS. Bahrani, Sayid Hashem. al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Bunyad-e Bi'tsat, Cetakan Pertama, 1416 H. Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Qom, Markaz-e Nasyr-e Esra, 1394 HS. Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Kelima, 1417 H. Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Nasir Khosrow, 1372 HS. Arusi Huwaizi, Abd Ali. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Qom, Isma'iliyan, Cetakan Keempat, 1415 H. Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Min Wahy al-Qur'an. Beirut, Dar al-Malak lil-Thiba'ah wa al-Nasyr wa al-Tawzi', 1419 H/1998 M. Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran, Markaze Farhangi Dars-hai az Qur'an, Cetakan Kesebelas, 1383 HS. Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Teheran, Dar Muhibbi al-Husain, Cetakan Pertama, 1419 H. Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS. Yazdi, Muhammad. Feqh al-Qur'an. Qom, Isma'iliyan, Cetakan Pertama, 1415 H.